Anda di halaman 1dari 88

Presentasi

Kasus
DEMAM TYPHOID
Oleh :
Destiana Lisnawati

Tutor :
dr. Rachmanto HSA, Sp.A

Moderator:
dr. Yenny Purnama, Sp.A, M.Kes

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak


RSPAD Gatot Soebroto
Faklultas Kedokteran UPN Veteran Jakarta
Identitas Pasien
Nama : An. A.Z.N
No. CM : 44.14.81
Tempat & tanggal lahir : Jakarta, 14 November
2002
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat : Jl. Dharma 2 RT
06/004
Suku bangsa : Jawa/ Indonesia
Agama : Islam
Tanggal masuk RS : 26 Agustus 2014
Tanggal keluar RS : 1 September 2014
Identitas Orang
Tua
Data Orang Tua Ayah Ibu
Nama Tn. Z.S Ny. E.H
Usia 42 tahun 31 tahun
Perkawinan ke Pertama Pertama
Pendidikan Tamat SMA Tamat SMA
Ibu rumah
Pekerjaan TNI
tangga
Agama Islam Islam
Suku Bangsa Jawa Jawa
Anamnesis

Anamnesa didapat secara Auto dan Alloanamnesa dengan


ibu pasien pada tanggal 26 Agustus 2014

Keluhan
demam
Utama

Keluhan _
Tambahan
Riwayat Penyakit
Sekarang
Riwayat Penyakit
Dahulu

Pasien pernah mengalami keluhan yang


serupa dan didiagnosa demam typhoid
pada 1 tahun yang lalu
Riwayat Penyakit
Keluarga

Adik pasien saat ini sedang dirawat di


RSPAD Gatot Soebroto dengan keluhan
yang sama
Riwayat Kehamilan

Perawatan antenatal:
ibu rutin kontrol kehamilan tiap bulan ke dokter
Riwayat Kelahiran

Pasien lahir spontan pada tanggal 14 November


2002, cukup bulan, di rumah sakit, ditolong oleh
dokter, dengan berat lahir 3400 gram, panjang
badan 50 cm, langsung menangis, gerak aktif,
sianosis tidak ada, ikterus tidak ada, trauma tidak
ada, anus ada, serta cacat bawaan tidak ada.
Kesan : Neonatus Cukup Bulan, Sesuai Masa
Kehamilan.
Riwayat
Perkembangan
Riwayat Makanan
UMUR ASI/PASI BUAH / BUBUR NASI TIM
MERK BISKUIT SUSU

0-2 bulan ASI

2-4 bulan ASI

4-6 bulan ASI

6-8 bulan ASI

8-10 bulan ASI

10-12 bulan ASI


Riwayat Makanan
Diatas 1 tahun
Jenis makanan Frekuensi
Nasi Setiap hari 3-4x sehari @ 2 centong
Sayuran Setiap hari 3x sehari @ 1 centong
Daging 3x seminggu, sehari @ 1 potong
Ikan 2x seminggu, 3x sehari @ 1 potong
Telur 2x seminggu, 1x sehari @ 1 butir
Tahu 1x seminggu, 2-3x sehari @ 1 potong
Tempe 3x seminggu, 2x sehari @ 1 potong
Susu Tidak ada
Kesan: kualitas dan kuantitas makan pasien cukup
Riwayat Imunisasi

Jenis Umur waktu pemberian


imunisasi Bulan Tahun
0 1 2 3 4 6 9 15 18 2 5 6

BCG
DPT
Polio
Hep. B
Campak
Kesan: Imunisasi Dasar Lengkap, tetapi imunisasi anjuran dari
IDAI tidak dilakukan
Riwayat Keluarga
Corak reproduksi ibu P4A0
No Tanggal lahir Kelamin Hidup Lahir Abortus Mati/sebab Keterangan
hidup mati / pedidikan
1 14 11 Pasien / SD
2002 kelas 6
2 18 11 Sakit/ SD
2006 kelas 2
3 23 04 Sehat/
2011 belum
sekolah

4 23 04 Prematur Meninggal
2012
Riwayat Keluarga

Anggota Keluarga lain : Tidak ada


Masalah dalam keluarga : Tidak ada

Perumahan : Asrama TNI AD


Daerah Lingkungan Rumah : pasien tinggal di
komplek perumahan yang bersih dan asri, jauh dari
tempat pembuangan sampah akhir, jauh dari pasar,
dan jauh dari sungai
Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum : Tampak sakit sedang


Kesadaran : Compos mentis

Tanda-tanda Vital :
Suhu : 37,50 C aksila
Nadi : 104 x / mnt, regular, isi
cukup
Pernafasan : 28 x / mnt, reguler
Tekanan Darah : 120/70 mmHg
Pemeriksaan Fisik

Data Antropometri
Berat badan : 49kg
Tinggi badan : 154 cm
Tinggi badan sesuai umur : 151 cm
Berat badan sesuai umur : 41 kg
Status Gizi

Tinggi badan terhadap umur = Tinggi badan aktual


x 100%
TB terukur sesuai usia
= 154cm x 100%
151cm
= 101,9%
Kesan : Status Gizi Normal Nutrition
Status Gizi

Berat badan terhadap umur = Berat badan aktual


x 100%
BB terukur sesuai usia
= 49kg x 100%
41kg
= 119,5%
Kesan : Status Gizi Overweight
Status Gizi

Berat badan terhadap tinggi badan = Berat badan


aktual x 100%
BB standar sesuai
TB terukur
= 49kg x 100%
44kg
= 111,36%
Kesan : Status Gizi overweight
Status Gizi

Indeks Masa Tubuh = Berat badan (Kg)


Tinggi badan (m2)
= 49kg
(1.54cm)2
= 49kg
2.1025m2
= 23.3
= persentil 90
Kesan : IMT Obesitas
Status Lokalis

Kepala
Normocephal, rambut warna hitam, distribusi
merata dan tidak mudah dicabut, ubun-ubun besar
sudah menutup dan rata
Mata
Kelopak mata normal, konjungtiva pucat pada
kedua mata, tidak ada sklera ikterik , pupil isokor,
bulat, 3mm/3mm, Reflek cahaya +/+ normal
Hidung
Tidak ada nafas cuping hidung, tidak ada sekret
Telinga
Bentuk normal, liang telinga lapang, serumen
tidak ada
Mulut
Mukosa bibir tidak hiperemis, tidak ada
sianosis, gigi susu sudah tumbuh, gusi tidak
hiperemis, lidah tidak kotor, faring tidak hiperemis,
tonsil T1-T1 tidak hiperemis
Leher
Tidak teraba kelenjar getah bening, trakea
letak ditengah, tidak ada benjolan, kelenjar tiroid
tidak membesar.
Toraks
Bentuk normal, simetris saat statis dan
dinamis, tidak ada retraksi
Cor
Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
Palpasi : Ictus cordis teraba pada
ICS IV linea midclavicula sinistra, tidak kuat angkat,
tidak ada thrill
Perkusi : Batas atas ICS III linea
parasternalis
Batas kiri ICS IV linea
midclavikula sinistra
Batas kanan ICS III linea
midclavicula dextra
Auskultasi : Bunyi jantung I-II regular, tidak
ada murmur, tidak ada gallop
Pulmo
Inspeksi : Simetris saat statis dan dinamis,
tidak ada retraksi
Palpasi : Vokal fremitus kanan dan
kiri sama
Perkusi : Sonor diseluruh lapang
paru
Auskultasi : Suara nafas vesikuler, tidak ada
rhonki, tidak ada wheezing

Abdomen
Inspeksi : Cembung, tidak ada venektasi,
tidak tampak petechie pada seluruh
kuadaran dengan jarak per 5 cm
Auskultasi : Bising usus normal
Palpasi : Ada nyeri tekan, supel,
hepar tidak teraba, lien
Ekstremitas
Akral hangat, tidak ada edema pada
tangan kaki, tidak ada sianosis, CRT
<2detik

Refleks fisiologis
Biceps (+), tricep (+), Patella (+),
Achilles (+)
Refleks patologi
Babinski -/-, chaddoks -/-
Tanda Rangsang Meningeal
kaku kuduk (-), parasat Brudzinski I (-),
Parasat Brudzinski II (-)
Pemeriksaan
Penunjang
RS Harapan Bunda tanggal 25 08 - 2014
KETERANGAN HASIL NILAI RUJUKAN
HEMATOLOGI RUTIN
Darah Lengkap (Automatik)
a.Hemoglobin 9.8 12 16 g/dl
b.Leukosit 5.3 5 10 ribu/ul
c.Hitung jenis
o Basofil 0 0 1%
o Eosinofil 1 1 3%
o Batang 0 2 6%
o Segmen 71 50 70%
o Limfosit 28 20 40%
o Monosit 0 2 8%
d.Eritrosit 3.67 2. 5.4 juta/ul
e.Hematokrit 28 37 47 vol%
f.Trombosit 101 150 400 ribu/ul
g.MCV 77 80 95 fl
h.MCH 27 27 31 pg
i.MCHC 35 32 36 gr/dl
j.Laju endap darah 20 < 20 mm/jam
SEROLOGI
Widal
a.Salmonella Typhi O Negatif Negatif
b.Salmonella Paratyphi AO Negatif Negatif
c.Salmonella Paratyphi BO 1/320 Negatif
d.Salmonella Paratyphi CO Negatif Negatif
e.Salmonella Typhi H Negatif Negatif
f.Salmonella Paratyphi AH Negatif Negatif
g.Salmonella Paratyphi BH Negatif Negatif
h.Salmonella Paratyphi CH Negatif Negatif
Anti Salmonella IgM 6 Negatif < 2
- Borderline: 3 (tidak dapat disimpulkan,
ulangi beberapa hari kemudian)
- Weak positive: 4 (menunjukkan infeksi
demam typhoid akut)
- Positive: 6-10 (indeksi kuat infeksi demam
typhoid aktif)
Pemeriksaan
Penunjang
RSPAD Jakarta bulan Agustus 2014

26-08- 26-08- 27-08- 28-08- 29-08- 30-08- NILAI RUJUKAN


KETERANGAN 2014 2014 2014 2014 2014 2014
(02.39) (10.49) (06.05) (05.57) (05.55) (06.51)

HEMATOLOGI
Hematologi Rutin
Hemoglobin 9.0 10.0 9.5 9.7 9.3 12-16 g/dl
Hematokrit 26 28 28 29 27 37-47 %
Eritrosit 3.3 3.6 3.6 3.7 3.4 4.3-6.0 juta/ul
Leukosit 4600 5200 5900 7100 5700 4,8-10,8 ribu/ul
Trombosit 99000 112000 149000 196000 224000 150-400 ribu/ul
MCV 78 77 78 79 79 80-96 fl
MCH 27 28 27 27 27 27-32 pg
MCHC 35 36 34 34 34 32-36 g/dl
Hitung Jenis: 0 1. %
Basofil 0 1. %
Eosinofil 0 1-3 %
Batang 3 2-6 %
Segmen 49 50-70 %
Limfosit 40 20-40 %
Monosit 8 2-8 %
RDW 13.60 11.5-14.5 %

IMUNOSEROLO
GI
Anti Dengue
IgG/IgM
-Anti dengue IgG Negatif Negatif
-Anti dengue IgM Negatif Negatif
Resume
Seorang pasien wanita usia 11 tahun 9 bulan datang
ke IGD RSPAD Gatot Soebroto dengan keluhan
demam sejak 7 hari sebelum masuk rumah sakit
yang disertai dengan mual dan muntah.
Demam muncul secara perlahan. Demam dirasakan
naik-turun. Demam terasa lebih tinggi pada saat sore
menjelang malam hari. Disaat pagi hari demam
mulai mereda. Demam turun setelah pasien
meminum obat penurun panas, namun kembali naik.
Pasien juga mengeluh nyeri kepala.
Lidah pasien tampak kotor dengan tepi kemerahan
dua hari sebelum pasien masuk rumah sakit.
Keluhan ini juga disertai dengan
susah buang air besar. Pasien buang
air besar 1 kali dalam 2 hari terakhir
ini. Buang air besar berdarah
disangkal. Pasien juga mengeluh
nyeri di bagian perutnya. Buang air
kecil pasien normal. Buang air kecil
berdarah, susah, nyeri, mengedan
disangkal oleh pasien.
Pada pemeriksaan fiisk ditemukan:
Status Gizi: Overweight
Konjungtiva anemis
Terdapat nyeri tekan epigastrium
Pada pemeriksaan laboratorium
ditemukan:
Penurunan kadar Hemoglobin 9.8 g/dl
Penurunan kadar Hitung jenis
Batang 0%
Monosit 0%
Penurunan kadar Hitung jenis
Segmen 71%
Penurunan kadar Eritrosit 3.67 juta/ul
Penurunan kadar Hematokrit 28 vol%
Penurunan kadar Trombosit 101 ribu/ul
Penurunan kadar MCV 77 fl
Terdapat peningkatan serologi Salmonella Paratypi
BO 1/320
Anti Salmonella IgM positif 6
Anti Dengue IgG negatif
Anti Dengue IgM negatif
Diagnosis Banding

Demam typhoid Anemia normositik


ISK normokrom
Perdarahan akut
Malaria
Anemia hemolitik
Demam dengue
Kegagalan sumsum
tulang
Gizi lebih
Obesitas
Overweight
Diagnosis Kerja

Demam typhoid
Anemia normositik normokrom
Obesitas
Penatalaksanaan

Diet makanan lunak 2000 Kkal


IVFD RL 1750 cc/hari
Paracetamol tablet 3 x 500mg PO
Domperidone syrup 3 x 1 cth (jika pasien
mual dan muntah) PO
Inj. Ceftriaxone 1 x 1 gr IV
Imunos syrup 1 x 1 cth PO
Prognosis

Ad vitam : dubia ad bonam


Ad functionam : dubia ad bonam
Ad sanationam : dubia ad bonam
Perawatan hari I, 26/8/2014 O: Tampak sakit sedang, CM
S: Demam +, menggigil -, HR: 104 x/ menit RR : 28
muntah -, mual+, nyeri perut +, x / menit S : 37,50C
nafsu makan menurun, BAB TD: 120/70mmHg
agak cair 2x
Status Generalis
A: DBD grade I (febris hari ke-7) Kepala : Normochepal
Demam parathypoid Mata : Konjungtiva
anemis, sclera
tidak ikterik
Hidung : Pernapasan cuping
hidung tidak ada
P:
Diet makanan lunak 2000 Kkal
Mulut : Mukosa bibir basah,
IVFD RL 1750 cc/hari tidak sianosis
Paracetamol 3x1tab P.O Toraks : Simetris, retraksi -
Domperidone syrup 3x1cth (jika pasien Paru : Vesikuler +/+, Wh -/-,
mual dan muntah)
nj. Ceftriaxone 1x1gr IV (habiskan dalam
Rh -/-
30 menit dalam NaCl 0,9% 100cc) Jantung : BJ I-II, murmur (-),
Imunos syrup 1x1cth gallop (-)
Abdomen : Supel, datar, tidak
teraba pembesaran
hati dan limpa, nyeri
Perawatan hari II, 27/8/2014 O: Tampak sakit sedang, CM
S: Demam -, menggigil -, HR: 110 x/ menit RR : 22
muntah -, mual-, nyeri perut -, x / menit S : 36,30C
nafsu makan menurun, belum TD: 110/70mmHg
BAB
Status Generalis
A: DBD grade I (febris hari ke-8) Kepala : Normochepal
Demam parathypoid Mata : Konjungtiva
anemis, sclera
tidak ikterik
Hidung : Pernapasan cuping
hidung tidak ada
Mulut : Mukosa bibir basah,
P: tidak sianosis
IFVD RL 2000 cc/hari
Inj. Ceftriaxone 1x1gr IV (III)
Toraks : Simetris, retraksi -
Inj. Paracetamol 3x500mg IV Paru : Vesikuler +/+, Wh -/-,
Paracetamol tablet 3x500mg P.O Rh -/-
Domperidone syrup 3x1 cth P.O Jantung : BJ I-II, murmur (-),
gallop (-)
Abdomen : Supel, datar, tidak
teraba pembesaran
hati dan limpa, nyeri
Perawatan hari III, 28/8/2014 O: Tampak sakit sedang, CM
S: Demam -, menggigil -, HR: 100 x/ menit RR : 20
muntah -, mual-, nyeri perut -, x / menit S : 37,20C
nafsu makan menurun, BAB dan TD: 120/80mmHg
BAK baik
Status Generalis
A: DBD grade I (febris hari ke-9) Kepala : Normochepal
Demam parathypoid Mata : Konjungtiva
anemis, sclera
tidak ikterik
Hidung : Pernapasan cuping
hidung tidak ada
Mulut : Mukosa bibir basah,
P: tidak sianosis
Diet lunak 1700kKal
IVFD D5 Salin 1500cc/24jam
Toraks : Simetris, retraksi -
Inj. Ceftriaxone 1x2gr IV (IV) Paru : Vesikuler +/+, Wh -/-,
Inj. Omeprazole 1x40mg IV Rh -/-
Paracetamol tablet 3x500mg P.O Jantung : BJ I-II, murmur (-),
gallop (-)
Abdomen : Supel, datar, tidak
teraba pembesaran
hati dan limpa, nyeri
Perawatan hari IV, 29/8/2014 O: Tampak sakit sedang, CM
S: Demam + tadi malam, HR: 110 x/ menit RR : 22
menggigil +, muntah -, mual+, x / menit S : 37,80C
nyeri perut +, nafsu makan TD: 120/80mmHg
menurun, BAB dan BAK baik
A: DBD grade I (febris hari ke- Status Generalis
10) Kepala : Normochepal
Demam parathypoid Mata : Konjungtiva
anemis, sclera
tidak ikterik
Hidung : Pernapasan cuping
hidung tidak ada
Mulut : Mukosa bibir basah,
P: tidak sianosis
Diet lunak 1700kKal
IVFD D5 Salin 1500cc/24jam
Toraks : Simetris, retraksi -
Inj. Ceftriaxone 1x2gr IV (V) Paru : Vesikuler +/+, Wh -/-,
Inj. Omeprazole 1x40mg IV Rh -/-
Paracetamol tablet 3x500mg P.O Jantung : BJ I-II, murmur (-),
gallop (-)
Abdomen : Supel, datar, tidak
teraba pembesaran
hati dan limpa, nyeri
Perawatan hari V, 30/8/2014 O: Tampak sakit sedang, CM
S: Demam + tadi malam, HR: 100 x/ menit RR : 24
menggigil +, muntah -, mual+, x / menit S : 37,70C
nyeri perut +, nafsu makan TD: 110/80mmHg
menurun, BAB dan BAK baik
A: DBD grade I (febris hari ke- Status Generalis
11) Kepala : Normochepal
Demam parathypoid Mata : Konjungtiva
anemis, sclera
tidak ikterik
Hidung : Pernapasan cuping
hidung tidak ada
Mulut : Mukosa bibir basah,
P: tidak sianosis
Diet lunak 1700kKal
IVFD D5 Salin 1500cc/24jam
Toraks : Simetris, retraksi -
Inj. Ceftriaxone 1x2gr IV (VI) Paru : Vesikuler +/+, Wh -/-,
Inj. Omeprazole 1x40mg IV Rh -/-
Paracetamol tablet 3x500mg P.O Jantung : BJ I-II, murmur (-),
gallop (-)
Abdomen : Supel, datar, tidak
teraba pembesaran
hati dan limpa, nyeri
Perawatan hari VI, 31/8/2014 O: Tampak sakit sedang, CM
S: Demam + tadi malam, HR: 110 x/ menit RR : 24
menggigil +, muntah -, mual+, x / menit S : 37,50C
nyeri perut +, nafsu makan TD: 100/70mmHg
menurun, BAB dan BAK baik
A: DBD grade I (febris hari ke- Status Generalis
12) Kepala : Normochepal
Demam parathypoid Mata : Konjungtiva
anemis, sclera
tidak ikterik
Hidung : Pernapasan cuping
hidung tidak ada
Mulut : Mukosa bibir basah,
P: tidak sianosis
Diet lunak 1700kKal
IVFD D5 Salin 1500cc/24jam
Toraks : Simetris, retraksi -
Inj. Ceftriaxone 1x2gr IV (VII) Paru : Vesikuler +/+, Wh -/-,
Inj. Omeprazole 1x40mg IV Rh -/-
Paracetamol tablet 3x500mg P.O Jantung : BJ I-II, murmur (-),
gallop (-)
Abdomen : Supel, datar, tidak
teraba pembesaran
hati dan limpa, nyeri
Perawatan hari VII, 1/9/2014 O: Tampak sakit sedang, CM
S: Demam -, menggigil -, HR: 100 x/ menit RR : 20
muntah -, mual-, nyeri perut -, x / menit S : 36,90C
nafsu makan baik, BAB dan BAK TD: 120/80mmHg
baik
A: DBD grade I (febris hari ke- Status Generalis
12) Kepala : Normochepal
Demam parathypoid Mata : Konjungtiva tidak
anemis, sclera
tidak ikterik
Hidung : Pernapasan cuping
hidung tidak ada
Mulut : Mukosa bibir basah,
tidak sianosis
P: Toraks : Simetris, retraksi -
Keadaan pasien membaik, rencana Paru : Vesikuler +/+, Wh -/-,
pulang
Rh -/-
Jantung : BJ I-II, murmur (-),
gallop (-)
Abdomen : Supel, datar, tidak
teraba pembesaran
hati dan limpa, nyeri
Tinjauan
Pustaka
Demam Typhoid

Demam tifoid adalah suatu penyakit infeksi


sistemik yang bersifat akut yang disebabkan oleh
Salmonella typhi.

Ditandai oleh panas berkepanjangan, ditopang


dengan bakteremia tanpa keterlibatan struktur
endothelial atau endokardial dan invasi bakteri
sekaligus multiplikasi ke dalam sel fagosit
mononuclear dari hati, limpa, kelenjar limfe usus
dan Peyers patch.
Data World Health Organization (WHO) tahun 2003
memperkirakan terdapat sekitar 17 juta kasus
demam tifoid di seluruh dunia dengan insidensi
600.000 kasus kematian tiap tahun

Di Indonesia kasus ini tersebar secara merata di


seluruh propinsi dengan insidensi di daerah
pedesaan 358/100.000 penduduk/tahun dan di
daerah perkotaan 760/100.000 penduduk/ tahun
atau sekitar 600.000 dan 1.5 juta kasus per tahun

Umur penderita yang terkena di Indonesia


dilaporkan antara 3-19 tahun pada 91% kasus
Terjadinya penularan Salmonella typhi sebagian
besar melalui minuman/makanan yang tercemar
oleh kuman yang berasal dari penderita atau
pembawa kuman, biasanya keluar bersama-sama
dengan tinja (melalui rute oral fekal = jalur oro
fekal).

Dapat juga terdapat transmisi transplasental dari


seorang ibu hamil yang berada dalam bakteremia
kepada bayinya.
Etiologi
Salmonella typhii sama dengan salmonella yang
lain adalah bakteri Gram-negatif, mempunyai
flagella, tidak berkapsul, tidak membentuk spora,
fakultatif anaerob

Mempunyai antigen somatic (O) yang terdiri dari


oligosakarida, flagelar antigen (H) yang terdiri dari
protein dan envelope antigen (K) yang terdiri dari
polisakarida
Makan + minum Suasana asam + aklorhidiria,
(S. typhii) Mulut Lambung
Gastrektomi, AH2, PPI

Bakteri hidup Bakteri mati

Usus halus

Menempel pada sel-sel mukosa

Invasi mukosa

Tembus dinding usus


(ileum & yeyunum)

Folikel limfe usus halus

Kel. Limfe mesenterika


RES di hati dan limpa

Mutiplikasi di folikel limfe, kel. Limfe mesenterika, hati dan limpa

Setelah masa inkubasi

Keluar ke sirkulasi sistemik

Ke organ manapun
Nekrosis sel,
Sist. Vaskular
Tidak stabil,
Demam,
Depresi sumsum
Tulang, kelainan
Pada darah,
Stimulasi sist.
Stimulasi makrofag di hati, limpa, imunologik
Endotoksin folikel limfoma usus halus dan
Kel. Limfe mesenterika

Produksi sitokin
Manifestasi klinis
Pada anak, periode inkubasi demam typhoid antara
5-40 hari dengan rata-rata antara 10-14 hari

Semua pasien demam typhoid selalu menderita


demam pada awal penyakit. step-ladder
temperature chart , demam yang timbul insidus,
kemudian naik secara bertahap tiap harinya dan
mencapai titik tertinggi pada akhir minggu
pertama, setelah itu demam akan bertahan tinggi
dan pada miggu ke-4 demam turun perlahan
secara lisis. demam lebih tinggi saat sore dan
malam hari dibandingkan dengan pagi harinya.
Gejala sistemik lain yang menyertai timbulnya
demam adalah nyeri kepala, malaise, anoreksia,
nausea, mialgia, nyeri perut dan radang
tenggorokan

Gejala gastrointestinal pada kasus demam typhoid


sangat bervariasi. Pasien dapat mengeluh diare,
obstipasi, atau obstipasi kemudian disusul episode
diare

pada sebagian pasien lidah tampak kotor dengan


putih ditengah sedang tepi dan ujungnya
kemerahan
Komplikasi
Perforasi usus halus
Neuropsikiatris (gangguan kesadaran, disorientasi,
stupor, koma)
Miokarditis
Ikterus
Sistitis
Pyelonefritis
Trombositopenia, koagulasi intravascular
diseminata
Gambaran darah tepi
Anemia normokromi normositik terjadi sebagai
akibat perdarahn usus atau supresi pada sumsum
tulang

Jumlah leukosit rendah, namun jarang di bawah


3.000/ul3

Trombositopenia sering dijumpai, kadang-kadang


berlangsung beberapa minggu
Tatalaksana
Tirah baring isolasi
Pemenuhan kebutuhan cairan nutrisi
Pemberian antibiotik
Antibiotik
Kloramfenikol 100mg/kgBB/hari dalam 4 dosis
pemberian selama 10-14 hari atau 5-7 hari setelah
demam turun
Ampisilin 200mg/kgBB/hari dalam 4 dosis
pemberian secara intravena
Amoksisilin 100mg/kgBB/hari dalam 4 dosis
pemberian peroral
Kombinasi trimethoropin sulfametoksazol (TMP-
SMZ). TMP 10mg/kgBB/hari atau SMZ
50mg/kgBB/hari dalam 2 dosis pemberian
Antibiotik
Seftriakson 100mg/kgBB/hari dalam 1-2 dosis
pemberian (maksimal 4 gram/hari) selama 5-7 hari
Sefotaksim 150-200mg/kgBB/hari dalam 2-4 dosis
pemberian
Cefixime oral 10-15mg/kgBB/hari selama 10 hari
bila leukosit <200/uL
Prognosis
Prognosis pasien demam tifoid tergantung
ketepatan terapi, usia, keadaan kesehatan
sebelumnya, dan ada tidaknya komplikasi

Di Negara maju dengan terapi antibiotik yang


adekuat, angka mortalitas < 1%. Di Negara
berkembang, angka mortalitasnya > 10%,
biasanya karena keterlambatan diagnosis,
perawatan, dan pengobatan
Munculnya komplikasi seperti perforasi
gastrointestinal atau perdarahan hebat, meningitis,
endocarditis, dan pneumonia mengakibatkan
morbiditas dan mortalitas yang tinggi.
Analisa Kasus
IDENTITAS

An. A.Z.N usia 11 tahun 9 bulan

Berdasarkan epidemiologi, di Indonesia dilaporkan umur


penderita yang terkena demam typhoid antara 3 19 tahun
ANAMNESIS

Demam sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit. Demam


dirasakan naik-turun, timbul secara perlahan. Demam terasa
lebih tinggi pada saat sore menjelang malam hari dan disaat
pagi hari demam mulai mereda. Demam turun setelah pasien
meminum obat penurun panas, namun kembali naik

Berdasarkan kepustakaan, pada demam typhoid didapatkan


gejala demam berkepanjangan, demam dirasakan naik-turun,
demam dirasakan lebih tinggi pada sore menjelang malam,
dan demam muncul secara perlahan. Sedangkan pada demam
dengue didapatkan demam tinggi mendadak dan terus-
menerus selama 2-7 hari
ANAMNESIS

Pasien mengeluh nyeri kepala, nyeri otot, badan terasa lemas


dan penurunan nafsu makan.

Pada kepustakaan tertulis pada demam typhoid maupun


demam demam dengue memiliki gejala prodormal yang
hamper sama, yaitu terdapat nyeri kepala, myalgia, anoreksia,
dan malaise
ANAMNESIS

Dua hari sebelum pasien datang kerumah sakit, orang tua


pasien mengatakan lidah pasien terlihat kotor dengan tepi lidah
kemerahan

Pada kepustakaan juga disebutkan pada demam typhoid, pada


sebagian pasien lidah tampak kotor dengan putih di tengah
sedang di tepi dan ujungnya kemerahan
ANAMNESIS

Orang tua pasien juga mengatakan bahwa anaknya


mengalami mual dan muntah sejak pasien merasakan demam.
Keluhan ini juga disertai dengan susah buang air besar. Pasien
buang air besar 1 kali dalam 2 hari terakhir ini.

Pada kepustakaan disebutkan terdapat gejala gastrointestinal


pada kasus demam typhoid yang berupa mual, muntah, diare,
obstipasi, atau obstipasi kemudian disusul episode diare. Pada
kasus demam dengue juga didapatkan obstipasi, perasaan
tidak nyaman di epigastrium, nyeri kolik dan perut lembek
ANAMNESIS

Adik pasien saat ini sedang dirawat di RSPAD Gatot Soebroto


dengan keluhan yang sama.

Berdasarkan kepustakaan, manusia yang terinfeksi Salmonella


typhii dapat mengsekresikannya melalui sekret saluran nafas,
urin dan tinja dalam waktu yang sangat bervariasi
PEMERIKSAAN FISIK
Konjungtiva pucat pada kedua mata

Konjungtiva yang pucat disebabkan oleh anemia (sel darah


merah terlalu sedikit) menandakan adanya hipoperfusi jaringan
biasanya terjadi pada Hemoglobin ( Hb) dalam kisaran 6
sampai 10 g/dl.

Berdasarkan kepustakaan, peran endotoksin dari Salmonella


typhii menstimulasi makrofag didalam hati, limpa, folikel
limfoma usus halus dan kelenjar limfe mesenterika untuk
memproduksi sitokin dan zat-zat lain. Produk dari makrofag
inilah yang dapat menimbulkan nekrosis sel, sistem vaskular
yang tidak stabil, demam, depresi sumsum tulang, kelainan
pada darah dan juga menstimulasi sistem imunologik

Catatan : Kadar Hb normal menurut WHO :


Umur 6 bulan - 6 tahun 11 gr %
Umur diatas 6 tahun 12 gr %
PEMERIKSAAN FISIK
Terdapat nyeri tekan pada abdomen di regio hipokondriaka
kanan, epigastrik, lumbal kanan, dan umbilkal.

Pada kepustakaan disebutkan terdapat gejala gastrointestinal


pada kasus demam typhoid yang berupa mual, muntah, diare,
obstipasi, atau obstipasi kemudian disusul episode diare. Pada
kasus demam dengue juga didapatkan obstipasi, perasaan
tidak nyaman di epigastrium, nyeri kolik dan perut lembek.
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
Pemeriksaan laboratorium darah lengkap dan serologi tanggal 25-
8-14
Hb 9.8 g/dl
Hitung jenis : Batang 0%; segmen 71%; monosit 0%
Eritrosit 3.67 juta/ul
Trombosit 101 ribu/ul
MCV 77fl
Serologi : Widal salmonella paratyphii BO 1/320; antisalmonella
IgM 6

Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium darah lengkap,


didapatkan gambaran anemia normositik normokrom.
Hal ini menurut kepustakaan, anemia normositik normokrom
terjadi sebagai akibat perdarahan usus atau supresi pada
sumsum tulang.
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
Berdasarkan hasil laboratorium serologi, didapatkan widal
Salmonella paratyphii BO 1/320, artinya hasil tes positif
demam typhoid.

Hal ini sesuai dengan kepustakaan, uji serologi widal suatu


metode serologik yang memeriksa antibodi aglutinasi
terhadap antigen somatik (O) dipakai untuk membuat
diagnose demam typhoid. Angka titer O aglutinin 1/40
menunjukkan nilai ramal positif 96%. Apabila titer O
agglutinin sekali periksa 1/200 atau pada titer sepasang
terjadi kenaikan 4 kali maka diagnosis demam typhoid
dapat ditegakkan. Hasil antisalmonella IgM 6 menunjukkan
indeksi kuat demam typhoid aktif
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
Pemeriksaan laboratorium imunoserologi pada
tanggal 29-8-14

Anti Dengue IgG/IgM negative

Berdasarkan hasil pemeriksaan imunoserologi


didapatkan hasil anti dengue IgG/IgM negatif, hal
ini dapat mengganti diagnosis banding demam
dengue.
DIAGNOSA BANDING
Infeksi Saluran Kemih

Berdasaarkan buku Pedoman Pelayanan Medis IDAI, infeksi


saluran kemih ditandai dengan adanya pertumbuhan bakteri
dalam saluran kemih, meliputi infeksi di parenkim ginjal sampai
infeksi di kandung kemih. Infeksi saluran kemih merupakan
penyebab demam kedua tersering setelah infeksi akut saluran
napas pada anak berusia kurang dari dua tahun. Gambaran
infeksi saluran kemih pada anak besar, gejalanya lebih khas,
seperti sakit waktu miksi, frekuensi miksi meningkat, nyeri perut
atau nyeri pinggangg, mengompol, polakisuria, atau urin yang
berbau menyengat. Gejala dan tanda infeksi saluran kemih yang
dapat ditemukan berupa demam, nyeri ketok sudut kostovertebral,
nyeri tekan suprasimfisis, kelainan pada genitalia eksterna dan
kelainan pada tulang belakang.
Pada kasus ini ditemukan demam
dan nyeri perut, namum usia pada
kasus ini lebih dari 2 tahun, tidak
terdapat keluhan saat miksi, tidak
ditemukan kelainan genitalia
maupun tulang belakang.
DIAGNOSA BANDING
Malaria

Menurut buku Pedoman Pelayanan Medis IDAI, pasien berasal


dari daerah endemis malaria, atau riwayat bepergian ke daerah
endemis malaria. Adanya lemah, nausea, muntah, tidak ada nafsu
makan, nyeri punggung, nyeri daerah perut, pucat, mialgia, dan
atralgia. Sebelum demam pasien merasa lemah, nyeri kepala,
tidak ada nafsu makan, mual atau muntah.

Pada kasus ini ditemukan demam, nausea, nyeri daerah perut,


tidak ada nafsu makan, namun pasien tidak berasal dari daerah
endemis maupun riwayat bepergian ke daerah endemis malaria.
DIAGNOSA BANDING
Demam dengue

Menurut buku Pedoman Pelayanan Medis IDAI, infeksi virus


dengue merupakan suatu penyakit demam akut yang disebabkan
oleh virus genus Flavivirus, family Flaviviridae, mempunyai 4 jenis
serotype yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4, melalui
perantara nyamuk Aedes aegypti. Pada sat ini jumlah kasus
infeksi virus dengue masih tetap tinggi, umur terbanyak yang
terkena infeksi dengue adalah kelompok umur 4-10 tahun,
walaupun makin banyak kelompok umur lebih tua. Dari
anamnesis didapatkan demam yang mendadak selama 2-7 hari.
Disertai lesu, tidak mau makan, dan muntah. Adanya nyeri kepala,
nyeri otot, dan nyeri perut. Diare kadang ditemukan. Perdarahan
paling sering dijumpai adalah perdarahan kulit dan mimisan.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya
hepatomegali, adanya tanda-tanda perembesan
plasma yang mengakibatkan ekstravasasi cairan ke
dalam rongga pleura dan rongga peritoneal selama
24-48 jam. Demam mulai turun pada hari ke-3 hingga
ke-5 yang menandakan awal penyembuhan pada
infeksi ringan namun pada demam berdarah dengue
berat merupakan tanda awal syok. Perdarah dapat
berupa petekie, epistaksis, melena, maupun
hematuria. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan
trombositopenia < 100.000/ul. Adanya
hemokonsentrasi, dilihat dari penigkatan hematokrit
20% menurut standar umur dan jenis kelamin.
Pada kasus ini ditemukan demam yang
bersifat muncul secara perlahan, terjadi
terutama pada sore menjelang malam
hari. Terdapat lesu, tidak mau makan, dan
muntah. Adanya nyeri kepala, nyeri perut,
dan diare. Namun pada kasus in tidak
ditemukan hepatomegali, tanda-tanda
perembesan plasma. Dan pada kasus ini
didapatkan hasil imunoserologi anti
dengue IgG/IgM negatif.
PENATALAKSANAAN
Non medikamentosa

Diet makanan lunak 2000 Kkal

Sesuai dengan usia tinggi, pada pasien ini usia


tinggi 12-18 tahun. Kebutuhan kalori sesuai
dengan berat badan ideal, pada pasien ini
didapatkan:
Kebutuhan kalori = BB ideal x (40-50)
= 44kg x (40-50)
= 1760 2200 Kkal
PENATALAKSANAAN
Medikamentosa

IFVD RL 1750 cc/24 jam

Berdasarkan rumus kebutuhan cairan rumatan perhari:


Jumlah cairan = 1500 cc + 20 cc/kg setiap kenaikan diatas 20kg
= 1500 cc + 20 x (49-20)
= 1500 cc + 20 x 29
= 1500 cc + 580 cc
= 2080 cc/24jam

Pemakaian IFVD RL sebanyak 1750cc/24jam dipertimbangkan


karena intake pasien masih baik, dan pasien masih mau minum
secara oral, maka sisa kebutuhan cairan rumatan sebesar 330cc
dapat diperoleh dari oral
PENATALAKSANAAN
Paracetamol tablet 3x500mg P.O

Dosis paracetamol yang dibutuhkan 10-15mg/kgBB/kali:


49 x (10 15) = 490 735
= 500mg/kali

Jadi, didapatkan paracetamol 3x500mg/hari.


Paracetamol diberikan secara peroral dan diberikan jika
demam lebih 37,50C
PENATALAKSANAAN
Domperidone syrup 3x1cth P.O (jika pasien mual dan
muntah)

Dosis domperidone yang dibutuhkan 0,2-0,4


mg/kgBB/hari terbagi dalam 3 dosis:
49 x (0,2-0,4) = 9,8 19,6
= 15mg/hari
= 3 x 5mg/hari

Jadi, didapatkan domperidone sirup 3x5mg/hari.


Berdasarkam sediaan yang ada, 5mg/5ml, 5ml=1cth.
PENATALAKSANAAN
Inj. Kloramfenikol 4x1gr IV

Dosis kloramfenikol yang dibutuhkan 50-100 mg/kgBB/hari dapat


diberikan sebanyak 4 kali perhari:
49 x (50-100) = 2450 - 4900
= 4000 mg/hari
= 4 x 1gr/hari

Jadi, didapatkan kloramfenikol 4x1gr/hari. Berdasarkan sediaan


yang ada, inj. 1gr/vial. Cettriaxoxen dapat diberikan secara IV
atau IM selama 10-14 hari atau 5-7 hari bebas demam.
Terapi ini diberikan berdasarkan kepustakaan yang menyatakan
lini pertama antibiotic untuk pengobatan demam typhoid adalah
kloramfenikol.
PENATALAKSANAAN
Suportif

Demam typhoid ringan dapat dirawat di rumah


Tirah baring
Isolasi memadai
Kebutuhan cairan dan kalori dicukupi