Anda di halaman 1dari 48

TRANSFUSI

DARAH
Oleh :
Apilia Patampang
Gesizia Ari
Nurul Annisari Al-Maidin
Identitas Pasien
Nama : CA
No. RM :680351
Jenis Kelamin : Perempuan
Tanggal Lahir : 24 – 02 – 2014 (4 Tahun)
Alamat : Kampung Parang
Tanggal Masuk RS : 26 – 08 – 2018
Ruangan : IRD Anak
Anamnesis
• Keluhan Utama : Pucat
• Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien pucat sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit, tidak
demam, tidak kejang, tidak batuk, tidak sesak, tidak muntah. Buang air
kecil, lancar, kuning. Buang air besar, biasa, kuning.
Riwayat dirawat di RS Wahidin Sudirohusodo dengan diagnosis
Thalasemia Beta Major dan mendapat transfusi darah.
Imunisasi Belum 1 2 3 4 Booster 18

Jadwal Pernah Bulan-2


Tahun

Imunisasi BCG
HEP. B

√ √ √
POLIO √ √ √ √
DPT √ √ √
CAMPAK √
HIB √

PCV √
ROTAVIRUS √
INFLUENZA √
MMR √
VARISELA √
HEP A √
TIFOID √
HIV √
Pemeriksaan Fisik
• Keadaan Umum Status Antropometri
• BB : 8,5 kg
Sakit sedang / Gizi Baik / GCS 15
• PB/TB : 90 cm
(E4V5M6)
• LLA : 14 cm
• LK : 49,5 cm
• Tanda – tanda Vital
• LD : 51 cm
Tekanan Darah : 90 / 60 mmHg
• LP : 49 cm
Nadi : 98 kali/ menit
• BB/TB : terletak digaris median
Pernapasan : 24 kali / menit dan -1SD
Suhu : 37°C • TB/U : terletak di garis median
dan -2SD
• BB/U : terletak digaris -2SD
Pemeriksaan Fisik
Kepala Mulut : Stomatitis tidak ada
Rambut : Hitam, sukar dicabut - Lidah : Tidak kotor
Bentuk : Normocephal - Tenggorok : Hiperemis tidak ada
Ukuran : Mesocephal
Ubun – ubun Besar : Sudah menutup Leher : Kaku kuduk tidak ada
Kelenjar Limfe : Tidak ada pembesaran
Muka : Pucat, Facies Cooley
Mata : Perdarahan subkonjungtiva
tidak ada
Telinga : Perdarahan tidak ada
Hidung : Epistaksis tidak ada
Bibir : Tidak kering
- Pucat : Ada
- Sianosis : Tidak ada
Pemeriksaan Fisik
Thorax
Bentuk : Kiri sama dengan kanan • Auskultasi :
Payudara : Tidak ada kelainan Bunyi Pernapasan : Vesikuler
Bunyi Tambahan : Ronkhi (-/-), Wheezing (-/-)
Paru
• Inspeksi : Jantung
Simetris kiri sama dengan kanan • Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
Sela iga kiri sama dengan kanan • Palpasi : Ictus cordis teraba, thrill teraba
• Perkusi :
• Palpasi : - Batas atas intercostal III kiri
- Batas paru hepar intercostal VI kanan - Batas kiri linea midclavicula kiri
- Batas paru belakang kanan vertebra thoracal X - Batas kanan linea parasternalis kanan
- Batas paru belakang kiri vertebra thoracal XI • Auskultasi : BJ I/II murni reguler, Bising jantung (-
)

• Perkusi :
Sonor pada kedua lapangan paru
Pemeriksaan Fisik
Abdomen • Kelenjar Limfe:
• Inspeksi : Datar, ikut gerak napas Tidak ada limfadenopati
• Alat Kelamin : Tidak ada kelainan
• Palpasi : • Ekstremitas : Wasting tidak ada
Hepar dan Lien tidak teraba • Kulit : Warna keabu-abuan
Massa tumor (-), Nyeri tekan (-) • Refleks Fisiologis:
KPR+/+ BPR +/+ APR +/+ TPR +/+
• Perkusi : Timpani (+) • Refleks Patologis :
Babinski tidak ada, Gordon tidak ada
• Auskultasi : Openheim tidak ada Chaddock tidak ada
Peristaltik ada, kesan normal
• Lain – lain :
Pemeriksaan Penunjang
26/08/2018
PEMERIKSAAN HASIL NORMAL
WBC 8.17 (103/mm3) 4.00 - 10.0 103/ mm3
RBC 2.44 (106/ mm3) 4.00 - 6.00 106/ mm3
HGB 6.7 (g/dL) 12.0 – 16.0 g/dL
HCT 19.8 % 37.0 - 48.0 %
MCV 81.1 fL 80 - 100 fL
MCH 27.5 pg 26.5 – 33.5 pg
MCHC 33.8 (g/dL) 31.5 - 35.0 g/dL
PLT 232 (103/ mm3) 150 - 400 103/ mm3
NEUT 57.3 % 50.0 - 80.0 %
LYMP 33.7 % 25.0 - 50.0 %
MONO 6.4 % 2.0 - 10.0 %
EOS 2.2 % 0.0 - 5.0 %
BASO 0.03 % 0.0 - 2.0 %
Diagnosis Kerja
• Thalasemia β Major
• Hemokromatosis
Tata Laksana
• Infus Dextrose 5% 16 Tetes/Menit
• Transfusi Packed Red Cell 250 cc
Tahap I : 150 cc/intravena
Tahap II : 100 cc/intravena
• Asam Folat 5 mg/12 jam/oral
• Vitamin E 200 IV/12 jam /oral
• Exsade 250 mg/24 jam/ oral
• Makanan Biasa
Energi : 1175 Kkal
Protein :44 gram
Resume
Seorang anak perempuan berusia 4 tahun masuk ke rumah sakit dengan
keluhan pucat sejak 2 hari, tidak demam, tidak kejang, tidak batuk, tidak
sesak, tidak muntah. Buang air kecil, lancar, kuning. Buang air besar, biasa,
kuning.
Riwayat dirawat di RS Wahidin Sudirohusodo dengan diagnosis Thalasemia
Beta Major dan mendapat transfusi darah.
Pada pemeriksaan fisis, didapatkan ada facies cooley, wajah pucat, warna
kulit keabu-abuan, tidak ikterus, limfadenopati tidak ada.
3 3 6 3
Pemeriksaan Darah Rutin : WBC = 8.17 (10 /mm ), RBC = 2.44 (10 / mm ),
HGB = 6.7 (g/dL) ,HCT
3 = 19.8
3 %, MCV = 81.1 fL, MCH = 27.5 pg ,MCHC = 33.8
(g/dL) PLT= 232 (10 / mm ).
Pasien mendapat Infus Dextrose 5% dan transfusi Packed Red Cell 250 cc.
DISKUSI
THALASEMIA

Thalasemia berasal dari bahasa Yunani yaitu thalasso yang berarti laut
Anemia Laut Tengah / Mediterranean Anemia/ Cooley Anemia
PENGERTIAN
Suatu penyakit keturunan yang diakibatkan oleh kegagalan pembentukan
salah satu dari empat rantai asam amino yang membentuk hemoglobin,
sehingga hemoglobin tidak terbentuk sempurna

ETIOLOGI
Talasemia terjadi karena tubuh tidak dapat memproduksi rantai protein
hemoglobin yang cukup. Hal ini menyebabkan sel darah merah gagal
terbentuk dengan baik dan tidak dapat membawa oksigen. Gen memiliki
peran dalam mensintesis rantai protein hemoglobin. Jika gen – gen ini hilang
atau diubah atau terganggu maka talasemia dapat terjadi.
KLASIFIKASI THALASEMIA
1. Thalasemia Alfa

• a. Silent Carrier State


Gangguan pada 1 rantai globin alfa. Keadaan ini tidak timbul gejala
sama sekali atau sedikit kelainan berupa sel darah merah yang tampak
lebih pucat.
• b. Alfa Thalasemia Trait
Gangguan pada 2 rantai globin alpha. Penderita mengalami anemia
ringan dengan sel darah merah hipokrom dan mikrositer, dapat
menjadi carrier.
• c. Hb H Disease
Gangguan pada 3 rantai globin alfa. Penderita dapat bervariasi mulai
tidak ada gejala sama sekali, hingga anemia yang berat yang disertai
dengan perbesaran limpa.
• d. Alfa Thalassemia Mayor
Gangguan pada 4 rantai globin alpha. Thalasemia tipe ini merupakan
kondisi yang paling berbahaya pada thalassemia tipe alfa. Kondisi ini
tidak terdapat rantai globin yang dibentuk sehingga tidak ada HbA atau
HbF yang diproduksi. Janin yang menderita alpha thalassemia mayor
pada awal kehamilan akan mengalami anemia, membengkak karena
kelebihan cairan, perbesaran hati dan limpa. Janin ini biasanya
mengalami keguguran atau meninggal tidak lama setelah dilahirkan.
2. Thalasemia Beta

• a. Beta Thalasemia Trait.


Thalasemia jenis ini memiliki satu gen normal dan satu gen yang
bermutasi. Penderita mengalami anemia ringan yang ditandai dengan
sel darah merah yang mengecil (mikrositer).
• b. Thalasemia Intermedia.
Kondisi ini kedua gen mengalami mutasi tetapi masih bisa produksi
sedikit rantai beta globin. Penderita mengalami anemia yang derajatnya
tergantung dari derajat mutasi gen yang terjadi
• c. Thalasemia Mayor.
Kondisi ini kedua gen mengalami mutasi sehingga tidak dapat
memproduksi rantai beta globin. Gejala muncul pada bayi ketika
berumur 3 bulan berupa anemia yang berat. Penderita thalasemia
mayor tidak dapat membentuk hemoglobin yang cukup sehingga
hampir tidak ada oksigen yang dapat disalurkan ke seluruh tubuh, yang
lama kelamaan akan menyebabkan kekurangan O2, gagal jantung
kongestif, maupun kematian. Penderita thalasemia mayor memerlukan
transfusi darah yang rutin dan perawatan medis demi kelangsungan
hidupnya
PATOGENESIS
• Terjadi perubahan kecepatan dan kemampuan produksi rantai globin tertentu
sehingga terjadi penurunan produksi atau malah tidak diproduksi rantai globin
tersebut
• Bisa terjadi mutasi dari gen globin sehingga menimbulkan perubahan pada rantai
globin α atau β.
• Mutasi pada clusters gen α pada kromosom 16 dan β pada kromosom 11 
delesi maupun non delesi.
Patogenesis Thalasemia Beta
Patogenesis Thalasemia Alfa

Thalassemia α  secara patogenesis hampir sama dengan


pada thalassemia β, perbedaan terletak pada:

1.Pada umumnya terjadi delesi gen

2.Rantai α dimiliki bersama oleh fetus ataupun dewasa


sehingga akan bermanifestasi pada masa fetus.

3.Menimbulkan tetramer yang larut yakni rantai γ4, Hb


Barts dan β4, sedangkan pada thalassemia β terjadi
peningkatan rantai α.
PENDEKATAN DIAGNOSIS THALASEMIA
ANAMNESIS :
Gejala pasien anemia pada umumnya badan lemah, cepat lelah, pucat
dapat disertai kuning, kelainan tulang dan perut teraba massa. Harus
ditanyakan riwayat penyakit dalam keluarga.

Pemeriksaan Fisik :
Facies thalassemia, gejala anemia, dapat terlihat ikterik, bisa terdapat
hepato splenomegali, kelainan tulang dan pertumbuhan tulang, dapat
terjadi hemopoesis ekstramedular, tanda kardiomiopati, tanda penyakit
hati kronik, ulkus maleolar dan kelainan endokrin.
Laboratorium
•Darah Lengkap : Hb, Hematokrit, indeks eritrosit (MCV biasanya rendah,
MCH, MCHC yang biasanya sedikit menurun, RDW yang meningkat),
retikulosit dapat meningkat pada HbH disease dan thalassemia β
homozigot, status besi untuk menyingkirkan penyebab anemia yang
lainya.
•Hapusan darah : anemia mikrositer, hipokrom, anisositosis,
poikilositosis, polikromasia, normoblast, fragmentosis, sel target,
eliptosit, basopilik stippling.
•Pemeriksaan analisis Hemoglobin
• Elektroforesis Hb :
• Hb varian kualitatif
• HbA2 kuantitatif
• HbF
• HbH inclusion bodies
• Metode HPLC : analisis kualitatif dan kuantitatif
Pencitraan
MRI : untuk hematopoesis extramedular untuk melihat kondisi tulang
MRI T2 : untuk melihat iron overload pada jantung

Pemeriksaan Komplikasi Thalassemia


• USG abdomen  splenomegali
• CT Scan  cholelitiasis, CVD
• X-ray  hemopoesis ekstramedular, kelainan tulang
• Angiografi  trombosis
• Echocardiografi  kardiomiopati
• Biopsi hati  penumpukan besi di hati
PENATALAKSANAAN
Pengobatan terhadap penyakit dengan cara tranfusi darah, splenektomi,
induksi sintesa rantai globin, transplantasi sumsum tulang dan terapi
gen. Pengobatan komplikasi meliputi mencegah kelebihan dan
penimbunan besi, pemberian kalsium, asam folat, imunisasi. Pemberian
vitamin C 100-250 mg/hari untuk meningkatkan ekskresi besi dan hanya
diberikan pada saat kelasi besi saja. Vitamin E 200-400 IU/hari untuk
memperpanjang umur sel darah mer
TRANSFUSI DARAH
Penderita thalasemia mayor membutuhkan transfusi seumur
hidup untuk mengatasi anemia. Transfusi diberikan apabila kadar Hb <
8 gr/dl dan diusahakan kadar Hb diatas 10 gr/dl namun dianjurkan
tidak melebihi 15 gr/dl dengan tujuan agar suplai oksigen ke jaringan-
jaringan cukup juga mengurangi hemopoesis yang berlebihan dalam
sumsum tulang dan mengurangi absorbsi Fe dari traktus digestivus.
Transfusi diberikan sebaiknya dengan jumlah 10-20 ml/kg BB dan dalam
bentuk PRC (paked read cells) .
HEMOKROMATOSIS
Hemokromatosis yaitu gangguan fungsi hati sebagai akibat dari
penimbunan zat besi dan saturasi transferin. Hemokromatosis terjadi
disertai dengan kadar feritin serum > 1000 μg/L. Ferritin merupakan
suatu protein darah yang kenaikannya berhubungan dengan jumlah
besi yang tersimpan dalam tubuh. Kadar feritin yang tinggi dapat
meningkat pada infeksi-infeksi tertentu seperti hepatitis virus dan
peradangan lain dalam tubuh. Kenaikan ferritin tidak spesifik untuk
mendiagnosis hemokromatosis. Pemeriksaan lain untuk mendiagnosa
hemokromatosis adalah TIBC dan transferi saturation. TIBC adalah
suatu pengukuran jumlah total besi yang dapat dibawa dalam serum
oleh transferrin. Transferrin saturation adalah suatu jumlah yang
dihitung dengan membagi serum besi oleh TIBC, hasil angka yang
mencerminkan besarnya persentase dari transferrin yang sedang
dipakai untuk mengangkut besi.
Penderita dengan hemokromatosis keturunan, serum besi dan
transferrin saturation hasilnya di atas normal. Tes yang paling akurat
untuk mendiagnosis hemokromatosis adalah dengan biopsi jaringan
hati sehingga dapat melihat langsung seberapa besar kerusakan hati.
Gejala klinis yang paling sering dijumpai adalah hepatomegali, pada
stadium lanjut dapat terjadi sirosis yang ditandai dengan splenomegali,
ikterus, asites dan edema. Sirosis dapat mengakibatkan kanker hati.
Penderita thalasemia lebih beresiko terkena hemokromatosis sebagai
akibat dari penimbunan zat besi pada hati .
TRANSFUSI
DARAH
Pendahuluan

• Darah adalah materi biologis yang bersifat multigenik sehingga secara


potensial dapat menimbulkan berbagai reaksi imunologik pada
resipien

• Transfusi darah merupakan suatu rangkaian proses pemindahan


darah dari seorang donor kepada resipien
Prinsip Transfusi Darah Secara Umum
• Pencegahan dan pengelolaan dini anemia merupakan strategi
penting dalam mengurangi kebutuhan transfusi darah pada anak
• Bila terjadi hipoksia tubuh akan mengadakan kompensasi, pemberian
terapi suportif (oksigenasi) lebih diutamakan, bila belum stabil
berikan transfusi darah
• Kadar hemoglobin bukan merupakan indikator satu-satunya untuk
transfusi darah, tetapi juga ditentukan oleh keadaan klinis
• Pemberian transfusi berulang pada kasus kasus tertentu mungkin
dibutuhkan (thalasemia, sickle cell anemia)
• Pertimbangkan terjadinya risiko infeksi yang akan terjadi
Hal Yang Perlu Diperhatikan Sebelum
Transfusi Darah
• Penjelasan kepada pasien dan keluarganya dengan informed
consent
• Cocokan identitas resipien dengan kantong darah:
• Nama resipien
• Apakah ada tanda-tanda kompatibel pada darah yang
ditransfusikan termasuk tanggal kadaluarsa darah
• Cek darah secara visual apakah ada bekuan darah
• Catat tekanan darah, frekuansi nadi resipien
• Monitor keadaan pasien:
• Untuk setiap darah yang ditransfusikan segera sesudah transfusi dimulai
• Dimulai pada 15 menit pertama sesudah transfusi darah dimulai sampai
sekurang kurangnya 1 jam berikutnya sampai transfusi selesai.
• Membuat patient chart
• Mencatat keadaan umum pasien, suhu tubuh, nadi, tekanan darah,
pernapasan.
• Keseimbangan cairan (oral/cairan intravena, output urin)
• Catatan lain :
• Waktu mulai transfusi
• Selesai transfusi
• Volume dan macam produk yang ditransfusi
• Nomor donasi
• Reaksi transfusi : catat dan segera melapor bila ada tanda-tanda dingin,
demam, gatal-gatal, nyeri kepala.
Keuntungan Terapi Komponen Darah
• Resipien hanya mendapat transfusi dengan komponen darah yang
dibutuhkan saja sehingga akan mengurangi terjadinya reaksi transfusi
• Komponen darah yang dihasilkan dari satu kantong darah dapat
diberikan kepada lebih dari satu resipien
• Plasma yang dihasilkan dapat diproses lebih lanjut melalui proses
fraksionasi untuk pembuatan faktor konsentrat karena didalamnya
mengandung faktor VIII, faktor IX, albumin, imunoglobulin
• Komponen darah yang disimpan dalam tempat penyimpanan khusus
akan meningkatkan kualitas dan fungsi masing-masing komponen
Macam-Macam Komponen Darah Dan
Indikasi
• Whole Blood
Darah utuh/whole blood (WB) berisi 250 ml darah +35 ml antikoagulan
CPDA-1.
• Sel darah merah pekat (packed red cell/PRC)
Sel darah merah berisi hemoglobin merupakan kompleks zat besi dan
berisi protein yang akan membawa oksigen ke seluruh tubuh serta
memberi warna merah pada darah. Sel darah merah yang tersedia
dalam bentuk sel darah merah pekat (PRC),
• Sel darah merah pekat yang dicuci (washed packed red cell/WRC)
Selain PRC juga disediakan komponen PRC yang dicuci (WRC). Sel darah
merah cuci harus digunakan dalam waktu 24 jam (suhu penyimpanan
1-6oC) karena pembuatannya dilakukan secara terbuka (open system)
selain itu dengan dilakukan pencucian maka antikoagulan akan terambil
sehingga tidak dapat disimpan lama.
• Thrombocyte concentrat (TC)
Trombosit adalah sel yang dibutuhkan pada proses hemostasis primer,
diperoleh dengan mesin refrigerated centrifuge. Selain secara manual
trombosit dapat diperoleh dengan alat apheresis
• Plasma segar beku (Fresh frozen plasma = FFP)
Plasma Segar Beku atau lebih dikenal Fresh frozen Plasma/ FFP adalah
plasma yang dipisahkan dari whole blood dan disimpan pada suhu -18
°C.
• Cryoprecipitate (Cryo)
Cryoprecipitate Anti Hemophilic Factor (Cryo AHF) adalah larutan dingin
yang tidak larut yang tertinggal dalam plasma dan pemrosesannya
berasal dari FFP yang dicairkan pada suhu 1-6°C. Cryoprecipitate berisi
faktor pembekuan termasuk faktor VIII, fibrinogen, von Willebrand dan
faktor XIII. Setiap kantong cryoprecipitate (15-30 ml) berisi 80 IU faktor
VIII dan fibrinogen 100-350 mg (minimum 150 mg).
a. Whole Blood
Indikasi
• Untuk menambah volume darah dan kemampuan untuk membawa O--2 pada
kasus-kasus perdarahan akut dan perdarahan dalam jumlah besar
• Pada perdarahan akut dengan kehilangan darah <15% biasanya diberikan cairan
kristaloid (Normal Saline, Ringer laktat) atau koloid. Apabila perdarahan mencapai
>15% dan pasien berisiko mengalami syok (renjatan) akibat perdarahan maka
pemberian WB diindikasikan untuk memperbaiki volume dan membawa O2
• Pada pasien dengan perdarahan melebihi 1/3 dari volume darah dalam tubuh,
cairan kristaloid harus diganti dengan cairan koloid (Dextran, Hydroxyethyl
Starch/HES, Voluvent®).
• Untuk transfusi tukar, digunakan darah yang berumur tidak lebih dari 4-5 hari
Kontra indikasi
• Whole blood tidak diindikasikan semata-mata untuk menggantikan volume darah
maupun diperuntukkan bagi pasien dengan anemia normovolume karena
mengandung risiko yang tinggi. Penggunaan Whole blood untuk transfusi pada
saat ini sangat terbatas
b. Packed Red Cell
Indikasi
• Pada keadaan kehilangan darah akut >15% dari total volume darah dan konsentrasi --Hb >7 g/dl
• Pada kehilangan darah <15% dari total volume darah, diberikan kristaloid/koloid.--
Dosis dan cara pemberian
• Setiap unit PRC akan menaikkan konsentrasi Hb kira-kira 1g/dL atau kenaikan --hematokrit sekitar 3%.
• Hampir semua anak-anak mentoleransi dosis 5-10 mL/kg. Dosis neonatus adalah --10-15 mL/kg.
• Digunakan dosis 5 ml/kg apabila hematokrit < 20%, dan dosis 2,5 mL/kg bila --hematokrit <10%.
• Transfusi PRC 3 ml/kg akan menaikkan HB 1 g/dL atau 10 mL/kg akan menaikkan --hematokrit 10%.
• Lama pemberian PRC minimum 2 jam dan maksimum 4 jam
c. TROMBOCYTE CONCENTRAT (TC)
Indikasi
• Thrombocyte concentrat diberikan untuk perdarahan akibat
berkurangnya jumlah maupun gangguan fungsi dari trombosit.
Pemberian TC dilakukan apabila jumlah trombosit berkisar 20.000-
50.000/μL dan pemberiannya dilakukan sesuai golongan darah ABO.
Kontra Indikasi
• Pada penderita --immune thrombocytopenic purpura (ITP)
• Perdarahan intravaskular menyeluruh (PIM). --
• Hal ini disebabkan karena bahaya terbentuknya thrombus.
Dosis dan cara pemberian
• Satu unit trombosit (30-50 mL) yang berasal dari 450 mL WB berisi
trombosit 60 x 109/L

Pemberian satu unit TC per 10 kg BB akan menaikkan jumlah trombosit sebanyak 5.000-10.000 /μL.
Lama transfusi untuk satu unit TC adalah 5-15 menit, maksimum pemberian dilakukan tidak boleh lebih
dari 4 jam.
d. Fresh Frozen Plasma (FFP)
• FFP digunakan pada kelainan pembekuan baik yang didapat sejak
lahir atau sesudah --lahir. Akibat kekurangan faktor koagulasi dapat
terjadi perdarahan aktif dan biasanya diberikan sebelum operasi
• FFP digunakan untuk pengobatan kekurangan faktor pembekuan yang
ganda misalnya --pada pasien dengan penyakit hati, vit K defisiensi
(malabsorsi, penyakit empedu, starvation), atau DIC
• Hemofilia B
• Hipoproteinemia pada luka bakar
e. Cryoprecipitate (Cryo)
Indikasi
• Mengontrol perdarahan pada pasien Hemofilia A, von Willebrand
yang tidak ada respons dengan desmopressin.Pedoman Pelayanan
Medis Edisi II 309
Dosis dan pemberian
• Untuk menaikkan aktivitas faktor VIII 80-100%, dibutuhkan 1-2
kantong Cryo.
• Dosis: 1-2 mL / kgBB atau satu kantong Cryo/6 kgBB. Dosis tambahan
dapat diberikan dengan interval 8-12 jam kemudian.
Reaksi Transfusi
1. Reaksi Transfusi Imun
a. Reaksi transfusi cepat
• Reaksi transfusi hemolitik imun--
• Reaksi transfusi panas non hemolitik--
• Reaksi alergi--
• Reaksi anafilaksis--
• b. Reaksi transfusi lambat:
• Reaksi hemolitik lambat--
• Aloimunisasi--
• Graft versus Host Disease-- (GVHD)
2. Reaksi transfusi non imun
• Kontaminasi bakteri, kelebihan zat besi, kelebihan cairan sirkulasi.
Reaksi transfusi imun
-Reaksi transfuse Cepat
 Reaksi Transfusi hemolitik imun
Reakti transfusi hemolitik imun dapat terjadi segera sesudah transfusi
atau dapat terjadi setelah beberapa hari transfusi. Terjadinya reaksi
bervariasi 1-2 jam sesudah transfusi. Reaksi transfusi yang terjadi disebabkan
karena kerusakan sel darah merah resipien yang diakibatkan alloantibodi
terhadap sel darah merah.
Reaksi transfusi panas non hemolitik
Reaksi transfusi panas non hemolitik terjadi apabila suhu pasien naik
>1°C dari suhu sebelumnya akibat transfusi. Hal ini dapat disebabkan karena
antibodi leukosit dalam pasien atau sitokin yang dihasilkan selama
penyimpanan darah. Terjadi pada sesudah 4-6 jam transfusi atau setelah
transfusi. Terajdi pada trasnfusi sel darah merah, trombosit yang berulang

-
- Rekasi Transfusi Lambat
Reaksi transfusi hemolitik lambat
Hemolisis ekstravaskular terjadi karena adanya alloantibodi yang tidak
terdeteksi pada saat dilakukan uji silang serasi (crossmatch). Pada reaksi
hemolitik lambat hemolisis sel darah merah terjadi setelah >24 jam sampai 1
minggu bahkan mungkin dapat terjadi >1 bulan. Hal ini terjadi akibat dalam
tubuh pasien terbentuk antibodi sebagai akibat transfusi sebelumnya atau
akibat kehamilan yang terdahulu.
Aloimunisasi
Terjadi akibat masuknya komponen darah lain kedalam tubuh pasien
walaupun dalam jumlah sedikit maka antigen sel darah merah yang masuk
akan menimbulkan respons imun.
Gravt versus host disease (GVHD)
Risiko terjadinya graft versus host disease (GVHD) sesudah transfusi
komponen darah atau transplantasi sumsum tulang biasanya akan berakibat
fatal. Oleh karena itu pencegahan GVHD pada transfusi adalah sangat
penting misalnya dengan melakukan radiasi pada komponen darah.