Anda di halaman 1dari 26

ABORSI DAN TERMINASI KEHAMILAN

“ABORTION IS ONE OF THE


CONTROVERSIAL ISSUES
DISCUSSED IN MEDICAL ETHICS”
REASON?
1. Therapeutic - the life of a mother may be at risk should she
carry a child to term.
2. Eugenic - the baby is retarded, deformed, or handicapped in
some way.
3. Psychiatric - the mother’s mental health.
4. Socio-economic - to ease economic pressures on an
individual/family.
5. Violation - in cases where the pregnancy resulted from rape
or incest.
6. On demand - for any reason important to the mother.
A congenital anomaly is defined as an abnormality of
structure, function or body metabolism that is present
at birth and results in physical or mental disability, or is
fatal
A. ABORSI
• Aborsi adalah keluarnya atau dikeluarkannya hasil konsepsi
dari kandungan seorang ibu sebelum waktunya.
• Aborsi atau abortus dapat terjadi secara spontan dan
aborsi buatan
• Data statistik BKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana
Nasional) menunjukkan bahwa sekitar 2.000.000 kasus
aborsi terjadi setiap tahun di Indonesia.
1. Spontaneous abortion: gugur kandungan yang disebabkan oleh
trauma kecelakaan atau sebab-sebab alami -> abortus
2. Induced abortion atau procured abortion: pengguguran kandungan
yang disengaja : -> aborsi
a. Therapeutic abortion: pengguguran yang dilakukan karena kehamilan
tersebut mengancam kesehatan jasmani atau rohani sang ibu, kadang-
kadang dilakukan sesudah pemerkosaan.
b. Eugenic abortion: pengguguran yang dilakukan terhadap janin yang
cacat.
c. Elective abortion: pengguguran yang dilakukan untuk alasan-alasan
lain.
1. Bersifat legal (abortus medicinalis)
• Dilakukan oleh tenaga kesehatan/medis yang
berkompeten berdasarkan indikasi medis
• Dengan persetujuan ibu yang hamil dan/atau
suami
• Aborsi legal disebut juga pengguguran dengan
indikasi medis, namun tidak semua tindakan
yang sudah mempunyai indikasi medik ini
dapat dilakukan aborsi buatan.
• Beberapa persyaratan lain yang harus dipenuhi
:
a. Aborsi hanya dilakukan sebagai tindakan
teraputik.
b. Disetujui secara tertulis oleh dua orang dokter
yang berkompeten
c. Dilakukan ditempat pelayanan kesehatan yang
diakui oleh suatu otoritas yang sah
2. Bersifat Ilegal

Dilakukan oleh tenaga kesehatan/tenaga medis yang tidak


kompeten
Melalui cara-cara diluar medis (pijat, jamu atau ramuan-
ramuan)
Dengan atau tanpa persetujuan ibu hamil dan/atau
suaminya.
Aborsi ilegal sering juga dilakukan oleh tenaga medis yang
kompeten, tetapi tidak mempunyai indikasi medis.
ASPEK HUKUM

• Dalam undang undang kesehatan yang lama (UU No. 23


/1992) ketentuan mengenai aborsi menyebutkan :
“dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan
jiwa ibu hamil dan atau janinnya dapat dilakukan tindakan
medis tertentu.”(Pasal 15)

• Dalam Undang undang kesehatan yang berlaku saat ini (UU


No. 36/2009), ketentuan mengenai aborsi depertegas :
“ setiap orang dilarang melakukan aborsi” (Pasal 75 ayat 1)
Peraturan Pemerintah No 61 Tahun 2014 tentang
Kesehatan Reproduksi Pasal 31
1. Tindakan aborsi hanya dapat dilakukan
berdasarkan:
a. indikasi kedaruratan medis ; atau
b. kehamilan akibat perkosaan.
2. Tindakan aborsi akibat perkosaan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf b hanya dapat dilakukan
apabila usia kehamilan paling lama berusia
40 (empat puluh) hari dihitung sejak hari pertama
haid terakhir
• Larangan aborsi ini dikecualikan berdasarkan:

a. indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini


kehamilan, baik yang mengancam nyawa ibu dan/atau
janin, yang menderita penyakit genetik berat dan/atau
cacat bawaan, maupun yang tidak dapat diperbaiki
sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar
kandungan; atau

b. kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan


trauma psikologis bagi korban perkosaan.
(Pasal 75 ayat 2)
Indikasi Perkosaan Pasal 34

(1) Kehamilan akibat perkosaan sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 31 ayat (1)
huruf b merupakan kehamilan hasil
hubungan seksual tanpa adanya persetujuan
dari pihak perempuan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-‐undangan.
(2) Kehamilan akibat perkosaan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dibuktikan
dengan:
a. usia kehamilan sesuai dengan kejadian
perkosaan, yang dinyatakan oleh surat
keterangan dokter; dan
b. keterangan penyidik, psikolog, dan/atau
ahli lain mengenai adanya dugaan
perkosaan.
Sanksi Pidana Aborsi

Setiap orang yang dengan sengaja melakukan aborsi tidak


sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 75 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling
lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak
Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
KUHP
Pasal 346 : "Seorang wanita yang sengaja menggugurkan
atau mematikan kandungannya atau menyuruh orang lain
untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama
empat tahun."
Pasal 347 : (1) Barang siapa dengan sengaja
menggugurkan atau mematikan kandungan seorang
wanita tanpa persetujuannya, diancam dengan pidana
penjara paling lama dua belas tahun. (2) Jika perbuatan
itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, diancam
dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.
Pasal 348 : (1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau
mematikan kandungan seorang wanita dengan persetujuannya, diancam
dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun . (2) Jika perbuatan
itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, diancam dengan pidana
penjara paling lama tujuh tahun.

Pasal 349 : Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu
melakukan kejahatan berdasarkan pasal 346, ataupun melakukan atau
membantu melakukan salah satu kejahatan diterangkan dalam pasal 347
dan 348, maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah
dengan sepertiga dan dapat dicabut hak untuk menjalankan pencarian
dalam mana kejahatan dilakukan
DAMPAK ABORSI & PELAKU ABORSI
DAMPAK ABORSI:
1. Perforasi
2. Luka pada serviks uteri
3. Pelekatan pada kavum uteri, terdiri dari:
 Perdarahan
 Infeksi
4. Cara-cara abortus yang lain:
 Secara Umum
 Secara khusus

PELAKU ABORSI :
◦ -Ibu Rumah Tangga (dilakukan dengan berbagai macam alasan)
◦ - Remaja/wanita yang hamil diluar nikah
◦ - Korban perkosaan
◦ - Pekerja seks komersial
Aspek Etika Kedokteran

Bunyi lafal sumpah dokter : Saya akan merahasiakan segala


sesuatu yang saya ketahui dari pasien bahkan hingga pasien
meninggal.

Bunyi lafal sumpah dokter : Saya akan menghormati setiap hidup


insane mulai dari pembuahan.

Penjelasan Pasal 7c KODEKI : Abortus Provokatus dapat


dibenarkan dalam tindakan pengobatan/medis

Pasal 10 KODEKI : Dokter wajib mengingat akan kewajibannya


melindungi hidup tiap insani.
THE FOUNDATIONAL ISSUE: WHEN
DOES LIFE BEGIN?
POLARISASI ANTARA “PRO LIFE & PRO
CHOICE”
Pro kan kontra tentang aborsi menjadi fenomena di Amerika
dan melahirkan Gerakan di masyarakat yakni :
- Pro Life yaitu : menekankan hak janin untuk hidup, bagi kaum
ini mengaborsi janin sama dengan pembunuhan (murder).
Pro life didukung oleh kelompok keagamaan khususnya yang
berorientasi fundamentalis
- Pro choice yaitu : mengedepankan pilihan si perempuan mau
melanjutkan kehamilannya atau mengakhirinya dengan aborsi,
bagi kaum ini perempuan mempunyai hak untuk memilih dan
orang lain tidak boleh ikut campur.
Pro choice lebih banyak dianut oleh kelompok feministis& oleh
mereka yang berorientasi sekuler.
PANDANGAN ABORSI
KONSERVATIF LIBERAL MODERAT

menyangkut kualitas si janin dan wanita


agama dan filosofis : janin, keadaan sebagai pemilik hak
kesucian kehidupan, kesehatan fisik dan dan mengakui
larangan untuk mental si wanita, hak bahwa upaya untuk
memusnahkan wanita atas integritas memecahkan konflik
kehidupan manusia badani, kesejahteraan hak seperti itu mau
yang tidak bersalah, keluarga yang sudah tidak mau akan
dan ketakutan akan ada, pertimbangan menyebabkan
implikasi sosial karier, dan keluarga penderitaan dan
berencana rasa berat hati
4 PRINSIP UTAMA
BIOMEDICAL ETHIC

1. Respect for autonomy


2. Nonmaleficence
3. Beneficence
4. Justice
Respect for autonomy
1. Tell the truth.
2. Respect the privacy of others.
3. Protect confidential information.
4. Obtain consent for interventions with patients.
5. When asked, help others make important decisions

Woman’s Autonomy: Can the Mother Decide for the Fetus?


Nonmaleficence

(1) do not harm ( fetus?)

Beneficence

(2) maximize possible benefits (mother or fetus?) and


minimize possible harms.
The abortion question in not only a topic on the mother’s
autonomy, but also one that relates to the crash between said
autonomy and due beneficency to the fetus as a human being,
whose dignity must be respected.
Justice, as a principle in healthcare ethics, refers to
fairness, treating people equally and without
prejudice, and the equitable distribution of benefits
and burdens, including assuring fairness in biomedical
research.

Physician’s Autonomy: Can the Physician Decide for


the Fetus?
TERIMA KASIH