Anda di halaman 1dari 20

 OLEH

 ARIEF BUDIMAN PUTERA SKM. MPH


 Asal dan Fungsi Hipotesis . Hipoptesis dapat
diturunkan dari teori yang berkaitan dengan
masalah yang akan kita teliti. Jadi, Hipotesis
tidak jatuh dari langit secara tiba-tiba!!!!!! .
Misalnya seorang peneliti akan melakukan
penelitian mengenai harga suatu produk
maka agar dapat menurunkan hipotesis yang
baik, sebaiknya yang bersangkutan membaca
teori mengenai penentuan harga.
Fungsi Hipotesis . Hipotesis merupakan
kebenaran sementara yang perlu diuji
kebenarannya oleh karena itu hipotesis
berfungsi sebagai kemungkinan untuk
menguji kebenaran suatu teori. Jika hipotesis
sudah diuji dan dibuktikan kebenaranya,
maka hipotesis tersebut menjadi suatu teori.
Jadi sebuah hipotesis diturunkan dari suatu
teori yang sudah ada, kemudian diuji
kebenarannya dan pada akhirnya
memunculkan teori baru.
Fungsi hipotesis menurut Menurut Nasution
ialah sbb: Untuk menguji kebenaran suatu
teori. Memberikan gagasan baru untuk
mengembangkan suatu teori dan memperluas
pengetahuan peneliti mengenai suatu gejala
yang sedang dipelajari.
Pertimbangan dalam Merumuskan
Hipoptesis (1) a. Harus mengekpresikan
hubungan antara dua variabel atau lebih,
maksudnya dalam merumuskan hipotesis
seorang peneliti harus setidak-tidaknya
mempunyai dua variable yang akan dikaji. b.
Kedua variable tersebut adalah variable bebas
dan variable tergantung. Jika variabel lebih
dari dua, maka biasanya satu variable
tergantung dua variabel bebas.
Pertimbangan dalam Merumuskan
Hipoptesis (2) Harus dinyatakan secara jelas
dan tidak bermakna ganda, artinya rumusan
hipotesis harus bersifat spesifik dan mengacu
pada satu makna tidak boleh menimbulkan
penafsiran lebih dari satu makna. Jika
hipotesis dirumuskan secara umum, maka
hipotesis tersebut tidak dapat diuji secara
empiris.
Pertimbangan dalam Merumuskan
Hipoptesis (3) Harus dapat diuji secara
empiris, maksudnya ialah memungkinkan
untuk diungkapkan dalam bentuk operasional
yang dapat dievaluasi berdasarkan data yang
didapatkan secara empiris. Sebaiknya
Hipotesis jangan mencerminkan unsur- unsur
moral, nilai-nilai atau sikap.
Jenis-Jenis Hipotesis (Menurut tingkat
abstraksinya hipotesis dibagi menjadi 3.
1).Hipotesis yang menyatakan adanya
kesamaan-kesamaan dalam dunia empiris:
Hipotesis jenis ini berkaitan dengan
pernyataan-pernyataan yang bersifat umum
yang kebenarannya diakui oleh orang banyak
pada umumnya, misalnya “orang jawa halus
budinya dan sikapnya lemah lembut”, “jika
ada bunyi hewan tenggeret maka musim
kemarau mulai tiba, “ jika hujan kota Jakarta
Banjir”. Kebenaran-kebenaran umum seperti
di atas yang sudah diketahui oleh orang
banyak pada umumnya, jika diuji secara
ilmiah belum tentu benar.
Jenis-Jenis Hipotesis . 2).Hipotesis yang
berkenaan dengan model ideal: pada
kenyataannya dunia ini sangat kompleks,
maka untuk mempelajari kekomplesitasan
dunia tersebut kita memerlukan bantuan
filsafat, metode, tipe-tipe yang ada.
Pengetahuan mengenai otoriterisme akan
membantu kita memahami, misalnya dalam
dunia kepemimpinan, hubungan ayah dalam
mendidik anaknya.
3).Hipotesis yang digunakan untuk mencari
hubungan antar variable: hipotesis ini
merumuskan hubungan antar dua atau lebih
variable-variabel yang diteliti. Dalam
menyusun hipotesisnya, peneliti harus dapat
mengetahui variabel mana yang
mempengaruhi variable lainnya sehingga
variable tersebut berubah.
Menurut bentuknya, Hipotesis dibagi
menjadi tiga . 1. Hipotesis penelitian / kerja:
Hipotesis penelitian merupakan anggapan
dasar peneliti terhadap suatu masalah yang
sedang dikaji. Dalam Hipotesis ini peneliti
mengaggap benar Hipotesisnya yang
kemudian akan dibuktikan secara empiris
melalui pengujian Hipotesis dengan
mempergunakan data yang diperolehnya
selama melakukan penelitian. Misalnya: Ada
hubungan antara krisis ekonomi dengan
jumlah orang stress
2. Hipotesis operasional: Hipotesis operasional
merupakan Hipotesis yang bersifat obyektif.
Artinya peneliti merumuskan Hipotesis tidak
semata-mata berdasarkan anggapan dasarnya,
tetapi juga berdasarkan obyektifitasnya, bahwa
Hipotesis penelitian yang dibuat belum tentu
benar setelah diuji dengan menggunakan data
yang ada. Untuk itu peneliti memerlukan
Hipotesis pembanding yang bersifat obyektif dan
netral atau secara teknis disebut Hipotesis nol
(H0). H0 digunakan untuk memberikan
keseimbangan pada Hipotesis penelitian karena
peneliti meyakini dalam pengujian nanti benar
atau salahnya Hipotesis penelitian tergantung
dari bukti-bukti yang diperolehnya selama
melakukan penelitian. Contoh: H0: Tidak ada
hubungan antara krisis ekonomi dengan jumlah
orang stress.
3. Hipotesis statistik: Hipotesis statistik
merupakan jenis Hipotesis yang dirumuskan
dalam bentuk notasi statistik. Hipotesis ini
dirumuskan berdasarkan pengamatan peneliti
terhadap populasi dalam bentuk angka-
angka (kuantitatif). Misalnya: H0: r = 0; atau
H0: p =0
Cara Merumuskan Hipotesis . Cara
merumuskan Hipotesis ialah dengan tahapan
sebagai berikut: rumuskan Hipotesis
penelitian, Hipotesis operasional, dan
Hipotesis statistik.
Hipotesis penelitian . Hipotesis penelitian
ialah Hipotesis yang kita buat dan dinyatakan
dalam bentuk kalimat. Contoh: Ada
hubungan antara gaya kepempininan dengan
kinerja pegawai .Ada hubungan antara
promosi dan volume penjualan
Hipotesis operasional (1) Hipotesis
operasional ialah mendefinisikan Hipotesis
secara operasional variable-variabel yang ada
didalamnya agar dapat dioperasionalisasikan.
Misalnya “gaya kepemimpinan”
dioperasionalisasikan sebagai cara
memberikan instruksi terhadap bawahan.
Kinerja pegawai dioperasionalisasikan
sebagai tinggi rendahnya pemasukan
perusahaan.
Hipotesis operasional (2) Hipotesis
operasional dijadikan menjadi dua, yaitu
Hipotesis 0 yang bersifat netral dan
Hipotesis 1 yang bersifat tidak netral Maka
bunyi Hipotesisnya: H0: Tidak ada hubungan
antara cara memberikan instruksi terhadap
bawahan dengan tinggi – rendahnya
pemasukan perusahaan . H1: Ada hubungan
antara cara memberikan instruksi terhadap
bawahan dengan tinggi – rendahnya
pemasukan perusahaan.
Hipotesis statistik . Hipotesis statistik ialah
Hipotesis operasional yang diterjemahkan
kedalam bentuk angka-angka statistik sesuai
dengan alat ukur yang dipilih oleh peneliti.
Dalam contoh ini asumsi kenaikan
pemasukan sebesar 30%, maka Hipotesisnya
berbunyi sebagai berikut: H0: P = 0,3 , H1: P
0,3
Uji Hipotesis Hipotesis yang sudah
dirumuskan kemudian harus diuji. Pengujian
ini akan membuktikan H0 atau H1 yang akan
diterima. Jika H1 diterima maka H0 ditolak,
artinya ada hubungan antara cara
memberikan instruksi terhadap bawahan
dengan tinggi – rendahnya pemasukan
perusahaan.
Dua jenis kekeliruan yang kadang dibuat
oleh peneliti, yaitu: Menolak Hipotesis yang
seharusnya diterima. Kesalahan ini disebut
sebagai kesalahan alpha (a). Menerima
Hipotesis yang seharusnya ditolak. Kesalahan
ini disebut sebagai kesalahan beta (b)
Persisnya! . Jika Rumusan masalah anda
“adakah hubungan jam produksi terhadap
volume produksi” Maka Hipotesis penelitian
anda seharusnya “ada hubungan jam
produksi terhadap volume produksi” .Maka
Hipotesis Operasional anda – Ho: “tidak ada
hubungan jam produksi terhadap volume
produksi” – H1: “ada hubungan jam produksi
terhadap volume produksi” Jika setelah
dilakukan pengujian, ternyata – Ho ditolak,
artinya penelitian terbukti secara nyata
(empiris) – Ho diterima, artinya penelitian
anda tidak nyata secara empiri