Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PENDAHULUAN

PPOK (PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK) atau


CHRONIC OBSTRUCTIVE PULMONARY DISEASE
(COPD)

Indah Maulhayati
Afni Nur Ainy
A. DEFINISI

PPOK adalah penyakit paru kronik dengan


karakteristik adanya hambatan aliran udara
di saluran napas yang bersifat progresif
nonreversibel atau reversibel parsial, serta
adanya respons inflamasi paru
terhadap partikel atau gas yang berbahaya
(Gold, 2009).
B. KLASIFIKASI
Bronchitis Kronis
Emfisema
Asthma Bronchiale
C. ETIOLOGI
Secara keseluruhan penyebab terjadinya PPOK tergantung dari jumlah
partikel gas yang dihirup oleh seorang individu selama hidupnya. Partikel
gas ini termasuk :
1. asap rokok
a. perokok aktif
b. perokok pasif
2. polusi udara
a. polusi di dalam ruangan- asap rokok - asap kompor
b. polusi di luar ruangan- gas buang kendaraan bermotor- debu jalanan
3. polusi di tempat kerja (bahan kimia, zat iritasi, gas beracun)
4. infeksi saluran nafas bawah berulang
D. PATOFISIOLOGI
 Saluran napas dan paru berfungsi untuk proses respirasi yaitu
pengambilan oksigen untuk keperluan metabolisme dan
pengeluaran karbondioksida dan air sebagai hasil metabolisme.
Proses ini terdiri dari tiga tahap, yaitu ventilasi, difusi dan perfusi.
 Gangguan ventilasi terdiri dari gangguan restriksi yaitu
gangguan pengembangan paru serta gangguan obstruksi
berupa perlambatan aliran udara di saluran napas.
 Parameter yang sering dipakai untuk melihat gangguan restriksi
adalah kapasitas vital (KV), sedangkan untuk gangguan
obstruksi digunakan parameter volume ekspirasi paksa detik
pertama (VEP1), dan rasio volume ekspirasi paksa detik
pertama terhadap kapasitas vital paksa (VEP1/KVP) (Sherwood,
2001).
 Faktor risiko utama dari PPOK adalah merokok
 Komponen-komponen asap rokok juga merangsang terjadinya
peradangan kronik pada paru.
 Mediator-mediator peradangan secara progresif merusak
struktur-struktur penunjang di paru.
 Mediator-mediator peradangan secara progresif merusak
struktur-struktur penunjang di paru. Akibat hilangnya elastisitas
saluran udara dan kolapsnya alveolus, maka ventilasi
berkurang. Saluran udara kolaps terutama pada ekspirasi karena
ekspirasi normal terjadi akibat pengempisan (recoil) paru secara
pasif setelah inspirasi. Dengan demikian, apabila tidak
terjadi recoil pasif, maka udara akan terperangkap di dalam
paru dan saluran udara kolaps (GOLD, 2009).
E. MANIFESTASI KLINIS
Gejala-gejala PPOK eksaserbasi akut meliputi:
1) Batuk bertambah berat
2) Produksi sputum bertambah
3) Sputum berubah warna
4) Sesak nafas bertambah berat
5) Bertambahnya keterbatasan aktifitas
6) Terdapat gagal nafas akut pada gagal nafas
kronis
7) Penurunan kesadaran
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan radiologi
Analisis gas darah
Pemeriksaan EKG
Kultur sputum, untuk mengetahui petogen
penyebab infeksi.
Laboratorium darah lengkap
G. KOMPLIKASI

Hipoxemia
Asidosis Respiratory
Infeksi Respiratory
Gagal jantung
Cardiac Disritmia
Status Asmatikus
H. PENATALAKSANAAN

Tujuan penatalaksanaan PPOK adalah:


1. Memeperbaiki kemampuan penderita
mengatasi gejala tidak hanya pada fase akut,
tetapi juga fase kronik.
2. Memperbaiki kemampuan penderita dalam
melaksanakan aktivitas harian.
3. Mengurangi laju progresivitas penyakit
apabila penyakitnya dapat dideteksi lebih
awal.
 Penatalaksanaan PPOK pada usia lanjut adalah sebagai berikut:
1. Meniadakan faktor etiologi/presipitasi, misalnya segera menghentikan
merokok, menghindari polusi udara.
2. Membersihkan sekresi bronkus dengan pertolongan berbagai cara.
3. Memberantas infeksi dengan antimikroba. Apabila tidak ada infeksi
antimikroba tidak perlu diberikan. Pemberian antimikroba harus tepat sesuai
dengan kuman penyebab infeksi yaitu sesuai hasil uji sensitivitas atau
pengobatan empirik.
4. Mengatasi bronkospasme dengan obat-obat bronkodilator. Penggunaan
kortikosteroid untuk mengatasi proses inflamasi (bronkospasme) masih
kontroversial.
5. Pengobatan simtomatik.
6. Penanganan terhadap komplikasi-komplikasi yang timbul.
7. Pengobatan oksigen, bagi yang memerlukan. Oksigen harus diberikan
dengan aliran lambat 1 - 2 liter/menit.
ASUHAN KEPERAWATAN
 PENGKAJIAN
 DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan bronkokontriksi, peningkatan
produksi sputum, batuk tidak efektif, kelelahan/berkurangnya tenaga dan infeksi
bronkopulmonal.
2. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan napas pendek, mukus, bronkokontriksi
dan iritan jalan napas.
3. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidaksamaan ventilasi perfusi
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dengan
kebutuhan oksigen.
5. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan dispnea,
kelamahan, efek samping obat, produksi sputum dan anoreksia, mual muntah.
6. Kurang perawatan diri berhubungan dengan keletihan sekunder akibat peningkatan
upaya pernapasan dan insufisiensi ventilasi dan oksigenasi.
NO DIAGNOSA KEPERAWATAN NOC NIC
1. Bersihan jalan napas tidak efektif b.d NOC : 1. Beri pasien 6 sampai 8 gelas cairan/hari
bronkokontriksi, peningkatan produksi v Respiratory status : Ventilation kecuali terdapat kor pulmonal.
sputum, batuk tidak efektif, v Respiratory status : Airway patency 2. Ajarkan dan berikan dorongan
kelelahan/berkurangnya tenaga v Aspiration Control penggunaan teknik pernapasan diafragmatik
dan infeksi bronkopulmonal. Kriteria Hasil : dan batuk.
v Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara 3. Bantu dalam pemberian tindakan nebuliser,
nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan inhaler dosis terukur
dyspneu (mampu mengeluarkan sputum, 4. Lakukan drainage postural dengan perkusi
mampu bernafas dengan mudah, tidak ada dan vibrasi pada pagi hari dan malam hari sesuai
pursed lips) yang diharuskan.
v Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien 5. Instruksikan pasien untuk menghindari iritan
tidak merasa tercekik, irama nafas, frekuensi seperti asap rokok, aerosol, suhu yang ekstrim,
pernafasan dalam rentang normal, tidak ada dan asap.
suara nafas abnormal) 6. Ajarkan tentang tanda-tanda dini infeksi
v Mampu mengidentifikasikan dan yang harus dilaporkan pada dokter dengan
mencegah factor yang dapat menghambat segera: peningkatan sputum, perubahan warna
jalan nafas sputum, kekentalan sputum, peningkatan napas
pendek, rasa sesak didada, keletihan.
7. Berikan antibiotik sesuai yang diharuskan.
8. Berikan dorongan pada pasien untuk
melakukan imunisasi terhadap influenzae dan
streptococcus pneumoniae.
2. Pola napas tidak NOC : 1. Ajarkan klien latihan bernapas
efektifberhubungan dengan v Respiratory status : Ventilation diafragmatik dan pernapasan bibir
napas pendek, mukus, NOC dirapatkan.
bronkokontriksi dan iritan jalan v Respiratory status : Airway patency 2. Berikan dorongan untuk menyelingi
napas v Vital sign Status aktivitas dengan periode istirahat.
Kriteria Hasil : 3. Biarkan pasien membuat keputusan
v Mendemonstrasikan batuk efektif dan tentang perawatannya berdasarkan tingkat
suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis toleransi pasien.
dan dyspneu (mampu mengeluarkan 4. Berikan dorongan penggunaan latihan
sputum, mampu bernafas dengan mudah, otot-otot pernapasan jika diharuskan.
tidak ada pursed lips)
v Menunjukkan jalan nafas yang paten
(klien tidak merasa tercekik, irama nafas,
frekuensi pernafasan dalam rentang
normal, tidak ada suara nafas abnormal)
v Tanda Tanda vital dalam rentang normal
(tekanan darah (sistole 110-130mmHg dan
diastole 70-90mmHg), nad (60-
100x/menit)i, pernafasan (18-24x/menit))
3. Gangguan pertukaran v Respiratory status : Ventilation 1. Deteksi bronkospasme
gasberhubungan Kriteria Hasil : saatauskultasi .
dengan ketidaksamaan v Frkuensi nafas normal (16- 2. Pantau klien terhadap
ventilasi perfusi 24x/menit) dispnea dan hipoksia.
v Itmia 3. Berikan obat-obatan
v Tidak terdapat disritmia bronkodialtor dan kortikosteroid
v Melaporkan penurunan dengan tepat dan waspada
dispnea kemungkinan efek sampingnya.
v Menunjukkan perbaikan 4. Berikan terapi aerosol
dalam laju aliran ekspirasi sebelum waktu makan, untuk
membantu mengencerkan
sekresi sehingga ventilasi paru
mengalami perbaikan.
5. Pantau pemberian oksigen
4. Intoleransi aktivitasberhubungan dengan NOC : 1. Kaji respon individu terhadap aktivitas; nadi, tekanan
ketidakseimbangan antara suplai dengan v Energy conservation darah, pernapasan
kebutuhan oksigen v Self Care : ADLs 2. Ukur tanda-tanda vital segera setelah aktivitas,
Kriteria Hasil : istirahatkan klien selama 3 menit kemudian ukur lagi
v Berpartisipasi dalam aktivitas fisik tanpa disertai tanda-tanda vital.
peningkatan tekanan darah, nadi dan RR 3. Dukung pasien dalam menegakkan latihan teratur
v Mampu melakukan aktivitas sehari hari (ADLs) dengan menggunakan treadmill dan exercycle, berjalan
secara mandiri atau latihan lainnya yang sesuai, seperti berjalan
perlahan.
4. Kaji tingkat fungsi pasien yang terakhir dan
kembangkan rencana latihan berdasarkan pada status
fungsi dasar.
5. Sarankan konsultasi dengan ahli terapi fisik untuk
menentukan program latihan spesifik terhadap
kemampuan pasien.
6. Sediakan oksigen sebagaiman diperlukan sebelum
dan selama menjalankan aktivitas untuk berjaga-jaga.
7. Tingkatkan aktivitas secara bertahap; klien yang
sedang atau tirah baring lama mulai melakukan rentang
gerak sedikitnya 2 kali sehari.
8. Tingkatkan toleransi terhadap aktivitas dengan
mendorong klien melakukan aktivitas lebih lambat, atau
waktu yang lebih singkat, dengan istirahat yang lebih
banyak atau dengan banyak bantuan.
9. Secara bertahap tingkatkan toleransi latihan dengan
meningkatkan waktu diluar tempat tidur sampai 15 menit
tiap hari sebanyak 3 kali sehari.
5. Perubahan nutrisi kurang NOC : 1. Kaji kebiasaan diet, masukan
dari kebutuhan v Nutritional Status : food and Fluid makanan saat ini. Catat derajat
tubuhberhubungan dengan Intake kesulitan makan. Evaluasi berat
dispnea, kelamahan, efek Kriteria Hasil : badan dan ukuran tubuh.
samping obat, produksi v Adanya peningkatan berat 2. Auskultasi bunyi usus
sputum dan anoreksia, badan sesuai dengan tujuan 3. Berikan perawatan oral sering,
mual muntah. v Berat badan ideal sesuai buang sekret.
dengan tinggi badan 4. Dorong periode istirahat I jam
v Mampu mengidentifikasi sebelum dan sesudah makan.
kebutuhan nutrisi 5. Pesankan diet lunak, porsi kecil
v Tidak ada tanda tanda sering, tidak perlu dikunyah lama.
malnutrisi 6. Hindari makanan yang
Tidak terjadi penurunan berat diperkirakan dapat menghasilkan
badan yang berarti gas.
7. Timbang berat badan tiap hari
sesuai indikasi.
6. Kurang perawatan NOC : 1. Ajarkan mengkoordinasikan
diriberhubungan dengan v Self care : Activity of Daily pernapasan diafragmatik dengan
keletihan sekunder akibat Living (ADLs) aktivitas seperti berjalan, mandi,
peningkatan upaya Kriteria Hasil : membungkuk, atau menaiki
pernapasan dan v Klien terbebas dari bau tangga
insufisiensi ventilasi dan badan 2. Dorong klien untuk mandi,
oksigenasi v Menyatakan kenyamanan berpakaian, dan berjalan dalam
terhadap kemampuan untuk jarak dekat, istirahat sesuai
melakukan ADLs kebutuhan untuk menghindari
v Dapat melakukan ADLS keletihan dan dispnea berlebihan.
dengan bantuan Bahas tindakan penghematan
energi.
3. Ajarkan tentang postural
drainage bila memungkinkan.
TERIMA KASIH....