Anda di halaman 1dari 24

REAKSI ANAFILAKTIK

Oleh :
Dinda Sahyati Rizki Nalia Pohan, S.Ked
G1A218096
Pembimbing: dr. Samsirun Halim, Sp.PD, KIC, FINASIM

PROGRAM STUDI PROFESI DOKTER


DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT DALAM
RSUD RADEN MATTAHER
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JAMBI
2019
PENDAHULUAN
Reaksi anafilaktik merupakan salah satu contoh efek samping obat yang potensial berbahaya.

Alergi terjadi akibat adanya paparan terhadap faktor-faktor penyebab alergi yang disebut
alergen.

Anafilaksis disebabkan oleh degranulasi sel mast dan basofil serta pelepasan mediator
inflamasi seperti histamin, triptase, prostaglandin, leukotrin, sitokin, dan juga kemokin.

Efek paparan tersebut bervariasi dari satu individu terhadap individu lainnya.
DEFINISI
Sindorm klinis  Rx imunologis (reaksi alergi) bersifat sistemik,
cepat dan hebat yang dapat menyebabkan gangguan respirasi,
01 sirkulasi, pencernaan dan kulit.

02 reaksi hipersensitivitas tipe cepat, yaitu reaksi antara antigen


spesifik dan antibodi spesifik (IgE) yang terikat pada sel mast.

03 Beberapa faktor yang diduga dapat meningkatkan risiko


anafilaksis adalah sifat alergen, jalur pemberian obat, riwayat
atopi, dan kesinambungan paparan alergen.
Terpajan alergen atau
faktor pencetus lain

Reaksi hipersensitifitas
sistemik akut

Mengancam nyawa
Bentuk terberat dari
reaksi alergi obat

anafilaksis atau
syok anafilaktik
Epidemiologi
• Prevalensi anafilaksis antara 0,05 – 2%
• Tingkat mortalitas pasien dengan
anafilaksis berat berkisar antara 0,65 –
2%.
• Kematian disebabkan anafilaksis
sebesar 80 – 87% dikarenakan
keterlambatan pemberian adrenalin.
• Insiden syok anafilaktik 40 – 60 %
akibat gigitan serangga.
• 20 – 40 % akibat zat kontras radiografi
• 10 – 20 %akibat pemberian obat
penisilin.
ETIOLOGI
Mekanisme dan obat pencetus anafilaksis
Anafilaksis (melalui ig E) Anafilaktoid (tidak melalui ig E)

- Antibiotik (penisilin, sefalosporin) Zat penglepas histamin secara langsung :


- Ekstrak alergen (bisa tawon, polen) - Obat (opiate, vankomisin, kurare)
- Obat (glukokortikoid, thiopental, - Cairan hipertonik (media radiokontras,
suksinilkolin) manitol)
- Enzim (kemopapain, tripsin) - Obat lain (dekstran, fluoresens)
- Serum heterolog (antitoksin tetanus, Aktivasi komplemen
globulin antilimfosit - Protein manusia (immunoglobulin dan
- Protein manusia (insulin, vasopressin, produk darah lainnya)
serum) - Bahan dialysis
Modulasi metabolism asam arakidonat
- Asam asetilsalisilat
- Anti inflamasi non steroid
PATOFISIOLOGI

timbul segera
Hipersensitivitas setelah tubuh
Anafilaksis Tipe 1 terpajan dengan
alergen

Patofisiologi
terdiri dari 3 fase

Fase Sensitisasi Fase Aktivasi Fase Efektor


PATOFISIOLOGI
MANIFESTASI Tanda dan gejala utama anafilaksis
KLINIS Sistem Gejala dan Tanda

Umum
Prodromal Lesu, lemah, rasa tak enak
yang sukar dilukiskan, rasa tak
enak di dada dan perut, rasa
gatal di hidung dan palatum.

Pernafasan
Hidung Hidung gatal, bersin, dan
tersumbat
Laring Rasa tercekik, suara serak,
sesak nafas, stridor, edema,
spasme
Lidah Edema
Bronkus Batuk, sesak, mengi, spasme
Sistem Gejala dan Tanda

Kardiovaskular Pingsan(sinkop), palpitasi,


takikardi, hipotensi sampai
syok, aritmia. Kelainan :
Gelombang T datar, terbalik,
atau tanda-tanda infark
miokard
Gastrointestinal Disfagia, mual, muntah, kolik,
diare yang kadang-kadang
disertai darah, peristaltik usus
meninggi.
Kulit Urtika, angioedema, di bibir,
muka, atau ekstremitas
Mata Gatal, Lakrimasi
Susunan Saraf Gelisah, Kejang
Pusat
Derajat keluhan
sistemik

Reaksi sistemik Reaksi sistemik Reaksi sistemik


ringan sedang berat

• sistem respirasi,
 kulit hypoxia, hipotensi,
• Kardiovaskuker,
 jaringan mukosa deficit neurologis
• Gastrointestinal
Derajat anafilaksis berdasarkan keparahan dari gejala klinis
TINJAUAN PUSTAKA
DIAGNOSIS

Apabila ada satu dari 3 hal dibawah ini :

Penurunan TD
Awitan yang cepat Terjadi segera,
segera,

- segera terjadi  bayi/anak-anak


- kelainan kulit,
kelainan kulit atau terjadi penurunan
jaringan mukosa,
mukosa TD sistolik sebesar
atau keduanya
- segera terjadi 30%.
- adanya gangguan
penurunan TD atau  dewasa, tekanan
pernapasan, dengan
disfungsi organ sistolik kurang
atau tanpa gejala
- segera terjadi dari 90 mm Hg
penurunan TD
klinis atau TD turun
maupun disfungsi
gastrointestinal. 30% dari TD
organ akhir
normal sehari-hari
Pemeriksaan Penunjang
Serum IgE spesifik
RAST/ELISA (Enzim
Linked
Jumlah leukosit Serum IgE total Imunnosorbent
Assay).
dipertimbangkan
apabila tes kulit
tidak dapat
dilakukan.

Tes kulit
Serum tryptase menentukan
mengidentifikasi reaksi antibodi spesifik
IgE spesifik Tes provokasi
anafilaksis yang baru terjadi
atau reaksi lain karena dalam kulit
aktivasi sel mast. pasien
DIAGNOSIS BANDING

• Reaksi vasovagal
• Infark miokard akut
• Reaksi hipoglikemik
• Reaksi histeris
• Sindrom Angioedema neurotic herediter
• Carsinoid syndrome
• Asma bronkial
• Rhinitis Alergika
Tatalaksana
Primary Survey

Airway Breathing Circulation

• sianosis sentral, mengi, suara napas - Bronkospasme  mengi, sesak, 2 agonis


menghilang (bila terjadi obstruksi total)?
• suction dan pemasangan oropharyngeal inhalasi &/ injeksi beta 2 agonis.
atau nasopharyngeal airway.
- Apabila terdapat peningkatan frekuensi
napas atau adanya sianosis sentral, 
oksigen
• Posisi trendeleburg
• Pemberian Oksigen 3–5 ltr/menit (trakeostomi atau krikotiroidektomi perlu dipertimbangkan. )
• Pemasangan infus
• Adrenalin 0,3 – 0,5 ml dari larutan 1 : 1000 diberikan secara intramuskuler yang dapat diulangi 5–10 menit. 
Jika respon pemberian secara intramuskuler kurang efektif, dapat diberi secara intravenous setelah 0,1 – 0,2 ml
adrenalin dilarutkan dalam spuit 10 ml dengan NaCl fisiologis, diberikan perlahan-lahan.
• Aminofilin, dapat diberikan dengan sangat hati-hati apabila bronkospasme belum hilang dengan pemberian
adrenalin. 250 mg aminofilin diberikan perlahan-lahan selama 10 menit intravena. Dapat dilanjutkan 250 mg
lagi melalui drips infus bila dianggap perlu.
• Resusitasi Kardio Pulmoner (RKP),
PENCEGAHAN

SEBELUM MEMBERIKAN OBAT : SEWAKTU MINUM OBAT


Adakah : Enam cara memberikan obat :
1. Indikasi 1. Kalau mungkin : secara oral
2. Riwayat alergi 2. Hindari pemakaian intermiten
3. Resiko alergi obat 3. Setelah memberikan suntikan
4. Uji kulit pasien harus selalu diobservasi
5. Pengobatan pencegahan 4. Beritahu pasien kemungkinan
reaksi yang akan terjadi.
SESUDAH MINUM OBAT : 5. Sediakan obat/alat untuk
1. Kenali tanda dini reaksi alergi obat. mengatasi keadaan darurat
6. Bila mungkin lakukan uji provokasi
2. Hentikan obat bila terjadi reaksi.
atau desensitissasi
3. Bila terjadi reaksi diberikan penjelasan
dasar kepada pasien agar kejadian
tersebut tidak terulang lagi.
PROGNOSIS

• Jarang menyebabkan kematian.

• Faktor yang mempengaruhi :

Umur, tipe, alergen, atopi, penyakit kardiovaskular, penyakit paru


obstruktif kronis, asma, keseimbangan asam basa dan elektrolit,
obat-obatan yang dikonsumsi, serta interval waktu dari mulai
terpajan oleh alergen sampai penanganan reaksi anafilaksis
dengan injeksi adrenalin.
KESIMPULAN


• Reaksi anafilaktik adalah suatu respons hipersensitivitas yang
diperantarai oleh Immunoglobulin E (hipersensitivitas tipe I).
• Reaksi anafilaksis lebih sering terjadi pada mereka yang
mempunyai riwayat atopi atau reaksi alergi sebelumnya.
• Dilaporkan reaksi anafilaktoid karena zat kontras lebih sering
pada orang dewasa.
• Terdapat beberapa golongan alergen yang dapat menimbulkan “
reaksi anafilaksis, yaitu makanan, obat-obatan, bisa atau racun
serangga dan alergen lain yang tidak bisa di golongkan.
KESIMPULAN


• Gejala dari reaksi anafilaksis dapat melibatkan dua atau lebih
organ tubuh, seperti kulit kemerahan, terasa hangat, dan
gatal, pembengkakan periorbital, bersin-bersin, sesak,
muntah, dan diare.
• Penatalaksanaan farmakologis seperti pemberian epinephrine

• Pencegahan terhadap paparan alergen merupakan


penatalaksanaan terbaik.

intravena pada pasien rekasi anafilaksis tidak boleh ditunda.
Thank You