Anda di halaman 1dari 13

• LATAR BELAKANG

DIARE ATAU GASTROENTERITIS MERUPAKAN SALAH SATU


PENYAKIT YANG SERING DIJUMPAI DIMASYARAKAT .SETIAP
TAHUN,DIPERKIRAKAN TERDAPAT DUA MILIAR KASUS DIARE
DISELURUH DUIA. PENDERITA DIARE TERUTAMA ANAK-ANAK
BERUMUR DI BAWAH LIMA TAHUN. BERSAMAAN DENGAN MAKIN
TINGGINYA INSIDENSI DIARE DALAM MASYARAKAT, MAKA
BANYAK DILAKUKAN UPAYA-UPAYA PENGOBATAN DIARE. SAMPAI
SEKARANG, PENGOBATAN ANTIDIARE BAIK YANG TRADISIONAL
MAUPUN KIMIA TELAH BANYAK DIKEMBANGKAN.
MASYARAKAT DI INDONESIA SENDIRI, TERUTAMA MASYARAKAT
GOLONGAN MENENGAH KEBAWAH, LEBIH SERING MENGATASI
DIARE INI DENGAN BERBAGAI MACAM TANAMAN OBAT.
ADAPUN CONTOH TANAMAN OBAT YANG BANYAK DIGUNAKAN
SEBAGAI ANTIDIARE ADALAH RIMPANG KUNYIT, DAUN JAMBU BIJI,
DAUN SALAM, TEMULAWAK. TANAMAN-TANAMAN INI MEMPUNYAI
ZAT TERTENTU YANG BERPERAN DALAM MENGHENTIKAN
DIARE. DIBANDINGKAN OBAT KIMIA, OBAT HERBAL INI
MEMILIKI BEBERAPA KEUNTUNGAN YAITU LEBIH
MURAH,EFEKSAMPINGNYA LEBIH MINIMAL, DAN MEMILIKI LEBIH
BANYAK MANFAAT
LANJUTAN
 Secara tradisional masyarakat menggunakan daun jambu biji
sebagai obat diare karena telah terbukti mampu mengurangi
bahkan menghentikan diare. Daun jambu biji banyak
mengandung bahan aktif, antara lain: tanin, kuersetin,
guayaverin, leukosianidin, minyak atsiri, asam malat, damar, dan
asam oksalat (Anonymous, 2009)
 Masyarakat memanfaatkan daun jambu biji dengan cara
membuat ekstraknya secara sederhana yaitu dengan merebus
daun jambu biji sampai tanin yang terdapat didalamnya dapat
terekstrak. Diantara kelebihan pohon jambu biji sebagai tanaman
obat adalah kemampuannya untuk berbuah sepanjang tahun
tanpa mengenal musim dan dapat hidup dengan baik di segala
kondisi tanah, iklim, dan kelembaban. Pohonnya mudah
diperbanyak dengan beragam cara baik dengan tunas, biji,
maupun dengan tunas berakar
LAKTASIF
. Laksatif adalah makanan atau obat-obatan yang diminum
untuk membantu mengatasi sembelit dengan membuat
kotoran bergerak dengan mudah di usus. Dalam operasi
pembedahan, obat ini juga diberikan kepada pasien untuk
membersihkan usus sebelum operasi dilakukan. Laksatif
merupakan obat bebas. obat yang biasanya digunakan untuk
mengatasi konstipasi atau sembelit. Biasanya obat ini hanya
digunakan saat mengalami konstipasi atau sembelit saja
karena mempunyai efek samping.
KELOMPOK LAKTASIF
1. Pencahar pembentuk tinja (bulk laxative) Pencahar jenis ini umum beredar di
pasaran, baik yang berasal dari serat alamiah seperti psyllium ataupun serat
buatan sepertu metil selullosa. Keduanya sama efektif dalam meningkatkan
volume tinja. Obat ini cukup aman digunakan dalam waktu yang lama tetapi
memerlukan asupan cairan yang cukup.
2. Pelembut tinja/feses Obat jenis ini dipakai oleh usia lanjut sebagai sebagai
pelembut feses. Obat ini mempunyai efek sebagai surfaktan yang menurunkan
tegangan permukaan feses, sehingga dapat meresap dan feses jadi lembek.
3. Pencahar stimulan/perangsang Contoh golongan ini adalah senna, bisacordil.
Senna aman dipakai untuk usia lanjut.Efek obat ini menstimulasi dan
meningkatkan peristaltik atau gerakan usus.
4. Pencahar hiperosmoler (osmotic laxative) Mempunyai efek menahan cairan
dalan usus dan mengatur distribusi cairan dalam tinja. Jenis ini mempunyai
cara kerja seperti spon sehingga tinja mudah melewati usus. Jenis golongan
ini seperti laktulosa dan sorbitol.
5. Enema Enema dimaksudkan untuk merangsang terjadinya evakuasi tinja
sehingga bisa keluar. Pemberian ini harus hati – hati pada usia lanjut karena
sering mengakibatkan efek samping. Fungsi: Memperlancar persiapan gerakan
usus, sembelit kronis, Imobilitas kronis
ANTI DIARE
Diare adalah peningkatan volume, keenceran atau frekuensi buang air besar. Diare
yang disebabkan oleh masalah kesehatan biasanya jumlahnya sangat banyak, bisa
mencapai lebih dari 500 gram/hari. Orang yang banyak makan serat sayuran,
dalam keadaan normal bisa menghasilkan lebih dari 500 gram, tetapi
konsistensinya normal dan tidak cair. Dalam keadaan normal, tinja mengandung
60-90% air, pada diare airnya bisa mencapai lebih dari 90%. Diare merupakan
suatu gejala, pengobatannya tergantung pada penyebabnya. Kebanyakan
penderita diare hanya perlu menghilangkan penyebabnya, misalnya permen karet
diet atau obat-obatan tertentu, untuk menghentikan diare. Kadang-kadang diare
menahun akan sembuh jika orang berhenti minum kopi atau minuman cola yang
mengandung cafein. Untuk membantu meringankan diare, diberikan obat seperti
difenoksilat, codein, paregorik (opium tinctur) atau loperamide. Kadang-kadang,
bulking agents yang digunakan pada konstipasi menahun (psillium atau
metilselulosa) bisa membantu meringankan diare. Untuk membantu mengeraskan
tinja bisa diberikan kaolin, pektin dan attapulgit aktif. Bila diarenya berat sampai
menyebabkan dehidrasi, maka penderita perlu dirawat di
rumah sakit dan diberikan cairan pengganti dan garam melalui infus. Selama tidak
muntah dan tidak mual, bisa diberikan larutan yang mengandung air, gula dan
garam. Untuk pemilihan golongan obat diare ini yang tepat ada baiknya anda
harus periksakan diri dan konsultasi ke dokter
URAIAN OBAT DIARE

1.Raecordil
2.Loperamide
3.Nifurxazide
4.Dioctahedral smectice
DAUN JAMBU BIJI SEBAGAI ZAT ANTI DIARE
 Daun jambu biji Menurut Kartasapoetra (1996) mengandung zat-zat
penyamak (psiditanin) sekitar 9 %, minyak atsiri berwarna kehijauan yang
mengandung eugenol 0,4 %, minyak lemak 6 %, damat 3 %dan garam mineral
 Psiditanin adalah tanin yang terdapat di dalam daun jambu biji. Tanin adalah
kumpulan senyawa organik amorf, bersifat asam, berasa cepat,
mengendapkan alkaloid dan glukosida dari lautan digunakan sebagai
penyamak dan untuk membuat tinta dari besi atau tanin juga kumpulan
senyawa yang mengandung fenol dan dapat mengendapkan protein. Minyak
atsiri adalah minyak yang menguap yang ditemukan pada tumbuhan aromatik
yang terdiri atas campuran dua atau lebih terpena tau campuran oleopten
dengan stearopten (essentia oil) dan minyak lemak adalah campuran atas
lemak dan esterriya (triglirserda) atau fatty oil minyak tanaman dan hewan
yang tidak menguap.
 Secara tradisional daun jambu biji digunakan untuk mengobati penyakit-
penyakit seperti diare, sariawan, luka berdarah, kencing manis, keputihan,
haid tidak lancar, anti radang dan penghentian pendarahan (hemostatis).
Karena daun jambu biji dapat digunakan untuk membunuh atau menghambat
pertumbuhan bakteri, maka daun jambu biji dapat digolongkan sebagai zat
antimikrobia.
METODE PENELITIAN
 WAKTU DAN TEMPAT PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan mulai Hari/ tanggal : Kamis, 23 Mei 2013 Waktu : 08.00
WIB – selesai Tempat : Laboratorium Biologi D11 Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam
 JENIS PENELITIAN
Jenis penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan
sederhana (Post Test Control Group Design). Rancangan penelitian ini dengan 2
perlakuan 2 kali ulangan, maka unit percobaan ada 6 unit dengan menggunakan post test
 VARIABEL PENELITIAN
1. Variabel bebas : pemberian dosis laksatif (jus daun asam jawa) dan antidiare (jus daun
jambu biji) pada tikus 2. Variable terikat : tekstur feses tikus 3. Variable control : berat
badan tikus
 SAMPEL
1. Kelompok kontrol normal (P0): tikus dicekok aquades. 2. Kelomok perlakuan I (P1):
tikus dicekok dengan jus daun asam jawa 3ml/200 g bb 3. Kelomok perlakuan I (P1):
tikus dicekok dengan jus daun asam jawa 3ml/200 g bb kemudian di cekokin jus daun
jambu biji 2ml/200 g bb
 HIPOTESIS
Ho = tidak ada pengaruh pemberian jus daun asam jawa dan jus daun jambu biji terhadap
tekstur feses tikus putih Ha = ada pengaruh pemberian jus daun asam jawa dan jus
daun jambu biji terhadap tekstur feses tikus putih
ALAT DAN BAHAN
 Alat  Bahan
 a) sonde tikus  a) tikus putih dengan bobot
 b) gelas ukur badan berkisar 200 gram
 c) timbangan digital
 b) Aquadest
 d) kandang
 c) Jus daun asam jawa
 d) Jus daun jambu biji
PRSEDUR KERJA
 Tahap Persiapan
Menyiapkan zat laksatif yaitu jus daun
asam jawa yang muda dengan
ketentuan daun yang berada 6
tangkai dari ujung daun teratas, cuci
bersih lalu dibuat jus dengan
kosentrasi 40%, yaitu 40 g daun
asam jawa dilarutkan dalam 100 ml
akuades kemudian diblender,
disaring dan filtratnya sebagai bahan
uji. Menyiapkan zat antidiare berupa
daun jambu biji yang muda dengan
ketentuan daun yang berada 3
tangkai dari ujung daun teratas
secara terpisah dicuci bersih lalu
dibuat jus dengan kosentrasi 10%,
yaitu 10 g daun jambu biji dilarutkan
dalam 100 ml akuades kemudian
diblender, disaring dan filtratnya
sebagai bahan uji.
LANJUTAN
 Pelaksanan penelitian
1) Membagi tikus secara random menjadi 3 kelompok masing-masing
kelompok terdiri dari 2 tikus
2) Menempatkan tikus dalam kandang, setiap kandang berisi 2 tikus dan
dikelompokan sesuai perlakuan
3) Sebelum perlakuan, tikus diadaptasikan dengan kondisi kandan dengan
tetap menberi makan dan minum 3 kali sehari.
4) Memberi perlakuan sesuai dengan alur kerja penelitian 1. Kelompok 1
(control normal) 2. Kelompok II Dua ekor tikus dicekok jus daun asam
jawa sebanyak 3ml /200 g bb. Diberikan secara oral pada tikus
menggunakan sonde. 3. Kelompok III Dua ekor tikus dicekok dengan
jus daun asam jawa sebanyak 3ml /200 g bb. Mengamati fesesnya empat
jam setelahnya. Kemudian dicekok dengan jus daun jambu biji sebanyak
2 ml / 200 g bb. Diberikan secara oral pada tikus menggunakan sonde.
5) Melakukan pengamatan terhadap tekstur feses yang dikeluarkan setiap
satu jam sampai feses kembali normal.
6) Membandingkan tekstur feses pada masing- masing kelompok.
7) Mencatat dalam tabel pengamatan.
TERIMA KASIH
METODE PENELITIAN
PENGARUH ANTIDIARE JUS DAUN JAMBU BIJI
(Psidium guajava) DAN LAKSATIF JUS DAUN
ASAM JAWA (Tamarindus indica) TERHADAP
TEKSTUR FESES TIKUS (Novergicus rattundus)
OLEH:
MUHAMMAD SYAMSIR MURSALI(O1A1 18 175)