Anda di halaman 1dari 47

PROFESI BIDANG

KEKEPALASEKOLAHAN

KELOMPOK 6 :
 PUTRI VIVI NOVIANTI (185065)
 YOVINKA AMALIA MUTTAQIEN (185071)
 MILLENIA ASTA SAFITRI (185072)
A. Fungsi Kepala Sekolah

Kepala sekolah memiliki fungsi yang berdimensi luas.


Kepala sekolah daat memerankan banyak fungsi, fungsi
tersebut terdiri dari :

a. Kepala Sekolah Sebagai Educator


b. Kepala Sekolah Sebagai Manager
c. Kepala Sekolah Sebagai Administrator
d. Kepala Sekolah Sebagai Entreprenur
B. KEPALA SEKOLAH SEBAGAI
PENJABAT FORMAL
 kepala sekolah pada hakikatnya adalah penjabat formal, oleh karena
pengangkatannya melalui proses dan prosedur yang didasarkan atas
peraturan yang berlaku.

 Secara sistem, jabatan kepala sekolah sebagai pejabat atau


pemimpin formal dapat diuraikan melalui berbagai pendekatan
yakni pengangkatan, pembinaan, tanggung jawab.
Persyaratan administratif calon kepala sekolah
meliputi :
 Usia Maksimal
 Pangkat
 Masa Kerja
 Pengalaman
 Berkedudukan Sebagai tenaga Fungsional Guru
Selama menduduki jabatan, kepala sekolah
berhak atas :
a. Gaji serta penghasilan dan pendapatan lain sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
b. Akses kedudukan dalam jenjang kepangkatan tertentu.
c. Hak kenaikan gaji atau kenaikan pangkat.
d. Kesempatan untuk menduduki jabatan yang lebih tinggi.
e. Memperoleh kesempatan untuk pengembangan diri.
f. Penghargaan atau fasilitas.
g. Dapat diberi teguran oleh atasannya karena sikap, perbuatan serta perilakunya yang
dirasakan dapat mengganggu tugas dan tanggung jawab sebagai kepala sekolah
h. Dapat dimutasikan atau diberhentikan dari jabatan kepala sekolah karena hal – hal
tertentu.
C. KRITERIA KEPALA SEKOLAH

kepala sekolah merupakan guru yang mendapat tugas


tambahan sebagai “kepala sekolah”. Kriteria tersebut
berkaitan dengan kualifikasi, kepangkatan, masa kerja, dan
lain – lain. Di dalam PP No. 19 Tahun 2005 disebutkan
syarat- syarat untuk menjadi kepala sekolah
D. KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH

Standar kompetensi sebagai hasil dari kajian akademik di bawah ini


cukup representatif untuk menggambarkan tugas yang harus
dijalankan kepala sekolah. Pada sisi lain, standar kompetensi ini
dirasakan baik untuk menjadi topik – topik dalam kerangka pelatihan
kepala sekolah.
Terdapat kompetensi kepala sekolah dalam berbagai bidang :

 Kompetensi Bidang Perencanaan


 Kompetensi Di Bidang Pengorganisasian
 Kompetensi Di Bidang Implementasi Program
 Kompetensi Di Bidang Pengendalian Program
 Kompetensi Di Bidang Pelaporan
 Kompetensi Memimpin Sekolah
 Kompetensi Memberdayakan Sumber Daya Sekolah
 Kompetensi Melakukan Supervisi
 Kompetensi Menciptakan Budaya Dan Iklim Kerja Yang Kondusif
 Kompetensi Mengembangkan Kreativitas, Inovasi Dan Jiwa
Kewirausahaan
 Kompetensi Komunikasi Dan Kerjasama Dalam Pekerjaan
 Memanfaatkan Bahasa Inggris Dalam Pekerjaan
 Kompetensi Memanfaatkan Kemajuan IPTEK Dalam Pendidikan
 Kompetensi Memanfaatkan Teknologi Informasi Dan Komunikasi
 Kompetensi Mengelola Kurikulum Dan Program Pembelajaran
 Kompetensi Mengelola Guru dan Tenaga Kependidikan
 Kompetensi Mengelola Kesiswaan
 Kompetensi Mengelola Keuangan
 Kompetensi Mengelola Sarana dan Prasarana
 Kompetensi Mengelola Hubungan Sekolah-Masyarakat
 Kompetensi Mengelola Sistem Informasi Sekolah
 Menguasai Landasan Pendidikan
 Mengetahui Tingkat Perkembangan Siswa
 Mengetahui Macam macam Pendekatan Pembelajaran
 Menguasai Kebijakan Pendidikan
 Memahami Program Pembangunan Pendidikan dan Rencana Strategis di Bidang
Pendidikan
 Memahami Kebijakan Pendidikan
 Memahami Konsep dan Penerapan Kepemimpinan Pendidikan dalam Tugas, Peran, dan
Fungsi Kepala Sekolah
 Memahami Konsep dan Penerapan Manajemen Pendidikan dalam Tugas, Peran, dan
Fungsi Kepala Sekolah
 Memahami Konsep dan Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)
 Memahami Konsep dan Penerapan Manajemen Stratejik di Sekolah
 Menerapkan Konsep dan Penerapan Manajemen Mutu Sekolah
 Kompetensi Personal
 Berjiwa Pemimpin
 Memiliki Etos Kerja yang Tinggi dan Pengendalian Diri
 Bersikap Terbuka dan Komitmen
 Kompetensi Sosial Kemasyarakatan
Standar kompetensi kepala sekolah versi Permen
Nomor 13 Tahun 2007, tanggal 17 Juli 2007

 Dimensi kompetensi kepribadian


 Dimensi kompetensi manajerial
 Dimensi kompetensi kewirausahaan
 Dimensi kompetensi supervisi
 Dimensi kompetensi sosial
E. Persyaratan Kepala Sekolah
Standar Kualifikasi dan Pengalaman
1. Kualifikasi Kepala Sekolah / Madrasah terdiri ata Kualifikasi Umum dan Kualifikasi
Khusus
2. Kualifikasi Umum Kepala Sekoalh / Madrasah adalah sebagai berikut :
 Memiliki kualifikasi akademik sarjana (S1) atau diploma empat (D-IV) kependidikan atau
nonkependidikan pada perguruan tinggi yang terakreditasi
 Pada waktu diangkat sebagai kepala sekolah berusia setinggi tingginya 56 tahun
 Memiliki pengalaman mengajar sekurang-kurangnya 5 tahun menurut jenjang sekolah masing
masing, kecuali di Taman Kanak Kanak / Raudhatul Athfal (TK / RA) memiliki pengalaman
mengajar sekuarang kurangnya 3 tahun di TK/RA
 Memiliki pangkat serendah rendahnya III/c bagi pegawai negeri sipil (PNS) dan bagi NON-
PNS disertakan dengan kepangkatan yang dikeluarkan oleh yayasan atau lembaga yang
berwenang
3. Kualifikasi Khusus Kepala Sekolah / Madrasah meliputi :
 Berstatus sebagai guru
 Memilki sertifikat pendidik sebagi guru
 Memiliki sertifikat kepala yang diterbitkan oleh lembaga yang ditetapkan
Pemerintah

 Kepala Taman Kanak - Kanak / Raudhatul Athfal (TK/RA)


 Kepala Sekolah Dasar /Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI)
 Kepala Sekolah Menengah Pertama / Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs)
 Kepala Sekolah Menengah Atas/ Madrasah Aliyah (SMA/MA)
 Kepala Sekolah Menengah Kejuruan / Madrasah Aliyah Kejuruan (SMK/MAK)
 Kepala Sekolah Dasar Luar Biasa / Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa / Sekolah
Menengah Atas Luar Biasa (SDLB/SMPLB/SMALB)
 Kepala Sekolah Indonesia Luar Negeri
F. Peningkatan Mutu
 Kepala sekolah sebagai administrator kiranya harus benar benar sadar
bahwa hingga kini, mutu pendidikan kita masih mendapatkan sorotan
tajam.

 Untuk merespons makin bervariasinya kebutuhan dan tuntutan


masyarakat, sekolah sekolah harus tampil secara diferensiatif, dalam
makna mampu berbeda secara unggul dibandingkan dengan sekolah
lain.

 Administrator sekolah yang profesional mampu membangun


keunggulan sesuai dengan potensi internal dan akses eksternalnya
Menurut Diane Massell (1998), ada tujuh elemen kapasitas
untuk meningkatkan mutu pendidikan persekolahan, yaitu:

(1) pengetahuan dan keterampilan guru,


(2) motivasi siswa,
(3) materi kurikulum,
(4) kualitas dan tipe orang-orang yang mendukung proses pembelajaran di kelas,
(5) kuantitas dan kualitas interaksi para pihak pada tingkat organisasi sekolah,
(6) sumber-sumber material, dan
(7) organisasi dan alokasi sumber-sumber sekolah di tingkat lembaga.
kendala mayomyha, yang oleh Eugene Schaffer dkk. (1997) diidentifikasi
sebagai berikut:

(1) kemampuan keuangan yang tidak memadai,


(2) kepemimpinan kepala sekolah yang tidak kompeten, (3)
komitmen guru yang rendah,
(4) persepsi negatif dari masyarakat,
(5) penataan staf,
(6) kurikulum,
(7) konflik politik dan rasial,
(8) keterbatasan fasilitas, dan
(9) komunikasi yang tidak kondusif.
Strategi yang dapat diterapkan:
1. membangun komitmen untuk memberi porsi penganggaran yang lebih besar atau
setidaknya secara nisbi memadai bagi keperluan penyelenggaraan pendidikan
yang bersifat reformatif.
2. memberi peluang kepada sekolah untuk secara diskresi atau keleluasaan lebih
luas mengatur keuangan secara lebih besar, termasuk kewenangan menentukan
sumber dan besarnya masukan tambahan dari luar sektor pemerintah, dengan
tidak memupus harapan siswa untuk bersekolah.
3. menautkan kompensasi terhadap guru dengan tujuan reformasi, atau dengan kata
lain, menerapkan sistem prestasi (merit system) bagi guru ke dalam skema
reformasi pendidikan.
4. penerapan insentif kepada sekolah secara berbasis pada kinerjanya.
5. penerapan kaidah-kaidah akuntabilitas untuk setiap item pembelanjaan.
6. membangun prakarsa dana luncuran atau prakarsa yang menghasilkan sejumlah
uang (revenue generating) demi sustainabilitas reformasi pendidikan.
 Pada tingkat Dinas Pendidikan dukungan itu dapat dilakukan dengan :
1. penyediaan informasi,
2. membantu sekolah membangun kapasitas melalui pengembangann staf dan
pengelolaan keuangan,
3. negosiasi dengan pihak eksternal, dan
4. menggaransi akuntabilitas.

Ketika disuarakan, kebijakan reformasi sekolah hendaknya tidak


dipersepsi sebagai harus diterima secara apa adanya (taken for granted), tidak
pula sebagai kebijakan mandatori yang seragam, melainkan yang diutamakan
bahwa hal itu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan bagi anak-
anak.
G. Dewan Pendidikan dan Komite
Sekolah

KEPMENDIKNAS RI
NO 044/U/2002

DEWAN PENDIDIKAN
DAN
KOMITE SEKOLAH
DEWAN PENDIDIKAN

BADAN YANG MEWADAHI PERAN


SERTA MASYARAKAT DALAM
MENINGKATKAN MUTU,
PEMERATAAN,EFISIENSI
PENGELOLAAN PENDIDIKAN
DI KAB/KOTA
DEWAN
PENDIDIKAN

 SETIAP KAB/KOTA
ATAS PRAKARSA MASYARAKAT
ATAS PRAKARSA PEM
KAB/KOTA
KEDUDUKAN DAN SIFAT DEWAN
PENDIDIKAN

• DEWAN PENDIDIKAN BERKEDUDUKAN DI


KAB/KOTA DEWAN

• PENDIDIKAN BERSIFAT MANDIRI, TIDAK


MEMPUNYAI HIERARKIS DENGAN LEMBAGA
PEMERINTAHAN DAERAH
TUJUAN UTAMA
1. MEWADAHI & MENYALURKAN ASPIRASI & PRAKARSA
MASYARAKAT DALLM MELAHIRKAN KEBIJAKAN & PROGAM
PENDIDIKAN

2. MENINGKATKAN TANGGUNGJAWAB & PERAN SERTA AKTIF DARI


SELURUH LAPISAN MASYARAKAT DALAM PENYELENGGARAAN
PENDIDIKAN

3. MENCIPTAKAN SUASANA & KONDISI TRANSPARAN,AKUNTABEL &


DEMOKRATIS DALAM PENYELENGGARAAN & PELAYANAN
PENDIDIKAN YANG BERMUTU
PERAN UTAMA

• PEMBERI PERTIMBANGAN (advisory agency) DALAM


PENENTUAN DAN PELAKSANAAN KEBIJAKAN
PENDIDIKAN

• PENDUKUNG (support aagency) FINANSIAL, PEMIKIRAN,


TENAGA DALAM PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN

• PENGONTROL (controlling agency) DALAM RANGKA


TRANSPARANSI DAN AKUNTABILITAS
PENYELENGGARAAN DAN KELUARAN PENDIDIKAN

• MEDIATOR ANTARA PEMERINTAH (EKSEKUTIF) DAN


DPRD (LEGISLATIF) DENGAN MASYARAKAT
FUNGSI UTAMA
• mendorong tumbuhnya perhatian dan komitmen masyarakat terhadap
penyelenggaraan pendidikaan dan kepelatihan yang bermutu untuk semua jenis
dan jenjang, termasuk perguruan tinggi.

• melakukan kerjasama dengan masyarakat (perorangan/organisasi), pemerintah


dunia bisnis, dan DPRD berkenan dengan penyelenggaraan pendidikan dan
kepelatihan yang bermutu untuk semua jenis dan jenjang, termasuk perguruan
tinggi.

• menampung dan menganalisis aspirasi, ide, tuntutan, dan pelbagai kebutuhan


dan kepelatihan yang diajukan oleh masyarakat.
lanjutan
• memberikan masukan, pertimbangan, dan rekomendasi kepada pemerintah
daerah mengenai :
(a) kebijakan program pendidikan dan kepelatihan,
(b) kriteria kinerja daerah dalam bidang pendidikan dan kepelatihan,
(c) kriteria tenaga kependidikan, khususnya guru/tutor, pelatihan,
widyaswara, dan kepala satuan pendidikan dan kepelatihan,
(d) kriteria fasilitas pendidikan dan pelatihan.

• mendorong orang tua dan masyarakat berpatisipasi dalam pendidikan guna


mendukung peningkatan mutu dan npemerataan pendidikan.

• melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap kebijakan, program,


penyelenggaraan dan keluaran pendidikan dan kepelatihan.
KOMITE SEKOLAH

Badan mandiri yang mewadahi peran


serta masyarakat dalam rangka
meningkatkan mutu, pemerataan dan
efisiensi pengelolaan pendidikan di satuan
pendidikan, baik pada pend pra sekolah,
sekolah, maupun jalur pend luar sekolah
KOMITE SEKOLAH

• SETIAP SATUAN PENDIDIKAN/

• KELOMPOK SATUAN PENDIDIKAN

• ATAS PRAKARSA MASYARAKAT

• ATAS PRAKARSA SATUAN PENDIDIKAN


TUJUAN UTAMA

• mewadahi dan menyalurkan aspirasi dan prakarsa masyarakat dlam


melahirkan kebijakan operasional dan program pendidikan di satuan
pendidikan

• meningkatkan tanggung jawab dan peran serta masyarakat dalam


penyelenggaraan pendidikan disatuan pendidikan.

• menciptakan suasana dan kondisi transparan, akuntabel, dan


demokratis dalam penyelenggaraan dan pelayanan pendidikan yang
bermutu di satuan pendidikan.
PERAN UTAMA
• PEMBERI PERTIMBANGAN DALAM PENENTUAN DAN PELAKSANAAN
KEBIJAKAN PENDIDIKAN DI SAT PENDIDIKAN

• PENDUKUNG FINANSIAL, PEMIKIRAN, TENAGA DALAM


PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DI SAT PENDIDIKAN

• PENGONTROL DLM RANGKA TRANSPARANSI DAN AKUNTABILITAS


PENYELENGGARAAN DAN KELUARAN PENDIDIKAN DI SATUAN
PENDIDIKAN

• MEDIATOR ANTARA PEMERINTAH (EKSEKUTIF) DENGAN


MASYARAKAT DI SATUAN PENDIDIKAN
FUNGSI UTAMA

• mendorong tumbuhnya perhatian dan komitmen masyarakat


terhadap penyelenggaraan pendidikaan yang bermutu

• melakukan kerjasama dengan masyarakat


(perorangan/organisasi/dunia/usaha/dunia industri), dan
pemerintah berkenan dengan penyelenggaraan pendidikan yang
bermutu.

• menampung dan menganalisis aspirasi, ide, tuntutan, dan pelbagai


kebutuhan dan kepelatihan yang diajukan oleh masyarakat.
lanjutan
• memberikan masukan, pertimbangan, dan rekomendasi kepada satuan
pendidikan mengenai :
(a) kebijakan program pemerintah,
(b) Rencana Anggaran Pendidikan dan Belanja Sekolah (RAPBS)
(c) kriteria tenaga kependidikan,
(d) kriteria fasilitas pendidikan,
(e) kriteria kinerja satuan pendidikan,
(f) hal-hal lain yang terkait dengan pendidikan.

• mendorong orang tua dan masyarakat berpatisipasi dalam pendidikan guna


mendukung peningkatan mutu dan pemerataan pendidikan.

• menggalang dana masyarakat dalam rangka pembiayaan penyelenggaraan


pendidikan di satuan pendidikan. Ketujuh, melakukan evaluasi dan
pengawasan terhadap kebijakan, program, penyelenggaraan dan keluaran
pendidikan.
Pada tingkat departemen, telah di sepakati
mengenai indikator kinerja Dewan Pendidikan dan
Komite Sekolah/Madrasah, seperti disajikan pada
Tabel 4 dan 5 di bawah ini. Indikator ini disajikan
dengan beberapa penambahan, sehingga tidak
sepenuhnya persis dengan yang dikeluarkan di
tingkat departemen.
Tabel 4 : Indikator Kinerja Dewan Pendidikan
Peran dan Fungsi Manajemen Indikator Kinerja

A. Badan Pertimbangan / advisory agency

1. Perencanaa program a) Mengidentifikasi aspirasi orang tua murid dalam


bidang pendidikan
b) Mengidentifikasi aspirasi masyarakat dalam
bidang pendidikan
c) Mengidentifikasi aspirasi dunia usaha/industri
dalam bidang pendidikan
d) Memberikan masukan kebijakan pendidikan
kepada Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota
e) Memberi pertimbangan kepada Dinas Pendidikan
Kabupaten/Kota dalam membuat keputusan di
bidang pendidikan
f) Memberikan rekomendasi terhadap keputusan
Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota
g) Memberikan masukan untuk mensosialisasikan
kebijakan dan program pendidikan di daerah
A. Badan Pertimbangan / advisory agency
2. Pelaksanaan program a) Memberikan pertimbangan mengenai
muatan lokal kepada Dinad Pendidikan
b) Memberikan pertimbangan mengenai
program-program unggulan daerah dan
sekolah kepada Dinas Pendidikan
c) Memberikan pertimbangan tentang
evaluasi pendidikan kepada Dinas
Pendidikan
d) Memberikan pertimbangan tentang
pemilihan strategis pembelajaran kepada
Dinas Pendidikan
e) Memberikan pertimbangan kepada Dinas
Pendidikan mengenai alternatif strategis
efisiensi dan efektivitas penggunaan
sumber daya pendidikan
f) Memberikan pertimbangan mengenai
muatan lokal kepada Dinas Pendidikan
A. Badan Pertimbangan / advisory agency
3. Pemberdayaan sumber daya a) Memberikan pertimbangan mengenai
kualifikasi guru
b) Memberikan pertimbangan mengenai
pengangkatan guru dan kepala sekolah
c) Memberikan pertimbangan mengenai
tentang rotasi tentang guru dan kepala
sekolah
d) Memberikan pertimbangan terhadap
standar teknis sekolah
e) Memberikan pertimbangan mengenai
sumber-sumber anggaran
f) Memberikan pertimbangan mengenai
prioritas penggunaan anggaran
g) Memberikan pertimbangan Dinas
Pendidikan untuk melakukan prakarsa
pemberdayaan sekolah
B. Badan Pendukung / supporting agency

1. Pengelolaan sumber daya a) Membantu usaha perbaikan kondisi


ketenagaan di sekolah-sekolah
b) Mengidentifikasikan tenaga ahli dalam
masyarakat untuk mendukung sumber
daya pendidikan di daerah
c) Mobilisasi tenaga ahli dalam masyarakat
untuk meningkatkan sumber daya
pendidikan didaerah
d) Mobilisasi guru sukarelawan untuk
menanggulangi kekurangan guru
e) Mobilisasi tenaga kependidikan non guru
untuk menanggulangi kekurangan guru
B. Badan Pendukung / supporting agency

2. Pengelolaan sarana dan prasarana a) Membantu perbaikan kondisi sarana dan


program prasarana pendidikan yang ada

b) Mobilisasi bantuan sarana dan prasarana


dari masyarakat

c) Mengkoordinasikan dukungan sarana dan


prasarana dari masyarakat

d) Mengevaluasi pelaksanaan dukungan


masyarakat
B. Badan Pendukung / supporting agency

3. Pengelolaan anggaran sumber daya a) Membentu kondisi anggaran pendidikan


di sekolah-sekolah
b) Mobilisasi dukungan masyarakat dalam
hal anggaran pendidikan
c) Mengkoordinasikan dukungan masyarakat
dalam hal anggaran pendidikan
d) Mengkoordinasikan dukungan masyarakat
terhadap pendidikan dalam bentuk non-
ruang
e) Mengevaluasikan pelaksanaan dukungan
masyarakat dalam hal anggaran
pendidikan
C. Badan Pengontrolan / controlling agency

1. Mengontrol perencanaan a) Mengontrol proses pengambilan


pendidikan keputusan dilingkungan Dinas Pendidikan
b) Mengontrol kualitas kebijakan di
lingkungan Dinas Pendidikan
c) Mengontrol proses perencanaan
pendidikan di lingkungan Dinas
Pendidikan
d) Mengontrol kualitas perencanaan
Pendidikan di lingkungan Dinas
Pendidikan
e) Mengontrol kualitas program pendidikan
C. Badan Pengontrolan / controlling agency

2. Mengontrol pelaksanaan program a) Mengontrol organisasi pelaksanaan


pendidikan pendidikan
b) Mengontrol penjadwalan program
c) Mengontrol alokasi dana pelaksanaan
program
d) Mengontrol sumber-sumber daya
pelaksanaan program
e) Mengontrol partisipasi sekolah dan
masyarakat terhadap pelaksanaan
program
C. Badan Pengontrolan / controlling agency
3. Memantau luaran pendidikan a) Memantau angka partisipasi
pendidikan
b) Memantau angka mengulang kelas
c) Memantau angka bertahan
d) Memantau angka transisi
e) Memantau hasil Ujian Nasional
4. Memantau dampak a) Memantau pertumbuhan ekonomi
pendidikan daerah
b) Memantau ketenaga kerjaan di
daerah
c) Memantau kondisi sosial budaya di
daerah
C. Badan Pengontrolan / controlling agency
1. Mengontrol perencanaan pendidikan a) Mengontrol proses pengambilan keputusan di
sekolah
b) Mengontrol kualitas kebijakan di sekolah
c) Mengontrol proses perencanaan pendidikan di
sekolah
d) Pengawasan terhadap kualitas perencanaan di
sekolah
e) Pengawasan terhadap kualitas program sekolah

2. Mengontrol pelaksanaan program a) Memantau organisasi sekolah


pendidikan b) Memantau kualitas kebijakan di sekolah
c) Memantau alokasi anggaran untuk pelaksanaan
program sekolah
d) Memantau sumber daya pelaksanaan program
sekolah
e) Memantau partisipasi pemangku kepentingan
pendidikan dalam pelaksanaan program sekolah
C. Badan Pengontrolan / controlling agency

3. Memantau luaran pendidikan a) Memantau hasil Ujian Akhir

b) Memantau angka partisipasi sekolah

c) Memantau angka mengulang


sekolah

d) Memantau angka bertahan sekolah


D. Badan Penghubung / mediator agency
1. Perencanaan program a) Menjadi penghubung antara komite
sekolah/madrasah dengan masyarakat, komite
sekolah/madrasah dengan sekolah, dan komite
sekolah dengan dewan pendidikan
b) Mengidentifikasikan aspirasi masyarakat
untuk perencanaan pendidikan
c) Membuat usulan kebijakan dan program
pendidikan kepala sekolah

2. Pelaksanaan program a) Mensosialisasikan kebijakan dan program


sekolah kepada masyarakat
b) Memfasilitasi pelbagai masukan kebijakan
program terhadap sekolah
c) Menampung pengaduan dan keluhan terhadap
kebijakan dan program sekolah
d) Mengkomunikasikan pengaduan dan keluhan
masyarakat terhadap sekolah
D. Badan Penghubung / mediator agency
3. Pengelolaan sumber daya a) Mengidentifikasikan kondisi sumber
daya di sekolah
b) Mengidentifikasikan sumber-sumber
daya masyarakat
c) Memobilisasi bantuan masyarakat untuk
pendidikan di sekolah
d) Mengkoordinasikan bantuan masyarakat

Kehadiran Komite Sekolah merupakan wujud nyata untuk mewadahi


partisipasi masyarakat. Kepala Sekolah sebagai administrator sangat
berkepentingan dengan kehadiran komite sekolah, karena melalui merekalah
partisipasi masyarakat dapat dioptimasi.