Anda di halaman 1dari 8

PENATALAKSANAAN A.

PENDIDIKAN / EDUKASI KEPADA PENDERITA DAN KELUARGA Pengobatan yang efektif hanya mungkin berhasil dengan penatalaksanaan yang komprehensif, dimana melibatkan kemampuan diagnostik dan terapi dari seorang dokter Puskesmas di satu pihak dan adanya pengertian serta kerjasama penderita dan keluarganya di pihak lain. Pendidikan kepada penderita dan keluarganya adalah menjadi tanggung jawab dokter Puskesmas, sehingga dicapai hasil pengobatan yang memuaskan bagi semua pihak. Beberapa hal yang perlu diketahui dan dikerjakan oleh penderita dan keluarganya adalah : 1. Memahami sifat-sifat dari penyakit asma : - Bahwa penyakit asma tidak bisa sembuh secara sempurna. - Bahwa penyakit asma bisa disembuhkan tetapi pada suatu saat oleh karena faktor tertentu bisa kambuh lagi. - Bahwa kekambuhan penyakit asma minimal bisa dijarangkan dengan pengobatan jangka panjang secara teratur. 2. Memahami faktor yang menyebabkan serangan atau memperberat serangan, seperti : - Inhalan : debu rumah, bulu atau serpihan kulit binatang anjing, kucing, kuda dan spora jamur. - Ingestan : susu, telor, ikan, kacang-kacangan, dan obat-obatan tertentu. - Kontaktan : zalf kulit, logam perhiasan. - Keadaan udara : polusi, perubahan hawa mendadak, dan hawa yang lembab. - Infeksi saluran pernafasan. - Pemakaian narkoba atau napza serta merokok. - Stres psikis termasuk emosi yang berlebihan. - Stres fisik atau kelelahan. 3. Memahami faktor-faktor yang dapat mempercepat kesembuhan, membantu perbaikan dan

mengurangi serangan : - Menghindari makanan yang diketahui menjadi penyebab serangan (bersifat individual). - Menghindari minum es atau makanan yang dicampur dengan es. - Berhenti merokok dan penggunakan narkoba atau napza. - Menghindari kontak dengan hewan diketahui menjadi penyebab serangan. - Berusaha menghindari polusi udara (memakai masker), udara dingin dan lembab. - Berusaha menghindari kelelahan fisik dan psikis. - Segera berobat bila sakit panas (infeksi), apalagi bila disertai dengan batuk dan pilek. - Minum obat secara teratur sesuai dengan anjuran dokter, baik obat simptomatis maupun obat profilaksis. - Pada waktu serangan berusaha untuk makan cukup kalori dan banyak minum air hangat guna membantu pengenceran dahak. - Manipulasi lingkungan : memakai kasur dan bantal dari busa, bertempat di lingkungan dengan temperatur hangat. 4. Memahami kegunaan dan cara kerja dan cara pemakaian obat obatan yang diberikan oleh dokter : - Bronkodilator : untuk mengatasi spasme bronkus. - Steroid : untuk menghilangkan atau mengurangi peradangan. - Ekspektoran : untuk mengencerkan dan mengeluarkan dahak. - Antibiotika : untuk mengatasi infeksi, bila serangan asma dipicu adanya infeksi saluran nafas. 5. Mampu menilai kemajuan dan kemunduran dari penyakit dan hasil pengobatan. 6. Mengetahui kapan self treatment atau pengobatan mandiri harus diakhiri dan segera mencari pertolongan dokter. Penderita dan keluarganya juga harus mengetahui beberapa pandangan yang salah tentang asma, seperti :

1. Bahwa asma semata-mata timbul karena alergi, kecemasan atau stres, padahal keadaan bronkus yang hiperaktif merupakan faktor utama. 2. Tidak ada sesak bukan berarti tidak ada serangan. 3. Baru berobat atau minum obat bila sesak nafas saja dan segera berhenti minum obat bila sesak nafas berkurang atau hilang. B. PENGOBATAN 1. PENGOBATAN SIMPTOMATIK Tujuan Pengobatan Simpatomimetik adalah : a. Mengatasi serangan asma dengan segera. b. Mempertahankan dilatasi bronkus seoptimal mungkin. c. Mencegah serangan berikutnya. Obat pilihan untuk pengobatan simpatomimetik di Puskesmas adalah : a. Bronkodilator golongan simpatomimetik (beta adrenergik / agonis beta) Adrenalin (Epinefrin) injeksi. Obat ini tersedia di Puskesmas dalam kemasan ampul 2 cc Dosis dewasa : 0,2-0,5 cc dalam larutan 1 : 1.000 injeksi subcutan. Dosis bayi dan anak : 0,01 cc/kg BB, dosis maksimal 0,25 cc. Bila belum ada perbaikan, bisa diulangi sampai 3 X tiap15-30 menit. Efedrin Obat ini tersedia di Puskesmas berupa tablet 25 mg. Aktif dan efektif diberikan peroral.

Salbutamol Obat ini tersedia di Puskesmas berupa tablet kemasan 2 mg dan 4 mg. Bersama Terbutalin (tidak tersedia di Puskesmas) Salbutamol merupakan bronkodilator yang sangat poten bekerja cepat dengan efek samping minimal. Dosis : 3-4 X 0,05-0,1 mg/kg BB b. Bronkodilator golongan teofilin Teofilin Obat ini tidak tersedia di Puskesmas. Dosis : 16-20 mg/kg BB/hari oral atau IV. Aminofilin Obat ini tersedia di Puskesmas berupa tablet 200 mg dan injeksi 240 mg/ampul. Dosis intravena : 5-6 mg/kg BB diberikan pelan-pelan. Dapat diulang 6-8 jam kemudian , bila tidak ada perbaikan. Dosis : 3-4 X 3-5 mg/kg BB c. Kortikosteroid Obat ini tersedia di Puskesmas tetapi sebaiknya hanya dipakai dalam keadaan : Pengobatan dengan bronkodilator baik pada asma akut maupun kronis tidak memberikan hasil yang memuaskan. Keadaan asma yang membahayakan jiwa penderita (contoh : status asmatikus) Dalam pemakaian jangka pendek (2-5 hari) kortikosteroid dapat diberikan dalam dosis besar baik oral maupun parenteral, tanpa perlu tapering off. Obat pilihan : Hidrocortison

Dosis : 4 X 4-5 mg/kg BB Dexamethason d. Ekspektoran Adanya mukus kental dan berlebihan (hipersekresi) di dalam saluran pernafasan menjadi salah satu pemberat serangan asma, oleh karenanya harus diencerkan dan dikeluarkan. Sebaiknya jangan memberikan ekspektoran yang mengandung antihistamin, sedian yang ada di Puskesmas adalah : Obat Batuk Hitam (OBH) Obat Batuk Putih (OBP) Glicseril guaiakolat (GG) e. Antibiotik Hanya diberikan jika serangan asma dicetuskan atau disertai oleh rangsangan infeksi saluran pernafasan, yang ditandai dengan suhu yang meninggi. Antibiotika yang efektif untuk saluran pernafasan dan ada di Puskesmas adalah :

2. PENGOBATAN PROFILAKSIS Pengobatan profilaksis dianggap merupakan cara pengobatan yang paling rasional, karena

sasaran obat-obat tersebut langsung pada faktor-faktor yang menyebabkan bronkospasme. Pada umumnya pengobatan profilaksis berlangsung dalam jangka panjang, dengan cara kerja obat sebagai berikut : a. Menghambat pelepasan mediator. b. Menekan hiperaktivitas bronkus. Hasil yang diharapkan dari pengobatan profilaksis adalah : a. Bila mungkin bisa menghentikan obat simptomatik. b. Menghentikan atau mengurangi pemakaian steroid. c. Mengurangi banyaknya jenis obat dan dosis yang dipakai. d. Mengurangi tingkat keparahan penyakit, mengurangi frekwensi serangan dan meringankan beratnya serangan. Obat profilaksis yang biasanya digunakan adalah : a. Steroid dalam bentuk aerosol. b. Disodium Cromolyn. c. Ketotifen. d. Tranilast. Sangat disayangkan hingga saat ini obat-obatan tersebut belum tersedia di Puskesmas, sehingga untuk memenuhi terapi tersebut dokter Puskesmas harus memberikan resep luar (ke Apotik), di mana hal ini akan menjadi problem tersendiri bagi penderita dari keluarga miskin. 3. TATALAKSANA KASUS DI PUSKESMAS : Dengan segala keterbatasan yang ada dokter Puskesmas harus bisa memberikan pertolongan kepada penderita serangan asma. Penegakkan diagnosa yang tepat dengan tindakan yang benar, cepat dan akurat akan sangat menolong penderita.

a. TATALAKSANA ASMA AKUT INTERMITEN 1. Aminofilin : 3 X 3-5 mg/kg BB atau 2. Salbutamol : 3 X 3. Bila ada batuk berikan ekspectoran 4. Bila ada tanda infeksi (demam) berikan antibiotika b. TATALAKSANA ASMA BERAT DAN STATUS ASMATIKUS 1. Adrenalin 0,3 mg-0,5 mg SK, dapat diulang 15-30 menit kemudian, atau Aminofilin bolus 5-6 mg/kg BB IV pelan-pelan. Catatan : pemberian Adrenalin pada orang tua harus hati-hati, dan tidak boleh diberikan pada penderita hipertensi dan pnyakit jantung. 2. Dexametason 5 mg IV. 3. Bila ada berikan Oksigen : 2-4 lt/menit. 4. Bila tidak ada respon dianggap sebagai Status Asmatikus : Pasang infus Glukosa 5% atau NaCl 0,9% : 2-3 lt/24 jam. Rujuk segera ke Rumah Sakit. KOMPLIKASI Komplikasi terjadi akibat : 1. Keterlambatan penanganan. 2. Penanganan yang tidak adekuat. Komplikasi yang mungkin terjadi adalah : 1. Akut : - Dehidrasi - Gagal nafas

- Infeksi saluran nafas 2. Kronis : - Kor-pulmonale - PPO kronis - Pneumotorak. PROGNOSIS - Pada umumnya bila segera ditangani dengan adekuat pronosa adalah baik. - Asma karena faktor imunologi (faktor ekstrinsik) yang muncul semasa kecil prognosanya lebih baik dari pada yang muncul sesudah dewasa. - Angka kematian meningkat bila tidak ada fasilitas kesehatan yang memadai. DAFTAR PUSTAKA 1. Halim Mubin A. : Panduan Praktis Ilmu Penyakit Dalam : Diagnosis dan Terapi, EGC, Jakarta 2001, 471-474. 2. Subroto H., Suradi : Penatalaksanaan Status Asmatikus, Buku Makalah Simposium Terapi Mutakhir Asma, PDPI Cab.Jateng, 1991 : 39-45.