Anda di halaman 1dari 2

Klasifikasi kejang

1.

PARSIAL Kejang parsial merupakan bagian besar kejang pada masa anak, sampai dengan 40% pada satu seri. Dibagi menjadi dua yaitu kejang parsial sederhana dan kejang parsial kompleks. a. Parsial sederhana Dapat bersifat motorik (gerakan abnormal unilateral), sensorik (merasakan, membaui, mendengar sesuatu yang abnormal), autonomic (takikardi, bradikardi, takipneu, kemerahan, rasa tidak enak di epigastrium), psikik (disfalgia, gangguan daya ingat). Gerakan ditandai dengan gerakan klonik atau tonik yang tidak sinkron dan cenderung melibatkan leher, tungkai dan wajah Biasanya berlangsung kurang dari 1 menit b. Parsial kompleks Dimulai dengan kejang parsial sedehana; berkembang menjadi perubahan kesadaran yang disertai gejala motoric, gejala sensorik, otomatisme (mengecapkan bibir, mengunyah, menarik-narik baju). Beberapa kejang parsial kompleks mungkin berkembang menjadi kejang generalisata. Biasanya berlangsung 1-3 menit. Otomatisme merupakan tanda parsial kompleks yang lazim pada bayi dan anak, terjadi pada 50%-75% kasus; makin tua anak frekuensi otomatisme akan makin besar. Atomatisme berkembang pasca hilang kesadaran dan dapat menetap fase pasca kejang, tetapi tidak diingat oleh anak.

2. GENERALISATA Hilangnya kesadaran dan tidak ada awitan fokal; bilateral dan simetrik; tidak ada aura a. Tonik-klonik Spasme tonik-klonik otot; inkontenensia urin dan alvi; menggigit lidah; fase pasca iktus. Absence sering salah diagnosis sebagai melamun. Menatap kosong , kepala sedikit lunglai, kelopak mata bergetar, atau berkedip secara cepat; tonus postural tidka hilang. Berlangsung beberapa detik b. Miklonik Gambaran klinis yang terlihat adalah gerakan ekstensi dan fleksi lengan atau keempat anggota gerak yang berulang dan terjadinya cepat. Gerakan tersebut menyerupai

gerakan refleks moro. Kejang ini merupakan pertanda kerusakan susunan saraf pusat yang luas dan hebat. Gambaran EEG kejang mioklonik pada bayi tidak spesifik. Dpat juga terlihat seperti kontraksi syok mendadak yang terbatas di beberapa otot atau tungkai; terjadinya cenderung singkat. c. Atonik Bentuk kejang generalisata yang ditandai dengan hilangnya secara mendadak tonus otot disertai lenyapnya postur tubuh d. Klonik Kejang klonik dapat berbentuk fokal, unilateral, bilateral dengan permulaan fokal dan multifokal yang berpindah-pindah. Bentuk klinikkejang fokal berlangsung antara 1 - 3 detik, terlokalisasi dengan baik,tidak disertai gangguan kesadaran, dan biasanya tidak diikuti oleh fasetonik. Bentuk kejang ini disebabkan oleh kontusio serebri akibat traumafokal pada bayi besar dan cukup bulan atau oleh ensefalopati metabolik. Terdapat pula gejala seperti gerakan menyentak, repetitive, tajam, lambat, dan tunggal atau multiple di lengan, tungkai dan torso. e. Tonik Peningkatan mendadak tonus otot (menjadi kaku, kontraksi) wajah dan tubuh bagian atas; fleksi lengan dan ekstensi tungkai. Mata dan kepala mungkin berputar ke satu sisi serta menyebabkan henti nafas. Kejang ini biasanya juga terjadi pada bayi baru lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR) dengan masa kehamilan kurang dari 34 minggu dan bayidengan komplikasi prenatal berat. Bentuk klinis kejang tonik yaitu berupapergerakan tonik satu ekstremitas atau pergerakan tonik umum denganekstensi lengan dan tungkai yang menyerupai desebrasi, atau ekstensitungkai dan fleksi lengan bawah dengan bentuk dekortifikasi. Bentukkejang tonik yang menyerupai desebrasi haris dibedakan dengan sikapepistotonus yang disebabkan oleh rangsang meningkat karena infeksiselaput otak atau kernikterus

REFERENSI Price, Sylvia. 2006. Patofisiologi volume 2. Jakarta: EGC. Arvin, Behrman K. 2000. Nelson Ilmu Kesehatan Anak Volume 3. Jakarta: EGC.