Anda di halaman 1dari 7

BAB III.

TINJAUAN PUSTAKA
Mata merah dan bengkak atau mata yang mengeluarkan nanah dapat disebabkan oleh infeksi akibat bakteri antara lain gonokokus, klamidia, stafilokokus, yang biasanya menular ke bayi pada saat kelahiran (Ilyas, 2008). Pada bayi M datang ke poli anak dengan keluhannya mengeluarkan blobok dari kedua mata kanan dan kiri, blobok yang dikeluarkan banyak dan terkadang disertai darah. Keluhan yang terjadi pada bayi M dapat disebabkan oleh adanya infeksi bakteri. Untuk menegakan bakteri apa yang menimbulkan keluhan diperlukan adanya pemeriksaan lanjutan. Keluhan yang dialami oleh pasien dengan mata merah tersebut merupakan suatu tanda bentuk peradangan dari konjungtiva atau selaput lendir yang menutup belakang kelopak dan bola mata atau yang lebih dikenal dengan istilah konjungtivitis (Ilyas, 2010). Dalam kasus ini konjungtivitis tersebut termasuk dalam batasan oftalmia neonatorum yakni konjungtivitis yang terjadi pada bayi dibawah usia 1 bulan. Oftalmia neonatorum menurut Ilyas (2010), dapat disebabkan oleh beberapa mikroorganisme antara lain virus, bakteri, jamur dan akibat adanya alegi. Berikut diagnosis banding konjungtivitis berdasarkan etiologinya dan gejala :
Tabel 1.

Klinik dan Sitologi Gatal Hiperemia Air mata Eksudasi

Viral

Bakteri

Jamur

Alergi

Minimal Umum Banyak Minimal

Minimal Umum Sedang Mengucur purulen atau

Minimal Umum Sedang Mengucur

Hebat Umum Sedang Minimal

mukopurulen Adenopati Lazim Jarang Lazim Tidak ada

preaurikular Pengecatan Gram Sakit tenggorokan yang menyertai Kadang Kadang Monosit Bakteri, PMN PMN, plasma sel Eosinofil badan ekslusi Tidak Pernah Tidak Pernah

Selain itu juga perlu diperhatikan diagnosis banding untuk konjungtivitis bayi
Tabel 2.

Penyebab Naisseria

Serangan 2-4 hari

Sitologi

Kultur

Diplokokus intra- selular Darah, agar gram negatif

Bakteri lain

1-30

Organisme gram negatif Agar darah atau gram positif

Blenore inklusi

2-14 hari

Inklusi intra-sitoplasmik Giemsa positif

Negatif

Kimiawi

1-2 hari

Negatif

Negatif atau flora normal

Dari hasil diagnosis banding berdasarkan tabel diatas dilihat dari gejala klinik dan pemeriksaan fisik ditemukan banyaknya cairan mata yang keluar berwarna kuning kehijauan terkadang disertai darah setiap menangis, dan konjungtiva tampak hipermis dari bayi M tersebut maka kemungkinan penyebab terjadinya infeksi yang dialami oleh bayi M berasal dari bakteri. Mikroorganisme (virus, bakteri, jamur), bahan alergen, iritasi menyebabkan kelopak mata terinfeksi sehingga kelopak mata tidak dapat menutup dan

membuka sempurna, karena mata menjadi kering sehingga terjadi iritasi menyebabkan konjungtivitis. Pelebaran pembuluh darah disebabkan karena adanya peradangan ditandai dengan konjungtiva dan sclera yang merah, edema, rasa nyeri, dan adanya secret mukopurulent. Akibat jangka panjang dari konjungtivitis yang dapat bersifat kronis yaitu mikroorganisme, bahan allergen, dan iritatif menginfeksi kelenjar air mata sehingga fungsi sekresi juga terganggu menyebabkan hipersekresi (James, 2005). Pada konjungtivitis ditemukan lakrimasi, apabila pengeluaran cairan berlebihan akan meningkatkan tekanan intra okuler yang lama kelamaan menyebabkan saluran air mata atau kanal schlemm tersumbat. Aliran air mata yang terganggu akan menyebabkan iskemia syaraf optik dan terjadi ulkus kornea yang dapat menyebabkan kebutaan. Kelainan lapang pandang yang disebabkan kurangnya aliran air mata sehingga pandangan menjadi kabur dan rasa pusing (Ilyas 2008).

Bagan Patofisiologi

Untuk menegakan diagnosis dan memberikan terapi yang tepat pada infeksi bakteri bayi M maka diperlukan pemeriksaan tambahan yakni berupa pemeriksaan laboratorium dengan menggunakan pengecatan gram dan uji kultur untuk memberikan penatalaksanaan antibiotik yang tepat.

Dari hasil pemeriksaan fisik dan laboratorium di dapatkan hasil : Pemeriksaan fisik : KU : baik, nangis ,compos mentis Suhu RR : 37,1C : 50 x/menit

Kepala/leher : konjungtiva hiperemis (+), sekret purulen kadang disertai darah Tidak ada pembesaran KGB Thorax : C : S1 S2 tunggal, mur (-) P : ves/ves , rhonki -/-, whezzing -/Abdomen Ext : BU (+) normal, Soepel : HKM

Anogenital : tidak ada kelainan kongenital, anus (+) Pemeriksan Laboratorium Hb Leucosit Tromobosit PCV Pemeriksaan pengecatan gram 14,1 g/dl 13.300 /cmm 675.000 /cmm 42 % Bakteri Batang Gram

Diagnosa : Konjungtivitis Bakteri Akut DD : - Konjungtivitis Viral : - Konjungtivitis Gonore Dari hasil pemeriksaan fisik dan laboratorium dapat disimpulkan bahwa bakteri yang ditemukan merupakan bakteri batang gram negatif maka terapi yang langsung dapat diberikan pada bayi M menurut Depkes (2009) :

1. Diberikan tetes mata chlorampenicol 0,5 % diberikan 4-5 kali sehari diberikan selama 5 hari 2. Memberitahukan kepada ibu pasien agar membersihkan mata sampai bersih menggunakan air hangat dan handuk bersih. Tidak menggosok mata yang sakit dan kemudian menyentuh mata yang sehat, mencuci tangan setelah setiap kali memegang mata yang sakit, dan menggunakan kain lap, handuk, dan sapu tangan baru yang terpisah untuk membersihkan mata yang sakit. Pencegahannya : Cara yang paling aman untuk membersihkan mata bayi setelah lahir adalah dengan diberikan salep kloramfenikol. Periksa orang tua pasien untuk memastikan adanya infeksi dan mendapatkan penatalaksanaan selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA
Departemen Kesehatan Republik Indonesia - WHO (Depkes RI - WHO) . 2009. Pelayaan Kesehatan Anak Di Rumah Sakit. WHO Indonesia : Jakarta. Ilyas, S., 2008. Masalah Kesehatan Mata Anda. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta Ilyas, S., 2010. Ilmu Penyakit Mata. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia : Jakarta. James, B, dkk., 2005. Lecture Notes Oftalmologi. Erlangga : Jakarta. Vaughan, D. dkk., 2008. Oftalmologi Umum. Widya Medika : Jakarta. Wegman, J., 2011. Neonatal Conjunctivitis. http://www.ncbi.nihgov/. Diakses tanggal 27 Februari 2012