Anda di halaman 1dari 24

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Demam Berdarh Dengue (DBD) merupakan penyakit yang masih menimbulkan masalah kesehatan di negara yang sedang berkembang, khususnya Indonesia. Hal ini disebabkan oleh masih tingginya angka morbiditass dan mortilitas. Sejak tahun 1962, di Indonesia sudah mulai mulai ditemukan penyakit menyerupai demam dengue yang terjadi di Filipina (1953) dan Muangthai (1958). Dan baru pada tahun 1968 dibuktikan dengan pemeriksaan serologis untuk pertama kalinya. Sejak saat itu, tamapk jelas kecenderungan peningkatan jumlah penderita. Demikian juga dengan makin meluassnya penyakit tersebut, yang terlihat semula hanya dikota-kota besar, kemudian menyebar ke semua kotabesar di Indonesia, bahkan sampai ke pedesaan dengan penduduk yang padat dalam waktu relatif singkat. Penyakit ini sebenarnya telah ditemukan di jakarta pada tahun 1779 oleh Dr. David Baylon dan beliau menamakan penyakit ini knokkel koorts karena pasiennye mengeluh sakit pada sendi-sendi.

Askep Pada Bayi atau Anak dengan masalah DHF | 1

1.2 Rumusan Masalah 1. Apakah pengertian dan epidemologi Dengue Haemorrhagic Fever (DHF)? 2. Bagaimana etiologi, patofisiologi,dan klasifikasi Dengue Haemorrhagic Fever (DHF)? 3. Apa sajakah manifestasi klinis dan komplikasiyang terjadi padaDengue Haemorrhagic Fever (DHF)? 4. Bagaimana pemeriksaan diagnostik dan penatalaksanaan medis padaDengue Haemorrhagic Fever (DHF)? 5. Bagaimana asuhan keperawatanDengue Haemorrhagic Fever (DHF)? 1.3 Tujuan 1. Mengetahui pengertian dan epidemologi Dengue Haemorrhagic Fever (DHF). 2. Mengetahui etiologi, patofisiologi, dan klasifikasi Dengue Haemorrhagic Fever (DHF). 3. Mengetahui apa sajakah manifestasi klinis dan komplikasiyang terjadi padaDengue Haemorrhagic Fever (DHF). 4. Mengetahui 5. Mengetahui pemeriksaan Asuhan diagnostik dan pada penatalaksanaan Anak dengan medis Dengue padaDengue Haemorrhagic Fever (DHF). Keperawatan Haemorrhagic Fever (DHF).

Askep Pada Bayi atau Anak dengan masalah DHF | 2

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Definisi DHF adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong orbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegepty (betina).(Christantie effendy,Skp,1995,hal 1) DHF adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue (arbovirus) yang masuk kedalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aegypti. (Suryady,2001,hal 57) DHF adalah penyakit yang terdapat pada anak dan dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan sendi yang biasanya memburuk setelah 2 hari pertama. (Hendarwanto,1992,hal 142) Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) atau demam berdarah dengue adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti. Penyakit ini dapat menyerang semua orang dan dapat mengakibatkan kematian, terutama pada anak. Penyakit ini juga sering menimbulkan kejadiaan luar biasa atau wabah. 2.2 Epidemologi Penyakit ini terdapat di daerah tropis, terutama di negara asean dan pasifik barat. Penyakit ini disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk aedes. Di indonesia dikenal dua jenis nyamuk aedes, yaitu : 1. Aedes aegepty a. Paling sering ditemukan

Askep Pada Bayi atau Anak dengan masalah DHF | 3

b. Nyamuk yang hidup didaerah tropis, terutama hidup dan berkembang biak didalam rumah, yaitu ditempat penampungan air jernih atau tempat penampungan air disekitar rumah. c. Nyamuk ini sepintas lalu tampak berlurik, berbintik-bintik putih. d. Biasanya menggigit pada siang hari, terutama pada pagi dan sore hari. e. Jarak terbang 100 meter. 2. Aedes albopictus a. Tempat habitatanya ditempat air jernih. Biasanya di sekitar rumah atau pohon-pohon, tempat yang menampung air hujan yang bersih, seperti pohon pisang, pandan, kaleng bekas. b. Menggigit pada waktu siang hari. c. Jarang terbang 50 meter

2.3 Etiologi Penyebab penyakit Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) atau demam berdarah dengue adalah virus dengue.Virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti. Nyamuk aedes aegypti berbentuk batang, stabil pada suhu 37C.

Askep Pada Bayi atau Anak dengan masalah DHF | 4

2.4 Patofisiologi DHF/DBD

Viremia

Demam

Sakit kepala

Mual

Nyeri otot petekhie

Pembesaran kelenjar getah bening

Trombositopenia

Pembesaran limfa (splenomegali )

Hepatomegali

Hiperemia

Vaskulitis

Reaksi imunologis

Permeabilitas vaskular meningkat


Askep Pada Bayi atau Anak dengan masalah DHF | 5

Kebocoran plasma

Hemokonsentrasi (peningkatan HCT >20 %), hipoproteinemia, hiponatremia, efusi serosa

Peningkatan reabsorpsi air dan Na Hipovolume oleh ginjal dan penurunan ekskresi Na urine serta peningkatan osmolalitas

Syok

Hipoksia jaringan

DIC

Asidosis metabolik

Pendarahan masif 2.5 Klasifikasi DHF Mengingat derajat beratnya penyakit bervariasi dan sangat erat kaitanya dengan pengelolaan dan prognosis, WHO (1975) membagi DHF dalam 4 derajat setelah laboratorik terpenuhi, yaitu:

Askep Pada Bayi atau Anak dengan masalah DHF | 6

1. Derajat I : Demam mendadak 2-7 hari disertai gejala klinis lain atau perdarahan spontan, uji turniket positif. Trombositopenia dan hemakonsentrasi. 2. Derajat II : Derajat I disertai perdarahan spontan dikulit dan atau perdarahan lain. 3. Derajat III : Derajat II disertai kegagalan sirkulasi ringan, yaitu: denyut nadi cepat, lemah, dengan tekanan nadi yang menurun (20 mmHg atau kurang) atau hipotensi (sistolik 80 mmHg) disertai kulit yang dingin, lembab, dan penderita gelisah. 4. Derajat IV : Derajat III disertai syok berat dengan nadi yang tak teraba dan tekanan darah yang tidak terukur dapat disertai dengan penurunan kesadaran, sianosis, dan asidosis. Derajat I dan II disebut DHF/DBD tanpa renjatan, sedangkan derajat III dan IV adalah DHF/DBD dengan rejatan atau DSS.

2.6 Manifestasi Klinis Demam dengue menyerang semua golongan, umur, dan akan bermanifestasi lebih berat pada orang dewasa dibandingkan dengan anakanak. Demam dengue pada bayi dan anak berupa demam ringan yang disertai dengan timbulnya ruam makulopapular. Pada orang dewasa penyakt ini dikenal dengan sindrom trias dengue, yaitu demam tinggi mendadak, nyeri pada anggota badan (kepala, bola mata, punggung, dan sendi), dan timbulnya ruam makulo papular. Pasien dengan penyakit demam dengue biasanya sembuh tanpa adanya gejala sisa.

Kasus DHF ditandai dengan:

Askep Pada Bayi atau Anak dengan masalah DHF | 7

1.

Demam tinggi mencapai 40oC atau lebih selama 5-7 hari, terkadang disertai kejang demam

2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Sakit kepala Mual, muntah-muntah (vomitting), tidak nafsu makan, diare, konstipasi Epigastric discomfort Perdarahan, terutama perdarahan kulit (ptechie, ekimosis, hematoma) Nyeri pada otot, tulang sendi, abodemen, ulu hati Suara serak, batuk Epistaksis serta disuria Pembengkakan sekitar mata

10. Pembesaran htai, limpa, dan kelenjar getah bening 11. Tanda-tanda renjatan (sianosis, kulit lembab dan dinggin, tekanan darah menurun, gelisah, capillary refil lebih dari dua detik nadi lebih cepat dan lemah) Perdarahan kulit dapat berwujud memar atau dapat juga berupa perdarahan spontanmulai dari petechiae (muncul pada hari-hari pertama demam dan berlangsung selama 3-6 hari) pada ekstremitas, muka, tubuh, epistaksis dan perdarahan gusi. Selain perdarahan gastrointestinal masif lebih jarang terjadi dan biasanya terjadi dengan kasus dngan syok yang berkepanjangan atau setelah syok yang tidak dapat teratasi. Selain perdarahan juga terjadi syok yang biasanya dijumpai pada saat demam telah menurun antara hari ke-3 dan ke-7 dengan tanda-tanda anak menjadi makin lemah, ujung-ujung jari, telingan dan hidung teraba dingin dan lembab. Denyut nadi teras cepat, kecil dan tekanan darah menurun dengan tekanan sistolik 80 mmHg atau kurang.

Askep Pada Bayi atau Anak dengan masalah DHF | 8

Menurut patokan WHO pada tahun 1975, diagnosis DBD (DHF) harus berdasarkan adanya gejala klinis sebagai berikut: 1) Demam tinggi mendadak dan terus menerus selama 2-7 hari (tanpa sebab jelas). 2) Menifestasi perdarahan; paling tidak terdapat uji tourniquet positif dan adanya salah satu bentuk perdarahan yang lain misalnya petekia, ekimosis, epistaksis, perdarahan gusi, melena, atau hematemesis. 3) Pembesaran hati (sudah dapat diraba sejak permulaan sakit) 4) Syok yang ditandai nadi lemah, cepat disertai tekanan nadi yang menurun (menjadi 20 mmHg atau kurang), tekanan darah menurun (tekanan sistolik menurunsampai 80 mmHg atau kurang) disertai kulit yang teraba dingin dan lembab terutama pada ujung hidung, jari dan kaki; pasien menjadi gelisah, timbul sianosis di sekitar mulut.

2.7 Komplikasi 1) Anemia 2) Perdarahan spontan 3) Efusi pleura 4) Syok 5) penurunan kesadaran 6) Kematian 2.8 Pemeriksaan Laboratorium Pada pemeriksaan darah pasien DHF akan dijumpai:

Askep Pada Bayi atau Anak dengan masalah DHF | 9

1) Hb dan PCV meningkat (20%) 2) Trombositopenia ( 100.000/ml) 3) Leukopenia (mungkin normal atau lekositosis) 4) Ig D dengue positif 5) Hasil pemeriksaan kimia darah menunjukan : hipoproteinemia, hipokloremia, dan hiponatremia. 6) Ureum dan Ph darah mungkin meningkat 7) Asidosis metabolik : pCO2<35-40 mmHg dan HCO3rendah. 8) SGOT/SGPT mungkin meningkat.

2.9 Penatalaksanaan Medis Pada dasarnya pengobatan pasien DBD bersifat simtomatis dan suportif. 1. Minum banyak 1,5-2 liter/hari dengan air teh, gula, atau susu. 2. Antipiretik jika terdapat demam, seperti golongan asetaminofren (parasetamol), jangan berikan golongan salisilat karena dapat menyebabkan bertambahnya perdarahan. 3. Antikonvulsan jika terdapat kejang, seperti Diazepam (Valium) dan Fenobarbital (Luminal). 4. Pemberian cairan melalui infus, dilakukan jika pasien mengalami kesulitan minum dna nilai hematokrit cenderung meningkat. DBD tanpa rejantan Demam tinggi, anoreksia dan sering muntah menyebabkan pasien dehidrasi dan haus. Pada pasien ini perlu diberi banyak minum, yaitu 1,5-2

Askep Pada Bayi atau Anak dengan masalah DHF | 10

liter dalam 24 jam. Dapat diberi teh manis, sirop, susu dan bila mau lebih baik oralit. Cara memberikan minum sedikit demi sedikit dan orang tua yang menunggu dilibatkan dalam kegiatan ini. Jika anak tidak mau minum sesuai yang dianjurkan tidak dibenarkan pemasangan sonde karena risiko merangsang terjadinya perdarahan. Keadaan hiperpireksia diatasi dengan obat antipiretik dan kompres dingin. Jika terjadi kejang-kejang di beri luminal atau antikonvulsan lainnya. Luminal diberikan dengan dosis : anak umur kurang 1 tahun 50 mg IM; anak lebih dari 1 tahun 75 mg. Jika 15 menit kejang belum berhenti luminal diberikan lagi dengan dosis 3 mg/kgBB. Anak di atas 1 tahun di beri 50 mg, dan di bawah 1 tahun 30 mg, dengan memperhatikan adanya depresi fungsi vital. Infus diberikan pada pasien DBD tanpa rejatan apabila: 1. Pasien terus-menerus muntah, tidak dapat diberikan minum sehingga mengancam terjadinya dehidrasi. 2. Hematokrit yang cenderung meningkat Hematokrit mencerminkan derajat kebocoran plasma dan biasanya mendahului munculnya secara klinis perubahan fungsi vital (hipotensi, penurunan tekanan nadi); sedangkan turunya nilai trombosit biasanya mendahului naiknya hematokrit. Oleh karena itu, pada pasien yang diduga menderita DBD harus diperiksa Ht, Hb dan trombosit setiap hari mulai hari ke-3 sakit sampai demam telah turun 1-2 hari. Nilai Ht itulah yang menentukan apakah pasien perlu di pasang infus atau tidak. DBD disertai rejatan (DSS) Pasien yang mengalami rejatan (syok) harus segera dipasang infus sebagai pengganti cairan yang hilang akibat kebocoran plasma. Cairan yang diberikan biasanya Ringer Laktat. Jika pemberian cairan tersebut tidak ada respons diberikan plasma atau plasma ekspander, banyaknya 20-30 ml/kgBB.
Askep Pada Bayi atau Anak dengan masalah DHF | 11

Pada pasien dengan rejatan berat pemberian infus harus diguyur dengan cara membuka klem infus; tetapi karena biasanya vena-vena telah kolaps sehingga kecepatan tetesan tidak mencapai yang diharapkan maka untuk mengatasinya dimasukkan cairan secara paksa ialah dengan spuit dimasukkan cairan sebanyak 100-200 ml, baru kemudian diguyur. Apabila rejatan telah teratasi, nadi sudah jelas teraba, amplitudo nadi sudah jelas teraba, amplitudo nadi cukup besar, tekanan sistolik 80 mmHg/lebih, kecepatan tetesan dikurangi menjadi 10 ml/kgBB/jam. Mengingat kebocoran plasma biasanya berlangsung sampai 24-48 jam, maka pemberian infus dipertahankan sampai 1-2 hari lagi walaupun tanda-tanda vital telah nyata-nyata baik. Karena hematokrit merupakan indeks yang terpercaya dalam menentukan kebocoran plasma, maka pemeriksaan Ht perlu dilakukan secara periodik. Selanjutnya kecepatan tetesan diberikan sesuai dengan keadaan gejala klinik dan nilai hematokrit. Pada pasien dengan rejatan berat atau rejatan berulang perlu dipasang CVP (central venouspressure, pengaturan tekanan vena sentral) untuk mengukur tekanan vena sentral melalui safena magna atau vena jugularis, dan biasanya pasien dirawat di ICU. Dalam masa penyembuhan, cairan yang ada dalam ruang ekstravaskuler akan diresorbsi kembali ke dalam ruang vaskuler, maka dalam hal pemberian cairan harus hati-hati. Perlu diketahui, bahwa penurunannya nilai hematokrit dan hemoglobin pada masa ini tidak diartikan sebagai tanda terjadinya perdarahan gastrointestinal. Evaluasi klinis, nadi (amplitudo dan frekuensi), tekanan darah, pernapasan, suhu dan pengeluaran urine di lakukan lebih sering. Transfusi darah diberikan pada pasien dengan perdarahan

gastrointestinal yang hebat. Kadang-kadang perdarahan gastrointestinal berat dapat di duga apabila nilai hemoglobin dan hematokrit menurun sedangkan perdarahannya sendiri tidak kelihatan. Dengan memperhatikan evaluasi klinis yang telah disebut, maka dalam keadaan inipun dianjurkan pemberian darah.

Askep Pada Bayi atau Anak dengan masalah DHF | 12

Evaluasi pengobatan Untuk memudahkan mengikuti perjalanan klinik pasien dengan renjatan, dibuat catatan dalam klinik yang mencantumkan tanggal dan jam pemeriksaan serta hasil pemeriksaan nilai Ht dan Hb, trombosit, tekanan darah, nadi (frekuensi dan amplitudo), pernapasan, suhu dan pengeluaran urine. Juga jenis dan jumlah cairan yang diberikan(kecepatan tetesan) juga bila terjadi perdarahan gastrointestinal jumlah dan warna perdarahannya. Bila rejatan tidak teratasi dengan pengobatan biasa atau terjadi rejatan berulang pasien di rawat di ICU.

BAB III Asuhan Keperawatan pada Bayi atau Anak dengan DHF 3.1 Pengkajian a. Identitas pasien Nama, umur (pada DHF plaing sering menyerang anak-anak dengan usia kurang dari 15 tahun), jenis kelamin, alamat, pendidikan, nama orang tua, pendidikan orang tua, dan pekerjaan orang tua. b. Keluhan utama Alasan/keluhan yang menonjo pada pasien DHF untuk datang ke rumah sakit yaitu panas tinggi dan anak lemah. c. Riwayat penyakit sekarang Didapatkan adanya keluhan panas mendadak yang disertai menggigil dan saat demam kesadaran kompos mentis. Turunya panas terjadi antara hari ke-3 dan ke-7, dan anak semakin lemah. Terkadang disertai dengan

Askep Pada Bayi atau Anak dengan masalah DHF | 13

keluhan batuk, pilek, nyeri telan, mual, muntah anoreksia, diare/konstipasi, sakit kepala, nyeri otot dan persendiannyeri ulu hati, pergerakan bola mata terasa pegalserta adanya perdarahan pada kult, gusi (grade III, IV) dan melena/hematemesis. d. Riwayat penyakit yang pernah diderita Penyakit apa saja yang pernah diderita. Pada DHF anak bisa mengalami serangan ulangan DHF dengan type virus yang lain. e. Riwayat imunisasi Apabila anak mempunyai kekbalan tubuh yang baik, maka kemungkinan akan timbulnya komplikasi dapat dihindarkan. f. Riwayat gizi Status gizi anak menderita DHF dat bervariasi. Semua anak dengna status gizi baik maupun buruk dapat beresiko, apabila terdapat faktor predisposisinya. Anak yang menderita DHF sering mengalami keluhan mual, muntah dan nafsu makan menurun. Apabila kondisi ini makin berlanjut dan tidak disertai dengan pemenuhan nutrisi yang mencukupi, maka anak akan mengalami penurunan berat badan sehingga status gizinya menjadi kurang. g. Kondisi lingkungan Sering terjadi di daerah yang padat penduduknya dan lingkungan yang kurang bersih (seperti air ynag menggenang dan gantungna baju di kamar) h. Pola kebiasaan 1) Nutrisi dan metabolisme : frekuensi, jenis, pantangan, nafsu makan berkurang. 2) Eliminasi alvi (buang air besar) : terkadang anak mengalami diare/konstipasi. Sementara DHF grade III-IV bisa terjadi melena.
Askep Pada Bayi atau Anak dengan masalah DHF | 14

3) Eliminasi urine (buang air kecil) : perlu diaji apakah sering kencing, sedikit/banyak, sakit/tidak. Pada DHF grade IV sering terjadi hematuria. 4) Todur dan istirahat : anak sering mengalami kurang tidur karena mengalami syok/nyeri otot dan persendiaan kuantitas dan kualitas tidur maupun istirahatnya kurang. 5) Kebersihaan :upaya keluarga untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan cenderung kurang terutama untuk membersihkan tempat sarang nyamuk aedes aegypti 6) Perilakudan tanggapan bila ada keluarga yang sakit serta upaya untuk menjaga kesehatan. i. Pemeriksaan fisik Meliputi inspeksi, palpasi, auskultasi dan perkusi dari ujung rambut sampai ujung kaki. Berdasarkan tingkatan (grade) DHF, keadaan fisik anak adalah sebagai berikut: 1. Grade I : kesadaran kompos mentis, keadaan umum lemah, tanda-tanda vital dan nadi lemah. 2. Grade II : kesadaran kompos mentis, keadaan umum lemah, ada perdarahn spontan petekia, perdrahan gusi dan telinga, serta nadi lemah, kecil dan tidak teratur 3. Grade III : kesadran apatis, somnolen, keadaan lemah, nadi lemah dan tidka teratur, serta tensi menurun 4. Grade IV : kesadarn koma, tanda-tanda vital : nadi tidka teraba, tensi tidak terukur, pernafasna tiddak teratur, ekstremitas dingin, berkeringat, dan kulit tampak biru j. Sistem integumen :

Askep Pada Bayi atau Anak dengan masalah DHF | 15

1. Adanya petekiae pada kulit, turgor kulit menurun, dan mucul keringatdingin dan lembab. 2. Kuku sianosis/tidak. 3. Kepala dan leher Kepala terasa nyeri, muka tampak kemerahan karena demam (flusy), mata anemis, hidung kadang mengalami perdarahan (epistaksis) ada grade II,III,IV. Pada mulut didapatkan bahwa mukosa mulut kering, terjadi perdarahan gusi, dan nyeri telan. Sementara tenggorokan mengalami hyperemia pharing dan terjadi perdarahan telinga (pada grade I, III, IV) 4. Dada Bentuk simestris dan kadang-kadang terasa sesak. Ada foto thorax terdapat adanya cairan yang tertimbun pada paru sebelah kanan (efusi pleura), rales (+), ronchi (+) yang biasanya terdapat pada grade III dan IV. 5. Abdomen Mengalami nyeri tekan, pembesaran hati (hepatomegali), dan asietas. 6. Ekstremitas Akral dingin, serta terjadi nyeri otot, sendi, serta tulang.

Askep Pada Bayi atau Anak dengan masalah DHF | 16

3.2 Diagnosa keperawatan a. Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit (virus dalam

darah/viremia). b. Gangguan pemenuhan kubutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia. c. Resiko tinggi terjadinya perdarahan berhubungan dengan trombositopenia. d. Gangguan aktivitas sehari-hari berhubungan dengan kondisi tubuh yang lemah. e. Resiko tinggi syok hipovolemik berhubungan dengan kurangnya volume cairan tubuh akibat perdarahan. (Doengoes, 2000) 3.3 Perencanaan Asuhan keperawatan Dx I : Hipertemia (suhu naik) berhubungan dengan proses penyakit (viremia/virus). Tujuan Kriteria Hasil : Hipertermia dapat teratasi : 1. Suhu tubuh dalam batas normal (36-37 C). 2. Mukosa lembab Intervensi Mandiri : 1. Kaji saat timbulnya demam 2. Observasi tanda-tanda vital: suhu, nadi, tensi, pernafasan setiap 3 jam atau lebih sering. 3. Anjurkan klien untuk banyak minum 2,5 liter/24 jam dan 3.Tidak ada sianosis atau purpura Rasional Mandiri : 1. Untuk mengidentifikasi vital pola demam pasien. 2. Tanda-tanda umum klien. 3. Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh merupakan acuan untuk mengetahui keadaan

Askep Pada Bayi atau Anak dengan masalah DHF | 17

jelaskan manfaatnya bagi klien.

meningkat yang banyak.

sehingga

perlu

diimbangi dengan asupan cairan 4. Lakukan Tepid Water Sponge. 4. Tepid Water Sponge penguapan dapat dan

menurunkan 5. Anjurkan untuk tidak memakai selimut dan pakaian yang tebal. Kolaborasi obat antipiretik. :

penurunan suhu tubuh. 5. Pakaian yang tipis akan membantu mengurangi panas dalam tubuh. Kolaborasi 6. Pemberian : cairan dan obat

6. Berikan terapi cairan IVFD dan

antipiretik sangat penting bagi klien dengan suhu tinggi yaitu untuk menurunkan suhu tubuhnya.

DX II : Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia. Tujuan Kriteria Hasil : Anoreksia dan kebutuhan nutrisi dapat teratasi. : 1. Berat badan stabil dalam batas normal. 2. Tidak ada mual dan muntah. Intervensi Mandiri : 1. Kaji mual, sakit menelan, dan muntah yang dialami oleh pasien. 2. Kaji cara/bagaimana makanan dihidangkan. 3. Berikan makanan yang mudah ditelan seperti bubur, tim, dan hidangkan saat masih hangat. Rasional Mandiri : 1. Untuk 2. Cara klien. 3. Membantu mengurangi kelelahan pasien dan meningkatkan asupan makanan karena mudah ditelan. menetapkan menghidangkan cara makanan mengatasinya. dapat mempengarauhi nafsu makan

Askep Pada Bayi atau Anak dengan masalah DHF | 18

4. Jelaskan manfaat makanan/nutrisi bagi klien terutama saat klien sakit. 5. Berikan umpan balik positif pada saat klien mau berusaha menghabiskan makanan. 6. Catat jumlah/porsi makan yang dihabiskan oleh klien setiap hari. 7. Lakukan lunak. 8. Timbang berat badan setiap hari oral hygiene sikat gigi dengan yang

4. Meningkatkan pengetahuan pasien tentang nutrisi sehingga motivasi makan meningkat. 5. Motivasi dan meningkatklan semangat pasien. 6. 7. Untuk nutrisi. Meningkatkan nafsu makan. mengetahui pemenuhan

menggunakan

8.

Mengetahui perkembangan status nutrisi klien.

Kolaborasi 9. Bererikan (anti

: obat-obatan emetik) antasida sesuai 9.

Kolaborasi

Dengan pembarian obat tersebut diharapkan intake nutrisi klien meningkat karena mengurangi rasa mual dan muntah.

program/instruksi dokter. 10. Kolaborasi dengan ahli gizi

10. Membantu proses penyembuhan klien.

dalam pemberian diit yang tepat.

DX III : Resiko tinggi terjadinya perdarahan berhubungan dengan trombositopenia Tujuan : Perdarahan tidak terjadi.
Askep Pada Bayi atau Anak dengan masalah DHF | 19

Kriteria Hasil

: 1. Tanda-tanda vital normal. 2. Jumlah trombosit klien meningkat. 3. Tidak terjadi epitaksis, melena, dan hemotemesis. Rasional Mandiri : 1. Penurunan merupakan pada berupa jumlah tanda-tanda tertentu trombosit adanya dapat (petekie,

Intervensi Mandiri :

1. Monitor tanda-tanda perdarahan dan trombosit yang disertai dengan tanda-tanda klinis.

perforasi pembuluh darah yang tahap menimbulkan tanda-tanda klinis perdarahan epistaksis, dan melena).

2. Anjurkan istirahat.

klien

untuk

banyak

2. Aktivitas yang tidak terkontrol dapat menyebabkan terjadinya perdarahan.

3. Berikan penyelasan pada keluerga untuk segera melaporkan jika ada tanda-tanda perdarahan. 4. Antisipasi terjadinya perdarahan dengan menggunakan sikat gigi lunak, memberikan tekanan pada area tubuh setiap kali selesai pengambilan darah.

3. Mendapatkan penanganan segera mungkin. 4. Mencegah terjadinya pendarahan.

DX IV : Gangguan aktivitas sehari-hari berhubungan dengan kondisi tubuh yang lemah. Tujuan Kriteria Hasil : Aktivitas sehari-hari klien kembali normal. : 1. Keadaan umum membaik 2. Kebutuhan sehari-hari terpenuhi seperti: makan,

Askep Pada Bayi atau Anak dengan masalah DHF | 20

minum, dan personal hyiene (mandi, menggosok gigi, dan bershampoo). Intervensi Mandiri : 1. Kaji kebutuhan klien. 2. Kaji hal-hal yang mampu dilakukan klien berhubungan dengan kelemahan fisiknya. 3. Bantu klien memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari klien sesuai tingkat keterbatasan klien seperti mandi, makan, dan eliminasi. Rasional Mandiri : 1. Mengidentifikasi masalah klien. 2. Mengetahui tindakan keperawtan yang akan diberikan sesuai dengan masalah klien. 3. Pemberian bantuan sangat diperlukan oleh klien pada saat kondisinya lemah dan perawat mempunyai dalam tanggung jawab kebutuhan pemenuhan

sehari-hari tanpa membuat klien ketergantungan terhadap perawat.

DX V : Resiko tinggi syok hipovolemik berhibungan dengan kurangnya volume cairan tubuh akibat perdarahan. Tujuan Kriteria Hasil : Tidak terjadi syok hipovolemik. : 1. Tanda-tanda vital dalam batas normal. 2. Keadaan umum baik.

Askep Pada Bayi atau Anak dengan masalah DHF | 21

3. Syok hipovolemik tidak terjadi.

Intervensi Mandiri : 1. Monitor keadaan umum kilen. 2. Observasi tanda-tanda vital tiap 2-4 jam. 3. Monitor tanda-tanda perdarahan. 4. Anjurkan keluarga/klien untuk

Rasional Mandiri : 1. Untuk mengetahui jika terjadi tanda-tanda syok. 2. Untuk memastikan tidak terjadi per syok. 3. Perdarahan yang cepat diketahui dapat segera teratasi. 4. Untuk membantu yang tepat. jika terjadi 5. Untuk membantu mengistirahatkan saluran sementara pencernaan selama untuk perdarahan jauh tim perawat

segera melapor jika ada tandatanda perdarahan. 5. Segera puasakan perdarahan saluran pencernaan.

untuk segara menentukan tindakan

berasal dari saluran cerna. 6. Perhatikan keluhan klien seperti pusing, lemah, ekstremitas dingin, sesak nafas. Kolaborasi : Kolaborasi 7. Untuk untuk 8. Cek Hb, Ht, Trombosit (sito). 8. Untuk mengetahui mengatasi mengetahui kehilangan syok tingkat cairan tubuh yang hebat yaitu hipovolemik. kebocoran pembuluh darah yang dialami klien, dan untuk acuan melakukan tindakan lebih lanjut. 6. mengetahui seberapa pengaruh perdarahan.

7. Berikan therapi cairan intra vena jika terjadi perdarahan.

Askep Pada Bayi atau Anak dengan masalah DHF | 22

9. Berikan trasfusi sesuai instruksi dokter.

9. Untuk menganti volume darah serta komponen yang hilang.

4. Evaluasi a. Hipertermia dapat teratasi. b. Anoreksia dan kebutuhan nutrisi dapat teratasi. c. Perdarahan tidak terjadi. d. Aktivitas sehari-hari klien kembali normal. e. Tidak terjadi syok hipovolemik.

Askep Pada Bayi atau Anak dengan masalah DHF | 23

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan DHF adalah suatu infeksi arbovirus akut yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk spesies aides. Penyakit ini sering menyerang anak, remaja, dan dewasa yang ditandai dengan demam, nyeri otot dan sendi. Demam Berdarah Dengue sering disebut pula Dengue Haemoragic Fever ( DHF ).

4.2 Saran Demam Berdarah Dengue atau DBD biasa menyerang saat musim penghujan. Terlebih negara kita termasuk negara beriklim tropis yang merupakan tempat hidup favorit bagi nyamuk. Demam ini bisa menjadi penyakit yang mematikan jika tidak segera ditangani. Khususnya, anak-anak seringkali menjadi sasaran dari gigitan nyamuk yang menyebabkan penyakit ini. Sebagai orangtua, sebaiknya berusaha mencegah agar anak dan seluruh anggota keluarga agar terhindar dari penyakit ini. Juga perlu bersikap sigap jika ada anggota keluarga yang menunjukkan gejala penyakit demam berdarah. Bekali diri dengan informasi seputar penyakit ini agar dapat membantu akibat negatif dari penyakit demam berdarah dengue.

Askep Pada Bayi atau Anak dengan masalah DHF | 24