Anda di halaman 1dari 24

Makalah PBL Mandiri 6 Blok 30 Etika Profesi Kedokteran dan Rahasia Pasien

Olivia Ekaputri 10.2009.077 / A2 olivechannie@gmail.com

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jakarta, 2013

Pendahuluan
Latar Belakang Penyakit menular seksual juga disebut penyakit venereal merupakan penyakit yang paling sering ditemukan di seluruh dunia. Pengobatan penyakit ini efektif dan penyembuhan cepat sekali. Namun, beberapa kuman yang lebih tua telah menjadi kebal terhadap obat-obatan dan telah menyebar ke seluruh dunia dengan adanya banyak perjalanan yang dilakukan orang-orang melalui transportasi udara.

Pengendalian penyakit menular seksual ini adalah dengan meningkatkan keamanan kontak seks dengan menggunakan upaya pencegahan. Salah satu di antara PMS ini adalah penyakit gonore yang disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae yang menginfeksi selaput lendir saluran kencing, leher rahim, dubur dan tenggorokan atau selaput lendir Gonore adalah PMS yang paling sering ditemukan dan paling mudah ditegakkan diagnosisnya. Nama awam penyakit kelamin ini adalah kencing nanah. Masa inkubasi 3-5 hari.1

Kebanyakan penderita dengan PMS malu mendapatkan perawatan karena takut rahasia perbuatannya akan terbongkar apakah kepada keluarga, pasangan, maupun masyarakat. Di sini dokter bertanggung-jawab dalam memberikan perawatan kepada pasien dan menjamin kepada pasien bahwa rahasianya akan tetap dijaga. Tapi yang menjadi masalah adalah PMS seperti penyakit Gonore adalah suatu penyakit yang juga bisa tertular kepada pasangan

Olivia Ekaputri /10-2009-077 / A2

Page 1

penderita jika tetap berhubungan dengan pasangannya seperti dari definisinya. Di sini, kedua pihak pasangan harus diobati supaya juga pasien itu dapat sembuh total.

PMS memang memengaruhi baik pria maupun wanita. Namun masalah kesehatan dan konsekuensi jangka panjang PMS cenderung lebih parah pada wanita. Dokter harus mengambil tindakan yang bijak supaya tetap menjaga etika kedokterannya dan rahasia kedokteran dalam melakukan screening pada pasangan penderita dan memberikan perawatan jika ditemukan positif menderita penyakit PMS pada pasangan tersebut.

Tujuan 1. Mengetahui prinsip-prinsip etika kedokteran 2. Mengetahui tentang informed consent 3. Mengetahui tentang rahasia kedokteran 4. Megetahui tentang dampak hukum megenai pembukaan rahasia kedokteran 5. Mengetahui tindakan dokter apabila pasien tersebut menderita AIDS.

Olivia Ekaputri /10-2009-077 / A2

Page 2

Pembahasan

Skenario Seorang pasien laki-laki datang ke praktek dokter. Pasien ini dan keluarganya adalah pasien lama dokter tersebut, dan sangat akrab serta selalu mendiskusikan kesehatan keluarganya dengan dokter terebut. Kali ini pasien laki-laki ini datang sendirian dan mengaku telah melakukan hubungan dengan wanita lain seminggu yang lalu. Sesudah itu ia masih tetap berhubungan dengan istrinya. Dua hari terakhir ia mengeluh bahwa kemaluannya mengeluarkan nanah dan terasa nyeri. Setelah diperiksa ternyata ia menderita GO. Pasien tidak ingin diketahui istrinya, karena bisa terjadi pertengkaran diantara keduanya. Dokter tahu bahwa mengobati penyakit tersebut pada pasien ini tidaklah sulit, tetapi oleh karena ia telah berhubungan juga dengan istrinya maka mungkin istrinya juga sudah tertular. Istrinya juga harus diobati.

I. Prinsip-prinsip Etika Kedokteran


Etika adalah disiplin ilmu yang mempelajari baik buruk atau benar salahnya suatu sikap dan atau perbuatan seseorang individu atau institusi dilihat dari moralitas. Penilaian baik-buruk dan benar-salah dari sisi moral tersebut menggunakan pendekatan teori etika yang cukup banyak jumlahnya. Terdapat dua teori etika yang paling banyak dianut orang adalah teori deontologi dan teleologi. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa, Deontologi mengajarkan bahwa baik-buruknya suatu perbuatan harus dilihat dari perbuatannya sendiri (I Kant), sedangkan teleologi mengajarkan untuk menilai baik-buruk tindakan dengan melihat hasilnya atau akibatnya (D Hume, J Bentham, JS Milis). Deontologi lebih mendasarkan kepada ajaran agama, tradisi, dan budaya sedangakan teleologi lebih ke arah penalaran (reasoning) dan pembenaran (justifikasi) kepada azas manfaat (aliran utilitarian). 2

Beauchamp and Childress (1994) menguraikan bahwa untuk mencapai ke suatu keputusan etik diperlukan 4 kaidah dasar moral (moral principle) yakni:2 Beneficence, yaitu prinsip moral yang mengutamakan tindakan yang ditujukan ke kebaikan pasien. Dalam beneficence tidak hanya dikenal perbutan untuk kebaikan saja, Olivia Ekaputri /10-2009-077 / A2 Page 3

melainkan juga perbuatan yang sisi baiknya (manfaat) lebih besar daripada sisi buruknya. Non-malaficence, yaitu prinsip moral yang melarang tindakan yang memperburuk keadaan pasien. Justice, yaitu prinsip moral yang mementingkan fairness dan keadilan dalam bersikap maupun dalam mendistribusikan sumber daya. Autonomy, yaitu prinsip moral yang menghormati hak-hak pasien, terutama hak-hak ototnomi pasien *the right to self determination). Sedangkan rules derivatnya adalah veracity (berbicara benar, jujur dan

terbuka), privacy (menghormati hak privasi pasien), confidentiality (menjaga kerahasiaan pasien) dan fidelity (loyalitas dan promise keeping).2 Di dalam praktek, peran profesional kesehatan khususnya dokter dapat terbagi ke dalam 3 model penjaga gawang, yaitu peran tradisional, peran negative gatekeeper dan peran positive gatekeeper.3 Dalam peran tradisionalnya, dokter memikul beban moral sebagai penjaga gawang penyelenggaraan layanan kesehatan dan medis. Mereka harus menggunakan pengetahuan mereka untuk berpraktek secara kompeten dan rasional ilmiah. Petunjuknya harus diagnostic elegance (termasuk menggunakan cara yang memiliki tingkat ekonomi yang sesuai dalam mendiagnosis) dan therapeutic parsinomy (memberikan terapi hanya yang secara nyata bermanfaat dan efektif). Mereka harus mencegah adanya risiko yag tidak diperlukan kepada pasien yang berasal dari terapi yang meragukan dan menjaga sumber daya finansial pasien. Dalam peran negative gatekeeper, yaitu pada sistem kesehatan pra-bayar atau kapitasi, dokter diharapkan untuk membatasi akses pasien ke layanan medis. Pada peran ini jelas terjadi konflik moral pada dokter dengan tanggungjawab tradisionalnya dalam membela kepentingan pasien (prinsip beneficence) dengan tanggungjawab barunya sebagai pengawal sumberdaya masyarakat/komunitas. Meskipun demikian, peran negative gatekeeper ini secara moral mungkin masih dapat dijustifikasi.

Olivia Ekaputri /10-2009-077 / A2

Page 4

Tidak seperti peran negatif yang banyak dideskripsikan secara terbuka, peran positive gatekeeper dokter sangat tertutup dan tidak dapat dipertanggungjawabkan secara moral. Dalam peran ini dokter diberdayakan untuk menggunakan fasilitas medis dan jenis pelayanan hi-tech demi kepentingan profit. Bagi mereka yang mampu membayar disediakan fasilitas diagnostik dan terapi yang paling mahal dan mutakhir, layanan didasarkan kepada keinginan pasar dan bukan kepada kebutuhan medis. Upaya meningkatkan demand atas layanan yang sophisticated dijadikan tujuan yang impilisit, dan dokter menjadi salesmannya. Mereka berbagi profit secara langsung apabila mereka pemilik atau investor layanan tersebut, atau mereka memperoleh penghargaan berupa kenaikan honorarium atau tunjangan apabila mereka hanya berstatus pegawai atau pelaksana. Etika kedokteran adalah pengetahuan tentang perilaku profesional para dokter dan dokter gigi dalam menjalankan pekerjaannya sebagaimana tercantum dalam lafal sumpah dan kode etik masing-masing yang telah disusun oleh organisasi profesinya bersama-sama pemerintah.3

Terdapat 17 pasal yang tentukan menurut Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI) yang secara besar menyentuh tentang kewajiban umum dokter (pasal 1 9) , dan kewajiban dokter terhadap pasien (pasal 10-17).

Dalam pasal 1 ditetapkan tentang sumpah dokter itu harus dijunjung tinggi, dihayati dan diamalkan oleh setiap dokter. Dari sumpah dokter, maka kita dapat lihat bahwa setiap dokter itu harus membaktikan hidupnya guna kepentingan kemanusiaan; menjalankan tugas yang terhormat dan bersusila sesuai martabat pekerjaannya sebagai seorang dokter; memelihara martabat dan tradisi luhur profesi kedokteran; merahsiakan segala sesuatu yang ketahuinya karena keprofesianya; mempergunakan pengetahuan dokternya untuk sesuatu yang tidak bertentangan dengan perikemanusiaan; menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan; mengutamakan tidak kesehatan oleh pasien dengan

memperhatikan

kepentingan

masyarakat;

terpengaruh

pertimbangan

keagamaan, kebangsaan, kesukuan, gender, politik, kedudukan sosial, dan jenis penyakit dalam menunaikan kewajiban terhadap pasien; menghormati dan berterimakasih kepada guru-gurunya; memperlakukan teman sejawat seperti saudara kandung; mentaati dan Olivia Ekaputri /10-2009-077 / A2 Page 5

mengamalkan KODEKI; dan mengikrarkan sumpahnya dengan sungguh-sungguh dan mepertaruhkan kehormatan dirinya.

Pelanggaran etika kedokteran diproses melalui MKDKI dan MKEK IDI, sedangkan pelanggaran hukum diselesaikan melalui pengadilan. Dalam profesi kedokteran dikenal 4 prinsip moral utama, yaitu:2 1. Autonomy Prinsip autonomy atau otonomi, yaitu prinsip moral yang menghormati hak-hak pasien terutama hak otonomi pasien (the rights to self determination, yaitu hak menentukan nasib sendiri)2 dan hak atas informasi yang dimiliki pasien tentang penyakitnya dan tindakan medik apa yang hendak dilakukan terhadap dirinya.1 2. Beneficence Beneficence yaitu prinsip moral yang mengutamakan tindakan yang ditujukan ke kebaikan pasien.2 3. Non-maleficence Prinsip non-maleficence, yaitu prinsip moral yang melarang tindakan yang memperburuk keadaan pasien. Prinsip ini dikenal sebagai primum non nocere atau do no harm.2 4. Justice Prinsip justice, yaitu prinsip moral yang mementingkan fairness dan keadilan dalam mendistribusikan sumber daya (distributive justice). 2

Prinsip-prinsip moral Praktek kedokteran juga berpegang kepada prinsip-prinsip moral kedokteran, prinsip-prinsip moral yang dijadikan arahan dalam membuat keputusan dan bertindak, arahan dalam menilai baik-buruknya atau benar-salahnya suatu keputusan atau tindakan medis dilihat dari segi moral. Pengetahuan etika ini dalam perkembangannya kemudian disebut sebagai etika biomedis. Etika biomedis memberi pedoman bagi para tenaga medis dalam membuat keputusan klinis yang etis (clinical ethics) dan pedoman dalam melakukan penelitian di bidang medis.

Dari skenario, sebagai seorang dokter, tersebut harus tetap mengikuti etika kedokteran yang ada, dan juga mengikuti prinsip-prinsip dalam etika kedokteran. Laki-laki tersebut dan Olivia Ekaputri /10-2009-077 / A2 Page 6

juga istrinya itu keduanya adalah pasiennya si dokter tersebut. Dari segi prinsip autonomy, dokter harus memberikan hak kepada pasien laki-laki tersebut dalam menentukan tindakan medis yang akan dipilih dan hak untuk menyimpan rahasia laki-laki tersebut karena itu adalah autonomynya laki-laki tersebut. Jadi dokter tidak berhak memberitahu kepada istri laki-laki tersebut tentang penyakit yang dialami oleh laki-laki tersebut walaupun dokter tahu bahwa penyakit yang diderita laki-laki tersebut yaitu PMS dapat juga sudah tertular kepada istri laki-laki tersebut.

Pengembangan Skenario Dari segi prinsip beneficence, dokter harus mengambil tindakan yang terbaik dalam memberikan penyembuhan kepada pasien laki-laki tersebut dan pada masa yang sama dari prinsip non-maleficence, dokter dilarang mengambil tindakan yang dapat memperburuk keadaan pasien laki-laki tersebut. Disini dokter harus menjelaskan kepada pasien tentang PMS dan menjelaskan bahwa penyakit ini bisa ditularkan lagi kepadanya walaupun ia sudah berobat tapi istrinya tidak diobati. Maka, dokter harus mengambil tindakan yang benar dengan mengobati pasien laki-laki tersebut dan juga sang istrinya.

Dari segi prinsip justice, si istri kepada laki-laki tersebut juga mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan kesembuhan dari dokter tersebut. Jadi dokter harus merawat keduakeduanya tanpa membuka rahasia pasien laki-laki tersebut dengan meminta si suami sendiri bilang ke istrinya.

II. Informed Consent


Informed consent merupakan alat paling penting dalam hubungan dokter-pasien pada masa kini. Informed consent yang benar harus disertai dengan komunikasi baik antara dokter dan pasien. Keterangan yang dapat diberikan kepada pasien sebelum mendapatkan informed consent termasuklah menerangkan diagnosis penyakit, prognosis dan pilihan pengobatan penyakit. Perlu juga kebaikan dan keburukan masing-masing tindakan yang bakal dilakukan. Informed consent harus memuatkan pilihan untuk pasien menerima atau menolak tindakan medic yang bakal dilakukan dokter selain mencantumkan pilihan terapi lain. Pasien yang kompeten boleh memilih untuk menolak tindakan medik walaupun tanpa tindakan ini dapat

Olivia Ekaputri /10-2009-077 / A2

Page 7

mengancam nyawa pasien. Terdapat dua kondisi di mana informed consent dikecualikan yaitu: 1. Pasien menyerahkan sepenuhnya keputusan tindakan medik terhadap dirinya kepada dokter. Apabila pasien menyerahkan semua keputusan kepada dokter yang merawatnya, dokter tetap harus menerangkan secara lengkap tindakan yang bakal dilakukan. 2. Keadaan apabila pemberitahuan tentang kondisi penyakit pasien dapat berdampak besar terhadap pasien secara fisik, psikologis dan emosional. Contohnya adalah apabila pasien cenderung untuk membunuh diri apabila mengetahui tentang penyakitnya. Namun, dokter pada awalnya harus menganggap bahwa semua pasien dapat menerima berita tentang penyakitnya dan memberikan informasi selengkapnya sesuai dengan hak pasien.4 Informed consent atau persetujuan tindakan medik adalah suatu cara bagi pasien untuk menunjukan prefensi dan pilihannya. Informed consent adalah aplikasi praktis dari salah satu kaidah moral dalam praktek kedokteran yaitu, autonomi.

Secara harafiah, informed consent memiliki dua unsur yaitu:


1.

Informed yang dapat diartikan informasi yang telah diberikan dokter. Yang dimaksud dengan informed atau memberi penjelasan di sini adalah semua keadaan yang berhubungan dengan penyakit pasien dan tindakan medic apa yang akan dilakukan dokter serta hal-hal lain yang perlu dijelaskan dokter atas pertanyaan pasien atau keluarga. Dalam Permenkes Nomor 589 tahun 1989 dijelaskan bahwa Persetujuan Tindakan Dokter (Informed Consent) adalah persetujuan yang diberikan pasien atau keluarga atas dasar penjelasan mengenai tindak medic yang akan dilakukan terhadap pasien tersebut.

2.

Consent artinya persetujuan yang diberikan kepada seseorang untuk berbuat sesuatu. Dengan demikian, informed consent adalah persetujuan yang diberikan pasien kepada dokter setelah diberi penjelasan.3 Saat seorang dokter memulai hubungan dokter-pasien, maka tugasnya adalah memeriksa pasien, membuat diagnosa, memberi informasi yang jujur dan tepat sasaran serta mengajurkan pengobatan. Dokter diharapkan untuk dapat menjelaskan tahapan-tahapan dalam

Olivia Ekaputri /10-2009-077 / A2

Page 8

pengobatan, memberikan alasan diberikannya pengobatan yang ia anjurkan, dan menunjukkan alternatif pengobatan dari sisi keuntungan dan kerugiannya. Di lain pihak, pasien diharapkan untuk dapar memahami penjelasan dokter, menilai pilihan pengobatan yang ditawarkan dokter, kemudian memilih pilihan-pilihan pengobatan yang ditawarkan.2,5

Dari pengertian demikian, informed consent bisa dilihat dari dua sudut, yaitu pertama membicarakan informed consent dari pengertian umum dan kedua membicarakan informed consent dari pengertian khusus. Dalam pengertian umum, informed consent adalah persetujuan yang diperoleh dokter sebelum melakukan pemeriksaan, pengobatan, dan tindakan medic apapun yang akan dilakukan.

Persetujuan tindak medik secara praktis dalam praktek kedokteran dapat dibedakan atas 2 bentuk, yaitu: 1. Implied consent atau persetujuan tersirat, yakni pasien tidak menyatakan persetujuan baik secara tertulis maupun lisan, namun dari tingkah lakunya menunjukan persetujuaanya. 2. Expressed consent atau persetujuan yang dinyatakan, yakni persetujuan dinyatakan secara lisan dan tertulis. Bila yang dilakukan lebih dari prosedur pemeriksaan dan tindakan yang biasa.Dalam keadaan demikian, sebaiknya kepada pasien disampaikan dahulu tindakan apa yang akan dilakukan supaya tidak sampai terjadi salah pengertian. Misalnya pemeriksaan dalam rectal atau pemeriksaan vaginal, mencabut kuku dan tindakan lain yang melenihi prosedur pemeriksaan dan tindakan umum. Pada saat ini, belum diperlukan pernyataan tertulis. Persetujuan secara lisan sidah mencukupi.

Namun bila tindakan yang akan dilakukan mengandung risiko seperti tindakan pembedahan atas prosedur pemeriksaan dan pengobatan invasive, sebaiknya didapatkan informed consent tertulis.

Dalam Permenkes Nomor 585 tahun 1989 tentang informed consent, dinyatakan dokter harus menyampaikan atau menjelaskan informasi kepada pasien/keluarga diminta atau tidak diminta. Jadi informasi harus disampaikan. Inti dari persetjuan adalah persetujuan Olivia Ekaputri /10-2009-077 / A2 Page 9

haruslah didapat sesudah pasien mendapat informasi yang adekuat. Hal yang harus diperhatikan adalah bahwa yang berhak memberikan persetujuan adalah pasien yang sudah dewasa (di atas 21 tahun atau sudah menikah) dan dalam keadaan sehat mental.

Selain memberikan informasi yang lengkap kepada pasien, informed consent itu penting juga kepada dokter dalam menjamin dokter tidak akan dihukum jika apa-apa masalah yang timbul seperti yang telah dijelaskan kepada pasien berlaku atas tindakan yang diberi dengan persetujuan pasien.

Sesuai dengan sifat hukum yang memiliki daya paksa, maka tidak dilaksanakan informed consent atau persetujuan tindakan medik dalam praktek kedokteran akan dikenakan sanksi, yakni: Sanksi administratif Terhadap dokter yang melakukan tindakan medik tanpa adanya persetujuan dari pasien atau keluarganya dapat dikenakan sanksi administratif berupa pencabutan surat izin prakteknya (Pasal 13 Permenkes 585 tahun 1989) Sanksi perdata Tindakan medik tanpa persetujuan dari pasien, adalah perbuatan melanggar hukum. Bila perbuatan itu menimbulkan kerugian, maka dokter yang melakukan dan institusi penyelengara pelayanan kedokteran yang bersangkutan dapat dikenakan sanksi perdata dengan acuan pasal 1365 KUHP. Sanksi pidana Kelalaian menjalankan persaetujuan tindakan medik dapat dikenai delik penganiaan dalam KUHP. Kesengajaan penyimpangan dalam praktek kedokteran yang

mengakibatkjan kerugian bagi pasien dengan delik yang sesuai.

III. Rahasia Pasien


Kerahasiaan merupakan pembatasan pengungkapan informasi pribadi tertentu. Dalam hal ini mencakup tanggungjawab untuk menggunakan, mengungkapkan, atau mengeluarkan informasi hanya dengan sepengetahuan dan ijin individu. Informasi yang bersifat rahasia dapat berupa tulisan ataupun verbal.2 Olivia Ekaputri /10-2009-077 / A2 Page 10

Dasar dari kerahasiaan pasien adalah autonomy, rasa hormat dan kepercayaan pasien. Kepercayaan adalah bagian paling penting dalam hubungan dokter-pasien sehingga seorang dokter tidak dibenarkan untuk membuka rahasia pasien tanpa kebenaran dari pasien itu sendiri kecuali diminta oleh hukum. Dokter juga dibenarkan untuk membuka rahasia pasien apabila pasien tidak mampu untuk mengambil keputusan sendiri.

Tugas dokter untuk menjaga kerahasian informasi pasien merupakan dasar pokok dalam etka kedokteran sejak zaman Hippocrates. Sumpah Hippocrates menyebutkan: Apa yang mungkin aku lihat atau dengar dalam perawatan atau bahkan di luar perawatan yang saya lakukan yang berhubungan dengan kehidupan manusia yang tidak disampaikan ke luar, saya akan menyimpannya sebagai sesuatu yang memalukan untuk dibicarakan. Sumpah ini, dan versi yang lebih baru, tidak menempatkan perkecualian dalam tugas menjaga kerahasiaan.

Kode Etik Kedokteran Internasional dari World Medical Association (WMA) menyatakan Seorang dokter harus menjaga kerahasiaan secara absolute mengenai yang dia ketahui tentang pasien-pasien mereka bahkan setelah pasien tersebut mati.3 Menurut sumpah dokter sesuai dengan Deklarasi Jenewa 1948 (Geneva Declaration 1948), Saya akan

merahasiakan segala rahasia yang saya ketahui bahkan sesudah pasien meningg al dunia. Saya tidak akan mengizinkan pertimbangan umur, penyakit dan disabilitas, kepercayaan, asal etnik, gender, kewarganegaraan, affiliasi politik, ras, orientasi seksual.3

Kepercayaan merupakan bagian penting dalam hubungan dokter-pasien. Untuk dapat menerima perawatan medis, pasien harus membuka rahasia pribadi kepada dokter atau orang yang mungkin benar-benar asing bagi mereka mengenai informasi yang mungkin tidak ingin diketahui orang lain. Mereka pasti mempunyai alas an yang kuat untuk mempercayai orang yang memberikan perawatan bahwa mereka tidak akan membocorkan informasi tersebut. Kepercayaan merupakan standar legal dan etis dari kerahasiaan dimana profesi kesehatan harus menjaganya. Tanpa pemahaman bahwa pembeberan tersebut akan selalu dijaga kerahasiaannya, pasien mungkin akan menahan informasi pribadi yang dapat mempersulit dokter dalam usahanya memberikan intervensi efektif atau dalam mencapai tujuan kesehatan public tertentu.6 Olivia Ekaputri /10-2009-077 / A2 Page 11

IV. Aspek Hukum


Kewajiban dokter untuk tetap menjaga rahasia kedokteran merupakan suatu hal yang tercantum di dalam undang-undang maka apabila dokter melakukan suatu kelalaian dalam menyimpan rahasia kedokteran maka akan terkena dampak hukum yang berlaku.7

Pengaturan kewajiban menyimpan rahasia kedokteran Seperti yang telah diketahui, bahwa dalam transaksi terapeutik terdapat hak dan kewajiban kepada masing-masing pihak secara timbal balik. Adapun salah satu kewajiban dokter adalah berkewajiban menyimpan rahasia kedokteran yang dimiliki pasiennya.7 Dibidang etika kedokteran, sepanjang dapat ditelesuri masalah rahasia kedokteran mulai diatur dalam sumpah hippocrates pada abad 469-399 SM yang berbunyi apa yang saya melihat atau mendengar sewaaktu dalam menjalankan praktek atau tidak, tentang kehidupan seseorang yang seharusnya tidak diungkapkan akan saya perlakukan sebagai rahasia. Selain di dalam sumpah hippocrates kewajiban menyimpan rahasia kedokteran juga terdapat pada: a. Declaratioon of Geneva Declaration of Geneva adalah versi sumpah hipocrates yang dimodernisasi yang diintroduksikan oleh world medical association. Khusus yang mengenai rahasia kedokteran berbunyi : I will respect the secrets which are confided in me, even after the patient has died. b. International code of medichal ethics Pada tahun 1968 di sydney diadakan perubahan pada declaration of geneva yang kemudian menjadi pedoman dasar untuk terbitnya International code of medichal ethics ini. khusus yang mengenai rahasia kedokteran berbunyi a doctor shall preserve absolute secrecy on all the knows about his patient because the confidence entrusted in him. c. Peraturan pemerintah nomor 26 tahun 1966 yang memuat lafal sumpah dokter indonesia Dalam sumpah ini khususnya di dalam penjelasan pasal 1 kode etik kedokteran indonesia terdapat uraian yang berkenaan dengan rahasia kedokteran yang

Olivia Ekaputri /10-2009-077 / A2

Page 12

berbunyi saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan saya dan karena kelimuan saya sebagai dokter. d. Kode etik kedokteran indonesia Pasal 13 tercantum kalimat sebagai berikut :setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diktehauinya tentang seorang penderita, bahkan juga setelah penderita itu meninggal dunia.

Sumpah dalam hubungannya dengan rahasia kedokteran ini jika ditinjau secara yuridis tidak mempunyai arti. Sumpah hanyalah merupakan suatu ikrar, suatu pernyataan kehendak secara sepihak yang pelaksanaannya tergantung pada hati nurani si pelaku itu sendiri. Oleh karena itu suatu sumpah tidak dapat dipergunakan sebagai dasar hukum untuk penuntutan. Demikian pula kode etik kedokteran indonesia (KODEKI) yang termasuk bidang etik yang sifatnya self imposed regulations. Suatu kode etik ini bersifat intern dimana sanksi hanya dapat dijatuhkan dalam kaitan organisasi dan oleh organisasi itu sendiri. Suatu KODEKI juga tidak memiliki nilai yuridis, shingga tidak mempunyai akibat hukum. Adapun dasar yuridis untuk menuntut yang menyangkut rahasia kedokteran terdapat pada: a. Hukum perdata 1. Perjanjian terapeutik antara dokter dengan pasien 2. Pasalnya 1909, 3e KUHPerdata segala siapa yang karena kedudu kannya, pekerjaannya, atau jabatannya menurut undang-undang diwajibkan merahasiakan sesuatu, namun hanyalah semata-mata mengenai hal-hal yang pengetahuannya dipercayakan kepadanya sebagai demikian. 3. Pasal 1365 KUHPerdata Tiap-tiap perbuatan melanaggar hukum yang membawa kerugian terhadap orang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya, menerbitkan kerugian itu, menggantikan kerugian tersebut b. Hukum pidana 1. Pasal 322 KUHP 1) Barangsiapa dengan sengaja membuka rahasia yang wajib disimpannya karena jabatan atau pencariannya baik yang sekarang maupun yang dahulu, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak sembilanribu rupiah.

Olivia Ekaputri /10-2009-077 / A2

Page 13

2) Jika kejahatan dilakukan terhadap seorang tertentu, maka perbuatan itu hanya dapatdituntut atas pengaduan orang itu 2. Pasal 224 KUHP Barangsiapa yang dipanggil menurut undang-undang untuk menjadi saksi, ahli atau jurubahasa, dengan sengaja tidak melakukan suatu kewajiban yang menurut undang-undang harus melakukannnya: 1. Dalam perkara pidana dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 9 bulan. 2. Dalam perkara lain, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 6 bulan. c. Hukum acara pidana 1. Pasal 170 KUHAP 1) Mereka yang karena pekerjaan, harkat martabat atau jabatannya diwajibkan menyimpan rahasia, dapat minta dibebaskan dari kewajiban untuk memberi keterangan sebagai saksi, yaitu tentang hal yang dipercayakan kepada mereka. 2) Hakim menentukan sah atau tidaknya segala alasan untuk permintaan tersebut. 2. Pasal 179 KUHAP 1) Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan. 2) Semua ketentuan tersebut di atas untuk saksi berlaku juga bagi mereka yang memberikan keterangan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan sumpah atau janji akan memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya menurut pengetahuan dalam bidang keahliannya. d. Hukum acara perdata 1. Pasal 146 ayat 3 HIR Sekalian orang yang karena kedudukan, pekerjaan atau jabatannya yang sah, diwajibkan menyimpan rahasia, tetapi semata-mata hanya tentang hal yang diberitahukan kepadanya karena kedudukan, pekerjaan atau jabatannya itu. 2. Pasal 174 RBg (1) Mereka yang dapat membebaskan diri dari pemberian kesaksian adalah : (KUHperd. 1909.) 1) saudara-saudara laki-laki atau perempuan dan ipar-ipar laki-laki atau perempuan dari salah satu pihak; Olivia Ekaputri /10-2009-077 / A2 Page 14

2) saudara-saudara sedarah dalam garis lurus dan saudara-saudara laki-laki atau perempuan dari suami atau istri salah satu pihak; 3) mereka yang karena kedudukan, pekerjaan atau jabatan resmi, diharuskan menyimpan rahasia tetapi hanya dan semata-mata mengenai hal-hal yang pengetahuannya dipercayakan kepadanya dalam kedudukannya tersebut. (2) Ada tidaknya kewajiban menyimpan rahasia yang dikemukakan oleh yang bersangkutan dapat dinilai oleh pengadilan negeri. e. Hukum administrasi Peraturan pemerintah nomor 10 tahun 1996 tentang Wajib Simpan Rahasia Kedokteran. Pada peraturan tersebut diperluas berlakunya wajib simpan rahasia kedokteran, juga bagi tenaga kesehatan lainnya, seperti perawat, bidan, mahawsiswa kedokteran, ahli farmasi, analis laboratorium, radiologi dan lain-lainnya.

Gugurnya kewajiban dokter untuk menyimpan rahasia kedokteran Kewajiban menyimpan rahasia kedokteran ini tidak mutlak sifatnya. Artinya dalam situasisituasi tertentu hal tersebut dapat diterobos. Dengan kata lain, kewajiban dokter untuk menyimpan rahasia kedokteran tersebut dapat gugur sehingga dokter tidak dikenai sanksi hukum. Seorang dokter dapat dibebaskan dari sanksi hukum dalam hal ia mengungkapkan rahasia kedokteran jika terdapat faktor-faktor atau hal-hal sebagai berikut:7 a. Adanya ijin dari pasien Pasien adalah satu-satunya orang yang berhak memutuskan boleh tidaknya konfidensialitas tentang dirinya diungkapkan. Namun apabila pasien telah memberikan ijin untuk mengungkapkan rahasia atas dirinya, maka dokter terbebas dari kewajiban menyimpan rahasia tersebut dan tidak dapat dikenai sanksi. Ijin dari pasien ini dapat diberikan secara lisan ataupun tertulis ataupun secara diam-diam/anggapan. Pemberian ijin itu bisa secara terbatas, yaitu dalam arti terbatas pada orang-orang tertentu saja. Dapat juga dibatasi oleh ruang lingkup rahasia itu sendiri, misalnya terbatas hanya kepada apa yang diperlukan saja. Pemeberian ijin secara diam-diam/anggapan, misalnya pasien yang dirawat inap dirumah sakit dapat dianggap telah memberikan ijin kepada dokter yang merawatnya untuk mengadakan konsultasi kepada dokter ahli tentang penyakitnya.

Olivia Ekaputri /10-2009-077 / A2

Page 15

b. Adanya keadaan mendesak atau memaksa Di dalam keadaan terpaksa, juga tanpa ijin pasien, dokter dapat mengungkapkan rahasia kedokteran. Keadaan terpaksa yang dimaksud adalah suatu situasi di mana suatu norma dapat dilanggar demi suatu kepentingan yang lebih besar. Seperti pada pasal 48 KUHP siapapun tak terpidana jika melakukan perbuatan karena terdorong oleh keadaan terpaksa. c. Adanya peraturan perundang-undangan Seorang dokter yang membuka rahasia kedokteran tidak dapat dipidana karena melaksanakan ketentuan undang-undang. Hal tersebut tersimpul dalam ketentuan pasal 50 KUHP yang berbunyi : barangsiapa melakukan perbuatan untuk melaksanakan ketentuan undang-undang tidak dipidana. Dalam hal ini dapat dianggap bahwa secara materiil oleh undang-undang telah dipertimbangkan, bahwa terdapat kepentingan yang lebih besar. d. Adanya perintah jabatan Sebagai dasar pembenar lain untuk melanggar kewajiban dokter untuk menyimpan rahasia kedokteran adalah adanya perintah jabatan yang diatur dalam ketentuan pasal 51 KUHP. Pasal ini mengatur tentang seorang dokter yang mempunyai jabatan rankap seperti militer atau dokter tentang penguji kesehatan. e. Demi kepentingan umum atau kepentingan yang lebih tinggi Alasan ini timbul berdasaarkan kebiasaan praktek, karena pasien tersebut merupakan public figure, seorang tokoh atau pemimpin yang dianggap penting oleh masyarakat. f. Adanya Presumed Consent dari pasien Adanya Presumed Consent yaitu pasien telah mengetahui atau seharusnya mengetahui bahwa data tentang dirinya akan diketahui oleh orang atau instansi selain dokter.

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia (UU RI) Nomor 29 Tahun 2004 tentang praktik kedokteran, terdapat pasal-pasal berkaitan dengan pelaksanaan praktik seorang dokter yaitu dengan pasiennya (Pasal 39); persetujuan kedokterani dalam menjalankan prakteknya (Pasal 45); rahasia kedokteran (Pasal 48) dan kewajiban dokter merahasiakan hal pasien (Pasal 51); dan hak pasien dalam menerima pelayanan pada praktik kedokteran (Pasal 52) seperti berikut:

Olivia Ekaputri /10-2009-077 / A2

Page 16

Pasal 39 Praktik kedokteran diselenggarakan berdasarkan pada kesepakatan antara dokter atau dokter gigi dengan pasien dalam upaya untuk pemeliharaan kesehatan, pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan, pengobatan peyakit dan pemulihan.

Pasal 45 1) Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan oleh dokter atau dokter gigi terhadap pasien harus mendapat persetujuan. 2) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah pasien mendapat penjelasan secara lengkap. 3) Penjelasan sebagaimana dimaksud ayat (2) sekurang-kurangnya mencakup: 4) Diagnosis dan tata cara tindakan medis; tujuan tindakan medis yang dilakukan; alternatif tindakan lain dan risikonya; risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi; dan prognosis terhadap tindakan yang dilakukan. 5) Persetujuan sebagaimana yang dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan baik secara bertulis maupun lisan. 6) Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang mengandung risiko tinggi harus diberikan dengan persetujuan tertulis yang ditandatangani oleh yang berhak memberikan persetujuan.

Pasal 48 (1) Setiap dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan prakrik kedokteran wajib menyimpan rahasia kedokteran. (2) Rahasia kedokteran dapat dibuka hanya untuk kepentingan kesehatan pasien.

Pasal 51 Dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran mempunyai kewajiban merahasiakan segala sesuatu yang diketahui tentang pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia.

Pasal 52 Pasien dalam, menerima pelayanan pada praktik kedokteran, mempunyai hak: Olivia Ekaputri /10-2009-077 / A2 Page 17

(1) Mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis sebagaimana dimaksud dalam pasal 45 ayat (3), (2) Meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain; (3) Mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis; (4) Menolak tindakan medis; dan mendapatkan isi rekam medis.

Dalam Peraturan Pemerintah (PP) nomor 10 tahun 1966 dijelaskan tentang kewajiban simpan rahasia Kedokteran seperti berikut: Pasal 1: Yang dimaksud dengan rahasia kedokteran ialah segala sesuatu yang diketahui oleh orangorang tersebut dalam pasal 3 pada waktu tertentu atau selama melakukan pekerjaannya dalam lapangan kedokteran.

Pasal 2: Pengetahuan tersebu pasal 1 harus dirahasiakan oleh orang-orang yang tersebut dalam pasal 3, kecuali apabila suatu peraturan lain yang sederajat atau lebih tinggi daripada PP ini menentukan yang lain.

Pasal 3: Yang diwajibkan menyimpan rahasia yang dimaksud dalam pasal 1 ialah: a. Tenaga kesehatan menurut pasal 2 UU tentang kesehatan b. Mahasiswa kedokteran, murid yang bertugas dalam lapangan pemeriksaan, pengobatan, dan atau perawatan, dan orang lain yang ditetapkan oleh menteri kesehatan. Pasal 4: Terhadap pelanggaran ketentuan mengenai wajib simpan rahasia kedokteran, yang tidak atau tidak dapat dipidana menurut pasal 322 atau pasal 112 KUHP, menteri kesehatan dapat melakukan tindakan administrative berdasarkan pasal UU tentang tenaga kesehatan.

Olivia Ekaputri /10-2009-077 / A2

Page 18

Pasal 5: Apabila pelanggaran yang dimaksud dalam pasal 4 dilakukan oleh mereka disebut dalam pasal 3 huruf b, maka menteri kesehatan dapat mengambil tindakan-tindakan berdasarkan wewenag dan kebijaksanaannya.

Pasal 6: Dalam pelaksanaan peraturan ini, menteri kesehatan dapat mendengar Dewan Pelinding Susila Kedokteran dan atau badan-badan lain bilamana perlu.

Seperti dalam pasal 4 PP no 10/1966, tindak pidana yang dikenakan adalah berdasarkan pasal 322 yang seperti berikut:

Pasal 322 KUHP: (1) Barang siapa dengan sengaja membuka rahasia yang wajib disimpannya karena jabatan atau pencariannya baik yang sekarang maupun yang dahulu, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak sembilan ribu rupiah. (2) Jika kejahatan dilakukan terhadap seseorang tertentu, maka perbuatan itu hanya dapat dituntut atas pengaduan orang itu. Tapi menurut Pasal 48 KUHP: Barang siapa melakukan perbuatan karena pengaruh daya paksa tidak dipidana. Yaitu sini, apabila seorang dokter itu terpaksa membuka rahsua dokter karena dipaksa dengan ugutan dan atau diancam nyawa, dokter itu tidak akan dipidana.

MA 117/K/Kr/1968 2 Juli 1969 Dalam noodtoestand harus dilihat adanya: 1. Pertentangan antara dua kepentingan hukum 2. Pertentangan antara kepentingan hukum dan kewajiban hukum 3. Pertentangan antara dua kewajiban hukum

Olivia Ekaputri /10-2009-077 / A2

Page 19

Pasal 49 KUHP: (1) Tidak dipidana, barang siapa melakukan perbuatan pembelaan terpaksa untuk diri sendiri maupun untuk orang lain, kehormatan kesusilaan atau harta bnda sendiri maupun orang lain, karena ada serangan atau ancaman serangan yang sangat dekat pada saat itu yang melawan hukum. (2) Pembelaan terpaksa yang melampaui batas, yang langsung disebabkan keguncangan jiwa yang hebat karena serangan atau ancaman serangan itu, tidak dipidana. Pasal 50 KUHP Barang siapa melakukan perbuatan untuk melaksanakan ketentuan undang-undang tidak dipidana.

V. Solusi
Dalam bahasan kasus kali ini, pasien dokter tersebut menderita penyakit hubungan seksual yaitu GO. Namun, pasien tersebut tidak ingin istrinya tahu tentang penyakitnya karena takut akan menimbulkan pertengkaran. Dokter tahu bahwa penyakit tersebut dapat menularkan istrinya melalui hubungan seksual. Maka dokter memberikan penjelasan kepada pasien lakilaki tersebut tentang cara penularannya. Dokter tersebut menyarankan agar istrinya tahu karena apabila tidak segera berobat penyakitnya akan terus timbul meskipun pengobatannya mudah. Maka pasien laki-laki tersebut menyetujui agar istrinya diberi tahu.

Apabila dokter berbicara terbuka di hadapan kedua pasutri tanpa pengetahuan terlebih dahulu apakah pasien setuju kalau penyakitnya boleh diketahui oleh pasangannya, bisa membawa persoalan tentang wajib simpan rahasia kedokteran, rahasia jabatan dan pekerjaan yang menjurus pada perkara medik. Bila dokter menduga pasangannya telah tertular tanpa disadari, sebaiknya dokter mengobati pasien tanpa harus menyatakan ia telah tertular, kecuali terpaksa bila pasien mau tahu tentang penyakitnya. Membuka rahasia pasien kepada orang lain, biarpun dalam ikatan suami istri harus dihindari dokter. 6

Olivia Ekaputri /10-2009-077 / A2

Page 20

VI. Pengembangan Kasus (Pasien Menderita AIDS)


Declaration on the Rights of the Patients yang dikeluarkan oleh WMA memuat hak pasien terhadap kerahasian. Deklarasi ini juga menyatakan adanya perkecualian terhadap kewajiban menjaga kerahasian, beberapa hal relatif tidak masalah, tetapi yang lain dapat memunculkan masalah etik yang sulit bagi dokter.Terhadap kerahasian yang diminta oleh hukum dokter mempunyai tugas etik untuk membagi informasi dengan orang yang mungkin berada dalam bahaya karena pasien tersebut. Dua keadaan dimana hal ini dapat terjadi adalah saat pasien mengatakan kepada psikiater bahwa dia berniat menyakiti orang lain dan saat dokter yakin bahwa pasien yang dihadapinya HIV Positif namun tetap meneruskan hubungan seks yang tidak aman dengan pasangannya atau dengan orang lain.

Dalam kasus pasien HIV positif pembeberan informasi kepada pasangan atau partner seksnya saat itu bukanlah suatu yang tidak etis dan bahkan dibenarkan jika pasien tidak bersedia menginformasikannya kepada orang (orang-orang) tersebut bahwa dia (mereka) dalam resiko. Pembenaran dari pembeberan informasi haruslah berdasar: partner beresiko terinfeksi HIV namun tidak mengetahui kemungkinan terinfeksi; pasien menolak memberi tahu pasangan seksnya; pasien menolak bantuan dokter untuk melakukannya; dan dokter telah mengatakan kepada pasien untuk memberitahu pasangannya.

Penyakit HIV AIDS merupakan isu etik manajemen informasi kesehatan yang sensitif. Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan kemudian dapat menimbulkan AIDS. Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah suatu kondisi medis berupa kumpulan tanda dan gejala yang diakibatkan oleh menurunnya atau hilangnya kekebalan tubuh karena terinfeksi HIV, sering berwujud infeksi yang bersifat ikutan (oportunistik) dan belum ditemukan vaksin serta obat penyembuhannnya. Kewajiban etik yang utama dari professional MIK maupun tenaga kesehatan adalah melindungi privasi dan kerahasiaan pasien dan melindungi hak-hak pasien dengan menjaga kerahasiaan rekam medis pasien HIV AIDS. Kaidah turunan moral bagi tenaga kesehatan adalah privacy, confidentiality, fidelity dan veracity. Privacy berarti menghormati hak privacy pasien,confidentialty berarti kewajiban menyimpan informasi

Olivia Ekaputri /10-2009-077 / A2

Page 21

kesehatan sebagai rahasia, fidelity berarti kesetiaan, dan veracity berarti menjunjung tinggi kebenaran dan kejujuran.8

Pengelolaan informasi pasien HIV AIDS di tempat kerja diatur Menurut Kepmenaker No. KEP. 68/MEN/IV/2004 tentang pencegahan dan penanggulangan HIV AIDS : Pasal 6 Informasi yang diperoleh dari kegiatan konseling, tes HIV, pengobatan, perawatan dan kegiatan lainnya harus dijaga kerahasiaannya seperti yang berlaku bagi data rekam medis. Dalam kaitannya aspek hukum kerahasiaan pasien HIV AIDS , kode etik administrator perekam medis dan informasi kesehtan (PORMIKI, 2006) adalah:8 1. Selalu menyimpan dan menjaga data rekam medis serta informasi yang terkandung di dalamnya sesuai dengan ketentuan prosedur manajemen, ketetapan pimpinan institusi dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 2. Selalu menjunjung tinggi doktrin kerahasiaan dan hak atas informasi pasien yang terkait dengan identittas individu atau social. 3. Administrator informasi kesehtan wajib mencegah terjadinya tindakan yang menyimpang dari kode etik profesi.

Perbuatan / tindakan yang bertentangan dengan kode etik adalah menyebarluaskan informasi yang terkandung dalam laporan rekam medis HIV AIDS yang dapat merusak citra profesi rekam administrator informasi kesehatan.

Tujuan dari rahasia kedokteran dalam kasus HIV AIDS, selain untuk kepentingan jabatan adalah untuk menghindarkan pasien dari hal-hal yang merugikan karena terbongkarnya status kesehatan.

Dalam kasus pasien HIV positif pembeberan informasi kepada pasangan atau partner seksnya saat itu bukanlah sesuatu yang tidak etis, dan bahkan dibenarkan jika pasien tidak bersedia menginformasikannya kepada orang (orang-orang) tersebut bahwa dia (mereka) dalam resiko. Pembenaran dari pembeberan informasi haruslah berdasar: partner beresiko terinfeksi HIV namun tidak mengetahui kemungkinan terinfeksi; pasien menolak memberi tahu pasangan seksnya; pasien menolak bantuan dokter untuk melakukannya; dan dokter Olivia Ekaputri /10-2009-077 / A2 Page 22

telah mengatakan kepada pasien untuk memberitahu pasangannya. Dokter harus mengungkapkan status penderita HIV pada anak, orangtua, pengasuh atau pasien itu sendiri. Perlu dilakukan konseling untuk mengatasi efek psikologis dan efek medis dari penyakit, termasuk didalamnya diskusi antara pasien dan konselor.Pasien harus melaporkan dan mengungkapkan mengenai penyakitnya baik kepada keluarga, teman, dan lainnya.8

Dalam kaitannya dengan pengungkapan informasi HIV AIDS terdapat 3 masalah etik, yaitu ; 1. Pelanggaran prinsip kebutuhan untuk mengetahui ( need-to-know principle). 2. Penyalahgunaan surat persetujuan atau otorisasi yang tidak tertentu ( blanket authorization). 3. Pelanggaran privasi yang terjadi sebagai akibat dari prosedur pengungkapan sekunder ( secondary release).

Rekam medis bersifat rahasia. Pelepasan informasi pasien menular maupun HIV AIDS dapat diberikan dengan tetap memperhatikan tujuan maupun kegunaan dari pelepasan informasi tersebut. Hal ini sesuai dengan UU Praktik Kedokteran No. 29 Tahun 2004 memberikan peluang pengungkapan informasi kesehatan secara terbatas, yaitu dalam pasal 48 ayat (2): 6 1. untuk kepentingan kesehatan pasien 2. untuk memenuhi permintaan aparatur penegak hukum dalam rangka penegakan hukum 3. permintaan pasien sendiri 4. berdasarkan ketentuan undang-undang

Olivia Ekaputri /10-2009-077 / A2

Page 23

Kesimpulan
Dalam menjalankan tugas profesi kedokteran, seorang dokter itu harus mengamalkan etika kedokteran dan prinsip-prinsip etika kedokteran tersebut. Menjaga rahasia pasien itu sangatlah penting dalam profesi kedokteran karena melibatkan kepercayaan yang diberi kepada dokter oleh pasien karena tanpa kepercayaan tersebut, pasien tidak akan memberikan informasi-informasi yang penting kepada dokter yang mungkin penting dalam dokter gunakan untuk mengobati pasien tersebut. Sebelum melakukan tindakan ke atas pasien, dokter harus memberikan informed consent kepada pasien, sama ada secara expressed atau implied consent, lisan atau tertulis supaya pasien dapat mendapatkan penjelasan-penjelasan tentang tindakan-tindakan yang akan dilakukan ke atasnya dan juga demi kebaikan dokter supaya dokter tidak dituntut dengan syarat dokter melakukan tugasnya dengan benar. Terdapat hokum-hukum seperti Undang Republik Indonesia (UU RI) Nomor 29 Tahun 2004 tentang praktik kedokteran, dan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 10 tahun 1966 dijelaskan tentang kewajiban simpan rahasia Kedokteran yang harus dipatuhi oleh seorang dokter.

Daftar Pustaka
1. Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Edisi 6. Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Univesitas Indonesia: Jakarta; 2010. 2. Sampurna B, Syamsu Z, Siswaja TD. Bioetik dan hukum kedokteran. Bagian Kedokteran Forensik FKUI: Jakarta; 2005. 3. Hanafiah MJ, Amir A. Etika kedokteran & hukum kesehatan, Edisi 4. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta; 2007. 4. Budi Sampurna, Zulhasmar Syamsu, Tjetjep Dwijdja Siswaja, Bioetik dan Hukum Kedokteran, Pengantar bagi Mahasiswa Kedokteran dan Hukum, Penerbit Pustaka Dwipar, Oktober 2005. 5. Williams J. World medical association. Medical Ethics Manual 2nd Edition; 2009. 6. Sagiran. Panduan Etika Medis. Pusat Studi Kedokteran Islam FK Universitas Muhammadiyah: Yogyakarta; 2006. 7. Lestari AY. Aspek hukum kewajiban menyimpan rahasia kedokteran. Diunduh dari http://isjd.pdii.lipi.go.id, 16 Januari 2013. 8. Jusuf HM. Etika kedokteran & hukum kesehatan. Dalam aspek etik dan hukum penyakit menular seksual. Ed. 4. Jakarta: EGC, 2008. h. 144-5.

Olivia Ekaputri /10-2009-077 / A2

Page 24