Anda di halaman 1dari 28

HASIL DAN PEMBAHASAN Profil Usaha Perikanan Usaha budidaya ikan gurami di kelompok tani Mina Sejahtera berdiri

sekitar tahun 2002 yang mempunyai 10 anggota dan terdiri dari ketua, sekertaris, bendahara dan 7 orang anggota biasa. Kelompok tani maju Kena Mundur Kena lebih mendominasi pada usaha budidaya ikan gurami dan ikan jenis lain hanya sebagai pendamping. Usaha budidaya ikan nila yang ada di kelompok tani Maju Kena Mundur Kena, sebenarnya merupakan usaha perseorangan yaitu milik Dea Indrawan ST.Mpd. Namun untuk lebih mudah mendapatkan bantuan dana dari pemerintah, mempermudah penyampaian informasi dan atas saran dari pemerintah juga, maka dibentuklah kelompok tani Maju Kena Mundur Kena yang di ketuai oleh Bapak Dea Indrawan ST.Mpd.pada tahun 2000-an dan sekarang ini mempunyai anggota 80 orang. Analisis Kelayakan Investasi Bisnis Analisa kelayakan investasi bisnis atau yang sering dikenal dengan evaluasi proyek usaha selalu dibutuhkan untuk menentukan dan me-ngambil keputusan apakah usaha yang akan dijalankan tersebut menguntungkan atau tidak. Aspek aspek yang perlu diketahui kelayakannya meliputi aspek teknis, aspek pasar, aspek finan-sial, aspek hukum, aspek kelembagaan, aspek sosial ekonomi dan aspek lingkungan. Aspek Pasar Aspek pasar dan pemasaran merupakan salah satu aspek yang sangat penting. Hal ini dikarenakan aspek pasar dan pemasaran sangat menentukan hidup matinya perusahaan atau setiap kegiatan usaha (Kasmir dan Jakfar, 2003) Pada tahun 2004 permintaan ikan nasional sebanyak 9.615.446,40 ton, sedangkan produksi ikan di Kabupaten Buleleng 2.609,022 ton, ini berarti bahwa Kabupaten Nganjuk hanya mampu memenuhi permintaan ikan sebesar 2.609,022 ton, sedangkan produksi udang dan ikan gurami masing hanya 129 ton dan 283,095 ton. Jadi peran Kabupaten buleleng masih cukup kecil dalam membantu realisasi dari produksi ikan nasional yaitu sebesar 6.231.000 ton. 1. Permintaan ikan

Untuk menghitung estimasi permin-taan ikan, peneliti menggunakan data permintaan ikan nasional lima tahun terakhir yaitu tahun 2002 hingga 2013 Data tersebut di estimasi, sehingga nilai hasil estimasi per-mintaan ikan nasional tahun 2005 2014 berturut turut adalah 10.874.734,35 ton ; 12.066.773,38 ton; 13.300.230,39 ton ; 14.575.105,38 ton ; 15.891.398,34 ton; 17.249.109,28 ton; 18.648.238,2 ton ; 20.088.785,09 ton; 21.570.749,95 ton dan 23.094.132,8 ton. Jadi ratarata setiap tahun terjadi kenaikan se-kitar 7,22%. Ini berarti peluang pasar untuk ikan gurami dan ikan nila masih cukup besar.

2. Penawaran ikan Setelah dilakukan perhitungan, diper-oleh nilai estimasi penawaran ikan nasional secara berturut turut tahun 2005-2014 adalah 6.717.800 ton ; 7.219.000 ton ; 7.766.200 ton ; 8.389.400 ton ; 9.058.600 ton; 9.783.800 ton; 10.565.000 ton ; 11.402.200 ton ; 12.295.400 ton dan 13.244.600 ton. Dari nilai tersebut, diketahui bahwa ratarata tiap tahun jumlah produksi/penawaran naik sekitar 6,54 %. Untuk nilai estimasi penawaran ikan gurami Kabupaten Nganjuk tahun 20052014 berturut turut adalah 131,172 ton ; 143,640 ton ; 159,817 ton ; 179,702 ton; 203,295 ton ; 230,598 ton ; 261,609 ton ; 296,328 ton ; 334,756 ton dan 376,893 ton. Dari nilai-nilai tersebut diketahui bahwa ter-jadi kenaikan penawaran ikan gurami di Ka-bupaten Nganjuk sekitar 14,9 % per tahun. Sedangkan untuk penawaran ikan nila di Kabupaten Nganjuk diperoleh nilai esti-masi penawaran tahun 2005-2014 secara berturutturut adalah 387,048 ton ; 499,893 ton ; 628,917 ton ; 774,121 ton ; 935,504 ton; 1113,066 ton ; 1306,807 ton ; 1516,728 ton ; 1742,828 ton dan 1985,107 ton, dan kenaikannya sekitar 14,89% per tahun atau jumlah produksi ikan nila Kabupaten Nganjuk hanya dapat memenuhi permintaan ikan nila nasional sekitar 1089 ton/tahun. Dari hasil estimasi permintaan dan penawaran ikan nasional diketahui nilai estimasi permintaan ikan lebih besar dari nilai estimasi penawaran ikan nasional dari tahun 2005 sampai tahun 2014. Hal ini menunjukkan bahwa potensi pasar komoditi perikanan hingga akhir tahun 2014 masih sangat besar yaitu sebesar 23.094.132,8 ton.

Untuk menghitung peluang pasar ikan gurami dan ikan nila harus diketahui terlebih dahulu berapa besar kontribusinya terhadap komoditi perikanan secara umum. Kontri-busi rata rata ikan gurami sekitar 0,00234 % dan ikan nila sekitar 0,00107 %. Berdasarkan hasil perhitungan estimasi kontribusi ikan gurami dan ikan nila di Kabupaten Nganjuk terhadap permintaan yang belum terpenuhi, masih terdapat peluang pasar tahun 2014 untuk ikan gurami sekitar 280,71 ton dan ikan nila sekitar 1477,43 ton. Nilai tersebut belum mutlak karena permintaan pasar sangat dipengaruhi oleh perubahan selera konsumen dan juga pertimbangan potensi lestari komoditi ikan tersebut. Jadi hipotesa bahwa ada peluang pasar yang luas untuk usaha budidaya ikan gurami dan ikan nila dalam masa yang akan datang diterima. Aspek Teknis Halhal yang perlu diperhatikan dalam aspek teknis adalah penentuan lokasi, kapasitas produksi, tata letak, dan proses produksi ter-masuk pemilihan teknologi, kelengkapan kajian teknis (Kasmir dan Jakfar, 2003). Lokasi usaha budidaya ikan gurami ikan nila dari penyediaan sarana produksi cukup dekat. Sedangkan tenaga kerja diambil dari anggota keluarga, namun untuk tenaga kerja tidak tetap di ambil dari masyarakat sekitar. Lokasi usaha juga dekat dengan sumber air baik sungai maupun sumur bor. Kapasitas produksi secara ekonomi usaha budidaya ikan gurami dengan luas lahan 1.825 m2, ratarata tiap anggota kelompok tani mempunyai luas lahan 912,5 m2, dan jumlah produksi ratarata 7.255 ekor atau 4.353 kg/ siklus dengan waktu pemeliharaan 6 bulan, sehingga kapasitas produksinya adalah 14.510 ekor/tahun atau 8.706 kg dan biaya produksi Rp.75.413.075/tahun. Sedangkan luas lahan untuk budidaya ikan nila adalah 790 m2 yang terdiri dari 5 unit kolam, dengan luas rata rata per kolam 158 m2 dan jumlah produksi rata rata per siklus produksi/kolam sekitar 7.364 ekor atau 2.209 kg dan waktu pemeliharaan 4 bulan/siklus. Jadi usaha budidaya ikan tersebut dapat meningkatkan produksi sesuai kebutuhan perkapita bahkan melebihi dari target Nasional.

Kajian teknis usaha budidaya ikan gurami dan ikan nila meliputi sarana, persiapan kolam, pembesaran dan pemeliharaan, pemanenan, pengangkutan dan pemasaran. Sarana dan Prasarana Sarana produksi pembesaran ikan gurami dan ikan nila terdiri dari lahan, konstruksi kolam, peralatan, pakan, dan obatobatan. Prasarana yang digunakan dalam budidaya ikan gurami dan ikan nila, yaitu jalan, transportasi, pengairan dan penerangan. Persiapan kolam Sebelum melakukan kegiatan budi-daya ikan, langkah pertama yang harus diperhatikan dalam persiapan budidaya yaitu pengelolaan tanah dan pengelolaan air. Pengelolaan tanah bertujuan untuk men-ciptakan kondisi optimum tanah agar dapat menyediakan lingkungan yang layak sebagai tempat hidup ikan. Pengelolaan tanah meliputi pengolahan tanah, pengapuran dan pemupu-kan. Setelah dilakukan pengolahan tanah, lang-kah selanjutnya adalah pengelolaan air. Pengi-sian air ke dalam kolam dilakukan untuk mem-percepat proses penguraian (dekomposisi) unsur unsur organik dari pupuk menjadi unsur anorganik yang dapat menyuburkan kolam, setelah kapur dan pupuk ditebar, kolam diairi sedikit dan dibiarkan selama 4 hari. Kemudian air ditambah lagi setinggi 10 cm dan dibiarkan selama 3 hari sampai air berwarna coklat kehijau hijauan. Sehari sebelum benih gurami maupun ikan nila ditebar, kolam mulai diisi air sedalam 70 cm. 1. Seleksi dan Penebaran Benih Benih ikan yang telah dideder dan dipe-lihara dengan baik selama masa tertentu (1-4 bulan) tidak semuanya memiliki ukuran yang sama, demikian juga benih ikan tidak semuanya sehat. Oleh karena itu, benih ikan yang akan dibe-sarkan harus diseleksi terlebih dahulu un-tuk mendapatkan benih ikan yang berukur-an sama, sehat dan pertumbuhannya baik.Benihbenih ikan yang telah diseleksi dapat segera disebarkan ke kolam pembesaran. Untuk men-cegah kematian benih ikan akibat stress, peru-bahan suhu yang mendadak dari wadah ke kolam pembesaran, pelukaan dan serangan penyakit, maka dalam menebarkan ikan ke kolam pembesaran

hendaknya dilakukan pada pagi hari atau sore hari dan padat pene-barannya perlu diperhatikan. Padat pene-baran ikan gurami dengan ukuran benih 150 gr sekitar 10 ekor/m2. Sedangkan ikan nila ber-ukuran 20 gr padat penebarannya rata rata 52 ekor/m2. 2. Pembesaran dan Pemeliharaan Pembesaran ikan gurami dan ikan nila dilakukan secara monokultur, sehingga benih ikan harus dipilih yang seragam. Kolam ikan gurami ratarata seluas 912,5 m2 dan padat penebarannya sekitar 9-10 ekor/m2 dengan ukuran ikan 150 gr, jumlah total ikan sekitar 8.900 ekor. Sedangkan pada budidaya ikan nila luas lahan 790 m 2 yang terdiri dari 5 unit kolam, ratarata seluas 158 m2/kolam, mempunyai padat penebaran sekitar 50-52 ekor/m2 dengan berat ikan 20gr, dan per kolam terdapat 8.182 ekor ikan nila dengan mortalitas sebesar 10 %. 3. Pemberian Pakan Pakan sangat berpengaruh terhadap perkembangan dan pertumbuhan ikan. Pemberian pakan pada budidaya ikan gurami dilakukan 3 kali sehari. Per hari membutuhkan pakan ikan sekitar 17,19 kg untuk 8.182 ekor ikan gurami. Selain pakan buatan ikan gurami juga memakan tum-buhan/daun daunan rata rata 242,75 karung/siklus atau Rp.813.212,5. Jumlah pakan yang diberikan harus sesuai dengan ukuran besar ikan agar pakan yang diberikan tersebut dapat dikon-sumsi oleh ikan secara utuh. Untuk ikan gurami, jumlah makanan yang diberikan per hari adalah 11,5 % dari berat ikan seluruhnya dengan rincian 1,5 % berupa pellet dan 10 % berupa daun daunan. Frekuensi pemberian pakan ikan adalah 3 kali per hari, yakni pagi, siang dan sore. Ber-dasarkan standard tersebut, maka kebutuhan pakan berupa pellet dan daun daunan untuk 500 ekor gurami. Menurut Suyanto S.R. (2004), banyaknya makanan yang diberikan harus diperhitungkan dengan harga pakan dan nilai produksi ikan yang akan diperoleh. Perhitungan ini penting untuk menghindari kerugian. Beratnya ransum per hari harus diperhitungkan secara cermat. Setiap kolam harus dibuatkan tabel pakan sendiri sesuai dengan kepadatan ikan yang dipelihara dan target produksi. Pakan yang diberikan sebaiknya habis dalam 5 menit. Jika pakan tidak habis dalam 5 menit berarti ikan ada

gangguan. Gangguan dapat berupa sera-ngan penyakit, perubahan kualitas air, udara panas, atau telalu sering diberi pakan.

4. Pengontrolan Air Pergantian air dapat dilakukan sesering mungkin sesuai dengan tingkat kepadatan ikan. Volume air kolam yang diganti setiap hari sebanyak 20 % atau lebih. Pada budidaya ikan gurami ini penggantian air dilakukan satu bulan sekali sebanyak 50 %. 5. Hama dan Penyakit Budidaya ikan tidak lepas dari gangguan hama dan penyakit. Datangnya penyakit dise-babkan oleh beberapa hal seperti lingkungan budidaya, teknik budidaya, penanganan panen dan pasca panen yang kurang baik serta tidak sesuainya ukuran dan jenis bahan ynag digu-nakan pada wadah penampungan sehingga ikan luka. Datangnya penyakit tidak hanya merugi-kan dari sisi produktifitas, tetapi juga pada kematian gurami yang dibudi-dayakan. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya pencegahan datangnya penyakit dan pengendalian penyakit yang menyerang. Beberapa penyakit yang biasa menyerang ikan, baik dalam kolam maupun wadah lain adalah kutu ikan, penyakit cacing ikan, white spot. Pengobatannya dengan perendaman garam dapur (NaCl) dosis 1-3 gr/ 100cc air selama 5 menit atau formalin 25 cc/m3. Pengendaliannya dengan seleksi ikan yang tahan penyakit. Vacsinasi Ich, mengurangi kepadatan ikan, kondosi perairan cukup oksigen. Air kolam diusahakan mengalir terus menerus dan pemberian pakan yang baik untuk meningkatkan daya tahan tubuh ikan atau menaikkan suhu air yang berkisar 28-32C Penyakit nonparasit merupakan penyakit yang bukan disebabkan oleh adanya penyakit, tetapi disebabkan oleh faktor lingkungan dan faktor makanan (nutrisi). Faktor lingkungan yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan ikan adalah pH air yang terlalu rendah atau terlalu tinggi, perubahan suhu air yang terlalu mendadak, zat zat beracun yang ada dalam air, penumpukan kotoran atau sisa sisa makanan, kadar

oksigen dalam air rendah, kejenuhan gas (nitrogen, oksigen dan karbondioksida) serta kadar amoniak yang tinggi. Pencegahan penyakit nonparasiter dapat dilakukan dengan pemberian pakan yang tepat (baik jumlah dan mutunya), ikan tidak diberi pakan yang telah busuk/rusak, penyimpanan pakan ditempat yang bersih dan kering, per-baikan lingkungan parairan kolam, meningkat-kan kualitas air, meningkatkan aerasi, mengu-rangi bahan organik dan fitoplankton. 6. Pemanenan dan Pengangkutan Pemanenan ikan dilakukan dengan mem-perhatikan umur ikan, bobot ikan saat tebar, bobot ikan saat panen, dan waktu pemanenan. Pada pembesaran ikan gurami ini, ukuran tebarnya adalah 150 gr/ekor dengan umur budidaya selama 6 bulan didapatkan berat saat panen 600gr/ekor. Sedangkan ikan nila dapat dipanen pada umur 34 bulan. Pada umur tersebut bobotnya sudah mencapai 100 gr/ekor. Jika pasar menghendaki ikan yang berbobot 250 gr/ekor, maka panen dapat dilakukan pada umur 6 bulan (Cahyono Bambang, 2000). Pada budi-daya ikan nila, ukuran tebar ikan 20 gr/ekor dan lama pemeliharaan 4 bulan diperoleh berat ikan saat panen 300 gr/ekor. Waktu panen yang baik adalah pada pagi hari atau sore hari karena keadaan suhu rendah yang dapat menurunkan aktivitas metabolisme tubuh dan gerak ikan. Ikanikan yang telah dipanen harus tetap dipetahankan mutunya sampai di pasaran. Oleh karena itu, penanganan pasca-panen harus dilakukan dengan baik dan benar. Penanganan pascapanen ikan yaitu pembersihan, pembero-kan, pengolahan, pengangkutan dan pemasaran Pada saat pengangkutan sering kali ikan mengalami kerusakan. Untuk menekan keru-sakan sekecil mungkin, maka ikan harus dikemas dengan baik. Halhal yang perlu diperhatikan dalam pengangkutan ikan adalah wadah untuk mengemas ikan, kepadatan ikan dalam wadah dan sistem pengangkutan (Cahyono bambang, 2000). Untuk pengemasan ikan gurami petani ikan menggunakan jerigen plastik karena ikan masih dalam keadaan hidup, sedangkan ikan nila sudah dalam keadaan mati sehingga dapat menggunakan box fiberglass atau styrofoam.

Saat pengangkutan, kepadatan ikan sangat tergantung pada ukuran ikan, sistem pengangkutan dan lamanya pengangkutan. Apabila ikan terlalu padat akan menyebabkan ikan cepat rusak dan membusuk atau mati. Pada pengangkutan ikan gurami yang menggu-nakan jerigen plastik kepadatan pengangkutan 30 kg dalam 120 liter air selama 6 jam. Sedang-kan ikan nila dalam setiap box kepadatan maksimalnya adalah 70 kg, sehingga jumlah ikan nila saat pengangkutan adalah sekitar 230 ekor/box dengan ukuran panen 300 gr/ekor. 7. Pemasaran Pasar pada usaha budidaya ikan gurami dan ikan nila yang dimaksudkan adalah pasar reseller, yaitu suatu pasar yang terdiri dari individu dan organisasi yang melakukan penju-alan kembali barang dan jasa untuk menda-patkan keuntungan. Secara teknis, pemasaran ikan gurami dan ikan nila lebih ditekankan pada strategi bauran pemasaran hal ini dilakukan karena luasnya kegiatan pemasaran. Penentuan lokasi dan distribusi serta sarana dan prasarana pendukung menjadi sangat penting, karena agar pelanggan mudah menjangkau setiap lokasi yang ada serta mendistribusikan barang atau jasa. Pada penelitian ini baik usaha budidaya ikan gurami maupun usaha budi-daya ikan nila, saluran distribusinya adalah dari produsen/ petani ikan ke pengepul, agen, kemudian resto-ran dan yang terakhir kepada konsumen akhir. Daerah pemasaran untuk ikan gurami maupun ikan nila masih sedikit sekali untuk meraih pasar lokal. Untuk ikan gurami daerah pemasarannya meliputi wilayah Surabaya dan Jakarta. Sedangkan pemasaran ikan nila meli-puti wilayah Pasuruan dan Solo. 1.1.2Aspek Finansial Aspek finansial sangat penting untuk diperhatikan, karena setiap kegiatan usaha selalu membutuhkan dana untuk menjalankan usaha yang meliputi permodalan, pembiayaan, penerimaan dan analisis finansial. Pada usaha budidaya ikan gurami, modal tetap/investasi awal dalam pelaksanaan usaha merupakan modal sendiri rata rata tiap usaha yaitu sekitar Rp. 49.745.000. Modal tersebut meliputi kolam tanah, pompa air, ember serok, jaring. Sedangkan

modal tetap yang digunakan untuk usaha budidaya ikan nila juga berasal dari modal sendiri sebesar Rp. 145.746.000. Pembiayaan yang dimaksud terdiri dari biaya tetap dijumlah dengan biaya operasional per tahun yang selanjutnya disebut modal kerja/total biaya. Usaha budidaya ikan gurami mempunyai total biaya sekitar Rp.75.413.075, sedangkan untuk budidaya ikan nila sekitar Rp. 80.743.217. Biaya tetap pada budidaya ikan gurami sebesar Rp. 11.654.150, dan untuk budidaya ikan nila biaya tetapnya sebesar Rp. 27.265.617 per tahun. Biaya operasional per siklus produksi ikan gurami rata rata tiap anggota kelompok tani Mina Sejahtera sebesar Rp. 32.379.362,5 dan untuk satu tahun sebesar Rp.64.758.925. Sedangkan usaha budidaya ikan nila menggunakan biaya variabel sejumlah Rp. 4.861.600 per siklus produksi, dan dalam 1 tahun ada 11 siklus sehingga biaya variable total selama 1 tahun adalah Rp. 53.477.600. 1. Analisis Finansial Bila ditinjau dari waktu pelaksanaan proyek suatu usaha, dalam menganalisis aspek finansial dapat dibedakan menjadi analisis jangka pendek dan analisis jangka panjang. Analisis Jangka Pendek Analisis jangka pendek dalam suatu usaha dapat dihitung dari jangka waktu yang pendek yaitu sekali produksi dalam 1 tahun produksi. Komponen yang dihitung meliputi penerimaan/pendapatan, keuntungan dan Return to Equity Capital (REC). Penerimaan dalam usaha budidaya ikan gurami dari perhitungan diperoleh nilai penerimaan rata rata dari responden 1 dan 2 sebesar Rp.128.160.000 per tahun. Yang diperoleh dari hasil kali produksi rata rata yaitu 8.544 kg dengan harga ikan gurami Rp. 15.000/kg. Sedangkan pada usaha budidaya ikan nila diperoleh nilai penerimaan rata rata tiap tahun sekitar Rp. 170.100.000, dari hasil produksi per tahun 24.300 kg dengan harga Rp. 7.000/kg. Keuntungan usaha atau hasil bersih adalah besarnya penerimaan setelah di kurangi dengan biaya yang dikeluarkan untuk proses produksi, baik biaya tetap maupun biaya tidak tetap. Keuntungan kotor (EBZ) untuk usaha budidaya ikan gurami pada kelompok tani Mina Sejahtera dan ikan nila pada Mina Nugroho

masing masing Rp. 52.746.925,- dan Rp. 89.356.783. Sedangkan keuntungan bersih (EAZ) masingmasing adalah Rp.50.109.578,75 dan Rp.84.888.943,85. Perhitungan nilai Return to Equity Capital (REC) juga dilakukan dengan 2 cara yaitu untuk pendapatan kotor (RECEBZ) dan REC untuk pendapatan bersih setelah zakat (RECEAZ). Dari hasil perhitungan diperoleh nilai RECEBZ per tahun untuk usaha budidaya ikan gurami dan ikan nila masing masing sekitar 67,52 % dan 108,4 %. Untuk nilai RECEAZ masing masing 64,03 % dan 102,87 %. Maksud dari nilai nilai tersebut adalah misalkan saja 67,52 % per tahun, artinya setiap modal usaha sebesar Rp. 1 akan menghasilkan laba sebesar Rp. 67,52. Dan nilainilai REC tersebut lebih besar bila dibandingkan dengan suku bunga deposito yang dikeluarkan bulan Agustus 2005 yakni sebesar 8,71%, sehingga usaha tersebut dapat dikatakan sangat menguntungkan dan layak untuk dilanjutkan. Analisis Jangka Panjang Dalam menentukan kelayakan suatu usaha perlu dilakukan analisis jangka panjang yang meliputi Net Present Value (NPV), Net B/C, IRR (Internal Rate of Return), Payback Periode dan analisis sensitivitas. a) Net Present Value (NPV) Setelah nilai Net Benefit (BC) masingmasing didiskontokan pada ting-kat discount rate 16%, selanjutnya nilai NPV dihitung dari total PVGB dikurangi total PVGC dan diperoleh nilai NPV dalam kondisi normal untuk usaha budidaya ikan gurami sebesar Rp. 287.501.653. Sedangkan usaha budidaya ikan nila diperoleh nilai NPV sebesar Rp. 510.422.496. Nilai NPV tersebut lebih besar dari satu dan lebih besar dari inves-tasi awal sehingga usaha tersebut menguntungkan dan layak untuk diteruskan. b) Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) Dari hasil perhitungan pada kon-disi normal diperoleh nilai Net Benefit (B C) untuk ikan gurami sebesar 5,91 dan untuk ikan nila sebesar 3,5. Nilai Net B/C tersebut lebih besar dari satu sehingga kedua usaha tersebut layak untuk dijalankan. c) Internal Rate of Return (IRR)

Dari perhitungan diketahui nilai IRR pada kondisi normal baik untuk usaha ikan gurami maupun usaha budidaya ikan nila lebih besar dari bunga pinjaman yang berlaku saat ini yaitu 16 %. Nilai IRR tersebut masing masing adalah 125,71 % dan 75,73 %. Jadi usaha tersebut layak untuk dijalankan. d) Payback Periode (PP) Setelah dilakukan perhitungan diperoleh nilai payback period (PP) untuk ikan gurami adalah 2,17 tahun dan untuk usaha ikan nila nilai PP adalah 4,25 tahun yang mana kedua nilai PP tersebut lebih kecil dari PP maximum yaitu 6,25 tahun, sehingga dari segi pengembalian modal, usaha budidaya ikan gurami dan ikan nila masih tetap layak untuk diusahakan. e) Analisis Sensitivitas Di dalam analisis sensitivitas ini digunakan beberapa asumsi perubahan kondisi usaha selama dijalankan yang be-rupa kenaikan biaya dan penurunan gross benefit yang tujuannya untuk mengetahui bagaimana pengaruh usaha tersebut atau untuk mengetahui kepekaan suatu pro-yek terhadap perubahan yang mungkin terjadi di masa mendatang. 1) Asumsi biaya naik sebesar 25% pada tahun 2005 2014 Asumsi biaya naik 25 % dida-sarkan pada tahun 2005 kondisi perekonomian nasional yang masih belum normal karena banyak peristiwa yang terjadi di Indonesia sehingga sebagian besar biaya operasional mengalami kenaikan. Hasil perhitungan pada usa-ha budidaya ikan gurami di-peroleh nilai NPV Rp 211.801.826; Net B/C 4,35; IRR 92,99% dan Payback Periode 3,22 tahun. Sedangkan untuk usaha ikan nila diperoleh nilai NPVRp.442.153.268; Net B/C 3,033724888 ; IRR 65,4% dan PP 5,21 tahun. Dari nilai nilai tersebut diketahui bahwa baik usaha budidaya ikan gurami maupun ikan nila masih tetap layak untuk dija-lankan meskipun terjadi inflasi (kena-ikan) biaya 25% per tahun. 2) Asumsi Gross Benefit turun 10% pada tahun 2005 2014 Penentuan asumsi Gross Benefit turun 10% karena sejak terjadi banyak peristiwa yang ada di Indonesia baik bencana alam maupun yang lainnya

mengakibatkan daya beli masyarakat terhadap komoditi ikan menurun, sehingga penjualan usaha perikanan me-ngalami penurunan. Dari hasil perhitungan pada usaha budidaya ikan gurami didapat nilai NPV 228.464.186,32 ; Net B/C 4,7 ; IRR 99,97 % dan PP 2,88 tahun. Sedangkan pada usaha ikan nila didapat nilai NPV Rp.432.065.184 ; Net B/C 2,964508 ; IRR 63,81 % dan PP 5,4 tahun. Dari nilainilai tersebut ternyata baik usaha budidaya ikan gurami maupun ikan nila masih tetap layak untuk dijalankan. 3) Asumsi biaya naik 25% dan Gross Benefit turun 10% pada tahun 20052014 Untuk melihat tingkat kepe-kaan dari usaha budidaya ikan gurami dan ikan nila bila terjadi kemungkinan yang sangat buruk ditentukan asumsi dari gabungan antara biaya naik 25% dan Gross Benefit turun 10%. Dari perhitungan diketahui untuk usaha budidaya ikan gurami mempunyai nilai NPV Rp. 152.764.359,90 ; Net B/C 3,14 ; IRR 66,22 % dan PP 5,04 tahun. Sedangkan ikan nila mem-punyai nilai NPV Rp. 363.795.956 ; Net B/C 2,496 ; IRR 53,25 % dan PP 7,1 tahun nilai ini melebihi kondisi Payback Periode maksimum, sehingga secara perhitungan usaha ikan nila tidak layak untuk dilanjutkan dalam kondisi biaya naik 25% dan benefit turun 10%. Nilai nilai tersebut diatas yakni NPV, Net B/C ternyata lebih besar dari satu, IRR lebih besar dari suku bunga pinjaman bank yaitu 16% dan Payback Periode lebih kecil dari Payback Periode maksimum, sehingga usaha tersebut masih tetap layak untuk dilanjutkan meskipun terjadi kenaikan biaya melebihi 25% dan Gross Benefit turun melebihi 10%. Mengacu pada nilai tersebut menun-jukkan sensitivitas usaha ini cukup tinggi artinya usaha ini mempunyai toleransi cukup tinggi terhadap goncangan akibat biaya naik ataupun pengurangan benefit (laba). Jadi usaha budidaya ikan gurami dan ikan nila dilihat dari aspek finansial masih tetap layak untuk tahun- tahun mendatang. 1.1.3 Aspek Manajemen Aspek manajemen dan organisasi me-rupakan aspek yang sangat penting dianalisis untuk kelayakan suatu usaha. Baik menyang-kut sumberdaya manusia Rp.

maupun rencana perusahaan secara keseluruhan, haruslah disu-sun sesuai dengan tujuan perusahaan. Tujuan perusahaan akan lebih mudah tercapai apabila memenuhi kaidahkaidah atau tahapan dalan proses manajemen. Proses manajemen atau kaidah ini akan tergambar dari masing masing fungsi manajemen yang ada. Dalam usaha budidaya ikan gurami dan ikan nila telah menerapkan fungsi peren-canaan meskipun masih sederhana. Baik dari persiapan teknis, peralatan, tenaga kerja, biaya, waktu pelaksanaan dan sebagainya mes-kipun tidak dibuat secara terstruktur. Di dalam usaha ini sudah dilakukan pembukuan meskipun masih sangat sederhana. Penentuan target waktu produksi budidaya ikan gurami adalah 6 bulan dan ikan nila adalah 4 bulan. Pada usaha budidaya ikan gurami dan ikan nila sudah menerapkan fungsi pengorga-nisasian. Hal ini dapat dilihat dengan adanya pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas kepada pekerja, meskipun kadangkadang melakukan kegiatan rangkap, karena jumlah tenaga kerja masih terbatas satu orang. Baik di dalam usaha budidaya ikan gurami dan ikan nila dalam menggerakkan tenaga kerja masih belum berfungsi dengan baik karena tenaga kerja yang diambil masih memiliki hubungan keluarga dan tidak ada motivasi yang khusus untuk semangat dalam bekerja. Tetapi biasanya pemilik usaha akan membagi keuntungan yang merata sesuai dengan hasil pekerjaan/kegiatan. Pengawasan pada produk ikan gurami dilakukan untuk melihat apakah ikan terserang penyakit atau tidak. Namun untuk tenaga kerja tidak dilakukan pengawasan karena lebih mengandalkan pada kepercayaan terhadap tugasnya dan kesadaran dari pekerja sendiri. Sedangkan untuk usaha budidaya ikan nila, pengawasan dilakukan pada kualitas ikan nila, kualitas air, pemasaran. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa usaha ikan gurami dan ikan nila dalam pelaksanaan fungsi manajemen hampir sesuai/cukup baik. Jadi dari hipotesa bahwa pelaksanaa fungsi manajemen pada usaha tersebut sudah baik diterima, meskipun pada kenyataannya kurang sempurna. 1.1.4 Aspek Kelembagaan

Kelembagaan yang ada didalam usaha budidaya ikan gurami dan ikan nila yaitu lembaga penyedia sarana produksi, lembaga penyedia dana, lembaga pemasaran, dan lembaga penyuluhan. Untuk memperoleh sarana produksi koperasi sangat berperan dalam hal ini adalah koperasi Mina Sejahtera yang mempunyai beberapa relasi dalam penyediaan sarana tersebut. Sedangkan kegiatan budidaya ikan nila dalam penyediaan sarana produksi selain dari koperasi Mina Nugroho juga mempunyai hubungan kerja/kemitraan dengan pabrik pakan Charun Chokan yang ada di Sidoarjo, sedangkan benih disediakan oleh koperasi Mina Jaya sebagai koperasi sekunder. Usaha budidaya ikan gurami dan ikan nila modal berasal dari modal sendiri. Karena pemilik usaha tersebut tergolong didalam kelompok tani, mereka mendapatkan ban-tuan modal yang biasanya disebut dengan penguatan modal dari pemerintah. Lembaga pemasaran adalah badan badan hukum atau perorangan yang menggerakkan arus barang dari produsen kepada konsumen. Lembaga pemasaran didalam usaha budidaya ikan gurami adalah pedagang pengepul lokal yang datang langsung ke tempat budidaya ikan gurami pada saat pemanenan, dari pedangang pengepul, ikan gurami ukuran konsumsi diantar ke restoran dan agen. Sedangkan lembaga pemasaran pada kelompok tani Mina Nugroho adalah agen, dari agen langsung kepada restoran/ pasar dan akhirnya kepada konsumen. Lembaga penyuluhan yang berperan dalam hal ini adalah pemerintah yaitu sub dinas perikanan Kabupaten Nganjuk di bawah naungan dinas kehewanan Kabupaten Nganjuk. Sub dinas perikanan Nganjuk biasanya memberikan penyuluhan satu bulan sekali pada awal bulan kepada para petani ikan melalui kelompok tani Mina Sejahtera untuk usaha ikan gurami dan Mina Nugroho untuk ikan nila. 1.1.5 Aspek Hukum Untuk memulai studi kelayakan suatu usaha pada umumnya dimulai dari aspek hukum, walaupun banyak pula yang melakukan dari aspek lain. Tujuan dari aspek hukum adalah untuk meneliti keabsahan, kesempurnaan dan keaslian dari dokumen dokumen yang dimiliki. Dokumen yang perlu diteliti keabsahannya,

kesempurnaan dan keasliannya meliputi badan hukum, izin izin yang dimiliki, sertifikat tanah atau dokumen lainnya yang mendukung kegiatan usaha tesebut. Namun para petani ikan tersebut berada didalam sebuah lembaga koperasi. Dan masing masing petani ikan tersebut belum mempunyai Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), karena surat izin ter-sebut hanya diwajibkan kepada perusahaan perusahaan yang besar. Jadi kepemilikan usaha budidaya ikan tersebut belum mempunyai SIUP sehingga dari aspek hukum usaha tersebut belum layak/belum diakui secara legal. 1.1.6 Aspek Sosial Ekonomi Dari hasil penelitian diketahui bahwa usaha budidaya ikan gurami maupun ikan nila secara sosial, ekonomi dan budaya membawa dampak positif bagi masyarakat sekitar. Perubahan tersebut meliputi pen-dapatan, hubungan sosial, aktifitas lalu lintas, jalur komunikasi, tingkat keamanan, perilaku masyarakat dan adat istiadat. Beberapa peru-bahan secara sosial, ekonomi dan ling-kungan meliputi : arus lalu lintas semakin ramai di daerah sekitar usaha, penerangan jalan yang semakin banyak, pekerja tidak tetap diambil dari masyarakat sekitar sehing-ga membantu pemerintah mengurangi pe-ngangguran, komunikasi semakin lancar karena adanya alat komunikasi seperti tele-pon, tersedianya sarana dan prasarana seper-ti pembangunan jalan, jembatan, listrik, tele-pon dan sebagainya. Dampak sosial yang timbul diantaranya adalah adanya perubahan struktur penduduk menurut kelompok umur, jenis kelamin, tingkat pekerjaan dan pendidikan, perubahan tingkat pendapatan penduduk, perubahan komposisi tenaga kerja baik tingkat partisi-pasi angkatan kerja maupun tingkat pengang-guran. 1.1.7 Aspek Lingkungan (AMDAL) Komponen lingkungan hidup yang akan berubah secara mendasar dan penting bagi masyarakat disekitar tempat rencana usaha adalah kepemilikan dan penguasaan lahan, kesempatan kerja dan usaha, taraf hidup masyarakat dan kesehatan masyarakat. Karena air yang digunakan adalah air sungai dan air tanah yang bila digunakan secara berlebihan maka disekitar lokasi usaha menjadi berkurang dan akhirnya mengering.

Karena budidaya ikan gurami dan ikan nila yang biasanya terbuka dan tidak ada pagar pengaman, cenderung mengundang tindakan kriminal seperti pencurian ikan oleh orang orang iseng. Hal ini juga disebabkan oleh adanya kesenjangan sosial antara masyarakat sekitar. Adapun alternatif penyelesaian yang dapat dilakukan adalah memasang filter/ saringan air agar air yang keluar dari pembu-angan sudah bersih dan sehat, membuat saluran pembuangan yang teratur ke daerah tertentu sehingga tidak menganggu aktifitas masyarakat sekitar lokasi usaha, memberikan obat untuk menetralisir air yang tercemar seperti bahan bahan kimia yang dapat me-matikan makhluk yang mengkonsumsinya dan memberi sedekah/zakat kepada yang membutuhkan yang ada di sekitar lokasi usaha, sehingga mereka merasa diperhatikan dan ada rasa hormat kepada pemilik usaha yang selanjutnya tidak melakukan pencurian dan tindakan kriminal lainnya. 1.1.8 Pengembangan Usaha Perikanan Pada usaha budidaya ikan gurami yang ada di Mina Sejahtera belum ada pengem-bangan usaha secara spesifik, namun masingmasing anggota/pemilik usaha sudah mulai mengembangkan usaha perikanannya dengan komoditi lain yaitu budidaya ikan bawal air tawar yang sekarang ini ikan tersebut meru-pakan komoditi baru yang diharapkan dapat membantu dalam peningkatan pendapatan. Budidaya ikan nila yang ada di kelom-pok tani Mina Nugroho merupakan salah satu usaha pengembangan, yang sebelumnya komoditi utamanya adalah ikan lele. Dan sekarang ini komoditi lain yang sedang dibudidayakan baik pembenihan maupun pembesaran adalah ikan gurami, ikan mas, ikan bawal air tawar, dan ikan patin. Budidaya ikan nila juga dilakukan di sungai dengan metode keramba. Selain itu ada usaha pema-saran/jual-beli ikan segar seperti ikan ban-deng, wader, gabus dan udang yang dilakukan di kios pemasaran yang ada di samping koperasi Mina Nugroho. Koperasi perikanan merupakan strategi yang efektif dalam rangka manajemen pro-duksi dan pemasaran, terutama meningkat-kan kesejahteraan petani ikan dengan terdis-tribusinya hasil produksi oleh setiap pelaku agribisnis, sehingga kemitraan yang adil, saling menunjang dan saling menguntungkan antara petani ikan kecil

dengan pengusaha ikan yang sudah besar benarbenar terwujud. Namun pengembangan usaha koperasi perikanan sangat tergantung oleh peran serta anggota koperasi perikanan serta pemerintah dengan sistem agribisnis terpadu. Agribisnis terpadu yang dimaksud adalah usaha gabu-ngan yang terdiri dari penyediaan sarana produksi, proses budidaya, pemberian kredit, simpan-pinjam, pengelolaan dana sosial, serta usaha pemasaran dari hasil produksi yang berupa benih dan ikan ukuran konsumsi serta ikan yang dalam bentuk olahan (fillet, bakso, nugget, tepung ikan dan sebagainya). Peran koperasi perikanan (KUD Mina) adalah untuk menggabungkan, mendukung dan memperlancar sistem produksi, pengo-lahan dan pemasaran hasil produksi. Selan-jutnya untuk pengembangan produk dan manajemen yang lebih efektif, koperasi per-ikanan dengan peran serta pemerintah dalam hal ini adalah dinas perikanan melakukan pelatihan dan penyuluhan kepada pelaku agri-bisnis terutama petani ikan sebagai produsen, baik mengenai teknologi budidaya, kewirausahan maupun manajemen pengelolaan usaha yang lebih baik. 1.1.9 Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Usaha Budidaya Perikanan Setiap usaha pasti mempunyai faktorfaktor yang mempengaruhi jalannya usaha, baik itu yang menghambat maupun yang memperlancar usaha tersebut. Faktor pen-dukung merupakan faktorfaktor yang dapat memperlancar kegiatan budidaya ikan gurami dan ikan nila, diantaranya adalah : 1. Pemeliharaan ikan gurami dan ikan nila relatif lebih mudah. 2. Kondisi perairan dan lingkungan usaha yang sesuai dengan habitat ikan. 3. Sumber air dekat dengan lokasi usaha. 4. Tersedianya sumber daya alam dan sumber daya manusia. 5. Harga jual ikan gurami dan ikan nila yang relatif tinggi. 6. Adanya lahan yang belum termanfaatkan dan sangat baik bila digunakan untuk usa-ha budidaya, sehingga bila lahan tersebut diolah dengan baik akan membantu meningkatkan pendapatan keluarga. 7. Adanya teknologi budidaya ikan yang lebih efektif dan lebih efisien. 8. Dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk, maka permintaan ikan juga semakin meningkat.

9. Adanya dukungan dari pemerintah Kabupaten Nganjuk. 10. Usaha budidaya ikan gurami dan ikan nila dalam pemasarannya mempunyai jaringan distribusi yang mantap di daerah tertentu. 11. Mempunyai organisasi dan kelompok kerja yang aktif dan produktif. 12. Mempunyai kemampuan untuk mempro-duksi ikan dengan ukuran yang sesuai dengan permintaan konsumen. 13. Mempunyai kemampuan dalam membe-rikan kesejahteraan yang relatif memadai bagi karyawan dan keluarga. 14. Mempunyai tenaga kerja yang cukup berpengalaman dari segi teknis budidaya. Beberapa faktor yang menjadi hambatan dalam usaha budidaya ikan gurami dan ikan nila, diantaranya adalah : 1. Peralatan pengontrolan kualitas air yang masih kurang. 2. Belum adanya tenaga ahli khususnya di bidang perikanan yang membantu dalam pelaksanaan usaha. 3. Pertumbuhan ikan gurami dan ikan nila yang relatif lambat, sehingga membutuhkan waktu berbulan bulan untuk sampai pada tahap pemasaran. 4. Tingginya biaya produksi dalam kegiatan usaha budidaya ikan. 5. Pemasaran ikan yang jauh keluar kota, sehingga mempengaruhi kualitas ikan dan bahkan ikan mudah stress diperjalanan dan akhirnya banyak yang mati sehingga kesegaran ikan tidak tahan lama. 6. Rendahnya minat penduduk lokal dalam mengkonsumsi ikan gurami, sehingga pema-saran untuk daerah lokal masih rendah. 7. Manajemen pengelolaan masih sederhana. 8. Adanya persaingan dengan komoditi per-ikanan dan pengusaha perikanan lainnya. 9. Kemungkinan berdirinya usaha baru dengan teknologi yang lebih baik. 10. Dalam jangka waktu panjang belum dapat memenuhi kenaikan permintaan. 11. Kurang adanya kepercayaan dari penyedia dana baik investor maupun bank terhadap usaha budidaya perikanan karena adanya resiko ketidakpastian yang tinggi, sehingga petani ikan kesulitan dalam memperoleh dana dalam upaya pengembangan usahanya.

12. Belum mantapnya pola perencanaan dan pembinaan tenaga kerja yang dapat memenuhi perkembangan usaha. 1.2 Rencana Usaha (Business Plan) Setiap usaha (bisnis) membutuhkan ren-cana bisnis (Business Plans) terutama bisnis baru dan bisnis yang mengharapkan perubahan atau pertumbuhan yang signifikan dalam waktu dekat. Dalam teori, rencana bisnis akan memberikan arahan strategis bagi keberlang-sungan aktivitas usaha (bisnis) yakni dengan menuliskan/ mendeskripsikan tujuan dan cara mencapainya, yang kemudian mengikuti renca-na yang telah ditulis untuk mencapai target. Berikut ini rencana usaha pengembangan budidaya ikan gurami dan ikan nila yang diharapkan dapat terlaksana di Kabupaten Nganjuk, dalam rangka

memanfaatkan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang ada di wilayah tersebut agar lebih optimal. Namun masih banyak kendala yang dihadapi oleh pengusaha, kususnya para calon pengusaha kecil dan menengah dalam mewujudkan dan melaksanakan usahanya tersebut. Salah satu kendala tersebut tampak dalam merencanakan serta mempresentasikan rencana usaha. Operasional/realisasi dari rencana usaha budidaya ikan gurami dan ikan nila adalah untuk memenuhi peluang pasar dalam jangka waktu 10 tahun mendatang, untuk ikan gurami sebesar 280,71 ton dan ikan nila sebesar 1.477,43 ton. Sehingga untuk usaha budidaya ikan gurami diperlukan lahan seluas 29.979,85 m2, tenaga kerja 328 orang dan laba yang akan diperoleh sekitar Rp. 1.643.594.183, zakat sebesar Rp. 86.504.957. Apabila besarnya zakat untuk masing masing orang (yang berhak menerima) sama dengan UMR yang berlaku di Kabupaten Nganjuk sebesar Rp. 354.000, maka penerima zakat tersebut sekitar 20 orang. Demikian juga dengan budidaya ikan nila untuk memenuhi peluang pasar sebesar 1.477,43 ton, diperlukan lahan 6.191,6 m2, tenaga kerja 4.317 orang, laba yang diperoleh Rp. 5.161.212.852, zakat sebesar Rp. 271.642.782, dengan pene-rima zakat sekitar 64 orang.

2. KESIMPULAN DAN SARAN 2.1 Kesimpulan Dari penelitian ini dapat disimpulkan beberapa hal, diantaranya adalah : 1. Kelayakan usaha baik usaha budidaya ikan gurami dan ikan nila dilihat dari ; Aspek pasar masih cukup luas dilihat dari peluang pasarnya. Untuk ikan gurami sebesar 280,71 ton dan untuk ikan nila sebesar 1477,43 ton. Permintaan masih lebih besar dibandingkan penawaran, karena tiap tahun permintaan selalu meningkat. Hingga akhir tahun 2014 permintaan ikan sebesar 23.094.132,80 ton, sedangkan penawaran ikan nasional 13.244.600 ton. Aspek teknis usaha budidaya ikan gurami dan usaha budidaya ikan nila menggunakan sistem semi-intensif (madya). Aspek finansial sudah layak dalam pelaksa-naannya, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Karena memberikan keun-tungan setiap tahunnya yaitu keuntungan bersih (EAZ) sebesar Rp. 50.109.178,75 dan ikan nila sekitar Rp. 84.888.943,85. Nilai REC masing masing sebesar 64,03 % dan 102,87 % yang lebih besar dari suku bunga deposito bank sebesar 8,71 %. Sedangkan pada analisis jangka panjang dengan menggunakan discount rate sebesar 16% per tahun selama 10 tahun masing masing untuk ikan gurami dan ikan nila diperoleh NPV sebesar Rp. 287.501.653 dan Rp. 510,422,496, Net B/C ratio sebesar 5,91 dan 3,5, IRR sebesar 125,71 % dan 75,73 %, Payback Periode 2,17 tahun dan 4,25 tahun yang lebih kecil dari Payback Periode maksi-mum yakni 6,25 tahun, sehingga berda-sarkan nilai tersebut usaha ini layak. Penerapan aspek manajemen dari fungsi perencanaan, pengorganisasi, pergerakan dan pengendalian cukup baik meskipun masih sederhana. Dari aspek hukum, usaha tersebut belum mempunyai Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), Nomor Pengguna Wajib Pajak (NPWP), Izin Mendirikan Bangunan (IMB) tetapi hanya mempunyai surat pengakuan terdaftar dari kantor Sub-Dinas Perikanan Kabupaten Nganjuk. Aspek kelembagaan usaha tersebut cukup bagus karena adanya peran lembaga penyedia sarana produksi, lembaga penyu-luhan meskipun dari lembaga penyedia dana masih belum ada perhatian lebih.

Aspek sosial ekonomi cukup baik, karena dapat memberikan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat sekitar, sehingga dapat membantu dalam peningkatan pendapatan penduduk dan membantu peme-rintah dalam upaya mengurangi jumlah pengangguran. Aspek lingkungan pada usaha budidaya ikan ini memberikan dampak positif karena usaha budidaya ikan tidak meng-hasilkan limbah yang terlalu berbahaya bagi lingkungan baik perairan maupun kesehatan dari masyarakat sekitar lokasi usaha. Bahkan kotoran ikan dapat digu-nakan untuk pupuk bagi tanaman padi yang ada disekitar kolam. 2. Pengembangan Usaha Perikanan Untuk peningkatan hasil produksi dan peningkatan pendapatan keluarga, masyarakat dan pemerintah daerah, maka pengembangan usaha budidaya lebih diperluas dengan perluasan jaringan pemasaran, peningkatan metode budidaya yang lebih efektif dan efisien dengan sistem budidaya intensif, perbaikan manajemen usaha dan sumberdaya manusia, pengembangan kelembagaan dengan menjalin mitra kerja melalui koperasi, pelegalan usaha dan pengelolaan dana sosial baik zakat atau sedekah kepada masyarakat sekitar lokasi usaha. 3. Rencana Usaha (Business Plan) Dalam upaya pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang lebih optimal dibuatlah rencana usaha budidaya perikanan melalui perluasan daerah budidaya dengan memanfaatkan usaha skala rumah tangga di wilayah Kabupaten Nganjuk baik jangka pendek maupun jangka panjang. Usaha budidaya ikan gurami dengan luas lahan keluarga rata-rata 912,5 m2 pada 10 tahun mendatang akan menghasilkan pro-duksi 15.115.325,89 ton. Sedangkan budidaya ikan nila dengan ratarata luas lahan keluarga 990 m2, akan dibuat rencana usaha 10 tahun mendatang 39.625,172 ton. Untuk memenuhi permintaan pasar ikan gurami 280,71 ton dan 1.477,43 ton ikan nila dalam 10 tahun mendatang, masingmasing dibutuhkan tenaga kerja 328 orang dan 4.317 orang dengan lahan seluas 29.979,85 m2 dan 6.191,6 m2. Laba yang akan diperoleh Rp. 1.643.594.183 dan Rp. 5.161.212.852. 2.2 Saran

Agar usaha perikanan khususnya yang ada di wilayah Kabupaten Nganjuk dapat berkesinambungan dan terwujudnya usaha pengoptimalan dalam pemanfaatan potensi wilayah yang ada, maka ada beberapa saran dari peneliti diantaranya adalah : Perlu dilakukan penelitian yang sama terhadap budidaya ikan lele, ikan bawal air tawar, dan ikan unggulan lainnya yang ada di Kabupaten Nganjuk. Para pengelola usaha perlu membuat pembukuan keuangan yang lebih baik, agar dapat digunakan sebagai acuan dalam perbaikan usahanya. Perlu adanya penelitian lebih lanjut tentang kualitas air, teknik budidaya yang lebih efektif dan efisien, serta teknologi pengolahan ikan air tawar, sehingga menunjang kemajuan usaha dan dapat meningkatkan jumlah pendapatan. Perlu adanya penambahan dan penguatan dana/modal bagi kelompok tani dan me-ngefektifkan dana tersebut untuk pe-ngembangan dan perbaikan usaha. Budidaya yang disertai dengan pemantauan oleh pihak penyedia dana itu sendiri. Dalam pelaksanaan rencana usaha baik pengembangan, perbaikan maupun usaha baru perlu didampingi oleh tenaga ahli budidaya perikanan. Perlu adanya perhatian/respon yang lebih lebih serius lagi dari pemerintah khusus-nya sektor perikanan, dengan membe-rikan pembinaan tidak hanya kepada kelompok tani yang telah mendaftar saja mengingat masih banyaknya kelompok pemula yang belum tertangani. Perlu adanya evaluasi setiap akhir tahun terhadap program pemerintah, baik hasil penyuluhan, pembinaan, penguatan mo-dal, apa sudah efektif dan efisien. Dinas perikanan perlu berdiri sendiri, sehingga diharapkan dapat lebih intensif dalam menangani usaha perikanan secara merata di seluruh wilayah Kabupaten Nganjuk.

DAFTAR PUSTAKA Anonymous. 2004. Penyusunan Profil Investasi Komoditi Unggulan Tepung Ikan Di Jawa Timur. Badan Penanaman Modal Propinsi Jawa Timur dan Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat. Universitas Brawijaya. Malang. Cahyono Bambang. 2000. Budidaya Ikan Air Tawar (Ikan Gurame, Ikan Nila dan Ikan Mas). Kanisius. Yogyakarta. Cahyono Bambang. 2001. Budidaya Ikan Di Perairan Umum. Kanisius. Yogyakarta. Hasan M. Iqbal. 2002. Pokok Pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasi-nya. Ghalia Indonesia (Anggota IKAPI). Yogyakarta. Hasibuan Malayu. 2003. Manajemen (Dasar, Pengertian dan Masalah). Bumi Aksara. Jakarta. Kasmir dan Jakfar. 2003. Studi Kelayakan Bisnis. Prenada Media Kencana. Bogor. Kumalasanti Inneke, Surjatin dan Primyastanto M. 1999. Analisis Evaluasi proyek Usaha Ikan Gurami (Osphronemus gourami) di CV. Semi Desa Kecubung Kecamatan Pace Kabupaten Nganjuk Jawa Timur. Skripsi. Universitas Brawijaya Malang. Tidak diterbitkan. Kusbandi Liyanti, Surjatin dan Qoid A. 2003. Usaha Pembesaran Ikan Nila (Oreochromis niloticus) dan Kontribu-sinya Terhadap Pendapatan Keluarga Di Desa Banjarejo, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Laporan Skripsi Sosial Ekonomi Perikanan. Universitas Brawijaya. Malang. Murtidjo Bambang A. 2001. Beberapa Metode Pembenihan Ikan Air Tawar. Kanisius. Yogyakarta.

Prihartono R. Eko. 2004. Permasalahan Gurami dan Solusinya. Penebar Swadaya. Jakarta. Primyastanto M. 2003. Evaluasi Proyek Dari Teori Ke Praktek (Studi Pembesaran Ikan Gurame). PT. Danar Wijaya Brawijaya University Press. Malang. Pudjosumarto M. 1992. Evaluasi Proyek Uraian Singkat dan Soal Jawab. Liberty. Yogyakarta. Rahardi F, Kristiawati R dan Nazaruddin. 2000. Agribisnis Perikanan. Penebar Swadaya. Jakarta. Rahmawati Farida, Ismadi dan Primyastanto M. 2003. Aplikasi Evaluasi Proyek Pada Usaha pembesaran Gurami (Osphrone-mus gouramy) Di CV. Sumber Makmur Desa Karang Dagangan Kecamatan Bandar Kedung Mulya kabupaten Jombang Jawa Timur. Laporan Skripsi Sosial Ekonomi Perikanan. Universitas Brawijaya. Malang. Tidak diterbitkan. Riyanto Bambang. 1995. Dasar Dasar Pembe-lanjaan Perusahaan. Yayasan Badan Penerbit Gajah Mada Press. Yogyakarta. Singarimbun M dan Efendi S. 1995. Metodologi Penelitian Survey. LP3E. Jakarta. Surakhmad W. 1978. Dasar dan Tehnik Research. Pengantar Metodologi Ilmiah. Penerbit Tarsito. Bandung. Surakhmad W. 1985. Pengantar Penelitian Ilmiah. Penerbit Tarsito. Bandung Suratman. 2001. Studi Kelayakan Proyek, Teknik dan Prosedur Penyusunan Laporan Edisi I. J & J Learning. Yogyakarta. Suyanto S.R. 2004. Nila. PT Penebar Swadaya. Jakarta Swasta B. dan Sukotjo. 1997. Pengantar Bisnis Modern. Liberti. Yogyakarta. Widodo Slamet, Prayogo R. I dan Jauhari Alfan. 2002. Perencanaan Strategi Pengembangan Tempat Pelelangan Ikan Bron-dong Sebagai Upaya Optimalisasi fungsi Di PPN Brondong Lamongan Jawa Timur. Laporan Skripsi Pemanfa-atan Sumberdaya Perairan. Universitas Brawijaya. Malang. Tidak diterbitkan. Winarta. 2003. Studi Agribisnis Ikan Gurami (Osphronemus gouramy lac) di Kabupaten Blitar. Skripsi Sosial Ekonomi Perikanan Universitas Brawijaya. Malang. Tidak diterbitkan. (http://www.markplusnco.com/discussionview.php?tid=299 http://www.nganjukwarintek.go.id/ina/maintengah.php?id=1

Lampiran 1

Potensi perikanan air tawar/peluang usaha

Perencanaan usaha untuk luas wilayah perairan darat Kabupaten Nganjuk (kecuali pemukiman) 1.614.278.000 Budidaya gurami (luas lahan 912 m2 /rumah tangga) Budidaya nila (luas lahan 990 m2 /rumah tangga)

Aspek Pasar

Aspek Teknis

Aspek Finansial

Aspek Manajemen

Aspek Hukum

Aspek Kelembagaan

Aspek Sosial Ekonomi

Aspek Lingkungan

10 tahun : Gurami : 280,71ton Nila:1.477,43 ton Pasar ekspor

Budidaya intensif, penambahan sarana produksi, pengolahan

10 thn : Ikan gurami laba Rp. 1.643.594.183 Ikan nila laba Rp. 5.161.212.852

Penerapan fungsi POAC yang lebih efektif

Pelegalan usaha SIUP, NPWP, IMB dsb.

Efektifitas dan efisiensi lembaga keuangan, penyuluhan dan lembaga terkait serta hubungan kemitraan kerja

Pemerataan zakat bagi fakir miskin dan yang berhak menerimanya

Pelestarian lingkungan, pemanfaatan limbah ikan

Gambar 8. Bagan rencana pengembangan usaha budidaya ikan gurami dan ikan nila di Kabupaten Nganjuk

PERENCANAAN USAHA (BUSINESS PLAN) PENGEMBANGAN BUDIDAYA IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy) DAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) DI KABUPATEN NGANJUK PROPINSI JAWA TIMUR

Artikel Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Perikanan di Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya Malang

Oleh : NUNIK ISTIKHAROH NIM. 0110840029

Mengetahui, Ketua Jurusan

Menyetujui, Dosen Pembimbing I

( Ir. Abdul Qoid, MS ) Tanggal :

( Ir. Surjatin Tanggal :

Dosen Pembimbing II

(Ir. Mimit Primyastanto, MP) Tanggal :

PERENCANAAN USAHA (BUSINESS PLAN) PENGEMBANGAN BUDIDAYA IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy) DAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) DI KABUPATEN NGANJUK PROPINSI JAWA TIMUR

ARTIKEL SKRIPSI SOSIAL EKONOMI PERIKANAN

OLEH : NUNIK ISTIKHAROH NIM. 0110840029

UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS PERIKANAN

MALANG 2005 Budidaya Perikanan << Kembali SARAN PEMIKIRAN