Anda di halaman 1dari 4

Infeksi yang terjadi pada kulit disebabkan oleh berbagai agen infeksius, seperti bakteri, virus, jamur, dan

makroparasit seperti serangga dan cacing. Penanganannya harus disesuaikan dengan agen infeksius yang menyerangnya; pemberian obat topikal untuk serangga tidak akan memengaruhi koloni bakteri dan sebaliknya. Untuk itu, identifikasi awal sangat penting untuk memebrikan penanganan yang tepat bagi penderita. Beberapa identifikasi bersifat universal, dan lainnya hanya bisa dilakukan pada organisme tertentu.1 Inspeksi kulit biasanya dilakukan ketika gejala-gejala yang ditimbulkan bersifat spesifik, seperti pada Candida albicans yang menimbulkan lesi khas berupa bercak-bercak putih pada bagian tubut tertentu. Namun, seringkali gejala yang dihasilkan sama dengan agen infeksius lainnya, sehingga perlu pemeriksaan penunjang. Pewarnaan Gram didasari oleh perbedaan ketebalan dinding peptidoglikan pada bakteri tersebut.1,2Sediaan bakteri yang akan diidentifikasi diwarnai dengan larutan kristal violet selama 1-5 menit dan diikuti dengan pemberian lugol dan alkohol 95% secara berurutan. Pada bakteri dengan dinding peptidoglikan yang tebal, zat warna kristal violet akan tertahan pada ikatan silang antar molekul peptidoglikan dan tidak akan hilang dengan pencucian dengan alkohol 95%. Bakteri dengan kondisi ini dinyatakan sebagai positif.1,2 Beberapa bakteri memiliki dinding peptidoglikan yang tipis sehingga kristal violet turut hilang bersama alkohol dan bakteri digolongkan sebagai negatif.1,2 Untuk mengatasinya, biasanya diberikan zat warna yang kontras dengan pewarna sebelumnya, umumnya mengunakan safranin. Dengan pewarnaan kontras tersebut, berbagai bakteri bisa diidentifikasi secara cepat, seperti Staphylococcus aureus yang memberikan gambaran khas berupa massa kokus berbentuk anggur dan berwarna ungu. Setiap bakteri memiliki karakteristik tersendiri, dari struktur peptidoglikan hingga pola pertumbuhan koloninya.1,2 Beberapa bakteri memiliki pola pertumbuhan smooth (E. coli) alih-alin rough (Bacillus subtilis). Bakteri lain membentuk koloni dengan pola anyaman (Bacillus mycodies), menjalar (Proteus sp.), hingga menghasilkan lender (Klebsiella sp.). Sementara, sekelompok bakteri justru menghasilkan pigmen khas yang bisa digunakan sebagai sarana identifikasi. Pigmen tersebut adalah:
Merah, pada bakteri Serratia maecescens Sitrus, pada bakteri Staphylococcus citreus Putih kekuningan, pada bakteri Staphylococcus aureus Putih, pada bakteri Staphylococcus albus Hijau, pada bakteri Pseudomonas aeruginosa Ungu, pada bakteri Chromobacterium violaceum

Prinsip pertumbuhan koloni merupakan metode sederhana yang bisa dilakukan untuk identifikasi. Dengan manipulasi medium tumbuh, bakteri akan merespon dengan membentuk koloni yang spesifik. Bakteri juga menghasilkan warna dan sekret tertentu yang bisa digunakan untuk identifikasi.2 Selain itu, beberapa bakteri diketahui juga tumbuh dengan aerasi, suhu, dan nutrisi tertentu, sehingga mempersempit range identifikasi. Resistensi antibiotik juga bisa dilakukan dengan pengawasan ketat. Beberapa diagnosis molekuler seperti ELISA bisa dilakukan untuk memastikan organisme patogen tersebut.2

Pada infeksi jamur, teknik utama yang biasa dilakukan adalah dengan mengikis daerah yang diduga terinfeksi (teknik kerokan).1,2 Hasil kikisan kemudian ditetesi dengan KOH 10%-20% sebagai pemeriksaan langsung dan lactophenol cotton blue (LTCB) sebagai pewarna latar. Karena dinding sel jamur tersusun atas kitin yang keras, KOH tidak akan mampu menghancurkan sel jamur dan hanya menghancurkan sel-sel lain.2 Dengan demikian, struktur jamur bisa terlihat untuk diidentifikasi lebih lanjut. Selain dengan menggunakan KOH, jamur juga bisa dibiakkan dalam medium agar Sabouraud.2Ketika mencapai usia tertentu, jamur akan berkembang dan membuat koloni yang cenderung khas. Namun, khusus untuk penyakit yang terdapat di kulit, penggunaan KOH biasanya sudah cukup untuk menegakkan diagnosis. Penegakan diagnosis untuk virus sedikit berbeda dengan agen infeksius lainnya. Dengan statusnya sebagai pseudo living organism, banyak ciri makhluk hidup yang tidak dimilikinya. Satu-satunya hal yang membuktikan identitasnya sebagai makhluk hidup adalah material inti, yakni DNA atau RNA.3PCR adalah metode yang sangat populer untuk dilakukan, karena material genetik virus yang kecil memenuhi syarat untuk dilakukannya PCR. Sebenarnya, PCR hanyalah salah satu tahap awal untuk melakukan identifikasi lebih lanjut. Berbagai virus memiliki susunan basa nukleat tersendiri yang bersifat spesifik dan berbeda antara virus lainnya. Contoh, ada 140 urutan basa spesifik yang dijadikan acuan untuk pelaksanaan identifikasi. Urutan tersebut dimanifestasikan dalam bentuk FRET probe dan digunakan untuk identifikasi dua virus yang telah lama mengganggu kualitas hidup manusia: herpes simplex dan varicela zoster.3 Selain dengan menggunakan probe, hasil PCR juga dapat digunakan dengan menganalisis sekuens basa nukleatnya.3 Ada empat tabung dengan pewarna spesifik untuk basa nukleat yang berbeda. Setelah tabung tersebut direaksikan dengan material genetik virus, hasilnya diolah dengan aplikasi komputer dan dianalisis lebih lanjut. Karena urutannya bersifat spesifik tiap individu virus, hasilnya dapat digunakan untuk menentukan jenis virus. Sebenarnya, ada metode lain yang bisa digunakan, yakni pengujian dengan obat-obatan. Namun, mengingat sifat virus yang mudah bermutasi dan pengembangan obat-obatan yang tidak mudah, teknik ini sangat dibatasi, terutama pada strain influenza dan keluarganya.

Tabel 1. Pengujian laboratorium untuk virus herpes simplex.4 Untuk parasit makroskopik, identifikasi bisa langsung dilakukan dengan pengambilan sampel yang akan diidentifikasi. Beberapa parasit seperti Pediculus humanus dan Phthirus pubis berukuran cukup besar sehingga tidak perlu menggunakan metode khusus. Lain dengan Sarcoptes scabiei yang berukuran sangat kecil dan bersembunyi di dalam lesi-lesi berbentuk terowongan. Salah satu cara yang umum dilakukan adalah dengan mengikis terowongan-terowongan yang diduga terbentuk dari aktivitas tungau. Mata pisau yang telah dilumuri minyak kemudian digunakan untuk mengambil debris yang terdapat pada terowongan untuk dianalisis lebih lanjut.5 Alternatif lain adalah dengan melumuri terowongan dengan tinta hingga tungau scabies keluar dan bisa diidentifikasi.5 Teknik identifikasi yang dilakukan saat ini masih terus dikembangkan, terutama untuk menghindari rasa tidak nyaman yang didapat pasien ketika pengambilan sampel. Metode pengobatan juga terus dikembangkan, terutama untuk agen infeksius yang memiliki laju mutasi yang tinggi. Namun, semua itu tidak berarti jika setiap orang tidak bersedia untuk mencegah faktor risiko terjadinya infeksi tersebut. Partisipasi aktif sangat diharapkan untuk menyelesaikan setiap masalah, bukan sekadar opini atau retorika semata. Referensi
Tim Penyusun BPP Modul KJP FKUI 2010. Buku Panduan Praktikum Jakarta: Penerbit FKUI; 2011: p.17-38 Sterry W, Paus R, Burgdorf W. Thieme Clinical Companions Dermatology. 5th ed. Stuttgart: Thieme; 2006: p.16-121 Ratcliff RM, Chang G, TuckWeng K, Sloots TP. Molecular Diagnosis of Medical Viruses. Molecular Biology. 2007; 9: p. 87-102. Yi-Wei T, Mitchell PS, Espy mJ, Smith TF, Persing DH. Molecular Diagnosis of Herpes Simplex Virus Infections in the Central Nervous System. Journal of Clinical Microbiology. 1999 July; 37(7): p. 2127-36.

1. 2. 3.

4.

5.

Hengge UR, Currie BJ, Jager G, Lupi O, Schwartz RA. Scabies: a ubiquitous neglected skin disease. The Lancet. 2006 Dec; 6: p. 769-79.