Anda di halaman 1dari 3

Faktor Lingkungan (Unsur Klimatologi, Kimia dan Biologi) yang Mempengaruhi Hidup Nyamuk Anopheles sundaicus II Unsur Klimatologi

2.4.1.1 Curah Hujan Curah hujan dapat mempengaruhi ketersediaan larva nyamuk dan demografi nyamuk (Zhuo et al. 2003). Curah hujan berhubungan langsung dengan perkembangan larva nyamuk menjadi nyamuk dewasa. Besar kecilnya pengaruh curah hujan tergantung pada derasnya hujan, jumlah hari hujan, jenis vektor dan jenis tempat perkembangbiakan nyamuk. Hujan yang diselingi oleh panas akan memperbesar kemungkinan berkembang biaknya Anopheles sundaicus. Curah hujan yang tinggi dapat menyebabkan banjir sehingga tempat perindukan (breeding places) akan hanyut oleh air, akibatnya jumlah tempat perindukan akan berkurang dan populasi vektor juga akan berkurang. Curah hujan yang sedang tetapi waktunya panjang akan menambah tempat perindukan dan meningkatnya populasi nyamuk (Suroso 2001). Curah hujan yang tinggi disertai petir akan mengurangi tempat perindukan nyamuk. Faktor yang berpengaruh tidak hanya tinggi dan intensitas curah hujan tetapi juga waktu kejadian hujannya, baik di musim hujan maupun di musim kemarau akan mempengaruhi daya tahan tubuh vektor (Russelt et al. 1963 dalam Reid 1999). 2.4.1.2 Suhu Udara Suhu udara merupakan salah satu faktor pembatas penyebaran hewan. Suhu berpengaruh pada stadia dan daur hidup, kelangsungan hidup, pertumbuhan dan perkembangannya (Krebs 1978 dalam Koesmaryono 1999). Suhu merupakan salah satu faktor lingkungan yang dapat mengatur distribusi nyamuk secara spesifik (WHO 2004). Suhu dapat menentukan kecepatan tumbuh kembang nyamuk, yaitu daya tahan nyamuk dewasa, lamanya siklus gonotrofik, periode inkubasi ekstrinsik dan ukuran vektor yang mempengaruhi laju menggigit. Kenaikan suhu meningkatkan proporsi nyamuk untuk menginfeksi, ukuran nyamuk yang kecil menyebabkan nyamuk tersebut dapat terbang lebih jauh dan siklus gonotrofik lebih cepat, sehingga dalam periode hidupnya lebih sering bertelur. Kenaikan suhu juga menyebabkan periode inkubasi ekstrinsik menjadi lebih cepat (Chan et al. 1999; Dellate et al. 2009). Suhu dapat mempengaruhi tingkat perkembangan dan ketahanan hidup parasit malaria dan vektor nyamuk (Zhuo et al. 2003). Sesuai dengan penemuan Harijanto (2000) bahwa suhu dan kelembaban mempengaruhi perkembangbiakan parasit nyamuk. Suhu optimum dalam perkembangbiakan parasit nyamuk berkisar antara 20C-30C. Pada suhu hangat periode larva sekitar 4 7 hari, dan di daerah tropis periode kepompong (pupa) sekitar 1 3 hari (Rozendaal 1997). Demikian juga pengaruh suhu pada masa inkubasi ekstrinsik, semakin tinggi suhu (sampai batas tertentu) akan semakin pendek masa inkubasi ekstrinsik atau daur sporogoni begitupun sebaliknya semakin rendah suhu akan semakin panjang masa inkubasi ekstrinsiknya. Pengaruh

suhu ini berbeda bagi tiap species species P. falciparum untuk sporogoni memerlukan waktu selama 10 12 hari, P. vivax selama 8 11 hari, P. malariae selama 14 dari dan P. ovale parasit dalam tubuh

Secara umum suhu yang lebih panas dengan kelembaban yang tinggi merupakan stimulus perluasan secara geografis dan musim bagi vektor penyakit seperti insekta, tikus dan siput (Wawolumayo & Irianto 2004). 2.4.1.3 Suhu Air Nyamuk adalah binatang berdarah dingin. Suhu air mempengaruhi perkembangan dan distribusi larva. Kebanyakan Anopheles sp. lebih menyenangi temperatur tropis. 2.4.1.4 Kelembaban Kelembaban mempengaruhi perkembangbiakan parasit nyamuk. Semakin rendah kelembaban akan menyebabkan semakin pendek umur nyamuk, selain itu kelembaban ini juga akan mempengaruhi kecepatan berkembang biak, kebiasaan menggigit dan istirahat nyamuk. Nyamuk dapat bertahan pada kelembaban 60-80% (Rumbiak 2006). 2.4.1.5 Radiasi Pengaruh sinar matahari terhadap pertumbuhan larva nyamuk berbeda-beda. Anopheles sundaicus lebih suka tempat yang teduh. Anopheles hyrcanus dan Anopheles punctulatus lebih menyukai tempat yang terbuka. Anopheles barbirostris dapat hidup baik di tempat yang teduh maupun yang terang (Departemen Kesehatan RI 2001 dalam Lindsai et al. 2004). Pada umumnya sinar matahari berpengaruh terhadap aktivitas nyamuk dalam mencari makan dan beristirahat (Sukowati 2004). 2.4.2 Faktor Kimia 2.4.2.1 Salinitas Salinitas merupakan konsentrasi rata-rata seluruh garam yang terdapat di dalam air laut. Salinitas biasa disebut sebagai bagian perseribu atau biasa ditulis . Konsentrasi garam ini jumlahnya relatif sama pada setiap air laut walaupun diambil pada tempat yang berbeda (Hutabarat & Evans 1984). Prabowo (2004) menyatakan bahwa salinitas air sangat berpengaruh terhadap ada tidaknya malaria di suatu daerah. Adanya danau, genangan air, persawahan, kolam ataupun parit pada suatu daerah dapat menjadi tempat perindukan nyamuk, sehingga meningkatkan kemungkinan timbulnya penularan penyakit malaria. Anopheles sundaicus tumbuh optimal pada air payau dengan kadar garam antara 12 18 . Di Sumatera Utara ditemukan pula perkembang-biakan Anopheles sundaicus dalam air tawar. Anopheles letifer dapat hidupdi tempat yang asam atau pH rendah (Departemen Kesehatan RI 1990). 2.4.2.2 pH Menurut Takken dan Knols (1990) lingkungan kimia seperti pH juga sangat besar pengaruhnya pada populasi vektor malaria. Hal ini disebabkan oleh spesies nyamuk yang dapat hidup pada pH

yang berbeda, misalnya Anopheles letifer bisa bertahan hidup di lingkungan air tawar (pH rendah). Aedes aegypti dapat hidup dan berkembangbiak pada air dngan pH normal antara 6,5-9 (Slamet 1996). 2.4.3 Faktor Biologi Lingkungan biologi meliputi ada tidaknya vegetasi di sekitar daerah lokasi pengamatan dan ada tidaknya musuh alami yaitu ikan pemakan jentik nyamuk (Friaraiyatini et al. 2006). Tumbuhan bakau, lumut, ganggang dan berbagai tumbuhan air lainnya dapat menghalangi sinar matahari masuk atau melindungi dari serangan mahluk hidup lainnya. Anopheles sundaicus yang berkembang biak di air payau dengan salinitas antara 12 18 , kombinasi dengan keberadaan ganggang (blue green algae), maka ganggang akan menjadi tempat berlindung larva dari keberadaan ikan pemakan larva (Rozendaal 2003).