Anda di halaman 1dari 10

Saat ini, penyakit muskuloskeletal telah menjadi masalah yang banyak dijumpai di pusat-pusat pelayanan kesehatan di seluruh dunia.

Bahkan WHO telah menetapkan d ekade ini (2000-2010) menjadi Dekade Tulang dan Persendian. 1 Dengan makin pesatnya kemajuan lalu lintas baik dari segi jumlah pemakai jalan, jumlah kendaraan, jumlah pemakai jasa angkutan dan bertambahnya jaringan jalan d an kecepatan kendaraan maka mayoritas kemungkinan terjadinya fraktur adalah akib at kecelakaan lalu lintas. Sementara trauma trauma lain yang dapat mengakibatkan fraktur adalah jatuh dari ketinggian, kecelakaan kerja, dan cedera olah raga. Sebagian besar fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba tiba dan berlebihan, y ang dapat berupa benturan, pemukulan, penghancuran, penekukan atau terjatuh deng an posisi miring, pemuntiran, atau penarikan. Akibat trauma pada tulang bergantu ng pada jenis trauma, kekuatan, dan arahnya. Kita harus dapat membayangkan rekon struksi terjadinya kecelakaan agar dapat menduga fraktur yang dapat terjadi. Set iap trauma yang dapat mengakibatkan fraktur juga dapat sekaligus merusak jaringa n lunak di sekitar fraktur mulai dari otot, fascia, kulit, tulang, sampai strukt ur neurovaskuler atau organ organ penting lainnya. Fraktur bukan hanya persoalan terputusnya kontinuitas tulang dan bagaimana menga tasinya, akan tetapi harus ditinjau secara keseluruhan dan harus diatasi secara simultan. Harus dilihat apa yang terjadi secara menyeluruh, bagaimana, jenis pen yebabnya, apakah ada kerusakan kulit, pembuluh darah, syaraf, dan harus diperhat ikan lokasi kejadian, waktu terjadinya agar dalam mengambil tindakan dapat dihas ilkan sesuatu yang optimal. A. FRAKTUR A.1. DEFINISI FRAKTUR DAN MEKANISME TRAUMA Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan/ata u tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh ruda paksa. Trauma yang menyebabkan tulang patah dapat berupa trauma langsung, misalnya benturan pada lengan bawah y ang menyebabkan patah tulang radius dan ulna, dan dapat berupa trauma tidak lang sung, misalnya jatuh bertumpu pada tangan yang menyebabkan tulang klavikula atau radius distal patah 2. Akibat trauma pada tulang tergantung pada jenis trauma, kekuatan dan arahnya. Tr auma tajam yang langsung atau trauma tumpul yang kuat dapat menyebabkan tulang p atah dengan luka terbuka sampai ke tulang yang disebut patah tulang terbuka. Pat ah tulang di dekat sendi atau mengenai sendi dapat menyebabkan patah tulang dise rtai luksasi sendi yang disebut fraktur dislokasi. 2 A.2. GEJALA DAN TANDA Manifestasi klinis fraktur adalah didapatkan adanya riwayat trauma, hilangnya fu ngsi, tanda-tanda inflamasi yang berupa nyeri akut dan berat, pembengkakan lokal , merah/perubahan warna, dan panas pada daerah tulang yang patah. Selain itu dit andai juga dengan deformitas, dapat berupa angulasi, rotasi, atau pemendekan, se rta krepitasi. Apabila fraktur terjadi pada ekstremitas atau persendian, maka ak an ditemui keterbatasan LGS (lingkup gerak sendi). Pseudoartrosis dan gerakan ab normal. 3, 4 Tidak semua tanda dan gejala tersebut terdapat pada setiap fraktur, sehingga per lu dilakukan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagn osis adalah pemeriksaan X-foto, yang harus dilakukan dengan 2 proyeksi yaitu ant erior-posterior dan lateral. Dengan pemeriksaan X-foto ini dapat dilihat ada tid aknya patah tulang, luas, dan keadaan fragmen tulang. Pemeriksaan ini juga bergu na untuk mengikuti proses penyembuhan tulang. 3, 5

Diagnosis fraktur bergantung pada gejala, tanda fisik dan pemeriksaan sinar-x pa sien. Biasanya pasien mengeluhkan mengalami cedera pada daerah tersebut. Bila be rdasarkan pengamatan klinis diduga ada fraktur, maka perlakukanlah sebagai frakt ur sampai terbukti lain. 4 A.3. PEMBAGIAN FRAKTUR Fraktur berdasarkan derajat atau luas garis fraktur terbagi atas 3 : complete, d imana tulang patah terbagi menjadi dua bagian (fragmen) atau lebih, serta incomp lete (parsial). Fraktur parsial terbagi lagi menjadi: Fissure/Crack/Hairline tulang terputus seluruhnya tetapi masih tetap di temp at, biasa terjadi pada tulang pipih Greenstick Fracture lavicula, dan costae Buckle Fracture biasa terjadi pada anak-anak dan pada os radius, ulna, c

fraktur di mana korteksnya melipat ke dalam

Berdasarkan garis patah/konfigurasi tulang dibagi menjadi 3 : Transversal lang) Oblik tulang) garis patah tulang melintang sumbu tulang (80-100o dari sumbu tu

garis patah tulang melintang sumbu tulang (<80o atau >100o dari sumbu garis patah mengikuti sumbu tulang

Longitudinal Spiral

garis patah tulang berada di dua bidang atau lebih terdapat 2 atau lebih garis fraktur

Comminuted

Berdasarkan hubungan antar fragmen fraktur: a. Undisplace b. Displace fragmen tulang fraktur masih terdapat pada tempat anatomisnya fragmen tulang fraktur tidak pada tempat anatomisnya, terbagi atas: menggeser ke samping tapi dekat

- Shifted Sideways - Angulated - Rotated

membentuk sudut tertentu memutar saling menjauh karena ada interposisi garis fraktur tumpang tindih satu fragmen masuk ke fragmen yang lain

- Distracted - Overriding - Impacted

Gambar 1. Tipe Fraktur menurut garis frakturnya Gambar 1. Tipe Fraktur menurut garis frakturnya Secara umum, berdasarkan ada tidaknya hubungan antara tulang yang fraktur dengan dunia luar, fraktur juga dapat dibagi menjadi 2, yaitu fraktur tertutup dan fra ktur terbuka. Disebut fraktur tertutup apabila kulit di atas tulang yang fraktur masih utuh. Sedangkan apabila kulit di atasnya tertembus dan terdapat luka yang menghubungkan tulang yang fraktur dengan dunia luar maka disebut fraktur terbuk

a, yang memungkinkan kuman dari luar dapat masuk ke dalam luka sampai ke tulang yang patah sehingga cenderung untuk mengalami kontaminasi dan infeksi. 2, 6 B. PENATALAKSANAAN FRAKTUR 4, 6, 7 1. Penatalaksanaan secara Umum Fraktur biasanya menyertai trauma. Untuk itu sangat penting untuk melakukan peme riksaan terhadap jalan napas (airway), proses pernafasan (breathing) dan sirkula si (circulation), apakah terjadi syok atau tidak. Bila sudah dinyatakan tidak ad a masalah lagi, baru lakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik secara terperinci. Waktu tejadinya kecelakaan penting ditanyakan untuk mengetahui berapa lama sampa i di RS, mengingat golden period 1-6 jam. Bila lebih dari 6 jam, komplikasi infe ksi semakin besar. Lakukan anamnesis dan pemeriksaan fisis secara cepat, singkat dan lengkap. Kemudian lakukan foto radiologis. Pemasangan bidai dilakukan untuk mengurangi rasa sakit dan mencegah terjadinya kerusakan yang lebih berat pada j aringan lunak selain memudahkan proses pembuatan foto. 2. Penatalaksanaan Kedaruratan Segera setelah cedera, pasien berada dalam keadaan bingung, tidak menyadari adan ya fraktur dan berusaha berjalan dengan tungkai yang patah, maka bila dicurigai adanya fraktur, penting untuk meng-imobilisasi bagian tubuh segara sebelum pasie n dipindahkan. Bila pasien yang mengalami cedera harus dipindahkan dari kendaraan sebelum dapat dilakukan pembidaian, ekstremitas harus disangga diatas dan dibawah tempat pata h untuk mencegah gerakan rotasi maupun angulasi. Gerakan fragmen patahan tulang dapat menyebabkan nyeri, kerusakan jaringan lunak dan perdarahan lebih lanjut. Nyeri sehubungan dengan fraktur sangat berat dan dapat dikurangi dengan menghind ari gerakan fragmen tulang dan sendi sekitar fraktur. Pembidaian yang memadai sa ngat penting untuk mencegah kerusakan jaringan lunak oleh fragmen tulang. Daerah yang cedera diimobilisasi dengan memasang bidai sementara dengan bantalan yang memadai, yang kemudian dibebat dengan kencang. Imobilisasi tulang panjang ekstre mitas bawah dapat juga dilakukan dengan membebat kedua tungkai bersama, dengan e ktremitas yang sehat bertindak sebagai bidai bagi ekstremitas yang cedera. Pada cedera ektremitas atas, lengan dapat dibebatkan ke dada, atau lengan bawah yang cedera digantung pada sling. Peredaran di distal cedera harus dikaji untuk menen tukan kecukupan perfusi jaringan perifer. Pada fraktur terbuka, luka ditutup dengan pembalut bersih (steril) untuk mencega h kontaminasi jaringan yang lebih dalam. Jangan sekali-kali melakukan reduksi fr aktur, bahkan bila ada fragmen tulang yang keluar melalui luka. Pasanglah bidai sesuai yang diterangkan di atas. Pada bagian gawat darurat, pasien dievaluasi dengan lengkap. Pakaian dilepaskan dengan lembut, pertama pada bagian tubuh sehat dan kemudian dari sisi cedera. Pa kaian pasien mungkin harus dipotong pada sisi cedera. Ektremitas sebisa mungkin jangan sampai digerakkan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. 3. Prinsip Penanganan Fraktur Prinsip-prinsip tindakan/penanganan fraktur meliputi reduksi, imobilisasi, dan p engembalian fungsi dan kekuatan normal dengan rehabilitasi 4, 6: a. Reduksi, yaitu : restorasi fragmen fraktur sehingga didapati posisi yang dapa t diterima.6 Reduksi fraktur (setting tulang) berarti mengembalikan fragmen tulang pada k

esejajarannya dan posisi anatomis normal. Sasarannya adalah untuk memperbaiki fragmen-fragmen fraktur pada posisi anat omik normalnya. Metode untuk reduksi adalah dengan reduksi tertutup, traksi, dan reduksi ter buka.4 Metode tertentu yang dipilih bergantung sifat fraktur, namun prinsip yang mendasarinya tetap sama. Biasanya dokter melakukan reduksi fraktur sesegera mun gkin untuk mencegah jaringan lunak kehilangan elastisitasnya akibat infiltrasi k arena edema dan perdarahan. Pada kebanyakan kasus, reduksi fraktur menjadi semak in sulit bila cedera sudah mengalami penyembuhan. Metode reduksi : 1. Reduksi tertutup, pada kebanyakan kasus reduksi tertutup dilakukan dengan men gembalikan fragmen tulang ke posisinya (ujung-ujungnya saling berhubungan) denga n Manipulasi dan Traksi manual . Sebelum reduksi dan imobilisasi, pasien harus dimi ntakan persetujuan tindakan, analgetik sesuai ketentuan dan bila diperlukan dibe ri anestesia. Ektremitas dipertahankan dalam posisi yang diinginkan sementara gi ps, bidai atau alat lain dipasang oleh dokter. Alat imobilisasi akan menjaga red uksi dan menstabilkan ektremitas untuk penyembuhan tulang. Sinar-x harus dilakuk an untuk mengetahui apakah fragmen tulang telah dalam kesejajaran yang benar. 2. Traksi, dapat digunakan untuk mendapatkan efek reduksi dan imobilisasi. Berat nya traksi disesuaikan dengan spasme otot yang terjadi. 3. Reduksi terbuka, pada fraktur tertentu memerlukan reduksi terbuka. Dengan pen dekatan bedah, fragmen tulang direduksi. Alat fiksasi interna dalam bentuk pin, kawat, sekrup, palt, paku atau batangan logam dapat digunakan untuk mempertahan kan fragmen tulang dalam posisinya sampai penyembuhan tulang yang solid terjadi. b. Imobilisasi Setelah fraktur direduksi, fragmen tulang harus diimobilisasi, atau dipertah ankan dalam posisi dan kesejajaran yang benar sampai terjadi penyatuan. Sasarannya adalah mempertahankan reduksi di tempatnya sampai terjadi penyemb uhan. Metode untuk mempertahankan imobilisasi adalah dengan alat-alat eksternal (beb at, brace, case, pen dalam plester, fiksator eksterna, traksi, balutan) dan alat -alat internal (nail, lempeng, sekrup, kawat, batang, dll). Tabel 1. Perkiraan Waktu Imobilisasi yang Dibutuhkan untuk Penyatuan Tulang Fraktur Tabel 1. Perkiraan Waktu Imobilisasi yang Dibutuhkan untuk Penyatuan Tulang Frak tur c. Rehabilitasi Sasarannya meningkatkan kembali fungsi dan kekuatan normal pada bagian yang sakit. Untuk mempertahankan dan memperbaiki fungsi dengan mempertahankan reduksi da n imobilisasi adalah peninggian untuk meminimalkan bengkak, memantau status neur ovaskuler, mengontrol ansietas dan nyeri, latihan isometrik dan pengaturan otot, partisipasi dalam aktifitas hidup sehari-hari, dan melakukan aktifitas kembali secara bertahap dapat memperbaiki kemandirian fungsi. Pengembalian bertahap pada

aktivitas semula diusahakan sesuai batasan terapeutik. Tabel 2. Ringkasan Tindakan terhadap Fraktur Tabel 2. Ringkasan Tindakan terhadap Fraktur C. KOMPLIKASI FRAKTUR 1, 6, 7 a. Komplikasi segera 1. Komplikasi lokal dapat berupa kerusakan kulit, pembuluh darah (hematom, spasm e arteri, dan kontusio), kerusakan saraf, kerusakan otot, dan kerusakan organ da lam. 2. Komplikasi sistemik b. Komplikasi awal 1. Komplikasi lokal sekuele dari komplikasi segera, berupa nekrosis kulit, gangr en, trombosis vena, komplikasi pada persendian (artritis), dan pada tulang (infe ksi/osteomielitis). 2. Komplikasi sistemik remens. c. Komplikasi lanjut 1. Komplikasi pada persendian dapat terjadi kontraktur dan kekakuan sendi persis ten, penyakit sendi degeneratif pasca trauma. 2. Komplikasi tulang dan non union). yakni penyembuhan tulang abnormal (malunion, delayed union emboli lemak, emboli paru, pneumonia, tetanus, delerium t syok hemoragik

Mal union adalah keadaan dimana tulang menyambung dalam posisi tidak anatomis, b isa sembuh dengan pemendekan, sembuh dengan angulasi, atau sembuh dengan rotasi. Delayed union adalah proses penyembuhan patah tulang yang melebihi waktu yang di harapkan, hal ini berarti bahwa proses terjadi lebih lama dari batas waktu yaitu umumnya 3-5 bulan.6 Non union adalah keadaan dimana suatu proses penyembuhan patah tulang berhenti s ama sekali dan penyembuhan patah tulang tidak akan terjadi tanpa koreksi pembeda han. 3. Komplikasi pada otot 4. Komplikasi saraf miositis pasca trauma, ruptur tendo lanjut

Tardy nerve palsy

D. PROSES PENYEMBUHAN FRAKTUR Secara ringkas tahap penyembuhan fraktur dibagi menjadi 5 tahap sebagai berikut 4, 6 : 1. Stadium Pembentukan Hematom : - Hematom terbentuk dari darah yang mengalir yang berasal dari pembuluh darah ya ng robek - Hematom dibungkus jaringan lunak sekitar (periosteum & otot)

- Terjadi sekitar 1-2 x 24 jam 2. Stadium Proliferasi Sel / Inflamasi : - Sel-sel berproliferasi dari lapisan dalam periosteum, sekitar lokasi fraktur - Sel-sel ini menjadi precursor osteoblast - Sel-sel ini aktif tumbuh ke arah fragmen tulang - Proliferasi juga terjadi di jaringan sumsum tulang - Terjadi setelah hari ke-2 kecelakaan terjadi 3. Stadium Pembentukan Kallus : - Osteoblast membentuk tulang lunak (kallus) - Kallus memberikan rigiditas pada fraktur - Jika terlihat massa kallus pada X-ray berarti fraktur telah menyatu - Terjadi setelah 6-10 hari setelah kecelakaan terjadi 4. Stadium Konsolidasi : - Kallus mengeras dan terjadi proses konsolidasi. Fraktur teraba telah menyatu - Secara bertahap menjadi tulang mature - Terjadi pada minggu ke 3-10 setelah kecelakaan 5. Stadium Remodeling : - Lapisan bulbous mengelilingi tulang khususnya pada lokasi eks fraktur - Tulang yang berlebihan dibuang oleh osteoklast - Pada anak-anak remodeling dapat sempurna, pada dewasa masih ada tanda penebala n tulang. Proses penyembuhan tulang sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mencakup: usi a, lokasi dan jenis fraktur, kerusakan jaringan sekitar fraktur, banyaknya gerak an pada fragmen fraktur, pengobatan, adanya infeksi atau penyakit lain yang meny ertai (seperti diabetes mellitus), derajat trauma, gap antara ujung fragmen dan pendarahan pada lokasi fraktur. 6, 8 E. FRAKTUR TERBUKA E.1. KLASIFIKASI Fraktur terbuka dibagi menjadi 3 derajat yang ditentukan oleh berat ringannya lu ka dan berat ringannya fraktur 2, sebagaimana yang terlihat pada Tabel 1. Tabel 3. Derajat Patah Tulang Terbuka Menurut Gustillo dan Anderson (1976) Tabel 3. Derajat Patah Tulang Terbuka Menurut Gustillo dan Anderson (1976) Kemudian Gustillo et al. (1984) membagi tipe III dari klasifikasi Gustillo dan A nderson (1976) menjadi tiga subtipe, yaitu tipe IIIA, IIIB dan IIIC (Tabel 2). 8

IIIA terjadi apabila fragmen fraktur masih dibungkus oleh jaringan lunak, wa laupun adanya kerusakan jaringan lunak yang luas dan berat. IIIB fragmen fraktur tidak dibungkus oleh jaringan lunak sehingga tulang ter lihat jelas atau bone expose, terdapat pelepasan periosteum, fraktur kominutif. Biasanya disertai kontaminasi masif dan merupakan trauma high energy tanpa meman dang luas luka. III C terdapat trauma pada arteri yang membutuhkan repair agar kehidupan bag ian distal dapat dipertahankan tanpa memandang derajat kerusakan jaringan lunak. Tabel 4. Klasifikasi lanjut fraktur terbuka tipe III (Gustillo dan Anderson, 197 6) oleh Gustillo, Mendoza dan Williams (1984) Tabel 4. Klasifikasi lanjut fraktur terbuka tipe III (Gustillo dan Anderson, 197 6) oleh Gustillo, Mendoza dan Williams (1984) E.2. PENATALAKSANAAN KHUSUS PADA FRAKTUR TERBUKA Fraktur terbuka merupakan suaru keadaan darurat yang memerlukan penanganan yang terstandar untuk mengurangi risiko infeksi. Selain mencegah infeksi juga diharap kan terjadi penyembuhan fraktur dan restorasi fungsi anggota gerak. Beberapa prinsip dasar pengelolaan fraktur terbuka adalah 6: Obati fraktur terbuka sebagai suatu kegawatan. Adakan evaluasi awal dan diagnosis akan adanya kelainan yang dapat menyebabk an kematian. Berikan antibiotik dalam ruang gawat darurat, di kamar operasi dan setelah o perasi. Segera dilakukan debridemen dan dan irigasi yang baik. Ulangi debridemen 24-72 jam berikutnya. Stabilisasi fraktur. Biarkan luka terbuka antara 5-7 hari. Rehabilitasi anggota gerak yang terkena. Sedangkan tahap-tahap pengobatan fraktur terbuka adalah sebagai berikut 6: Pembersihan luka. Dilakukan dengan cara irigasi dengan cairan NaCl fisiologis secara mekanis untuk mengeluarkan benda asing yang melekat. Eksisi jaringan yang mati dan tersangka mati (debridemen). Semua jaringan yang kehilangan vaskularisasinya merupakan daerah tempat pembenih an bakteri sehingga diperlukan eksisi secara operasi pada kulit, jaringan subkut aneus, lemak, fasia, otot, dan fragmen-fragmen yang lepas. Penutupan kulit. Pemberian antibakteri.

Pemberian antibiotik bertujuan untuk mencegah infeksi. Antibiotik diberikan dala m dosis yang besar sebelum, pada saat, dan sesudah tindakan operasi. Pencegahan tetanus. Semua penderita dengan fraktur terbuka perlu diberikan pencegahan tetanus. Pada penderita yang telah mendapat imunisasi aktif cukup dengan pemberian toksoid. Ta pi bagi yang belum, dapat diberikan 250 unit tetanus imunoglobulin. Pengobatan fraktur itu sendiri. F. FRAKTUR FEMUR F.1. ANATOMI FEMUR 10 Gambar 2. Anatomi Femur Gambar 2. Anatomi Femur Femur pada ujung bagian atasnya memiliki caput, collum, trochanter major dan tro chanter minor. Bagian caput merupakan lebih kurang dua pertiga bola dan berartik ulasi dengan acetabulum dari os coxae membentuk articulatio coxae. Pada pusat ca put terdapat lekukan kecil yang disebut fovea capitis, yaitu tempat perlekatan l igamentum dari caput. Sebagian suplai darah untuk caput femoris dihantarkan sepa njang ligamen ini dan memasuki tulang pada fovea. Bagian collum, yang menghubungkan kepala pada batang femur, berjalan ke bawah, b elakang, lateral dan membentuk sudut lebih kurang 125 derajat (pada wanita sedik it lebih kecil) dengan sumbu panjang batang femur. Besarnya sudut ini perlu diin gat karena dapat dirubah oleh penyakit. Trochanter major dan minor merupakan tonjolan besar pada batas leher dan batang. Yang menghubungkan dua trochanter ini adalah linea intertrochanterica di depan dan crista intertrochanterica yang mencolok di bagian belakang, dan padanya terd apat tuberculum quadratum. Bagian batang femur umumnya menampakkan kecembungan ke depan. Ia licin dan bulat pada permukaan anteriornya, namun pada bagian posteriornya terdapat rabung, lin ea aspera. Tepian linea aspera melebar ke atas dan ke bawah.Tepian medial berlan jut ke bawah sebagai crista supracondylaris medialis menuju tuberculum adductoru m pada condylus medialis.Tepian lateral menyatu ke bawah dengan crista supracond ylaris lateralis. Pada permukaan posterior batang femur, di bawah trochanter maj or terdapat tuberositas glutealis, yang ke bawah berhubungan dengan linea aspera . Bagian batang melebar ke arah ujung distal dan membentuk daerah segitiga datar pada permukaan posteriornya, disebut fascia poplitea. Ujung bawah femur memiliki condylus medialis dan lateralis, yang di bagian poste rior dipisahkan oleh incisura intercondylaris. Permukaan anterior condylus dihub ungkan oleh permukaan sendi untuk patella. Kedua condylus ikut membentuk articul atio genu. Di atas condylus terdapat epicondylus lateralis dan medialis. Tubercu lum adductorium berhubungan langsung dengan epicondylus medialis. F.2. KLASIFIKASI FRAKTUR FEMUR Klasifikasi fraktur femur dapat dibagi dalam 5 : a. FRAKTUR COLLUM FEMUR:

Fraktur collum femur dapat disebabkan oleh trauma langsung yaitu misalnya pender ita jatuh dengan posisi miring dimana daerah trochanter mayor langsung terbentur dengan benda keras (jalanan) ataupun disebabkan oleh trauma tidak langsung yait u karena gerakan exorotasi yang mendadak dari tungkai bawah, dibagi dalam : Fraktur intrakapsuler (Fraktur collum femur) Fraktur extrakapsuler (Fraktur intertrochanter femur) b. FRAKTUR SUBTROCHANTER FEMUR Ialah fraktur dimana garis patahnya berada 5 cm distal dari trochanter minor, di bagi dalam beberapa klasifikasi tetapi yang lebih sederhana dan mudah dipahami a dalah klasifikasi Fielding & Magliato, yaitu : tipe 1 : garis fraktur satu level dengan trochanter minor tipe 2 : garis patah berada 1 -2 inch di bawah dari batas atas trochanter minor tipe 3 : garis patah berada 2 -3 inch di distal dari batas atas trochanterminor c. FRAKTUR BATANG FEMUR (dewasa) Fraktur batang femur biasanya terjadi karena trauma langsung akibat kecelakaan l alu lintas dikota kota besar atau jatuh dari ketinggian, patah pada daerah ini d apat menimbulkan perdarahan yang cukup banyak, mengakibatkan penderita jatuh dal am shock, salah satu klasifikasi fraktur batang femur dibagi berdasarkan adanya luka yang berhubungan dengan daerah yang patah. Dibagi menjadi : - tertutup - terbuka, ketentuan fraktur femur terbuka bila terdapat hubungan antara tulang patah dengan dunia luar dibagi dalam tiga derajat, yaitu ; Derajat I : Bila terdapat hubungan dengan dunia luar timbul luka kecil, biasanya diakibatkan tusukan fragmen tulang dari dalam menembus keluar. Derajat II : Lukanya lebih besar (>1cm) luka ini disebabkan karena benturan dari luar. Derajat III : Lukanya lebih luas dari derajat II, lebih kotor, jaringan lunak ba nyak yang ikut rusak (otot, saraf, pembuluh darah) d. FRAKTUR BATANG FEMUR (anak e. FRAKTUR SUPRACONDYLER FEMUR Fraktur supracondyler fragment bagian distal selalu terjadi dislokasi ke posteri or, hal ini biasanya disebabkan karena adanya tarikan dari otot otot gastrocnemi us, biasanya fraktur supracondyler ini disebabkan oleh trauma langsung karena ke cepatan tinggi sehingga terjadi gaya axial dan stress valgus atau varus dan dise rtai gaya rotasi. f. FRAKTUR INTERCONDYLAIR Biasanya fraktur intercondular diikuti oleh fraktur supracondular, sehingga umum nya terjadi bentuk T fraktur atau Y fraktur. g. FRAKTUR CONDYLER FEMUR anak)

Mekanisme traumanya biasa kombinasi dari gaya hiperabduksi dan adduksi disertai dengan tekanan pada sumbu femur keatas. F.3. FRAKTUR SUPRAKONDILER FEMUR DAN FRAKTUR INTERKONDILER 6 Daerah suprakondiler adalah daerah antara batas proksimal kondilus femur dan bat as metafisis dengan diafisis femur. Fraktur suprakondiler femur sering bersama-sama dengan fraktur interkondiler yan g memberikan masalah pengelolaan yang lebih kompleks. Fr. Suprakondiler & Interkondiler Klasifikasi menurut Neer, Grantham, Shelton (1967) : Tipe I ; fraktur suprakondiler dan kondiler bentuk T. Tipe IIA ; fraktur suprakondiler dan kondiler dengan sebagian metafisis (ben tuk Y). Tipe IIB ; sama seperti IIA tetapi bagian metafisis lebih kecil. Tipe III ; fraktur suprakondiler komunitif dengan fraktur kondiler yang tida k total. F.3.1. Gambaran Klinis Berdasarkan anamnesis ditemukan riwayat trauma yang disertai pembengkakan dan de formitas pada daerah suprakondiler. Pada pemeriksaan mungkin ditemukan adanya kr epitasi. Dapat ditemukan adanya hemartrosis yang lebih hebat karena adanya frakt ur intra-artikuler. F.3.2. Pengobatan Terapi konservatif. Traksi berimbang dengan mempergunakan bidai Thomas dan penahan lutut Pea rson. Cast-bracing. Spika panggul. Terapi operatif. Karena fraktur ini bersifat intra-artikuler, maka sebaiknya dilakukan terapi ope ratif dengan fiksasi interna yang rigid untuk memperoleh posisi anatomis sendi d an segera dilakukan mobilisasi.

http://dokterkecil.wordpress.com/2009/08/07/fraktur-terbuka-femur-suprakondilerdan-interkondiler-intraartikuler/