Anda di halaman 1dari 8

TINJAUAN KASUS PASIEN DENGAN MENINGITIS

Disusun Oleh : Singgih Gema Dwihardika Tri Yuliantono (11.0744.S) (11.0746.S)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH PEKAJANGAN PEKALONGAN 2014

TINJAUAN KASUS A. Hasil anamnese Tn.M umur 19 tahun datang ke UGD diantar keluarga dengan kendaraan pribadi pada pukul 14.00, dalam kondisi kesadaran letargi. Keluarga mengatakan sebelum dibawa ke RS klien mengalami sakit kepala hebat, muntah kurang lebih 3x, panas tinggi, dan nyeri punggung dan leher, batuk disertai darah kurang lebih 6 bulan tanpa diobati. Keluarga juga mengatakan kakek klien pernah mengalami riwayat penyakit Tuberkulosis. B. Hasil pemeriksaan

1. Secara umum : Tanda-tanda vital : Suhu : 37.5oC Tekanan darah : 100/60 mmhg Nadi : 96x/menit Pernafasan : 24x/menit GCS E;2 V;3 M\: 4 = 9 Tingkat kesadaran : Samnolen BB : 45 kg TB : 165 cm

2. Pemeriksaan fisik (Head to Toe) Kepala : Inspeksi : bentuk kepala oval, rambut kusam, sedikit pembengkakan pada bagian kepala. Palpasi : nyeri tekan pada bagian kepala. Mata : Inspeksi : ketika dilakukan pemeriksaan reaksi pupil menggunakan senter klien memejamkan matanya dengan kuat, konjungtiva pucat, warna sklera putih, terdapat lingkaran hitam disekitar mata. Palpasi : tidak ada nyeri tekan pada bagian mata. Hidung Inspeksi : simetris kiri dan kanan, warna hidung sama dengan warna kulit sekitar wajah. Palpasi : tidak ada nyeri tekan

Mulut : Inspeksi : mukosa bibir kering dan pucat, terdapat warna keputih-putihan pada lidah, gusi warna merah muda, gigi kurang bersih. Palpasi : tidak terdapat nyeri tekan di sekitar mulut. Telinga : Inspeksi : warna kulit sama dengan warna kulit disekitar, simetris telinga kiri dengan yang kanan. Palpasi : nyeri tekan disekitar telinga. Leher : Inspeksi : warna kulit sama dengan warna kulit disekitar , tidak ada pembesaran vena jugularis. Palpasi : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, terdapat nyeri tekan pada punggung leher. Ekstremitas atas : Inspeksi : terdapat ruam petechie. Palpasi : nyeri tekan pada kulit. Dada : Inspeksi : warna kulit sama dengan warna kulit disekitar, tidak ada pembengkakan. Palpasi : nyeri tekan pada dada. Perkusi : pekak. Auskultasi : bunyi pernafasan rales (crekles). Abdomen : Inspeksi : warna kulit sama dengan warna kulit disekitar, bentuk abdomen cekung. Auskultasi : bunyi peristaltik usus 37x/menit Palpasi : nyeri tekan di abdomen kiri atas Perkusi : bunyi timpani Ektremitas bawah Inspeksi : ektremitas bawah simetris kiri dan kanan dan terdapat pembengkakan pada bagian lutut dan pergelangan kaki, babinski positif Palpasi : nyeri tekan pada bagian lutut dan pergelangan kaki

3. Pemeriksaan Penunjang : Analisis CSS dari pungsi lumbal Meningitis bakterial : tekanan meningkat, cairan keruh/berkabut, jumlah sel darah putih meningkat ; glukosa menurun, kultur positif terhadap beberapa jenis bakteri Glukosa serum meningkat LDH serum meningkat Sel darah putih sedikit meningkat dengan peningkatan neotofil Elektrolit darah abnormal ESR/LED meningkat Kultur darah/hidung/tenggorokan?urine : dapat mengindikasikan daerah pusat infeksi atau mengindikasikan tipe penyebab infeksi MR/CT Scan ; dapat membantu melokalisasi lesi, melihat ukuran/letak ventrikel; hematoma daerah serebral,homoragik atau tumor Ronsen dada, kepala, dan sinus : mungkin ada indikasi infeksi atau sumber infeksi intracranial

C. Analisa Data Data Subjektif :

Keluarga klien mengatakan klien merasakan sakit kepala hebat Keluarga klien mengatakan klien muntah kurang lebih 3x Keluarga klien mengatakan tubuh klien panas sejak dari pagi Keluarga klien mengatakan klien merasakan nyeri pada bagian punggung dan leher Keluarga juga mengatakan bahwa klien batuk darah kurang lebih sudah 6 bulan Keluarga juga mengatakan bahwa kakek klien punya riwayat penyakit TBC

Data Objectif : Suhu : 37.5oC TD : 100/60 mmhg Nadi : 96x/menit Respirasi : 24x/menit

TTV :

Terdapat nyeri tekan pada bagian kepala Klien potophobia, saat dilakukan pemeriksaan pupil klien menutup matanya dengan kuat

Tanda kerning dan brudzinski positif Saat pemeriksaan CT scan terdapat penumpukan cairan pada selaput meningen Saat pemeriksaan rontgen terlihat bagian paru-paru berawan

D. Identifiksai Masalah Risiko Infeksi factor risiko dengan adanya kuman patogen pada cairan serebrospinal dan sekret saluran pernapasan. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis.

NO 1

MASALAH Risiko Infeksi factor risiko dengan adanya kuman patogen pada cairan serebrospinal dan sekret saluran pernapasan.

PATOFISOLOGI

Bakteri TB masuk ke cairan otak melalu pembuluh darah didalam pembuluh darah otak mikroorganisme yang masuk dapat berjalan ke cairan otak melalui ruangan subarachnoid

adanya mikroorganisme yang patologis merupakan penyebab peradangan pada piamater, arachnoid, cairan otak dan ventrikel

Eksudat yang dibentuk akan menyebar, baik ke kranial maupun ke saraf spinal yang dapat menyebabkan kemunduran neurologis selanjutnya

Eksudat ini dapat

menyebabkan sumbatan aliran normal cairan otak dan dapat menyebabkan penyakit infeksi otak lainnya

NO 2

MASALAH Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis.

PATOFISOLOGI

Bakteri TB masuk ke cairan otak melalu pembuluh darah didalam pembuluh darah otak

Infeksi cairan serebrospinal dan meningeal menyebabkan respon inflamasi pada

piamater , arakhnoid dan CSF

Pembuluh darah mengalami inflamasi sekitar otak di dalam area

Nyeri

E. Rencana Intervensi 1. Risiko Infeksi factor risiko dengan adanya kuman patogen pada cairan serebrospinal dan sekret saluran pernapasan.

INTERVENSI 1.Berikan tindakan isolasi sebagai tindakan pencegahan

RASIONAL 1.Pada fase awal meningitis bakteri, isolasi mungkin diperlukan sampai organismenya diketahui, dan untuk mencegah resiko penyebaran pada orang lain

2.Pantau suhu secara teratur. Catat munculnya tanda-tanda klinis dari proses infeksi 2.Timbulnya tanda klinis menerus merupakan yang terus dari

indikasi

perkembangan infeksi bakteri yang dapat bertahan sampai berminggu-minggu.

3.Anjurkan untuk melakukan teknik napas dalam

3.Untuk pengeluaran resiko

meningkatkan secret yang

kelancaran menurunkan terhadap

terjadinya

komplikasi

pernapasan 4.Kolaborasi terapi antibiotika IV sesuai indikasi: Penisilin G, ampisilin, Kloramfenikol,gentamisin, amfoterisin B. 4.obat yang dibilih tergantung pada tipe infeksi dan sensifitas individu. Obat intratekal mungkin diindikasikan untuk basilus Gram-negatif,jamur,amuba

2. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis. INTERVENSI RASIONAL

1.Berikan lingkungan yang tenang, ruangan 1.Menurunkan reaksi terhadap stimulasi dari agak gelap sesuai indikasi luar atau sensivitas pada cahaya dan

meningkatkan istirahat atau relaksasi 2.Dukung untuk menemukan posisi yang 2.Menurunkan iritasi meningeal, resultan nyaman, seperti kepala agak tinggi sedikit. 3.Tingkatkan tirah baring, ketidaknyamanan lebih lanjut. gerakan yang dapat

bantulah 3.Menurunkan

kebutuhan perawatan diri yang penting

meningkatkan nyeri relaksasi otot dan

4.Gunakan pelembab yang agak hangat pada 4.meningkatkan nyeri leher/punggung

menurunkan rasa sakikt/rasa tidak nyaman