Anda di halaman 1dari 16

1

RESTRUKTURISASI, RESTRUKTURISASI, RESTRUKTURISASI, RESTRUKTURISASI,


REORGANISASI, DAN LIKUIDASI REORGANISASI, DAN LIKUIDASI REORGANISASI, DAN LIKUIDASI REORGANISASI, DAN LIKUIDASI
MERGER DAN AKUISISI MERGER DAN AKUISISI MERGER DAN AKUISISI MERGER DAN AKUISISI
Materi 14
MERGER DAN AKUISISI
MERGER &
AKUISISI
EKSPANSI
USAHA
INTERN
Menambah Kapasitas Pabrik
Menambah Unit Produksi
Menambah Divisi Baru
dll.
Merger dan Consolidation
Akuisisi
Merger sering dipergunakan untuk menunjukkan penggabungan dua
perusahaan atau lebih, dan kemudian tinggal nama salah satu
perusahaan yang bergabung.
Consolidation menunjukkan penggabungan dari dua perusahaan atau
lebih, dan nama dari perusahaan-perusahaan yang bergabung tersebut
hilang, kemudian muncul nama baru dari perusahaan gabungan.
2
MOTIF MERGER DAN AKUISISI
Mengapa perusahaan bergabung dengan perusahaan lain,
atau membeli perusahaan lain (akuisisi) ?
Alasan yang sering dikemukakan
adalah lebih cepat daripada harus
membangun unit usaha sendiri.
Motif Ekonomi Synergy 2 + 2 = 5
Dubious Diversifikasi
Jumlah earnings
per share (EPS)
3
CONTOH:
PT. A merencanakan akan mengakuisisi PT. B. Data kedua
perusahaan tersebut adalah sebagai berikut:
Keterangan PT. A PT. B
1. EPS
2. Harga per lembar saham
3. PER
4. Jumlah Lembar Saham
5. Laba setelah pajak
6. Nilai pasar equity
Rp 1.000,00
Rp 10.000,00
10 x
10 juta
Rp 10 miliar
Rp 100 miliar
Rp 1.000,00
Rp 4.000,00
4 x
10 juta
Rp 10 miliar
Rp 40 miliar
Misalkan PT. A dapat membeli PT. B dengan harga seperti saat ini
dengan cara menukar saham, dan diharapkan tidak terjadi
synergy. Bagaimana EPS, harga saham, PER, jumlah lembar, laba
setelah pajak dan nilai equity setelah merger? Apa kesimpulan
yang dapat kita peroleh?
4
Perhitungan akan lebih mudah kalau dimulai dengan menghitung:
(1) Laba setelah pajak = Rp10 miliar + Rp 10 miliar = Rp 20 miliar
(2) Nilai pasar equity = Rp 100 miliar + Rp 40 miliar = Rp 140 miliar
(3) Jumlah lembar saham: 10 juta + (Rp40 miliar/Rp10.000) = 14 juta
lembar.
(4) Sehingga bisa dihitung: EPS, harga saham dan PER. Hasilnya
disajikan dalam tabel berikut ini.
Keterangan PT. A PT. B
PT. A
(setelah merger)
1. EPS
2. Harga per lembar saham
3. PER
4. Jumlah Lembar Saham
5. Laba setelah pajak
6. Nilai pasar equity
Rp 1.000,00
Rp 10.000,00
10 x
10 juta
Rp 10 miliar
Rp 100 miliar
Rp 1.000,00
Rp 4.000,00
4 x
10 juta
Rp 10 miliar
Rp 40 miliar
Rp 1.428,57
Rp 10.000,00
7 x
14 juta
Rp 20 miliar
Rp140 miliar
5
MENAKSIR BIAYA DAN MANFAAT AKUISISI
Analisis dilakukan dengan menggunakan asumsi bahwa pasar
modal adalah efisien. Dengan demikian, maka harga saham yang
tercantum di bursa merupakan harga yang wajar.
Misalkan jumlah lembar saham PT. S sebesar 10.000.000 lembar dengan
harga saat ini sebesar Rp 8.000,00 per lembar. Dengan demikian nilai
equity PT.S adalah Rp8 miliar. Dituliskan menjadi PVs = Rp80 miliar.
Apabila PT.S akan dibeli oleh PT.A (PT.A disebut sebagai acquiring
company dan PT.S disebut acquired company), maka kemungkinan
sekali para pemegang saham PT.S akan meminta harga yang lebih tinggi
dari Rp8.000,00 per lembar. Mengapa? Karena kalau PT.A juga hanya
menawar dengan harga Rp8.000,00, maka pemegang saham PT.S juga
dapat menjual sahamnya ke bursa (atau ke pemodal lain) dan
memperoleh harga yang sama. Misalkan PT.A menawarkan harga
Rp9.000,00 per lembar, maka biaya akuisisi tersebut adalah:
10.000.000 x (Rp9.000 Rp8.000) = Rp 10 miliar
6
Karena itu, PT.A hanya bersedia membayar PT.S dengan harga
Rp10 miliar lebih mahal kalau dengan pembelian tersebut,
diharapkan PT.A akan dapat memperoleh manfaat lebih besar dari
Rp10 miliar. Manfaat ini hanya akan terjadi kalau diharapkan akan
timbul synergy.
Misalkan PT.A adalah perusahaan industri makanan dan
minuman, sedangkan PT.S adalah perusahaan distribusi.
Misalkan diharapkan dari akuisisi tersebut PT.A akan dapat
menghemat biaya distribusi sebesar Rp1.000 juta pada tahun
depan, dan penghematan tersebut diharapkan akan meningkat
sebesar 10% per tahun selamanya (sesuai dengan tingkat inflasi).
Apabila tingkat keuntungan yang dipandang layak adalah 17%,
maka manfaat akuisisi tersebut adalah:
Manfaat = 1.000 juta/(0,17-0,10)
= Rp14,3 miliar
Manfaat positif menunjukkan adanya manfaat ekonomi bagi
peristiwa akuisisi tersebut.
7
Misalkan jumlah lembar saham PT.A adalah 50 juta lembar
@Rp12.000,00. Dengan demikian maka PVA= Rp600 miliar.
Sedangkan gabungan PT.A dan PT.S setelah memperoleh
synergy (PVAS) adalah (Rp600 + Rp14,3 + Rp80) = Rp694,3
miliar.
Manfaat juga bisa dihitung dengan:
Manfaat = PVAS (PVA + PVS)
= 694,3 (600 80)
= Rp 14,30 miliar
Manfaat bersih (NPV) adalah:
NPV = Rp14,3 Rp10,0
= Rp4,30 miliar.
8
SYNERGY
OPERATING SYNERGY
FINANCIAL SYNERGY
Operating Synergy adalah synergy yang dinikmati oleh perusahaan
karena kombinasi dari beberapa operasi sehingga dapat menekan
biaya dan/atau menaikkan penghasilan.
Financial Synergy berasal dari penghematan yang dinikmati
perusahaan yang berasal dari sumber pendanaan (financing). Jenis
synergi ini mungkin diperoleh dari conglomerate merger.
Conglomerate merger merupakan penggabungan perusahaan (bisa
berasal dari akuisisi) dari berbagai jenis kegiatan yang secara
operasional tidak berkaitan satu sama lain.
9
MENAKSIR BIAYA APABILA AKUISISI DILAKUKAN
DENGAN CARA PERTUKARAN SAHAM
Apabila akuisisi dilakukan dengan cara pertukaran saham, maka
pemegang saham perusahaan yang diakuisisi akan menjadi pemegang
saham perusahaan yang mengakuisisi.
Dari contoh di atas, saham PT.S diganti dengan saham PT.A. Dengan
demikian apabila setelah akuisisi diperoleh NPV positif, maka NPV tersebut
akan ikut dinikmati oleh bekas pemegang saham PT.S. Sebaliknya apabila
setelah akuisisi terjadi (NPV negatif), pemegang saham PT.S ikut
menanggungnya.
Apabila saham PT.S dihargai Rp9.000,00 sedangkan 10 juta lembar tersebut
akan diganti saham PT.A, maka PT.A perlu menggantinya dengan jumlah
lembar saham (ingat harga saham PT.A adalah Rp12.000,00 per lembar),
(10 juta x Rp9.000,00)/Rp12.000,00 = 7.500.000 lembar
Jumlah lembar saham yang baru sekarang adalah,
50 juta + 7,5 juta = 57,5 juta
10
Nilai perusahaan setelah merger (PVAS), adalah Rp694,3 miliar. Dengan
demikian harga saham per lembar setelah merger adalah,
Rp694,3 miliar/57,5 juta = Rp12.075 (dibulatkan)
Ini berarti bahwa bagi pemegang saham lama, mereka menikmati
tambahan kemakmuran sebesar Rp75 per lembar, atau secara
keseluruhan,
50 juta x Rp75 = Rp3,75 miliar.
Tambahan kemakmuran pemegang saham baru (bekas PT.S) adalah,
(7,5 juta x Rp12.075) Rp80 miliar = Rp10,55 miliar.
Friendly Merger atau Hostile Takeover ?
11
RESTRUKTURISASI, REORGANISASI,
DAN LIKUIDASI
Restrukturisasi merupakan kegiatan untuk merubah
struktur perusahaan.
Makin membesar
Makin ramping
Merger dan Akuisisi
Penjualan unit-unit kegiatan
(Sell-off)
Pemisahan unit-unit kegiatan
(Spin-off)
Going Private
Leverage buy-out Junk Bonds
12
Reorganisasi
Reorganisasi dalam aspek finansial dilakukan untuk
memperkecil beban finansial yang tetap sifatnya, dengan
asumsi bahwa perusahaan masih mempunyai kemampuan
operasional yang baik.
Apabila biaya operasi variabel sudah lebih besar dari
penghasilan, maka tidak akan cukup diatasi dengan
reorganisasi finansial melainkan perlu dilakukannya
reorganisasi operasional.
Kebutuhan dana yang cukup besar
Dana pihak ketiga Modal sendiri
13
Langkah-langkah yang perlu ditempuh
dalam Reorganisasi Finansial:
1)Menaksir nilai perusahaan
2)Menentukan struktur pendanaan
3)Menentukan nilai sekuritas-sekuritas yang
baru.
Dalam Reorganisasi Finansial sering
dibarengi dengan konsolidasi, yaitu
membuat perusahaan menjadi lebih
ramping secara operasionalnya.
14
Reorganisasi dan konsolidasi dilakukan
dengan cara:
(1) Melakukan penghematan biaya. Pengeluaran-pengeluaran yang
tidak perlu, ditunda atau dibatalkan
(2) Menjual aktiva-aktiva yang tidak diperlukan
(3) Divisi (unit bisnis) yang tidak menguntungkan dihilangkan atau
digabung
(4) Menunda rencana ekspansi sampai situasi dinilai telah
menguntungkan
(5) Memanfaatkan kas yang ada, tidak menambah hutang (kalau dapat
dikurangi dari hasil penjualan aktiva yang tidak diperlukan), dan
menjaga likuiditas. Dalam jangka pendek mungkin sekali
profitabilitas dikorbankan (profitabilitas terpaksa negatif).
15
Likuidasi
Likuidasi ditempuh apabila para kreditur berpendapat bahwa prospek
perusahaan tidak lagi menguntungkan. Kalaupun ditambah modal, atau
merubah kredit menjadi penyertaan, tidak terlihat membaiknya kondisi
perusahaan. Dalam keadaan seperti ini para kreditur mungkin lebih
menyukai untuk meminta perusahaan dilikuidir.
Likuidasi umumnya dilakukan dengan prioritas sebagai berikut:
1) Kewajiban terhadap para karyawan (hutang upah dan gaji) dipenuhi terlebih
dahulu.
2) Kewajiban terhadap pemerintah (hutang pajak) dipenuhi.
3) Aktiva-aktiva yang diagunkan dijual dan dipakai untuk melunasi hutang yang
dijamin dengan agunan tersebut. Apabila hasil penjualan aktiva tersebut
mencukupi, maka sisanya dapat dipergunakan untuk melunasi kredit umum.
Sebaliknya apabila tidak mencukupi, kekurangannya menjadi kredit umum.
16