Anda di halaman 1dari 5

BAB V

HASIL PENELITIAN
5.1 Hasil Penelitian
1). Tabel Formula















2). Perhitungan bahan
1 tube = 10 gram
1 batch = 10 tube

a) Hdirokortison
Penggunaan hidrokortison dalam formula sebesar 1%
1 tube =


1 batch =

b) TEA
Penggunaan TEA dalam formula sebesar 1.72%
1 tube =


1 batch = 0



Bahan Kegunaan Kadar
Hidrokortison Bahan 1%
Asam stearat Emulglator 6.04%
TEA Emolglator 1.72%
BHT Anitoksidan 0.04%
Nipagin Pengawet 0.17%
Nipasol Pengawet 0.05%
Propilen Glikol Humectan, cosolvent 8%
Cetyl alcohol
Emollient, pembentuk
basis
1.72%
Paraffin liquid Stiffening agent 22.76%
Aquades Pelarut 58.5 mL


c) Asam Stearat
Penggunaan Asam Stearat dalam formula sebesar 6.04%
1 tube =


1 tube =

d) Propilen Glicol
Penggunaan Propilen Glikol dalam formula sebesar 8%
1 tube =


1 batch =

e) Cetyl alcohol
Penggunaan Cetyl alcohol dalam formula sebesar 4.9%
1 tube =


1 batch =

f) Nipasol
Penggunaan nipasol dalam formula sebesar 0.05%
1 tube =


1 batch =
Propilen glikol untuk melarutkan nipasol
Kelarutan nipasol dalam propilen glikol yaitu 1/3.9 bagian






g) Nipagin
Penggunaan nipagin dalam formula sebesar 0.17%
1 tube =


1 batch =
Propilen glikol untuk melarutkannipagin
Kelarutan nipagin dalam propilen glikol yaitu 1/5 bagian












h) BHT
Penggunaan BHT dalam formula sebesar 0.04%
1 tube =


1 batch =

i) Paraffin Liquid
Penggunaan Paraffin liquid dalam formula sebesar 22.76%
1 tube =


1 batch =

j) Aquades
Sisa aquades = 100 mL (total bahan)
( )

3). Spesifikasi perwujudan warna, konsistensi, bau, pH, viskositas dan daya sebar
No. Tahapan Perlakuan Hasil
1.



2.
3.
4.
Organoleptis
a. Warna
b. Konsistensi
c. Bau / Aroma
pH
Viskositas
Daya sebar

Putih
Krim
Tidak berbau
-
-
-

5.2. Analisis Hasil Penelitian
Pada pembuatan krim hidrokortison fase minyak yang digunakan yaitu asam
stearate, cetyl alcohol dan paraffin liquid dicampur terlebih dahulu sampai homogen,
dengan cara dilebur pada suhu 70 derajat celcius. Fase minyak dicampurkan dengan
BHT yang telah dilarutkan dengan sebagian paraffin cair. Selanjutnya dibuat fase air
dengan cara dipanaskan air hingga suhu 90 derajat celcius lalu dilarutkan TEA, pada
suhu yang sama ditambahkan nipagin dan nipasol yang telah dilarutkan dalam PG
pada suhu 65-70 derajat celcius. Fase minyak dan fase air dicampurkan pada suhu
yang sama yaitu pada suhu 70 derajat celcius, dimixer hingga terbentuk basisi krim.


Kemudian basis krim ditambahkan dengan hidrokortison yang telah dilarutkan
dengan PG pada suhu 65-70 derajat celcius, dimixer hingga homogen.
Dalam fase minyak digunakan asam stearat, paraffin liquid dan cetil alkohol.
Asam staearat digunakan sebagai basis dalam formula krim hidrokortison karena
asam stearat menghasilkan basis yang stabil dan akan lebih stabil jika ditambahkan
dengan antioksidan. Dalam formula krim hidrokortison ini antioksidan yang
digunakan yaitu BHT karena lebih aman dari BHA yang dapat menyebabkan kanker,
harga BHT relative lebih murah dari BHA dan memiliki sifat dan efek antioksidan
yang serupa dengan BHA. Parraffin liquid digunakan karena dapat membentuk
massa krim yang diinginkan agar krim tidak terlalu padat, selain itu Parraffin liquid
tidak berwarna atau berwarna putih dan tidak berbau sehingga tidak mempengaruhi
warna dan bau krim serat berfungsi sebagai pembantu dalam penetrasi zat aktif
kedalam kulit. Cetyl alcohol digunakan karena selain berfungsi sebagai emollient
juga dapat membantu dalam membentuk massa krim agar krim yang dihasilkan tidak
encer, dan memiliki bau khas yang samar sehingga tidak mempengaruhi bau krim
yang dihasilkan.
Dalam fase air digunakan aquades, TEA, nipasol, nipagin dan propilen glikol.
TEA digunakan dalam formulasi krim ini karena selain brfungsi sebagai zat
pengemulsi air dan minyak, TEA juga dapat larut dalam air sehingga tidak
memerlukan cosolvent. Nipagin bakterdan nipasol jamur degunakan karena, nipagin
berfungsi sebagai antibakteri dan nipasol antifungi sehingga menghasilkan efek
pengawet yang maksimal atau saliung melengkapi. Nipagin dan nipasol aman
terhadapt kulit dan dapat mengobati dermatitis. Sedangkan propilen glikol digunakan
karena sebagai cosolvent dari hidrokortison, nipagin dan nipasol, selain itu stabil jika
dicampurkan dengan air.
Krim yang dihasilkan hanya dilakukan evaluasi organoleptis saja. Evaluasi
organoleptis dilakukan dengan cara mengamati sediaan krim tersebut dengan dilihat
bentuk/konsistensi, warna, dan bau dari sediaan krim hidrokortison. Evaluasi ini
dilakukan agar mengetahui sediaan yang dibuat sesuai dengan standar krim yang ada,
dalam arti sediaan krim tersebut stabil dan tidak menyimpang dari standar krim. Dari
percobaan diperoleh organoleptisnya yang terdiri dari warna, konsistensi dan aroma.


Warna yang dihasilkan berwarna putih, konsistensi atau berbentuk setengah padat dan
tidak berbau. Dari hasil pengujian krim memenuhi spesifikasi yang hidarapkan.
Dalam pengujian sediaan krim seharusnya dilakukan pengujian pH, viskositas,
dan daya sebar. Pengujian pH untuk mengetahui apakah sediaan sudah memenuhi pH
kulit atau belum, karena kulit mudah teriritasi jika pH terlalu rendah atau
menyebabkan kemerah merahan pada kulit, sedangkan bila pH terlalu tinggi atau basa
kulit akan terlihat kering dan dapat merusak pori-pori kulit. Pengujian viskositas
untuk mengetahui kemudahan krim untuk dituang atau dikeluarkan dari wadahnya.
Sedangkan pengujian daya sebar untuk mengetahui kemampuan krim menyebar pada
kulit saat digunakan.