Anda di halaman 1dari 41

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Mioma uteri merupakan tumor pelvis yang terbanyak pada organ reproduksi
wanita. Jarang sekali ditemukan pada wanita berumur 20 tahun dan belum pernah
(dilaporkan) terjadi sebelum menarche, paling banyak ditemukan pada wanita
berumur 35-45 tahun (proporsi 25%). Setelah menopause hanya kira-kira 10%
mioma masih tumbuh. Proporsi mioma uteri pada masa reproduksi 20-25%.
Penelitian di Jepang tahun 2008 menemukan insidens rates mioma uteri lebih
tinggi pada wanita subur yaitu 104 per seribu wanita belum menopause dan 12
per seribu wanita menopause (Nisizhawa, 2008). Mioma uteri lebih banyak
ditemukan pada wanita berkulit hitam, karena wanita berkulit hitam memiliki
lebih banyak hormon estrogen dibanding wanita kulit putih. Pernah ditemukan
200 sarang mioma dalam satu uterus pada wanita kulit hitam, dimana biasanya
hanya 5-20 sarang saja (Schwartz, 2001).
Berdasarkan otopsi, ditemukan 27% wanita berumur 25 tahun mempunyai
sarangmioma, pada wanita berkulit hitam ditemukan lebih banyak. Mioma uteri belum pernah
dilaporkanterjadi sebelum menarche (Novak, 1961). Setelah menopause hanya
kira-kira 10% mioma yang masih tumbuh. Di Indonesia mioma uteri ditemukan
2,39-11,7% pada semua pederita ginekologi yang dirawat. Tumor ini paling
sering ditemukan pada usia 35 45 tahun (25%) dan jarang pada usia 20tahun
dan usia menopause. Wanita yang lebih sering melahirkan akan lebih sedikit
kemungkinanuntuk berkembangnya mioma ini dibandingkan dengan wanita yang
tidak pernah hamil atau yanghanya satu kali hamil (Prawirohardjo, 2007).
Kista ovarium merupakan suatu pengumpulan cairan yang terjadi pada indung
telur (ovarium). Cairan ini dapat terkumpul dan dibungkus oleh semacam kapsul
yang terbentuk dari lapisan terluar ovarium. Kista ovarium adalah kantung berisi
cairan yangterdapat pada ovarium.Angka kejadian kista ovarium di dunia yaitu
7% dari populasiwanita, dan 85% bersifat jinak. Sedangkan angka kejadian di
Indonesia tidak diketaui secara pasti dikarenakan pencatatan kasus yang
kurang baik. Namun, diperkirakan prevalensi kista ovarium sebesar 60%
dariseluruh kasus gangguan ovarium. (Wiknjosastro et.al, 2009).
Penyebab kematian terbesar diseluruh kanker ginekologi adalah kista
ovarium, mewakili seperempat dari semua keganasan ginekologi. Oleh karena itu,
untuk meminimalisir angka morbiditas dan mortalitas dilakukan upaya preventif
untuk menekan seminim mungkin kista ovarium yang dapat berlanjut pada kanker
ovarium (Hacker dan Moore, 2001).






















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Anatomi Uterus
Uterus merupakan salah satu organ reproduksi yang berbentuk seperti buah
peer. Ukuran panjang uterus adalah 7-7,5 cm, lebar 5,25 cm dan tebal 2,5 cm.
Uterus terdiri dari atas korpus uteri (2/3 bagian atas) dan serviks uteri (1/3 bagian
bawah). Di dalam korpus uteri terdapat rongga (cavum uteri), yang membuka
keluar melalui saluran (kanalis servikalis) yang terletak di serviks. Bagian bawah
serviks yang terletak di vagina dinamakan porsio uteri (pars vaginalis servisis
uteri), sedangkan yang berada diatas vagina disebut pars supravaginalis servisis
uteri. Antara korpus dan serviks masih ada bagian yang disebut isthmus uteri.
Bagian atas uterus disebut sebagai fundus uteri, dibagian tersebut tuba falopii
kanan dan kiri masuk ke dalam uterus (Prawirohardjo, 2007).
Lapisan uterus dari luar ke dalam adalah serosa (lapisan peritoneum
viscerale/perimetrium) myometrium dan endometrium. Dinding uterus terdiri
atas, myometrium yang merupakan otot polos berlapis tiga yang sebelah luar
longitudinal, sebelah dalam sirkuler dan antara kedua lapisan ini berbentuk
anyaman. Myometrium dalam keseluruhannya dapat berkontraksi dan
berelaksasi. Kavum uteri dilapisis oleh selaput berlendir yang disebut
endometrium. Endometrium ini terdiri atas epitel kubik, kelenjar-kelenjar dan
stroma dengan banyak pembuluh darah yang berlekuk-lekuk. Di korpus uteri
endometrium licin namun di serviks uteri endometrium akan berkelok-kelok,
kelenjar-kelenjar tersebut akan bermuara di kanalis servikalis. Pertumbuhan dan
fungsi endometrium dipengaruhi oleh hormone steroid ovarium. Uterus
mendapat perdarahan dari arteri uterina, cabang dari arteri iliaka interna, dan
arteri ovarika (Prawirohardjo, 2007).

B. Fisiologi Estrogen
Estrogen merupakan hormone steroid dengan 10 atom C dan dibentuk
terutama dari 17-ketosteroid androstendion. Estrogen alamiah terpenting adalah
estradiol (E2), ESTRON (E1) dan estriol (E3). Secara biologuis estrasdiol yang
paling aktif. Perbandingan khasiat biologis dari ketiga hormone tersebut
E2:E1:E3 = 10:5:1. Selain di ovarium estrogen juga disintesis di dalam adrenal,
plasenta, testis, jaringan lemak, dan susunan sarf pusat (Prawirohardjo, 2007).
Estrogen yang dihasilkan oeh adrenal adalah estrogen residu.
Metabolismenya terutama melalui esterifikasi ke glukoronida atau sulfide dan
pengeluarannya melalui tinja. Pada organ sasaran seperti uterus, vagina, serviks,
dan payudara maupun pada hipofisis, hipotalamus, estrogen diikat oleh reseptor
yang terdapat di dalam sitoplasma dan di angkut ke inti sel. Pada endometrium
estradiol memicu proliferasi endometrium dan memperkuat kontraksi otot uterus.
Pada serviks sebagai sawar (barrier) yang menghalangi masuknya spermatozoa
ke dalam uterus getah serviks yang kental. Produksi estradiol yang meningkat
pada fase folikuler akan meninggikan sekresi getah serviks dan mengubah
konsentrasi getah serviks pada saat ovulasi menjadi encer dan bening sehingga
memudahkan penyesuaian perjalanan spermatozoa dan meningkatkan
kelangsungan hidup spermatozoa. Getah serviks dengan estradiol yang tinggi ini
memiliki kemampuan untuk membenang dan berbentuk seperti daun pakis dan
hal ini digunakan sebagai diagnostic untuk penanda adanya estrogen pada getah
serviks tersebut (Prawirohardjo, 2007).
Pada vagina estradiol berfungsi meningkatkan produksi getah dan
meningkatkan kadar glikogen sehingga terjadi peningkatan asam laktat oleh
bakteri Doderlein. Nilai pH menjadi rendah dan mengurangi resiko terjadinya
infeksi. Pada ovarium estradiol memicu sintesis reseptor FSH di dalam sel-sel
granula dan reseptor LH pada sel-sel teka. Estradiol juga berfungsi mengatur
kecepatan pengeluaran ovum dan mempersiapkan spermatozoa dalam genitalia
wanita agar dapat menembus selubung ovum (Prawirohardjo, 2007).




C. Mioma Uteri
a. Definisi
Merupakan neoplasama jinak yang berasal dari otot uterus dan
jaringan ikat yang menumpangnya dalam kepustakaan disebut juga dengan
istilah fibromioma, leiomioma dan fibroid (Prawirohardjo, 2007).

b. Patogenesis
Meyer dan De Snoo mengajukan teori Cell nest atau teori genitoblast.
Percobaan lipschutz yang memberikan estrogen kepada kelinci percobaan
ternyata menimbulkan tumor fibrimatosa baik pada permukaan maupun pada
tempat lain dalam abdomen. Efek fibrimatosa ini dapat dicegah dengan
pemberian progresteron atau testosterone. Pukka dan kawan-kawan
menyatakan bahwa reseptor estrogen pada mioma lebih banyak di dapati pada
miometrium normal. Menurut meyer asal mioma adalah sel imatur, bukan dari
selaput otot yang matur (Prawirohardjo, 2007).
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mioma uteri:
1. Estrogen
Estrogen memegang peranan penting untuk terjadinya mioma uteri,
hal ini dikaitkan dengan : mioma tidak pernah ditemukan sebelum
menache, banyak ditemukan pada masa reproduksi, pertumbuhan mioma
lebih cepat pada wanita hamil dan akan mengecil pada wanita menopause.
Meyer dan De Snoo mengajukan teori Cell Nest atau genitoblast, teori ini
menyatakan bahwa terjadinya mioma uterus harus terdapat dua komponen
penting, yaitu sel nest (sel muda yang terangsang) dan estrogeng
(perangsang sel nest secara terus menerus). Percobaan Lipschutz yang
memberikan estrogen pada kelinci percobaan menimbulkan tumor
fibromatosa baik pada permukaan maupun pada tempat lain di abdomen.
Pukka, menyatakan bahwa reseptor estrogen pada mioma lebih banyak
didapatkan dari pada miometrium normal.
Hormon estrogen dapat diperoleh melalui alat konttrasepsi hormonal
(pil KB, Suntik KB dan Susuk KB). Alat kontrasepsi hormonal
mengandung estrogen, progesterone dan kombinasi estrogen dan
progesterone.
2. Progesteron
Progeteron merupakan antagonis natural dari estrogen. Progesteron
akan menghambat pertumbuhan tumor dengan dua cara yaitu
mengaktifkan 17 hidroxydehidrogenase dan menurunkan jumlah
estrogen pada tumor. Pemberian progesterone dan testosterone dapat
mencegah efek fibromatosa.

c. Fakto Resiko
1. Umur
Risiko mioma uteri meningkat seiring dengan meningkatnya umur.
Kasus mioma uteri banyak terjadi pada kelompok umur 40-49 tahun.
Mioma uteri akan menimbulkan gejala saat umur 40an. Mioma uteri
jarang ditemukan pada wanita dengan umur 20 tahun, premenache serta
setelah menopause.
2. Ras dan Genetik
Kejadian mioma uteri lebih sering pada ras Afrika-Amerika (kulit
hitam) jika dibandingkan dengan ras kaukasia. Wanita berkulit hitam
cenderung sering mengalami mioma uteri dibandingkan dengan wanita
berkulit putih. Kejadian mioma juga tinggi pada wanita dengan riwayat
keluarga yang menderita mioma uteri.
3. Paritas
Mioma uteri lebih sering terjadi pada nulipara atau wanita yang kurang
subur. Hal ini berhubungan dengan hormonal. Wanita yan memiliki parita
tinggi resiko untuk terkena mioma uteri berkurang karena reseptor
estrogen akan barkurang di lapisan miometrium setelah melahirkan.

4. Diet/Makanan
Makanan yang berkolesterol seperti daging akan meningkatkan resiko
terjadinya mioma uteri. Namun makanan seperti sayur0sayuran serta
buah-buahan yang berserat tinggi akan mengurangi resiko terjadinya
mioma uteri.
5. Obesitas
Obesitas merupaka salah satu pemicu terjadinya mioma uteri hal ini
disebabkan karena pada orang dengan obesitas terjadi peningkatan
konversi androgen adrenal kepada estrogen. Sehingga terjadi peningakatan
estrogen yang memicu perkembangan mioma uteri.
6. Menarche dini
Menarche dini (< 10 tahun) berisiko meningkatkan angka terjadinya
mioma uteri.
7. Status Haid
Mioma uteri sering terjadi pada usia 35-45 yang masih mengalami
haid, dan berkurang setelah menopause. Hal ini terjadi karena hormone
estrogen yang masih dihasilkan oleh tubuh.

d. Klasifikasi
Menurut letaknya mioma dapat di bagi menjadi 3 (Prawirohardjo, 2007) :
1. Mioma submukosum : berada dibawah endometrium dan menonjol ke
dalam rongga uterus. Mioma ini dapat tumbuh bertangkai menjadi polip,
kemudian dilahirkan melalui saluran serviks (myomgeburt).
2. Mioma intramural : mioma terdapat di dinding uterus di antara serabut
miometrium.
3. Mioma subserosum : tumbuh keluar dinding uterus sehingga menonjol
pada permukaan uterus, diliputi oleh serosa. Mioma subserosum dapat
tumbuh di antara kedua lapisan ligamentum latum menjadi mioma uteri
ligamenter. Mioma subserosum dapat pula tumbuh menempel pada
jaringan lain misalnya ke ligamentum atau omentum dan kemudian
membebaskan diri dari uterus sehingga disebut wandering/parasitic
fibroid.











e. Gejala dan tanda
Hampir separuh kasus mioma uteri ditemukan secara kebetulan pada
pemeriksaan ginekologik karena tumor ini tidak mengganggu. Gejala yang
dikeluhkan sangat tergantung pada tempat sarang mioma ini berada (serviks,
intramural, submukus, subserus), besarnya tumor, perubahan, dan komplikasi
yang terjadi. Gejala tersebut dapat digolongkan sebagai berikut
(Prawirohardjo, 2007).
Perdarahan abnormal, gangguan perdarahan yang terjadi umumnya
adalah hipermenore, menoragia, dan juga dapat metroragia. Beberapa faktor
yang menjadi penyebab perdarahan ini :
a. Pengaruh ovarium sehingga terjadilah hyperplasia endometrium sampe
adenokarsinoma endometrium.
b. Permukaan endometrium yang lebih luas dari pada biasa
c. Atrofi endometrium diatas mioma submukosum
d. Miometrium tidak dapat berkontraksi optimal karena adanya sarang
mioma diantara serabut miometrium, sehingga tidak dapat menjepit
pembuluh darah yang melaluinya dengan baik.
Rasa nyeri, merupakan salah satu gejala dari mioma uteri namun tidak
khas. Rasa nyeri ini dapat terjadi karena gangguan sirkulasi darah pada sarang
mioma yang disrtai nekrosis dan perdangan. Pada mioma submukosum yang
dilahirkan melalui serviks, pertumbuhannya akan menyempitkan canalis
servikalis dapat menyebabkan dismenore (Prawirohardjo, 2007).
Gejala dan tanda penekanan. Gangguan ini tergantung dari besar dan
tempat mioma uteri. Penekanan pada kandung kemih akakn memnyebabkan
poliuri, pada uretra dapat menyebabkan retensio urine, pada ureter dapat
menyebabkan hidroureter dan hidronefrosis. Penekanan pada rectum dapat
menyebabkan obstipasi dan tenesmia. Penekanan pada pembuluh darah dan
limfe pada panggul dapat menyebabkan edem tungkai dan nyeri panggul
(Prawirohardjo, 2007).
Infetilitas dan abortus dapat terjadi apabila sarang mioma menutup
atau menekan pars intersisial tuba, sedangkan pada mioma submukosum akan
memudahkan terjadinya abortus oleh karena distorsi rongga uterus. Apabila
penyebab lain infertile sudah dapat disingkirkan dan mioma merupakan
penyebab infertilitas tersebut, maka suatu indikasi untuk dilakukan
miomektomi (Prawirohardjo, 2007).

e. Diagnosis
Seringkali penderita mengeluh adanya rasa berat dan benjola pada
perut bagian bawah. Perlu dilakukan pemeriksaan bimanual untuk bisa
mengungkapkan tumor uterus yang umumnya terletak di garis tengah atau di
samping. Seringkali teraba berbenjol-benjol. Jika mioma intramural maka
perlu dilakukan pemeriksaan dengan uterus sonde. Untuk menyingkirkan
diagnosis banding maka perlu dilakukan usg abdominal maupun transvaginal
agar dapat menegakkan diagnosis.
f. Pengobatan
Dalam dekade terakhir udaha untuk mengobati mioma uteri yaitu
dengan mengunakan GnRH agomist (GnRHa). Hal ini disebabkan karena
leiomioma uterus terdiri atas sel-sel otot uterus yang diperkirakan dipengaruhi
oleh estrogen. GnRHa yang mengatur reseptor gonadotropin di hipofisis akan
mengurangi sekresi gonadotropin yang berpengaruh ke leiomioma. GnRHa ini
jika diberikan selama 16 minggu akan membentuk degenerasi hialin di
miometrium sehingga uterus akan mengecil. Namun jika terapi GnRHa
dihentikan maka leiomioma akan dapat tumbuh kembali oleh karena reseptor
esterogen masih tinggi di miometrium. Pada penderita mioma uteri umunya
akan mengalami keterlambatan menopause (Prawirohardjo, 2007).
Apabila mioma sudah menimbulkan gangguan atau keluhan maka
dapat dilakukan tindakan operatif seperti miomektomi yaitu pengangkatan
sarang mioma saja tanpa pengangkatan uterus, sedangkan pada mioma geburt
dapat dilakukan extirpasi melalui vagina. Sedangkan tindakan histerektomi
total dilakukan untuk mencegah terjadinya karsinoma servisis uteri. Tindakan
histerektomi dapat dilakukan secara perabdominal maupun pervaginam.
Histerektomi supravaginal dapat dilakukan jika terjadi kesulitan dalam
pengankatan uterus keseluruhannya. Radioterapi dilakukan apabila terjadi
kontraindikasi pada tindakan operatif dan tidak terjadi keganasan pada uterus
(Prawirohardjo, 2007).

D. Kista Ovarium
a. Definisi
Kista ovarium adalah tumor ovarium yang bersifat neoplastik dan non
neoplastik. (Wiknjosastro, 2005)

b. Etiologi
Pertumbuhan kista ovarium berhubungan dengan stimulasi oleh
hormone gonadotropin, yaitu FSH dan LH. Adanya iritasi juga merupakan
pencetus tumbuhnya kista. Selain itu, dapat juga disebabkan oleh adanya
transformasi dari sel-sel ovarium (Cunningham, 2004; Wiknjosastro, 2005;
Moeloek, 2003).

c. Klasifikasi
Diantara tumor-tumor ovarium ada yang bersifat neoplastik dan non
neoplastik. Tumor neoplastik dibagi atas tumor jinak dan ganas, dan tumor
jinak dibagi dalam tumor kistik dan solid (Cunningham, 2004; Wiknjosastro,
2005; Moeloek, 2003).
1. Non-neoplastik (fungsional)
a. Kista folikular
Kista folikular merupakan jenis tumor ovarium jinak yang
paling banyak dijumpai. Kista ini merupakan folikel yang tidak ruptur.
Kista ini menghilang secara spontan dan umumnya memiliki ukuran
bervariasi antara 3 - 8 cm. Pemindaian serial dapat mengkonfirmasi
resolusi dari kista ini (Stoppler, 2010; Wiknjosastro, 2005).
b. Kista teka lutein
Kista teka lutein timbul karena adanya peningkatan
gonadotropin korionik. Kista dapat mengalami regresi beberapa bulan
setelah melahirkan. Karena ukuran yang besar maka pada saat
melakukuan salfingo-ooforektomi harus dilakukan frozen section
untuk menyingkirkan kemungkinan keganasan. Kista ini biasanya
bilateral dan berisi cairan berwarna jernih. Keluhan abdominal tidak
begitu nyata, meskipun terkadang dijumpai keluhan nyeri panggul.
Ruptur kista sering terjadi sehingga menyebabkan perdarahan
intraperitoneal. Kista ini dapat sembuh secara spontan setelah terapi
kehamilan mola maupun setelah penghentian pengobatan yang
menyeabkan terjadinya kista ini (Stoppler, 2010; Wiknjosastro, 2005).


c. Kista Korpus Luteum
Pada kondisi normal korpus luteum mengalami degenerasi
setelah ovulasi, namun dapat menetap, dan kadang-kadang disertai
perdarahan internal. Kista korpus luteum berbentuk unilokular dengan
ukuran bervariasi antara 3 11 cm. Kista ini disebabkan karena
terjadinya penumpukan hasil cairan hasil resorpsi darah yang berasal
dari perubahan korpus hemoragikum menjadi korpus luteum(Stoppler,
2010; Wiknjosastro, 2005).
Pada ovulasi yang normal, sel-sel granulosa yang melapisi
folikel mengalami luteinisasi. Pada tahap vaskularisasi, darah akan
terkumpul di bagian sentral membentuk korpus hemoragikum. Darah
tersebut akan diresorpsi dan terbentuk korpus luteum, bila ukuran
korpus luteum lebih dari 3 cm disebut kista. Kista korpus luteum yang
dapat menimbulkan nyeri lokal dan amenore sehingga secara klinis
kadang sulit dibedakan dengan kehamilan ektopik. Kista korpus
luteum dapat menimbulkan torsi maupun ruptur sehingga
menimbulkan rasa nyeri yang hebat(Stoppler, 2010; Wiknjosastro,
2005).
2. Neoplastik jinak
a. Kistik
1) Kistoma Ovarii Simpleks
Kista ini mempunyai permukaan rata dan halus, biasanya
bertangkai, seringkali bilateral, dan dapat menjadi besar. Dinding
kista tipis dan cairan dalam kista jernih, serous, dan berwarna
kuning. Berhubung dengan adanya tangkai, maka dapat terjadi torsi
(putaran tangkai) dengan gejala-gejala mendadak (Cunningham,
2004; Wiknjosastro, 2005; Moeloek, 2003).
2) Kistadenoma Ovarii Musinosum
Asal tumor ini belum diketahui dengan pasti. Tumor ini
mungkin muncul sebagai tumor unilateral kista teratoma atau
sebagai metaplasia mucinosum dari mesothelium. Tumor
mucinous yang berasal dari teratoid ditemukan pada penderia yang
muda (Wiknjosastro, 2005; Moeloek, 2003; Mansjoer, 2000).
Paling sering pada wanita berusia antara 20-50 tahun dan
jarang sekali pada masa pra pubertas. Tumor ovarium ini
terbanyak ditemukan bersama-sama dengan kistadenoma ovarii
serosum. Kedua tumor ini merupakan kira-kira 60% dari seluruh
ovarium, sedang kistadenoma ovaii musinosum nerupakan 40%
dari seluruh kelompok neoplasma ovarium. Kista ini biasanya
mempunyai dinding yang licin, permukaan berbagala (lobulated)
dan umumnya multitokular dan odematosa; lokular yang
mengandung niukosa ini kelihatan biru dari peregangan kapsulnya
(Wiknjosastro, 2005; Moeloek, 2003; Mansjoer, 2000).
3) Kistadenoama Ovarii Serosum
Kista ini ditemukan dalam frekwensi yang hampir sama
dengan kistadenoma musinosum dan dijumpai pada golongan
umur yang sama. Kista ini sering ditemukan bilateral (10-20%)
daripada kistadenoma musinosum. Tumor serosa dapat membesar
sehingga memenuhi ruang abdomen, tetapi lebih kecil dibanding
dengan ukuran kistadenoma musinosum. Permukaan tumor
biasanya licin, tetapi dapat juga lobulated karena kista serosum
pun dapat berbentuk multikolur, meskipun lazimnya berongga
satu. Warna kista putih keabuan. Ciri khas dari kista ini adalah
potensi pertumbuhan papiler ke dalam rongga kista sebesar 50%
dan keluar pada permukaan kista sebesar 5%. Isi kista cair, kuning
dan kadang-kadang coklat karena bercampur darah. Tidak jarang,
kistanya sendiri kecil, tetapi permukaannya penuh dengan
pertumbuhan papiler (solid papiloma) (Cunningham, 2004;
Wiknjosastro, 2005; Moeloek, 2003).

4) Kista Endometrioid
Kista ini biasanya unilateral dengan permukaan licin; pada
dinding dalam terdapat satu lapisan sel-sel, yang menyerupai
lapisan epitel endometrium. Kista ini yang ditemukan oleh
Sartesson pada tahun 1969, tidak ada hubungannva dengan
endometriosis ovarii (Cunningham, 2004; Wiknjosastro, 2005;
Moeloek, 2003).
5) Kista Dermoid
Tumor ini merupakan 10% dan seluruh neoplasma ovarium
yang kistik, dan paling sering ditemukan pada wanita yang masih
muda. 25% dari semua kista dermoid bilateral, lazimnya dijumpai
pada masa reproduksi walaupun dapat ditemukan pada anak kecil.
Tumor ini dapat mencapai ukuran sangat besar, sehingga beratnya
mencapai beberapa kilogram. Kista ini tidak mempunyai cirri
yang khas. Dinding kista kelihatan putih keabuan dan agak tipis.
Konsistensi tumor sebagian kistik kenyal, di bagian lain padat.
Dapat ditemukan kulit, rambut kelenjer sebasea, gigi (ektodermal),
tulang rawan, serat otot jaringan ikat (mesodemal) dan mukosa
traktus gastrointotinelis, epitel saluran kista terdapat produk
kelenjar sebasea berupa massa lembek seperti lemak, bercampur
dengan rambut (Cunningham, 2004; Wiknjosastro, 2005;
Moeloek, 2003).
b. Solid
Semua tumor ovarium yang padat adalah neoplasma, tetapi
tidak berarti bahwa semuanya neoplasma ganas, meskipun semuanya
memunyai potensi maligna (Wiknjosastro, 2005; Moeloek, 2003).
1) Fibroma ovarii
Potensi menjadi ganas sangat rendah pada fibroma
ovarium, kurang dari 1%. Fibroma ovarii berasal dari elemen
fibroblastik stroma ovarium atau sel mesenkim yang multipoten.
Tumor ini merupakan 5% dari semua neoplasma ovarium dan
paling sering ditemukan pada penderita menopause. Tumor ini
mencapai diameter 2 sampai 30 cm; dan beratnya 20 kg, dengan
90% uniteral. Permukaan tidak rata, konsistensi keras, warnanya
merah jambu keabuan. Apabila konsistensi sangat padat disebut
fibromadurum, dan apabila lunak disebut fibroma molle.
Neoplasma ini terdiri atas jaringan ikat dengan sel-sel di tengah
jaringan kolagen. Apabila terdiri atas kelenjar-kelenjar kistik,
maka disebut kistadenofroma ovarii. Fibroma ovarii yang besar
biasanya mempunyai tangkai dan dapat terjadi torsi. Pada tumor
ini sering ditemukan sindroma Meigs (tumor ovarii, ascites,
hidrotoraks) (Wiknjosastro, 2005; Moeloek, 2003).
2) Tumor Brenner
Merupakan suatu neoplasma ovarium yang sangat jarang
ditemukan, biasanya pada wanita dekat atau sesudah menopause.
Frekuensinya 0,5% dari semua tumor ovarium. Besar tumor ini
beraneka ragam, dari sangat kecil ke yang beratnya beberapa
kilogram. Lazimnya tumor ini unilateral. Pada pembelahan
berwarna kuning muda seperti fibroma, dengan kista-kista kecil.
Kadang-kadang pada tumor ini temukan sindroma Meigs. Gambar
mikroskopis tumor ini sangat khas, terdiri dari 2 elemen, yakni
sarang-sarang yang terdiri atas epitel epitel, yang dikelilingi
jaringan ikat yang luas dan padat. Tumor Brenner tidak
menimbulkan gejala-gejala klinik yang khas, dan jika masih kecil,
biasanya ditemukan secara kebetulan pada pemeriksaan
histopatologik ovarium. Meskipun biasanya jinak, dalam beberapa
kasus tumor ini menunjukkan keganasan pada histopatologi dan
klinisnya.

3) Maskulinovoblastoma (adrenal cell rest tumor)
Tumor ini sangat jarang terjadi. Biasanya unilateral dan
besarnya bervariasi antara 0,5-16 cm. Beberapa dari tumor ini
menyebabkan gejala maskulinasi, terdiri atau hirsutisme,
pembesaran klitoris, atrofi memmae, dan perubahan suara.

d. Gejala Klinis
Gejala umum termasuk nyeri panggul bawah sebelah atau nyeri perut
bawah, sering menjalar ke belakang. Kista juga dapat membuat siklus haid
terasa sangat nyeri. Nyeri biasanya meningkat dengan coitus, sehingga sering
dikira pelvic inflammatory disease. Mual bisa juga terjadi. Pada sebagian
besar kasus, nyeri berkurang dalam 3 hari. Pada sebagian kasus serius, ruptur
kista ovarium dapat berakibat perdarahan internal yang pasti, yang
bermanifestasi dengan tanda dan gejala syok, dan/atau perdarahan vagina
yang berat. Kista juga dapat menekan sistem urinarius dan menyebabkan
masalah aliran urine (Wiknjosastro, 2005).
Pada sekitar 50% kasus, tumor didapat secara tidak sengaja melalui
pemeriksaan. Bagaimanapun pasien dapat mengalami berbagai macam gejala,
seperti nyeri perut, distensi abdomen, perdarahan abnormal, gejala urinari,
atau infertilitas primer (Addar, 1999).

e. Patofisiologi
Setiap bulan, secara normal, ovum yang berfungsi berkembang
menjadi kista kecil yang disebut folikel Grafian. Pada pertengahan siklus,
folikel dominan tunggal membesar menjadi ukuran diameter sekitar 2.8 cm
yang melepaskan oosit matur. Folikel yang ruptur menjadi korpus luteum,
yang pada maturitasnya, strukturnya 1,5 2 cm dengan pusat kista. Pada
keadaan tidak adanya fertilisasi pada oosit, folikel mengalami fibrosis dan
pengerutan progresif. Jika fertilisasi terjadi, korpus luteum awalnya membesar
dan kemudian secara perlahan ukurannya berkurang selama kehamilan (Helm,
2010).
Kista ovarium timbul pada proses ovulasi normal yang disebut kista
ovarium fungsional dan selalu jinak. Kista ovarium fungsional berupa kista
folikuler dan kista luteal, kadang-kadang disebut kista teka lutein. Kista ini
dapat distimulasi oleh hormon gonadotropin, termasuk Follicle-Stimulating
Hormone (FSH) and human Chorionic Gonadotropin (hCG) (Helm, 2010).

f. Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan darah
Peningkatan CA 125 dengan disertai massa pelvis sangat menunjang
keganasan ovarium, tetapi terdapat beberapa kasus jinak lain yang disertai
massa pelvis dan peningkatan CA 125 (Asher, 2010).
2. USG
Pada USG gambaran khas yang mengindikasikan adanya lesi jinak,
adalah: dinding yang tipis; tidak adanya eko internal; kurangnya septa
internal. Kista sederhana yang berukuran 6 cm harus dipantau dengan
USG. Kista yang besar dapat terlihat pada film polos abdomen sebagai
massa jaringan lunak yang berasal dari luar pelvis. Kista kompleks dapat
bersifat hemoragik atau merupakan suatu endometrioma (Patel, 2007).
3. CT Scan
CT scan tidak sebanding USG dan MRI dalam membantu mengenali
kista ovarium dan massa pelvis. CT scan memungkinkan pemeriksaan isi
rongga abdomen dan retroperitoneum pada kasus penyakit keganasan
ovarium (Helm, 2010).
4. MRI
MRI dengan gadolinium memungkinkan evaluasi yang lebih jelas dari
lesi yang dianggap tidak jelas setelah melakukan USG. Gambar MRI
mempunyai kontras jaringan lunak yang lebih baik dibandingkan dengan
gambar CT scan, terutama dalam mengidentifikasi lemak dan produk
darah, dan dapat memberikan suatu gambaran yang lebih baik dari asal
organ massa ginekologi. MRI tidak penting pada sebagian besar kasus
(Helm, 2010).

g. Penatalaksanaan
1. Konservatif
Banyak pasien dengan kista ovarium simple berdasarkan penemuan
USG tidak membutuhkan pengobatan. Pada wanita postmenopause, kista
ovarium simple persisten dengan ukuran kurang dari 5 cm dengan nilai
CA 125-nya normal dapat dimonitor dengan pemeriksaan USG serial.
Beberapa bukti menunjukkan bahwa kista dengan ukuran mencapai 10 cm
dapat ditangani dengan cara ini dengan aman. Pada wanita premenopause
dengan kista ovarium simple asimptomatik dengan ukuran kurang dari 8
cm pada sonogram yang nilai CA 125-nya dalam range normal dimonitor
dengan pemeriksaan USG berulang pada 8 12 minggu. Terapi hormonal,
termasuk penggunaan pil kontrasepsi oral, tidak berguna dalam
menyebabkan resolusi (Helm, 2010).
2. Bedah
Kista ovarium simple persisten dengan ukuran lebih dari 5 10 cm,
terutama jika simptomatik, dan kista ovarium kompleks sebaiknya
dipertimbangkan dengan penanganan bedah (Helm, 2010).
3. Diet
Diet sehat normal (Helm, 2010).

h. Komplikasi
1. Torsi
Kista ovarium yang memiliki diameter > 4cm telah terbukti memiliki
tingkat torsi sekitar 15%. Torsi ovarium melibatkan rotasi pedikel vascular
ovarium sehingga menyebabkan obstruksi vena bahkan aliran arteri
sehingga dapat terjadi infark (Helm, 2010).
2. Ruptur
Rupture kista ovarium biasanya terjadi dengan kista corpus luteal. Mereka
melibatkan ovarium kanan pada dua pertiga kasus dan biasanya terjadi
pada hari 20-26 dari siklus menstruasi wanita. Mittelschmerz adalah
bentuk fisiologis rupture kista. Pada wanita hamil, kista hemoragik corpus
luteal biasanya terlihat pada trimester pertama, dengan usia kehamilan 12
minggu. Perdarahan dan syok dapat terjadi dan dapat muncul di akhir
simtomatologi tersebut (Helm, 2010).


























BAB III
LAPORAN KASUS

A. Identitas Pasien
Nomer CM : 533236
Nama : Ny.S
Umur : 72 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia
Alamat : Bojong 5/1 Mrebet, Purbalingga
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Waktu masuk RS : Jumat, 17 Januari 2014 IGD RSMS
Ruang Rawat : Teratai

B. Anamnesis (Autoanamnesis dan Alloanamnesis)
1. Keluhan utama :
Nyeri perut
2. Keluhan tambahan :
Perut semakin lama semakin membesar, terdapat benjolan di perut.
3. Riwayat penyakit sekarang :
Pasien datang dengan rujukan dari RS Harapan Ibu ke IGD RSUD Prof.
dr. Margono Soekarjo Purwokerto, Jumat, 17 Januari 2014, pk. 15.22 dengan
keluhan nyeri perut sejak tadi pagi. Nyeri dirasakan di perut bagian bawah,
pasien juga mengeluh perutnya semakin lama semakin membesar sejak 2
tahun yang lalu dan terdapat benjolan di perut yang semakin lama semakin
membesar. Pasien mengeluhkan adanya perdarahan maupun keputihan.
Riwayat menstruasi :menarche usia 9 tahun, siklus haid tidak teratur
lama 7-10 hari, sering mengalamai

dysmenorrheae saat menstruasi. Sudah
menopause kurang lebih 10 tahun
Riwayat menikah : sekali, sejak 55 tahun yang lalu
Riwayat KB : -
Riwayat obstetri : P6A4
An. I: Berjenis kelamin laki-laki dan saat ini
berusia 50 tahun, pasien mengaku
melahirkan anak pertama secara normal
dengan dibantu dukun, berat badan bayi
waktu lahir pasien lupa.
An. II: Berjenis kelamin laki-laki dan sat ini
berusia 48 tahun, pasien mengaku
melahirkan anak kedua secara normal
dengan dibantu dukun, berat badan bayi
waktu lahir pasien lupa.
An. III :Abortus saat usia kehamilan 4 bulan
dan pasien mengaku tidak di kurate saat
itu.
An.IV:Berjenis kelamin perempuan dan saat ini
berusia 45 tahun, pasien mengaku
melahirkan anak keempat dengan
dibantu dukun, berat badan bayi waktu
lahir pasien lupa.
An. V: Berjenis kelamin perempuan dan saat ini
berusia 44 tahun, pasien mengaku
melahirkan anak kelima dengan dibantu
oleh dukun, berat badan bayi waktu lahir
3 kg.
An.VI:Abortus saat usia kehamilan 3 bulan
dan pasien mengaku tidak di kurate saat
itu.
An.VII:Abortus saat usia kehamilan 4 bulan
dan pasien mengaku di kurate saat itu.
An. VIII: Berjenis kelamin laki-laki dan saat ini
berusia 42 tahun, pasien mengaku
melahirkan anak kelima dengan dibantu
oleh dukun, berat badan bayi waktu lahir
2 kg.
An. IX : Berjenis kelamin laki-laki dan saat ini
berusia 40 tahun, pasien mengaku
melahirkan anak kelima dengan dibantu
oleh bidan, berat badan bayi waktu lahir
3 kg.
An. X : Abortus saat usia kehamilan 4 bulan
dan pasien mengaku saat itu dikurate.

4. Riwayat penyakit dahulu
a. Riwayat hipertensi sebelum hamil : disangkal
b. Riwayat asma : disangkal
c. Riwayat alergi : disangkal
d. Riwayat kejang : disangkal
e. Riwayat kencing manis : diakui (kurang lebih 5 tahun)
f. Riwayat penyakit jantung : disangkal
g. Riwayat penyakit paru : disangkal
h. Riwayat penyakit ginjal : disangkal



5. Riwayat penyakit keluarga
a. Riwayat hipertensi : disangkal
b. Riwayat asma : disangkal
c. Riwayat kencing manis : disangkal
d. Riwayat penyakit jantung : disangkal
e. Riwayat penyakit ginjal : disangkal
f. Riwayat penyakit kandungan : disangkal

6. Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien adalah seorang ibu rumah tangga yang tinggal bersama anak-
anaknya. Kebutuhan hidup sehari-hari tercukupi oleh penghasilan dari anak
pertamanya karena suaminya telah meninggal 2 tahun yang lalu.

C. Pemeriksaan Fisik
Rabu, 18 Desember 2013 (IGD)
1. Keadaan umum : baik
2. Kesadaran : composmentis
Glascow Coma Scale : 15 (Eye 4 Motoric 6 Verbal 5)
3. Berat badan : 50 kg
Tinggi badan : 156 cm
4. Tanda Vital
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Nadi : 84 kali / menit, reguler, isi dan tekanan cukup
Laju pernapasan : 20 kali / menit, reguler
Suhu tubuh : 36,7
o
C





Status Generalis
1. Pemeriksaan Kepala
Bentuk kepala : mesocephal, simetris, tidak tampak venektasi temporalis
Mata : simetris, tidak tampak konjungtiva anemis maupun sklera
ikterik, refleks pupil normal isokor 3 mm
Hidung : tidak tampak discharge maupun nafas cuping hidung
Mulut : bibir tidak pucat maupun sianosis
2. Pemeriksaaan Leher
Inspeksi : tidak tampak deviasi trakea
Palpasi : JVP 5+2 cm
tak teraba pembesaran kelenjar tiroid dan limfonodi
3. Pemeriksaan Thoraks
a. Pulmo
Inspeksi : dinding dada simetris, tidak tampak retraksi interkostal
Palpasi : vokal fremitus lobus superior dan inferior paru kanan sama
dengan paru kiri
Perkusi : sonor di kedua lapang paru
Auskultasi : suara dasar vesikuler, reguler, tidak terdengar ronki basah
kasar, ronki basah halus maupun wheezing di kedua
lapang paru.
b. Cor
Inspeksi : ictus cordis tampak pada SIC V 2 jari medial LMCS
Palpasi : ictus cordis teraba pada SIC V 2 jari medial LMCS, tidak
kuat angkat
Perkusi : batas cor kanan atas SIC II LPSD, kiri atas SIC II LPSS
kanan bawah SIC IV LPSD, kiri bawah SIC V 2 jari medial
LMCS
Auskultasi : S1 > S2, reguler, tidak terdengar murmur maupun gallop


4. Pemeriksaan abdomen
Inspeksi : cembung
Auskultasi :Bising usus (+) N
Perkusi : timpani-pekak pada massa
Palpasi : teraba benjolan sebesar kepala bayi di regio inguinal hingga
lumbal dextra permukaan berbenjol-benjol, mobile, nyeri tekan
(-)
5. Pemeriksaan ekstremitas
Tidak tampak sianosis, akral hangat, tidak terdapat edema tungkai bawah
6. Pemeriksaan Genitalia Eksterna
a. Inspeksi :
distribusi rambut pubis merata, tidak tampak luka, benjolan, varises, edema
vulva, maupun pembesaran kelenjar Bartholini.
b. Inspekulo dan Bimanual
Vulva tidak ada kelainan, dinding vagina normal tidak teraba massa, portio
licin, nyeri goyang potio (-), teraba myoma geburt ukuran 2x2x2. Corpus
uteri antefleksi, adnexa dextra teraba massa kistik, ukuran sebesar kepala
bayi, mobile, nyeri tekan (-)

D. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan LaboratoriumTanggal 17 Januari 2014
Darah Lengkap
Hb : 14,8 gr/dl Normal: 12 16 gr/dl
Leukosit : 15970/l (H) Normal: 4.800 10.800 /l
Hematokrit : 44 % Normal: 37 47 %
Eritrosit : 5,4 juta/l Normal: 4,2 5,4 juta/l
Trombosit : 345.000/l Normal: 150.000 450.000/l
MCV : 80,6 fL Normal: 79 99 fL
MCH : 27,3 pg Normal: 27 31 pg
MCHC : 33,9 % Normal: 33 37 %
RDW : 13,9 % Normal: 11.5 14.5 %
MPV : 9,7 fL Normal: 7.2 11.1 fL
Hitung Jenis
Basofil : 0,2 % Normal: 0 1 %
Eosinofil : 0,0 % (L) Normal: 2 4 %
Batang : 0,5 % (L) Normal: 2 5 %
Segmen : 86,7 % (H) Normal: 40 70%
Limfosit : 10,1 % (L) Normal: 25 40%
Monosit : 2,5 % Normal: 2 8 %

PT : 12,1 detik Normal: 11,5 15,5
APTT : 26,8 detik Normal: 26,0 36,0
Kimia Klinik
SGOT : 17 U/L Normal: 15-37
SGPT : 23 U/L (L) Normal: 30-65
Ureum Darah : 33,33 mg/dL Normal: 14,98-38,52
Kreatinin Darah : 1,00 mg/dL Normal: 0,60-1,00
Asam Urat : 6,3 mg/dL (H) Normal: 2,6-6,0
Glukosa Sewaktu : 187 mg/dL Normal: <= 200
Total Protein : 6,97 g/dL Normal: 6,40-8,20
Albumin : 3,90 g/dL Normal: 3,40-5,00
Globulin : 3,07 g/dL Normal: 2,70-3,20

Urine lengkap
Fisis
Warna : kuning Normal : kuning muda - kuning tua
Kejernihan : agak keruh Normal : jernih
Bau : khas Normal : khas
Kimia
Berat jenis : 1.010 1.010 1.030
PH : 6.5 4.6 7.8
Leukosit : 500 Negatif
Nitrit : Negatif Negatif
Protein : Negatif Negatif
Glukosa : Normal Normal
Keton : 5 Negatif
Urobilinogen : Normal Normal
Bilirubin : Negatif Negatif
Eritrosit : 10 Negatif
Sedimen
Eritrosit : 1-2 Negatif
Leukosit : 25-30 Negatif
Epitel : 2-4 Negatif
Silinder hialin : Negatif Negatif
Silinder lilin : Negatif Negatif
Granuler halus : Negatif Negatif
Granuler kasar : Negatif Negatif
Kristal : Negatif Negatif
Bakteri : +2 Negatif
Trikomonas : Negatif Negatif

E. Diagnosis di IGD
Para 6 abortus 4, usia 72 Tahun dengan Kistoma Ovarii

F. Penatalaksanaan
Ketorolac Supp I 2xI
Inj. Cefotaxim 2x1 gram jika jumlah leukosit meningkat
Lapor residen obsgin : rawat bangsal teratai


Perkembangan pasien selama di Bangsal Teratai
Tanggal S O A P
18 Januari
2014
Nyeri
perut
bagian
bawah
Ku/kes: sedang/
composmentis
TD : 130/70
N : 92 x/menit
RR : 20 x/menit
S : 36,4
o
C
Status Generalis
Mata: CA -/- SI -
/-
Thoraks:
P/ SD ves +/+, ST
-/-
C/ S1>S2, reg, ST

Status Lokalis
Abdomen:
I : cembung
A : Bu (+) N
Per : pekak pada
massa
Pal : NT (-),
massa sebesar
kepala bayi di
kuadran kanan
bawah
Status Genital
Eksterna
Para 6 abortus 4,
72 tahun degan
kistoma ovarii
- Inj. Ketorolac
2x1 amp
- Observasi TTV
PPV (-), FA (-)
Status Vegetatif
BAB (+) BAK (+)
FL (+)
20 Januari
2014
Tidak
ada
keluhan
Ku/kes: sedang/
composmentis
TD: 140/90
N : 56 x/menit
RR: 20 x/menit
S : 36,4
o
C
Status Generalis
Mata: CA -/- SI -
/-
Thoraks:
P/ SD ves +/+, ST
-/-
C/ S1>S2, reg, ST

Status Lokalis
Abdomen:
I : cembung
A : Bu (+) N
Per: timpani,
pekak pada massa
Pal: NT (+),
massa sebesar
kepala bayi di
kuadran kanan
bawah, mobile,
Para 6 abortus 4,
72 tahun degan
kistoma ovarii
-Amoxicilin
3x500 mg
-Sulfas Ferosus
1x1
-Paracetamol
3x500 mg
kistik
Status Genital
Eksterna
PPV (+), FA (-)
Status Vegetatif
BAB (-) BAK (+)
FL (+)
21 Januari
2014
Tidak
ada
keluhan
Ku/kes: sedang/
composmentis
TD: 130/90
N : 88 x/menit
RR: 20 x/menit
S : 36
o
C
Status Generalis
Mata: CA -/- SI -
/-
Thoraks:
P/ SD ves +/+, ST
-/-
C/ S1>S2, reg, ST

Status Lokalis
Abdomen:
I : cembung
A : Bu (+) N
Per: timpani,
pekak pada massa
Pal: NT (-), massa
sebesar kepala
Para 6 abortus 4,
72 tahun degan
kistoma ovarii pro
salphingoooforekt
omi unilateral

bayi, mobile,
kistik dikuadran
kanan bawah
Status Genital
Eksterna
PPV (-), FA (-)
Status Vegetatif
BAB (+) BAK (+)
FL (+)
22 Januari
2014
Nyeri
bekas
operasi
Ku/kes: sedang/
composmentis
TD: 140/90
N : 88 x/menit
RR: 20 x/menit
S : 36
o
C
Status Generalis
Mata: CA -/- SI -
/-
Thoraks:
P/ SD ves +/+,
ST -/-
C/ S1>S2, reg,
ST
Status Lokalis
Abdomen:
I : datar, perban
+, rembes -
A : Bu (+) N
Per: timpani
Para 6 Abortus 4
72 tahun post
TAH+BSO a/i
kistoma ovarii dan
mioma uteri H+1
Cefadroxil
2x500mg
Vit BC 2x1
As. Mefenamat
3x500mg
Aff DC
Pal: NT +
Status Genital
Eksterna
PPV (-), FA (-)
Status Vegetatif
BAB (-) BAK (+)
DC FL (+)
23 Januari
2014
Nyeri
bekas
operasi
Ku/kes: sedang/
composmentis
TD: 130/90
N : 84 x/menit
RR: 20 x/menit
S : 36,1
o
C
Status Generalis
Mata: CA -/- SI -
/-
Thoraks:
P/ SD ves +/+,
ST -/-
C/ S1>S2, reg,
ST
Status Lokalis
Abdomen:
I : datar, perban
+, rembes -
A : Bu (+) N
Per: timpani
Pal: NT +
Status Genital
Para 6 Abortus 4
72 tahun post
TAH+BSO a/i
kistoma ovarii dan
mioma uteri H+2
Cefadroxil
2x500mg
Vit BC 2x1
As. Mefenamat
3x500mg
BLPL
Eksterna
PPV (-), FA (-)
Status Vegetatif
BAB (-) BAK (+)
FL (+)


Pemeriksaan Laboratorium (21 Januari 2014) pukul 15.00 wib
Darah lengkap
Hb : 13,5 g/dl (12-16 g/dl)
Leukosit : 15590 /uL (H) (4800-10800 / uL)
Hematokrit : 41 % (37-47 %)
Eritrosit : 5.0 (4.2-5.4 juta/mL)
Trombosit : 347.000 /uL (150.000-450.000 /uL)
MCV : 82,6 fL (79-99 fL)
MCH : 27,3 pg (27-31 pg)
MCHC : 32.8 gr/dl (L) (33-37 gr/dl)
RDW : 13,0 (11.5-14.5 %)
MPV : 9,5 (7.2-11.1)
Hitung jenis
Basofil : 0.4 (0-1 %)
Eosinofil : 0.3 (L) (2-4 %)
Batang : 0.5 (L) (2-5 %)
Segmen : 73,2 (H) (40-70 %)
Limfosit : 21,2 (L) (25-40 %)
Monosit : 4.4 (2-8 %)
Kimia Klinik
Ureum Darah : 16,2 (14,98-38,52 mg/dL)
Kreatinin Darah : 0,67 (0,60-1,00 mg/dL)
Glukosa Sewaktu : 239 (H) (<= 200 mg/dL)
Natrium : 138 (136-145 mmol/L)
Kalium : 38 (3,5-5,1 mmol/L)
Klorida : 107 (98-107 mmol/L)
Kalsium : 9,2 (8,4-10,2 mg/dL)

G. Tindakan TAH dan BSO
a. Indikasi : mioma uteri + kistoma ovari
b. Jenis operasi : TAH dan BSO
H. Waktu operasi : 21 Januari 2014 pukul 12.20-13.35 WIB
I. Diagnosa II
Para 6 abortus 4, 72 tahun post TAH dan BSO atas indikasi kistoma ovarii
bilateral dan mioma uteri

J. Tatalaksana Pasca Operasi
1. IVFD RL 20 tpm
2. Inj. Ampicilin 2x1 gr
3. Inj. Ketorolac 3x 1 amp
4. Inj. Kalnex 3x1 amp
5. Vit. BC 2x1

K. Prognosis
Ad vitam : dubia ad malam
Ad sanationam : ad bonam
Ad functionam : ad malam






BAB IV
PEMBAHSAN
ANALISIS KASUS
1. Diagnosis Awal di VK IGD P6 A4 U 72 tahun dengan kistoma ovarii.
Ketepatan diagnosis :
Diagnosis ada yang sudah tepat namun ada pula yang kurang tepat:
a. P6 A4 U 72 tahun, sudah tepat karena pasien berusia 72 tahun, sudah pernah
melahirkan sebanyak 6 kali dan pernah mengalami abortus sebanyak 4 kali.
b. Kistoma Ovarii, sudah tepat namun ada beberapa yang kurang tepat.
i. Anamnesis
Pasien mengeluhkan nyeri pada perut bagian bawah serta perut yang
semakin lama semakin membesar sejak 2 tahun yang lalu. Namun pasien
tidak mengeluhkan adanya perdarahan maupun keputihan. Pasien
mengatakan sudah tidak haid (menopause) sejak 10 tahun yang lalu.
Pasien mengatakan dahulu ketika haid tidak teratur, dan lama sekitar 7
hingga 10 hari, pasien juga mengatakan sering nyeri ketika sedang haid.
Pasien juga memiliki riwayat keguguran (abortus) sebanyak empat kali.
ii. Pemeriksaan Fisik
Hanya dilakukan pemeriksaan abdomen saja, hasil pemeriksaan perkusi
abdomen didapatkan pekak pada region iliaca dextra hingga suprapubik
dan pada palpasi abdomen teraba massa sebesar kepala bayi, mobile,
kistik di region iliaca dextra hingga suprapubik. Namun pada
pemeriksaan hanya dilakukan pemeriksaan abdomen saja, tidak
dilakukan pemeriksaan bimanual maupun inspekulo. Pemeriksaan
inspekulo dan bimanual dilakukan ketika pasien sudah masuk di bangsal
Teratai sehingga diagnosis yang didapat setelah pemeriksaan bimanual
dan inspekulo menjadi P6 A4 U 72 tahun dengan kistoma ovarii dan
mioma uteri.
iii. Pemeriksaan Penunjang
Tidak dilakukan pemeriksaan USG.
2. Penatalaksanaan
a. Tatalaksana VK IGD
Medikamentosa
1. Pasien diberikan ketorolac supp I 2X1
Ketorolac adalah obat anti inflamasi non steroid (NSAID). Indikasi
penggunaan ketorolac adalah untuk inflamasi akut dalam jangka waktu
penggunaan maksimal 5 hari. Ketorolac dapat digunakan juga sebagai
obat analgesik. Efek ketorolac adalah menghambat biosintesis
prostaglandin. Kerjanya menghambat enzin siklooksigenase
(prostaglandin sintesa). Selain itu juga menghambat tromboksan A2.
Ketorolac memberikan efek anti inflamasi dengan menghambat
perlekatan granulosit pada pembuluh darah yang rusak, mestabilkan
membrane lisosom, dan menghambat migrasi leukosit polimorfonuklear
dan makrofag ke tempat perdangan. Pemberian ketorolac pada pasien ini
sudah tepat karena pasien mengeluhkan nyeri perut sehingga ketorolac
dapat berperan sebagai efek analgesi yang dapat meredakan nyeri.
2. Pasien diberikan injeksi cefotaxime
Cefotaxime adalah antibiotic sefalosporin generasi ke-3 yang bersifat
bakterisidal. Aktivitas bakterisidal pada cefotaxime di dapat dengan cara
menghambat sintesis dinding sel. Cefotaxime memiliki aktivitas luas
terhadap bakteri gram positif dan gram negatif. Pada pasien ini diberikan
cefotaxime apabila jumlah leukosit meningkat, pada pemeriksaan
laboratorium didapat jumlah leukosit yang meningkat sehingga dicurigai
pasien ini juga mengalami infeksi bakteri maka tepat jika diberikan
antibiotik.
b. Tatalaksana Teratai
Tatalaksana di teratai sudah tepat yaitu dengan terus memonitoring tanda
vital, hasil laboratorium, pasien telah di konsulkan pada spesialis yang
terkait dan sudah diberikan pengobatan sesuai dengan instruksi spesialis. Di
teratai juga telah dilakukan persiapan operasi untuk pasien ini separti, cek
hasil laboratorium ulang, EKG, serta rontgen thorax mengingat usia pasien
yang sudah lanjut.
c. Tatalaksana Instalasi Bedah Sentral
Tindakan explorasi laparotomi atas indikasi kistoma ovarii dengan jenis
operasi total abdominal histerektomi dan bilateral salphingoooforektomi.
Waktu operasi 12 Januari 2014 pukul 12.20-13.35 WIB.
Sudah tepat. Keputusan dilakukan operasi sudah tepat, sesuai dengan
indikasi terapi bedah untuk mioma uteri menurut American College of
Obstreticians and Gynecologist (ACOG) dan American Society of
Reproductive Medicine (ASRM) adalah :
1) Perdarahan uterus yang tidak respon terhadap terapi konservatif
2) Sangkaan adanya keganasan
3) Pertumbuhan mioma pada masa menopause
4) Infertilitas karena gangguan pada cavum uteri maupun karena oklusi
tuba
5) Nyeri dan penekanan yang sangat mengganggu
6) Gangguan berkemih maupun obstruksi traktus urinarius
7) Anemia akibat perdarahan (Hardibroto, 2005)
Keputusan ini sesuai dengan Standar Operasional Prosedur RSMS karena:
Besar tumor melebihi rahim gravid 12 minggu di mana dengan atau tanpa
keluhan atau komplikasi dilakukan tindakan operatif. Jenis operasi yang
dipilih sesuai karena usia pasien yang lebih dari 40 tahun sehingga
dikerjakan total histerektomi dan BSO (Bilateral Salphingooferektomi).
d. Tata Laksana Teratai post operasi
1) Sudah sesuai untuk memonitoring dan memulihkan keadaan pasien baik
secara laboratoris maupun klinis, dan menjaga keseimbangan elektrolit
dengan pemberian RL
2) Mengurangi keluhan post operasi seperti nyeri dan pemberian profilaksis
antibiotik dan pemberian vitamin.

a) Inj. Ketorolac
Ketorolac adalah obat anti inflamasi nonsteroid (NSAID). Indikasi
penggunaan ketorolac adalah untuk inflamasi akut dalam jangka waktu
penggunaan maksimal selama 5 hari. Ketorolac selain digunakan
sebagai anti inflamasi juga memiliki efek anelgesik yang bisa
digunakan sebagai pengganti morfin pada keadaan pasca operasi
ringan dan sedang. Efeknya menghambat biosintesis prostaglandin.
Kerjanya menghambat enzim siklooksogenase (prostaglandin
sintetase). Selain menghambat sintese prostaglandin, juga
menghambat tromboksan A2. Ketorolac tromethamine memberikan
efek anti inflamasi dengan menghambat pelekatan granulosit pada
pembuluh darah yang rusak, menstabilkan membrane lisosom dan
menghambat migrasi leukosit polimorfonuklear dan makrofag ke
tempat peradangan.
b) Inj. Ampicillin
Ampisilin merupakan penisilin semisintetik yang stabil terhadap
asam/amidase tetapi tidak tahan terhadap enzim -laktamase.
Ampisilin mempunyai keaktifan melawan bakteri Gram positif dan
bakteri Gram negatif dan merupakan antibiotika spectrum luas. Oleh
karena itu, ampisilin banyak digunakan untuk infeksi serta sebagai
profilaksis infeksi pascaoperasi.
3. Diagnosis Akhir
a. Ketepatan Diagnosis
P6A4 Usia 72 tahun, post total abdominal histerektomi + bilateral salphingo
ooforektomi atas indikasi mioma uteri dan kistoma ovarii bilateral, dinilai:
Diagnosis ada yang sudah benar karena:
1) P6 A4 U 72 tahun, sudah tepat karena pasien berusia 72 tahun, sudah
pernah melahirkan sebanyak 6 kali dan pernah mengalami abortus
sebanyak 4 kali.
2) Post Total Abdominal Histerektomi + Bilateral Salphingoooforektomi
atas indikasi Mioma Uteri dan kistoma ovarii bilateral sudah tepat karena
terdapat :
a. Anamnesis
Pasien mengeluhkan nyeri pada perut bagian bawah serta perut yang
semakin lama semakin membesar sejak 2 tahun yang lalu. Namun
pasien tidak mengeluhkan adanya perdarahan maupun keputihan.
Pasien mengatakan sudah tidak haid (menopause) sejak 10 tahun yang
lalu. Pasien mengatakan dahulu ketika haid tidak teratur, dan lama
sekitar 7 hingga 10 hari, pasien juga mengatakan sering nyeri ketika
sedang haid. Pasien juga memiliki riwayat keguguran (abortus)
sebanyak empat kali.
b. Pemeriksaan Fisik
Hanya dilakukan pemeriksaan abdomen saja, hasil pemeriksaan
perkusi abdomen didapatkan pekak pada region iliaca dextra hingga
suprapubik dan pada palpasi abdomen teraba massa sebesar kepala
bayi, mobile, kistik di region iliaca dextra hingga suprapubik. Namun
pada pemeriksaan hanya dilakukan pemeriksaan abdomen saja, tidak
dilakukan pemeriksaan bimanual maupun inspekulo. Pemeriksaan
inspekulo dan bimanual dilakukan ketika pasien sudah masuk di
bangsal Teratai sehingga diagnosis yang didapat setelah pemeriksaan
bimanual dan inspekulo menjadi P6 A4 U 72 tahun dengan kistoma
ovarii dan mioma uteri.
c. Pemeriksaan Penunjang
Tidak dilakukan pemeriksaan USG.





DAFTAR PUSTAKA

Addar, Mohammed H. 1999. Recurrent Stage I Borderline Serous Ovarian Tumor.
Available from: http://kfshrc.edu.sa/anuals/old/193/98-278.pdf Diunduh 12
Februari 2014.

Asher, Viren. 2010. Pelvic Mass Associated with Raised CA 125 for Benign
Condition: A Case Report. Available from: http://wjso.com/content/8/1/28
Diunduh 10 Februari 2014.

Cunningham FG, Gant NF, Leveno KJ, Gilstrap LC, Hauth JC, Wenstrom KD. 2004.
Obstetri Williams. Edisi 21. Vol 2. Jakarta : ECG

Hacker dan Moore. (2001). Essensial Obstetri dan Ginekologi. Edisi Dua.
Jakarta:Hipokrates.

Helm,C.William.2010.Ovarian Cyst. Available from: http://emedicine.medscape.com
Diunduh 13 Februari 2014.

Mansjoer A, Triyanti K, Savitri R, Wardhani WI, Setiowulan W. 2000. Tumor
Ovarium Neoplastik Jinak. Dalam : Kapita Selekta Kedokteran. Jilid I.
Jakarta: Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Moeloek, Farid Anfasa. 2003. Standar Pelayanan Medik Obstetri dan Ginekologi.
Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia, Jakarta.

Nishizawa et al., 2008.Incidence and Characteristics of uterine leimyomas with FDG
uptake. Ann Nucl Med Volume 22, No.9, November 2008, Japan

Novak, E.R., 1961. Novaks Textbook of Gynecology. Baltimore. The Williams &
Wilkins Company.

Prawirohardjo, Sarwono. 2007. Ilmu Kandungan. Yayasan Bina Pustaka :
Jakarta.
Schwartz MS. Epidermiology of uterine leiomyomata. In : Chesmy M, Heather,
Whary eds.Clinical Obstetric and Ginecology. Philadelphia : Lippincott Williams and
Willkins, 2001 ;316 318

Stoppler,Melissa Concard. 2010. Ovarian Cysts. Available from:
http://emedicine,medscape.com/article/255865-overview. diunduh 12 Februari
2014.

Wiknjosastro H, Saifuddin AB, Rachimhadi T. 2005. Ilmu Kandungan. Jakarta:
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.