Anda di halaman 1dari 39

CONGESTIVE HEART FAILURE

(CHF) E.C. DILATED


CARDIOMYOPATHI (DCM)
PEMBIMBING : dr. Rendi Asmara, Sp.JP


Disusun Oleh :
Rifka Fathnina G1A212032
Shella Shalis J G1A212033
Galih Rakasiwi G1A212037


Juni 2014
Identitas penderita
Nama : Tn. M
Usia : 50 tahun
Alamat : Karang Asem 01/05, Brebes
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Status : Sudah menikah
Pekerjaan : Buruh
Tanggal masuk : 22 Mei 2014
Tanggal periksa : 23 Mei 2014
Ruang rawat : Mawar
No. CM : 751988





ANAMNESIS
Keluhan utama :
Sesak Nafas

Keluhan tambahan :
Mudah lelah

Riwayat penyakit sekarang


Pasien datang ke IGD RSMS pada tanggal 22 Mei 2014
dengan keluhan sesak napas. Keluhan tersebut sudah
mulai dirasakan pasien sejak 6 bulan lalu. Awalnya
pasien hanya merasakan sesak ketika sedang bekerja,
namun beberapa minggu terakhir semakin memberat
sehingga pasien merasakan sesak sepanjang hari
walaupun sedang beristirahat, hal tersebut membuat
pasien untuk datang ke IGD. Pasein mengaku merasa
semakin sesak jika dalam posisi tidur sehingga pasien
lebih memilih untuk duduk agak membungkuk. Selain
itu, pasien juga mengeluhkan adanya batuk, terutama
pada malam hari saat pasien mencoba untuk berbaring.
Pasien juga mengatakan bahwa sejak 3 bulan lalu perut
dan kedua kaki pasien bengkak dan semakin bertambah
besar.
Riwayat penyakit dahulu
Riwayat penyakit yang sama : disangkal
Riwayat mondok : Diakui (2 bulan lalu)
Riwayat darah tinggi : disangkal
Riwayat alergi : disangkal
Riwayat sakit ginjal : disangkal
Riwayat penyakit jantung : disangkal
Riwayat sakit kuning/liver : disangkal
Riwayat sakit tenggorokan/penyakit kulit : disangkal
Riwayat konsumsi obat-obatan : disangkal
Riwayat penyakit keluarga
Riwayat penyakit yang sama : ayah pasien meninggal karena
sesak yang diduga oenyakit jantung
Riwayat darah tinggi : disangkal
Riwayat penyakit gula : disangkal
Riwayat alergi : disangkal
Riwayat sakit ginjal : disangkal
Riwayat sakit kuning/liver : disangkal


Riwayat sosial dan exposure
Community
Pasien adalah bapak dari tiga orang anak, dan suami dari seorang
istri. Pasien tinggal bersama satu orang istri dan dua orang anak nya.
Hubungan antara pasin dan tetangga sangat baik .
Home
Pasien tinggal di sebuah rumah dengan istri. Rumah yang dihuni
oleh 4 orang, terdiri dari 3 kamar dan saat ini hanya 1 kamar yang
diisi oleh 2 orang. Kamar mandi dan jamban berada di dalam rumah.
Atapnya memakai genteng dan lantai terbuat dari semen.
Occupational
Pasien saat ini sebagai buruh tani, pasien bekerja rata rata 11
jam/hari dengan aktivitas yang berat seperti membajak sawah.
Pasien biasanya bekerja diselingi istirhat pada jam 12 hingga jam 13
siang.
Personal habit
Pasien mempunyai kebiasaan merokok dan minum kopi. Pasien
merokok sejak usia 13 tahun, dalam sehari pasien paling sedikit
menghabiskan 2 bungkus rokok kretek. Setiap hari pasien selalu
mengkonsumsi kopi paling sedikit 3 cangkir/hari. Pasien tidak
pernah mengonsumsi obat-obatan terlarang, tidak pernah
melakukan hubungan seksual bebas, maupun riwayat memakai
tattoo. Pasien mengaku sering mengkonsumsi jamu yang dibeli dari
warung didekat rumah pasien, pasien mengakui bahwa itu adalah
jamu pegal pegal, sediaan serbuk untuk diseduh, dalam seminggu
pasien bisa mengkonsumsi 4 bungkus jamu tersebut.

Drugs and Diet
Pasien tidak sedang mengkonsumsi obat-obatan.
Menu makan pasien terdiri dari nasi sayur-mayur,,
kadang disertai lauk-pauk dan kadang hanya nasi
dan sayur saja, sangat jarang mengkonsumsi buah
buahan selain pisang. sangat jarang mengkonsumsi
susu. Pasien makan sehari 2 kali dengan porsi besar
dikarenakan pasien mengaku agar tidak mudah lelah
saat bekerja.
Biaya Pengobatan
Pasien berasal dari keluarga dengan sosial ekonomi
menengah ke bawah. Penghasilan pasien dari
pekerjaannya dan dari istri nyajauh kurang dari
cukup untuk kebutuhan sehari-hari keduanya.
Sumber pembiayaan kesehatan berasal dari BPJS
PBI (JAMKESMAS)
PEMERIKSAAN FISIK
23 Mei 2014
Keadaan umum : tampak sesak
Kesadaran : Composmentis

Vital sign tanggal 23 Mei 2014
Tekanan darah : 110/80 mmHg
Nadi : 96 /menit ireguler
Pernapasan : 28 /menit
Suhu : 36,1 C
Tinggi badan : 160 cm
Berat badan : 65 kg
Status gizi (IMT) : 25,39 (overweight)

Status generalis

Pemeriksaan kepala
Bentuk kepala : Mesocephal, simetris,
venektasi temporalis (+)

Rambut :Warna rambut hitam, tidak
mudah rontok dan terdistribusi merata


Telinga :
Discharge (-), deformitas (-)
Hidung :
Discharge (-), deformitas (-)
dan napas cuping hidung (-)
Mata :
Simetris, edema palpebra (-/-) konjungtiva
anemis (-/-), sclera ikterik (-/-), edema
palpebra (-/-), mata kering (-), reflex cahaya
(+/+) normal, pupil isokor diameter 3 mm
Mulut :
Bibir kering (-),
bibir pucat (-), bibir sianosis
(+), lidah sianosis (+), lidah
kotor (-)
Pemeriksaan leher :
Deviasi trakea (-), pembesaran
kelenjar tiroid (-)
Palpasi : JVP 5+ 3cm
Pemeriksaan thorax
Paru
Inspeksi : dinding dada tampak simetris dan tidak tampak
ketertinggalan gerak antara hemithorax kanan dan kiri.
Eksperium memanjang (-), kelainan bentuk dada (-), retraksi
intercostalis (-).
Palpasi : Apex vokal fremitus sinistra = dextra
Basal vokal fremitus sinistra = dextra
Perkusi : Perkusi orientasi selurus lapang paru sonor
Batas paru-hepar SIC V LMCD
o Auskultasi : Apex suara dasar vesikuler +/+, RBH +/+, RBK -/-,
Basal suara dasar vesikuler +/+ dan Wheezing-/-

Jantung
Inspeksi : ictus Cordis tampak di SIC V 2 jari lateral LMCS
P.parasternal (-) p.epigastrium (+).
Palpasi : ictus Cordis teraba pada SIC V 2 jari lateral LMCS
Perkusi :
Batas atas kanan : SIC II LPSD
Batas atas kiri : SIC II LPSS
Batas bawah kanan : SIC V LPSD
Batas bawah kiri : SIC V 2 jari lateral LMCS
Auskultasi : M
1
>M
2
P
1
<P
2

T
1
>T
2
A
1
>A
2
ireguler, Gallop (-), Murmur (+) sistolik.

Pemeriksaan penunjang
EKG : (22 Mei 2014 jam 19.56)













EKG 22 Mei 2014 Jam 20.58
EKG 24 Mei 2014 Jam 05.39
Echo tanggal 24 Mei 2014 Jam 05.39
resume
Anamnesis Pemeriksaan Fisik
Pasien datang dengan keluhan
sesak napas dan mudah lelah
Pasien mengaku sesak napas
semakin bersat dirsakan sejak
pertama kali dirasakan 6 bulan
lalu
Pasien merasakan sesak
walaupun sedang istirahat
Pasien mengaku batuk terutama
pada malam hari
Pasien mengaku perut dan
kedua kaki bengkak sejak 3
bulan lalu dan semakin
memberat.
Pasien pernah dirawat di
rumash sakit dengan keluhan
yang sama sekitar 2 bulan lalu.
Pemeriksaan Fisik
Vital sign
Tekanan darah : 110/80 mmHg
Nadi : 96 /menit
reguler, isi cukup
Pernapasan : 28 /menit
Suhu : 36,1C
Status generalis
Mata : ca -/-, sclera
ikterik (-/-), edema
palpebra (-/-)
Mulut : bibir sianosis
(+), lidah sianosis
(+)
Leher : JVP 5+3 cm

Status lokalis
Pemeriksaan jantung:
Inspeksi : Ictus Cordis tampak di SIC V 2 jari lateral
LMCS, P.parasternal (-) p.epigastrium (-).
Palpasi : ictus Cordis teraba pada SIC V jari lateral
LMCS
Perkusi : Batas atas kanan : SIC II LPSD
Batas atas kiri : SIC II LPSS
Batas bawah kanan : SIC IV LPSD
Batas bawah kiri : SIC V, 2 jari
lateral LMCS
Auskultasi: M
1
>M
2
P
1
<P
2

T
1
>T
2
A
1
>A
2
, reguler, Gallop (-), Murmur (+) sistolik

Pemeriksaan Ekstrimitas:
Pitting edema +/+

DIAGNOSIS KERJA
Congestive Heart Failure (CHF) e.c.
Dilated Cardiomyopathy (DCM)

PENATALAKSANAAN

Farmakologi :
IVFD RL 10 tpm
Inj. Furosemid 2 x 1 ampul (IV)
Inj. Digoksin ampul (IV)
PO. Spironolacton 1 x 25 mg tablet
PO. Aspilet 1 x 80 mg tablet
PO. Simvastatin 1 x 20 mg tablet
Cek Echocardiography
Non farmakologi :
Bed rest.
Diet tinggi kalori tinggi protein
Edukasi penyakit kepada pasien meliputi
terapi, komplikasi penyakit, prognosis
penyakit.


PROGNOSIS
Ad fungsional : dubia ad malam
Ad vitam : dubia ad malam
Ad sanationam : dubia ad malam



Tinjauan Pustaka
Definisi kardiomiopati
suatu kelompok heterogen dari penyakit
miokardium yang terkait dengan disfungsi
mekanik dan/atau elektrik yang biasanya (tidak
selalu) menunjukkan adanya hipertrofi atau
dilatasi ventrikular yang tidak sesuai dan karena
adanya berbagai penyebab yang biasanya adalah
faktor genetik.
DCM
Merupakan jenis kardiomiopati yang paling banyak
ditemukan. Dengan deskripsi kelainan yang
ditemukan : dilatasi ventrikel kanan dan atau
ventrikel kiri, disfungsi kontraktilitas pada salah
satu atau kedua ventrikel, aritmia, emboli dan
sering kali disertai gejala gagal jantung kongestif
(CHF).
Satu dari tiga kasus gagal jantung kongestif terjadi
pada kardiomiopati dilatasi, dan yang lainnya
merupakan konsekuensi dari penyakit jantung
coroner.
Etiopatogenesis
Family : (mutasi genetik) dapat terjadi pada sitoskeletal gen (gen distrofin dan desmin)
Gangguan gizi : defisiensi vitamin
Gangguan endokrin
Contohnya pada disfungsi kelenjar gondok atau disfungsi hipofisis, yaitu:
Hipotiroidism,di mana pada keadaan ini tardapat penambahan substansi intrasel antara
serabut otot dan vaquolisasi serabut, juga kadang ditemukannya infark.
Hiperpituitarism, pada keadaan ini pun ditemukan adanya fib rosis interstitial yang dianggap
akibat iskemi karena penambahan besar jantung yang melebihi pembekalan darah yang
tersedia.
Kardiomiopati peripartum
Kardiomiopati dapat timbul selama bulan terakhir kehamilan ataupun beberapa bulan pertama
setelah melahirkan.
Obat-obatan
Derivat antasiklin terutama dexorubisin (adrimisin) dapat menyebabkan gagal jantung yang fatal
siklofosfamid dapat menyebabkan gagal jantung kongestif secara akut atau dalam waktu 2
minggu setelah pemberian
Miokarditis
Pada keadaan ini dapat ditimbulkan oleh bakteri
yang akan mengeluarkan toksin menghambat
sintesis protein dan menimbulkan reaksi antigen-
antibodi, pada akhirnya menyebabkan otot
melemah jantung berdilatasi, lembek, dan
hipokontraktilitas.
Penyakit arteri koroner
pasokan darah ke otot jantung tidak memadai
cedera yang menetap, dan sebagai kompensasinya
dari hilangnya kemampuan pemompaan, otot
jantung akan meregang kardiomopati kongestif
Gejala Klinis
Pemompaan sistolik yang memburuk terjadi pada
kardiomiopati dilatasi dilatasi kedua ruang ventrikel
akibat terganggunya fungsi sistolik, sehingga aliran tidak
dapat keluar efek pada ruang ventrikel yang
menyebabkan gejala-gejala gagal jantung kongestif,
seperti sesak saat aktivitas, orthopnoe, lemah, dispnoe
paroksimal nocturnal, edema perifer, dan palpitasi
Gejala menonjol adalah dyspnoe dan fatigue .Tanda-
tanda gagal jantung kongestif timbul secara bertahap.
Pada beberapa kasus sering ditemukan gejala nyeri dada
yang tidak khas. Bila terdapat keluhan nyeri dada yang
tipikal, dipikirkan kemungkinan terdapat penyakit
jantung iskemia secara bersamaan (Nasution, 2007).
Pemeriksaan Fisik
Pembesaran jantung dengan derajat yang bervariasi, tekanan nadi yang sempit akibat
gangguan pada isi sekuncup. Pulsus Alternans dapat terjadi bila terdapat gagal ventrikel
kiri yang berat.Tekanan darah dapat normal atau rendah
Jenis pernapasan Cheyne-stokes menunjukkan prognosis yang buruk. Peningkatan
tekanan vena jugularis bila terdapat gagal jantung kanan.Bunyi jantung ketiga dan keempat
dapat pula terdengar, serta dapat ditemukan regurgutasi mitral ataupun trikuspid. Hati
akan membesar dan seringkali teraba pulsasi, edema perifer serta asites akan timbul pada
gagal jantung kanan yang lanjut

Pada pemeriksaan fisik jantung dapat ditemukan tanda-tanda sebagai berikut:
Prekordium bergeser ke arah kiri
Impuls pada ventrikel kanan
Impuls apikal bergeser ke lateral yang menunjukkan dilatasi ventrikel kiri
Gelombang presistolik pada palpasi, serta pada auskultasi terdengar presistolik gallop (S4)
Split pada bunyi jantung kedua
Gallop ventrikular (S3) terdengar bila terjadi dekompensasi jantung
Perbandingan jantung normal (kiri), kardiomiopati
hipertropik (tengah), dan kardiomiopati dilatasi
(kanan)
Pemeriksaan Penunjang
radiologi dada akan terlihat pembesaran jantung
akibat dilatasi ventrikel kiri, walau sering terjadi
pembesaran pada seluruh ruang jantung. Pada
lapang paru akan terlihat gambaran hipertensi
pulmonal serta edema alveolar dan interstitial (
EKG gambaran sinus takarkadi atau fibrilasi
atrial, aritmia ventrikel, abnormalitas atrium kiri,
abnormalitas segmen ST yang tidak spesifik dan
kadang-kadang tampak gambaran gangguan
konduksi intraventrikular dan low voltage
Penatalaksanaan
NON MEDIKAMENTOSA
Pasien memerlukan rawat inap di rumah sakit
hingga gejala akut hilang.
Diet rendah garam
Pasien dapat melanjutkan aktivitas regulernya
jika masih dapat ditoleransi
Mengontrol berat badan berat badan yang
meningkat 3-4 kg lebih dari 1 atau 2 hari
menunjukkan akumulasi cairan.
Mengurangi rokok dan konsumsi alkohol.
MEDIKAMENTOSA
1. ACE-inhibitor (seperti Captopril, Enalapril, Lisinopril, Enalapril ), untuk mencegah
perkembangan dilatasi jantung dan berguna untuk pasien DCM. Obat ini merupakan suatu
vasodilator.
2. ARB (Angiotensin Receptor Blockers) mirip dengan golongan ACEi dan digunakan sebagai
pengganti ACEi jika timbul efek samping yang berat akibat penggunaan ACEi.
3. Beta-blockers (seperti Metoprolol, Carvedilol, Bisoprolol ) , Jika timbul gagal jantung,
maka terjadi peningkatan produksi adrenalin yang dapat menyebabkan kerusakan jantung
yang lebih parah. Hal tersebut dapat dicegah dengan penggunaan beta bloker jangka
panjang.
4. Digoxin, untuk mengontrol denyut jantung jika terjadi fibrilasi atrium.Meskipun denyut
jantung normal, Digoxin diberikan untuk membantu meningkatkan kontraksi otot jantung
(inotropik positif).Tapi hanya diberikan jika gejala penyakit tidak dapat diatasi dengan
pemberian ACEi dan beta-blocker.
5. Diuretika (seperti Furosemide, Bumetamide, Amiloride ), untuk mengurangi retensi cairan
dalam tubuh dengan meningkatkan produksi urine
6. Antagonis aldosteron (Spironolakton ), obat diuretika yang dapat mengurangi
pembentukan jaringan parut pada ventrikel dan dapat memperbaiki prognosis pada
penyakit ini.
7. Warfarin/antikoagulan, untuk mencegah pembentukan bekuan darah, penggunaan
berlebihan dapat menyebabkan darah tidak dapat membeku.
8. Amiodarone( anti aritmia), untuk penatalaksanaan kelainan irama jantung/aritmia. Obat
ini dapat mengurangi insidensi untuk fibrilasi atrium dan mengurangi risiko kematian
mendadak
Komplikasi
1. Gagal jantung
2. Atrial fibrillation (AF)/fibrilasi atrium
3. Bekuan darah/Thromboemboli
4. Kelainan irama/rhythm/aritmia. Beberapa kelainan irama yang dapat
terjadi pada DCM :
Ektopik ventrikular
Kadang-kadang ada 1 denyut tambahan di luar denyut jantung.
Ventrikular takikardia
Merupakan denyut jantung yang sangat cepat. Berkaitan dengan
penurunan drastis dari tekanan darah dan gejala dari pusing sesak nafas
atau bahkan pingsan
Ventricular fibrillation (VF)/fibrilasi ventrikel
Dapat menyebabkan kolaps dan bahkan kematian jika tidak disembuhkan.
5. Sudden death/ kematian mendadak
6. Heart block

Prognosis
Secara umum prognosis penyakit ini jelek. Prediktor
risiko kematian tinggi: terdapatnya gallop protodiastolik
(S3), aritmia ventrikel, usia lanjut, dan kegagalan
stimulasi inotropik terhadap ventrikel yang telah
mengalami miopati tersebut
semakin besar ventrikel yang disertai disfungsi semakin
berat berhubungan erat dengan prognosis yang semakin
buruk.
Uji latih kardiopulmonal juga berguna sebagai gambaran
prognostik.Keterbatasan yang bermakna dari kapasitas
latihan yang digambarkan dengan penurunan ambilan
oksigen aiatemik maksimal merupakan prediktor
mortalitas dan dipergunakan sebagai indikator dan
pertimbangan untuk transplantasi jantung
Kesimpulan
Diagnosis pasien Tn. M, usia 50 tahun adalah
Congestive Heart Failure (Chf) E.C. Dilated
Cardiomyopathi (DCM)
Penegakkan diagnosis berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
Penatalaksanaan pada kasus ini adalah pemberian
digoxin dan diuretic sebagai terapi suportif pada
pasien
Prognosis pasien pada kasus ini adalah:
Ad vitam : dubia ad bonam
Ad fungsional : dubia ad bonam
Ad sanationam : dubia ad malam

DAFTAR PUSTAKA
Carrol JD, Crawford MH, 2009, Restrictive
Cardiomyopathies, dalam Crawford MH (ed.), Current
Diagnosis and Treatment in Cardiology, 172-178, London:
Prentice Hall International.
Maron BJ dkk, 2006, Contemporary Definitions and
Classification of The Cardiomyopathies, Circulation, 113,
1807-1816.
Mestroni L. Gilbert EM dkk, 2009, Dilated
Cardiomyopathies, dalam Fuster V, ORourke RA, Walsh RA
dkk (ed.), Hursts The Heart 12
th
edition, 476-489, New York:
McGraw-Hill.
Nasution SA, 2007, Kardiomiopati, dalam Sudoyo AW dkk
(ed.), Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid III, 1600-1603,
Jakarta: Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.

TERIMAKASIH