Anda di halaman 1dari 12

Peran Auditor Internal dalam Pencegahan Kecurangan, Pendeteksian Kecurangan, dan Penginvestigasian Kecurangan

P
a
g
e
1

BAB I
PENDAHULUAN
Audit internal merupakan aktivitas assurance dan konsultasi yang independen dan objektif
yang dirancang untuk memberikan nilai tambah bagi suatu organisasi dan untuk meningkatkan
kegiatan operasi organisasi tersebut. Audit internal membantu organisasi untuk mencapai tujuannya
dengan pendekatan yang sistematis dan teratur dan membantu organisasi untuk meningkatkan
keefektifan manajemen resiko, kontrol, dan proses tata kelola. Tujuan audit internal adalah untuk
membantu pimpinan perusahaan atau manajemen dalam melaksanakan tanggungjawabnya dengan
memberikan analisa, penilaian, saran-saran, dan pendapat mengenai kegiatan yang di audit oleh
auditor internal.
Auditor internal berperan sebagai penilai independen untuk menelaah operasional
perusahaan dengan mengukur dan mengevaluasi kecukupan kontrol serta efisiensi dan efektifitas
kinerja perusahaan. Auditor internal bertanggung jawab untuk melakukan telaah internal atas
kontrol-kontrol di bidang akuntansi dan manajemen. Auditor internal hanya memberikan pendapat
serta saran untuk memperbaiki kondisi perusahaan, sedangkan yang menentukan tindakan koreksi
merupakan pekerjaan manajemen. Untuk mencapai tujuan audit internal, auditor internal biasanya
melakukan kegiatan-kegiatan, seperti:
1. Melakukan telaah mengenai pengendalian internal atau sistem pengendalian
manajaemen, struktur organisasi, dan pengendalian operasional organisasi serta
mengembangkan pengendalian yang efektif dan efisien
2. Memastikan ketaatan manajemen terhadap kebijakan, rencana, dan prosedur yang telah
ditetapkan serta memastikan bahwa pengelolaan data yang dikembangkan dalam
organisasi dapat dipercaya
3. Memastikan tanggungjawab perusahaan terhadap harta perusahaan dan upaya yang
dilakukan oleh perusahaan tersebut untuk melindungi harta perusahaan dari
kemungkinan terjadinya pencurian, kecurangan, atau penyalahgunaan
4. Menilai mutu pekerjaan setiap bagian atau departemen dalam melaksanakan tugas yang
telah diberikan oleh manajemen
5. Memberikan pendapat serta saran perbaikan-perbaikan operasional untuk meningkatkan
efisiensi dan efektifitas organisasi

Peran Auditor Internal dalam Pencegahan Kecurangan, Pendeteksian Kecurangan, dan Penginvestigasian Kecurangan


P
a
g
e
2

Dari kegiatan kegiatan yang dilakukan oleh auditor internal tersebut, dapat dilihat bahwa auditor
internal berperan dalam:
1. Pencegahan Kecurangan (Fraud Prevention)
2. Pendeteksian Kecurangan (Fraud Detection)
3. Penginvestigasian Kecurangan (Fraud Investigation).
Peran Auditor Internal dalam Pencegahan Kecurangan, Pendeteksian Kecurangan, dan Penginvestigasian Kecurangan


P
a
g
e
3

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Kecurangan
Untuk mendukung keberhasilan auditor dalam pencegahan, pendeteksian, dan
penginvestigasian kecurangan, sebaiknya auditor internal memahami definisi kecurangan dan jenis-
jenis kecurangan yang dapat atau mungkin terjadi dalam organisasi. IIA mendefinisikan kecurangan
(fraud) dalam kerangka praktik profesional sebagai berikut:
Fraud. Setiap tindakan ilegal ditandai dengan penipuan, penyembunyian atau pelanggaran
kepercayaan. Tindakan ini tidak tergantung pada aplikasi kekerasan atau ancaman kekerasan
fisik. Penipuan yang dilakukan oleh partai dan organisasi untuk memperoleh kekayaan uang,
atau jasa; untuk menghindari pembayaran atau hilangnya layanan, atau untuk mengamankan
keuntungan pribadi atau bisnis.
Pada dasarnya terdapat dua tipe kecurangan, yaitu eksternal dan internal. Kecurangan
eksternal adalah kecurangan yang dilakukan oleh pihak luar terhadap suatu perusahaan atau
organisasi, pihak luar yang berpotensi melakukan kecurangan bisa berasal dari pelanggan,
distributor maupun supplier perusahaan. Sedangkan kecurangan internal adalah tindakan yang ilegal
dari karyawan, manajer, atau eksekutif. Karyawan biasanya melakukan kecurangan dengan tujuan
untuk keuntungan individu, misalnya salah saji yang berupa penyalahgunaan aktiva, sedangkan
manajemen biasanya melakukan kecurangan untuk kepentingan perusahaan, yaitu salah saji yang
timbul karena kecurangan pelaporan keuangan. Namun tidak menutup kemungkinan, manajemen
melakukan kecurangan untuk kepentingan pribadi.
ACFE (Association of Certified Fraud Examiners) menggambarkan tiga jenis utama dari
kecurangan: (1) Penyalahgunaan aset (asset misappropriation), yang melibatkan pencurian atau
penyalahgunaan aset organisasi. Penyalahgunaan aset dapat digolongkan ke dalam Kecurangan
Kas misalnya menggelapkan pendapatan, Kecurangan atas Persediaan dan Aset Lainnya
misalnya mencuri persediaan, serta pengeluaran-pengeluaran biaya secara curang (fraudulent
disbursement) misalnya penipuan penggajian. (2) Korupsi (Corruption), dimana pelaku kecurangan
menyalahgunakan pengaruh mereka dalam transaksi bisnis untuk mendapatkan beberapa
keuntungan untuk diri sendiri atau orang lain. Korupsi terbagi ke dalam pertentangan kepentingan
(conflict of interest), suap (bribery), pemberian ilegal (illegal gratuity), dan pemerasan (economic
extortion). (3) Kecurangan Laporan Keuangan (Financial Statement Fraud), kecurangan laporan
Peran Auditor Internal dalam Pencegahan Kecurangan, Pendeteksian Kecurangan, dan Penginvestigasian Kecurangan


P
a
g
e
4

keuangan dapat didefinisikan sebagai kecurangan yang dilakukan oleh manajemen dalam bentuk
salah saji material laporan keuangan yang dapat merugikan investor dan kreditor, misalnya
melebih-lebihkan pendapatan.
Auditor internal sebagai mata dan telinga, serta lengan dan kaki dari komite audit,
dianjurkan untuk mempertimbangkan pertanyaan-pertanyaan berikut:
Apakah risiko kecurangan sedang dipantau oleh fungsi audit internal secara berkala atau
teratur? Bagaimana fungsi audit internal untuk melanjutkan audit terhadap risiko ini?
Prosedur spesifik apa yang dilakukan oleh fungsi audit internal untuk pengelolaan
kegiatan pengawasan internal?
Apakah sesuatu yang terjadi akan mengakibatkan fungsi audit internal untuk mengubah
penilaian mengenai risiko, menggantikan pengelolaan kegiatan pengawasan internal?
Apa kompetensi dan keahlian auditor internal dalam mengatasi risiko kecurangan dalam
organisasi? Kapan mereka harus membawa spesialis untuk menangani isu-isu khususnya
yang kompleks?
Bagaimana seharusnya fungsi audit internal mencurahkan perhatiannya pada
pencegahan, pengintaian, dan aspek investigasi kecurangan?
Selain membentuk garis pelaporan langsung kepada komite audit, bagaimana status
organisasi independen terhadap fungsi audit internal diperkuat? Bagaimana mereka bisa
datang untuk diandalkan sebagai profesional yang kompeten dan objektif dalam
menangani risiko kecurangan dan isu-isu kontrol untuk organisasi?
2.2 Pencegahan Kecurangan (Fraud Prevention)
Peran utama dari auditor internal dalam pencegahan kecuarangan adalah berupaya untuk
menghilangkan atau mengeleminir sebab-sebab timbulnya kecurangan. Karena pencegahan
terhadap akan terjadinya suatu kecurangan akan lebih mudah daripada mengatasi bila kecurangan
tersebut telah terjadi. Amrizal (2004) menggaris bawahi bahwa pada dasarnya praktik kecurangan
akuntansi akan terus berulang dalam suatu entitas jika:
1. Pengendalian intern tidak ada atau lemah atau dilakukan dengan longgar dan tidak
efektif.
2. Pegawai dipekerjakan tanpa memikirkan kejujuran dan integritas mereka.
3. Pegawai diatur, dieksploitasi dengan tidak baik, disalahgunakan atau ditempatkan
dengan tekanan yang besar untuk mencapai sasaran dan tujuan keuangan yang mengarah
tindakan kecurangan.
Peran Auditor Internal dalam Pencegahan Kecurangan, Pendeteksian Kecurangan, dan Penginvestigasian Kecurangan


P
a
g
e
5

4. Model manajemen sendiri melakukan kecurangan, tidak efsien dan atau tidak efektif
serta tidak taat terhadap hukum dan peraturan yang berlaku.
5. Pegawai yang dipercaya memiliki masalah pribadi yang tidak dapat dipecahkan biasanya
masalah keuangan, kebutuhan kesehatan keluarga, gaya hidup yang berlebihan.
6. Industri dimana perusahaan menjadi bagiannya, memiliki sejarah atau tradisi
kecurangan.
Pada umumnya pencegahan kecurangan adalah aktivitas yang dilaksanakan manajemen
dalam hal penetapan kebijakan, sistem dan prosedur yang membantu meyakinkan bahwa tindakan
yang diperlukan sudah dilakukan dewan komisaris, manajemen, dan personil lain dalam suatu
perusahaan untuk dapat memberikan keyakinan memadai dalam mencapai 3 (tiga) tujuan pokok
yaitu; keandalan pelaporan keuangan, efektivitas dan efisiensi operasi serta kepatuhan terhadap
hukum dan peraturan yang berlaku (COSO: 1992). Kecurangan yang mungkin terjadi harus dicegah
antara lain dengan caracara berikut :
1. Membangun struktur pengendalian intern yang baik
Setiap organisasi pasti memiliki suatu tujuan, agar tujuan tersebut dapat dicapai,
harta perusahaan dapat disimpan dengan aman dan kegiatan operasi dapat dijalankan
secara efektif dan efisien, maka manajemen perlu membangun struktur pengendalian
internal yang baik dan efektif untuk mencegah kecurangan.
Perusahaan dapat menggunakan rerangka pengendalian COSO (The Committee
of Sponsoring Organizations of The Treadway Commission) untuk memperkuat
pengendalian internalnya, yang terdiri atas lima komponen yang saling terkait yaitu:
lingkungan pengendalian (control environment), penaksiran risiko (risk assessment),
standar pengedalian (control activities), informasi dan komunikasi (information and
communication), dan pemantauan (monitoring)
2. Mengefektifkan aktivitas pengendalian
Dalam mengefektifkan aktivitas pengendalian, suatu perusahaan dapat
melakukan review atas kinerja sesungguhnya dibandingkan dengan anggaran atau
prakiraan, mengolah informasi, melakukan pengendalian fisik atas aktiva perusahaan
atau catatan dan dokumen perusahaan, dan melakukan pemisahan tugas yang memadai
3. Meningkatkan kultur organisasi
Meningkatkan kultur organisasi dapat dilakukan dengan mengimplementasikan
prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG) yang saling terkait satu sama lain
agar dapat mendorong kinerja sumber-sumber perusahaan bekerja secara efisien,
Peran Auditor Internal dalam Pencegahan Kecurangan, Pendeteksian Kecurangan, dan Penginvestigasian Kecurangan


P
a
g
e
6

menghasikan nilai ekonomi jangka panjang yang berkesinambungan bagi para
pemegang saham maupun masyarakat sekitar secara keseluruhan.
4. Mengefektifkan fungsi internal audit
Salah satu hal yang harus diperhatikan oleh manajemen agar fungsi audit internal
dapat efektif membantu manajemen dalam melaksanakan tanggungjawabnya dengan
memberikan analisa, penilaian, saran dan komentar mengenai kegiatan yang
diperiksanya adalah departemen audit internal harus mempunyai kedudukan yang
independen dalam organisasi perusahaan, dengan kata lain ia tidak boleh terlibat
kegiatan operasional perusahaan dan bertanggungjawab kepada atau melaporkan
kegiatannya kepada manajemen tingkat atas.
2.3 Pendeteksian Kecurangan (Fraud Detection)
Untuk menangkal terjadinya kecurangan, pencegahan saja tidaklah memadai, auditor
internal harus memahami pula bagaimana cara mendeteksi terjadinya kecurangan. Tindakan
pendeteksian tersebut tidak dapat di generalisir terhadap semua kecurangan. Masing-masing jenis
kecurangan memiliki karakteristik tersendiri, sehingga untuk dapat mendeteksi kecurangan perlu
pemahaman yang baik terhadap jenis-jenis kecurangan yang mungkin timbul dalam perusahaan.
Sebagian besar bukti-bukti kecurangan merupakan bukti-bukti yang sifatnya tidak langsung.
Petunjuk adanya kecurangan biasanya ditunjukkan oleh munculnya gejala-gejala (symptoms)
seperti adanya perubahan gaya hidup atau perilaku seseorang, dokumentasi yang mencurigakan,
keluhan dari pelanggan ataupun kecurigaan dari rekan sekerja. Pada awalnya, kecurangan ini akan
dapat diidentifikasi melalui timbulnya karakteristik tertentu, baik yang merupakan kondisi atau
keadaan lingkungan, maupun perilaku seseorang. Karakterikstik yang bersifat kondisi atau situasi
tertentu, perilaku atau kondisi seseorang personal tersebut dinamakan Red flag.
Meskipun timbulnya red flag tidak selalu merupakan indikasi adanya kecurangan, namun
red flag ini biasanya selalu muncul di setiap kasus kecurangan yang terjadi. Pemahaman dan
analisis lebih lanjut terhadap red flag tersebut dapat membantu langkah selanjutnya untuk
memperoleh bukti awal atau mendeteksi adanya kecurangan. Amrizal (2004) menguraikan garis
besar cara mendeteksi kecurangan menurut ACFE adalah sebagai berikut:
1. Kecurangan Laporan Keuangan (Financial Statement Fraud).
Kecurangan dalam penyajian laporan keuangan umumnya dapat dideteksi melalui
analisis laporan keuangan sebagai berikut:
Peran Auditor Internal dalam Pencegahan Kecurangan, Pendeteksian Kecurangan, dan Penginvestigasian Kecurangan


P
a
g
e
7

Analisis vertikal, yaitu teknik yang digunakan untuk menganalisis hubungan antara
item-item dalam laporan laba rugi, neraca, atau laporan arus kas dengan
menggambarkannya dalam persentase.
Analisis horizontal, yaitu teknik untuk menganalisis persentase-persentase perubahan
item laporan keuangan selama beberapa periode laporan.
Analisis rasio, yaitu alat untuk mengukur hubungan antara nilai-nilai item dalam
laporan keuangan Sebagai contoh adalah current ratio, adanya penggelapan uang
atau pencurian kas dapat menyebabkan turunnya perhitungan rasio tersebut
2. Penyalahgunaan Aset (Asset Misappropriation)
Variasi pendeteksian kecurangan jenis ini sangat beragam. Pemahaman terhadap
pengendalian internal atas pos-pos tersebut akan sangat membantu dalam mendeteksi
kecurangan. Metode-metode yang bisa digunakan antara lain:
1. Analiytical Review
Review atas berbagai akun yang mungkin menunjukkan ketidak biasaan atau
kegiatan-kegiatan yang tidak diharapkan.
2. Stastitical Sampling
Melakukan sampling atas pos-pos tertentu yang dicurigai, misalnya persediaan.
Dokumen dasar pembelian dapat diuji secara sampling untuk menentukan
ketidakbiasaan (irregularities), metode deteksi ini akan efektif jika ada kecurigaan
terhadap satu attributnya, misalnya pemasok fiktif. Suatu daftar alamat PO BOX
akan mengungkapkan adanya pemasok fiktif
3. Vendor or outsider Complaints
Komplain atau keluhan dari konsumen, pemasok, atau pihak lain merupakan alat
deteksi yang baik yang dapat mengarahkan auditor internal untuk melakukan
pemeriksaan lebih lanjut.
4. Site Visite Observation
Observasi ke lokasi biasanya dapat mengungkapkan ada tidaknya pengendalian
intern di lokasi-lokasi tersebut.
3. Korupsi (Corruption)
Kecurangan ini dapat dideteksi melalui keluhan dari rekan kerja yang jujur, laporan dari
rekan, atau pemasok yang tidak puas dan menyampaikan komplain ke perusahaan. Atas
sangkaan terjadinya kecurangan ini kemudian dilakukan analisis terhadap tersangka atau
transaksinya.

Peran Auditor Internal dalam Pencegahan Kecurangan, Pendeteksian Kecurangan, dan Penginvestigasian Kecurangan


P
a
g
e
8

2.4 Penginvestigasian Kecurangan (Fraud I nvestigation)
Mendeteksi kejadian atau gejala kecurangan jelas sangat penting bagi suatu organisasi.
Namun peran auditor internal belum berakhir pada saat itu. Apakah tindakan kecurangan dituntut
melalui sistem hukum atau ditangani dalam sebuah organisasi, sangat penting untuk memahami
semua fakta dan keadaan disekitar kejadian itu. Ada beberapa langkah dalam tahap investigasi,
yaitu:
1. Menerima dugaan atau tuduhan
Auditor internal dapat menerima dugaan atau tuduhan dari berbagai sumber dalam
berbagai cara yang berbeda. Terlepas dari sumber, sebuah organisasi harus memiliki
proses atau protokol atau peraturan untuk mengumpulkan informasi yang tersedia
berkaitan dengan dugaan atau tuduhan tersebut. Terlepas dari protokol, panduan
kecurangan menyatakan bahwa sistem investigasi dan respon harus mencakup proses
untuk:
Masalah pengkategorian
Mengkonfirmasikan validitas tuduhan tersebut
Mendefinisikan keparahan tuduhan
Meningkatnya masalah atau investigasi pada saat yang tepat
Merujuk isu di luar lingkup program
Melakukan penyelidikan dan pencarian fakta
Menyelesaikan atau menutup penyelidikan
Listing jenis informasi yang harus dirahasiakan
Mendefinisikan bagaimana investigasi akan didokumentasikan
Mengelola dan mempertahankan dokumen dan informasi
Proses ini harus cukup fleksibel untuk menangani berbagai jenis dugaan atau tuduhan,
tetapi juga cukup terstruktur untuk memastikan semua langkah kunci secara tepat
dilaksanakan dan didokumentasikan.
2. Mengevaluasi tuduhan
Tidak semua dugaan atau tuduhan kecurangan terbukti menjadi tindakan kecurangan.
Langkah evaluasi melibatkan menjawab pertanyaan berikut:
Apakah tuduhan ini memerlukan penyelidikan formal atau ada informasi yang
cukup untuk menarik kesimpulan?
Siapa yang harus memimpin investigasi?
Peran Auditor Internal dalam Pencegahan Kecurangan, Pendeteksian Kecurangan, dan Penginvestigasian Kecurangan


P
a
g
e
9

Apakah ada keahlian khusus atau peralatan yang diperlukan untuk melakukan
penyelidikan?
Siapa yang harus diberitahu dan kapan?
Membangun protokol formal, seperti dibahas di bawah, akan membantu auditor internal
menjawab pertanyaan ini dan lainnya yang penting untuk mengevaluasi tuduhan itu.
3. Protokol investigasi/penyelidikan
Membangun protokol penyelidikan formal yang disetujui oleh manajemen dan dewan
akan memastikan bahwa penyelidikan mencapai tujuannya. Panduan kecurangan
menyatakan bahwa faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam mengembangkan
rencana investigasi meliputi:
Sensitivitas Waktu - investigasi perlu dilakukan tepat waktu karena persyaratan
hukum, untuk mengurangi kerugian atau potensi bahaya, atau untuk
menetapkan sebuah klaim asuransi.
Pemberitahuan - tuduhan tertentu mungkin membutuhkan pemberitahuan
kepada regulator, penegak hukum, pihak asuransi, atau auditor eksternal.
Kerahasiaan - informasi yang dikumpulkan auditor internal perlu dirahasiakan
dan distribusi terbatas pada orang-orang dengan keperluan yang sudah
disesuaikan
Hak hukum - yang melibatkan penasehat hukum di awal proses atau dalam
beberapa kasus, dalam panduan penyelidikan, membantu melindungi produk
kerja dan komunikasi pengacara dengan klien
Kepatuhan - investigasi harus mematuhi hukum yang berlaku dan aturan
mengenai pengumpulan informasi dan mewawancarai para saksi
Mengamankan bukti - bukti harus dilindungi sehingga tidak hancur dan dapat
diajukan dalam tindakan hukum
Objektivitas - tim investigasi harus netral dari individu yang diperiksa untuk
melakukan penilaian yang obyektif
Tujuan - isu atau masalah tertentu harus tepat mempengaruhi fokus, ruang
lingkup, dan waktu penyelidikan.
Penyelidikan harus dilakukan untuk mengatasi setiap faktor. Proses yang sebenarnya
akan tergantung pada sifat dari dugaan atau tuduhan, tapi kebanyakan penyelidikan
meliputi tugas seperti wawancara individu yang mungkin memiliki informasi yang
berkaitan dengan penyelidikan, pengumpulan bukti hard copy dari sumber internal dan
eksternal, melakukan uji forensik data elektronik, menganalisis data yang dikumpulkan
Peran Auditor Internal dalam Pencegahan Kecurangan, Pendeteksian Kecurangan, dan Penginvestigasian Kecurangan


P
a
g
e
1
0

dan mendokumentasikan hasil sehingga kesimpulan dapat didukung oleh hasil
penyelidikan dan orang lain dapat memahami keputusan yang mendukung kesimpulan
tersebut. Akhirnya, laporan yang tepat disiapkan bagi mereka perlu memahami hasil
penyelidikan sehingga dapat mengevaluasi tindakan berikutnya.
4. Tindakan Perbaikan
Langkah terakhir dalam penginvestigasian kecurangan adalah menentukan tindakan
yang tepat berdasarkan hasil penyelidikan. Tindakan yang mungkin meliputi:
Tindakan hukum, baik pidana atau perdata
Tindakan disipliner, seperti peringatan, penurunan pangkat, kecaman, suspensi,
atau penghentian
Klaim asuransi jika kerugian dari aksi tersebut ditutupi oleh polis asuransi
Redesain atau penguatan proses dan kontrol yang dirancang atau dioperasikan
tidak efektif, yang menyebabkan kejadian tersebut terjadi
Pada langkah ini, auditor internal hanya berperan untuk memberikan saran kepada
manajemen mengenai tindakan perbaikan yang sesuai dengan tingkat kecurangan yang
terjadi, sedangkan yang memutuskan tindakan yang tepat atau tindakan yang diambil
adalah manajemen.


Peran Auditor Internal dalam Pencegahan Kecurangan, Pendeteksian Kecurangan, dan Penginvestigasian Kecurangan


P
a
g
e
1
1

BAB III
KESIMPULAN
Setiap perusahaan, dalam menjalankan berbagai aktivitasnya akan selalu menghadapi
berbagai resiko, resiko tersebut merupakan resiko bisnis (bussiness risk). Resiko terjadinya
kecurangan (fraud) merupakan salah satu dari resiko bisnis. Menurut ACFE, kecurangan yang
terjadi dapat digolongkan ke dalam tiga kategori kecurangan, kecurangan laporan keuangan
(Financial Statement Fraud), penyalahgunaan aset (Asset Misappropriation), dan korupsi
(Corruption).
Tanda-tanda awal biasanya muncul dalam kasus kecurangan, walau demikian munculnya
tanda-tanda tersebut belum berarti telah terjadi kecurangan. Tanda-tanda awal ini dikenal dengan
nama Red flag, yang akan digunakan dan dipahami oleh auditor internal dalam melakukan
analisis dan evaluasi lebih lanjut untuk mendeteksi adanya kecurangan yang mungkin akan terjadi
sebelum dialakukan investigasi.
Setelah memahami jenis-jenis kecurangan, auditor internal perlu memahami secara tepat
struktur pengendalian internal yang baik agar dapat melakukan upaya-upaya untuk mencegah dan
mendeteksi kecurangan. Menurut COSO, struktur pengendalian intern terdiri atas lima komponen,
yaitu lingkungan pengendalian (Control Environment), penaksiran risiko (Risk Assessment), standar
pengedalian (Control Activities), informasi dan komunikasi (Information And Communication),
serta pemantauan (Monitoring).
Jika struktur pengendalian internal sudah ditempatkan dan berjalan dengan baik, peluang
adanya kecurangan yang tidak terdeteksi akan banyak berkurang. Pemeriksa kecurangan harus
mengenal dan memahami dengan baik setiap elemen dalam struktur pengendalian intern agar dapat
melakukan evaluasi dan mencari kelemahannya.
Dalam Penginvestigasian Kecurangan (Fraud Investigation), auditor internal dapat
memberikan saran dan komentar kepada manajemen mengenai temuan dalam proses investigasi dan
tindakan perbaikan yang sesuai dengan tingkat kecurangan yang terjadi, sedangkan yang
memutuskan tindakan yang tepat atau tindakan yang diambil adalah manajemen.

Peran Auditor Internal dalam Pencegahan Kecurangan, Pendeteksian Kecurangan, dan Penginvestigasian Kecurangan


P
a
g
e
1
2

DAFTAR PUSTAKA

Amrizal (2004). Pencegahan dan Pendeteksian Kecurangan oleh Internal Auditor. Di Jakarta
Putra, Yuniarti Hidayah Suyoso (2010). Praktik Kecurangan Akuntansi dalam Perusahaan. Di
Malang
Reding, Kurt F., Paul J. Sobel, dkk. (2009). Internal Auditing: Assurance & Consulting Services.
Second Edition. The Institute of Internal Auditors: Research Foundation. United States of
America
Saywer, Lawrence B. (2005). Audit Internal Sawyer. Edisi 5, Buku 1. Salemba Empat. Jakarta
www.jdih.bpk.go.id/informasihukum/Fraud(kecurangan).pdf
www.google.co.id/fraud-risks-and-control-translate.pdf