Anda di halaman 1dari 17

AUDIT FORENSIK

Fraud definitions and Taxonomy

Disusun Oleh:
KELOMPOK 6
BANI SYURA / 1402120888
SINTIA MARAMIS / 1402118262
WINDY WULANDARI / 1402121084

KELAS C GENAP 2017/2018


JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS RIAU
Statement of Authorship

Kami yang bertandatangan di bawah ini menyatakan bahwa RMK terlampir adalah
murni hasil pekerjaan kami sendiri. Tidak ada pekerjaan orang lain yang kami gunakan tanpa
menyebutkan sumbernya.

Materi ini tidak/ belum pernah disajikan/ digunakan sebagai bahan untuk makalah/
tugas pada mata ajaran lain kecuali kami menyatakan dengan jelas bahwa kami
menggunakannya.

Kami memahami bahwa tugas yang kami kumpulkan ini dapat diperbanyak dan atau
dikomunikasikan untuk tujuan mendeteksi adanya plagiarisme.

Mata Kuliah : Audit Forensik

Judul RMK/ Makalah/Tugas : Fraud definitions and Taxonomy

Tanggal : 9 Maret 2017

Dosen : Dr. H. M. Rasuli, S.E., M.Si., Akt., CA.

Nama / NIM : Bani Syura / 1402120888

Sintia Maramis / 1402118262

Windy Wulandari / 1402121084


Fraud definitions and Taxonomy
Pengertian dan Klasifikasi Kecurangan

1. Kecurangan Konsumen dan Kecrangan Investor


Kecurangan (fraud), singkatnya adalah penipuan yang disengaja, sering digambarkan sebagai
kebohongan, penjiplakan, dan pencurian. Kecurangan dapat dilakukan terhadap pelanggan, kreditor,
investor, pemasok, bankir, penjamin asuransi, atau otoritas pemerintah. Misalnya, kecurangan pajak,
kecurangan saham, penghitungan, dan timbangan yang diperkecil.

2. Kecurangan yang Bersifat Pidana dan Perdata


Sebuah tindakan khusus kecurangan bisa jadi tindak pidana, tindak perdata, atau tindakan
pelanggaran suatu kontrak. Kecurangan yang bersifat pidana memerlukan bukti dari suatu penipuan yang
disengaja. Kecurangan yang bersifat perdata mengharuskan korban menderita kerugian. Penipuan yang di
dorong oleh sebuah kontrak dapat melemahkan persetujuan dan membuat kontrak terelakkan. Definisi
tindak pidana penipuan menurut ACFE adalah tindak pidana penipuan menunjukkan representasi palsu
dari fakta material yang dibuat oleh salah satu pihak ke pihak lain dengan maksud untuk menipu dan
menginduksi pihak lain untuk dibenarkan mengandalkan fakta untuk merugikan dirinya.

3. Kecurangan untuk dan terhadap Perusahaan


Memanipulasi catatan akuntansi untuk meniggikan keuntungan adalah suatu kecurangan yang
ditujukan untuk memberi manfaat kepada perusahaan, tetapi yang mungkin memberi manfaat manajemen,
melalui pemberian bonus yang didasarkan atas keuntungan. Kecurangan terhadap perusahaan pada sisi
lain, adalah ditujukan hanya untuk memberi keuntungan kepada pelaku seperti halnya pada kasus
pencurian asset perusahaan atau penggelapan.

4. Kecurangan Internal dan Kecurangan Eksternal


Motif lain yang dapat menyebabkan terjadinya suatu Fraud atau kecurangan, yaitu penyebab yang
berasal dari lingkungan internal (dalam) perusahaan dan lingkungan eksternal (luar) perusahaan.
a Motif Fraud dari lingkungan internal. Perusahaan mencakup berbagai hal :
Lingkungan kerja yang tidak mendukung
Sistem yang tidak memadai
Sistem penghargaan yang kurang
Kurangnya tingkat kepercayaan interpersonal
Kurangnya tingkat etika
Tingkat stress yang tinggi
Tuntutan pekerjaan
Kompetisi yang tidak sehat
Tidak berfungsinya tingkat Pengendalian Internal
Tidak berfungsinya Manajemen Risiko Perusahaan
b Motif Fraud dari lingkungan eksternal. Perusahaan yang dapat menambah motif terjadinya suatu
Fraud atau kecurangan adalah :
Kondisi industri yang penuh kompetisi
Kondisi ekonomi yang tidak stabil dan tidak mendukung

Menurut Sukrisno Agoes (2004:221), internal audit (pemeriksaan intern) adalah pemeriksaan
yang dilakukan oleh bagian internal audit perusahaan, baik terhadap laporan keuangan dan catatan
akuntansi perusahaan, maupun ketaatan terhadap kebijakan manajemen puncak yang telah ditentukan dan
ketaatan terhadap peraturan pemerintah dan ketentuan-ketentuan dari ikatan profesi yang berlaku.
Internal Auditing adalah kegiatan penilaian yang independen dalam organisasi untuk mereview operasi
sebagai jasa yang diberikan kepada manajemen. Jadi internal auditing merupakan pengendalian
manajerial, yang melaksanakan fungsinya dengan mengukur dan mengevaluasi keefektifan pengendalian
lain.
Tujuan internal auditing adalah membantu anggota organisasi melaksanakan tanggung jawab mereka
secara efektif. Internal auditing menyediakan analisis, penilaian-penilaian, rekomendasi, nasehat dan
informasi mengenai kegiatan objek yang diperiksa. Tujuan pemeriksaan termasuk meningkatkan
pengendalian yang efektif dengan biaya yang wajar, tujuan tersebut hanya dapat dicapai dengan meneliti
dan menilai apakah pelaksanaan sistem pengawasan intern bidang akuntansi, keuangan dan oeprasi
berfungsi dengan baik dan memenuhi kriteria tertentu. Adapun tujuan internal auditing sebagai berikut :
Pemeriksaan dan penilaian terhadap baik atau tidaknya pengendalian akuntansi dan pengendalian
administratif dan mendorong penggunaan cara-cara yang efektif dengan biaya yang efektif
dengan biaya yang minimum.
Menentukan sampai seberapa jauh pelaksanaan kebijaksanaan manajemen puncak dipatuhi.
Menentukan sampai seberapa jauh kekayaan perusahaan dipertanggungjawabkan dan dilindungi
dari segala macam kerugian.
Menentukan keandalan informasi yang dihasilkan oleh berbagai kegiatan dalam perusahaan.
Memberikan rekomendasi perbaikan kegiatan-kegaitan perusahaan.

Dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh seorang auditor internal diatas dapat disimpulkan bahwa
profesi ini memiliki peranan yang sangat penting dalam perusahaan, diantaranya Pencegahan kecurangan
(fraud prevention), Pendeteksian kecurangan (fraud detection), Penginvestigasian kecurangan (fraud
investigation)

Eksternal auditing adalah pemeriksaan eksternal dari laporan keuangan yang


dipersiapkan oleh organisasi. Biasanya audit eksternal ini diadakan untuk tujuan
hukun (untuk memenuhi persyaratan hukum). Auditor eksternal biasanya juga
dipekerjakan untuk melakukan tugas khusus tambahan (misalnya penyelidikan
penipuan). Tujuan dari audit eksternal adalah untuk memastikan laporan tahunan
memberi gambaran yang tepat dan sebenarnya mengenai kondisi keuangan
organisasi; dan bahwa dana yang dimiliki telah digunakan sesuai dengan tujuan
yang sudah dijelaskan dalam konstitusi.

5. Kecurangan Manajemen dan Non Manajemen


Ada beberapa bentuk fraud, yakni fraud yang dilakukan ditingkat pelaksana/ karyawan yang
seringkali disebut sebagai employee fraud atau menipu. Sedang yang dilakukan ditingkat yang lebih
tinggi, yakni atasan atau manajemen seringkali disebut sebagai management fraud atau lebih gagah lagi
termasuk dalam bagian white-color-crime yang intinya juga menipu.

Fraud yang dilakukan oleh tingkat yang lebih rendah biasanya sangat mudah dideteksi karena caranya
lebih sederhana dan tidak berpikir akibatnya secara jangka panjang. Sedangkan management fraud yang
hanya bisa dilakukan oleh atasan yang memiliki wewenang cukup, biasanya mempunyai ciri antara lain :

Tindakannya terlihat logis/ masuk akal/ rasional

Memberikan keuntungan kepada dirinya

Memberikan kesan bukan tindakan kriminal dan tidak merasa bersalah karena ia merasa apa yang
diambilnya adalah miliknya.

Beberapa contoh fraud : perusahaan didalam perusahaan, keputusan yang menguntungkan pihak lain tapi
merugikan perusahaan, manipulasi pembayaran kepada supplier/ contractor, penerimaan komisi/ kick
back ke rekening orang lain yang masih dalam pengendaliannya. Karena itu terbongkarnya management
fraud seringkali secara kebetulan atau telah lama terjadi sehingga menimbulkan gosip atau memberikan
tanda-tanda yang memerlukan investigasi yang lebih detail dan professional.
Pelaku management fraud umumnya orang yang cukup cerdas tetapi tidak jujur. Bisa juga orang yang
memiliki kekuasaan/ wewenang yang luas sehingga dapat mengatur atau menciptakan prosedur yang
dianggap logis dan sulit untuk dideteksi dengan dibantu oleh asisten atau bawahannya yang loyal.
Management fraud akan terjadi apabila aspek :

1 Condition (situasinya memungkinkan, adanya peluang/ kesempatan untuk melakukannya),

2 Motivation pada diri pelaku (adanya situasi yang sangat menekan sehingga mendorong pelaku
melakukannya) dan

3 Attitude pelakunya (karakteristik Pribadi yang memang dasarnya penipu) tergabung menjadi satu.

Apabila salah satu aspek atau dua aspek terseb diatas tidak ada maka management fraud agak sulit terjadi.
Berdasarkan hasil research di Amerika menyebutkan bahwa posisi management fraud mencapai angka
cukup tinggi (36% dengan jumlah kerugian lebih besar daripada employee fraud) jika dibandingkan
dengan employee fraud (58% dengan jumlah kerugian hanya 1/5 daripada kerugian yang disebabkan oleh
management fraud). Penyimpangan sisanya sebesar 6% adalah dengan cara collusion yang menimbulkan
kerugian 2 kali lebih besar daripada kerugian akibat management fraud. Berdasarkan hal-hal tersebut
diatas maka sebenarnya :

Aspek personalia (Motivation dan Attitude) merupakan dua aspek terpenting/ terbesar yang
memungkinkan terjadinya management fraud. Kesalahan sejak rekrutmen, penempatan dan
pengembangan personalia akan dapat membentuk staff/ karyawan dengan kepribadian yang kurang baik
sehingga rentan terhadap peluang/ kesempatan fraud. Sedang satu aspek lainnya yakni Condition
merupakan sumbangan dari lemahnya organisasi, manajemen, sistem, ketentuan/ prosedur dan etika bisnis
sehingga memberikan peluang kepada orang yang rakus, cerdas tetapi tidak jujur, dan berkuasa/ memiliki
wewenang luas untuk melakukan fraud.

Dengan demikian jelas bahwa peranan Department of Human Resources Development (HRD) sangatlah
penting sehingga adanya suatu kebijakan/ ketentuan personalia yang memadai adalah suatu keharusan
mutlak. Sedangkan fungsi Internal Audit hanya dapat membantu melakukan pencegahan terjadinya
employee fraud maupun management fraud melalui kegiatan :

1 Proaktif : mendorong untuk dijalankannya/ ditepatinya ketentuan/ prosedur yang telah ditetapkan
perusahaan, melalui kegiatan audit rutin termasuk konsultansi/ pembinaan dan juga berpartisipasi
dalam program pendidikan & pelatihan dibidang risk management, control dan corporate
governance untuk dapat merubah jalan pemikiran (mindset) kearah yang lebih positif.

2 Preventif : melakukan pencegahan sedemikian rupa untuk mempersulit terjadinya management


fraud. Dalam hal ini diperlukan kerjasama terpadu antara fungsi Internal Audit, HRD dan
departemen lain yang terkait untuk bersama-sama menyusun program tsb. Dalam hubungan ini
juga diperlukan suatu penilaian terhadap risiko yang dapat menimbulkan terjadinya fraud dan
upaya memahami dampak fraud sehingga dapat disusun suatu ketentuan/ prosedur pencegahan
timbulnya fraud.

3 Investigasi : Dalam hal kedua kegiatan tsb diatas ternyata tidak efektif maka barulah dilakukan
suatu tindak investigasi yang lebih detail untuk memperoleh jumlah kerugian sebagai akibat
terjadinya fraud, siapa saja yang terlibat, modus operandi, sebab-sebab yang memungkinkan
terjadinya fraud sebagai bahan perbaikan ketentuan/ prosedur dan pencegahan dikemudian hari.
Dalam hal ini diperlukan tenaga internal auditor yang lebih kompeten dalam kegiatan investigasi.
Dia harus pula memahami prinsip-prinsip alat bukti/ pembuktian untuk keperluan litigasi/ hukum/
pengadilan serta tindak lanjut hasil audit yang jelas dan tegas dari Direksi/ Komisaris.

6. Frauds auditing, Forensic accounting, dan Financial auditing

A Frauds Auditing
Kecurangan adalah penipuan yang disengaja, umumnya dalam bentuk kebohongan, penjiplakan dan
pencurian. Kecurangan dilakukan untuk memperoleh keuntungan berupa uang dan kekayaan, atau untuk
menghindari pembayaran atau kerugian jasa, atau menghindari pajak serta mengamankan kepentingan
pribadi atau usah. pengertian kecurangan lainnya, yaitu sebagai berikut di bawah ini :
Menurut G. Jack Bologna, Robert J. Lindquist dan Joseph T. Wells, Kecurangan adalah penipuan
kriminal yang bermaksud memberi manfaat keuangan kepada si penipu.
Menurut Amin Widjaja, Kecurangan (fraud) adalah penipuan yang disengaja, umumnya
diterangkan sebagai kebohongan, penjiplakan dan pencurian.
Menurut Tommie W. Singleton dan Aaron J, kecurangan adalah perbuatan mencakup akal
muslihat, kelicikan, dan tidak jujur dan cara-cara yang tidak layak/wajar untuk menipu orang lain
untuk keuntungan diri sendiri, sehingga menimbulkan kerugian bagi pihak lain.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kecurangan adalah berbagai macam cara kecerdikan manusia
yang direncanakan dan dilakukan secara individual maupun berkelompok untuk memperoleh manfaat
atau keuntungan dari pihak lain dengan cara yang tidak benar sehingga menimbulkan kerugian bagi pihak
lain. Dengan kata lain, kecurangan adalah penipuan yang disengaja, yang dimaksudkan untuk mengambil
aset atau hak orang lain. Kecurangan korporasi umumnya berasal dari dua arah yaitu kecurangan dari
internal dan kecurangan dari eksternal.

Kecurangan internal adalah kecurangan yang berasal dari pihak dalam perusahaan itu sendiri.
Sedangkan kecurangan eksternal adalah kecurangan yang berasal dari pihak luar perusahaan. Seperti
melalui penyuapan, peninggian nilai faktur (overbilling), adanya faktur ganda (double billing) serta
penipuan kualitas seperti transaksi barang yang tidak sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati
misalkan rendahnya kualitas mutu produk dan jasa. Tipe-Tipe Kecurangan. Secara skematis, Fraud atau
kecurangan akuntansi terbagi dalam tiga tipe yaitu :
a Korupsi. Korupsi ini mencakup beberapa hal seperti konflik kepentingan rekan atau keluarga
dalam proyek, penyuapan, pengambilan dana secara paksa, permainan dalam tender dan
graftifikasi terselubung.
b Pengambilan aset secara illegal. Pengambilan aset secara illegal ini maksudnya adalah
pengambilan aset secara tidak sah atau melawan hukum. Adapun pengambilan aset secara illegal
ini mencakup 3 hal yaitu :
Skimming atau penjarahan, di mana uang dijarah sebelum masuk kas perusahaan. Dengan
kata lain, dana diambil sebelum adanya pembukuan.
Lapping atau pencurian, di mana uang dijarah sesudah masuk kas perusahaan. Contohnya
adalah pembebanan tagihan yang tidak sesuai dengan kenyataannya, pembayaran biaya
biaya yang tidak logis serta pemalsuan cek.
Kitting atau penggelapan dana, di mana adanya bentuk penggelembungan dana, atau
adanya dana mengambang (Free Money).
c Kecurangan laporan keuangan. Ini merupakan kecurangan berupa salah saji material dan data
keuangan palsu. Salah saji material adalah kesalahan hitung dan angka dalam laporan keuangan.
Seperti menyajikan aset atau pendapatan lebih tinggi dari yang sebenarnya atau sebaliknya.
Sedangkan data keuangan palsu adalah rekaan data keuangan.

Ada beberapa faktor penyebab terjadinya Fraud atau kecurangan, pertama adalah karena motif
ekonomi dan tekanan (pressure) keuangan, serta tekanan karena pekerjaan. Motif ekonomi menandakan
bahwa pelaku mempunyai tujuan utama berupa suatu kebutuhan atau keinginan untuk memperoleh
keuntungan finansial dari kecurangan tersebut, yaitu berupa uang atau sesuatu yang dapat ditukar dengan
uang. Dalam hal ini, biasanya Fraud atau kecurangan terjadi karena adanya dorongan untuk memiliki
harta lebih seperti gaya hidup mewah, demi harga diri atau agar lebih dipandang di masyarakat. Atau
karena jumlah penghasilan gaji minim padahal kebutuhan hidup yang harus dipenuhi banyak. Ada pula
yang disebabkan karena tekanan pekerjaan seperti adanya tekanan pekerjaan dari pihak ketiga.
Motif kecurangan lainnya adalah egosentris, ideologis dan psykhotis. Motif egosentris berasal dari
fakta bahwa sang penipu lebih pintar dan lebih cerdik dari pada orang lain, dalam arti dia dapat
memanipulasi dan merekayasa hasil pekerjaannya seperti memanipulasi buku besar tanpa diketahui atau
dideteksi. Sementara Motif ideologis muncul karena pelaku tidak puas akan sesuatu sehingga
menimbulkan motif eksploitasi terhadap lainnya. Atau berupa protes yang kuat akan sesuatu, seperti
pemrotes perpajakan misalkan dengan cara memanipulasi hitungan pajak sehingga pajak menjadi nihil
atau sebaliknya. Motif Psychotis, adalah Egosentris dalam bentuk ekstrim, sehingga terkesan cuek atau
acuh tak acuh pada keadaan. Contohnya seperti gangguan mental klaptomania, atau melakukan kejahatan
mereka di luar kewajiban atau obsesi. Selain empat motif penyebab terjadinya Fraud atau kecurangan di
atas, ada pula motif lain yang dapat menyebabkan terjadinya suatu Fraud atau kecurangan, yaitu
penyebab yang berasal dari lingkungan internal (dalam) perusahaan dan lingkungan eksternal (luar)
perusahaan.

B Forensic Accounting
Istilah akuntansi forensik merupakan terjemahan dari Forensic Accounting. Akuntansi forensik adalah
ilmu yang relatif baru. Ada beberapa macam pengertian akuntansi forensik, antara lain sebagai berikut :
Menurut Larry Crumbley secara sederhana dapat dikatakan bahwa akuntansi forensik adalah
akuntansi pemeriksaan yang akurat untuk tujuan hukum.
Menurut Jack Bologna, akuntansi forensik dapat diartikan sebagai akuntansi yang berkenaan
dengan pengadilan atau berkenaan dengan penerapan pengetahuan ilmiah akuntansi pada masalah
hukum.
Menurut Theodorus M Tuanakotta akuntansi forensik adalah penerapan sistem akuntansi dalam
bidang hukum terutama pada permasalahan kecurangan atau fraud.

Maka dapat disimpulkan bahwa Akuntansi forensik adalah penggunaan keahlian akuntansi yang
dipadukan dengan kemampuan investigatif untuk memecahkan suatu masalah/sengketa keuangan atau
dugaan fraud. Akuntansi forensik pada dasarnya adalah perpaduan antara bidang akuntansi dan bidang
hukum. Kedua disiplin ilmu tersebut saling isi mengisi satu sama lain. Oleh karena itulah akuntasi
forensik bisa diartikan sebagai penggunaaan ilmu akuntansi untuk kepentingan hukum.
Akuntansi forensik ini bertujuan untuk menerjemahkan transaksi keuangan yang kompleks dari data,
angka ke dalam bentuk yang dapat dimengerti secara umum. Serta memahami apa yang ada di balik
laporan keuangan. Hal ini tentu saja, dimaksudkan agar segala sesuatu dapat dilakukan pendeteksian sejak
dini, sehingga bisa segera diketahui ada yang tidak beres dalam datadata keuangan yang disajikan. Ada
beberapa perbedaan antara Akuntansi Umum dan Akuntansi Forensik, yaitu :

NO UNSUR AKUNTANSI UMUM AKUNTANSI FORENSIK

1 Waktu Reguler Non reguler


2 Lingkup Laporan Keuangan secara umum Spesifik

3 Tujuan Memberikan Opini Membuktikan kecurangan.


4 Teknik Akuntansi Akuntansi dan hukum
5 Audit Standar Audit akuntansi Standar Audit akuntansi dan
Hukum Positif

Adapun standar akuntansi Forensik ada empat macam yaitu :


1 Independensi. Akuntan forensik harus independen dalam melaksanakan tugasnya, bertangggung
jawab dan objektif atau tidak memihak dalam melaksanakan telaahan akuntansi forensiknya.
2 Kemahiran Profesional. Akuntansi forensik harus dilaksanakan dengan kemahiran dan kehati-
hatian professional.
3 Lingkup Penugasan. Akuntan harus memahami tugasnya dengan baik, mengkajinya dengan teliti
dan melaporkannya dalam kontrak.
4 Pelaksanaan Tugas Telaahan. Akuntan harus memahami permasalahan dengan baik, seperti
rumusan masalah, perencanaan dan pengumpulan bukti dan evaluasinya, sampai pada tahap
komunikasi hasil penugasan berupa laporan akhir yang berisi fakta dan kesimpulan.

Teknik-Teknik Pemeriksaan fraud dalam Akuntansi Forensik. Secara umum ada sembilan teknik
pemeriksaan akuntansi forensik yang biasa digunakan untuk mengungkap adanya tindak kecurangan atau
Fraud, yaitu :
1 Penggunaan teknik-teknik pemeriksaan laporan keuangan. Pemeriksaan ini berfungsi untuk
menilai kewajaran penyajian laporan keuangan.
2 Pemanfaatan teknik perpajakan. Teknik perpajakan biasa digunakan dalam pemeriksaan kejahatan
terorganisisr dan penyeludupan pajak penghasilan.
3 Penelusuran jejak-jejak arus uang. Penelusuran jejak-jejak arus uang ini lebih dikenal dengan
istilah follow the money. Follow the money secara harfiah berarti mengikuti jejak-jejak yang
ditinggalkan dalam suatu arus uang atau arus dana.
4 Penerapan teknik analisis hukum. Dalam hal ini akuntan forensik harus mempunyai pemahaman
tentang hukum pembuktian sesuai dengan masalah yang dihadapi, seperti tindak pidana umum,
tindak pidana khusus, serta pencucian uang.
5 Pemanfaatan teknik audit investigatif dalam pengadaan barang. Pemeriksaan pengadaan barang
ini merupakan suatu upaya untuk memastikan bahwa dana publik dibelanjakan dengan baik guna
meningkatkan efektivitas operasional serta sesuai peruntukkannya.
6 Penggunaan computer forensic. Ada dua pokok utama dalam computer forensic : Pertama, segi-
segi teknis yang berkenaan dengan teknologi (komputer, internet dan jaringan) dan alat-alat
(Windows, Unix, serta Disk drive imaging). Kedua, adalah segi-segi teknis hukum seperti
penggeledahan dan penyitaan barang bukti.
7 Penggunaan teknik interogasi. Teknik interogasi ini dilakukan secara persuasif. Akuntan biasanya
menggunakan taktik membuat penyataan dan bukan mengajukan pertanyaan. Tujuannya
tidak lain adalah untuk mengetahui detil lengkap tentang kejadian yang sebenarnya.
8 Penggunaan Undercover Operations. Undercover Operations adalah suatu kegiatan yang
berupaya mengembangkan barang bukti secara langsung dari pelaku kecurangan dengan
menggunakan samaran (disguise) dan tipuan (deceit).
9 Pemanfaatan whistleblower. Whistleblower diterjemahkan secara harfiah dengan istilah peniup
peluit. Maknanya adalah orang yang mengetahui adanya bahaya atau ancaman dan berusaha
menarik perhatian dengan meniup peluitnya. Meniup peluit di sini digunakan dengan kiasan yang
artinya adalah membuka aib dan membocorkan rahasia. Atau dalam istilah lain adalah pelapor
pelanggaran.

C Financial Auditing

Audit Finansial adalah audit untuk mengukur tingkat efisiensi, efektivitas dan produktivitas suatu
perusahaan. Sasarannya adalah Menilai efektivitas satuan kerja yang mengurus keuangan perusahaan
dengan nama atau nomenkatur apapun satuan kerja itu dikenal, Mencari fakta dan infomarsi tentang
efisiensi kerja internal satuan yang mengukur keuangan perusahaan. Audit finansial melakukan
pemeriksaan atas kewajaran praktik akuntansi berdasarkan standart akuntansi yang diterima artinya audit
finansial memverifikasi apakah laporan keuangan yang memuat informasi historis telah disajikan secara
wajar. Karekteristik audit finansial yaitu :
bertujuan memberikan opini tentang kewajaran laopran keuangan.

Ruang lingkupnya atas data atau catatan keuangan.

Standart penilainya berdasarkan prinsip akuntansi secara umum

Guna dari audit finansial adalah untuk pihak luar ( ekstern )

Tujuan utama audit laporan keuangan adalah untuk mengidentifikasi kesalahan dan penyimpangan
yang jika tidak terdeteksi akan memberikan dampak materil pada kewajaran penyajian dan kesesuaian
laporan keuangan dengan GAAP. Agar fisibel dan dapat dibenarkan secara ekonomis, proses audit
bertujuan untuk mencapai tingkat kepastian yang wajar atas data yang ditelaah. Audit Keuangan
dimaksudkan untuk mencari dan menentukan informasi tentang bagaimana rencana aksi yang telah
ditetapkan dapat diwujudkan melalui berbagai kegiatan operasional dilihat khusus dari segi keuangan.
Pengauditan tidak diperkenankan dilakukan berdasarkan analisis subjektif maka harus dilakukan analisis
tentang hasil yang nyata dicapai dalam pelaksanaanya dalam kurun waktu tertentu. Audit Finansial
meliputi :

1. Fungsi dasar menajemen keuangan Tugas pokoknya manajemen keuangan pengambilan


keputusan tentang penanaman modal pembiayaan kegiatan bisnis dan pembagian deviden.
Kegiatan manajemen keuangan anatara lain adalah : - Terlibat dalam perencanaan dan peramalan
berbagai kegiatan bisnis - Memberikan perhatian yang serius pada inventasi dan sumber
pembiayaan - Memainkan peranan prinsip efisiensi dalam membantu manajer lain.

2. Pengenalan Lingkungan Keuangan Lingkungan keuangan tersebut misalnya pasar uang, lembaga
keuangan, instrumen keuangan harus dikenali manajer keuangan agar mampu memanfaatkan
demi persiapan keberadaan perusahaan untuk peningkatan kemampuan tumbuh kembangnya.
Berdasarkan pengetauan dan pengalaman serta pemahaman pasar uang dan lembaga keuangan
seorang manajer keuanan dapat mengambil keputusan yang tepat tentang instrumen keuangan
mana yang dipandang paling tepat untuk digunakan misalnya perolehan modal untuk investasi
dan bentuk pembiayaan lain dalam rangka perolehan dana yang diperlukan perusahaan

3. Laporan Keuangan Laporan keuangan mengandung informasi aktual dan akurat tentang kinerja
perusahaan pada periode tertentu. Pembuatan laporan keuangan sangat penting karena akan
bermanfaat bagi berbagai pihak misalnya pemodal, pemilik saham dalam mengambil keputusan
tentang berlanjut tidaknya kegiatan penanaman modal dll. Keakuratan laporan keuangan harus
memenuhi ketentuan akuntansi yang berlaku di negara bersangkutan.

4. Faktor Waktu dalam manajemen Keuangan Waktu dalam hal pengambilan keputusan yang
diarahkan pada pemantapan posisi keuangan perusahaan, yang paling penting dimensi waktu
dipahami oleh para manajer keuangan, para analis keuangan dan para akuntan dalam pengelolaan
keuangan perusahaan , karena dengan demikian mereka dapat mengambil langkah yang tepat
dalam penyelanggaraan tugas fungsionalisnya dalam rangka peningkatan efisiensi, efektivitas dan
produktivitas perusahaan.

5. Penganggaran modal sebagi fungsi Penganggaran modal adalah keseluruhan proses perencanaan
pengeluaran uang yang akan diperolah kembali pada satu waktu dimasa depan. Sasarannya adalah
pengeluaran yang pada dasarnya berupa investasi dan manambah kekayaan perusahaan dengan
tujuan meningkatkan kemampuan perusahaan untuk mencapai tujuan.

6. Pentingnya analisis, perencanaan dan pengendalian keuangan Analisis, perencanaan sdan


pengendalian keuangan berpengaruh pada peningkatan efisiensi, efektivitas, produktivitas kerja
perusahaan dengan berbagai komponennya akan semakin besar karena adanya upaya dari semua
pihak dalam perusahaan untuk menghilangkan atau paling sedikit mengurangi terjadinya
pemborosan.

7. Manajemen Modal Kerja Merupakan investasi yang dibuat oleh perusahaan dalam berbagai
bentuk. Misal dengan mengurangi kewajiban lancar yang akan digunakan untuk membiayai harta
lancar. Modal kerja merupakan investasi yang digunakan oleh perusahaan dalam berbagai bentuk
misalnya uang tunai, surat berharga, pitang, persediaan bahan atau produk jadi.

8. Manajeman Kas dan Surat Berharga Pada tingkat tertentu likuditas perusahaan ditentukan oleh
kemampuan manajer keuangan mengelola arus kas dan surat berharga. Peran surat berharga
adalah sebagai pengganti uang tunai dikas dan sebagai investasi sementara. Oleh karena itu
seorang manajer keuangan harus memahami kriteria yang tepat dugunakan dalam kepemilikan
berbagai surat berharga terutama dilihat dari segi risiko pemilikan keuangan, suku bunga, daya
beli, mudah tidaknya dicairkan, beban pajak yang dipikul, hasil bunga yang relatif.

9. Manajeman Persediaan Pengelolaannya dengan tingkat yang seefisien mungkin menyangkut


bahan baku atau bahan mentah, bahan setengah jadi atau siap dijual. Manajeman persediaan harus
terselenggara dengan baik mampu mengkontrol persediaan barang agar tidak menumpuk
digudang tetapi juga jangan sampai minim persediaan sehingga permintaan konsumen terpenuhi.

10. Manajemen Kredit Dalam berbagai transaksi antara perusahaan dan pelanggan terkadang terdapat
kebijaksanaan kredit maka manajer keuangan dihadapkan pada pengambilan keputusan tentang
standart kredit, syarat kredit, menilai kredibilitas pelanggan yang meliputi 5 C yaitu : - Character
- Capacity - Capital - Collateral - Condition Tetapi pemberian kredit harus sesuai dengan kondisi
perusahaan karena manajemen keuangan semakin berorientasi pada penghematan atau
keterbatasan dana perusahaan. Perlu diketahui sumber dana perusahaan berasal dari : - Sebagian
kekayaan pemodal yang disisihkan sebagi modal kerja perusahaan - Equity - Penjualan saham
bagi perusahaan yang sudah go public - Pinjaman dari lembaga keuangan atau bank - Keuntungan
yang diperoleh perusahaan dalam penjualan produk

7. Motivasi dan Peluang Penipuan

Penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa kondisi yang biasanya terjadi sebelum penipuan:
adanya tekanan atau motivasi ,dan peluang.

Yang dimaksud dari kondisi tersebut adalah dimana motivasi seseorang untuk melakukan penipuan ,
itu semua berawal dari tekanan berupa seperti tekanan keuangan atau memiliki banyak tagihan. Sering
kali pelaku merasa tekanan-tekanan semacam ini tidak dapat dibagi dengan orang lain.

Sedangkan peluang adalah dimana kondisi atau situasi yang memungkinkan seseorang untuk
melakukan dan menutupi suatu tindakan yang tidak jujur. Daftar peluang yang membuat penipuan mudah
untuk dilakukan dan ditutupi hamper tidak ada akhirnya.

8. Mendeteksi Kecurangan

Di dalam mendeteksi kecurangan , sebagai seorang auditor dapat melakukan teknik-teknik berikut
ini :

Critical Point Auditing (CPA)

Yang dimaksud dengan CPA yaitu suatu teknik dimana melalui pemeriksaan atas catatan
pembukuan , gejala suatu manipulasi dapat diidentifikasi.

Critical point auditing ini merupakan:


1. Analisis Tren , pengujian ini terutama dilakukan atas kewajaran pembukuan pada rekening
buku besar dan menyangkut pula pembandingannya dengan data sejenis untuk periode
sebelumnya maupun dengan data sejenis dari cabang cabang perusahaan.

2. Pengujian Khusus , dimana pengajian khusus dilakukan terhadap kegiatan-kegiatan yang


memiliki risiko tinggi untuk terjadinya kecurangan . yang dimaksud dengan kegiatan-
kegiatan tersebut itu adalah:

- Pembelian

- Pemeriksaan tingkat kewenangan pejabat dalam melakukan pembelian dan menyetujui


faktur.

- Penjualan dan Pemasaran

- Persediaan

- Analisis hubungan

Job Sensitivity Analysis (JSA)

Dimana JSA ini memiliki teknik analisis kepekaan pekerjaan yang didasarkan pada suatu asumsi.
Dengan kata lain, teknik ini merupakan analisis dengan resiko kecurangan dari sudut pelaku
potensial kemudian pencegahan dari kecurangan dapat dilakukan dengan memperketat
pengendalian intern pada posisi yang rawan kecurangan.

9. Mencegah Terjadinya Kecurangan


Untuk mencegah terjadinya kecurangan bisa dilihat dari beberapa jenis kecurangannya yaitu:

Jenis Kecurangan
Jenis-jenis kecurangan yang dikenal selama ini meliputi kecurangan-kecurangan berikut ini :
1 Employee embezzlement atau occupational fraud, yaitu kecurangan yang dilakukan pegawai
karena jabatan atau kedudukannya dalam organisasi.
2 Management fraud, yaitu kecurangan yang dilakukan oleh manajemen, biasanya dengan
melakukan penyajian laporan keuangan yang tidak benar untuk keuntungan organisasi atau
perusahaan.
3 Investment scam, yaitu kecurangan yang dilakukan dengan membujuk investor untuk
menanamkan uangnya pada suatu bentuk investasi dengan janji akan memperoleh hasil
investasi yang berlipat dalam waktu capat.
4 Vendor fraud, yaitu kecurangan yang dilakukan oleh pemasok atau organisasi yang menjual
barang/jasa dengan harga yang teralu tinggi dibandingkan dengan kwalitasnya, atau
barang/jasanya tidak direalisasikan walaupun pembeli telah membayar.
5 Customer fraud, yaitu kecurangan yang dilakukan pembeli/pelanggan.
6 Computer fraud, yaitu kecurangan yan dilakukan dengan cara merusak program komputer,
file data, sistem operasi, alat atau media yang digunakan yang mengakibatkan kerugian bagi
organisasi yang sistem komputernya dimanipulasi.

Selain itu ada beberapa elemen kunci yang mesti kita ketahui sebagai seorang auditor , elemen
kunci yang disebut sebagai Fraud Triangel yang mendorong seseorang atau sekelompok orang
melakukan kecurangan. Ketiga elemen tersebut adalah :
1 Adanya tekanan (perceived pressure)
2 Adanya kesempatan (perceived opportunity)
3 Adanya alasan pembenaran (rationalization)

Jadi seorang auditor jika ingin menutup atau meminimalkan kecurangan,membangun sistem
pengendalian intern merupakan cara yang dapat dilakukan oleh manajemen. Agar pengendalian
intern dengan sarana-sarana pengendaliannya dapat berjalan secara efektif, Committee of
Sponsoring Organization of The Treadway Commission yang dikenal dengan singkatan
COSO, menetapkan 5 komponen Struktur Pengendalian Intern yang harus dilaksanakan, seperti :

1 Lingkungan pengendalian (control environment)


2 Penilaian risiko (risk assessment)
3 Aktivitas pengendalian (control activities/control procedures)
4 Informasi dan komunikasi (information and communication)
5 Pemantauan (monitoring)

Sumber :
o Larry D. Crumbley, Forensic and Investigative Accounting.
o G. Jack Bologna, Robert J. Lindquist dan Joseph T. Wells. Fraud Auditing and Forensic
Accounting: New Tolls and Techniques.
o Theodorus M Tuanakotta, Akuntansi Forensik dan Audit Investigatif, (Jakarta: Salemba Empat,
2010)
o Tommie W. Singleton dan Aaron J, Fraud Auditing and Forensic Accounting, (John Wiley &
Sons, Inc., 2010)
o https://id.wikipedia.org/wiki/Audit_finansial
o https://www.academia.edu/22441874/Teori_Kecurangan_Akuntansi
o http://yann-achmad.blogspot.co.id/2012/04/auditor.html
o http://referensiakuntansi.blogspot.co.id/2012/11/internal-auditing.html
o https://diaryintan.wordpress.com/2010/11/21/etika-dalam-akuntansi-creative-accounting-fraud-
auditing-accounting-dll/
o https://mariberkarya.wordpress.com/2008/07/22/management-fraud/