Anda di halaman 1dari 7

Laporan Praktikum Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan

Acara I
PENGARUH FAKTOR LINGKUNGAN TERHADAP LAJU FOTOSINTESIS







Disusun oleh

Nama : Muhammad Darussalam Teguh
NIM : 12696
Golongan : B4
Asisten Koreksi : Elisa Anggraini






Laboratorium Ilmu Tanaman
Jurusan Budidaya Pertanian
Fakultas Pertanian
Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta
2014
ACARA 1
PENGARUH FAKTOR LINGKUNGAN TERHADAP LAJU FOTOSINTESIS
PENDAHULUAN
Fotosintesis merupakan salah satu cara asimilasi karbon karena dalam fotosintesis
karbon bebas dari CO2 diikat (difiksasi) menjadi gula sebagai molekul penyimpan energi.
Reaksi dalam fotosintesis yang menghasilkan glukosa ialah sebagai berikut :
6CO
2
+ 6H
2
O
cahaya matahari
C
6
H
12
O
6
+ 6O
2
. Glukosa digunakan untuk membentuk senyawa
organik lain seperti selulosa dan dapat pula digunakan sebagai bahan bakar. Proses ini
berlangsung melalui respirasi seluler. Secara umum reaksi yang terjadi pada respirasi
seluler berkebalikan dengan persamaan di atas. Pada respirasi, gula (glukosa) dan senyawa
lain akan bereaksi dengan oksigen untuk menghasilkan karbon dioksida, air, dan energi
kimia (Pertamawati, 2010). Oleh karena itu, dalam praktikum pengaruh faktor lingkungan
terhadap laju fotosintesis ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh factor lingkungan antara
lain intensitas cahaya,warna cahaya dan suhu terhadap laju fotosintesis dengan cara
menghitung hasil fotosintesis yaitu O
2
yang dihasilkan.
Proses fotosintesis hanya dapat berlangsung bila pigmen fotosintesis menerima
intensitas cahaya tertentu yang memenuhi syarat untuk terjadinya proses tersebut. Tidak
semua radiasi elektromagnetik yang jatuh pada tumbuhan yang berfotosintesis dapat
diserap, tetapi hanya cahaya tampak (visible light) yang memiliki panjang gelombang
berkisar antara 400 sampai 720 nm yang diabsorpsi dan digunakan untuk fotosintesis.
Umumnya fotosintesis bertambah sejalan dengan peningkatan intensitas cahaya sampai
pada suatu nilai optimum tertentu (cahaya saturasi). Di atas nilai tersebut cahaya
merupakan penghambat bagi fotosintesis (cahaya inhibisi), sedangkan di bawah nilai
optimum merupakan cahaya pembatas sampai pada suatu kedalaman di mana cahaya tidak
dapat menembus lagi (Sunarto, dkk., 2004).
Ada aspek lain yang harus dipertimbangkan sebelum seseorang bisa
merekomendasikan tanaman yang tumbuh pada suhu optimal untuk fotosintesis. Suhu
rendah diperlukan pada intensitas cahaya rendah dan konsentrasi CO2 di atmosfer ambient
tidak mungkin optimal untuk pertumbuhan. Fakta bahwa respirasi meningkat secara
eksponensial dengan suhu gelap menyiratkan bahwa energi yang tersedia untuk proses
pertumbuhan juga akan meningkat dengan suhu. Dari pertimbangan tersebut tampak bahwa
konsep asli mengendalikan kondisi untuk fotosintesis maksimum tanaman luas daun yang
diberikan dan dengan demikian intersepsi cahaya, tidak cukup. Ini harus dilengkapi dengan
informasi lebih lanjut tentang kondisi lingkungan yang optimal untuk pertumbuhan organ
tanaman yang berbeda sehingga dasar yang diperlukan untuk menentukan iklim rumah kaca
yang optimal dapat disediakan (Enoch and Hurd, 1977).
Pada kebanyakan tanaman, sebagai respon langsung terhadap suhu, tingkat
cahaya jenuh fotosintesis rendah di ekstrim suhu rendah dan tinggi dan memiliki optimum
pada pertengahan suhu. Dengan perubahan suhu pertumbuhan banyak tanaman
menunjukkan plastisitas fenotipik yang cukup dalam karakteristik fotosintesis mereka.
Secara umum, tanaman tumbuh pada suhu yang lebih tinggi telah suhu optimal yang lebih
tinggi dari laju fotosintesis terikat hubungan linear antara suhu optimal dan pertumbuhan.
Perubahan ketergantungan suhu fotosintesitesis dapat berasal perubahan aktivitas dan
jumlah komponen fotosintesis dan atau CO
2
konsentrasitrasi di situs carboxylation . Namun,
respon dari setiap faktor suhu tampaknya berbeda antara spesies (Hikosaka et al., 2006).

METODOLOGI
Praktikum Dasar Dasar Fisiologi Tumbuhan acara 1 dengan Judul Pengaruh Faktor
Lingkungan Terhadap Laju Fotosintesis dilaksanakan pada hari Kamis, 08 Mei 2014
bertempat di Laboratorium Ilmu Tanaman, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini
adalah ganggang Hydrilla verticillata, alumunium foil, air dan es. Sedangkan alat yang
dibutuhkan adalah timbangan, alat ukur waktu, erlenmeyer, pipet 5 mL, potongan selang
plastik yang ujungnya telah dibakar, beberapa macam sungkup, termometer, tripot, plat
asbes, lampu spiritus, dan gelas piala.
Cara kerja dalam praktikum ini dibagi menjadi 3 sub acara yaitu (a) pengaruh
intensitas cahaya, (b) pengaruh cahaya warna, dan (c) pengaruh suhu. Tiap sub acara
dibutuhkan 5 pipet dan 5 erlenmeyer. Mula-mula pipet diisi dengan air sampai agak penuh.
Bagian pangkalnya ditutup dengan tangan,kemudian bagian ujungnya ditutup dengan
selang plastik sehingga air tidak bisa keluar. Diambil beberapa potong ganggang Hydrilla
dan ditimbang dengan berat tertentu, lalu bagian pangkalnya dimasukkan ke dalam pangkal
pipet. Untuk sub acara pengaruh intensitas cahaya, setelah ganggang dalam pipet
dimasukkan ke dalam erlenmeyer yang telah diisi air kemudian mulut erlenmeyer ditutup
dengan alumunium foil dan diberi sungkup sesuai perlakuan yakni intensitas cahaya 100%,
75%, 50%, 25%, 0%. Pada sub acara pengaruh cahaya warna, setelah ganggang dalam
pipet dimasukkan ke dalam erlenmeyer yang telah diisi air kemudian mulut erlenmeyer
ditutup dengan alumunium foil dan diberi sungkup sesuai perlakuan yakni sungkup warna
bening, merah, kuning, hijau, dan ungu. Sedangkan untuk sub acara pengaruh suhu,
setelah ganggang dalam pipet dimasukkan ke dalam erlenmeyer yang telah diisi air
kemudian mulut erlenmeyer ditutup dengan alumunium foil, erlenmeyer tersebut dimasukkan
ke dalam gelas piala. Perlakuan suhu meliputi 5
o
C, 15
o
C, 25
o
C, 35
o
C, dan 45
o
C. pada
perlakuan 5
o
C dan 15
o
C gelas piala diisi dengan es. Perlakuan 35
o
C dan 45
o
C gelas piala
diisi dengan air dan dpanaskan dengan lampu spiritus. Sedangkan untuk perlakuan 25
o
C
tergantung dari suhu air. Praktikum sub bab a dan b dilakukan dibawah sinar matahari
langsung, sedangkan sub bab c dilakukan didalam laboratorium. Selama 15 menit
perubahan volume air dalam pipet dicatat. Pengamatan diulangi sebanyak 3 kali. Volume
oksigen yang dihasilkan dihitung dengan rumus : perubahan volume (ml)/berat Hydrilla
(gram)/jam. Rancangan yang digunakan adalah rancangan RAL/CRD. Variabel yang diamati
adalah perubahan volume dalam pipet sebagai laju fotosintesis ganggang Hydrilla.
Hubungan antara laju fotosintesis dengan intensitas cahaya dan suhu di analisis
menggunakan analisis regresi linier, dan ditampilkan dalam kurva regresi. Sedangkan
pengaruh warna cahaya dibuat anova dan di analisis dengan DMRT serta ditampilkan dalam
bentuk histogram.
HASIL DAN PEMBAHASAN
a. Pengaruh Suhu terhadap Laju Fotosintesis








Grafik 1. Laju Fotosintesis vs Suhu
Suhu merupakan salah satu faktor lingkungan yang mempengaruhi proses
fotosintesis. Dalam proses fotosintesis, dibutuhkan enzim-enzim yang bekerja pada suhu
optimalnya. Apabila suhu meningkat, umumnya proses fotosintesis juga akan meningkat.
Namun, hanya sampai tingkat tertentu saja karena semakin meningkatnya suhu hingga
batas maksimum akan menyebabkan enzim mengalami denaturasi. Pada grafik di atas
menunjukkan bahwa, laju fotosintesis maksimal pada suhu 5
o
C

,hal ini menunjukkan pula
enzim yang dibutuhkan dalam proses fotosintesis dapat bekerja maksimal pada perlakuan
suhu 5
o
C. Sedangkan pada suhu 15
o
C terjadi penurunan dan pada suhu 25
o
mengalami
kenaikan namun pada suhu 35
o
C dan 45
o
C mengalami penurunan kembali, akibat suhu
yang semakin meningkat dapat menyebabkan denaturasi pada enzim sehingga tidak dapat
bekerja dalam proses fotosintesis.



y = -0.0043x + 0.1857
R = 0.5567
-0.05
0
0.05
0.1
0.15
0.2
0.25
0.3
0 10 20 30 40 50
(
l
a
j
u

f
o
t
o
s
i
n
t
e
s
i
s

(
m
l

g
r

'

j
a
m

'
)

Suhu (
o
C)
b. Pengaruh Intensitas Cahaya terhadap Laju Fotosintesis








Grafik 2. Pengaruh Intensitas Cahaya terhadap Laju Fotosintesis
Cahaya merupakan salah satu faktor lingkungan yang mempengaruhi proses
fotosintesis yang penting karena dalam melakukan fotosintesis tanaman membutuhkan
cahaya. Intensitas cahaya yang semakin meningkat akan meningkatkan laju fotosintesis
namun hanya sampai intensitas tertentu saja. Pada grafik di atas menunjukkan bahwa laju
fotosintesis mengalami fluktuatif dimana laju fotosintesis tertinggi pada intensitas cahaya
25% sedangkan pada terendah 75% hal ini dikarenakan batas intensitas cahaya yang dapat
diserap tanaman secara maksimal pada intensitas 25%. Namun, pada intensitas cahaya
100% terjadi kenaikan, hal ini dapat dikarenakan oleh cuaca yang mendukung sewaktu
percobaan ini dilakukan sehingga perlakuan intensitas 100% sedikit maksimal.
c. Pengaruh Warna Cahaya terhadap Laju Fotosintesis

Histogram 1. Histogram Pengaruh Warna terhadap Laju Fotosintesis
Cahaya yang diserap oleh tumbuhan terdiri dari beberapa macam warna cahaya.
Warna cahaya itu sendiri mempengaruhi laju fotosintesis dari tumbuhan. Hal ini dapat terjadi
karena energi yang dihasilkan setiap jenis spectrum dan panjang gelombang yang berbeda.
Di samping adanya perbedaan energi tersebut, di dalam daun juga terdapat faktor pembeda
yang memungkinkan penyerapan terhadap berbagai spektrum tersebut berbeda. Faktor
pembeda tersebut adalah jenis pigmen yang terkandung di dalam jaringan daun. Dari hasil
0 0
0.053333333
0
0.046666667
0
0.01
0.02
0.03
0.04
0.05
0.06
Bening Merah Kuning Hijau Ungu
Rerata
Bening
Merah
Kuning
Hijau
Ungu
y = -0.0002x + 0.0697
0
0.02
0.04
0.06
0.08
0.1
0.12
0 20 40 60 80 100 120
l
a
j
u

f
o
t
o
s
i
n
t
e
s
i
s

(
m
l

g
r

'

j
a
m

'
)

Intensitas (%)
histogram di atas didapatkan urutan laju fotosintesis dari yang tertinggi hingga terendah
yaitu warna cahaya kuning > ungu > Bening = Merah = Hijau. Warna cahaya yang ditangkap
secara maksimal adalah warna kuning dan ungu karena meiliki panjang gelombang yang
terpanjang dan terpendek, sedangkan warna bening, merah dan hijau merupakan warna
yang kurang baik untuk di tangkap oleh daun karena panjang gelombang yang dimiliki akan
dihamburkan di udara sedangkan warna hijau ini memantul dengan sempurna di udara
sehingga tidak dapat ditangkap oleh daun tetapi akan terhambur di udara dan terendah
warna bening karena tidak ada warna cahaya yang dapat ditanggkap oleh daun.

KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
1. Pengaruh suhu terhadap laju fotosintesis secara maksimal terjadi pada suhu 5
o
C dan
minimal pada suhu 35
o
C.
2. Pengaruh intensitas cahaya terhadap laju fotosintesis secara optimal terjadi pada
intensitas 25% dan minimal pada intensitas 75%.
3. Pengaruh warna cahaya terhadap laju fotosintesis tertinggi terjadi pada warna kuning
dan terendah pada warna bening, merah dan hijau.

B. SARAN
Untuk percobaan pengaruh intensitas cahaya dan pengaruh warna cahaya terhadap laju
fotosintesis sebaiknya dilakukan pada saat kondisi cahaya matahari yang cukup atau
optimal.

DAFTAR PUSTAKA
Enoch, H. Z. and R. G. Hurd. 1977. Effect of light intensity, carbon dioxide concentration,
and leaf temperature on gas exchange of spray carnation plants. Journal of
Experimental Botany 28 : 84 - 95
Hirosaka, K., K. Ishikawa, A. Borjigidai, O. Muller, and Y. Onode. 2006. Temperature
acclimation of photosynthesis : mechanisms involved in the changes in temperature
dependence of photosynthetic rate. Journal of Experimental Botany 57 : 291 - 302
Pertamawati. 2010. Pengaruh fotosintesis terhadap pertumbuhan tanaman kentang
(Solanum tuberosum L.) dalam lingkungan fotoautotrof secara invitro. Jurnal Sains
dan Teknologi Indonesia 12 : 31 - 37
Sunarto, Sri Astuty dan Herman Hamdani. 2004. Efisiensi pemanfaatan energi cahaya
matahari oleh fitoplankton dalam proses fotosintesis. Jurnal Akuatika 2 : 1 9


LAMPIRAN
Tabel Pengamatan
Perlakuan suhu
Perubahan volume selama 15 menit (mL)
Rerata
Ul. 1 Ul. 2 Ul. 3
5
o
C 0,05 0 1 0,24
15
o
C
0,05
0 0,05 0,38
25
o
C
0,05
0,02 0,03 0,045
35
o
C 0,02 0,02 0,01 0,027
45
o
C 0,025 0,025 0,02 0,028

Perlakuan suhu
Perubahan volume selama 15 menit (mL)
Rerata
Ul. 1 Ul. 2 Ul. 3
Bening 0 0 0 0
Merah 0 0 0 0
Kuning 0 0 0,1 0,6
Hijau 0 0 0 0
Ungu 0,1 0 0 0,5

Perlakuan suhu
Perubahan volume selama 15 menit (mL)
Rerata
Ul. 1 Ul. 2 Ul. 3
0% 0 0 0,05 0,049
25% 0 0,05 0,05 0,204
50% 0 0 0,05 0,047
75% 0 0 0,05 0,057
100% 0 0 0,05 0,053