Anda di halaman 1dari 39

Trauma Kimia Asam

RS Eka Putra
M. Fadhil

Preseptor :
dr. Kemala Sayuti, Sp.M (K)

Pendahuluan
Trauma
mata
Gawat
darurat
kebutaan
Trauma Asam
Ion
hidrogen
anion
Asam
Ion hidrogen
Merusak dengan mengubah Ph
Anion
merusak dengan cara denaturasi
protein, presipitasi dan koagulasi
trauma pada mata yang disebabkan oleh zat kimia
asam cenderung lebih ringan daripada trauma
yang diakibatkan oleh zat kimia basa
Ground glas
Koagulasi protein
Mencegah penetrasi lebih lanjut
Patofisiologi dan Gejala Trauma
Asam Pada Mata.
Bahan kimia asam
Asam cenderung
berikatan dengan
protein
Menyebabkan
koagulasi protein
plasma
Koagulasi protein
ini, sebagai
barrier.
Luka hanya
terbatas pada
permukaan luar
saja.
Asam masuk ke
bilik mata depan
menimbulkan
iritis dan katarak.
Gangguan
persepsi
penglihatan
Gambar menunjukkan koagulasi
protein yang berlaku pada mata
akibat trauma asam, dan
menimbulkan kekeruhan pada
kornea
Gambar menunjukkan mata yang
pada bagian konjungtiva bulbi yang
hiperemis dan pupil yang melebar
karena peningkatan tekanan
intraokular.
Penangganan Trauma Asam.
tindakan pertama yang harus
diambil adalah dengan irigasi
bagian mata yang terkena
dengan menggunakan air keran
yang mengalir atau
menggunakan garam fisiologis
jika ada selama 15-30 menit
Pada saat di rumah sakit, dapat
diberikan anestesi topikal, larutan
natrium bikarbonat 3% dan
kemudian bisa diberi antibiotic.
Pada trauma asam, karena
terbentuknya barrier proteksi, mata
yang terkena pada dasarnya akan
kembali normal
Trauma Basa Pada Mata.
Trauma yang lebih
berat
Lipofilik Hidrofilik
Trauma
basa
Koagulasi
sel
Kolagen
hancur
saponifikasi
Disertai
dehidrasi
basa contohnya NaOH, CaOH,
amoniak, Freon/bahan
pendingin lemari es, sabun,
shampo, kapur gamping,
semen, tiner, lem, cairan
pembersih dalam rumah
tangga, soda kuat.
Patofisiologi Trauma Basa Pada
Mata
Proses
kerusakan
Proses
penyembuhan
2
fase
Bahan kimia alkali
Pecah atau
rusaknya sel
jaringan dan
Persabunan
penetrasi lebih
lanjut
Mukopolisakarida
jaringan menghilang
& terjadi
penggumpalan sel
kornea
Mukopolisakarida
jaringan menghilang
& terjadi
penggumpalan sel
kornea
Edema
Neovaskularisasi
Dilepaskan
plasminogen
aktivator &
kolagenase
Terjadi gangguan
penyembuhan epitel
Berkelanjutan
menjadi ulkus
kornea atau
perforasi ke lapisan
yang lebih dalam
Penatalaksanaan.

emergensi
irigasi
Double eversi
Medikamentosa
steroid
Siklopegik
Asam askorbat
Beta bloker
antibiotik
pembedahan
segera
lanjut
LAPORAN KASUS
Identitas Pasien
Nama : Tn. Indra
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 55 tahun
Pekerjaan : Pensiunan
Negeri Asal : Padang

Anamnesis

Seorang laki-laki berusia 55 tahun datang
ke RS. Dr. M. Djamil Padang tanggal 4
Juni 2014 dengan:
Keluhan Utama:
Kedua mata terasa perih dan kabur sejak
1 hari sebelum masuk rumah sakit.

Riwayat Penyakit Sekarang:
Kedua mata terasa perih dan kabur sejak
1 hari sebelum masuk rumah sakit.
Mata tampak merah dan berair.
Pasien juga mengeluhkan kelopak mata
terasa seperti berpasir.

Awalnya pasien sedang mengecas aki di tempat kerja
kemudian tiba-tiba aki tersebut meledak dan percikan
mengenai kedua mata pasien, pipi, leher dan tangan. Bola
mata tampak putih setelah terkena percikan dan oleh
teman pasien langsung disiram dengan air mengalir. Mata
pasien terasa perih dan kabur seperti melihat asap. Karena
keluhan tidak berkurang, 1 jam kemudian pasien dilarikan
ke rumah sakit terdekat. Namun karena tidak ada spesialis
mata, pasien segera di rujuk ke IGD RSUP Dr. M. Djamil
Padang.

Di IGD RSUP Dr. Djamil Padang kedua mata pasien diirigasi
dengan cairan dan mendapat obat tetes mata. Setelah itu
pasien merasakan penglihatannya mulai terang kembali
dan perih pada kedua matanya berkurang. Kemudian
pasien pulang dan mendapat obat tetes serta salep mata.

Keesokan harinya pasien datang ke
Poliklinik RSUP Dr. M.Djamil Padang
karena mata kembali terasa perih, kabur
dan berair. Setelah ditanyakan, ternyata
pasien tidak menggunakan semua obat
yang telah diresepkan dari IGD. Sehingga
pasien harus di rawat inap di bagian mata
RSUP Dr. M. Djamil.

Riwayat Penyakit Dahulu:
Riwayat melihat kabur sebelumnya (-)
Riwayat mata merah sebelumnya (-)
Riwayat trauma pada kedua mata (-)
Riwayat hipertensi (-) dan DM (-)

Riwayat Penyakit Keluarga:
Tidak ada anggota keluarga yang
menderita penyakit mata seperti ini.
Riwayat pekerjaan, sosial, ekonomi,
dan kebiasaan
Pasien adalah seorang pensiunan teknisi
pemancar TVRI. Sehari-hari sering datang
ke tempat kerja dan membantu
temannya.

Status ophtalmikus (4 Juni 2014)

Status Ophtalmikus OD OS
Visus tanpa koreksi 5/15 5/15
Refleks fundus + +
Silia/supersilia Trikiasis (-),madarosis (-
)
Trikiasis (-),madarosis (-
)
Palpebra superior Udem (+), hiperemis (-) Udem (+) ,hiperemis (-)
Palpebra inferior
Udem (+), hiperemis (-) Udem (+), hiperemis (-)

Aparat lakrimalis Hiperlakrimasi (+) Hiperlakrimasi (+)
Konjungtiva tarsalis Hiperemis (+)
Folikel (-)
Papil (-)
Litiasis (-)
Sikatriks (-)
hiperemis (+)
Folikel (-)
Papil (-)
Litiasis (-)
Sikatriks (-)
Konjungtiva fornik Hiperemis (+)
Folikel (-)
Hiperemis (+)
Folikel (-)
Konjungtiva bulbi Injeksi konjungtiva (+)
Injeksi siliar (+)
Kemosis (+)
Injeksi konjungtiva (+)
Injeksi siliar (+)
Kemosis (+)

Sclera Putih Putih
Kornea Udem (+)
Erosi (+) superior,
hazy inferior
Udem (+)
Erosi (+) superior,
hazy inferior
Kamera okuli anterior Cukup dalam Cukup dalam
Iris Coklat, rugae (+) coklat, rugae (+)
Pupil Bulat, reflek (+/+),
midriasis (SA)
Bulat, reflex (+/+),
midriasis (SA)
Lensa bening bening

Fundus:
- Papil
- pembuluh darah
- retina
- macula

Bulat, batas tegas,
cup/disk 0,3
aa/vv : 2/3
perdarahan (-)
reflex fovea (+)

Bulat, batas tegas,
cup/disk 0,3
aa/vv : 2/3
perdarahan (-)
reflex fovea (+)
Tekanan bulbus okuli N(palpasi) N(Palpasi)
Posisi bulbus okuli Orto Orto
Gerakan bulbus okuli Bebas Bebas
Diagnosis Kerja: Trauma kimia Grade I
ODS
Terapi: Spuling
Levofloksasin ED 6 x 1 ODS
SA ED 2 x 1 ODS
Cendomycetin EO 3 x 1 ODS
Siprofloksasin 2 x 500 mg
Becon C 3 x 1
Cendolyteers ED 6 x 1 ODS

Status Ophtalmikus (Follow up
tanggal 6 Juni 2014)
Status Ophtalmikus OD OS
Visus tanpa koreksi 5/7 5/7
Refleks fundus + +
Silia/supersilia Trikiasis (-),madarosis (-
)
Trikiasis (-),madarosis (-
)
Palpebra superior Udem (+), hiperemis (-) Udem (+) ,hiperemis (-)
Palpebra inferior
Udem (+), hiperemis (-) Udem (+), hiperemis (-)
Aparat lakrimalis Hiperlakrimasi (+) Hiperlakrimasi (+)
Konjungtiva tarsalis Hiperemis (+)
Folikel (-)
Papil (-)
Litiasis (-)
Sikatriks (-)
hiperemis (+)
Folikel (-)
Papil (-)
Litiasis (-)
Sikatriks (-)
Konjungtiva fornik Hiperemis (+)
Folikel (-)
Hiperemis (+)
Folikel (-)
Konjungtiva bulbi Injeksi konjungtiva (+)
Injeksi siliar (+)
Injeksi konjungtiva (+)
Injeksi siliar (+)
Sclera Putih Putih
Kornea Udem (+)
Erosi (+) inferior
Udem (+)
Erosi (+) inferior
Kamera okuli anterior Cukup dalam Cukup dalam
Iris Coklat, rugae (+) coklat, rugae (+)
Pupil Bulat, reflek (+/+),
midriasis (SA)
Bulat, reflex (+/+),
midriasis (SA)
Lensa bening bening
Fundus:
- Papil
- pembuluh darah
- retina
- macula

Bulat, batas tegas,
cup/disk 0,3
aa/vv : 2/3
perdarahan (-)
reflex fovea (+)

Bulat, batas tegas,
cup/disk 0,3
aa/vv : 2/3
perdarahan (-)
reflex fovea (+)
Tekanan bulbus okuli N(palpasi) N(Palpasi)
Posisi bulbus okuli Orto Orto
Gerakan bulbus okuli Bebas Bebas
Diagnosis Kerja: Trauma kimia asam
Grade I ODS
Terapi: Spuling
Levofloksasin ED 6 x 1 ODS
SA ED 2 x 1 ODS
Cendomycetin EO 3 x 1 ODS
Siprofloksasin 2 x 500 mg
Becon C 3 x 1
Cendolyteers ED 6 x 1 ODS

DISKUSI
Pasien laki-laki 59 tahun datang ke RS M.
Djamil Padang dengan keluhan kedua
mata sakit dan memutih setelah terkena
cairan aki.
Diguyur dengan air dari bak mandi >
resiko infeksi sekunder meningkat
Keluhan bertambah > pasien ke rumah
sakit
Di RS M. Djamil, didiagnosis: Trauma
Kimia Derajat 1 ODS
Derajat 1: Klasifikasi Ropper Hall, ada
erosi pada kornea tapi masih cukup
bening, tidak ada injeksi limbus

Penatalaksanaan pertama pada pasien
adalah spuling atau irigasi. Tujuannya
untuk menormalkan pH pada mata. Pada
trauma kimia asam irigasi dengan cairan
normal saline selama 15-30 menit.

Antibiotik : cegah infeksi sekunder
Antibiotik yang diberikan :
- Levofloksasin ED 6 x 1 ODS
- Cendomycetin (Kloramfenikol + Polimiksin
B) EO 3 x 1 ODS
- Siprofloksasin 2 x 500 mg

* Indikasi pemberian 3 antibiotik masih
diragukan
Atropin : istirahatkan iris, kurangi nyeri,
cegah sinekia posterior
Becon C (vit C): cegah sitotoksik oleh
radikal bebas, reepitelisasi, tingkatkan
penyembuhan luka
Pemberian Cendolyteers (air mata
buatan) : lubrikasi pada mata
- Pasien ini hiperlakrimasi => indikasi
pemberian Cendolyeeters diragukan
Prognosis fungsionam : bonam (Grade I,
klasifikasi Ropper Hall)
Terima Kasih