Anda di halaman 1dari 3

Bangsa dunia menilai kemajuan peradaban suatu bangsa salah satunya adalah melalui ketinggian

bahasanya. Bahasa yang kompleks dari segi Grammatik dan Morfologi sebuah kata mencerminkan
bahwa bangsa itu memiliki ketinggian peradaban dan menunjukkan kecerdasan bangsa tersebut.
Sebagai contoh bahasa yang bisa dikatakan tinggi adalah bahasa jerman, arab, cina dan jepang.
Bagaimana dengan bahasa indonesia ?
Bahasa Indonesia sendiri lahir pada zaman dimana bahasa ini dipergunakan sebagai bahasa
perdagangan antar bangsa, istilah yang kita kenal adalah ''Lingua Franca''. Bahasa yang
beribu dari rumpun bahasa melayu yang berasal dari Tanah Riau, telah disahkan secara
nasional oleh kita sebagai Bahasa Pemersatu dalam peristiwa Sumpah Pemuda. Sudah sekian
lama bahasa ini menjadi kebanggan bangsa kita.
Namun sayangnya Bahasa Indonesia banyak memiliki kelemahan, terutama terlalu mudah
dipelajari dan tidak kompleks aturan-aturan tata bahasanya, terutama permasalahan
grammatik, morfologi, dan bahkan perbendaharaan katanya yang sedikit. Tak heran bahasa
indonesia sejalan dengan waktu terjajah oleh bahasa asing.
Banyak istilah-istilah asing yang tadinya menambah koleksi kata bahasa indonesia - terutama
istilah di bidang eksak (IPTEK) - malahan kini merambah hingga bahasa pergaulan kita
sehari-hari. Dan banyak istilah asing ini dipergunakan secara liar, jauh dari definisi asal
sebenarnya. Oleh karena itu terjadi kerancuan. Bisa jadi saya dan anda -jika kita
mendapatkan salah satu istilah asing- pengertian kita masing-masing berbeda. Lalu ada istilah
asing yang definisi hanya satu, tapi kita generalisasikan. Akhirnya tadinya kita bermaksud
menggunakan istilah itu untuk menggambarkan apa yang kita ingin ungkapkan, malah sama
sekali istilah itu tidak cocok dipakai pada ungkapan itu. Padahal semestinya ada istilah asing
yang lain yang lebih cocok dipergunakan pada ungkapan tersebut.
Tak bisa dipungkiri juga, seringnya kita mempergunakan bahasa asing malah menggeser nilai
identitas keindonesiaan, dan bahkan nilai kesatuan kita. Pada saat kita berbicara kepada
seseorang yang berasal dari daerah lain, sudah pasti kita menggunakan bahasa indonesia.
Namun karena bahasa indonesia yang telah terpengaruhi oleh istilah asing dan istilah asing
tersebut kita pakai pada saat perbincangan tersebut, malah bisa menimbulkan
kesalahpahaman. Tiba-tiba orang yang diajak bicara menjadi marah, karena bisa jadi dia
tidak mengetahui dengan pasti istilah yang kita pergunakan - bisa jadi dia tidak tahu artinya
atau bisa jadi salah mengartikan-. Justru inilah yang menjadi salah satu sumber perpecahan
kita. Ternyata semakin berkembangnya bahasa indonesia dengan perbendaharaan kata asing
tidak sejalan pelaksanaannya di lapangan di seluruh pelosok tanah air.
Dan ternyata juga penggunaan bahasa asing ini lebih digunakan dalam pergaulan orang-orang
kota besar, terutama di Jakarta. Orang-orang kota besar memang identik mempergunakan
istilah-istilah asing - supaya tampak ''keren'' dan terkesan ''highclass'' -. Beda dengan kota
selain Jakarta yang masih tercampur dengan logat bahasa daerahnya.
Salah satu jalan untuk mengembalikan Bahasa Indonesia menjadi Bahasa Persatuan adalah
dengan cara memberi kesempatan kepada keragaman dan kekayaan bahasa daerah di tanah
air untuk menambah perbendaharaan kata bahasa indonesia. Jika ada kata yang tidak dikenal
atau tidak ada istilah bahasa indonesianya, sudah selayaknyalah kita merujuk kepada
perbendaharaan kata bahasa daerah, bukan bahasa asing. Selain bahasa rumpun melayu
(Sumatera dan Kalimantan) contoh yang bisa dijadikan rujukan adalah kerumitan tata bahasa
dan ketinggian bahasa jawa yang berbeda tiap kasta-kasta, beragamnya bahasa sunda, bahasa
batak dan mentawai, bahasa bugis dan makassar, bahasa maluku, dayak, papua, flores bisa
memperkaya bahasa indonesia. Dengan partisipasi dari bahasa daerah inilah justru timbul
rasa turut ikut mendukung dan mewakili kekayaan dan ketinggian bahasa indonesia, serta
terutama juga akan timbul rasa sama-sama memiliki bahasa indonesia sebagai bahasa
nasional. Inilah yang bisa menjadi salah satu solusi mempersatu bangsa kita. Hal yang kecil
namun pengaruhnya besar bagi bangsa kita secara keseluruhan dari Sabang sampai Merauke.
Apakah pendapat saya tidak ''open minded'' atau tidak sejalan arus globalisasi dunia tanpa
batas karena menolak penggunaan istilah asing ? Pertanyaan balik saya adalah, kita akui
bahwa Bahasa Inggris sudah menjadi Bahasa Internasional. Tapi mengapa bahasa inggris
tetap disebut sebagai bahasa inggris ? Kenapa tidak disebut Bahasa Dunia ? Apakah bahasa
inggris telah mewakili bahasa di dunia ? Walau bahasa inggris pun juga menambah
perbendaharaan katanya dari bahasa asing lain, namun terbatas mengambil seputar bahasa-
bahasa Eropah (Jerman, Italia, Latin, Perancis dan Belanda), terutama untuk perbendaharaan
kata benda, kata sifat, dan kata kerja. Namun untuk istilah-istilah bahasa lain terutama
Bahasa Asia hanya memperkaya pembendaharaan kata bendanya saja, dan hanya
menunjukkan benda yang memang berasal dari Asia, semisal: 'Origami', 'Sushi', 'Sari', 'Kung
Fu', 'Islam', 'Batik', 'Kampoeng', 'Saroeng', 'Nasi Goreng', 'Sate/Satay', 'Sambel Oelek' dan
lain-lain. Walau dipakai tapi hanya pada saat tertentu saja. Saya belum pernah mendengar
Bahasa Afrika diserap oleh bahasa inggris kecuali untuk istilah alat musik tertentu yang tidak
terdefinisikan. Apakah ini 'open minded' ? Apakah ini sejalan globalisasi ?
Justru dengan memberikan kesempatan bahasa daerah memperkaya bahasa indonesia, maka
bisa jadi bahasa kita bisa digolongkan kedalam bahasa dunia dan juga ikut memperkaya suatu
bahasa yang akan menjadi bahasa dunia kelak dalam rangka mempersatukan dunia. Walau
serapan kata daerah pada awalnya terdengar lucu, bisa jadi 5 hingga 10 tahun kedepan malah
telinga kita semakin terbiasa dengannya. Padahal pada saat kita menyerap istilah asing
adakalanya kita merasa tergelitik memakai istilah tersebut, namun lama kelamaan malah
diterima. Oleh karena itu kalau kita tidak bisa memelihara bahasa indonesia dengan
memperkayanya, maka tidak lama lagi bahasa indonesia hanya tinggal kenangan saja dan
hanya menjadi ''objek museum''.
Aneh saya rasa, bagi kita yang masih menganggap pemakaian istilah asing akan menunjukkan
kecerdasan seseorang dan menggunakan istilah indonesia akan terasa 'kampungan'. Padahal
dengan menggunakan Bahasa Indonesia yang diperkaya dengan bahasa-bahasa daerah kita
justru menunjukkan ketinggian peradaban bangsa kita. Seperti anggapan bangsa dunia
terhadap ketinggian bahasa suatu bangsa yang saya ceritakan pada awal artikel ini.

-saya yang sedang belajar di jerman, yang masih sulit menguasai kerumitan bahasa jerman-

nb: Mohon maaf apa yang saya utarakan apa adanya dan ternyata juga terdapat istilah-istilah asing :).
Maklum, saya hanya seorang arsitek yang sudah terbiasa memakai istilah-istilah tersebut dalam dunia
akademis dan kerja yang juga saya mempelajarinya melalui sekolah-sekolah.
Dan maklum, kalo tulisan saya juga tidak tersusun rapih, karena saya sedang belajar menulis.
Melalui tulisan ini, saya hanyalah prihatin dengan nasib kesatuan bangsa kita dan terutama nasib
Bahasa Indonesia kita.
Oleh sebab itu saya mohon bagi yang berkepetingan dan ahli di bidang bahasa indonesia, tulisan ini
bisa menjadi masukan bagi anda sekalian.

(Huruf pada gambar adalah huruf LONTARA dari Makassar yang juga mendapat pengaruh huruf-
hurf palawa dari kebudayaan india. Huruf ini pernah saya pelajari sewaktu tinggal di Ujung Pandang
dalam mata pelajaran Bahasa Daerah)
http://gimilham.multiply.com/journal/item/24