Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH 3

DEFINISI SISTEM KRISTAL TRIGONAL, DAN


SISTEM KRISTAL TRIKLIN.








Disusun Oleh :
NAMA : RIYAN NASRUL
NIM : 410014188

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NASIONAL
(STTNAS)
YOGYAKARTA
JURUSAN TEKNIK GEOLOGI
2014
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadiran Allah SWT karena makalah ini dapat
terselesaikan dengan baik, dan diharapkan dapat membantu mahasiswa yang
sedang mengambil praktikum geologi fisik. Pembuatan makalah ini merupakan
rangkuman dari beberapa sumber buku maupun webside. Sehingga makalah ini
masih jauh dengan kata sempurna, karenanya penyusun mengharapkan kritik,
masukan, dan saran, sehingga di masa yang akan datang makalah ini bisa
sempurna.










Yogyakarta, 6 oktober 2014

Riyan nasrul

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I . PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Rumusa Masalah
1.3 Tujuan
1.4 Landasan Teori

BAB II. PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Sistem Kristal Trigonal
2.2. Pengertian Sistem Kristal Triklin

BAB III.PENUTUP
3.1. Kesimpulan
3.2. Saran

DAFTAR PUSTAKA





BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Kristalografi dan mineralogi merupakan cabang ilmu yang mempelajari
tentang kristal dan mineral-mineral penyusun pembentuknya, serta dasar disiplin
ilmu kristalografi. Bidang ini terkait dalam ilmu geologi tentang kimia dan fisika.
Secara mendalam pokok bahasan yang dikaji meliputi sifat-sifat geometri Kristal
serta fisis kristal.
Secara tersendiri kristalografi diartikan satu cabang ilmu yang
mempelajari tentang sifat-sifat di dalam geometri kristal terutama berkaitan
dengan permasalahan perkembangan, pertumbuhan, kenampakan luar suatu
struktur dalam sifat fisis lainnya. Sedangkan mineralogi merupakan ilmu yang
secara dalam mempelajari tentang sifat-sifat mineral pembentuk batuan yang
terdapat di bumi dan manfaat bagi manusia serta dampaknya terhadap sifat tanah.
Mempelajari kristalografi berarti akan membahas tentang bagaimana serta
dimana kristal diartikan bidang homogen yang memiliki bidang polyhedral
tertentu.Bidang muka yang licin dalam suatu kristal di dalam kristalografi dan
mineralogi biasanya bersifat anisotrop dan tembus air. Sedangkan di dalam
mempelajari mineralogi berarti akan membahas mineral dimana merupakan benda
padat homogen yang ada di alam dengan komposisi kimia tertentu,mempunyai
atom yang teratur dan biasanya terbentuk secara alami.
Proses terbentuknya kristal dan mineral alam merupakan akibat dari proses
geologi, yaitu :
a.Endogenik, merupakan proses kristal yang dibentuk pengkristalan magma.Satrio
RamadhanH1C109070
b.Eksogenik, merupakan proses pengkristalan yang dipengaruhi oleh gaya-gaya
dari luar.
c.Tektonik lempeng, dimana proses ini adalah dasar dari penyatuan jalur magnetik
dengan sumbu zona pelapukan.
Berdasarkan perbandingan panjang yang berada pada sumbu-
sumbukristalografi, letak maupun maupun posisi sumbu, jumlah dan nilai
sumbuvertikal atau nilai di sumbu c, maka kristal digolongkan menjadi 7 sistem
kristal, yaitu : isometrik, tetragonal, hexagonal, trigonal, orthorombic, triclinik,
monoclinic. Untuk mempelajari sistem kristal yang lebih mendalam dan beberapa
hal yang sangat penting di atas maka makalah ini ini di buat untuk mengenal lebih
jauh atau memperdalam ilmu pengetahuan tentang kritalografi.

1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Menyebutkan 2 sistem kristal trigonal dan triklin dengan masing-masing
kelasnya.
2. Menggambarkan bentuk kristal.
3. Menyebutkan simbol mauguin dan schoenflish pada masing-masing kelas.

1.3 TUJUAN
1. Mengetahui macam-macam sistem kristal
2. Mengetahui kelas-kelas yang ada pada sistem kristal
4. Mengetahui bentuk sistem kristal dan simbol yang ada di dalamya.

1.4 LANDASAN TEORI
Bumi yang kita pijak ini adalah bagian dari alam semesta yang begitu luas.
Sistem tata surya kita hanya satu dari milyaran bintang yang ada dijagat raya ini.
Bisa kita bayangkan betapa kecilnya Bumi ini bila dibandingkan dengan alam.
Berbagai bahan pembentuk Bumi terbentuk oleh proses alam yang panjang sejak
terbentuknya Bumi. Jangka waktu pembentukkan tersebut dapat kita ketahui
dalam ilmu Geologi dengan mengamati batuan-batuan yang ada di Bumi. Batuan
adalah kumpulan satu atau lebih mineral (terutama mineral golongan silika / pada
Bowens series).

Yang dimaksud dengan Mineral sendiri adalah bahan anorganik, terbentuk
secara alamiah, seragam dengan komposisi kimia yang tetap pada batas
volumenya dan mempunyai kristal kerakteristik yang tercermin dalam bentuk
fisiknya. Jadi, untuk mengamati proses Geologi dan sebagai unit terkecil dalam
Geologi adalah dengan mempelajari kristal.

Kristalografi adalah suatu ilmu pengetahuan kristal yang dikembangkan
untuk mempelajari perkembangan dan pertumbuhan kristal, termasuk bentuk,
struktur dalam dan sifat-sifat fisiknya. Dahulu, Kristalografi merupakan bagian
dari Mineralogi. Tetapi karena bentuk-bentuk kristal cukup rumit dan bentuk
tersebut merefleksikan susunan unsur-unsur penyusunnya dan bersifat tetap untuk
tiap mineral yang dibentuknya., maka pada akhir abad XIX, Kristalografi
dikembangkan menjadi ilmu pengetahuan tersendiri.














BAB II
PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN SITEM KRISTAL TRIGONAL
Sistem kristal trigonal adalah salah satu dari tujuh sistem kristal. Dimana
sistem kristal trigonal ini mempunyai 4 bidang simetri yang antara lain adalah
1 bidang simetri utama dan 3 bidang simetri tambahan. Mereka sering bingung
dengan satu sama lain: kristal dalam sistem kisi rombohedral selalu dalam
sistem kristal trigonal, tetapi beberapa kristal seperti kuarsa dalam sistem
kristal trigonal tapi tidak dalam sistem kisi rombohedral. Sistem kisi
rombohedral terdiri dari kisi rombohedral, sedangkan sistem kristal trigonal
terdiri dari lima kelompok titik kelompok ruang tujuh dengan kisi
rombohedral.
Ada kelompok ruang 25 yang merupakan titik kelompok salah satu dari
lima dalam sistem kristal trigonal, yang terdiri dari kelompok tujuh ruang
terkait dengan sistem kisi rombohedral bersama dengan 18 dari 45 kelompok
ruang yang terkait dengan sistem kisi heksagonal. "Sistem kristal
rombohedral" adalah istilah yang ambigu yang membingungkan sistem kristal
trigonal dengan sistem kisi rombohedral dan dapat berarti salah satu dari
mereka (atau bahkan keluarga kristal heksagonal).
Dalam klasifikasi menjadi 6 keluarga kristal, sistem kristal trigonal
dikombinasikan dengan sistem kristal heksagonal dan dikelompokkan ke
dalam keluarga besar heksagonal.




Example Form Paper Model



Sistem tritagonal jugamempunyai 1 pusat simetri sehingga dinotasikan
dengan 4PC. Sistem kristal ini mempunyai 4 sumbu simetri yang terdiri dari 1
trigyre dan 3 sumbu simetri digyre, yaitu tiga sumbu (a, b, dan d) sama
panjang dan terletak pada bidang horizontal dan satu sumbu c yang bisa lebih
pendek atau lebih panjang. Sehingga dapat dinotasikan dengan L 3L4. Perlu
ditambahkan pula bahwa sistem kristal trigonal mempunyai simbol
internasional , 3. Sedangkan contoh mineral yang mempunyai sistem kristal
trigonal antara lain Turmalin , Calcit , Kwarst.
Dalam penggambaran sistem trigonal ini saya mengalami beberapa
kesulitan. Kesulitan tersebut disebabkan oleh penggunaan orde yang saya
pakai. Dimana penggunaan orde satu dan orde 3 sangatlah rumit dan sulit
untuk digambarkan karena sering saya jumpai ketidakcocokan garis. Namun
akhirnya saya menggunakan orde 2 sebagai pilihan saya dikarenakan ternyata
lebih mudah untuk digambar dan saya telah mendapat penjelasan dari dosen.
Dalam hal pewarnaan bidang simetri tidaklah terlalu rumit dan saya rasa
sangat mudah.


Gambar tampak atas
Jika kita membaca beberapa referensi luar, sistem ini mempunyai nama
lain yaitu Rhombohedral, selain itu beberapa ahli memasukkan sistem ini
kedalam sistem kristal Hexagonal. Demikian pula cara penggambarannya juga
sama. Perbedaannya, bila pada sistem Trigonal setelah terbentuk bidang dasar,
yang terbentuk segienam, kemudian dibentuk segitiga dengan
menghubungkan dua titik sudut yang melewati satu titik sudutnya.
Pada kondisi sebenarnya, Trigonal memiliki axial ratio (perbandingan
sumbu) a = b = d c , yang artinya panjang sumbu a sama dengan sumbu b
dan sama dengan sumbu d, tapi tidak sama dengan sumbu c. Dan juga
memiliki sudut kristalografi = = 90 ; = 120. Hal ini berarti, pada sistem
ini, sudut dan saling tegak lurus dan membentuk sudut 120 terhadap
sumbu .

Gambar tampak samping
Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal, sistem
kristal Trigonal memiliki perbandingan sumbu a : b : c = 1 : 3 : 6. Artinya,
pada sumbu a ditarik garis dengan nilai 1, pada sumbu b ditarik garis dengan
nilai 3, dan sumbu c ditarik garis dengan nilai 6 (nilai bukan patokan, hanya
perbandingan). Dan sudut antar sumbunya a+^b = 20 ; d^b+= 40. Hal ini
menjelaskan bahwa antara sumbu a+ memiliki nilai 20 terhadap sumbu b
dan sumbu d membentuk sudut 40 terhadap sumbu b+.
Kelompok Titik 5 dalam sistem kristal tercantum di bawah ini, dengan
nomor internasional dan notasi, kelompok ruang mereka dalam kristal nama
dan contoh. (Semua kelompok titik juga terkait dengan beberapa kelompok
ruang tidak dalam sistem kisi rombohedral).

Sistem kristal trigonal ini dibagi menjadi 5 kelas yaitu sebagai berikut :
Ditrigonal Pyramidal
Hexagonal Scalenohedral
Trigonal Pyramidal
Trigonal Rhombohedral
Trigonal Trapezohedral

Perbandingan sudut : a = b = d c
Sudut kristalografi : = = 90 ; = 120
Cara menggambar:
Sama dengan sistem Hexagonal,perbedaannya hanya pada Sb c bernilai 3.
Penarikan Sb a sama dengan pada Sistem Hexagonal.




2.2 PENGERTIAN SISTEM KRISTAL TRIKLIN
Sistem triklin hanya mempunyai dua kelas simetri yang menerangkan ada
tidaknya pusat simetri.
Sistem ini mempunyai 3 sumbu simetri yang satu dengan yang lainnya
tidak saling tegak lurus. Demikian juga panjang masing-masing sumbu tidak
sama.
Pada kondisi sebenarnya, sistem kristal Triklin memiliki axial ratio (perbandingan
sumbu) a b c , yang artinya panjang sumbu-sumbunya tidak ada yang sama
panjang atau berbeda satu sama lain. Dan juga memiliki sudut kristalografi =
90. Hal ini berarti, pada system ini, sudut , dan tidak saling tegak lurus
satu dengan yang lainnya.
Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal, Triklin
memiliki perbandingan sumbu a : b : c = sembarang. Artinya tidak ada patokan
yang akan menjadi ukuran panjang pada sumbu-sumbunya pada sistem ini. Dan
sudut antar sumbunya a+^b = 45 ; b^c+= 80. Hal ini menjelaskan bahwa antara
sumbu a+ memiliki nilai 45 terhadap sumbu b dan b membentuk sudut 80
terhadap c+.
Sistem ini dibagi menjadi 2 kelas yaitu :
Pedial
Pinakoidal

Jumlah unsur Simetri
Jumlah unsur simetri adalah notasi-notasi yang digunakan untuk
menjelaskan nilai-nilai yang ada dalam sebuah kristal, nilai sumbu-sumbunya,
jumlah bidang simetrinya, serta titik pusat dari kristal tersebut. Dengan
menentukan nilai jumlah unsur simetri, kita akan dapat mengetahui dimensi-
dimensi yang ada dalam kristal tersebut, yang selanjutnya akan menjadi patokan
dalam penggambarannya.
Unsur simetri yang diamati adalah sumbu, bidang, dan pusat simetri. Cara
penentuannya adalah sebagai berikut:
Pada posisi kristal dengan salah satu sumbu utamanya, lakukan pengamatan
terhadap nilai sumbu simetri yang ada. Pengamatan dapat dilakukan dengan cara
memutar kristal dengan poros pada sumbu utamanya.
Perhatikan keterdapatan sumbu simetri tambahan, jika ada tentukan jumlah serta
nilainya. Menentukan nilainya sama dengan pada sumbu utama.
Amati keterdapatan bidang simetri pada setiap pasangan sumbu simetri yang ada
pada kristal.
Amati bentuk kristal terhadap susunan persilangan sumbunya, kemudian tentukan
ada tidaknya titik pusat kristal.
Jumlahkan semua sumbu dan bidang simetri (yang bernilai sama) yang ada.


Kelas Simetri
Dalam pembagian kelas Sistem kristal, ada 2 simbolisasi yang sering
digunakan. Yaitu Herman-Mauguin dan Schoenflish. Simbolisasi tersebut adalah
simbolisasi yang dikenal secara umum (simbol Internasional).

kelas simetri menurut Herman-Mauguin
Simbol Herman-Mauguin adalah simbol yang menerangkan ada atau
tidaknya bidang simetri dalam suatu kristal yang tegak lurus terhadap sumbu-
sumbu utama dalam kristal tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan mengamati
sumbu dan bidang yang ada pada kristal tersebut.
Pemberian simbol Herman-Mauguin ini akan berbeda pada masing-masing
kristal. Dan cara penentuannya pun berbeda pada tiap Sistem Kristal.
Untuk sistem ini hanya mempunyai dua kelas simetri yang menerangkan
keterdapatan pusat simetri kristal. Keseluruhan bagian tersebut diatas harus
diselidiki ada tidaknya bidang simetri yang tegak lurus terhadap sumbu yang
dianalisa. Jika ada, maka penulisan nilai sumbu diikuti dengan huruf m (bidang
simetri) dibawahnya. Kecuali untuk sumbu yang bernilai satu ditulis dengan m
saja.
Berikut ini adalah beberapa contoh penulisan simbol Herman-Mauguin dalam
pendeskripsian kristal :
6/m : Sumbu simetri bernilai 6 dan terhadapnya terdapat bidang
simetri yangtegak lurus.
6 : Sumbu simetri bernilai 3, namun tidak ada bidang simetri
yang tegak lurus terhadapnya.
m : Sumbu simetri bernilai 1 atau tidak bernilai dan terhadapnya
terdapat bidang simetri yang tegak lurus.

Kelas Simetri Triklinik menurut Schoenflish
Simbolisasi Scoenflish digunakan untuk menandai atau memberi simbol
pada unsur-unsur simetri suatu kristal. Seperti sumbu-sumbu dan bidang-bidang
simetri. Simbolisasi Schoenflish akan menerangkan unsur-unsur tersebut dengan
menggunakan huruf-huruf dan angka yang masing-masing akan berbeda pada
setiap kristal.
Berbeda dengan Herman-Mauguin yang pemberian simbolnya berbeda-
beda pada masing-masing sistemnya, pada Schoenflish yang berbeda hanya pada
sistem Isometrik. Sedangkan system-sistem yang lainnya sama cara penentuan
simbolnya.





Gambar 7 Sistem Triklin
Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal, Triklin
memiliki perbandingan sumbu a : b : c = sembarang. Artinya tidak ada patokan
yang akan menjadi ukuran panjang pada sumbu-sumbunya pada sistem ini. Dan
sudut antar sumbunya a+^b = 45 ; b^c+= 80. Hal ini menjelaskan bahwa antara
sumbu a+ memiliki nilai 45 terhadap sumbu b dan b membentuk sudut 80
terhadap c+.
Sistem ini dibagi menjadi 2 kelas:
Pedial
Pinakoidal
Beberapa contoh mineral dengan ancer kristal Triklin ini adalah albite,
anorthite, labradorite, kaolinite, microcline dan anortoclase (Pellant, chris. 1992)













BAB III
PENUTUP
3.1. KESIMPULAN.
Dengan mempelajari dan melakukan praktikum tentang Kristalografi yang
menjadi bagian dari praktikum Kristalografi dan Mineralogi. Dapat saya ambil
kesimpulan bahwa betapa pentingnya untuk dapat mengenal, mengetahui dan
menguasai ilmu tentang kristal dalam studi Geologi. Karena kristal sendiri adalah
merupakan salah satu dasar yang paling penting dalam ilmu Geologi itu sendiri.
Hal tersebut dikarenakan oleh kristal menjadi salah satu dasar untuk mempelajari
ilmu tentang mineral yang akan dipelajari pada tahap selanjutnya. Jika tidak
menguasai dan mengenal tentang kristal, akan sangat sulit untuk selanjutnya
memmahami Mineralogi, dan mineral itu sendiri adalah pembentuk batuan,
sedangkan batuan itu adalah inti dari Geologi. Hal ini juga menyebabkan
Kristalografi dan Mineralogi menjadi syarat untuk dapat melanjutkan studi pada
mata kuliah dan praktikum Petrologi yang akan dipelajari selanjutnya.
Selama melakukan praktikum Kristalografi, praktikan diharapkan mampu
mengenal, mengklasifikasi, mendeskripsi serta menggambar sketsa dari masing-
masing ancer kristal yang ada, yaitu, Isometrik, Tetragonal, Hexagonal, Trigonal,
Orthorhombik, Monoklin serta Triklin. Dan tentu saja praktikan diharapkan
mampu untuk mengetahui defenisi dari kristal itu sendiri, proses-proses
pembentukkannya, dan juga mengetahui ancer-unsur yang ada pada kristal itu
sendiri. Seperti sumbu simetri, sudut simetri, dan juga bidang simetri. Selain itu
praktikan juga harus mengetahui aplikasi dari Kristalografi itu sendiri, khususnya
dibidang Geologi.
Dalam praktikum Kristalografi yang dilakukan dilaboratorium
Kristalografi dan Mineralogi pada jurusan Teknik Geologi, Institut Teknologi
Medan. Digunakan proyeksi Orthogonal dalam melakukan penggambaran atau
sketsa kristal. Metode penggambaran ini dilakukan dengan menggunakan
persilangan sumbu yang akan menghasilkan sketsa tiga dimensi dari kristal.
Penggambaran kristal dilakukan sesuai dengan hasil deskripsi kristal yang telah
dilakukan. Pendeskripsian dilakukan dengan langkah-langkah menentukan jumlah
ancer-unsur simetri, kelas simetri, simbolisasi Herman-Mauguin, simbolisasi
Schoenflish, indeks Miller-Weiss serta menentukan nama bentuk kristal dan
contoh-contoh mineralnya.
Setelah mempelajari dan melakukan praktikum Kristalografi, diharapkan
untuk kedepannya dalam mempelajari Mineralogi akan dapat lebih mudah dengan
memiliki dasar-dasar yang telah didapat pada Kristalografi.

3.2. SARAN.
Selama mempelajari dan melakukan praktikum Kristalografi, telah banyak
yang dapat kita pelajari. Baik dalam hal ilmu tentang kristal itu sendiri pada
khususnya serta tentang aplikasi dan manfaatnya dalam bidang Geologi dan juga
dikehidupan sehari-hari.
Dalam melakukan praktikum Kristalografi, dapat kita sadari bersama ada
beberapa kekurangan yang cukup menghambat berjalannya proses praktikum.
Salah satu yang paling dapat dirasakan adalah kurangnya jumlah sampel (contoh)
kristal yang ada dilaboratorium Kristalografi dan Mineralogi. Maka diharapkan
agar kedepannya kekurangan tersebut dapat ditutupi sehingga proses praktikum
yang dilakukan dapat berjalan ancer. Dan satu hal lagi yang juga perlu
diperhatikan adalah waktu praktikum yang kadang tidak tepat pada waktunya.
Diharapkan agar untuk kedepannya kita dapat sama-sama untuk menjaga hal
tersebut agar tidak terulang atau paling tidak dikurangi. Dengan begitu diharapkan
praktikum yang dilakukan dapat lebih baik lagi.
Namun pada dasarnya, diluar kekurangan-kekurangan yang ada.
Praktikum yang dilakukan sudah cukup baik. Dan tentu saja kita semua berharap
agar dapat terus lebih baik lagi dimasa depan.



DAFTAR PUSTAKA
Makalah krismin 2
http://medlinkup.wordpress.com/2011/02/26/sistem-kristal/
https://id.scribd.com/doc/221122256/Sistem-Triklin

https://id.scribd.com/doc/221122256/Sistem-Trigonal

https://id.scribd.com/doc/221122256/MAKALAH-SISTEM-KRISTAL