Anda di halaman 1dari 29

PENDAHULUAN

Siapakah penulis yang merumuskan strategi pemberantasan korupsi ini? Saya


bukanlah siapa-siapa, saya hanyalah mahasiswa tugas belajar di Kementrian
Keuangan, yang kebetulan mendapat tugas untuk menyusun paper ini dalam rangka
pemenuhan Take Home Exam, tappi bukan itu yang melandasi penulis menyusun
makalah ini, namun jauh dari lubuk hati yang paling dalam, bahkan mungkin dari
lubuk hati seluruh masyarakat Indonesia, kami merindukan Pelayanan pemerintah
yang adil, transparan dan merata, karena pengalaman hidup di daerah yang jauh dari
ibukota, sangat jelas terlihat ketimpangan ini, apalagi kami sudah muak dengan
kelakuan para pejabat negara, yang gencar diberitakan di media, kelakuan mereka
dalam menggerus dan memakan harta negara, kapan negara tercinta ini akan
makmur seperti saudara kita di Finlandia, dimana mereka malu hanya karena pernah
berbohong dalam kampanye, dimana rasa malu para koruptor kita, ketika mereka
ketahuan korupsi milyaran, bahkan trilyunan rupiah, tetapi masih bisa tersenyum
bangga, bahkan dengan entengnya bisa memanipulasi hukum sehingga hukuman
mereka, sangat tidak setimpal dengan kelakuan bejat mereka
Pada dasarnya korupsi dapat terjadi di berbagai sektor baik sektor swasta
maupun sektor publik. Namun korupsi yang menjadi sorotan untuk diberantas lebih
berfokus pada sektor publik. Hal ini tidak hanya berlaku di negara berkembang
namun juga negara maju. Peraturan mengenai pemberantasan korupsi melingkupi
korupsi sektor publik. Hal ini dikarenakan dampak yang ditimbulkan sektor publik
jauh lebih masif dibandingkan sektor swasta. Jika korupsi pada sektor swasta hanya
berakibat terhadap keberlangsungan perusahaan dan kesejahteraan perusahaan
tersebut, korupsi sektor publik dapat menyebabkan kemunduran suatu negara dan
kerugian negara yang berdampak sistemik. Sedemikian besar dampak dari korupsi di
sektor publik, sehingga sangat penting untuk memberantas korupsi di sektor publik
Sejarah membuktikan bahwa korupsi mampu meruntuhkan suatu negara.
Runtuhnya kerajaan Majapahit, salah satu faktor penyebabnya adalah korupsi.
Hancurnya kongsi dagang VOC tidak lain disebabkan karena ulah korup para
pegawainya. Atau runtuhnya peradaban yang telah berdiri selama 400 tahun,
Kesultanan Ottoman, salah satu penyebab utamanya adalah korupsi. Sadar akan hal
ini, pemerintah di berbagai negara kemudian melakukan berbagai upaya untuk
memberantas korupsi.
Dalam upaya pemberantasan korupsi di dunia itu, hasil yang diperoleh
bervariasi. Beberapa negara mengalami kemajuan yang signifikan. Beberapa negara
mengalami stagnasi atau bahkan mengalami kemunduran dalam pemberantasan
korupsi.
Transparency International baru saja melansir hasil survei mengenai korupsi di
107 negara dengan melibatkan 114.00 responden. Kesimpulannya, korupsi di dunia
makin parah yang ditandai dengan pengakuan bahwa satu dari empat orang
mengatakan melakukan suap dalam dua tahun belakangan ini. Di sisi lain, CPI
(Corruption Perception Index) yang merangking level korupsi negara-negara di dunia
juga menunjukkan bahwa korupsi akan selalu ada di seluruh negara dalam berbagai
tingkatan.
China, Jepang, dan Singapura adalah beberapa negara yang berhasil dalam
menerapkan upaya pemberantasan korupsi. Singapura dan Jepang masuk ke dalam
jajaran 20 besar negara dengan CPI tertinggi. China, walaupun masih dalam peringkat
80 CPI, mampu mengubah persepsi dunia tentang sebuah negara komunis yang
korup menjadi negara maju yang sangat concern dalam pemberantasan korupsi
melalui upaya-upayanya yang cukup ekstrem.
Lalu bagaimana dengan Indonesia? apakah program pemberantasan korupsi di
Indonesia mengalami kemajuan?ataukah malah stagnan?bahkan lebih parah lagi,
mengalami kemunduran?
Tentu hal ini tidak diinginkan oleh siapa saja di dunia, khususnya di negara
tercinta ini, berbagai program dan jurus jitu sudah dicoba dilakukan, sebuah badan
hukum khusus dibentuk,tetapi kenyataannya masih banyak terjadi tindak pidana
korupsi, bahkan dalam hal kecil yang tidak melibatkan uang pun, masyarakat kita
secara tidak sadar telah melakukan korupsi
Melihat begitu suksesnya pemberantasan korupsi di berbagai negara di dunia,
alangkah lebih baiknya apabila kita bisa setidaknya meniru langkah-langkah yang
perlu dilakukan demi pemberantasan korupsi di Indonesia, tentunya tidak serta
merta program yang dilaksanakan di negara lain bisa langsung diterapkan di
Indonesia, menilik perbedaan budaya dan pola pikir masyarakatnya, tentu langkah-
langkah yang ditempuh, mesti diseduaikan terlebih dahulu, sehingga program
pemberantasan korupsi bisa berjalan denggan lancar, dan korupsi bisa
dibumihanguskan dari negara tercinta kita ini
Untuk dapat memberantas korupsi secara efektif, terlebih dahulu harus
diketahui penyebab sebenarnya dari korupsi. Pemberantasan tidak bisa dilakukan
secara optimal apabila tidak dimulai dari akar penyebab korupsi. Oleh sebab itu,
penulis mencoba sedikit menyumbangkan saran pikirannya yang tertuang dalam
makalah ini, untuk setidaknya brainstorming dan mudah-mudahan bisa sedikit
membantu pemberantasan korupsi di Indonesia.
Mungkin sebelum memulai, mohon dimaafkan apabila ada tulisan-tulisan yang
cenderung bersifat emosional dan kurang sopan dalam penulisan makalah ini,
dengan segala keterbatasannya dan marilah kita berdoa demi terwujudnya Indonesia
yang Makmur, Adil dan Sentosa


STRATEGI PEMBERANTASAN KORUPSI DI INDONESIA

Pemerintah Indonesia tentunya tidak tinggal diam dengan segala tindak pidana
korupsi yang sudah merajalela, KPK sebagai ujung tombak pemberantasan korupsi di
Indonesia, banyak rintangan yang dihadapi oleh KPK dalam upayanya memberantas
korupsi, bahkan dari kalangan pemerintah sendiri banyak yang menjegal langkah
pemberantasan korupsi oleh KPK, alasannya sungguh sudah jelas, ya karena mereka
terlibat korupsi, apabila para pejabat ini tidak terlibat, kenapa pula mereka
cenderung memojokkan KPK?
Terlepas dari itu, beberapa upaya sudah dicanangkan oleh pemerintah,
beberapa strategi sudah digulirkan, seperti tertuang dalam Perpres Nomor 55 Tahun
2012 menyatakan bahwa strategi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi (PPK)
memiliki visi jangka panjang dan menengah. Visi periode jangka panjang (2012-2025)
adalah: terwujudnya kehidupan bangsa yang bersih dari korupsi dengan didukung
nilai budaya yang berintegritas. Adapun untuk jangka menengah (2012-2014) bervisi
terwujudnya tata kepemerintahan yang bersih dari korupsi dengan didukung
kapasitas pencegahan dan penindakan serta nilai budaya yang berintegritas. Visi
jangka panjang dan menengah itu akan diwujudkan di segenap ranah, baik di
pemerintahan dalam arti luas, masyarakat sipil, hingga dunia usaha. Untuk mencapai
visi tersebut, maka dirancang 6 strategi yaitu:
Pencegahan.
Korupsi masih terjadi secara masif dan sistematis. Praktiknya bisa berlangsung
dimanapun, di lembaga negara, lembaga privat, hingga di kehidupan sehari-hari.
Melihat kondisi seperti itu, maka pencegahan menjadi layak didudukkan sebagai
strategi perdananya. Melalui strategi pencegahan, diharapkan muncul langkah
berkesinambungan yang berkontribusi bagi perbaikan ke depan. Strategi ini
merupakan jawaban atas pendekatan yang lebih terfokus pada pendekatan represif.
Paradigma dengan pendekatan represif yang berkembang karena diyakini dapat
memberikan efek jera terhadap pelaku tindak pidana korupsi (tipikor). Sayangnya,
pendekatan represif ini masih belum mampu mengurangi perilaku dan praktik
koruptif secara sistematis-massif. Keberhasilan strategi pencegahan diukur
berdasarkan peningkatan nilai Indeks Pencegahan Korupsi, yang hitungannya
diperoleh dari dua sub indikator yaitu Control of Corruption Index dan peringkat
kemudahan berusaha (ease of doing business) yang dikeluarkan oleh World Bank.
Semakin tinggi angka indeks yang diperoleh, maka diyakini strategi pencegahan
korupsi berjalan semakin baik.
Penegakan Hukum.
Masih banyak kasus korupsi yang belum tuntas, padahal animo dan ekspektasi
masyarakat sudah tersedot sedemikian rupa hingga menanti-nanti adanya
penyelesaian secara adil dan transparan. Penegakan hukum yang inkonsisten
terhadap hukum positif dan prosesnya tidak transparan, pada akhirnya, berpengaruh
pada tingkat kepercayaan (trust) masyarakat terhadap hukum dan aparaturnya.
Dalam tingkat kepercayaan yang lemah, masyarakat tergiring ke arah opini bahwa
hukum tidak lagi dipercayai sebagai wadah penyelesaian konflik. Masyarakat
cenderung menyelesaikan konflik dan permasalahan mereka melalui caranya sendiri
yang, celakanya, acap berseberangan dengan hukum.
Belum lagi jika ada pihak-pihak lain yang memanfaatkan inkonsistensi
penegakan hukum demi kepentingannya sendiri, keadaaan bisa makin runyam.
Absennya kepercayaan di tengah-tengah masyarakat, tak ayal, menumbuhkan rasa
tidak puas dan tidak adil terhadap lembaga hukum beserta aparaturnya. Pada suatu
tempo, manakala ada upaya-upaya perbaikan dalam rangka penegakan hukum di
Indonesia, maka hal seperti ini akan menjadi hambatan tersendiri. Untuk itu,
penyelesaian kasus-kasus korupsi yang menarik perhatian masyarakat mutlak perlu
dipercepat. Tingkat keberhasilan strategi penegakan hukum ini diukur berdasarkan
Indeks Penegakan Hukum Tipikor yang diperoleh dari persentase penyelesaian setiap
tahapan dalam proses penegakan hukum terkait kasus Tipikor, mulai dari tahap
penyelesaian pengaduan Tipikor hingga penyelesaian eksekusi putusan Tipikor.
Semakin tinggi angka Indeks Penegakan Hukum Tipikor, maka diyakini strategi
Penegakan Hukum berjalan semakin baik.
Harmonisasi Peraturan Perundang-undangan.
Meratifikasi UNCAC, adalah bukti konsistensi dari komitmen Pemerintah
Indonesia untuk mempercepat pemberantasan korupsi. Sebagai konsekuensinya,
klausul-klausul di dalam UNCAC harus dapat diterapkan dan mengikat sebagai
ketentuan hukum di Indonesia. Beberapa klausul ada yang merupakan hal baru,
sehingga perlu diatur/diakomodasi lebih-lanjut dalam regulasi terkait pemberantasan
korupsi selain juga merevisi ketentuan di dalam regulasi yang masih tumpang-tindih
menjadi prioritas dalam strategi ini. Tingkat keberhasilan strategi ini diukur
berdasarkan persentase kesesuaian regulasi anti korupsi Indonesia dengan klausul
UNCAC. Semakin mendekati seratus persen, maka peraturan perundang-undangan
terkait pencegahan dan pemberantasan korupsi di Indonesia semakin lengkap dan
sesuai dengan common practice yang terdapat pada negara-negara lain.
Kerjasama Internasional dan Penyelamatan Aset Hasil Tipikor.
Berkenaan dengan upaya pengembalian aset hasil tipikor, baik di dalam
maupun luar negeri, perlu diwujudkan suatu mekanisme pencegahan dan
pengembalian aset secara langsung sebagaimana ketentuan UNCAC. Peraturan
perundang-undangan Indonesia belum mengatur pelaksanaan dari putusan
penyitaan (perampasan) dari negara lain, lebih-lebih terhadap perampasan aset yang
dilakukan tanpa adanya putusan pengadilan dari suatu kasus korupsi (confiscation
without a criminal conviction). Penyelamatan aset perlu didukung oleh pengelolaan
aset negara yang dilembagakan secara profesional agar kekayaan negara dari aset
hasil tipikor dapat dikembalikan kepada negara secara optimal. Keberhasilan strategi
ini diukur dari persentase pengembalian aset hasil tipikor ke kas negara berdasarkan
putusan pengadilan dan persentase tingkat keberhasilan (success rate) kerjasama
internasional terkait pelaksanaan permintaan dan penerimaan permintaan Mutual
Legal Assistance (MLA) dan Ekstradisi. Semakin tinggi pengembalian aset ke kas
negara dan keberhasilan kerjasama internasional, khususnya dibidang tipikor, maka
strategi ini diyakini berjalan dengan baik.
Pendidikan dan Budaya Antikorupsi.
Praktik-praktik korupsi yang kian masif memerlukan itikad kolaboratif dari
Pemerintah beserta segenap pemangku kepentingan. Wujudnya, bisa berupa upaya
menanamkan nilai budaya integritas yang dilaksanakan secara kolektif dan
sistematis, baik melalui aktivitas pendidikan anti korupsi dan internalisasi budaya anti
korupsi di lingkungan publik maupun swasta. Dengan kesamaan cara pandang pada
setiap individu di seluruh Indonesia bahwa korupsi itu jahat, dan pada akhirnya para
individu tersebut berperilaku aktif mendorong terwujudnya tata-kepemerintahan
yang bersih dari korupsi diharapkan menumbuhkan prakarsa-prakarsa positif bagi
upaya PPK pada khususnya, serta perbaikan tata-kepemerintahan pada umumnya.
Tingkat keberhasilan strategi ini diukur berdasarkan Indeks Perilaku Antikorupsi yang
ada dikalangan tata-kepemerintahan maupun individu di seluruh Indonesia. Semakin
tinggi angka indeks ini, maka diyakini nilai budaya anti korupsi semakin
terinternalisasi dan mewujud dalam perilaku nyata setiap individu untuk memerangi
tipikor.


Mekanisme Pelaporan Pelaksanaan Pemberantasan Korupsi.
Strategi yang mengedepankan penguatan mekanisme di internal
Kementerian/Lembaga, swasta, dan masyarakat, tentu akan memperlancar aliran
data/informasi terkait progres pelaksanaan ketentuan UNCAC. Konsolidasi dan
publikasi Informasi di berbagai media, baik elektronik maupun cetak, termasuk
webportal PPK, akan mempermudah pengaksesan dan pemanfaatannya dalam
penyusunan kebijakan dan pengukuran kinerja PPK. Keterbukaan dalam pelaporan
kegiatan PPK akan memudahkan para pemangku kepentingan berpartisipasi aktif
mengawal segenap upaya yang dilakukan oleh pemerintah, lembaga publik maupun
sektor swasta. Keberhasilannya diukur berdasarkan indeks tingkat kepuasan
pemangku kepentingan terhadap laporan PPK. Semakin tinggi tingkat kepuasan
pemangku kepentingan, maka harapannya, semua kebutuhan informasi dan
pelaporan terkait proses penyusunan kebijakan dan penilaian progres PPK dapat
semakin terpenuhi sehingga upaya PPK dapat dikawal secara berkesinambungan dan
tepat sasaran
Dari ke enam strategi diatas, yang dijabarkan oleh Perpres Nomor 55 tahun
2012, penulis lebih cenderung untuk mengutamakan poin ke 5, yaitu tentang
pendidikan dan budaya anti korupsi, kenapa ini yang perl ditekankan? Karena
pemberantasan paling mendasar adalah dari diri kita sendiri, sekuat apapun godaan
untuk korupsi, apabila karakter mental kita sudah kuat, maka kita bisa menepis
godaan untuk korupsi tersebut, kita ambil contoh Finlandia, dimana negara ini adalah
negara yang paling sukses dalam program pemberantasan korupsinya
Finlandia dikenal memiliki standar hidup tinggi dan sistem kesejahteraan sosial
yang dilaksanakan secara menyeluruh. Sebagai negara yang menganut prinsip negara
kesejahteraan (welfare state), warga negaranya dikenai pajak yang besar namun
diimbangi dengan pemberian layanan sosial, kesehatan dan pendidikan yang
berkualitas bagi warganya. Sistem pendidikan Finlandia menjamin semua anak-anak
menerima pendidikan dasar wajib antara usia 7 dan 16. Lebih dari setengah dari
populasi menyelesaikan pendidikan menengah dan 13% menyelesaikan tingkat
perguruan tinggi atau kualifikasi setara.
Dari pendidikan dasar inipun sikap dan budaya mereka sudah dilatih untuk
jujur, dan selalu teratur, pola pendidikan mereka sudah terarah dan jelas, dengan
ditopang oleh sarana pendukungnya, dan juga pengajar yang berkualitas, tidak
heran, karena mereka sangat menghargai profesi guru ini sebagai pendidik mental
dasar anak anak penerus bangsa, profesi guru sangat diidam-idamkan bahkan
popularitasnya mengalahkan dokter, bandingkan dengan guru di Indonesia, dimana
mereka kurang dihargai oleh pemerintahnya sendiri
Kembali lagi pada pola pemberantasan korupsi di Finlandia, masyarakat
Finlandia memiliki empat kekuatan utama dalam melawan korupsi. Pembangunan
karakter masyarakat secara bertahap merupakan prasyarat umum dari upaya
sistematik melawan korupsi yang dilakukan selama dua abad terakhir. Kekuatan
Finlandia dalam pembangunan ekonomi dan menekan korupsi ini muncul dari
beberapa faktor antara lain:
Nilai dasar yang mempromosikan moderasi, menahan keinginan diri pribadi
demi kepentingan umum
Lembaga legislatif, yudikatif dan struktur administratif yang terus
memantau dari dekat dan mencegah penyalahgunaan kekuasaan
Peran perempuan yang menonjol dalam politik dan pengambilan keputusan
Disparitas pendapatan yang rendah dan upah yang memadai
Salah satu prioritas dalam agenda politik Finlandia adalah memastikan bahwa
perempuan menikmati hak-hak dan kesempatan yang sama. Mayoritas perempuan
Finlandia (85%) bekerja di luar rumah dan aktif dalam kehidupan politik. Lebih dari
sepertiga anggota parlemen adalah perempuan. Bahkan Presiden Republik Finlandia
sebelum Sauli Niinist -- yang saat ini memimpin -- adalah seorang perempuan, Ms.
Tarja Halonen yang memimpin Finlandia selama 2 periode (1 Maret 2000-2012).
Integritas pegawai pemerintah dalam bekerja menjadi bagian penting dalam
mencegah korupsi. Integritas yang tinggi membuat pegawai pemerintah di Finlandia
menjunjung tinggi reputasi. Hancurnya reputasi akibat perbuatan tercela biasanya
berakhir dengan keluarnya pegawai tersebut dari pekerjaan sebagai pegawai
pemerintah terutama karena dorongan rasa malu.
Di Finlandia, jangankan korupsi, berbohong saja sudah tidak disukai rakyat. Jika
terdapat pegawai pemerintah yang tertangkap memberikan atau menerima suap, hal
itu akan menimbulkan aib sosial yang sangat kuat. Hal ini seperti yang terjadi pada
kasus Anneli Jaatteenmaki. Perdana Menteri (PM) perempuan pertama Finlandia
tersebut mundur pada bulan Juni 2003, hanya 69 hari setelah terpilih menjadi PM.
Jaatteenmaki dituduh berbohong kepada parlemen dan rakyat menyangkut
kebocoran informasi politik yang peka selama kampanye.
Terdapat dua undang-undang yang mengatur masalah korupsi di Finlandia yaitu
UU Prosedur Administrasi dan UU Hukum Pidana. UU Prosedur Administrasi
ditekankan untuk memajukan perilaku yang baik dalam organisasi publik. Prinsip-
prinsip yang melandasinya antara lain, menekankan pejabat untuk bertindak adil dan
melaksanakan pekerjaannya, sesuai dengan peraturan yang berlaku. Dalam
memberikan pelayanan, mereka dilarang memungut biaya. Sanksi bagi pegawai yang
melanggar dapat berupa teguran tertulis sampai dengan pemberhentian dengan
tidak hormat.
Di sisi lain, pegawai pemerintah di Finlandia termasuk subjek hukum pidana,
menurut UU Hukum Pidana. Ada pasal-pasal khusus yang mengatur perbuatan-
perbuatan pegawai pemerintah yang dikategorikan sebagai melanggar hukum,
seperti menerima suap, melakukan pemerasan, menerima suap sebagai anggota
parlemen, membocorkan rahasia jabatan, dan melanggar kewajiban jabatan.
Begitupun, dari data statistik, memang sangat sedikit terdapat kasus korupsi,
termasuk masalah penyuapan. Pada tahun 2003 misalnya, hanya ada satu kasus
penyuapan yang ditangani dan terbukti. Sedangkan pada tahun 2002, dari dua kasus
suap yang ditangani, satu kasus terbukti. Mengingat kasus korupsi sangat jarang
terjadi di Finlandia, pengungkapan kasus korupsi akan memperoleh liputan yang luas
dari media massa.
Di Finlandia kasus-kasus korupsi tidak selalu melibatkan nilai uang yang
berujung pada dipidananya pelaku korupsi. Kasus-kasus seperti menunda
pengumuman penting yang wajib diketahui masyarakat, merendahkan prinsip
kesamaan hak, membuat putusan dengan pertimbangan yang tidak tepat dan
bersikap diskriminatif, juga dapat dikategorikan sebagai tindakan pejabat publik yang
terkait dengan korupsi.
Pengendalian administratif dan pencegahan korupsi ditangani oleh beberapa
institusi di Finlandia. Audit internal pun memegang peran penting dalam upaya
mencegah korupsi karena kedudukannya yang semi-otonom dan fungsinya sebagai
lembaga penelaah mekanisme pengendalian internal. Di samping unit pengendalian
internal, di Finlandia juga terdapat The National Audit Ofce (semacam BPK di
Indonesia) yang mandiri. National Audit Office bertugas melakukan audit keuangan
dan audit kinerja.
Peran kunci dalam pemberantasan korupsi dilaksanakan oleh Kepolisian
Nasional, melalui Komisariat Jenderal Polisi Yudisial yang ditetapkan melalui Royal
Decree pada 17 Februari 1998. Polisi Yudisial berada di bawah otoritas Kementerian
Kehakiman (Minister of Justice).
Lembaga lain yang berperan dalam melawan korupsi adalah Criminal
Investigation of Corruption (O.C.R.C.) atau Lembaga Investigasi Korupsi. OCRC sendiri
melakukan tugas-tugas hanya jika diminta oleh kejaksaan dan tidak dapat bertindak
atas inisiatif sendiri. OCRC bertanggung jawab untuk:
1) Menyelidiki kejahatan yang kompleks dan serius serta pelanggaran
kepentingan publik termasuk korupsi di sektor swasta;
2) Mendukung brigade polisi peradilan (judicial police) dalam menyelidiki
pelanggaran dan kejahatan tersebut;
3) mendukung kegiatan dalam kasus menyelidiki pelanggaran yang dilakukan
terkait dengan kontrak pengadaan publik dan subsidi publik. OCRC juga
bertugas mengawasi urusan otorisasi, izin, dan persetujuan yang relatif
rawan korupsi,
4) Mengelola dan memanfaatkan dokumentasi khusus dalam mencegah dan
melawan korupsi.
Dewan Nasional untuk Pencegahan Kejahatan (Rikoksentorjunta/National
Council for Crime Prevention) juga berperan dalam pencegahan korupsi. NCCP
adalah sebuah otoritas di Finlandia yang bertugas mendampingi lembaga negara lain
dalam mengembangkan dan melaksanakan pengukuran spesifik dalam aksi
pencegahan korupsi.
Pembangunan karakter masyarakat melalui upaya berkesinambungan terutama
dalam proses pendidikan dan konsistensi pemerintah Finlandia dalam mewujudkan
kesejahteraan rakyat menjadi modal utama dalam menekan angka korupsi hingga ke
tingkat minimum. Prinsip Rule of Law dimana seluruh aspek negara menjunjung
tinggi supremasi hukum yang dibangun di atas prinsip keadilan dan egalitarian
menjadi pondasi penegakan hukum dan masyarakat anti korupsi
Hal inilah yang luput dari perhatian pemerintah Indonesia, seharusnya kita bisa
mencontoh langkah pemerintah finlandia dalam upaya mereka memberantas
korupsi, yaitu dengan membangun basis dasar budaya anti korupsi sejak dini

BACK TO GROUND ZERO

Bebrapa tahun yang lalu, saat penulis masih memiliki pemikiran ideal murni,
tanpa banyak terpengaruh godaan duniawi, sempat tercetus sebuah pemikiran
radikal untuk menyelamatkan bangsa ini, yaitu dengan metode back to ground zero
pemikiran ini terinspirasi dari bangkitnya negara jepang akibat dijatuhkannya bom
atom di Hiroshima dan Nagasaki dan jepang sukses menjadikan momentum ini
sebagai era kebangkitan mereka, mereka menjadikan ini sebagai pelecut utama
motivasi mereka dalam membangun bangsa
Apakah sesederhana itu? Jawabannya tentu tidak, karena banyak sekali faktor
yang mempengaruhi, namun pad prinsipnya penulis percaya bahwa untuk merubah
pola pikir budaya kita, dan mental kita yang telah tertanam, maka harus dirubah
semenjak dini, cara ekstrimnya adalah kita membuat sebuah peradaban baru yang
terkontrol sehingga bibit bibit muda koruptor bisa dieliminasi sejak awal, karena
yang dirubah adalah pola dasar, makan selanjutnya mudah mudahan tidak akan ada
korupsi di masa datang
Gagasan ini tentu saja merupakan gagasan ekstrim, karena hal ini tidak bisa
dilakukan, hal ini hanya lah bentuk pemikiran semata, yang hanya bisa terjadi dalam
kondisi ideal, pada kenyataannya banyak sekali faktor yang mempengaruhi, bahkan
faktor sepele pun tentu sangat berpengaruh dalam pola pikir masyarakat, gagasan ini
hanya bisa terwujud dalam alam tuhan, hanya tuhan yang bisa berkehendak, tetapi
kita sebagai manusia, bukan bermaksud menlangkahi tuhan, tapi setidaknya dalam
gagasan ekstrim ini bisa kita ambil sebuah benang merah, yang penulis maksud
adalah, yang paling perlu kita rubah sebenarnya bukan sistem penanggulangan atau
pencegahan korupsi, karena yang namanya penjahat selalu bisa mencari celah, tetapi
yang harus kita rubah adala yang p[aling mendasar, yaiut pola pikir dan mental, serta
budaya masyarakat itu sendiri
Seperti kasus yang baru saja ini terjadi, yaitu seorang lulusan sarjana hukum
tertipu oleh seseorang yang menjanjikan posisi sebagai honorer di Direktorat
Jenderal Pajak, dan nilai uang yang raib tidak main-main yaitu sebanyak 750 juta
rupiah, wow angka yang sangat fantastis, terutama jabatan yang ditawarkan hanya
menjadi seorang honorer. Bila dipikir dengan akal sehat, dengan gaji seorang
honorer, anggaplah kita ambil UMR Jakarta sebesar 2,2 juta rupiah, apabila kita
breakdown angka 750 juta rupiah tersebut, maka akan membutuhkan waktu
sebanyak 341 bulan atau sekitar 28 tahun 5 bulan, dengan catatan, gaji yang diterima
utuh tanpa digunakan untuk makan ataupun keperluan sehari-hari, tentunya ini
sangat tidak masuk akal, tetapi kenapa sang lulusan sarjana hukum ini rela
membayar sebanyak itu hanya untuk sebuah jabatan honorer? Tentu karena pola
pikir dia yang ingin segera mendapatkan balik modal, dengan cara singkat, ya tidak
lain dan tidak bukan dengan korupsi, karena dia melihat peluang besar di Direktorat
Jenderal Pajak dalam hal celah korupsi tersebut, padahal, hal ini salah besar
Pola birokrasi di Direktorat Jenderal Pajak pada khususnya dan secara luas di
Kementrian Keuangan sudah mengalami reformasi birokrasi, dengan maksud untuk
mengurangi peluang peluang terjadinya korupsi, pengawasan melekat maupun
pengawasan dari pihak luar sungguh sangat ketat, sehingga sebenarnya ruang gerak
koruptor sudah dipersempit, meskipun yang namanya manusia, celah celah tersebut
masih tetap ada, dan ini masih terus diupayakan oleh Kementrian Keuangan untuk
ditambal.
Tak pelak lagi, masalah keuangan memang mrupakan motivasi utama seseorang
melakukan tindak pidana korupsi, dan dikarenakan gaya hidup masyarakat sekarang
yang makin maju, maka perlu juga diatur tentang standarisasi gaji pegawai
Pengertian Standar Hidup telah mengalami perkembangan dari waktu ke
waktu, dimana konsep akan standar hidup semakin mendekati ide para ekonom
tentang fungsi utilitas. Dalam konsep standar hidup, kesejahteraan tergantung
kepada berbagai keadaan berupa uang maupun non uang.
Hal ini berbeda dengan awal periode paska perang Dunia II, konsep standar
hidup masih murni hanya terkait dengan barang dan jasa yang dimanfaatkan oleh
seseorang. Konsep standar hidup yang demikian menyebabkan PDB per kapita
sebagai alat ukur standar hidup di suatu negara. Kritik menyatakan keprihatinan
bahwa PDB per kapita gagal mencerminkan beberapa aspek penting kesejahteraan
manusia, dan menunjuk ke beberapa perbedaan penting dalam peringkat negara-
negara berdasarkan PDB per kapita dibandingkan dengan indikator lainnya dengan
kesejahteraan, seperti panjang kehidupan dan pendidikan. Banyak kritikus khawatir
bahwa jika kebijakan difokuskan pada GDP per kapita, mereka akan terlalu condong
ke pertumbuhan ekonomi sebagai tujuan kebijakan, daripada berjuang untuk
pembangunan manusia yang seimbang.
Teori gaya hidup yang dikembangkan oleh Hindelang, Gottfredson, dan
Garafalo yang berarti berbicara tentang pola hidup atau kegiatan rutin yang
dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Gaya Hidup dipengaruhi oleh perbedaan
umur, jenis kelamin, pendidikan , status perkawinan, pendapatan keluarga dan ras
yang berkaitan dengan rutinitas sehari-hari yang rentan terhadap risiko-risiko untuk
melakukan kejahatan.
Sebuah teori serupa yang dikembangkan oleh Kennedy dan Forde (1990)
menunjukkan bahwa latar belakang dan karakteristik dari aktivitas sehari-hari
berpengaruh pada waktu yang diluangkan dalam gaya hidup yang berisiko dimana
gaya hidup tersebut akan membawa orang kejalan yang lebih berbahaya.
Menurut KBBI istilah gaya hidup berarti pola tingkah laku sehari-hari
segolongan manusia di dalam masyarakat. Gaya hidup menunjukkan bagaimana
orang mengatur kehidupan pribadinya, kehidupan masyarakat, perilaku di depan
umum, dan upaya membedakan statusnya dari orang lain melalui lambang-lambang
sosial. Gaya hidup atau life style dapat diartikan juga sebagai segala sesuatu yang
memiliki karakteristik, kekhususan, dan tata cara dalam kehidupan suatu masyarakat
tertentu.
Gaya hidup tak lepas dari usaha manusia untuk memenuhi kebutuhannya baik
kebutuhan primer, sekunder maupun tersier. Abraham Maslow (1943) membagi
kebutuhan berdasarkan lima tingkatan yaitu:
1. Kebutuhan fisiologis (rasa lapar, rasa haus, dan sebagainya)
2. Kebutuhan rasa aman (merasa aman dan terlindung, jauh dari bahaya)
3. Kebutuhan akan rasa cinta dan rasa memiliki (berafiliasi dengan orang lain,
diterima, memiliki)
4. Kebutuhan akan penghargaan (berprestasi, berkompetensi, dan
mendapatkan dukungan serta pengakuan)
5. Kebutuhan aktualisasi diri (kebutuhan kognitif: mengetahui, memahami,
dan menjelajahi; kebutuhan estetik: keserasian, keteraturan, dan
keindahan; kebutuhan aktualisasi diri: mendapatkan kepuasan diri dan
menyadari potensinya
Pada dasarnya kebutuhan fisiologis , rasa aman, rasa cinta dan rasa memiliki
merupakan kebutuhan primer manusia. Dalam pemenuhannya setiap orang akan
menghabiskan biaya yang berbeda-beda tergantung perspektif dan cara pandang
seseorang terhadap alat pemuas kebutuhannya. Misalnya pakaian, untuk orang
awam mungkin yang jadi fokus dalam pemenuhannya adalah fungsi dan
kenyamanannya tetapi bagi orang lain brand lah yang paling penting walaupun
harganya mahal. Disinilah gaya hidup berpengaruh dalam pola konsumsi manusia.
Ada yang asal cukup terpenuhi atau dengan kata lain hidup sederhana ada pula yang
hidup dengan mewah.
Bagaimana dengan PNS? Kebutuhan ke-4 menurut Maslow adalah kebutuhan
akan penghargaan. Ketika tiga kebutuhan dasar yang pertama sudah manusia sudah
terpenuhi maka kebutuhan akan penghargaan ini akan menjadi target berikutnya.
Masalahnya adalah persepsi kesuksesan di Indonesia yang salah kaprah dimana
kesuksesan mayoritas diukur dengan materi. Masyarakat kita masih berpandangan
bahwa menilai seseorang itu bukan dari kepribadiannya tetapi dari gaya hidup, apa
yang dimilki, dan banyaknya harta.
Masalah berikutnya adalah budaya instan dimana banyak orang ingin cepat
kaya. Sehingga tak jarang kita dengar PNS yang gaji dan tunjangannya tersandera
kredit untuk berbagai barang konsumtif. Ketika ketiga unsur (pola hidup mewah,
persepsi sukses materi dan budaya instan) ini melanda PNS maka yang tadinya
standar hidup kebutuhan pokok seharusnya sudah cukup menjadi tidak cukup.
Solusinya? Pekerjaan sampingan bagi yang punya skill. Bagi yang tidak maka peluang
pemenuhan konsumtifnya itu dengan mencari peluang-peluang yang dapat
menghasilkan uang. Kombinasi peluang dan pressure ini melahirkan penyalahgunaan
hak dan wewenang yang melahirkan apa yang disebut dengan korupsi. Hal sesuai
teori Fraud triangle menurut Donald Cressey.
Berdasarkan idealismenya Satria Hadi Lubis membedakan PNS menjadi 4 jenis
yaitu:
1. Idealis : anti korupsi, profesional, rata-rata hidup sederhana dan apa
adanya.
2. Kreatif : anti korupsi tetapi mencari penghasilan tambahan di luar
pekerjaan sebagai PNS sehingga apabila terlalu banyak fokus di luar
pekerjaan utama menjadi kurang profesional.
3. Durjana : koruptif, tidak profesional.
4. Idaman : anti korupsi, profesional, penghasilan sudah cukup untuk
standar hidup dan lain-lain seperti di negara-negara maju.

Perbuatan tindak pidana korupsi di Indonesia sampai dengan saat ini masih
terbatas kepada tindakan yang menyebabkan atau diduga menyebabkan kerugian
negara atau kerugian pada perekonomian negara, sebagaimana diatur dalam
Undang-undang Nomor 31 Tahun1999 tentang Pemberantasan Korupsi Pasal 2 ayat
(1) (2) dan Pasal 3. Berdasarkan hal tersebut, pihak yang paling riskan melakukan
perbuatan korupsi tentunya adalah pihak-pihak yang berhubungan langsung dengan
kegiatan kenegaraan, dalam makalah ini lebih dikhususkan kepada pegawai negeri
sipil selaku penerima penghasilan yang bersumber dari keuangan negara.
Hal apa sebenarnya yang menyebabkan PNS melakukan tindakan yang
merugikan kerugian negara? Kelompok kami melakukan penelitian kecil terkait
dengan pendapatan dan kebutuhan hidup minimal seorang PNS di suatu tempat
Remunerasi berdasarkan kamus bahasa Indonesia artinya imbalan atau gaji.
Dalam konteks Reformasi Birokrasi, pengertian Remunerasi, adalah penataan
kembali sistem penggajian yang dikaitkan dengan sistem penilaian kinerja. Jadi
dengan kata lain, sistem remunerasi merupakan sebuah sistem penggajian
gabungan. Namun pada prakteknya kebijakan remunerasi belum sepenuhnya
merupakan sistem gabungan dikarenakan perhitungannya belum benar-benar sesuai
dengan prestasi kerja. Tujuan remunerasi adalah mewujudkan pemerintahan dengan
tata kelola yang baik dan bebas korupsi.
Remunerasi seharusnya mampu untuk mengurangi tindakan korupsi di
pemerintahan. Namun, sejauh ini ternyata remunerasi yang sudah dijalankan di
Kementerian Keuangan belum dapat dibuktikan efektivitasnya. Hal ini kemungkinan
disebabkan oleh dua hal. Pertama karena remunerasi belum dilaksanakan secara
maksimal. Pemerintah belum bisa menilai kinerja Pegawai Negeri Sipil. Dikarenakan
reformasi birokrasi belum sepenuhnya dapat berjalan dengan sukses. Faktor kedua
adalah terbatasnya anggaran negara yang menyebabkan remunerasi lebih mirip
dengan pemberian gaji dengan nama yang berbeda. Remunerasi tidak bisa dijalankan
dengan lebih fleksibel karena keterbatasan-keterbatasn anggaran pemerintah.
Dalam hal penganggaran, dikarenakan penganggaran ini merupakan salah satu
celah yang sering diincar oleh para koruptor, tetapi anggaran juga dapat digunakan
sebagai sebuah upaya dan agen pengendali, karena metode penganggaran dan
sistem pengawasan pada anggaran bisa dikontrol dengan baik, sehingga bisa
mengurangi tindak manipulasi anggaran
Penyusunan anggaran hendaknya dilakukan berlandaskan asas efisiensi, tepat
guna, tepat waktu pelaksanaan dan penggunaannya dapat dipertanggung-jawabkan.
Pendapatan yang direncanakan merupakan perkiraan yang terukur secara
rasional yang dapat dicapai untuk setiap sumber pendapatan, sedangkan belanja
yang dianggarkan pada setiap pos/pasal merupakan batas tertinggi pengeluaran
belanja. Penganggaran pengeluaran harus didukung dengan adanya kepastian
tersedia penerimaan dalam jumlah yang cukup dan tidak dibenarkan melaksanakan
progam dan kegiatan yang belum/tidak tersedia anggarannya.
Pemerintah wajib mengalokasikan penggunaan anggaran secara adil agar dapat
dinikmati oleh seluruh kelompok masyarakat tanpa diskriminasi dalam pemberian
pelayanan. Hal ini dikarenakan sumber daya yang digunakan dalam anggaran berupa
pendapatan negara pada hakekatnya diperoleh melalui peran serta seluruh anggota
masyarakat.
Dana yang tersedia harus dimanfaatkan sebaik mungkin agar dapat
menghasilkan peningkatan dan kesejahteraan yang maksimal untuk kepentingan
masyarakat
APBN disusun dengan pendekatan kinerja, yaitu mengutamakan upaya
pencapaian hasil kerja (keluaran dan hasil) dari perencanaan atas alokasi biaya atau
masukan/input yang telah ditetapkan. Hasil kerja harus sepadan atau lebih besar dari
biaya atau masukan. Selain itu juga harus mampu menumbuhkan profesionalisme
kerja pada setiap unit kerja yang terkait.
Anggaran berbasis kinerja merupakan metode penganggaran bagi manajemen
untuk mengaitkan setiap biaya yang dituangkan dalam kegiatan-kegiatan dengan
manfaat yang dihasilkan. Manfaat tersebut didiskripsikan pada seperangkat tujuan
dan dituangkan dalam target kinerja pada setiap unit kerja.
Bagaimana cara agar tujuan itu dapat dicapai, dituangkan dalam program
diikuti dengan pembiayaan pada setiap tingkat pencapaian tujuan. Program pada
anggaran berbasis kinerja didefinisikan sebagai keseluruhan aktivitas, baik aktivitas
langsung maupun tidak langsung yang mendukung program sekaligus melakukan
estimasi biaya-biaya berkaitan dengan pelaksanaan aktivitas tersebut. Aktivitas
tersebut disusun sebagai cara untuk mencapai kinerja tahunan. Dengan kata lain,
integrasi dari rencana kinerja tahunan (Renja) yang merupakan rencana operasional
dari Renstra dan anggaran tahunan merupakan komponen dari anggaran berbasis
kinerja
Perencanaan Kinerja adalah aktivitas analisis dan pengambilan keputusan ke
depan untuk menetapkan tingkat kinerja yang diinginkan di masa mendatang. Pada
prinsipnya perencanaan kinerja merupakan penetapan tingkat capaian kinerja yan
dinyatakan dengan ukuran kinerja dalam rangka mencapai sasaran atau target yang
telah ditetapkan.
Perencanaan merupakan komponen kunci untuk lebih mengefektifkan dan
mengefisienkan Pemerintah Daerah.Sedangkan perencanaan kinerja membantu
pemerintah untuk mencapai tujuan yang sudah diidentifikasikan dalam rencana
stratejik, termasuk didalamnya pembuatan terget kinerja dengan menggunakan
ukuran-ukuran kinerja.
Tingkat pelayanan yang diinginkan pada dasarnya merupakan indikator kinerja
yang diharapkan dapat dicapai oleh Pemerintah Daerah dalam melaksanakan
kewenangannya. Selanjutnya untuk penilaian kinerja dapat digunakan ukuran
penilaian didasarkan pada berbagai indikator
Masukan adalah segala sesuatu yang dibutuhkan agar pelaksanaan kegiatan
dapat berjalan untuk menghasilkan keluaran. Indikator ini merupakan tolok ukur
kinerja berdasarkan tingkat atau besaran sumber-sumber: dana, sumber daya
manusia, material, waktu, teknologi, dan sebagainya yang digunakan untuk
melaksanakan program atau kegiatan. Dengan meninjau distribusi sumber daya,
suatu lembaga dapat menganalisis apakah alokasi sumber daya yang dimiliki telah
sesuai dengan rencana strategik yang telah ditetapkan. Tolok ukur ini dapat juga
digunakan untuk perbandingan (benchmarking) dengan lembaga-lembaga lain yang
relevan. Contoh indikator masukan untuk kegiatan penyuluhan lingkungan sehat
untuk daerah pemukiman masyarakat kurang mampu adalah jumlah dana yang
dibutuhkan dan tenaga penyuluh kesehatan.
Walaupun tolok ukur masukan relatif mudah diukur serta telah digunakan
secara luas, namun seringkali dipergunakan secara kurang tepat sehingga dapat
menimbulkan hasil evaluasi yang rancu atau bahkan menyesatkan. Beberapa hal
berikut ini sering dijumpai dalam menetapkan tolok ukur masukan yang dapat
menyesatkan:
Pengukuran Sumber Daya Manusia tidak menggambarkan intensitas
keterlibatannya dalam pelaksanaan kegiatan.
Pengukuran biaya tidak akurat karena banyak biaya-biaya yang dibebankan
ke suatu kegiatan tidak mempunyai kaitan yang kuat dengan pencapaian
sasaran kegiatan tersebut.
Banyaknya biaya-biaya masukan (input) seperti gaji bulanan personalia
pelaksana, biaya pendidikan dan pelatihan, dan biaya penggunaan
peralatan dan mesin seringkali tidak diperhitungkan sebagai biaya kegiatan.
Keluaran adalah produk berupa barang atau jasa yang dihasilkan dari program
atau kegiatan sesuai dengan masukan yang digunakan. Indikator keluaran adalah
sesuatu yang diharapkan langsung dicapai dari suatu kegiatan yang dapat berupa
fisik dan / atau non fisik.
Penerapan SAB pada dasarnya akan memberikan manfaat antara lain: (1)
mendorong setiap unit kerja untuk lebih selektif dalam merencanakan program dan
atau kegiatannya, (2) menghindari adanya belanja yang kurang efektif dalam upaya
pencapaian kinerja, (3) mengurangi tumpang tindih belanja dalam kegiatan investasi
dan non investasi.
Standar biaya merupakan komponen lain yang harus dikembangkan sebagai
dasar untuk mengukur kinerja keuangan dalam sistem anggaran kinerja, selain
Standar Analisa Biaya dan tolok ukur kinerja. Standar biaya adalah harga satuan unit
biaya yang berlaku. Penerapan standar biaya ini membantu penyusunan anggaran
belanja suatu program atau kegiatan bagi setiap K/L dan unit kerja yang ada agar
kebutuhan atas suatu kegiatan yang sama tidak berbeda biayanya. Pengembangan
standar biaya akan dilakukan dan diperbaharui secara terus menerus sesuai dengan
perubahan harga yang berlaku
Anggaran adalah alokasi-uang-terotorisasi bertujuan kinerja tertentu. Proses
alokasi memenuhi kaidah ekonomis, efektivitas, dan efisiensi anggaran akan selalu
menghasilkan output atau hasil lebih baik dari tahun ke tahun. Karena itulah, Korupsi
Kolusi dan Nepotisme serta pemborosan diperangi sepanjang proses perencanaan
dan pengeluaran anggaran. Alokasi sempurna pada saat pengeluaran anggaran
diterima 100% oleh pihak terakhir penerima dan pemanfaat anggaran, misalnya
raskin, BOS, hibah, dan bantuan sosial. Tanpa basis atau bukti empiris, kebocoran
anggaran akibat rente-ekonomi sepanjang prosedur dan aliran anggaran dirasakan
oleh sebagian orang masih amat besar.
Dalam perkembangannya, pengelolaan anggaran sektor publik telah melakukan
reformasi yang bisa disebut value for money yang menekankan tentang pengelolaan
organisasi sektor publik yang dilakukan secara ekonomis, efisien, dan efektif. Ketiga
hal tersebut merupakan elemen pokok dalam konsep value for money. Adanya ketiga
unsur pokok tersebut diharapkan di terapkan pada setiap organisasi sektor publik
yang ada di Indonesia, agar terjadi sinergi positif terhadap perkembangan
perekonomian bangsa Indonesia.
Dengan membandingkan indikator keluaran instansi dapat menganalisis sejauh
mana kegiatan terlaksana sesuai dengan rencana. Indikator keluaran hanya dapat
menjadi landasan untuk menilai kemajuan suatu kegiatan apabila tolok ukur
dikaitkan dengan sasaran-sasaran kegiatan yang terdefinisi dengan baik dan
terukur.Oleh karenanya indikator keluaran harus sesuai dengan lingkup dan sifat
kegiatan instansi. Untuk kegiatan yang bersifat penelitian berbagai indikator kinerja
yang berkaitan dengan keluaran paten dan publikasi ilmiah sering dipergunakan baik
pada tingkat kegiatan maupun instansi. Untuk kegiatan yang bersifat pelayanan
teknis, indikator yang berkaitan dengan produk, pelanggan, serta pendapatan yang
diperoleh dari jasa tersebut mungkin lebih tepat untuk digunakan.
Beberapa indikator keluaran juga bermanfaat untuk mengidentifikasikan
perkembangan instansi. Sebagai contoh besarnya pendapatan yang diperoleh
melalui pelayanan teknis, kontrak riset, besarnya retribusi yang diperoleh, serta
perbandingannya dengan keseluruhan anggaran instansi, menunjukkan
perkembangan kemampuan instansi memenuhi kebutuhan pasar, serta
mengindikasikan tingkat ketergantungan instansi yang bersangkutan pada APBN.
Hasil adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran kegiatan
pada jangka menengah (efek langsung). Indikator hasil adalah sesuatu manfaat yang
diharapkan diperoleh dari keluaran. Tolok ukur ini menggambarkan hasil nyata dari
keluaran suatu kegiatan. Pada umumnya para pembuat kebijakan paling tertarik
pada tolok ukur hasil dibandingkan dengan tolok ukur lainnya. Namun untuk
mengukur indikator hasil, informasi yang diperlukan seringkali tidak lengkap dan
tidak mudah diperoleh. Oleh karenanya setiap instansi perlu mengkaji berbagai
pendekatan untuk mengukur hasil dari keluaran suatu kegiatan.
Pengukuran indikator hasil seringkali rancu dengan pengukuran indikator
keluaran. Sebagai contoh penghitungan jumlah bibit unggul yang dihasilkan oleh
suatu kegiatan merupakan tolok ukur keluaran. Namun penghitungan besar
produksi per hektar yang dihasilkan oleh bibit-bibit unggul tersebut atau
penghitungan kenaikan pendapatan petani pengguna bibit unggul tersebut
merupakan tolok ukur hasil. Dari contoh tersebut, dapat pula dirasakan bahwa
penggunaan tolok ukur hasil seringkali tidak murah dan memerlukan waktu yang
tidak pendek, karena validitas dan reliabilitasnya tergantung pada skala
penerapannya. Contoh nyata yang membedakan antara indikator output dan
indikator outcome adalah pembangunan gedung sekolah dasar. Secara output
gedung sekolah dasar tersebut telah seratus persen berhasil dibangun. Akan tetapi
belum tentu gedung tersebut diminati oleh masyarakat setempat.
Indikator outcome lebih utama dari pada sekedar output. Walaupun produk
telah dicapai dengan baik, belum tentu secara outcome kegiatan tersebut telah
dicapai. Outcome menggambarkan tingkat pencapaian atas hasil yang lebih tinggi
yang mungkin menyangkut kepentingan banyak pihak. Dengan indikator outcome,
organisasi akan mengetahui apakah hasil yang telah diperoleh dalam bentuk output
memang dapat dipergunakan sebagaimana mestinya dan memberikan kegunaan
yang besar bagi masyarakat banyak.
Pencapaian indikator kinerja outcome ini belum tentu akan dapat terlihat
dalam jangka waktu satu tahun. Seringkali outcome baru terlihat setelah melewati
kurun waktu lebih dari satu tahun, mengingat sifatnya yang bukan hanya sekedar
hasil. Dan mungkin juga indikator outcome tidak dapat dinyatakan dalam ukuran
kuantitatif akan tetapi lebih bersifat kualitatif.
Setelah indikator kinerja ditentukan, mulailah disusun target kinerja untuk
setiap indikator kinerja yang telah ditentukan. Target kinerja adalah tingkat kinerja
yang diharapkan dicapai terhadap suatu indikator kinerja dalam satu tahun anggaran
tertentu dan jumlah pendanaan yang telah ditetapkan.Target kinerja harus
mempertimbangkan sumber daya yang ada dan juga kendala-kendala yang mungkin
timbul dalam pelaksanaannya. Ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi dalam
menentukan target kinerja yang baik, seperti dapat dicapai, ekonomis, dapat
diterapkan, konsisten, menyeluruh, dapat dimengerti, dapat diukur, stabil, dapat
diadaptasi, legitimasi, seimbang, dan fokus kepada pelanggan.
Standar Analisa Belanja (SAB) merupakan salah satu komponen yang harus
dikembangkan sebagai dasar pengukuran kinerja keuangan dalam penyusunan APBN
dengan pendekatan kinerja. SAB adalah standar untuk menganalisis anggaran belanja
yang digunakan dalam suatu program atau kegiatan untuk menghasilkan tingkat
pelayanan tertentu sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
SAB digunakan untuk menilai kewajaran beban kerja dan biaya setiap program
atau kegiatan yang akan dilaksanakan oleh Unit Kerja dalam satu tahun anggaran.
Penilaian terhadap usulan anggaran belanja dikaitkan dengan tingkat pelayanan yang
akan dicapai melalui program atau kegiatan. Usulan anggaran belanja yang tidak
sesuai dengan SAB akan ditolak atau direvisi sesuai standar yang ditetapkan.
Rancangan APBN disusun berdasarkan hasil penilaian terhadap anggaran belanja
yang diusulkan unit kerja.
Dalam rangka menyiapkan rancangan APBN, SAB merupakan standar atau
pedoman yang bermanfaat untuk menilai kewajaran atas beban kerja dan biaya
terhadap suatu kegiatan yang direncanakan oleh setiap unit kerja.SAB dalam hal ini
digunakan untuk menilai dan menentukan rencana program, kegiatan dan anggaran
belanja yang paling efektif dan upaya pencapaian kinerja.Penilaian kewajaran
berdasarkan SAB berkaitan dengan kewajaran biaya suatu program atau kegiatan
yang dinilai berdasarkan hubungan antara rencana alokasi biaya dengan tingkat
pencapaian kinerja program atau kegiatan yang bersangkutan.Disamping atas dasar
SAB, dalam rangka menilai usulan anggaran belanja dapat juga dilakukan
berdasarkan kewajaran beban kerja yang dinilai berdasarkan kesesuaian antara
program atau kegiatan yang direncanakan oleh suatu unit kerja dengan tugas pokok
dan fungsi unit kerja yang bersangkutan.
Penerapan SAB pada dasarnya akan memberikan manfaat antara lain: (1)
mendorong setiap unit kerja untuk lebih selektif dalam merencanakan program dan
atau kegiatannya, (2) menghindari adanya belanja yang kurang efektif dalam upaya
pencapaian kinerja, (3) mengurangi tumpang tindih belanja dalam kegiatan investasi
dan non investasi.
Standar biaya merupakan komponen lain yang harus dikembangkan sebagai
dasar untuk mengukur kinerja keuangan dalam sistem anggaran kinerja, selain
Standar Analisa Biaya dan tolok ukur kinerja. Standar biaya adalah harga satuan unit
biaya yang berlaku. Penerapan standar biaya ini membantu penyusunan anggaran
belanja suatu program atau kegiatan bagi setiap K/L dan unit kerja yang ada agar
kebutuhan atas suatu kegiatan yang sama tidak berbeda biayanya. Pengembangan
standar biaya akan dilakukan dan diperbaharui secara terus menerus sesuai dengan
perubahan harga yang berlaku
Anggaran adalah alokasi-uang-terotorisasi bertujuan kinerja tertentu. Proses
alokasi memenuhi kaidah ekonomis, efektivitas, dan efisiensi anggaran akan selalu
menghasilkan output atau hasil lebih baik dari tahun ke tahun. Karena itulah, Korupsi
Kolusi dan Nepotisme serta pemborosan diperangi sepanjang proses perencanaan
dan pengeluaran anggaran. Alokasi sempurna pada saat pengeluaran anggaran
diterima 100% oleh pihak terakhir penerima dan pemanfaat anggaran, misalnya
raskin, BOS, hibah, dan bantuan sosial. Tanpa basis atau bukti empiris, kebocoran
anggaran akibat rente-ekonomi sepanjang prosedur dan aliran anggaran dirasakan
oleh sebagian orang masih amat besar.
Dalam perkembangannya, pengelolaan anggaran sektor publik telah melakukan
reformasi yang bisa disebut value for money yang menekankan tentang pengelolaan
organisasi sektor publik yang dilakukan secara ekonomis, efisien, dan efektif. Ketiga
hal tersebut merupakan elemen pokok dalam konsep value for money. Adanya ketiga
unsur pokok tersebut diharapkan di terapkan pada setiap organisasi sektor publik
yang ada di Indonesia, agar terjadi sinergi positif terhadap perkembangan
perekonomian bangsa Indonesia.
Korupsi masih terjadi secara masif dan sistematis. Praktiknya bisa berlangsung
dimanapun, di lembaga negara, lembaga privat, hingga di kehidupan sehari-hari.
Melihat kondisi seperti itu, maka pencegahan menjadi layak didudukkan sebagai
strategi perdananya. Melalui strategi pencegahan, diharapkan muncul langkah
berkesinambungan yang berkontribusi bagi perbaikan ke depan. Strategi ini
merupakan jawaban atas pendekatan yang lebih terfokus pada pendekatan represif.
Paradigma dengan pendekatan represif yang berkembang karena diyakini dapat
memberikan efek jera terhadap pelaku tindak pidana korupsi (tipikor). Sayangnya,
pendekatan represif ini masih belum mampu mengurangi perilaku dan praktik
koruptif secara sistematis-massif. Keberhasilan strategi pencegahan diukur
berdasarkan peningkatan nilai Indeks Pencegahan Korupsi, yang hitungannya
diperoleh dari dua sub indikator yaitu Control of Corruption Index dan peringkat
kemudahan berusaha (ease of doing business) yang dikeluarkan oleh World Bank.
Semakin tinggi angka indeks yang diperoleh, maka diyakini strategi pencegahan
korupsi berjalan semakin baik.
Masih banyak kasus korupsi yang belum tuntas, padahal animo dan ekspektasi
masyarakat sudah tersedot sedemikian rupa hingga menanti-nanti adanya
penyelesaian secara adil dan transparan. Penegakan hukum yang inkonsisten
terhadap hukum positif dan prosesnya tidak transparan, pada akhirnya, berpengaruh
pada tingkat kepercayaan (trust) masyarakat terhadap hukum dan aparaturnya.
Dalam tingkat kepercayaan yang lemah, masyarakat tergiring ke arah opini bahwa
hukum tidak lagi dipercayai sebagai wadah penyelesaian konflik. Masyarakat
cenderung menyelesaikan konflik dan permasalahan mereka melalui caranya sendiri
yang, celakanya, acap berseberangan dengan hukum.
Belum lagi jika ada pihak-pihak lain yang memanfaatkan inkonsistensi
penegakan hukum demi kepentingannya sendiri, keadaaan bisa makin runyam.
Absennya kepercayaan di tengah-tengah masyarakat, tak ayal, menumbuhkan rasa
tidak puas dan tidak adil terhadap lembaga hukum beserta aparaturnya. Pada suatu
tempo, manakala ada upaya-upaya perbaikan dalam rangka penegakan hukum di
Indonesia, maka hal seperti ini akan menjadi hambatan tersendiri. Untuk itu,
penyelesaian kasus-kasus korupsi yang menarik perhatian masyarakat mutlak perlu
dipercepat. Tingkat keberhasilan strategi penegakan hukum ini diukur berdasarkan
Indeks Penegakan Hukum Tipikor yang diperoleh dari persentase penyelesaian setiap
tahapan dalam proses penegakan hukum terkait kasus Tipikor, mulai dari tahap
penyelesaian pengaduan Tipikor hingga penyelesaian eksekusi putusan Tipikor.
Semakin tinggi angka Indeks Penegakan Hukum Tipikor, maka diyakini strategi
Penegakan Hukum berjalan semakin baik.
Meratifikasi UNCAC, adalah bukti konsistensi dari komitmen Pemerintah
Indonesia untuk mempercepat pemberantasan korupsi. Sebagai konsekuensinya,
klausul-klausul di dalam UNCAC harus dapat diterapkan dan mengikat sebagai
ketentuan hukum di Indonesia. Beberapa klausul ada yang merupakan hal baru,
sehingga perlu diatur/diakomodasi lebih-lanjut dalam regulasi terkait pemberantasan
korupsi selain juga merevisi ketentuan di dalam regulasi yang masih tumpang-tindih
menjadi prioritas dalam strategi ini. Tingkat keberhasilan strategi ini diukur
berdasarkan persentase kesesuaian regulasi anti korupsi Indonesia dengan klausul
UNCAC. Semakin mendekati seratus persen, maka peraturan perundang-undangan
terkait pencegahan dan pemberantasan korupsi di Indonesia semakin lengkap dan
sesuai dengan common practice yang terdapat pada negara-negara lain.
Berkenaan dengan upaya pengembalian aset hasil tipikor, baik di dalam
maupun luar negeri, perlu diwujudkan suatu mekanisme pencegahan dan
pengembalian aset secara langsung sebagaimana ketentuan UNCAC. Peraturan
perundang-undangan Indonesia belum mengatur pelaksanaan dari putusan
penyitaan (perampasan) dari negara lain, lebih-lebih terhadap perampasan aset yang
dilakukan tanpa adanya putusan pengadilan dari suatu kasus korupsi (confiscation
without a criminal conviction). Penyelamatan aset perlu didukung oleh pengelolaan
aset negara yang dilembagakan secara profesional agar kekayaan negara dari aset
hasil tipikor dapat dikembalikan kepada negara secara optimal. Keberhasilan strategi
ini diukur dari persentase pengembalian aset hasil tipikor ke kas negara berdasarkan
putusan pengadilan dan persentase tingkat keberhasilan (success rate) kerjasama
internasional terkait pelaksanaan permintaan dan penerimaan permintaan Mutual
Legal Assistance (MLA) dan Ekstradisi. Semakin tinggi pengembalian aset ke kas
negara dan keberhasilan kerjasama internasional, khususnya dibidang tipikor, maka
strategi ini diyakini berjalan dengan baik.
Praktik-praktik korupsi yang kian masif memerlukan itikad kolaboratif dari
Pemerintah beserta segenap pemangku kepentingan. Wujudnya, bisa berupa upaya
menanamkan nilai budaya integritas yang dilaksanakan secara kolektif dan
sistematis, baik melalui aktivitas pendidikan anti korupsi dan internalisasi budaya anti
korupsi di lingkungan publik maupun swasta. Dengan kesamaan cara pandang pada
setiap individu di seluruh Indonesia bahwa korupsi itu jahat, dan pada akhirnya para
individu tersebut berperilaku aktif mendorong terwujudnya tata-kepemerintahan
yang bersih dari korupsi diharapkan menumbuhkan prakarsa-prakarsa positif bagi
upaya PPK pada khususnya, serta perbaikan tata-kepemerintahan pada umumnya.
Tingkat keberhasilan strategi ini diukur berdasarkan Indeks Perilaku Antikorupsi yang
ada dikalangan tata-kepemerintahan maupun individu di seluruh Indonesia. Semakin
tinggi angka indeks ini, maka diyakini nilai budaya anti korupsi semakin
terinternalisasi dan mewujud dalam perilaku nyata setiap individu untuk memerangi
tipikor.
Strategi yang mengedepankan penguatan mekanisme di internal
Kementerian/Lembaga, swasta, dan masyarakat, tentu akan memperlancar aliran
data/informasi terkait progres pelaksanaan ketentuan UNCAC. Konsolidasi dan
publikasi Informasi di berbagai media, baik elektronik maupun cetak, termasuk
webportal PPK, akan mempermudah pengaksesan dan pemanfaatannya dalam
penyusunan kebijakan dan pengukuran kinerja PPK. Keterbukaan dalam pelaporan
kegiatan PPK akan memudahkan para pemangku kepentingan berpartisipasi aktif
mengawal segenap upaya yang dilakukan oleh pemerintah, lembaga publik maupun
sektor swasta. Keberhasilannya diukur berdasarkan indeks tingkat kepuasan
pemangku kepentingan terhadap laporan PPK. Semakin tinggi tingkat kepuasan
pemangku kepentingan, maka harapannya, semua kebutuhan informasi dan
pelaporan terkait proses penyusunan kebijakan dan penilaian progres PPK dapat
semakin terpenuhi sehingga upaya PPK dapat dikawal secara berkesinambungan dan
tepat sasaran
Value for money atau nilai untuk uang merupakan salah satu definisi dari
kualitas (Harvey & Green, 1993). Kualitas nilai uang melihat kualitas dalam hal
pengembalian investasi. Jika hasil yang sama dapat dicapai dengan biaya rendah atau
hasil yang lebih baik dapat dicapai dengan biaya yang sama, maka pelanggan
memiliki kualitas produk atau jasa. Kecenderungan yang berkembang untuk
pemerintah untuk meminta pertanggungjawaban dari pendidikan tinggi
mencerminkan pendekatan nilai untuk uang (value for money). Definisi value for
money yang lain yaitu adalah nilai uang untuk menilai biaya suatu produk atau
layanan terhadap kualitas penyediaan. Pengukuran kinerja berdasarkan indikator
alokasi biaya (ekonomi dan efisiensi) dan indikator kualitas pelayanan. Dengan
demikian teknik ini sering disebut dengan pengukuran 3E yaitu ekonomi, efisiensi,
dan efektivitas.
a. Ekonomi berkaitan dengan hubungan antara pasar dan masukan (cost of
input). Pengertian ekonomi (hemat/tepat guna) sering disebut kehematan yang
mencakup juga pengelolaan secara hati-hati atau cermat (prudency) dan tidak ada
pemborosan. Suatu kegiatan operasional dikatakan ekonomis jika dapat
menghilangkan atau mengurangi biaya yang tidak perlu.
b. Efisiensi (daya guna) mempunyai pengertian yang berhubungan erat
dengan konsep produktivitas. Pengukuran efisiensi dilakukan dengan menggunakan
perbandingan antara output yang dihasilkan terhadap input yang digunakan (cost of
output). Proses kegiatan operasional dapat dikatakan efisien apabila suatu produk
atau hasil kerja tertentu dapat dicapai dengan penggunaan sumber daya dan dana
yang serendah-rendahnya (spending well). Jadi, pada dasarnya ada pengertian yang
serupa antara efisiensi dengan ekonomi karena kedua-duanya menghendaki
penghapusan atau penurunan biaya (cost reduction).
c. Efektivitas (hasil guna) merupakan hubungan antara keluaran dengan
tujuan atau sasaran yang harus dicapai. Pengertian efektivitas ini pada dasarnya
berhubungan dengan pencapaian tujuan atau target kebijakan. Kegiatan operasional
dikatakan efektif apabila proses kegiatan tersebut mencapai tujuan dan sasaran akhir
kebijakan (spending wisely).

Penganggaran berbasis kinerja merupakan sebuah pendekatan dalam sistem
penganggaran yang memperhatikan keterkaitan antara pendanaan dengan keluaran
dan hasil yang diharapkan, termasuk efisiensi dalam pencapaian hasil dan keluaran
tersebut. Ciri utama penganggaran berbasis kinerja adalah anggaran yang disusun
dengan memperhatikan keterkaitan antara pendanaan (input), keluaran (output),
dan hasil yang diharapkan (outcomes) sehingga dapat memberikan informasi tentang
efektivitas dan efisiensi pelaksanaan setiap kegiatan. Penerapan penganggaran
berbasis kinerja diharapkan diharapkan dapat memberikan informasi kinerja atas
pelaksanaan suatu program/kegiatan pada suatu Kementerian/Lembaga serta
dampak atau hasilnya yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat luas
Indikator efisiensi dan efektivitas harus digunakan secara bersama-sama.
Karena di satu pihak, mungkin pelaksanaannya sudah dilakukan secara eknomis dan
efisien akan tetapi output yang dihasilkan tidak sesuai dengan target yang
diharapkan. Sedang di pihak lain, sebuah program dapat dikatakan efektif dalam
mencapai tujuan, tetapi mungkin dicapai dengan cara yang tidak ekonomis dan
efisien. Jika program dapat dilakukan dengan efisien dan efektif maka program
tersebut dapat dikatakan cost-effectivenes. Ketiga hal tersebut merupakan elemen
pokok value for money, namun beberapa sumber berpendapat bahwa ke tiga elemen
saja belum cukup .Perlu ditambah dua elemen lain yaitu :
Equity : kesempatan sosial yang sama untuk memperoleh pelayanan
publik
Equality : pemerataan/kesetaraan penggunaan dana publik dilakukan
secara merata.

Konsep Value For Money memiliki beberapa manfaat antara lain:
1. Meningkatan efektivitas pelayanan publik, dalam arti pelayanan yang
diberikan tepat sasaran
2. Meningkatkan mutu pelayanan publik
3. Menurunkan biaya pelayanan publik karena hilangnya inefisiensi dan
terjadinya penghematan dalam penggunan input
4. Alokasi belanja yang lebih berorientasi pada kepentingan publik
5. Meningkatkan kesadaran akan uang publik (public costs awareness)
sebagai akar pelaksanaan akuntanbilitas publik.
Proses alokasi anggaran penuh kebocoran merupakan tema sentral Good
Corporate Governance (GCG) birokrasi, sistem pengendalian berupaya memberi
solusi. Inilah inti masalah pengendalian birokrasi. Aspek terpenting sistem
pengendalian manajemen adalah sistem informasi manajemen, khususnya sistem
pelaporan fakta/kebenaran-tepat waktu akan alokasi, penerima alokasi, penggunaan
alokasi, hasil/output/outcome/impact alokasi anggaran. Rancang bangun sistem
pengendalian manajemen mencegah rekayasa laporan, penundaan pelaporan, untuk
menutupi rekayasa lapangan (misalnya BOS, raskin, subsidi diterima oleh pihak yang
berkecukupan ekonomi).
Sebagai wujud pelaksanaan amanat Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003,
serta mengacu pada Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional, telah ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor
21 Tahun 2004 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian
Negara/Lembaga (yang selanjutnya disebut RKA-KL). Dalam pasal 4 peraturan
tersebut secara tegas disebutkan bahwa RKA-KL disusun dengan menggunakan tiga
pendekatan yang disebutkan di atas. Dalam perkembangannya, peraturan ini telah
disempurnakan dengan terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 90 Tahun 2010
tentang Penyusunan RKA-KL yang merevisi beberapa ketentuan dalam peraturan
sebelumnya.
Ketiga pendekatan baru dalam sistem perencanaan dan penganggaran
merupakan suatu kesatuan yang integral dengan fokus utama pada penganggaran
berbasis kinerja. Dua pendekatan lainnya merupakan prasyarat dan pendukung
pelaksanaan penganggaran berbasis kinerja. Penerapan penganggaran terpadu
dimaksudkan untuk memudahkan pelaksanaan penganggaran berbasis kinerja
dengan memberikan gambaran yang lebih objektif dan proporsional mengenai
kegiatan pemerintah. Sedangkan kerangka pengeluaran jangka menengah digunakan
untuk mencapai disiplin fiskal secara berkesinambungan serta menjadi jaminan
kontinyuitas penyediaan anggaran kegiatan karena telah dirancang hingga 3 atau 5
tahun ke depan.
Penganggaran berbasis kinerja merupakan sebuah pendekatan dalam sistem
penganggaran yang memperhatikan keterkaitan antara pendanaan dengan keluaran
dan hasil yang diharapkan, termasuk efisiensi dalam pencapaian hasil dan keluaran
tersebut. Ciri utama penganggaran berbasis kinerja adalah anggaran yang disusun
dengan memperhatikan keterkaitan antara pendanaan (input), keluaran (output),
dan hasil yang diharapkan (outcomes) sehingga dapat memberikan informasi tentang
efektivitas dan efisiensi pelaksanaan setiap kegiatan. Penerapan penganggaran
berbasis kinerja diharapkan diharapkan dapat memberikan informasi kinerja atas
pelaksanaan suatu program/kegiatan pada suatu Kementerian/Lembaga serta
dampak atau hasilnya yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat luas.
Dalam konsep pendekatan PBK, dituntut adanya keterkaitan yang erat antara
anggaran dengan kinerja yang diharapkan. Oleh karena itu setiap unit organisasi
pemerintah harus dapat menetapkan rumusan kinerja yang ingin dicapainya. Kinerja
yang telah direncanakan tersebut harus bersifat terukur pencapaiannya. Untuk itu
setiap unit juga harus menetapkan indikator kinerja tertentu untuk mengukur
pencapaian kinerjanya. Yang jauh lebih penting, indikator kinerja merupakan alat
ukur untuk menilai keberhasilan suatu program atau kegiatan yang dilaksanakan oleh
setiap unit organisasi. Jadi informasi kinerja ini mempunyai kedudukan yang sangat
penting dalam proses perencanaan dan penganggaran. Rumusan indikator kinerja
beserta targetnya selanjutnya juga harus dinyatakan di dalam dokumen perencanaan
termasuk Renja-KL dan RKA-KL.
Nah, apabila penganggaran sudah berjalan baik, sudah terencana dengan baik,
dan diawasi dengan baik pula, maka bukan tidak berarti korupsi bisa langsung
menghilang, tetapi semua itu kembali ke dasarnya, ke manusianya itu sendiri.

KESIMPULAN

Dari rangkaian penjelasan diatas, upaya pemberantasan korupsi di Indonesia
bukannya tidak ada, malah semakin menggebu gebu digalakkan oleh pemerintah
Indonesia,berbagai upaya dilakukan, berbagai tindakan dilaksanakan, bahkan
tindakan yang semi ilegal pun dijalankan, seperti penyadapan, dan penguntitan, hal
ini dilakukan demi pemberantasan korupsi di Indonesia, semua itu ada dasar
hukumnya, ada badan hukum sendiri, tetapi semakin hari, cerit certia tentang
koruptor ini kenapa masih berlanjut? Kenapa masih belum berhenti? Apakah mereka
tidak melihat kawan kawan mereka yang di adili? Ataukah sistem peradilannya
belum memberikan efek jera? Apakah memang pada dasarnya mereka sudah bobrok
dari lubuk hal terdalam?
Sebagus apapun sistem yang di buat, meskipun sudah tersturktur, terarah, dan
berjalan, tapi apabila dasarnya memang sudah bermental korup, serasa semua hal
yang sudah pernah dilakukan menjadi sia-sia semata, apabila dasarnya, metal para
pejabat, mental semua masyarakat Indonesia belum bersih dari sifat korup ini
Maka untuk menuju Indonesia yang lebih baik, kita harus merubah dasarnya
dulu, fondasinya terlebih dahulu, mental masyarakat harus dibentuk, harus ditempa,
sehingga apabila dasarnya kokoh, tentu akan memperkuat kondisi bangsa
Cara ekstrim untuk melakukan ini adalah dengan melakukan back to ground
zero, tetapi hal ini tidak bisa dilakukan oleh manusia, karena ini adalah ranah
ketuhanan, hanya tuhan yang mampu mengontrol perkembangan suatu kehidupan,
kita hanya bisa melakukan dalam skala yang jauh lebih kecil
Kita harus membentuk pribadi masyarakat yang anti korupsi, kita harus
membentuk budaya ini semenjak awal, dari kecil harus diarahkan, tidak dalam
pengertian harus memaksakan pendidikan anti korupsi di tingkat TK, tetapi kita harus
mencontoh dari hal-hal remeh yang sepele, yang kelihatannya tidak berkaitan
dengan korupsi, tapi ini merupakan langkah awal
Seperti budaya membuang sampah pada tempatnya, budaya antri, hal hal
remeh seperti ini, kelihatannya tidak ada hubungannya dengan korupsi, tapi
percayalah, apabila hal mendasar ini sudah melekat kuat, akan sedikit mengurangi
keinginan untuk korupsi, hal kecil ini lah kita sudah sedikit melakukan korupsi kecil,
dari korupsi waktu, dan korupsi kepentingan, dengan budaya antri saja, sudah
terlihat mental mana yang teruji anti korupsi atau tidak
Pelaksanaan pembentukan dasar mental dan takwa masyarakat, yang paling
pertama harus diperhatikan adalah menghargai dan memotivasi para pengajar
bangsa, para guru lah ujung tombak sebenarnya dalam upaya pemberantasan
korupsi, kita harus terus memperhatikan nasib para guru, bagaimana mental kita bisa
dibentuk apabila mental pengajarnya pun belum kokoh? Motivasi para guru harus
diperhatikan, kesejahteraan harus diperhatikan, buatlah para guru ini bangga
menjadi guru, biarkanlah mereka memikirkan cara untuk membentuk karakter para
penerus bangsa, jangan biarkan para guru tidak fokus mendidik, tetapi masih fokus
untuk makan, dan pemenuhan kebutuhan mereka
Lihatlah contoh dari finlandia, yang merupakan negara dengan tingkat korupsi
paling rendah, posisi guru sangat dihormati dan dihargai, sehingga mereka bisa fokus
membentuk karakter penerus bangsa
Jika bicara tentang pemberantasan korupsi, tentu kita tidak bisa melihat dan
bergerak sporadis saja, tidak harus memperhatikan penegakkan hukum dan
pembentukan sistem anti korupsi yang terbaik, semua hal ini akan percma apabila
tidak dibarengi mental karakter penggerak bangsa, kita harus memberantas secara
menyeluruh, harus membentuk karakter kuat dari akarnya. Pola pendidikan lah yang
harus dibenahi terlebih dahulu, para pendidiklah yang mesti kita benahi, motivasi
mereka agar bisa memotivasi generasi penerus bangsa. Agar para guru menjadi
tokoh yang di gugu dan ditiru, jangan sampai para guru tidak fokus mengajar, karena
masih harus putar otak untuk menghidupi keluarga, untuk memenuhi kebutuhan
dasar mereka, jangan sampai para guru ini malah korupsi, dan malah tidak
memberikan contoh kepada para penerus bangsa ini
Tentu ini perlu dilakukan secara seksama, dan tidak bisa terjadi dalam tempo
yang sesingkat singkatnya, ini membutuhkan proses yang lama, tetapi apabila belum
dimulai, kapan kita akan terbebas dari korupsi, sebuah langkah besar, dimulai dari
langkah kecil. Marilah kita mulai dari diri kita sendiri, demi Indonesia yang lebih baik
MAJU INDONESIAKU!