Anda di halaman 1dari 5

Tangguh 0706291426 Dept.

Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 1


Dinamika Kawasan Timur Tengah dan Afrika

Makalah Akhir Individu Dinamika Kawasan Timur Tengah dan Afrika:

Pengaruh Perdagangan dan Investasi China


terhadap Konflik Darfur
Tangguh
0706291426

Afrika telah menjadi salah satu elemen kebijakan luar negeri China, yang melakukan
pendekatan business-first terhadap Afrika, dan telah menguntungkan perekonomian negara-negara
Afrika melalui investasinya. Sekarang, kehadiran perusahaan-perusahaan China di Afrika tak dapat
diragukan di banyak sektor perekonomian. Permintaan China akan sumber-sumber daya alam yang
semakin meningkat telah menguntungkan pertumbuhan ekonomi Afrika. 1 Menurut African
Development Bank (AfDB), pada 2006 investasi China di Afrika mencapai US$11,7 milyar dan
perdagangan bilateral mencapai $55,5 milyar (meningkat 40% dari 2005). Pada Oktober 2007, volume
perdagangan meningkat 30%. Sepertiga ekspor minyak mentah China datang dari Afrika. Afrika
menyambut baik kebijakan China ini, karena memberi peluang dan potensi pembangunan pasar
Afrika, serta karena negara-negara Barat dan institusi-institusi finansial mereka belum pernah
berinvestasi atau membiayai proyek-proyek infrastruktur dan pembangunan besar lainnya. 2 Sekarang,
keuntungan bagi Afrika jelas sekali dan prospek kemajuan lebih jauh sangat cerah. Ekspor dari China
ke Afrika meningkat 43% menjadi $26,7 milyar, sementara impor meningkat 37% menjadi $28,8 milyar
pada akhir 2006. Sebagai indikator potensi ekonomi, negara-negara Afrika secara bertahap
menyediakan sumber-sumber komplementer pendanaan bagi pemerintah dan sektor privat untuk
membantu memajukan kemakmuran, daya saing, dan pembangunan secara keseluruhan.
Namun, pembangunan proaktif Afrika dalam hubungannya dengan perdagangan dan investasi
China mungkin akan terganggu dengan adanya berbagai tekanan diplomatik dan masalah-masalah
imej publik di negara-negara Barat. Salah satu kasus yang memberatkan China adalah hubungan
China dengan Sudan dan pendirian China pada krisis Darfur, di mana perusahaan negara PetroChina
adalah pemegang saham nomor dua di konsorsium minyak Sudan Petrodar. China memiliki pengaruh
besar di Sudan dengan perannya sebagai parner ekonomi utama, pemasok senjata utama, dan
pendukung diplomatik utama Sudan, 3 dan China telah menerima banyak sekali kritik dari dunia
internasional atas hubungannya dengan Sudan terkait krisis yang masih berlangsung di Darfur. Hal

1 Asia Times Online, China News, “China outwits the EU in Africa”, 13 Desember 2007
2 Prof. Lawal Mohammed Marafa, “Africa’s Business and Development Relationship with China: Seeking Moral and
Capital Values of the Last Economic Frontier”, paper yang diajukan pada 2007 African Economic Conference; 15-17
November 2007, UN Conference Centre, Addis Ababa, Ethiopia
3 <Lee Feinstein, “China and Sudan”, TPM Café, 24 April 2007,

http://www.tpmcafe.com/blog/americaabroad/2007/apr/24/china_and_sudan>

1
Tangguh 0706291426 Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 2
Dinamika Kawasan Timur Tengah dan Afrika

ini membawa penulis kepada satu pertanyaan, “Bagaimanakah pengaruh hubungan perdagangan dan
investasi China di Sudandengan konflik Darfur, dan kondisi-kondisi apakah yang menyebabkan hal
tersebut terus berlangsung?”

Keterlibatan dan Kerjasama Ekonomi Politik China di Sudan


China adalah partner perdagangan terbesar Sudan. 4 China mengimpor minyak dari Sudan, dan
Sudan mengimpor barang-barang berbiaya rendah serta persenjataan dari China. China dan Sudan
memiliki hubungan yang sangat kuat dan produktif dalam bidang diplomasi, perdagangan ekonomi,
dan strategisme politik.
Diplomasi. Laporan Save Darfur, “Briefing Paper: China in Sudan- Having It Both Ways”
menemukan bahwa dalam urusan diplomasi, China telah membantu mendorong Sudan, namun China
tetap memiliki agenda lain. China membantu memfasilitasi jalannya Resolusi 1769 5 serta membantu
Sudan menyetujui langkah-langkah potensial lainnya menuju perdamaian; namun berbagai laporan
mengindikasikan bahwa China bekerja di balik layar untuk melemahkan secara signifikan ketentuan-
ketentuan Resolusi 1769, serta bahwa China telah meniru argumen Sudan yang bertujuan
membersihkan situasi di Darfur. 6
Perdagangan ekonomi. Ekspor minyak Sudan kepada China memberikan Sudan 40% dari
pendapatan minyaknya, dengan China National Petroleum Corporation (CNPC) menjadi salah satu
perusahaan asing yang mendominasi industri minyak Sudan dengan 40% saham dalam konsorsium
produksi minyak di Sudan The Greater Nile Petroleum Operating Company (GNPOC), 41% saham The
Petrodar Operating Company Ltd. (PDOC), serta China Chemical and Petroleum Corporation (Sinopec Corp.)
memiliki 6% saham PDOC.7
Impor senjata Sudan dari China bukanlah hal baru. Pemerintahan Nimeiri (1969-85) membeli
senjata dari China, namun pembelian meningkat pada 1990-an terkait perang internal Sudan serta janji
perbaikan keuangan dan peningkatan kredit internasional yang berasal dari potensi minyaknya.
Pengiriman senjata dari China ke Sudan sejak 1995 mencakup amunisi, tank, helikopter, dan pesawat
tempur. China juga menjadi pemasok utama ranjau antipersonil dan antitank setelah 1980, menurut
pejabat pemerintah Sudan. Sudan People's Liberation Army (SPLA) pada 1997 menyerbu kota-kota
garnisun pemerintah di selatan, dan hanya di satu kota saja, seorang peneliti Human Rights Watch
bernama Yei menyaksikan delapan howitzer 122 mm China, lima tank T-59 buatan China, dan satu

4 20% komoditi impor Sudan berasal dari China, lihat CIA, The World Factbook—Sudan
https://www.cia.gov/library/publications/the-world-factbook/geos/su.html
5 Resolusi 1769 Dewan Keamanan PBB adalah resolusi yang dimaksudkan untuk meresolusi konflik Darfur.

Resolusi 1769 dikeluarkan pada 31 Juli 2007 dan disetujui kelima belas anggota DK. Resolusi tersebut
memerintahkan pembentukan 26.000 tentara joint peacekeeping PBB/African Union, menggantikan 7.000 tentara
Misi AU di Sudan. Setelah menolak versi draft pertama yang memasukkan ancaman sanksi, Sudan setuju
menerima resolusi kedua yang tidak memasukkan ancaman sanksi.
6 Save Darfur, “Briefing Paper: China in Sudan- Having It Both Ways” October 18, 2007, diakses dari

http://darfur.3cdn.net/2573d6e338d592b4a0_csm6beuk7.pdf
7 “The "Big 4" – How oil revenues are connected to Khartoum”, Amnesty International USA

http://www.amnestyusa.org/business-and-human-rights/oil-in-sudan/the-big-4/page.do?id=1081006

2
Tangguh 0706291426 Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 3
Dinamika Kawasan Timur Tengah dan Afrika

senjata antipesawat 37 mm China yang ditinggalkan tentara pemerintah. Human Rights Watch
menyimpulkan bahwa China memudahkan pembiayaan pembelian beberapa senjata tersebut. 8

Pada Maret 2008, laporan Human Rights First—Stop Arms to Sudan berjudul “Investing in Tragedy:
China’s Money, Arms and Politics in Sudan” menunjukkan bahwa dari 2003 hingga 2006, China menjual
senjata-senjata ringan senilai kira-kira $55 juta ke Khartoum. Sejak 2004, tahun ketika Dewan
Keamanan PBB menjatuhkan embargo transfer senjata ke Darfur, China telah menjadi pemasok nyaris-
eksklusif senjata-senjata ringan ke Khartoum, memasok kira-kira 90% pembelian senjata ringan Sudan
tiap tahun.9 Human Rights First—Stop Arms to Sudan juga memublikasikan factsheet berjudul “China’s
arms sales to Sudan” yang mendeskripsikan penjualan senjata China ke Sudan, di mana belanja militer
Sudan naik secara dramatis sejak 1997, tahun pertama ekspor minyaknya. Kebanyakan anggaran
belanja ini diperoleh dari keuntungan ekspor minyak ke China. Dan kebanyakan uang tersebut
kembali ke China dalam bentuk pembelian senjata ringan dan perlengkapan militer lainnya oleh
Sudan.10
Investasi China lainnya di Sudan merupakan spillover dari investasi di sektor minyak, dan juga
memiliki berbagai dampak terhadap krisis Darfur. Walaupun menikmati kekayaan dari minyak,
perekonomian Khartoum terpuruk dalam hutang. Penerimaan minyak tak cukup untuk menopang
perekonomian, dengan belanja persenjataan dan yang besar dan penggunaan sumber-sumber daya
nasional kepada perang kontrapemberontak di Darfur dan kehadiran militer secara massif di Sudan

8 “Sudan, Oil, and Human Rights: CHINA’S INVOLVEMENT IN SUDAN: ARMS AND OIL”, Human Rights Watch
http://www.hrw.org/reports/2003/sudan1103/26.htm#_ftn1388
9 “Investing in Tragedy: China's Money, Arms and Politics in Sudan”, Human Rights First—Stop Arms to Sudan
10 “China’s arms sales to Sudan”, Human Rights First—Stop Arms to Sudan

3
Tangguh 0706291426 Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 4
Dinamika Kawasan Timur Tengah dan Afrika

selatan. Kampanye Amerika berhasil memaksa berbagai perusahaan Eropa untuk menghentikan
seluruh aktivitas ekonominya di Sudan sebelum genosida di Darfur berakhir. Namun, perusahaan-
perusahaan China melanjutkan bisnis dengan Khartoum. Investasi China di Sudan kebanyakan di
sektor minyak, namun hubungan perekonomian tersebut terkait dengan berbagai infrastruktur
lainnya, seperti pembangunan pipa minyak dari Sudan selatan hingga Pelabuhan Sudan dan
konstruksi jalan di wilayah-wilayah minyak (khususnya Nil Atas). Pembangunan jalan tersebut
memiliki dampak lingkungan yang merusak serta telah menyebabkan puluhan ribu warga sipil
terlantar. Konstruksi-konstruksi China pun seringkali digunakan pesawat-pesawat militer China, yang
telah menyebabkan kematian warga sipil. 11
Strategisme politik. Isu konflik Darfur telah menjadi tema utama kritik internasional terhadap
China atas dukungannya terhadap pemerintah Sudan. China pernah mengancam akan memveto
tindakan-tindakan Dewan Keamanan PBB untuk menangani krisis Darfur, yaitu pada sesi khusus
Dewan Keamanan pada November 2004 di Nairobi terhadap Resolusi 1574. 12 China menggunakan
pendekatan kebijakan luar negeri yang biasanya, yaitu “nonintervensi” dalam urusan-urusan
domestik Sudan. Kritik-kritik kepada China ditangkis dengan berargumen bahwa, “Isu Darfur
bukanlah urusan internal China, juga tidak disebabkan oleh China. Sehingga, menghubungkan kedua
hal tersebut adalah hal yang tak beralasan, tak bertanggung jawab, dan tak adil.” 13 Pada Juli 2008, BBC
melaporkan bahwa China melatih pilot pesawar tempur Sudan dan menjual truk militer kepada
Sudan, melanggar embargo senjata PBB terhadap Darfur pada 2006.14
Penyebaran kekerasan konflik Darfur terjadi di sekitar perbatasan dengan Chad timur dan
Republik Afrika Tengah. Di Chad, kelompok milisi Sudan Janjaweed dituduh bersalah atas berbagai
serangan dan serbuan. Ratusan pekerja bantuan di Chad telah dievakuasi karena meningkatnya
ketegangan antara kelompok-kelompok pemberontak dan angkatan militer. Sementara itu, janjaweed
telah masuk dalam hingga jantung Chad dan melakukan berbagai penyerangan, menyebabkan
eksodus hampir 100.000 warga Chad. 15

Analisis: Kondisi-kondisi Good Governance: Defisit


Governance secara umum mengharuskan aktor yang memiliki otoritas politik, ekonomi, dan
administratif mengelola urusan-urusan warga negara secara akuntabel dan bertanggung jawab
terhadap warga yang dipimpin melalui instrumen-instrumen legal dan administratif yang
terinstitusionalisasi dan kerangka-kerangka kerja pengaturan. Secara luas, governance merujuk kepada

11 Eric Reeves, “China, Darfur, and the Olympics: Tarnishing the Torch?” Penasihat Sudan, Dream for Darfur, h.6-7
12 “Darfur: Whose Responsibility to Protect: The United Nations and Darfur”, Human Rights Watch
http://www.hrw.org/legacy/wr2k5/darfur/3.htm
13 “China: Darfur-Olympic link 'unfair'”, Al Jazeera English – Asia-Pacific http://english.aljazeera.net/news/asia-

pacific/2008/02/2008525142145292698.html
14 Hilary Andersson, “China 'is fuelling war in Darfur'”, BBC News, Darfur

http://news.bbc.co.uk/2/hi/africa/7503428.stm
15 “Darfur Crisis crosses Border”, The Christian Science Monitor, 11 Desember 2006,

http://www.csmonitor.com/2006/1211/p01s02-woaf.html

4
Tangguh 0706291426 Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 5
Dinamika Kawasan Timur Tengah dan Afrika

cara-cara menjalankan kekuasaan dalam mengelola institusi-institusi sosial, legal, politik, dan ekonomi
yang mengatur urusan-urusan warga negara. Hal ini termasuk rule of law, respek terhadap hak asasi
manusia, pengadilan yang independen dan efektif, pemeliharaan perdamaian dan tata tertib sipil,
jaminan terhadap suaru warga, kebebasan informasi, respek terhadap hak-hak sipil, kultural, politik,
dan ekonomi, serta standar-standar finansial, proses audit, dan akunting yang menjamin transparansi
dan akuntanilitas. Good governance berarti suatu “governance demokratik”, menunjukkan bahwa
penggunaan power yang sah harus berasal dari pemilihan umum periodik, reguler, bebas, dan adil
melalui proses partisipasi inklusif.16
Namun, sebagaimana di negara-negara Afrika lainnya, di Sudan terdapat tiga defisit utama
governance demokratik: 1) Sifat institusi-institusi politik diwarnai mobilisasi etnis atau rasial yang
dalam sejarah telah seringkali membawa kepada genosida. 2) Keadaan hubungan patron-klien yang
berkembang hingga sistem termiliterisasi jaringan rumit warlord. 3) Ketiadaan institusi internal dan
demokrasi partai yang mengembangkan eksklusi minoritas. Defisit governance ini menjadikan rezim
militer Sudan melakukan berbagai etnosida dan genosida di krisis Darfur. 17
Defisit governance ini jugalah yang melenggangkan hubungan China dengan Sudan. Dari sisi
China, kebijakan yang business-first dan tak memperhatikan sisi politik domestik negara target
perdagangan dan investasi menjadikan China sangat memiliki kepentingan di Sudan. Dari sisi Sudan,
berbagai faktor defisit governance seperti mobilisasi etnis dan rasial dalam institusi-institusi politik,
hubungan patron-klien, dan mengembangkan eksklusi minoritas menyebabkan rezim militer Sudan
dapat terus mengembangkan hubungan ekonomi dengan China tanpa transparansi dan akuntabilitas.
Padahal, manfaat-manfaat ekonomi tersebut digunakan untuk melangsungkan genosida dan etnosida
terhadap warga sendiri.

Kesimpulan
Hubungan perdagangan dan investasi China dengan Sudan telah mempengaruhi krisis Darfur,
di mana profit penerimaan minyak Sudan digunakan untuk membeli persenjataan dari China, serta
berbagai bentuk pengaruh lainnya yang terutama melangsungkan krisis Darfur. Defisit governance
adalah hal yang melenggangkan hubungan China dengan Sudan, di mana rezim militer Sudan dapat
terus mengembangkan hubungan ekonomi dengan China tanpa transparansi dan akuntabilitas.
Padahal, manfaat-manfaat ekonomi tersebut digunakan untuk melangsungkan genosida dan etnosida
terhadap warga sendiri.

16 M.A. Mohamed Salih, “Africa’s Governance Deficit, Genocide, and Ethnocide”, 15 November 2005, dalam
Explaining Darfur: Lectures on the Ongoing Genocide by Agnes van Ardenne / Mohamed Salih / Nick Grono / Juan
Méndez (Vossiuspers UvA), h.27-32
17 Ibid., h.32-34