Anda di halaman 1dari 7

Tangguh 0706291426 Dept.

Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 1


SHI 40029 Evolusi Pemikiran Keamanan Internasional

Analisis Pemikiran Keamanan:


International Security Studies: Back to Realism?1
Tangguh
0706291426

Dalam The Evolution of International Security Studies, Barry Buzan dan Lene
Hansen mengungkapkan bahwa kajian keamanan internasional (international security
studies/ISS) telah berubah dan berdiversifikasi dalam banyak cara sejak 1945. Buzan dan
Hansen mengungkapkan sejarah intelektual perkembangan subjek ISS pada periode
tersebut. Buzan dan Hansen menjelaskan bagaimana ISS berkembang dari suatu
perhatian awal pada konsekuensi strategis persaingan negara adidaya dan persenjataan
nuklir, hingga keanekaragamannya sekarang di mana keamanan lingkungan, ekonomi,
manusia, dan lainnya ditempatkan berdampingan dengan keamanan militer, dan di
mana pendekatan-pendekatan yang bermain tak hanya lagi analisis Realis tradisional
namun juga Feminisme dan Postkolonialisme. Buzan dan Hansen mengungkapkan
berbagai driving force yang membentuk perdebatan dalam ISS, menunjukkan apa yang
membuat ISS menjadi satu subjek tunggal untuk semua keanekaragamannya, dan
memberikan catatan otoritatif atas berbagai perdebatan dalam seluruh topik utama
dalam ISS.

Buzan dan Hansen mendefinisikan ISS melalui empat pertanyaan (referent object,
lokasi ancaman, sektor keamanan, dan pandangan politik keamanan) dan tiga bentuk
konsep yang berdekatan dengannya (komplementer, paralel, dan oposisional) [10-16].
Buzan dan Hansen mengungkapkan bahwa subjek ISS telah berubah-ubah dari
konsentrasi awalnya atas isu-isu militer dan keamanan nasional hingga jangkauan
referent object yang luas, dengan masih kuatnya negara, namun banyak ruang bagi
manusia individu (keamanan manusia), entitas non-manusia (keamanan lingkungan),
dan struktur sosial (perekonomian dunia, berbagai jenis identitas kolektif); hingga
menekan struktur konseptual ISS, dari tradisi perang dan pertahanan nasional hingga
„perdamaian‟. Pendekatan-pendekatan pokok dalam perluasan dan pendalaman bidang
ISS dipetakan dalam gambar 1.
Pada bab 1 dan 2, Buzan dan Hansen menguraikan bahwa ISS pasca-1945,
dengan beberapa simplifikasi, dapat dianggap sebagai salah satu subbidang Hubungan
Internasional (HI). Hal ini bermasalah karena walaupun ISS memiliki akar profesional
dalam disiplin HI, dunia sekarang penuh dengan tantangan-tantangan yang
membutuhkan topik-topik dan sumber pengetahuan yang secara tradisional dianggap

1Esai review atas Barry Buzan dan Lene Hansen: The Evolution of International Security Studies. (Cambridge:
Cambridge University Press. 2009. xvi, 384 hal.)
Tangguh 0706291426 Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 2
SHI 40029 Evolusi Pemikiran Keamanan Internasional

Gambar 1 Evolusi ISS [222]

berada di luar batas HI, sehingga Paul D. Williams (2008) menganggap bahwa
pemikiran tentang kajian keamanan sebagai subbidang HI.2
Buzan dan Hansen kemudian mengumpulkan kerangka driving force evolusi ISS
atas dasar campuran pragmatis gagasan-gagasan umum dari sosiologi pengetahuan
dengan pengertian empiris atas faktor-faktor yang terutama berpengaruh dalam bidang
spesifik ISS, yaitu 1) politik negara besar, 2) teknologi, 3) peristiwa, 4) dinamika internal
perdebatan akademik, dan 5) institusionalisasi; dan mengilustrasikannya sebagaimana
gambar 2. Dalam hal ini, penulis menerima konsepsi Buzan dan Hansen tentang driving

2Paul D. Williams (ed.), Security Studies: An Introduction (Oxon: Routledge, 2008), hal. 4-5. Hal ini
disebabkan 1) hubungan antarnegara hanya salah satu aspek dinamika keamanan yang membentuk
karakter politik dunia kontemporer, serta 2) HI didominasi oleh para pemikir Anglo-Amerika.
Tangguh 0706291426 Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 3
SHI 40029 Evolusi Pemikiran Keamanan Internasional

Gambar 3 Lima driving forces ISS sebagai kategori


analisis umum

Gambar 3 Pendekatan sosiologi ilmu [42]

force evolusi ISS, namun beranggapan bahwa terdapat kekurangan dalam framework
driving force yang dibangun Buzan dan Hansen. Perlu dicantumkan beberapa force lain
yang, menurut penulis, juga memiliki kualitas penjelasan eksplanatoris.
Pertama, idea (gagasan). Yang dimaksud penulis bukanlah idea sebagaimana
dalam ontologi konstruktivis, melainkan bagaimana idea yang berkembang dalam dunia
internasional dapat berperan sebagai driving force perubahan ISS. Ketika Gwyn Prins
(1998) menyebutkan tentang values sebagai agen globalisasi,3 hal ini relevan dengan
peran sebagai driving force ISS. Ketika values seperti hak asasi manusia dan hak properti
dapat memperbesar jangkauan tanggung jawab dalam berbagai institusi; membangun
familiaritas; dan menyokong komunitas pada seluruh level, lokal dan global, hal ini
juga menjadi pendorong berbagai driving force ISS. Idea demokrasi adalah hal yang
menyebabkan . Idea hak asasi manusia adalah pendorong terjadinya peristiwa intervensi
humaniter, yang menjadi driving force ISS pasca-Perang Dingin. Kekhawatiran akan
kehancuran bersama sebagai efek perang adalah idea yang mendorong masyarakat
internasional menyepakati berbagai perjanjian pengendalian persenjataan, dan
ketakutan akan suatu perang nuklir adalah idea yang mendorong munculnya berbagai
perjanjian pengendalian persenjataan nuklir. Keyakinan terhadap ilmu pengetahuan
(science as salvation) dan berbagai fundamentalisme lainnya menjadi faktor pengikat
utama dalam ideologi yang mengikat dunia, dan science as salvation adalah hal yang
mendorong imperatif teknologi. Berbagai fundamentalisme tersebut juga
mempromosikan eksklusivitas, ketidaktoleranan, stereotyping, khususnya ketika

3Gwyn Prins, “The Four-Stroke Cycle in Security Studies”, International Affairs (Royal Institute of International
Affairs 1944-), Vol. 74, No. 4 (Okt., 1998), h. 781-808
Tangguh 0706291426 Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 4
SHI 40029 Evolusi Pemikiran Keamanan Internasional

berangkaian dengan teknologi-teknologi baru. Berbagai efek fragmentatif ini adalah


berbagai concern dalam pendekatan widening and deepening.
Kedua, hubungan antarnegara. Buzan dan Hansen membatasi driving force
mereka hanya dalam ruang lingkup politik negara besar. Penulis berargumen bahwa
hal ini terlalu meremehkan faktor negara-negara lain, yang dapat diilustrasikan dengan
pemikiran atas implikasi teori perdamaian demokratik. Buzan dan Hansen sendiri
mengungkapkan bahwa apabila seluruh negara besar adalah negara-negara demokrasi
liberal, dan apabila teori ini terbukti benar dalam prediksi intinya bahwa negara-negara
demokrasi tak saling berperang, variabel negara-negara besar dalam kerangka driving
force ISS akan berubah [266]. Demikian pula, penulis berargumen, apabila teori ini
terbukti salah dan negara-negara demokrasi saling berperang, di mana negara-negara
demokrasi yang berperang tersebut bukan negara yang dapat dianggap sebagai negara
besar dalam politik internasional, bukan hanya teori perdamaian demokratik yang
terdisvalidasi, melainkan juga gagasan bahwa politik negara-negara besar adalah
driving force perubahan ISS. Penulis mencatat dua kasus yang baru-baru ini dapat
mendiskonfirmasi kebenaran democratic peace theory (hal ini masih membutuhkan
penelitian spesifik), yaitu krisis Georgia di Ossetia Selatan 20084 dan krisis Gaza 20085.
Ketiga, faktor-faktor sosial. Menurut penulis, force ini sangat terkait dengan force
perdebatan akademik dan institusionalisasi. Stuart Croft (2008) menekankan bahwa
berbagai subdisiplin kajian keamanan mainstream didefinisikan oleh pasar intelektual
Amerika; hal yang disebut Croft sebagai „realitas‟ ekonomi yang juga terkonstruksi
secara sosial.6
Dalam bab-bab berikutnya, yaitu bab 4 hingga bab 9, Buzan dan Hansen
mendeskripsikan evolusi-evolusi yang terjadi pada ISS dan menghubungkannya
dengan kelima driving force. Satu hal yang dapat diamati dalam evolusi ini adalah
bahwa terjadi dinamika driving force yang paling dominan dalam suatu evolusi yang
memiliki arah dalam periodisasi yang progresif. Dalam Perang Dingin, evolusi ISS yang
terjadi didominasi driving force politik negara besar (stabilitas bipolar dan identitas Uni
Soviet) dan teknologi (persenjataan nuklir) [98-99]. Namun, seiring evolusi ISS yang
terjadi, pada perkembangan terakhir (widening and deepening security), driving force yang
paling krusial adalah perdebatan akademik internal (masuknya teori-teori sosial,
Antropologi, Teori Feminis, Sosiologi Historis, Postkolonialisme; perdebatan
epistemologis dari HI; perdebatan normatif; dan perdebatan eksplitis tentang konsep

4 Baik Georgia, Rusia, Ossetia Selatan, dan Abkhazia sebagai aktor dalam krisis Ossetia Selatan 2008
seluruhnya telah memiliki pemerintah yang dipilih secara demokratis selama lebih dari 5 tahun pada
2008, sehingga penulis merasa kasus ini paradoks terhadap teori perdamaian demokratik
5 Aktor-aktor negara dalam krisis Gaza 2008 pun adalah Negara-negara demokratis. Israel jelas adalah

negara demokrasi elektoral dengan kebebasan memilih bagi rakyat dewasa. Palestina pun telah menganut
demokrasi sejak Yasser Arafat dipilih sebagai presiden pada 1996 dan hal tersebut tetap berlanjut
sekarang dengan pemerintahan Hamas yang terpilih sejak 2005. Sehingga, sama seperti kasus krisis
Georgia, penulis merasa krisis Gaza paradoks terhadap teori perdamaian demokratik
6 Stuart Croft, “What Future for Security Studies?” dalam Paul D. Williams (ed.), Security Studies: An

Introduction, ibid., hal. 507


Tangguh 0706291426 Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 5
SHI 40029 Evolusi Pemikiran Keamanan Internasional

keamanan). Dalam perkembangan berikutnya, faktor-faktor peristiwa seperti 9/11 9/11


dan Perang Global terhadap Terorisme („Global War on Terrorism‟/GWoT) yang
berkembang setelahnya menjadi suatu fokus „metaperistiwa‟ dalam evolusi ISS [253-
255]. Sementara, faktor-faktor institusionalisasi dapat dipandang lebih sebagai ekspresi
driving force lainnya daripada sebagai driving force sendiri [271]. Perubahan signifikansi
driving force ini dapat menjadi fokus kajian yang menarik, namun penulis berasumsi
bahwa perubahan ini didorong oleh evolusi ISS itu sendiri, di mana pada tradisi Realis,
yang dominan pada masa Perang Dingin, faktor-faktor politik negara besar dan
teknologi (yang juga menjadi ontologi kajian keamanan Realis) adalah yang paling
signifikan, sementara pada kajian-kajian keamanan widening and deepening, yang
merupakan perdebatan akademik terhadap tradisi Realis itu sendiri, driving force yang
paling relevan adalah perdebatan akademik. Pandangan ini dapat merefleksikan bahwa
hubungan antara evolusi ISS dan driving force tidak hanya satu arah (dari driving force
kepada evolusi ISS), namun juga terjadi timbal-balik.
Dalam bab 8, “Responding to 9/11: a return to national security?” Buzan dan Hansen
menyatakan tak yakin apakah peristiwa 9/11 dan GWoT telah mengubah ISS, karena
walaupun terdapat perhatian tentang bagaimana „peristiwa‟ 9/11 memengaruhi politik
negara besar dan teknologi serta konsekuensinya terhadap konsep keamanan, serta
asumsi-asumsi tentang „rasionalitas aktor keamanan‟ dan peran yang harus diadopsi
para sarjana ISS, terdapat berbagai kontinuitas dalam perdebatan tentang polaritas
negara besar, persenjataan nuklir, dan berbagai perubahan signifikan dalam perdebatan
tentang perang tak didominasi oleh GWoT.
Penulis beranggapan bahwa kesimpulan Buzan dan Hansen tentang respon
terhadap 9/11 ini merupakan suatu ambiguitas yang multisegi. Di satu sisi, GWoT
merupakan suatu peristiwa politik besar yang merevolusi politik internasional sehingga
mempromosikan berbagai isu-isu widening and deepening security bersama dengan
dinamika keamanan Realis, namun di sisi lain Buzan dan Hansen seakan
mengimplikasikan prediksi bahwa masa depan ISS akan kembali kepada Realisme
tradisional. Hal ini, menurut penulis, adalah hal paling relevan. Sebagaimana Paul D.
Williams (2008), realisme adalah tradisi inkuiri yang multisegi dan durabel dalam kajian
keamanan, dengan berbagai fasilitas adaptasi.7 Realisme dapat membuat penyesuaian
terhadap teori mereka untuk menghindari kontradiksi dengan berbagai anomali
empirik,8 namun hal inilah yang membuat Realisme tetap menjadi kontributor sentral
terhadap kajian keamanan.
Di satu sisi, penulis juga beranggapan bahwa bab 8 ini mengandung bias
terhadap Mazhab Copenhagen, ketika mereka mengungkapkan bahwa GWoT
mempertanyakan berbagai asumsi tradisionalis dalam ISS (operasi „teroris‟

7 Colin Elman, “Realism” dalam Paul D. Williams (ed.), Security Studies: An Introduction, ibid., hal. 507
8 Lihat Colin Elman, ibid. Kritik terhadap Realisme ini misalnya berasal dari John Vasquez (1997), “The
realist paradigm and degenerative versus progressive research programs: an appraisal of neotraditional research on
Waltz’s balancing proposition”, American Political Science Review, 91(4): 899–912 serta Jeffrey Legro dan
Andrew Moravcsik (1999), “Is anybody still a realist?” International Security, 24(2): 5–55.
Tangguh 0706291426 Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 6
SHI 40029 Evolusi Pemikiran Keamanan Internasional

mempertanyakan asumsi negara sebagai referent object, serta melewati batas-batas


negara sehingga mempertanyakan asumsi tentang ancaman eksternal), namun respon
terhadapnya menggunakan cara-cara tradisional dalam diskursus keamanan nasional
(memperkuat negara serta mengamankan perbatasan-perbatasan negara baik fisik,
biometrik, maupun digital) [253-254]. Apabila hal ini dihubungkan dengan isu-isu yang
terus berlanjut dalam diskursus-diskursus dan subjek-subjek GWoT, yang merupakan
peluasan sektor keamanan, khususnya dalam bidang keamanan gender, lingkungan,
masyarakat, dan agama, dapat dikatakan bahwa hal tersebut merupakan bias terhadap
sekuritisasi, di mana isu-isu tersebut terangkat sehingga tak lagi diperdebatkan sebagai
pertanyaan politik, namun ditangani secara lebih cepat dengan cara-cara yang dapat
melanggar peraturan-peraturan legal dan sosial normal [214].
Bagaimana dengan masa depan ISS? Penulisan sejarah intelektual ISS takkan
lengkap tanpa prediksi masa depan ISS. Buzan dan Hansen melakukan spekulasi ini
berdasarkan asumsi bahwa kelima driving force ISS tetap beroperasi, melihat tren dan
perkembangan terakhir, serta memprediksi tekanan-tekanan seperti apa yang akan
disebabkan kelima force ini terhadap perubahan lebih jauh ISS di masa depan. Politik
negara besar yang menurut Buzan dan Hansen akan mengubah susunan ISS adalah
kenaikan China serta kebangkitan Eropa [266-267]. Peristiwa yang telah berpengaruh
adalah GWoT, namun Buzan dan Hansen memprediksi bahwa peristiwa dalam sektor
lingkungan akan muncul di atas isu-isu keamanan lainnya [268-269]. Menanggapi hal
ini, tentu saja beberapa ahli takkan setuju bahwa hal tersebut adalah jangkauan isu
keamanan, sebagaimana prinsip “apabila isu tersebut tak dapat tereskalasi hingga
menyebabkan perang, isu tersebut bukan isu keamanan”.9 Pengaruh teknologi paling
jelas adalah kepebilitas-kapabilitas teknologi baru terhadap keseimbangan militer:
sistem ballistic missile defense (BMD), prajurit dan pilot robot, teknologi lingkungan,
teknologi cyber, dan proliferasi nuklir [269-270]. Tentang perdebatan akademik, Buzan
dan Hansen tak menutup kemungkinan kemungkinan mode intelektual baru, namun
mereka menganggap bahwa ISS telah menyerap efek „deepening‟ dari seluruh mode
epistemologis [270-271]. Terakhir, Buzan dan Hansen berprediksi bahwa perubahan
institusionalisasi sulit terjadi, namun terdapat perubahan dramatis dalam prioritas
pendanaan [271-272].
Beberapa bahkan beranggapan bahwa ISS sudah tak relevan sudah waktunya
kembali kepada kajian kebijakan luar negeri dan HI, sebagaimana observasi Oran
Young bahwa 1) ISS mengalami overlap dengan banyak bidang kajian politik
internasional dan kebijakan luar negeri, 2) ISS mengganggu relevansi kebijakan, 3) ISS
telah mengalami mislabeling, 4) keamanan menjadi terlalu luas. Sehingga, sebagaimana
pandangan beberapa ahli, apabila kita ingin mengkaji seluruh fenomena dalam istilah

9Andi Widjajanto dalam kuliah Evolusi Pemikiran Keamanan Internasional, Departemen Ilmu Hubungan
Internasional Universitas Indonesia, 2 September 2009
Tangguh 0706291426 Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 7
SHI 40029 Evolusi Pemikiran Keamanan Internasional

„keamanan‟ dengan penekanan yang seimbang, kita akan harus mengintegrasikannya


ke dalam kajian kebijakan luar negeri atau HI secara keseluruhan.10

Subjek ISS telah berubah-ubah dari konsentrasi awalnya atas isu-isu militer dan
keamanan nasional hingga jangkauan referent object yang luas, dengan masih kuatnya
negara, namun banyak ruang bagi manusia individu (keamanan manusia), entitas non-
manusia (keamanan lingkungan), dan struktur sosial (perekonomian dunia, berbagai
jenis identitas kolektif); hingga menekan struktur konseptual ISS, dari tradisi perang
dan pertahanan nasional hingga „perdamaian‟. Menurut Buzan dan Hansen, driving
force evolusi ISS adalah 1) politik negara besar, 2) teknologi, 3) peristiwa, 4) dinamika
internal perdebatan akademik, dan 5) institusionalisasi, namun penulis beranggapan
bahwa beberapa force lain seperti 1) idea (gagasan), 2) hubungan antarnegara, dan 3)
faktor-faktor sosial juga merupakan faktor-faktor yang signifikan. Terdapat dinamika
driving force yang paling dominan dalam suatu evolusi yang memiliki arah dalam
periodisasi yang progresif, yaitu dari politik negara besar dan teknologi pada masa
Perang Dingin menjadi perdebatan akademik internal pada masa widening and
deepening security, serta bahwa hubungan antara evolusi ISS dan driving force tidak
hanya satu arah (dari driving force kepada evolusi ISS), namun juga terjadi timbal-balik.
Buzan dan Hansen tak yakin apakah peristiwa 9/11 dan GWoT telah mengubah ISS,
namun penulis beranggapan bahwa kesimpulan Buzan dan Hansen ini merupakan
suatu ambiguitas yang multisegi, apakah evolusi ISS akan kembali kepada signifikansi
ISS, atau bias terhadap Mazhab Copenhagen. Dalam hal ini, menurut penulis, masa
depan ISS yang paling relevan adalah kembali kepada Realisme tradisional.

BIBLIOGRAFI

Baldwin, David. “Review: Security Studies and the End of the Cold War.” World Politics, Vol.
48, No. 1 (Okt., 1995), h. 117-141
Legro, Jeffrey dan Andrew Moravcsik. (1999) “Is anybody still a realist?” International
Security, 24(2): 5–55.
Prins, Gwyn. “The Four-Stroke Cycle in Security Studies”, International Affairs. Royal
Institute of International Affairs 1944-), Vol. 74, No. 4 (Okt., 1998), h. 781-808
Vasquez, John. (1997) “The realist paradigm and degenerative versus progressive research
programs: an appraisal of neotraditional research on Waltz’s balancing proposition”,
American Political Science Review, 91(4): 899–912
Williams, Paul D. (ed.), Security Studies: An Introduction. Oxon: Routledge, 2008

10David Baldwin, “Review: Security Studies and the End of the Cold War”, World Politics, Vol. 48, No. 1 (Okt.,
1995), h. 117-141