Anda di halaman 1dari 4

JOHN DEREE COMPONENT WORKS (A)

A. Latar belakang
Perusahaan John Deere telah beroperasi di industri peralatan pertanian
selama 162 tahun. Seiring meningkatnya permintaan disektor produksi, pada
tahun 1970-an perusahaan John Deree membuka divisi baru yang diberi nama
John Deere Component Works. Divisi tersebut dibentuk sebagai produsen utama
suku cadang untuk peralatan Deere terutama traktor. Oleh karena itu John Deere
Component Works

harus menghasilkan berbagai macam suku cadang yang

volumenya relatif rendah. Selama pertengahan 1980-an JDCW melakukan


produksi dengan kapasitas yang rendah karena proses ini diperlukan mesin lebih
otomatis dan biaya yang besar harus dikeluarkan untuk proses produksi, tetapi
dengan begitu JDCW tetap menawarkan kualitas hasil produksi yang menjanjikan
terutama dibagian-bagian suku cadang mesin yang kompleks. Hal itu dilakukan
Sebagai bagian dari strategi untuk memasarkan suku cadang hasil produksi
mereka di pasar global. Mereka harus segera menemukan solusi bahwa harga
yang mereka tawarkan harus bersaing dengan para kompetitior yang lain karena
kunci persaingan sukses di pasar global

adalah harga, jadi JDCW harus

memikirkan kembali strategi penetapan harganya.

B. Pernyataan Masalah:
Permintaan akan produk John Deere Komponen Work produk (JDCW)
semakin berkurang karena runtuhnya nilai lahan pertanian dan harga komoditas.
Sejumlah kegagalan terus menerus dialami JDCW, sehingga meminta tanggung
jawab pada manajemen untuk mempertanyakan metode biaya saat ini. Akibatnya,
analisis harus dibuat tentang metode biaya saat ini untuk menentukan validitas
mereka dan untuk membantu perusahaan dalam mengadopsi sistem biaya yang
lebih baik.

C. Analisis
John Deere Komponen Works adalah divisi dari perusahaan John Deere
yang khusus menangani pembuatan suku cadang traktor. Pada pertengahan
1980-an, JDCW menemukan adanya kelebihan persediaan yang semakin
meningkat. Dalam menetralisir masalah ini JDCW berusaha mengambil
keuntungan yang diperoleh dari mesin otomatis yang ditawarkan perusahaan. Hal
ini disebabkan karena dari 635 unit yang akan pasarkan oleh perusahaan John
Deere hanya 275 unit yang siap dipasarkan. Dalam jumlah 275 unit tersebut,
JDCW hanya berhasil menjual seabanyak 58 unit. Hal ini menjadi perhatian bagi
JDCW karena tujuan awalnyanya adalah untuk memasarkan produk mereka
dengan tingkat pembelian konsumen yang besar, sehingga mereka mendapat
keuntungan yang meningkat. Pada kenyataannya, masalah JDCW bukanlah
jumlah pesananan yang mereka terima, tetapi perbedaan harga produk dengan
para pesaingnya. JDCW menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dalam sistem
akuntansi mereka, dan memutuskan untuk meninjau struktur biaya saat ini. Sistem
biaya yang ada didalam perusahaan sangat sederhana sehingga memungkinkan
untuk dipertahankan. Alokasi biaya didasarkan pada jam tenaga kerja langsung,
jam mesin dan biaya material. Penggunaan biaya yang standar memungkinkan
JDCW untuk membandingkan biaya overhead tenaga kerja yang sebenarnya
dengan harga yang dianggarkan untuk menentukan biaya overhead tahun-tahun
berikutnya. Bahkan, struktur biaya yang lama bekerja cukup baik di masa lalu
karena perusahaan konsisten memproduksi produk yang secara berkala..
Namun, metode biaya ini tidak menyediakan sistem yang terbaik untuk
alokasi biaya JDCW. Dengan hanya menggunakan tiga tarif overhead dapat
mencederai biaya produksi karena kegiatan lain dari proses produksi tidak diakui.
Sistem ini juga gagal untuk menghitung varians pemakaian bahan, yang hanya
memberi peluang keakuratan struktur biaya akuntansi. Untuk ukuran yang lebih
akurat dari pemakaian bahan, departemen jaminan kualitas harus memasukan
perhitungan metode ini dalam laporan mingguan. Kelemahan selanjutnya ada
pada departemen akuntansi yang hanya melaporkan bagaimana masing-masing
daerah beroperasi, daripada mengevaluasi kinerja masing-masing daerah, yang

akan mencegah penyempitan dalam efisiensi biaya. Kelemahan-kelemahan ini


membuat JDCW menjadi tidak akurat dalam mengakses biaya sebenarnya. Pada
dasarnya, dengan sistem biaya saat ini, analisis manajerial sangat cacat karena
kurangnya informasi biaya.
Kegagalan dalam sistem biaya yang ada dikarena beberapa faktor.
1. Ketika JDCW menghitung tenaga kerja langsung, jam mesin langsung, dan
biaya overhead keseluruhan dihitung secara jangka panjang. Namun, jika
jumlah produksi aktual tidak untuk jangka panjang maka itu menjadi masalah,
dapat diartikan sulit untuk mengubah sistem yang mengakomodasi setiap
kenaikan atau penurunan permintaan produksi.
2. ketika JDCW menentukan tarif biaya overhead untuk tahun yang akan datang,
perkiraan didasarkan pada angka-angka tahun sebelumnya. Sistem ini akan
menghasilkan ketidakakuratan, terutama ketika perusahaan berupaya untuk
mengatasi jumlah produksi yang benar-benar asing untuk tren produksi
perusahaan. Hal ini mencerminkan sistem biaya yang menyempit
Dapat diakatakan, sistem akuntansi biaya yang digunakan oleh perusahaan
secara signifikan ketinggalan zaman. Hal ini dikarenakan sistem yang awalnya
dirancang untuk menangani proses produksi langsung dengan biaya overhead
sedikit. Namun, ketika perusahaan merubah proses produksinya ke sistem yang
lebih otomatis, secara bersamaan meningkatkan biaya overhead. Peningkatan
biaya overhead

ini diakibatkan oleh peningkatan pengawasan, pemeliharaan,

listrik, dan setup. Karena biaya overhead yang sekarang sedang terjadi, sistem
baru harus dilaksanakan untuk beradaptasi.
Kelemahan ini dikarenakan bahwa harga yang ditawarankan JDCW ini
secara terus-menerus salah perhitungan dengan harga

dari pesaing mereka.

Dengan menggunakan sistem yang ada, manajemen JDCW terus menekan biaya
yang semakin tinggi. Jika tawaran itu harus berdasarkan metode ABC, biaya
JDCW akan menjadi lebih akurat, dan kemungkinan besar akan memperoleh
haraga yang lebih tinggi dari harga yang ditawaran. Karena bagian produksi
dengan volume yang rendah kurang efisien dari pada bagian volume tinggi,
tujuannya adalah demi kepentingan JDCW untuk mencapai tingkat penawaran

yang lebih tinggi. Namun, karena sistem Biaya yang cacat, proposal penawaran
yang diajukan oleh JDCW juga cacat.
B. Ringkasan dan Kesimpulan
Masalah yang membuat JDCW mempertanyakan struktur biaya adalah
kenyataan bahwa pada bagian produksi yang mereka tawarkan diluar harga yang
ditawarkan para pesaingnya. Dengan mempelajari lebih dalam bahwasannya
masalah yang diungkap adalah sistem Biaya saat ini digunakan sudah tidak layak
lagi. JDCW memerlukan sebuah sistem yang lebih akurat dengan tujuan tetap
kompetitif, dan dalam situasi ini JDCW seharusnya menggunakan sistem ABC.