Anda di halaman 1dari 13

1.

a) Rukun-rukun perkawinan

Rukun-rukun perkawinan
Menurut mazhab hanafi, rukun itu adalah bagian dari sesuatu, sedang sesuatu itu
takkan ada tanpanya. Rukun perkawinan menurut mereka adalah ijab dan Kabul yang muncul
dari keduanya berupa ungkapan kata (sighah), kedua mempelai pembuat akad, dan objek
akad. Beberapa para fuqaha menambahkan maskawin dan wali sebagai rukun.[5]
c) Keabsahan suatu perkawinan merupakan suatu hal yang prinsipil, karenanya
perkawinan erat kaitannya dengan segala hal akibat perkawinan, baik menyangkut
dengan anak (keturunan) maupun yang berkaitan dengan harta. Undang-Undang No. 1
Tahun 1974 telah merumuskan kriteria keabsahan suatu perkawinan, yang dituangkan
dalam Pasal 2, sebagai berikut:
1. Perkawinan adalah sah apaila dilakukan menurut hukum masing-masing
agamanya dan kepercayaannya itu;
2. tiap-tiap perkawinan di catat menurut aturan perundang-undangan yang
berlaku.
Ketentuan diatas menetapkan dua garis hukum yang harus dipatuhi dalam melakukan
suatu perkawinan. Pada ayat (1) dapat dilihat secara tegas diatur dengan tegas tentang
keabsahaan suatu perkawinan, yakni bahwa satu-satunya syarat sahnya suatu
perkkawinan adalah bila perkawinan itu dilakukan menurut ketentuan agama dari
mereka yang akan melangsungkan perkawinan. Ketentuan agana untuk sahnya suatu
perkawinan bagi umat islam dimaksud adalah yang berkaitan dengan syarat, yakni
suatu yang harus ada sebelum suatu perbuatan hukum dilakukan. Selain itu, harus juga
memenuhi rukun, yakni suatu yang harus ada atau dilaksanakan saat suatu perbuatan
hukum dilakukan. Penjelasan ayat (1) tersebut menyatakan, bahwa tidak akan ada
perkawinan di luar hukum masing-masing agama dan kepercayaan bagi orang yang
akan melakukannya. Adapun yang dimaksud hukum masing-masing agama dan
kepercakayaannya itu termasuk ketentuan-ketentuan perundang-undangan yang
berlaku bagi mereka yang memeluk agama atau keyakinan sepanjang tidak
bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.
Al-Quran menyerukan bahwa laki-laki dan perempuan tidak dibedabedakan, laki-laki
dan perempuan memiliki kesamaan tanggung jawab dan balasan amal, ada
keseimbangan (timbal balik) antara hak dan kewajiban suami dan isteri. Meskipun
demikian, ada kesan seruan keseimbangan ini diikuti dengan adanya diskriminasi
terhadap perempuan, misalnya disebutkan bahwa suami memiliki kelebihan satu
derajat dibanding isteri, dan suami mempunyai status pemimpin. Sedangkan
perempuan tidak cocok memegang kekuasaan ataupun memiliki kemampuan yang
dimiliki laki-laki. Di dalam melakukan perceraian misalnya, seorang suami mempunyai
hak talak sepihak secara mutlak. Artinya, tanpa alasan yang jelaspun seorang suami
boleh melakukan poligami tanpa persetujuan isteri, sebab diyakini bahwa berpoligami
merupakan hak mutlak suami, sementara isteri tidak boleh melakukan poliandri.
2.a.Kewajiban suami :

Membayar mahar atau maskawin. Memang hal ini bukanlah suatu syarat atau rukun dalam
perkawinan, tetapi mahar ini merupakan suatu kewajiban yang harus diberikan oleh suami
kepada istri. Sebagaimana dalam firman Allah swt: Berikanlah maskawin (mahar) kepada
wanita yang kamu nikahi sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. (QS. An-Nisa : 4)

Memberi nafkah. Pemberian nafkah ini bersifat wajib bagi suami terhadap istrinya,
ayah terhadap anaknya, dan tuan terhadap budaknya yang meliputi keperluan hidup
seperti makan, pakaian, dan tempat tinggal.

Menggaulinya dengan baik. Dalam artian dengan penuh kasih sayang, pengertian,
tanpa kasar dan zalim.
Berlaku adil jika istri lebih dari satu. Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad saw
bersabda: Barang siapa beristri dua, sedangkan dia lebih mementingkan slah
seorang dari keduanya, maka ia akan datang nanti pada hari kiamat, sedangkan
pinggangnya (rusuknya) dalam keadaan bungkuk.
Wajib memberikan makan istrinya apa yang ia makan, memberinya pakaian, tidak
memukul wajahnya, tidak menghinanya, dan tidak berpisah ranjang kecuali dalam
rumah sendiri.
Wajib selalu memberikan pengertian, bimbingan agama kepada istrinya, dan
menyuruhnya untuk selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya. (Qs. Al0Ahzab : 34 dan
QS. At-tahrim : 6)
Tidak boleh membuka aib (kejelekan) istri kepada siapapun
menjaga istrinya dengan baik. Termasuk menjaga istrinya dari segala sesuatu yang
menodai kehormatannya, menjaga harga dirinya, dan menjunjung tinggi
kehormatannya.
Apabila istri durhaka kepada suami, maka suami wajib mendidiknya dan
membawanya kepada ketaatan, walaupun secara paksa.

HAK SUAMI
Ditaati dalam selain perkara maksiat.
Suami memiliki hak terhadap istrinya untuk ditaati dalam seluruh perkara asalkan bukan
perkara maksiat kepada Allah l. Rasulullah n bersabda:


Hanyalah ketaatan itu dalam perkara yang maruf. (HR. Al-Bukhari no. 7145 dan Muslim
no. 4742)
Dan beliau n pun memperingatkan:
l


Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah l. (HR. Ahmad 1/131,
dishahihkan sanadnya oleh Asy-Syaikh Ahmad Syakir t dalam syarah dan catatan kakinya
terhadap Musnad Al-Imam Ahmad dan dishahihkan pula dalam Ash-Shahihah no. 181)

Sehingga bila suami memerintahkan istrinya untuk berbuat maksiat kepada Allah l seperti
disuruh keluar rumah dengan tabarruj, wajib bagi si istri untuk menolaknya. Bila ia menaati
suaminya berarti ia berbuat dosa sebagaimana suaminya berdosa karena telah
memerintahkannya bermaksiat.

Di antara dalil yang menunjukkan wajibnya istri menaati suaminya adalah adanya perintah
dari Allah l agar suami memberikan pengajaran kepada istrinya bila ia enggan untuk taat,
dan sebaliknya Allah l melarang seorang suami untuk menyakiti istrinya bila si istri taat
kepadanya. Allah l berfirman:
Dan para istri yang kalian khawatirkan (kalian ketahui dan yakini) nusyuz4nya maka
hendaklah kalian menasihati mereka, meninggalkan mereka di tempat tidur, dan memukul
mereka. Kemudian jika mereka menaati kalian maka janganlah kalian mencari-cari jalan
untuk menyusahkan mereka. (An-Nisa`: 34)
Ayat di atas menunjukkan, pengajaran5 diberikan kepada istri dikarenakan ia tidak taat
kepada suaminya, yang berarti taat kepada suami itu wajib.

Termasuk taat yang wajib ditunaikan kepada suami adalah memenuhi panggilan suami ke
tempat tidur serta tidak boleh menolak hasrat-nya.
Istri yang menolak ajakan suaminya diancam oleh Rasulullah n dengan sabda beliau:



Jika seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu si istri menolak untuk datang
maka para malaikat akan melaknatnya sampai pagi. (HR. Al-Bukhari no. 5194 dan Muslim
no. 3524)

Dalam riwayat Muslim (no. 3525) disebutkan dengan lafadz:




Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang suami memanggil istrinya
ke tempat tidurnya lalu si istri menolak ajakan suaminya melainkan yang di langit (penduduk
langit) murka pada istri tersebut sampai suaminya ridha kepadanya.

Al-Imam An-Nawawi t berkata, Hadits ini merupakan dalil haramnya seorang istri menolak
mendatangi tempat tidur suaminya tanpa ada udzur syari. Dan haid bukanlah udzur untuk
menolak panggilan suami karena suami punya hak untuk istimta (bermesraan/bernikmatnikmat) dengan si istri pada bagian atas izarnya6. Makna hadits di atas adalah laknat terus
menerus diterima si istri hingga hilang maksiatnya dengan terbitnya fajar sehingga suami

tidak membutuhkannya lagi, atau dengan taubatnya si istri dan kembalinya dia ke tempat
tidur. (Al-Minhaj, 9/249)
Dalam hadits ini pun ada bimbingan kepada istri untuk membantu memenuhi kebutuhan
suaminya dan mencari keridhaannya. (Fathul Bari, 9/366)

Asy-Syaikh Al-Albani t menyatakan, wajib bagi istri untuk taat kepada suaminya sebatas
kemampuannya dalam perkara yang diperintahkan suami, karena hal ini termasuk keutamaan
yang Allah l berikan kepada kaum lelaki. Sebagaimana dalam ayat: Kaum lelaki itu adalah
pemimpin bagi kaum wanita. (An-Nisa`: 34)
Dan ayat:

Dan kaum lelaki memiliki kedudukan satu derajat di atas kaum wanita.
Hadits-hadits shahih yang ada memperkuat makna ini dan menjelaskan dengan terang apa
yang akan diperoleh wanita dari kebaikan ataupun kejelekan, bila ia menaati suaminya atau
mendurhakainya. (Adabuz Zifaf, hal. 175-176)

Kedua: Istri tidak boleh keluar rumah kecuali dengan izin suami.
Seorang istri tidak boleh keluar dari rumahnya kecuali dengan izin suaminya.Baik si istri
keluar untuk mengunjungi kedua orangtuanya ataupun untuk kebutuhan yang lain, sampaipun
untuk keperluan shalat di masjid.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t mengatakan, Tidak halal bagi seorang istri keluar dari
rumah suaminya kecuali dengan izin suaminya. Beliau juga berkata, Bila si istri keluar
rumah suami tanpa izinnya berarti ia telah berbuat nusyuz, bermaksiat kepada Allah l dan
Rasul-Nya, serta pantas mendapatkan hukuman. (Majmu Al-Fatawa, 32/281)

Ketiga: Istri tidak boleh puasa sunnah kecuali dengan izin suaminya.
Bila seorang istri hendak mengerjakan puasa Ramadhan, ia tidak perlu meminta izin kepada
suaminya karena puasa Ramadhan hukumnya wajib, haram ditinggalkan tanpa udzur syari.
Bila sampai suaminya melarang, ia tidak boleh menaatinya. Karena tidak boleh menaati
makhluk dalam bermaksiat kepada Al-Khaliq.
Namun bila si istri hendak puasa sunnah/tathawwu, ia harus meminta izin kepada suaminya.
Karena Rasulullah n bersabda:

Tidak boleh seorang istri puasa (sunnah) sementara suaminya ada di tempat kecuali dengan
izin suaminya. (HR. Al-Bukhari no. 5195 dan Muslim no. 1026)
Al-Imam An-Nawawi t berkata: Larangan ini menunjukkan keharaman. Demikian yang
diterangkan dengan jelas oleh kalangan ulama dari madzhab kami. (Al-Minhaj, 7/116)
Hal ini merupakan pendapat jumhur ulama sebagaimana disebutkan dalam Fathul Bari
(9/367).

Adapun sebab/alasan pelarangan tersebut, wallahu alam, karena suami memiliki hak untuk
istimta dengan si istri sepanjang hari. Haknya ini wajib untuk segera ditunaikan dan tidak
boleh luput penunaiannya karena si istri sedang melakukan ibadah sunnah ataupun ibadah
yang wajib namun dapat ditunda. (Al-Minhaj, 7/116)
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani t mengatakan: Hadits ini menunjukkan lebih ditekankan
kepada istri untuk memenuhi hak suami daripada mengerjakan kebajikan yang hukumnya
sunnah. Karena hak suami itu wajib, sementara menunaikan kewajiban lebih didahulukan
daripada menunaikan perkara yang sunnah. (Fathul Bari, 9/357)

Keempat: Istri tidak boleh mengizinkan seseorang masuk ke rumah suami kecuali dengan
izinnya.
Rasulullah n telah melarang hal ini dalam sabdanya:

Tidak boleh seorang istri mengizinkan seseorang masuk ke rumah suaminya terkecuali
dengan izin suaminya. (HR. Al-Bukhari no. 5195 dan Muslim no. 2367)
Amr ibnul Ahwash z meriwayatkan dari Nabi n, sabda beliau:
...



Ketahuilah, kalian memiliki hak terhadap istri-istri kalian dan mereka pun memiliki hak
terhadap kalian. Hak kalian terhadap mereka adalah mereka tidak boleh membiarkan seorang
yang tidak kalian sukai untuk menginjak permadani kalian dan mereka tidak boleh
mengizinkan orang yang kalian benci untuk memasuki rumah kalian. Sedangkan hak mereka
terhadap kalian adalah kalian berbuat baik terhadap mereka dalam hal pakaian dan makanan
mereka. (HR. At-Tirmidzi no. 1163 dan Ibnu Majah no. 1851, dihasankan Asy-Syaikh AlAlbani t dalam Shahih At-Tirmidzi dan Shahih Ibni Majah)

Kelima: Mendapatkan pelayanan (khidmat) dari istrinya.

Semestinya seorang istri membantu suaminya dalam kehidupannya. Hal ini telah dicontohkan
oleh istri-istri shalihah dari kalangan sahabiyah seperti yang dilakukan Asma` bintu Abi
Bakar Ash-Shiddiq c yang berkhidmat kepada suaminya, Az-Zubair ibnul Awwam z. Ia
mengurusi hewan tunggangan suaminya, memberi makan dan minum kudanya, menjahit dan
menambal embernya, serta mengadon tepung untuk membuat kue. Ia yang memikul bijibijian dari tanah milik suaminya sementara jarak tempat tinggalnya dengan tanah tersebut
sekitar 2/3 farsakh7. (HR. Al-Bukhari no. 5224 dan Muslim no. 2182)

Demikian pula khidmat Fathimah bintu Rasulullah n di rumah suaminya, Ali bin Abi Thalib
z. Sampai-sampai kedua tangannya lecet karena menggiling gandum. (HR. Al-Bukhari no.
6318 dan Muslim no. 2727)
Sahabat Rasulullah n, Jabir bin Abdillah c, menikahi seorang janda agar bisa berkhidmat
padanya dengan mengurusi 7 atau 9 saudara perempuannya yang masih belia. Kata Jabir
kepada Rasulullah n, Ayahku, Abdullah, telah wafat dan ia meninggalkan banyak anak
perempuan. Aku tidak suka mendatangkan di tengah-tengah mereka wanita yang sama
dengan mereka. Maka aku pun menikahi seorang wanita yang bisa mengurusi dan merawat
mereka. Rasulullah n mendoakan Jabir:
- : -


Semoga Allah memberkahimu. Atau beliau berkata, Semoga kebaikan untukmu. (HR.
Al-Bukhari no. 5367 dan Muslim no. 3623)
Keenam : Disyukuri kebaikan yang diberikannya.
Seorang istri harus pandai-pandai berterima kasih kepada suaminya atas semua yang telah
diberikan suaminya kepadanya. Bila tidak, si istri akan berhadapan dengan ancaman neraka
Allah l.
Seselesainya dari Shalat Kusuf (Shalat Gerhana), Nabi n bersabda menceritakan surga dan
neraka yang diperlihatkan kepada beliau ketika shalat:



: : . :
: .

:



Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari
ini. Dan aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita. Mereka bertanya,
Kenapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah? Beliau menjawab,
Disebabkan kekufuran mereka8. Ada yang bertanya kepada beliau: Apakah para wanita
itu kufur kepada Allah? Beliau menjawab: (Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami
dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang dari
mereka pada suatu masa, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak
berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata: Aku sama sekali belum pernah melihat
kebaikan darimu. (HR. Al-Bukhari no. 5197 dan Muslim no. 2106)

Al-Qadhi Ibnul Arabi t berkata: Dalam hadits ini disebutkan secara khusus dosa
kufur/ingkar terhadap suami di antara sekian dosa lainnya. Karena Nabi n telah menyatakan:
Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain (sesama
makluk) niscaya aku perintahkan seorang istri untuk sujud kepada suaminya. Nabi n
mengandaikan hak suami terhadap istri dengan hak Allah l9, maka bila seorang istri
mengkufuri/mengingkari hak suaminya, sementara hak suami terhadapnya telah mencapai
puncak yang sedemikian besar, hal itu sebagai bukti istri tersebut meremehkan hak Allah l.
Karena itulah diberikan istilah kufur atas perbuatannya. Akan tetapi kufurnya tidak sampai
mengeluarkan dari agama. (Fathul Bari, 1/106)
Dalam kitab Ash-Shahihain disebutkan bahwa pada hari Idul Adha atau Idul Fithri,
Rasulullah n keluar menuju lapangan untuk melaksanakan shalat.

Setelahnya beliau berkhutbah dan ketika melewati para wanita beliau bersabda: Wahai
sekalian wanita, bersedekahlah kalian dan perbanyaklah istighfar (meminta ampun) karena
sungguh diperlihatkan kepadaku mayoritas kalian adalah penghuni neraka. Salah seorang
wanita yang hadir di tempat tersebut bertanya: Apa sebabnya kami menjadi mayoritas
penghuni neraka, ya Rasulullah? Beliau menjawab: Kalian banyak melaknat dan
mengkufuri kebaikan suami. Aku belum pernah melihat orang yang kurang akal dan
agamanya namun dapat menundukkan lelaki yang memiliki akal yang sempurna daripada
kalian.

Demikianlah, wahai para istri yang shalihah, beberapa hak suami yang dapat kami sebutkan.
Tunaikanlah dengan sebaik-baiknya. Dan mohonlah pertolongan Allah l untuk
menunaikannya.

b. Di antara hak isteri adalah:


1. Suami harus memperlakukan isteri dengan cara yang maruf, karena Allah Taala telah berfirman :

"Dan bergaullah dengan mereka secara patut." [An-Nisaa: 19+


Yaitu, dengan memberinya makan apabila ia juga makan dan memberinya pakaian apabila ia
berpakaian. Mendidiknya jika takut ia akan durhaka dengan cara yang telah diperin-tahkan oleh
Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam mendidik isteri, yaitu dengan cara menasihatinya dengan nasihat
yang baik tanpa mencela dan menghina maupun menjelek-jelekannya. Apabila ia (isteri) telah
kembali taat, maka berhentilah, namun jika tidak, maka pisahlah ia di tempat tidur. Apabila ia masih
tetap pada kedurhakaannya, maka pukullah ia pada selain muka dengan pukulan yang tidak melukai,
sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

"Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pukullah mereka.
Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk

menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar." [An-Nisaa: 34]


Dan juga berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tatkala ditanya apakah hak isteri
atas suaminya? Beliau menjawab:
.
Engkau memberinya makan jika engkau makan, engkau memberinya pakaian jika engkau
berpakaian, janganlah memukul wajah dan janganlah menjelek-jelekkannya serta janganlah
memisahkannya kecuali tetap dalam rumah. *3+
Sesungguhnya sikap lemah lembut terhadap isteri merupakan indikasi sempurnanya akhlak dan
bertambahnya keimanan seorang mukmin, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam:
.
Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling bagus akhlaknya dan sebaik-baik
kalian adalah yang paling baik terhadap isterinya. *4+
Sikap memuliakan isteri menunjukkan kepribadian yang sempurna, sedangkan sikap merendahkan
isteri adalah suatu tanda akan kehinaan orang tersebut. Dan di antara sikap memuliakan isteri
adalah dengan bersikap lemah lembut dan bersenda gurau dengannya. Diriwayatkan bahwasanya
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam selalu bersikap lemah lembut dan berlomba (lari) dengan
para isterinya. Aisyah Radhiyallahu anhuma pernah berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
pernah mengajakku lomba lari dan akulah yang menjadi pemenangnya dan setiap kami lomba lari
aku pasti selalu menang, sampai pada saat aku keberatan badan beliau mengajakku lari lagi dan
beliaulah yang menang, maka kemudian beliau bersabda, Ini adalah balasan untuk kekalahanku
yang kemarin. *5+
Dan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menganggap setiap permainan itu adalah bathil kecuali jika
dilakukan dengan isteri, beliau bersabda:
:

Segala sesuatu yang dijadikan permainan bani Adam adalah bathil kecuali tiga hal: melempar (anak
panah) dari busurnya, melatih kuda dan bercanda dengan isteri, sesungguhnya semua itu adalah
hak. *6+
2. Suami harus bersabar dari celaan isteri serta mau memaafkan kekhilafan yang dilakukan olehnya,
karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
.
Janganlah seorang mukmin membenci mukminah. Apabila ia membencinya karena ada satu
perangai yang buruk, pastilah ada perangai baik yang ia sukai. *7+
Di dalam hadits yang lain beliau juga pernah bersabda:

Berilah nasihat kepada wanita (isteri) dengan cara yang baik. Karena sesungguhnya wanita itu
diciptakan dari tulang rusuk laki-laki yang bengkok. Sesuatu yang paling bengkok ialah sesuatu yang
terdapat pada tulang rusuk yang paling atas. Jika hendak meluruskannya (tanpa menggunakan
perhitungan yang matang, maka kalian akan mematahkannya, sedang jika kalian membiarkannya),
maka ia akan tetap bengkok. Karena itu berilah nasihat kepada isteri dengan baik. *8+
Sebagian ulama Salaf mengatakan, Ketahuilah bahwasanya tidak disebut akhlak yang baik terhadap
isteri hanya dengan menahan diri dari menyakitinya, namun dengan bersabar dari celaan dan
kemarahannya. Dengan mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Diriwayatkan bahwa para isteri beliau pernah protes, bahkan salah satu di antara mereka pernah
mendiamkan beliau selama sehari semalam. *9+
3. Suami harus menjaga dan memelihara isteri dari segala sesuatu yang dapat merusak dan
mencemarkan kehormatannya, yaitu dengan melarangnya dari bepergian jauh (kecuali dengan
suami atau mahramnya). Melarangnya berhias (kecuali untuk suami) serta mencegahnya agar tidak
berikhtilath (bercampur baur) dengan para lelaki yang bukan mahram.
Suami berkewajiban untuk menjaga dan memeliharanya dengan sepenuh hati. Ia tidak boleh
membiarkan akhlak dan agama isteri rusak. Ia tidak boleh memberi kesempatan baginya untuk
meninggalkan perintah-perintah Allah ataupun bermaksiat kepada-Nya, karena ia adalah seorang
pemimpin (dalam keluarga) yang akan dimintai pertanggungjawaban tentang isterinya. Ia adalah
orang yang diberi kepercayaan untuk menjaga dan memeliharanya. Berdasarkan firman Allah
Subhanahu wa Ta'ala :

"Para lelaki adalah pemimpin bagi para wanita." [An-Nisaa: 34+


Juga berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam :
.
Lelaki adalah pemimpin dalam keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang
dipimpinnya. *10+
4. Suami harus mengajari isteri tentang perkara-perkara penting dalam masalah agama atau
memberinya izin untuk menghadiri majelis-majelis talim. Karena sesungguhnya kebutuhan dia untuk
memperbaiki agama dan mensucikan jiwanya tidaklah lebih kecil dari kebutuhan makan dan minum
yang juga harus diberikan kepadanya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan
bakarnya adalah manusia dan batu." [At-Tahrim: 6]
Dan isteri adalah termasuk dalam golongan al-Ahl (keluarga). Kemudian menjaga diri dan keluarga
dari api Neraka tentunya harus dengan iman dan amal shalih, sedangkan amal shalih harus didasari
dengan ilmu dan pengetahuan supaya ia dapat menjalankannya sesuai dengan syari'at yang telah
ditentukan.
5. Suami harus memerintahkan isterinya untuk mendirikan agamanya serta menjaga shalatnya,
berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

"Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam
mengerjakannya." [Thaahaa: 132]
6. Suami mau mengizinkan isteri keluar rumah untuk keperluannya, seperti jika ia ingin shalat
berjamaah di masjid atau ingin mengunjungi keluarga, namun dengan syarat menyuruhnya tetap
memakai hijab busana muslimah dan melarangnya untuk tidak bertabarruj (berhias) atau sufur.
Sebagaimana ia juga harus dapat melarang isteri agar tidak memakai wangi-wangian serta
memperingatkannya agar tidak ikhtilath dan bersalam-salaman dengan laki-laki yang bukan mahram,
melarangnya menonton televisi dan mendengarkan musik serta nyanyian-nyanyian yang
diharamkan.
7. Suami tidak boleh menyebarkan rahasia dan menyebutkan kejelekan-kejelekan isteri di depan
orang lain. Karena suami adalah orang yang dipercaya untuk menjaga isterinya dan dituntut untuk
dapat memeliharanya. Di antara rahasia suami isteri adalah rahasia yang mereka lakukan di atas
ranjang. Rasulullah J melarang keras agar tidak mengumbar rahasia tersebut di depan umum.
Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Asma' binti Yazid Radhiyallahu anhuma :
Bahwasanya pada suatu saat ia bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para Sahabat
dari kalangan laki-laki dan para wanita sedang duduk-duduk. Beliau bersabda, Apakah ada seorang
laki-laki yang menceritakan apa yang telah ia lakukan bersama isterinya atau adakah seorang isteri
yang menceritakan apa yang telah ia lakukan dengan suaminya?
Akan tetapi semuanya terdiam, kemudian aku (Asma) berkata, Demi Allah wahai Rasulullah,
sesungguhnya mereka semua telah melakukan hal tersebut. Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda, Janganlah kalian melakukannya, karena sesungguhnya yang demikian itu seperti
syaitan yang bertemu dengan syaitan perempuan, kemudian ia menggaulinya sedangkan manusia
menyaksikannya. *11+
8. Suami mau bermusyawarah dengan isteri dalam setiap permasalahan, terlebih lagi dalam perkaraperkara yang berhubungan dengan mereka berdua dan anak-anak, sebagaimana apa yang telah
dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam selalu
bermusyawarah dengan para isterinya dan mau mengambil pendapat mereka. Seperti halnya pada
saat Sulhul Hudaibiyah (perjanjian damai Hudaibiyyah), setelah beliau selesai menulis perjanjian,
beliau bersabda kepada para Sahabat:
.
Segeralah kalian berkurban, kemudian cukurlah rambut-rambut kalian.
Akan tetapi tidak ada seorang Sahabat pun yang melakukan perintah Rasululah Shaallallahu 'alaihi
wa sallam sampai beliau mengulangi perintah tersebut tiga kali. Ketika beliau melihat tidak ada
seorang Sahabat pun yang melakukan perintah tersebut, beliau masuk menemui Ummu Salamah
Radhiyallahu anha kemudian menceritakan apa yang telah terjadi. Ummu Salamah kemudian
berkata, Wahai Nabi Allah, apakah engkau ingin mereka melakukan perintahmu? Keluarlah dan
jangan berkata apa-apa dengan seorang pun sampai engkau menyembelih binatang kurbanmu dan
memanggil tukang cukur untuk mencukur rambutmu. Maka beliau keluar dan tidak mengajak bicara
seorang pun sampai beliau melakukan apa yang dikatakan oleh isterinya. Maka tatkala para Sahabat
melihat apa yang dilakukan oleh Rasulullah, mereka bergegas untuk menyembelih hewan-hewan
kurban, mereka saling mencukur rambut satu sama lain, sampai-sampai hampir saja sebagian dari

mereka membunuh sebagian yang lainnya. [12]


Demikianlah, Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan kebaikan yang banyak bagi Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam melalui pendapat isterinya yang bernama Ummu Salamah. Sangat
berbeda dengan contoh-contoh kezhaliman yang dilakukan oleh sebagian orang, serta slogan-slogan
yang melarang keras bermusyawarah dengan isteri. Seperti perkataan sebagian dari mereka bahwa,
Pendapat wanita jika benar, maka akan membawa kerusakan satu tahun dan jika tidak, maka akan
membawa kesialan seumur hidup.
9. Suami harus segera pulang ke rumah isteri setelah shalat Isya'. Janganlah ia begadang di luar
rumah sampai larut malam. Karena hal itu akan membuat hati isteri menjadi gelisah. Apabila hal
tersebut berlangsung lama dan sering berulang-ulang, maka akan terlintas dalam benak isteri rasa
waswas dan keraguan. Bahkan di antara hak isteri atas suami adalah untuk tidak begadang malam di
dalam rumah namun jauh dari isteri walaupun untuk melakukan shalat sebelum dia menunaikan hak
isterinya. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengingkari apa yang telah
dilakukan oleh Abdullah bin Amr Radhiyallahu anhuma karena lamanya bergadang (beribadah)
malam dan menjauhi isterinya, kemudian beliau bersabda:
.
Sesungguhnya isterimu mempunyai hak yang wajib engkau tunaikan. *13+
10. Suami harus dapat berlaku adil terhadap para isterinya jika ia mempunyai lebih dari satu isteri.
Yaitu berbuat adil dalam hal makan, minum, pakaian, tempat tinggal dan dalam hal tidur seranjang.
Ia tidak boleh sewenang-wenang atau berbuat zhalim karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa
Ta'ala melarang yang demikian. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
.
Barangsiapa yang memiliki dua isteri, kemudian ia lebih condong kepada salah satu di antara
keduanya, maka ia akan datang pada hari Kiamat dalam keadaan miring sebelah.*14+
Kewajiban ISTRI :

Inilah Kewajiban seorang istri kepada suami:


1. Taat kepada suami
Sebagai seorang istri wajib mentaati suaminya selama yang diperintahkan suami tidak dalam
kemaksiatan kepada Allah. Firman Allah, Kemudian jika mereka mentaati kalian, maka
janganlah kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka.(An-Nisa: 34)
2. Menjaga kehormatan suaminya
Istri shalihah ialah istri yang dapat menjaga kehormatan suaminya, kemuliaannya, hartanya,
anak-anaknya, dan urusan rumah tangga lainnya. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam
Q.S An-Nisa ayat 34, Maka wanita-wanita yang shalihah ialah wanita-wanita yang taat
kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, karena Allah telah memelihara
mereka.
3. Tetap berada di rumah suami

Kunci surga yang ketiga adalah hendaknya seorang istri tidak keluar rumah kecuali atas izin
suaminya. Dalam arti, tidak keluar kecuali atas izin dan keridhaannya, menahan pandangan
dan merendahkan suaranya, menjaga tangannya dari kejahatan, dan menjaga mulutnya dari
perkataan kotor yang bisa melukai kedua orang tua suaminya, atau sanak keluarganya. Hal ini
disebutkan dalam dalil berikut, Dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah
kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu.(Al-Ahzab:
33)
4. Menyejukkan pandangan
Poin terakhir yang menjadi kunci surga bagi seorang istri adalah bersikap serta
berpenampilan dengan indah sehingga dapat menyejukkan pandangan suaminya. Sabda
Rasulullah saw., Wanita (istri) terbaik ialah jika engkau melihat kepadanya, ia
menyenangkanmu. Jika engkau menyuruhnya, ia taat kepadamu. Jika engkau pergi darinya,
ia menjagamu dengan menjaga dirinya dan menjaga hartamu.(HR Muslim dan Ahmad).
Itulah tugas yang harus dilakukan oleh seorang istri. Karena dengan memenuhi keempatnya,
maka insya Allah kunci surga ada dalam genggaman kita. Aamiin ya Rabbal Alamin.

c. Hak Bersama Suami Istri

Suami istri, hendaknya saling menumbuhkan suasana mawaddah dan rahmah. (ArRum: 21)
Hendaknya saling mempercayai dan memahami sifat masing-masing pasangannya.
(An-Nisa: 19 Al-Hujuraat: 10)
Hendaknya menghiasi dengan pergaulan yang harmonis. (An-Nisa: 19)
Hendaknya saling menasehati dalam kebaikan. (Muttafaqun Alaih)
Hak-hak istri terhadap suaminya
Secara umum, hak-hak ini berkisar antara maskawin, nafkah, dan adanya rasa
keadilan terhadap para istri apabila sang suami berpoligami.

Hak-hak suami atas istrinya


Hak-hak suami atas istrinya adalah ditaati, memegang keputusan di rumah,
dan berkuasa mendidik istrinya dengan baik sesuai dengan syariat.

Hak-hak bersama antara suami istri

Hak-hak bersama antara diantara kedua suami istri adalah hak-hak yang terbukti
merupakan hak untuk keduanya, yaitu berupa penghalalan hubungan suami istri,
saling bergaul dengan baik, saling mewarisi, menjadi muhrim akibat perkawinan, dan
ketetapan dalam masalah keturunan.[6]

4.a. HUKUM NIKAH


Menurut sebagian besar ulama, hukum asal nikah adalah mubah, artinya boleh dikerjakan dan
boleh ditinggalkan. Meskipun demikian ditinjau dari segi kondisi orang yang akan melakukan
pernikahan, hukum nikah dapat berubah menjadi wajib, sunat, makruh dan haram. Adapun
penjelasannya adalah sebagi berikut :

1.

Jaiz, artinya dibolehkan dan inilah yang menjadi dasar hukum nikah.

2.

Wajib, yaitu orang yang telah mampu/sanggup menikah sedangkan bila tidak
menikah khawatir akan terjerumus ke dalam perzinaan.

3.

Sunat, yaitu orang yang sudah mampu menikah namun masih sanggup mengendalikan
dirinya dari godaan yang menjurus kepada perzinaan.

4.

Makruh, yaitu orang yang akan melakukan pernikahan dan telah memiliki
keinginan atau hasrat tetapi ia belum mempunyai bekal untuk memberikan
nafkah tanggungan-nya.

5.

Haram, yaitu orang yang akan melakukan perkawinan tetapi ia mempunyai niat yang
buruk, seperti niat menyakiti perempuan atau niat buruk lainnya
b.