Anda di halaman 1dari 22

Gubernur Provinsi Daerah Khusus

Ibukota Jakarta
PERATURAN GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS
IBUKOTA JAKARTA
NOMOR 38 TAHUN 2012
TENTANG
BANGUNAN GEDUNG HIJAU
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA,

Menimbang

a. bahwa dalam rangka mewujudkan penyelenggaraan bangunan gedung


yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan sumber daya yang
efisien, perlu disusun pengaturan mengenai bangunan gedung hijau;
b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a
dan untuk melaksanakan ketentuan Pasal 118 Peraturan Daerah Nomor
7 Tahun 2010 tentang Bangunan Gedung, perlu menetapkan Peraturan
Gubernur tentang Bangunan Gedung Hijau;

Mengingat

1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung;


2. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang
Nomor 12 tahun 2008;
3. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2007 tentang Pemerintahan Provinsi
Daerah Khusus Ibukota Jakarta sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik
Indonesia;
4. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup;
5. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-undangan;
6. Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung;
7. Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran
Udara;
8. Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2008 tentang Organisasi Perangkat
Daerah;
9. Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2010 tentang Bangunan Gedung;

2
10. Peraturan Gubernur Nomor 54 Tahun 2008 tentang Baku Mutu Kualitas
Udara Dalam Ruang (KUDR);
11. Peraturan Gubernur Nomor 123 Tahun 2009 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan;

MEMUTUSKAN :

Menetapkan

: PERATURAN GUBERNUR TENTANG BANGUNAN GEDUNG HIJAU.

BAB I
KETENTUAN UMUM
Bagian Kesatu
Pengertian
Pasal 1
Dalam Peraturan Gubernur ini yang dimaksud dengan :
1. Daerah adalah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta.
2. Pemerintah Daerah adalah Gubernur dan perangkat daerah sebagai unsur
penyelenggara pemerintahan daerah.
3. Gubernur adalah Kepala Daerah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta.
4. Sekretaris Daerah adalah Sekretaris Daerah Provinsi Daerah Khusus Ibukota
Jakarta.
5. Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan yang selanjutnya disebut Dinas
adalah Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan Provinsi Daerah Khusus
Ibukota Jakarta.
6. Dinas Perindustrian dan Energi adalah Dinas Perindustrian dan Energi
Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta.
7. Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah yang selanjutnya disingkat
BPLHD adalah Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah Provinsi
Daerah Khusus Ibukota Jakarta.
8. Satuan Kerja Perangkat Daerah/Unit Kerja Perangkat Daerah yang
selanjutnya disingkat SKPD/UKPD adalah Satuan Kerja Perangkat Daerah/
Unit Kerja Perangkat Daerah pada Pemerintah Provinsi Daerah Khusus
Ibukota Jakarta.
9. Izin Mendirikan Bangunan gedung yang selanjutnya disingkat IMB adalah
perizinan yang diberikan oleh Pemerintah Daerah kepada pemilik bangunan
gedung untuk membangun baru, mengubah, memperluas dan/atau mengurangi
bangunan gedung sesuai dengan persyaratan administratif dan teknis yang
berlaku.
10. Sertifikat Laik Fungsi yang selanjutnya disingkat SLF adalah sertifikat yang
diberikan oleh Pemerintah Daerah terhadap bangunan gedung yang telah
selesai dibangun dan telah memenuhi persyaratan kelaikan fungsi berdasarkan
hasil pemeriksaan kelaikan fungsi bangunan gedung sebagai syarat untuk dapat
dimanfaatkan.

3
11. Bangunan gedung hijau adalah bangunan gedung yang bertanggung jawab
terhadap lingkungan dan sumber daya yang efisien dari sejak perencanaan,
pelaksanaan konstruksi, pemanfaatan, pemeliharaan, sampai dekonstruksi.
12. Bangunan gedung baru adalah bangunan gedung yang sedang dalam tahap
perencanaan.
13. Bangunan gedung eksisting adalah bangunan gedung yang sedang dalam
tahap pelaksanaan konstruksi dan/atau sudah dalam tahap pemanfaatan.
14. Pemilik bangunan gedung adalah orang, kelompok orang, atau perkumpulan
yang menurut hukum sah sebagai pemilik bangunan gedung.
15. Pengguna bangunan gedung adalah pemilik bangunan gedung dan/atau
bukan pemilik bangunan gedung berdasarkan kesepakatan dengan pemilik
bangunan gedung, yang menggunakan dan/atau mengelola bangunan
gedung atau bagian bangunan gedung sesuai dengan fungsi yang ditetapkan.
16. Pemeliharaan adalah kegiatan menjaga keandalan bangunan gedung
beserta prasarana dan sarananya agar bangunan gedung tetap laik fungsi.
17. Perawatan adalah kegiatan memperbaiki dan/atau mengganti bagian bangunan
gedung, komponen, bahan bangunan dan/atau prasarana dan sarana
bangunan agar bangunan gedung tetap laik fungsi.
18. Divisi pemelihara bangunan adalah sekelompok ahli yang bertugas memelihara
bangunan gedung atas penunjukan pemilik bangunan gedung sesuai
ketentuan pemeliharaan bangunan gedung dan memiliki izin pelaku teknis
bangunan.
19. Pengelola bangunan gedung adalah seorang atau sekelompok orang
ahli/badan yang bertugas mengelola penggunaan bangunan gedung agar
dapat digunakan secara efektif dan efisien.
20. Selubung bangunan adalah elemen bangunan yang menyelubungi
bangunan gedung, yaitu dinding dan atap transparan atau yang tidak
transparan dimana sebagian besar energi termal berpindah melalui elemen
tersebut.
21. Nilai Perpindahan Termal Menyeluruh/Overall Thermal Transfer Value yang
selanjutnya disingkat OTTV adalah suatu nilai yang ditetapkan sebagai
kriteria perancangan untuk dinding dan kaca bagian luar bangunan gedung
yang dikondisikan.
22. Pengkondisian udara adalah usaha mengolah udara untuk mengendalikan
kondisi termal udara, kualitas udara dan penyebarannya di dalam ruang
dalam rangka pemenuhan persyaratan kenyamanan termal pengguna
bangunan.
23. Sistem tata udara adalah keseluruhan sistem yang mengkondisikan udara
di dalam gedung dengan mengatur besaran termal seperti temperatur dan
kelembaban relatif, serta kesegaran dan kebersihannya, sedemikian rupa
sehingga diperoleh kondisi ruangan yang nyaman.
24. Ventilasi adalah proses untuk mencatu udara segar ke dalam bangunan
gedung dalam jumlah yang sesuai kebutuhan.
25. Ventilasi alami adalah pergerakan udara karena adanya perbedaan tekanan
di luar suatu bangunan gedung yang disebabkan oleh angin dan karena
adanya perbedaan temperatur, sehingga terdapat gas-gas panas yang naik
di dalam saluran ventilasi.
26. Ventilasi mekanik adalah pergerakan udara di dalam bangunan dan antara
ruang dalam dengan ruang luar yang menggunakan alat bantu mekanis.
27. Pencahayaan alami adalah pencahayaan bersumber dari alam yang pada
umumnya dikenal sebagai cahaya matahari.

4
28. Pencahayaan buatan adalah pencahayaan yang dihasilkan oleh sumber
cahaya buatan manusia.
29. Konservasi energi adalah upaya mengefisienkan pemakaian energi untuk
suatu kebutuhan agar pemborosan energi dapat dihindarkan.
30. Konservasi air adalah upaya mengefisienkan pemakaian air untuk suatu
kebutuhan agar pemborosan air dapat dihindarkan.
31. Air domestik adalah air yang digunakan untuk mendukung kegiatan dalam
bangunan gedung.
32. Air sekunder adalah air yang digunakan untuk kebutuhan penggelontoran
Water Closet (WC), pemeliharaan fasilitas bangunan gedung, sistem
pengkondisian udara dan siram tanaman.
33. Baku Mutu Kualitas Udara Dalam Ruangan adalah batas maksimum
dan/atau batas minimum zat atau bahan pencemar yang boleh ada
diperkenankan di dalam ruangan.
34. Sumur resapan air hujan adalah sistem resapan buatan yang dapat
menampung air hujan akibat dari adanya penutupan permukaan tanah oleh
bangunan gedung dan prasarananya, yang disalurkan melalui atap, pipa
talang maupun saluran, dapat berbentuk sumur, kolam dengan resapan,
saluran porous dan sejenisnya.
35. Sistem penampungan air hujan adalah suatu sistem yang dapat
menampung air hujan untuk digunakan sebagai salah satu sumber pasokan
sistem daur ulang air pada suatu bangunan gedung.
36. Sistem jaringan perpipaan air limbah adalah sistem perpipaan yang
dibangun untuk menyalurkan air limbah domestik dan air limbah sekunder
menuju tempat pengolahan air limbah terpusat (kota).
37. Bahan berbahaya dan beracun yang selanjutnya disingkat B3 adalah zat,
energi dan/atau komponen lain yang karena sifat, konsentrasi, dan/atau jumlahnya,
baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau
merusak lingkungan hidup, dan/atau membahayakan lingkungan hidup,
kesehatan, serta kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lain.
38. Sampah organik adalah sampah yang terdiri dari bahan-bahan yang dapat
terurai secara alami atau proses biologi.
39. Sampah anorganik adalah sampah yang terdiri dari bahan-bahan yang sulit
terurai secara biologis sehingga penghancurannya membutuhkan penanganan
lebih lanjut.
40. Sampah Bahan Berbahaya dan Beracun yang selanjutnya disebut sampah
B3 adalah sampah yang terdiri dari sisa atau bekas bahan-bahan
berbahaya dan beracun.
41. Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, yang selanjutnya disebut limbah
B3 adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung B3.
42. Izin Pelaku Teknis Bangunan yang selanjutnya disingkat IPTB adalah surat
izin yang dapat dipakai untuk perencanaan, pengawasan dan pengkajian.
43. Direksi Pengawas adalah seorang atau sekelompok ahli/badan yang
bertugas mengawasi pelaksanaan kegiatan membangun atas penunjukan
pemilik bangunan sesuai ketentuan izin membangun, yang penanggung
jawabnya mempunyai IPTB dan perusahaannya berbentuk badan hukum
serta memiliki Sertifikasi untuk turut berperan aktif dalam mengamankan
pelaksanaan tertib pembangunan, termasuk segi keamanan bangunan.

5
44. Standar Nasional Indonesia yang selanjutnya disingkat SNI adalah standar
yang ditetapkan oleh Badan Standardisasi Nasional dan berlaku secara
nasional.
Bagian Kedua
Maksud dan Tujuan
Pasal 2
Penyusunan Peraturan Gubernur ini dimaksudkan sebagai acuan bagi aparat
pelaksana maupun pemohon dalam memenuhi persyaratan bangunan gedung
hijau, yang bertujuan mewujudkan penyelenggaraan bangunan gedung yang
memperhatikan aspek-aspek dalam menghemat, menjaga dan menggunakan
sumber daya secara efisien.
BAB II
PERSYARATAN TEKNIS PADA BANGUNAN GEDUNG BARU
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 3
(1) Penyelenggaraan bangunan gedung dengan jenis dan luasan tertentu wajib
memenuhi persyaratan bangunan gedung hijau.
(2) Penyelenggaraan bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
meliputi bangunan gedung baru dan bangunan gedung eksisting.
(3) Jenis dan luasan bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
meliputi :
a. fungsi hunian, bangunan gedung rumah susun, dengan luas batasan seluruh
lantai bangunan lebih dari 50.000 m2 (lima puluh ribu meter persegi);
b. fungsi usaha, bangunan gedung perkantoran, dengan luas batasan seluruh
lantai bangunan lebih dari 50.000 m2 (lima puluh ribu meter persegi);
c. fungsi usaha, bangunan gedung perdagangan, dengan luas batasan seluruh
lantai bangunan lebih dari 50.000 m2 (lima puluh ribu meter persegi);
d. bangunan gedung yang memiliki lebih dari satu fungsi dalam 1 (satu)
massa bangunan, dengan luas batasan seluruh lantai bangunan lebih
dari 50.000 m2 (lima puluh ribu meter persegi);
e. fungsi usaha, bangunan gedung perhotelan, dengan luas batasan seluruh
lantai bangunan lebih dari 20.000 m2 (dua puluh ribu meter persegi);
f. fungsi sosial dan budaya, bangunan gedung pelayanan kesehatan, dengan
luas batasan seluruh lantai bangunan lebih dari 20.000 m2 (dua puluh ribu
meter persegi); dan/atau
g. fungsi sosial dan budaya, bangunan gedung pelayanan pendidikan, dengan
luas batasan seluruh lantai bangunan lebih dari 10.000 m2 (sepuluh ribu
meter persegi).
(4) Luasan bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), ditentukan
berdasarkan luasan bangunan yang dinyatakan dalam Rencana Tata Letak
Bangunan (RTLB) dalam satu daerah perencanaan.
(5) Apabila pada suatu daerah perencanaan eksisting, akan dilakukan
penambahan bangunan gedung, maka terhadap penambahan tersebut
diwajibkan mengikuti ketentuan teknis sebagaimana diatur dalam persyaratan
pada bangunan gedung baru.

6
(6) Terhadap daerah perencanaan yang terdiri dari bangunan gedung dengan
fungsi yang berbeda maka perencanaan teknis bangunan gedung hijau
harus mengacu pada fungsi dari setiap bangunan gedung.
Pasal 4
Persyaratan teknis bangunan gedung hijau untuk bangunan gedung baru
meliputi :
a. efisiensi energi;
b. efisiensi air;
c. kualitas udara dalam ruang;
d. pengelolaan lahan dan limbah; dan
e. pelaksanaan kegiatan konstruksi.
Bagian Kedua
Efisiensi Energi
Paragraf 1
Umum
Pasal 5
(1) Kriteria efisiensi energi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf a,
meliputi :
a. sistem selubung bangunan;
b. sistem ventilasi;
c. sistem pengkondisian udara;
d. sistem pencahayaan;
e. sistem transportasi dalam gedung; dan
f. sistem kelistrikan.
(2) Perencanaan penggunaan peralatan mekanikal elektrikal dalam upaya
untuk efisiensi energi dan pemenuhan kriteria teknis bangunan gedung
hijau sebagaimana dimaksud pada ayat (1), sesuai yang tercantum dalam
Form I Lampiran Peraturan Gubernur ini.
Paragraf 2
Sistem Selubung Bangunan
Pasal 6
(1) Untuk mengefisienkan beban pendingin ruangan, perencanaan selubung
bangunan harus merencanakan selubung bangunan dengan menghitung
OTTV tidak melebihi 45 (empat puluh lima) watt/m2.
(2) Untuk perhitungan OTTV menggunakan metode perhitungan sebagaimana
tercantum dalam Form II Lampiran Peraturan Gubernur ini atau menggunakan
program komputer (software) pemodelan energi (energy modelling).
(3) Perencanaan mengenai OTTV mengacu pada SNI 03-6389 tentang Konservasi
Energi Selubung Bangunan pada Bangunan Gedung.

7
Paragraf 3
Sistem Ventilasi
Pasal 7
(1) Ventilasi alami digunakan selama memungkinkan untuk meminimalkan beban
pendinginan.
(2) Ventilasi mekanis digunakan jika ventilasi alami tidak memungkinkan.
(3) Perencanaan ventilasi mekanis mengacu pada versi terakhir dari SNI 036572 tentang Tata Cara Perancangan Sistem Ventilasi dan Pengkondisian
Udara pada Bangunan Gedung.
Paragraf 4
Sistem Pengkondisian Udara
Pasal 8
(1) Perencanaan temperatur udara dalam ruang hunian ditetapkan serendahrendahnya 250C (dua puluh lima derajat celcius) dan kelembaban relatif 60%
(enam puluh persen) 10% (kurang lebih sepuluh persen) dan untuk
mempertahankan kondisi termal dimaksud ruangan diperlukan sensor
temperatur.
(2) Ruangan yang memerlukan temperatur khusus di luar nilai sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), mengikuti pedoman dan ketentuan teknis yang
berlaku.
(3) Perencanaan sistem pengkondisian udara harus mempertimbangkan desain
yang efisien dan mengacu pada versi terakhir dari SNI 03-6572 tentang Tata
Cara Perancangan Sistem Ventilasi dan Pengkondisian Udara pada Bangunan
Gedung.
Pasal 9
(1) Pendinginan Kawasan Terpadu (district cooling) sepanjang memungkinkan
dapat menyediakan pendinginan efektif yang dibutuhkan oleh beberapa
bangunan gedung di lokasi yang berdekatan.
(2) Untuk mempertahankan kinerja sistem chiller pada kondisi efisien sepanjang
waktu operasi, perencanaan jumlah dan ukuran chiller harus sesuai dengan
profil beban pendinginan bangunan gedung.
(3) Variable Air Volume (VAV) diperlukan untuk mengontrol zona dengan
menggunakan beragam kecepatan fan untuk mempertahankan efisiensi pada
beban pendinginan yang beragam.
(4) Variable Speed Drive (VSD) digunakan pada pompa air penyejuk (chilled
water) untuk memperoleh penghematan energi.
(5) Variable Speed Drive (VSD) digunakan pada menara pendingin (cooling
tower) untuk memperoleh penghematan energi dan air.
(6) Sistem pengkondisian udara dilengkapi dengan sistem zonasi sehingga
memungkinkan kebutuhan beban minimal dalam bangunan gedung tetap
terpenuhi dengan efisien.
(7) Sistem kontrol chiller terpusat direncanakan beroperasi secara berurutan
sehingga memberikan pengaruh penurunan konsumsi energi terutama saat
bekerja pada kondisi beban sebagian (part load).
(8) Perencanaan ventilasi mekanis dan/atau sistem pengkondisian udara mengacu
pada versi terakhir dari SNI 03-6572 tentang Tata Cara Perancangan Sistem
Ventilasi dan Pengkondisian Udara pada Bangunan Gedung.

8
(9) Perencanaan sistem ventilasi mekanis dan/atau sistem pengkondisian udara
mengacu pada versi terakhir dari SNI 03-6390 tentang Konservasi Energi
Sistem Tata Udara pada Bangunan Gedung.
Paragraf 5
Sistem Pencahayaan
Pasal 10
(1) Sistem pencahayaan alami harus menjadi bagian integral dari perencanaan
sistem tata cahaya bangunan gedung.
(2) Perencanaan sistem pencahayaan alami sebagaimana dimaksud pada
ayat (1), mengacu pada versi terakhir dari SNI 03-2396 tentang Tata Cara
Perancangan Sistem Pencahayaan Alami pada Bangunan Gedung.
Pasal 11
(1) Pencahayaan buatan digunakan pada kondisi pencahayaan alami yang
tidak memenuhi standar tingkat pencahayaan (iluminasi).
(2) Perencanaan harus merencanakan zonasi pencahayaan yang memungkinkan
dimanfaatkannya pencahayaan alami.
(3) Perencanaan pencahayaan buatan pada bangunan gedung perkantoran
menggunakan dimmer untuk menghemat konsumsi energi listrik.
(4) Perencanaan harus merencanakan penempatan sensor photoelectric untuk
sistem lampu eksterior dan sistem lampu interior.
(5) Sensor photoelectric pada sistem lampu interior ditempatkan pada daerah
sejauh 1,5 (satu koma lima) x tinggi rata-rata antar lantai dari dinding terluar
dan/atau pada daerah bukaan dimana sinar pencahayaan alami dapat
masuk.
(6) Perencanaan sistem pencahayaan buatan mengacu pada versi terakhir dari
SNI 03-6197 tentang Konservasi Energi Sistem Pencahayaan Buatan pada
Bangunan Gedung.
Paragraf 6
Sistem Transportasi Dalam Gedung
Pasal 12
(1) Perencanaan sarana transportasi vertikal bangunan gedung harus
mempertimbangkan beban dan waktu penggunaan.
(2) Perencanaan lift menggunakan traffic management system.
(3) Perencanaan sistem transportasi dalam gedung dan perhitungan terhadap
beban dan waktu penggunaan mengacu pada versi terakhir dari SNI 03-6573
tentang Tata Cara Perancangan Sistem Transportasi Vertikal dalam Gedung.
Paragraf 7
Sistem Kelistrikan
Pasal 13
(1) Perencanaan sistem kelistrikan harus menggunakan peralatan listrik yang
hemat energi.

9
(2) Perencanaan sistem kelistrikan harus memperhitungkan terjadinya
ketidakseimbangan tegangan (voltage unbalance) dan memperhitungkan
faktor daya (power factor) sesuai dengan pedoman dan standar teknis yang
berlaku.
(3) Penggunaan piranti elektronika daya dalam pemanfaatan dan pengontrolan
energi listrik agar memasang kompensator (filter) untuk menurunkan
gangguan harmonisa.
(4) Perencanaan bangunan gedung hijau menggunakan Sistem Pengendalian
Energi/Building Management Systems (BMS), kecuali bangunan gedung
dengan fungsi pelayanan pendidikan.
(5) Perencanaan sistem kelistrikan harus menyediakan sub-meter energi listrik
untuk kelompok daya listrik substantif/utama yang lebih besar dari
100 (seratus) kVA pada tiap kelompoknya.
(6) Kelompok daya listrik substantif/utama sebagaimana dimaksud pada ayat (5),
antara lain :
a. chiller;
b. air handling unit; dan
c. lift.
Bagian Ketiga
Efisiensi Air
Paragraf 1
Umum
Pasal 14
Kriteria efisensi air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf b, meliputi :
a. perencanaan peralatan saniter hemat air; dan
b. perencanaan pemakaian air.
Paragraf 2
Perencanaan Peralatan Saniter Hemat Air
Pasal 15
(1) Perencanaan harus menggunakan peralatan sanitasi yang hemat air.
(2) Peralatan sanitasi yang hemat air mengacu pada versi terakhir dari SNI 036481 tentang Sistem Plumbing.
Paragraf 3
Perencanaan Pemakaian Air
Pasal 16
(1) Perencanaan pemakaian air tidak melebihi pedoman dan standar yang
tercantum pada versi terakhir dari SNI 03-6481 tentang Sistem Plumbing.
(2) Perencanaan harus merencanakan penempatan alat ukur penggunaan konsumsi
air (sub meter air) pada :
a. sistem pemakaian air dari Perusahaan Daerah Air Minum dan/atau air tanah;
b. sistem pemakaian air daur ulang; dan

10
c. sistem pasokan air tambahan lainnya jika kedua sistem di atas tidak
mencukupi.

Pasal 17
(1) Air daur ulang dari sistem pengolahan air limbah dimanfaatkan untuk konsumsi
air sekunder.
(2) Air kondensasi yang berasal dari unit pengkondisian udara dimanfaatkan
untuk konsumsi air sekunder.
(3) Penyiraman tanaman pada lanskap harus menggunakan sumber selain air
tanah dan/atau air dari Perusahaan Daerah Air Minum.

Bagian Keempat
Kualitas Udara Dalam Ruang
Pasal 18
(1) Perencanaan kualitas udara dalam ruang harus memenuhi ketentuan
peraturan perundang-undangan dengan memperhitungkan laju pergantian
udara dalam ruang dan masukan udara segar.
(2) Setiap ruang yang berpotensi menerima akumulasi konsentrasi
karbondioksida (CO2) harus dilengkapi dengan alat monitor karbondioksida
(CO2) yang dilengkapi dengan alarm dan sistem ventilasi mekanis yang akan
beroperasi otomatis jika ambang batas karbondioksida (CO 2) telah melewati
ambang batas aman.
(3) Setiap area parkir tertutup yang berpotensi menerima akumulasi konsentrasi
karbonmonoksida (CO) harus dilengkapi dengan alat monitor karbonmonoksida
(CO) yang dilengkapi dengan alarm dan sistem ventilasi mekanis yang akan
beroperasi otomatis jika ambang batas karbonmonoksida (CO) telah melewati
ambang batas aman.
(4) Refrigeran tata udara yang digunakan harus mengandung material yang
aman dan tidak berbahaya bagi penghuni dan lingkungan.
(5) Refrigeran tata udara harus menggunakan bahan yang tidak mengandung
Chloro Fluoro Carbon (CFC).

Bagian Kelima
Pengelolaan Lahan dan Limbah
Paragraf 1
Umum
Pasal 19
Persyaratan pengelolaan lahan dan limbah sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 4 huruf d, meliputi :
a. persyaratan tata ruang;
b. fasilitas pendukung; dan
c. pengelolaan limbah padat dan cair.

11
Paragraf 2
Persyaratan Tata Ruang
Pasal 20
Persyaratan tata ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 huruf a, meliputi :
a. perencanaan lanskap pada dan/atau di dalam bangunan gedung serta di luar
bangunan gedung; dan
b. perencanaan sistem penampungan air hujan.
Pasal 21
(1) Perencanaan dan pelaksanaan penanaman vegetasi alami pada dan/atau di
dalam bangunan gedung, dilakukan dengan kriteria :
a. untuk bangunan dengan jumlah lantai 5 (lima), luas penanaman
vegetasi alami sebesar 15% (lima belas persen) dari luas lantai dasar;
b. untuk bangunan dengan jumlah lantai 9 (sembilan), luas penanaman
vegetasi alami sebesar 30% (tiga puluh persen) dari luas lantai dasar;
dan
c. untuk bangunan dengan jumlah lantai > 9 (sembilan), luas penanaman
vegetasi alami sebesar 45% (empat puluh lima persen) dari luas lantai
dasar.
(2) Perencanaan dan pelaksanaan penanaman vegetasi alami pada dan/atau di
dalam bangunan gedung dilakukan dengan metode :
a. penghijauan atap datar (green roof);
b. pembuatan taman di dalam bangunan gedung (inner court/interior scape);
dan/atau
c. penghijauan vertikal (vertical greenery).
(3) Komposisi dan metode penanaman vegetasi alami sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dan ayat (2), disesuaikan dengan desain bangunan gedung
dengan mengacu tabel sebagaimana tercantum dalam Form III Lampiran
Peraturan Gubernur ini.
(4) Perencanaan dan pelaksanaan penanaman vegetasi alami di luar bangunan
gedung mengikuti tabel sebagaimana tercantum dalam Form IV Lampiran
Peraturan Gubernur ini.
(5) Perkerasan yang dibangun pada area di luar bangunan gedung menggunakan
material yang dapat meresapkan air (permeable) sepanjang hal tersebut
memungkinkan secara teknis.
(6) Pemilihan jenis vegetasi alami pada dan/atau di dalam bangunan gedung
serta di luar bangunan gedung dilakukan dengan pertimbangan :
a. tidak mengkonsumsi banyak air;
b. tahan terhadap iklim tropis (drought tolerant); dan
c. mengutamakan pemakaian vegetasi lokal Indonesia.
Pasal 22
(1) Setiap bangunan gedung hijau harus menyediakan sistem penampungan
air hujan untuk mengurangi limpasan air hujan yang akan disalurkan pada
sistem drainase kota.

12
(2) Selain menyediakan sistem penampungan air hujan, setiap bangunan hijau
juga harus melaksanakan pembuatan sumur resapan dan kolam resapan
pada lokasi yang efektif bagi kinerja sumur resapan.
(3) Volume sistem penampungan air hujan (dalam m3) sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), sebesar 0,05 m (nol koma nol lima meter) x luas lantai
dasar (dalam m2).
(4) Untuk efisiensi kinerja penampungan dan pengolahan sistem penampungan
air hujan dapat dilakukan dengan menyekat atau membuat kompartemen
pada sistem penampungan air hujan menjadi beberapa bagian.
Pasal 23
(1) Untuk bangunan gedung hijau yang terletak pada lokasi dengan kriteria :
a. kedalaman muka air tanah 1,5 m (satu koma lima meter) pada musim
hujan; dan/atau
b. tanah dengan daya serap air < 2 cm/jam (dua sentimeter per jam), maka
pembuatan sumur/kolam resapan akan tidak efektif, sehingga tidak
diwajibkan membuat sumur/kolam resapan.
(2) Untuk bangunan gedung hijau sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
volume sumur/kolam resapan yang seharusnya menjadi kewajiban harus
ditambahkan ke besaran volume sistem penampungan air hujan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 22 ayat (3).
(3) Skema perencanaan sistem penampungan air hujan mengikuti alur
sebagaimana tercantum dalam Form V Lampiran Peraturan Gubernur ini.
Paragraf 3
Fasilitas Pendukung
Pasal 24
Dalam rangka penyediaan fasilitas pendukung, maka bangunan gedung hijau
harus :
a. menyediakan fasilitas pedestrian untuk mencapai jaringan transportasi umum
terdekat;
b. menyediakan jalur pedestrian sebagai jalur publik menuju ruang publik
lainnya guna kemudahan aksesibilitas bagi pejalan kaki; dan
c. menyediakan akses yang memudahkan aksesibilitas pejalan kaki, bagi
bangunan gedung hijau yang dibangun berdekatan/bersebelahan dengan
beberapa kavling/persil.
Pasal 25
(1) Selain harus menyediakan fasilitas pendukung sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 24, bangunan gedung hijau harus memiliki fasilitas sarana parkir sepeda
sekurang-kurangnya 1 (satu) rak sepeda untuk setiap kelipatan 2.500 m2
(dua ribu lima ratus meter persegi) luas lantai bangunan gedung.
(2) Bangunan gedung hijau dengan peruntukan perkantoran dan pelayanan
pendidikan harus menyediakan fasilitas kamar mandi bagi pengguna
sepeda sekurang-kurangnya 10% (sepuluh persen) dari jumlah rak sepeda.
(3) Penyediaan fasilitas sarana parkir sepeda dan kamar mandi bagi pengguna
sepeda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), berlaku untuk
bangunan gedung baru dan eksisting.

13
Paragraf 4
Pengelolaan Limbah Padat dan Limbah Cair
Pasal 26
(1) Bangunan gedung hijau harus dilengkapi fasilitas untuk mengelola limbah
padat.
(2) Selain dilengkapi fasilitas untuk mengelola limbah padat, bangunan gedung
hijau harus dilengkapi fasilitas atau instalasi untuk mengelola limbah cair,
sehingga hasil buangannya memenuhi standar baku mutu yang berlaku.
(3) Bangunan gedung hijau yang terletak di daerah pelayanan sistem jaringan
perpipaan air limbah, wajib memanfaatkan jaringan perpipaan air limbah
tersebut.
(4) Pada bangunan gedung hijau sebagaimana dimaksud pada ayat (3),
apabila hendak mengolah limbah cair untuk keperluan air sekunder maka
diperkenankan mengolahnya, sedangkan sisa limbahnya wajib untuk dibuang
ke sistem jaringan perpipaan air limbah sesuai ketentuan peraturan
perundangan.
Bagian Keenam
Pelaksanaan Kegiatan Konstruksi
Paragraf 1
Umum
Pasal 27
(1) Persyaratan pelaksanaan kegiatan konstruksi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 4 huruf e, meliputi :
a. keselamatan, kesehatan kerja dan lingkungan;
b. konservasi air pada saat pelaksanaan kegiatan konstruksi (water
conservation management); dan
c. pengelolaan limbah B3 kegiatan konstruksi (hazardous construction waste
management).
(2) Pelaksana kegiatan konstruksi harus melaporkan pelaksanaan kegiatan
konstruksi kepada Dinas agar selalu memenuhi kriteria bangunan gedung
hijau dengan menggunakan formulir sebagaimana tercantum dalam Form VI
Lampiran Peraturan Gubernur ini.

Paragraf 2
Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan
Pasal 28
(1) Pelaksana kegiatan konstruksi harus menjaga kebersihan lokasi proyek dan
kendaraan proyek dengan menyediakan sarana kolam cuci (washing bay)
pada lokasi proyek.
(2) Kebisingan yang ditimbulkan dari aktivitas pelaksanaan konstruksi di lapangan
tidak boleh melampaui ambang batas kebisingan yang ditetapkan dalam
ketentuan teknis yang berlaku.

14
Pasal 29
(1) Pelaksana konstruksi wajib menyediakan fasilitas Mandi Cuci Kakus (MCK)
dan bedeng pekerja.
(2) Pelaksana konstruksi harus membuat sumur resapan sementara untuk air
limbah kegiatan konstruksi dan menyediakan kolam pengendapan (sump pit)
untuk penampungan limbah bentonite, lumpur dan sisa beton.
(3) Penggunaan jaring pengaman di sekeliling bangunan (full safety net) untuk
mengendalikan sebaran debu dan puing.

Paragraf 3
Konservasi Air Kegiatan Konstruksi (water conservation management)
Pasal 30
(1) Air bersih untuk kebutuhan pelaksanaan kegiatan konstruksi harus menggunakan
tempat penampungan air (water reservoir).
(2) Untuk melaksanaan kegiatan konstruksi yang melakukan pemompaan air
(dewatering) harus dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut :
a. membuat sumur pantau dan mengamati penurunan air tanah sesuai
dengan perencanaan pemompaan air (dewatering) yang telah disetujui;
b. mengamati kemungkinan terjadinya penurunan muka tanah di sekitar
proyek berdasarkan radius pengaruh akibat pemompaan air (dewatering);
c. mengambil langkah-langkah pengamanan dan penanggulangan terhadap
pengaruh negatif yang timbul akibat dewatering pada lokasi proyek
maupun lingkungan sekitarnya; dan
d. memanfaatkan kembali air hasil pemompaan air (dewatering) melalui
water filtering system sebagai salah satu sumber pasokan air bersih
pada pelaksanaan kegiatan konstruksi.

Paragraf 4
Pengelolaan B3 Kegiatan Konstruksi
Pasal 31
(1) Apabila pelaksana konstruksi menggunakan B3 harus menyediakan absorban
untuk penyimpanannya.
(2) Pelaksana konstruksi juga harus melakukan pemilahan sampah berdasarkan
sampah organik, sampah anorganik dan sampah B3 dan menyediakan tempat
sampah sementara serta mengatur posisi/letak penempatannya sehingga
tidak mengganggu lingkungan.
(3) Pengelolaan limbah B3 sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus mengikuti
prosedur sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

15
BAB III
PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG EKSISTING
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 32
(1) Persyaratan teknis bangunan gedung hijau untuk bangunan gedung
eksisting meliputi :
a. konservasi dan efisiensi energi;
b. konservasi dan efisiensi air;
c. kualitas udara dalam ruang dan kenyamanan termal; dan
d. manajemen operasional/pemeliharaan.
(2) Pemilik bangunan gedung berkewajiban/bertanggung jawab atas
terselenggaranya pelaksanaan pemanfaatan energi dan konservasi air yang
efisien serta menjaga kualitas udara dalam ruang.
(3) Manajemen operasional/divisi pemelihara bangunan gedung melakukan
kegiatan pemeliharaan, perawatan, monitoring dan evaluasi, sehingga
bangunan gedung selalu berada dalam kinerja yang efisien.
(4) Pengguna bangunan gedung wajib mematuhi ketentuan penggunaan bangunan
gedung berdasar Standar Operasional Prosedur (SOP) untuk terlaksananya
pemanfaatan energi dan konservasi air yang efisien serta menjaga kualitas
udara dalam ruang.

Bagian Kedua
Konservasi dan Efisiensi Energi
Pasal 33
(1) Audit energi dilakukan untuk memperoleh kinerja penggunaan energi pada
bangunan gedung tersebut.
(2) Konservasi dan efisiensi energi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32
ayat (1) huruf a, dilakukan dengan melakukan serangkaian kegiatan konservasi
dan peningkatan efisiensi secara terencana dan sistematis sampai dengan
batas optimasi paling efisien.
(3) Untuk menganalisa penggunaan dan potensi penghematan energi
sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dilakukan oleh manajemen operasional/
divisi pemelihara bangunan gedung dan/atau auditor energi berkompeten
dengan mengacu pada metode sebagaimana tercantum dalam Form VII
Lampiran Peraturan Gubernur ini.
(4) Manajemen operasional/divisi pemelihara bangunan gedung harus melaporkan
data konsumsi energi setiap 12 (dua belas) bulan sekali kepada Dinas
dengan tembusan kepada Dinas Perindustrian dan Energi, menggunakan
formulir sebagaimana tercantum dalam Form VIII Lampiran Peraturan
Gubernur ini.

16
Bagian Ketiga
Konservasi dan Efisiensi Air
Pasal 34
Kriteria konservasi dan efisiensi air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32
ayat (1) huruf b, meliputi efisiensi penggunaan air dan pemantauan kualitas air.
Pasal 35
(1) Pemakaian air harus dibatasi penggunaannya dan harus selalu
mengupayakan penurunan konsumsi sampai dengan batas optimasi paling
efisien.
(2) Pemakaian air harus dikontrol melalui alat ukur (meter air) yang dipasang
pada setiap jenis sumber pasokan air.
(3) Air hasil keluaran Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL) harus memenuhi
baku mutu sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
(4) Air hasil keluaran Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL) yang didaur ulang
dapat digunakan untuk :
a. mendinginkan chiller AC (khusus tipe water cooled chiller);
b. sistem penggelontoran pada toilet; dan/atau
c. menyiram tanaman.
(5) Manajemen operasional/divisi pemelihara bangunan gedung harus melaporkan
data konsumsi dan kualitas air secara berkala setiap 12 (dua belas) bulan
sekali kepada Dinas dengan tembusan kepada BPLHD, dengan menggunakan
formulir sebagaimana tercantum dalam Form IX Lampiran Peraturan
Gubernur ini.
(6) Air tanah dan air hasil daur ulang harus diuji pada laboratorium yang
terakreditasi.
Bagian Keempat
Kualitas Udara Dalam Ruang dan Kenyamanan Termal
Paragraf 1
Umum
Pasal 36
Persyaratan kualitas udara dalam ruang dan kenyamanan termal sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 32 ayat (1) huruf c, meliputi :
a. kualitas udara dalam ruang; dan
b. kenyamanan termal.
Paragraf 2
Kualitas Udara Dalam Ruang
Pasal 37
(1) Kualitas udara dalam ruangan harus memenuhi pedoman dan standar
teknis yang berlaku.
(2) Setiap ruang yang berpotensi menerima akumulasi konsentrasi karbondioksida
(CO2) harus dipantau melalui alat monitor karbondioksida (CO2) yang
dilengkapi dengan alarm.

17
(3) Apabila kadar karbondioksida (CO2) berada di atas ambang batas maka
sistem ventilasi mekanis akan beroperasi secara otomatis.
(4) Setiap area parkir tertutup yang berpotensi menerima akumulasi konsentrasi
karbonmonoksida (CO) harus dipantau melalui alat monitor (CO) yang
dilengkapi dengan alarm.
(5) Apabila kadar (CO) berada di atas ambang batas maka sistem ventilasi
mekanis akan beroperasi secara otomatis.
(6) Pengelola bangunan gedung melaporkan data kualitas udara dalam ruangan
secara berkala setiap 12 (dua belas) bulan sekali kepada Dinas dengan
tembusan kepada BPLHD dengan menggunakan formulir sebagaimana
tercantum dalam Form X Lampiran Peraturan Gubernur ini.
Paragraf 3
Kenyamanan Termal
Pasal 38
Manajemen operasional dan pemeliharaan wajib untuk memastikan terlaksananya
kondisi kenyamanan termal dengan kriteria sebagai berikut :
a. temperatur udara dalam ruang hunian ditetapkan serendah-rendahnya 250C
(dua puluh lima derajat celcius) dan kelembaban relatif pada kisaran 60%
(enam puluh persen) 10% (kurang lebih sepuluh persen); dan
b. ruangan yang memerlukan temperatur khusus di luar nilai sebagaimana tersebut
pada huruf a harus mengikuti pedoman dan ketentuan teknis yang berlaku.
Bagian Kelima
Manajemen Operasional/Pemeliharaan
Paragraf 1
Umum
Pasal 39
Manajemen operasional/pemeliharaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32
ayat (1) huruf d, meliputi kegiatan:
a. monitoring; dan
b. evaluasi.
Paragraf 2
Monitoring
Pasal 40
(1) Setiap bangunan gedung harus memiliki manajemen operasional/divisi
pemelihara bangunan gedung yang berkompeten dengan tugas memelihara
dan mengelola kinerja teknis bangunan gedung secara kontinu berdasar
Standar Operasional Prosedur.
(2) Manajemen operasional/divisi pemelihara bangunan gedung harus memonitor
parameter teknis terkait dengan penyelenggaraan bangunan gedung hijau.
Paragraf 3
Evaluasi
Pasal 41
(1) Evaluasi terhadap parameter bangunan gedung bertujuan untuk mencapai
kinerja seluruh komponen bangunan gedung sampai dengan batas optimasi
paling efisien.

18
(2) Apabila nilai parameter bangunan gedung tidak mencapai batas optimasi
paling efisien, maka harus dianalisis peluang hemat energi.
(3) Setiap bangunan gedung harus memiliki program konservasi yang mencakup
bidang :
a. energi;
b. air;
c. kualitas udara dalam ruang; dan
d. kenyamanan termal.
(4) Program konservasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3), harus dilaporkan
ke Dinas dan resume pelaksanaan rencana program konservasi dan efisiensi
energi dan air serta kualitas udara dalam ruang dan kenyamanan termal
diletakkan pada area publik dalam kavling/persil/bangunan, sehingga menjadi
sarana kontrol komitmen dan edukasi lingkungan bagi masyarakat luas.
BAB IV
PENILAIAN DAN PENGAWASAN
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 42
Penilaian dan pengawasan terhadap pemenuhan persyaratan bangunan gedung
hijau sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, dilakukan pada bangunan gedung
baru dan bangunan gedung eksisting.
Bagian Kedua
Bangunan Gedung Baru
Pasal 43
(1) Terhadap bangunan gedung yang pada saat berlakunya Peraturan Gubernur
ini masih dalam tahap perencanaan, maka dikategorikan sebagai bangunan
gedung baru.
(2) Penilaian dan pengawasan pada bangunan gedung baru sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), dilakukan melalui penilaian terhadap dokumen
perencanaan teknis bangunan gedung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4.
(3) Dokumen perencanaan teknis bangunan gedung sebagaimana dimaksud
pada ayat (2), dibuat oleh Perencana yang memiliki IPTB.
(4) Terhadap dokumen perencanaan teknis bangunan gedung sebagaimana
dimaksud pada ayat (3), yang telah memenuhi persyaratan bangunan gedung
hijau, selanjutnya dapat diterbitkan IMB.
(5) Setelah bangunan gedung baru selesai dilaksanakan, maka penilaian teknis
kinerja bangunan gedung hijau mengikuti ketentuan sebagaimana yang
diberlakukan pada bangunan gedung eksisting.
Bagian Ketiga
Bangunan Gedung Eksisting
Pasal 44
(1) Terhadap bangunan gedung yang pada saat Peraturan Gubernur ini
ditetapkan sedang dalam tahap pelaksanaan konstruksi dan/atau sudah
dalam tahap pemanfaatan, maka dikategorikan sebagai bangunan gedung
eksisting.

19
(2) Penilaian dan pengawasan pada bangunan gedung eksisting sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), dilakukan melalui :
a. pemeriksaan lapangan sesuai tahapan pelaksanaan konstruksi;
b. pelaksanaan uji coba; dan
c. pelaksanaan program konservasi yang mencakup bidang : energi, air,
kualitas udara dalam ruang dan kenyamanan termal.
Pasal 45
(1) Pengawasan pada tahap pelaksanaan konstruksi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 44 ayat (2) huruf a, dilakukan oleh Direksi Pengawas yang
memiliki IPTB.
(2) Terhadap laporan Direksi Pengawas, selanjutnya dilakukan penilaian dan
pemeriksaan lapangan oleh Dinas.
(3) Untuk pelaksanaan uji coba sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 ayat (2)
huruf b, dilakukan oleh Direksi Pengawas yang memiliki IPTB.
(4) Terhadap laporan hasil uji coba yang disampaikan oleh Direksi Pengawas,
selanjutnya dilakukan penilaian dan pemeriksaan lapangan oleh Dinas.
Pasal 46
(1) Pelaksanaan program konservasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44
ayat (2) huruf c, dilakukan oleh divisi pemelihara bangunan dan/atau pengelola
bangunan gedung.
(2) Terhadap laporan pelaksanaan program konservasi selanjutnya dilakukan
penilaian dan pemeriksaan lapangan oleh Dinas.
Pasal 47
Terhadap pelaksanaan konstruksi, pelaksanaan hasil uji coba dan pelaksanaan
program konservasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 ayat (2), yang
telah memenuhi persyaratan bangunan gedung hijau, selanjutnya diterbitkan SLF.
BAB V
PENGAWASAN
Pasal 48
Pengawasan atas pelaksanaan ketentuan Peraturan Gubernur ini secara teknis
dan operasional dilakukan oleh Dinas.
BAB VI
PEMBINAAN
Pasal 49
(1) Pembinaan terhadap pelaksanaan Peraturan Gubernur ini dilakukan oleh
Dinas.
(2) Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan dalam bentuk :
a. sosialisasi kebijakan Pemerintahan Daerah; dan
b. pembekalan bagi aparat pelaksana.
(3) Dalam melakukan pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Dinas
dapat mengikutsertakan SKPD/UKPD terkait.

20
BAB VII
SANKSI
Pasal 50
Terhadap perencanaan dan pelaksanaan bangunan gedung yang melanggar
ketentuan Pasal 6 ayat (1) dan ayat (3), Pasal 7 ayat (3), Pasal 8 ayat (3), Pasal 9
ayat (2), ayat (8) dan ayat (9), Pasal 10 ayat (2), Pasal 11 ayat (2), ayat (4) dan
ayat (6), Pasal 12 ayat (1) dan ayat (3), Pasal 13 ayat (1), ayat (2), ayat (3),
ayat (4) dan ayat (5), Pasal 15 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 16, Pasal 18, Pasal 21
ayat (1), ayat (3) dan ayat (4), Pasal 22 ayat (1) dan ayat (3), Pasal 24, Pasal
25 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 26 ayat (1), ayat (2) dan ayat (3), Pasal 27 ayat (2),
Pasal 30 ayat (2), Pasal 33 ayat (1), ayat (2) dan ayat (4), Pasal 35 ayat (2) dan
ayat (5), Pasal 37 ayat (1), ayat (2), ayat (4) dan ayat (6), Pasal 38, Pasal 40
ayat (1), Pasal 41 ayat (3) dan ayat (4), dapat dikenakan sanksi administratif
berupa tidak diterbitkannya IMB dan/atau SLF.
BAB VIII
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 51
Terhadap bangunan gedung dengan luas dan kriteria tertentu yang wajib
melaksanakan ketentuan bangunan gedung hijau sebagaimana diatur dalam
Peraturan Gubernur ini, diberikan masa peralihan paling lama 1 (satu) tahun
untuk menyesuaikan dengan ketentuan Peraturan Gubernur ini.
BAB IX
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 52
Peraturan Gubernur ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan
Gubernur ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah Provinsi Daerah
Khusus Ibukota Jakarta.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal

Diundangkan di Jakarta
pada tanggal
SEKRETARIS DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS
IBUKOTA JAKARTA,

FADJAR PANJAITAN
NIP 195508261976011001
BERITA DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA
TAHUN 2012
NOMOR 38

Lampiran : Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus


Ibukota Jakarta
Nomor
Tanggal

38 Tahun 2012
11 April 2012

LAMPIRAN PERATURAN GUBERNUR TENTANG BANGUNAN GEDUNG HIJAU


No.

Form

Judul

1. Form I

Matriks Perencanaan Peralatan Mekanikal dan Elektrikal

2. Form II

Perencanaan Perhitungan Nilai Perpindahan Termal Menyeluruh (OTTV)

3. Form III

Perencanaan Lanskap pada Bangunan Gedung

4. Form IV

Perencanaan Lanskap di Luar Bangunan Gedung

5. Form V

Skema Sistem Penampungan Air Hujan

6. Form VI

Formulir Pemeriksaan Lapangan Kegiatan Konstruksi Hijau

7. Form VII

Formulir Isian untuk Kegiatan Operasional dan Pemeliharaan Bangunan


Gedung Eksisting

8. Form VIII

Formulir Penggunaan Listrik

9. Form IX

Formulir Konsumsi Air

10. Form X

Baku Mutu Kualitas Udara dalam Ruang

FORM I
MATRIKS PERENCANAAN PERALATAN MEKANIKAL DAN ELEKTRIKAL (1)

I. EFISIENSI ENERGI
a. Sistem Pengkondisian Udara
Perencanaan Selubung
Bangunan
b. Sistem dan Peralatan
Pencahayaan
1. Sistem zonasi
pencahayaan
2. Sensor lampu eksterior (2)
3. Sensor lampu interior
4. Pencahayaan buatan yg
efisien
c. Sistem Transportasi Dalam
Gedung
Traffic management system
d. Sistem yang memanfaatkan
energi termal
1. Pemanas air sentral
2. Pembangkit uap sentral
3. Peralatan masak
e. Sistem Kelistrikan
1. Perhitungan voltage
unbalance
2. Pemasangan
kompensator
3. Perhitungan power factor
II. EFISIENSI AIR
a. Peralatan Saniter Hemat Air
b. Perancangan Pemakaian Air
1. Perencanaan tidak
melebihi batasan
maksimum
2. Pemasangan sub meter
air
3. Pemanfaatan air daur
ulang utk konsumsi air
domestik
4. Pemanfaatan air
kondensasi untuk
konsumsi air sekunder
5. Pemilihan jenis tanaman
lansekap yg hemat
konsumsi air

Perkantoran

Rumah
Susun/
Apartemen

Perdagangan

Perhotelan

Sarana
Kesehatan

Sarana
Pendidikan

(o)

(o)

(o)

(o)

(o)

(o)
(o)
(o)

(o)

(o)

III. KUALITAS UDARA DAN


KENYAMANAN TERMAL
a. Laju Pergantian Udara dalam
Ruang
1.

b.

Monitor CO2 dilengkapi


alarm
2. Monitor CO dilengkapi
alarm
Perencanaan Sistem
Pengkondisian Udara
Penyetelan suhu ruang
serendah-rendahnya 25oC
dan kelembaban relatif 60%
10% (3)

KETERANGAN :

( ) : Perencanaan/pelaksanaan diwajibkan.
( o ) : Perencanaan/pelaksanaan tidak diwajibkan, jika berdasar pertimbangan teknis diperlukan maka dapat direncanakan/dilaksanakan.
(1) : Matriks ini merupakan persyaratan minimum, diperkenankan untuk membuat perencanaan yang lebih kompleks.
(2) : Untuk lampu eksterior, dapat menggunakan timer.
(3) : Ruangan yang memerlukan temperatur dan kelembaban relatif khusus, diluar nilai tersebut, harus mengikuti pedoman dan ketentuan
teknis yang berlaku.