Anda di halaman 1dari 10

KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA

Makalah ini Disusun Guna Memenuhi Tugas


Mata Kuliah Sosiologi Agama
Dosen Pengampu : Ahmad Abbas Mustofa, M. Ag

Disusun Oleh:
Purwanti Handayani: 212 342 8561

JURUSAN USHULUDDIN
PRODI ILMU QURAN DAN TAFSIR
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI BENGKULU
2013

A. Pendahuluan
Hubungan antara manusia dan agama merupakan hubungan totalitas. Atau dalam
pengertian lain, bagaimanapun, manusia tidak bisa dipisahkan dengan agama. Kedua sifat
tersebut dihayati oleh manusia dalam menempuh kehidupan ini.
Kerukunan umat beragama adalah keadaan hubungan sesama umat beragama yang
dilandasi toleransi, saling pengertian, saling menghormati, menghargai kesetaraan dalam
pengamalan ajaran agamanya dan kerjasama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Namun, karena agama yang dianut oleh manusia di dunia ini tidak hanya satu, maka tentu
saja klaim kebenaran masing-masing agama yang dianut oleh setiap orang akan muncul ke
permukaan. Jika klaim itu dihadapkan pada penganut agama lain, maka sudah dapat diduga
akan terjadi benturan antar pengatur agama, yang masing-masing mamiliki klaim kebenaran.
Langkah bijaksana bagi setiap umat adalah belajar dari kenyataan sejarah yang
mendorong terwujudnya masyarakat plural dan integratif. Oleh karena itu, agenda yang perlu
dirumuskan oleh umat islam Indonesia adalah mengubah spluralisme sebagai ideologi dalam
kehidupan konkret. Tentu saja umat islam harus menahan diri dari hasrat alami manusia,
yakni kehendak untuk berkuasa, sehingga mampu bersikap toleran terhadap pihak lain dan
menghindari hegemoni dan dominasi politik. Tentu saja dituntut pula peran negara yang
positif dalam memperlakukan agama, yakni memperlakukannya sebagai sumber etika dalam
interaksi, baik diantara sesama penguasa maupun antara penguasa dengan rakyat.
B. Pengertian
Kerukunan umat beragama adalah keadaan hubungan sesama umat beragama yang
dilandasi toleransi, saling pengertian, saling menghormati, menghargai kesetaraan dalam
pengamalan ajaran agamanya dan kerjasama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
"Secara terminologis kerukunan umat beragama adalah keadaan hubungan sesama umat
beragama yang dilandasi toleransi, saling pengertian, saling menghormati, menghargai
kesetaraan dalam pengamalan ajaran agamanya dan kerjasama dalam kehidupan
bermasyarakat , berbangsa dan bernegara di dalam Negara Kesatuan Repubkik Indonesia
berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945,"
lanjut Drs. Jamzuri dengan mengutip definisi Kerukunan Umat Beragama pada pasal1 PBM
nomor 9 dan 8 tahun 2006.
C. Ada tiga unsur dalam konsep Kerukunan Umat Beragama,
1. kesediaan untuk menerima adanya perbedaan keyakinan dengan orang maupun
kelompok lain.
2. kesediaan membiarkan orang lain untuk mengamalkan ajaran yang diyakininya.
3. Kemampuan untuk menerima perbedaan selanjutnya menikmati suasana kekhusyuan
yang dirasakan orang lain sewaktu mereka mengamalkan ajaran agamanya.

Tri Kerukunan Umat Beragama yang pertama; kerukunan intern umat beragama. Kedua;
kerukunan antar umat yang berbeda-beda agama dan ketiga; Kerukunan antar umat beragama
dengan pemerintah.
"Setiap umat beragama dilarang menyalahkan atau mengganggu keyakinan orang lain - meski
keyakinannya tentang jalan keselamatan berbeda dengannya dan pada praktiknya, proses
penyiaran agama (dakwah/misionari) harus tetap memperhatikan etika penyiaran dan tetap
memperhatikan kerukunan," tambah Drs. H. Jamzuri yang juga ketua Dewan Masjid
Indonesia (DMI) Kabupaten Karimun.
"Kerukunan Umat Beragama bukan upaya memperlemah iman, kerukunan adalah
uoaya menjembatani hubungan sosial antar umat beragama, dalam hal kerukunan inisiatif
dari masyarakat lebih dominan dibanding dorongan dari pemerintah. Untuk itu kerukunan
umat beragama adalah upaya bersama umat beragama dan pemerintah agar tercipta
kehidupan berbangsa dan bernegara yang aman dan damai." Lanjut Drs. H. JAmzuri.
Untuk itu H. Jamzuri menyampaikan bahwa upaya-upaya mendorong kerukunan umat
beragama bisa diwujudkan melalui upaya eksplorasi secara luas tentang pentibgnya nilai-nilai
kemanusiaan dari seluruh keyakina plural umat mahusia, melakukan pendalaman nilai- nilai
spritual yang implemntatif bagi kemanusiaan yang mengarahkan kepada nilai- nilai
ketuhanan, mengembangkan wawasan multikultural bagi segenap unsur dan lapisan
masyarakat dan menumbuhkan kesadaran dalam masyarkat bahea perbedaan adalah suatu
realita dalam kehiduoan bermasyarakat. Oleh karena itu hendaknya hal ini dapat dijadikan
mozaik yang dapat memperindah fenomena kehidupan beragama.
Konsep kerukunan antar umat beragama pernah dirumuskan dan ditetapkan oleh
pemerintahan orde baru dengan melibatkan semua tokoh agama yang ada di Indonesia.
Selama masa orba, relatif tidak ada konflik antar pemeluk agama yang berbeda1. Mungkin
orang akan mengira bahwa itu merupakan keberhasilan menerapakan konsep kerukunan.
Namun, ketika di Ambon, Aceh, Kupang, dan di berbagai daerah lainnya terjadi berbagai
kerusuhan dan tindakan kekerasan yang berbau agama, konsep kerukunan antar umat
beragama kembali dipertanyakan. Bisa saja manusia menduga-duga bahwa keberhasilan
menerapkan kerukunan umat beragama di Indonesia semasa orde baru sejalan dengan
kebijakan politis, penguasa pada waktu itu, yakni stabilitas nasional demi berlangsungnya
proses pembangunan nasional yang lebih menekankan pada pendekatan keamanan. Sama
halnya pendekatan ini digunakan pula terhadap pelaksanaan kerukunan antar umat beragama.
Oleh karena itu, perlu pengkajian ulang terhadap konsep kerukunan antar umat
beragama yang selama ini diterapkan pemerintah. Ia tidak lagi hanya sebagai bungkus formal
dari kenyataan pluralitas agama di Indonesia, tetapi harus menjadi motivator bagi
terbentuknya kesadaran beragama dan berteologi di Indonesia. Jika tidak, maka konflik antar
agama tidak bisa terhindarkan, akan selalu meledak. Bila terjadi, hal ini akan menghancurkan
sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, baik aspek politis, ekonomi maupun sosial
budaya.
Agar kerukunan antar umat beragama menjadi etika dalam pergaulan kehidupan
beragama, Hugh Goddard, seorang kristiani inggris, yang ahli teologi islam, mengingatkan,
demi, kerukunan antar umat beragama, harus dihindari penggunaan standar ganda. Orang1

Kahmad Dadang, Sosiologi Agama, PT remaja Rosdakarya Offset, Bandung, 2009,hlm 175.

orang kristen ataupun islam misalnya, selalu menerapkan standar-standar yang berbeda untuk
dirinya, biasanya standar yang ditunjukkan bersifat ideal dan normatif. Sedangkan terhadap
agama lain, mereka memakai standar lain yang lebih bersifat realistis dan historis. Agama
dipahami sebagai aktualisasi dari doktrin tersebut yang terdapat dalam sejarah2. Melalui
standar ganda inilah, muncul prasangka-prasangka teologis yang selanjutnya memperkeruh
suasana hubungan antar umat beragama. Ada- tidaknya keselamatan dalam agama lain,
seringkali ditentukan oleh pandangan mengenai standar ganda manusia itu sendiri. Keyakinan
bahwa agama sendiri yang paling benar karena berasal dari Tuhan sedangkan agama lain
hanyalah konstruksi manusia, merupakan contoh dari penggunaan standar ganda itu. Dalam
sejarah, standar ganda ini biasanya dipakai untuk menghakimi agama lain dalam derajat
keabsahan teologis di bawah agamanya sendiri. Melalui standar ganda inilah terjadinya
perang dan klaim-klaim kebenaran dari satu agama atas agama lain. Meminjam istilah Afif
muhammad3, agama acak kali menampakkan diri sebagai sesuatu yang berwajah ganda.
Ternyata yang tampak kepermukaan, berkaitan dengan terjadinya konflik antar
agama, bisa sebagai akibat kesenjangan ekonomi(kesejahteraan), perbedaan kepentingan
politik, ataupun perbedaan etnis, akhirnya, konsep kebenaran dan kebaikan yang berakar dari
ideologi politik atau wahyu Tuhan sering menjadi alasan pembenaran atas tindak kekerasan.
Ditambah dengan klaim kebenaran dan watak misioner dari setiap agama, peluang terjadinya
benturan dan kesalahmengertian antar penganut agama pun terbuka lebar, sehingga
menyebabkan retaknya hubungan antara umat beragama. Demi terciptanya hubungan
eksternal agama-agama, perlu dilakukan dialog antar agama. Sedangkan untuk internal
agama, diperlukan reinterpretasi pesan-pesan agama yang lebih menyentuh kemanusiaan
yang universal. Dalam hal ini peran para tokoh agama(ulama) mesti lebih dikedepankan.
D. Reinterpretasi Pesan-Pesan Agama
Agar islam bisa memerankan fungsinya menjadi dialektis konstruktif, sebagaimana telah
diulas di atas, perlu dikembangkan program reinterpretasi pesan-pesan agama. Dalil-dalil
normatif yang ada dalam al-quran dan hadis harus di- break down dalam bentuk teori-teori
sosial yang dapat diaplikasikan. Atau, lebih tepatnya harus dikontekstualisasikan agar
berfungsi historis, kekinian dan membumi. Di sini, para ulama atau para pemuka agama
sangat dibutuhkan dalam melakukan reinterpretasi agama,. Ulama diharapkan berperan
langsung dalam melakukan pencerahan kepada masyarakat melalui upaya reinterpretasi
agama, sehingga pesan-pesan agama menjadi fungsional serta ajaran keadilan, toleransi, dan
cinta ksih yang terkandunga di dalam agama menjadi implementatif dan integratif dalam
kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
Dengan demikian, agama selayaknya berfungsi menafsirakan kenyataan hidup dan
mengarahkan, artinya. Memiliki fungsi interpretatif dan fungsi etis. Dalam perspektif ini,
agama tidak hanyut dan tenggelam dalam politik, dan politik pun tidak memperalat agama.
Agama dan politik tdak dicampuradukkan. Dalam situasi seperti itu, interaksi antar agama
dan politik akan menekankan dinamisme dan perubahan yang dituju, sehingga kehidupan
bersama akan lebih manusiawi karena lebih merdeka dan lebih adil. Tanpa dua fungsi ini,

Loc. Cit.
Afif Muhammad, kerukunan Beragama Pada Era Globalisasi, dies natalis sunan gunung jati, Bandung, 1997,
hlm 1.
3

agama akan mudaah menjadi legitimasi atau diperalat oleh praktik politik atau praktik
ekonomi yang tidak dapat dipertanggung jawabkan.
Setiap penganut akan berbeda dan memiliki kadar interpretasi yang beragam dalam
memahami ajaran agamanya, sesuai dengan kemampuannya masing-masing4. Dalam konteks
pembinaan kerukunan antar umat beragama, setidaknya pesan-pesan al-quran yang berkaitan
dengan hubungan antar agama harus dipahami dan dicermati dengan hati-hati. Misalnya ayat
al-quran yang berbunyi : perangilah orang-orang yang idak beriman, . . . (Q.S. 9:20). Jika
dipahami secara tekstual, ayat ini bisa memnahayakan kerukunan antar umat beragama.
Mengenai ayat ini, Sayyid Qutb berkomentar: ayat ini berlaku temporal dan periodek.
Artinya, dalam era damai ia harus disandingkan dengan ayat-ayat lain yang menganjurkan
kasih sayang dan tolong menolong antar sesama.
E. Dialog Antar Agama
dalam rangka membina dan memelihara kerukunan antar umat beragama di Indonesia,
pemerintah telah mencarikan jalan keluar melalui berbagai cara dan upaya, antara lain dengan
menyelenggarakan dialog antar tokoh agama, memfungsikan pranata pranata agama sebagai
media penyalur gagasan dan ide. Salah satu pranata agama yang selama ini diandalkan dalam
menyalurkan program pemerintah tersebut adalah tokoh-tokoh agama. Tokoh-tokoh agama
ini mempunyai kedudukan dan pengaruh besar di tengah-tengah masyarakatnya, karena
mereka mempunyai beberapa kelebihan yang dimiliki, baik dalam ilmu pengetahuan, jabatan,
keturunan dan lain sebagainya. Tokoh agama juga merupakan pemimpin informal dalam
masyarakatnya, dan secara umum mereka tidak diangkat oleh pemerintah tetapi ditunjuk atas
kehendak dan persetujuan dari masyarakat setempat.
Johan Efendi5 mengatakan bahwa agama pada suatu waktu memproklamirkan
perdamaian, jalan menuju keselamatan, persatuan dan persaudaraan, namun pada waktu lain
menampakkan dirinya sebagai sesuatu yang dinggap garang dan menyebar konflik, bahkan
tak jaran, seperti dicatat dalam sejarah, menimbulkan peperangan.
Salah satu bagian dari kerukunan antar umat beragama adalah perlu dilakukannya dialog
antar agama. Agar komunikatif dan terhindar dari perdebatan teologis antar pemeluk(tokoh)
agama, maka pesan-pesan agama yang sudah direinterpretasi selaras dengan universalitas
kemanusiaan menjadi modal terciptanya dialog yang harmonis. Jika tidak, proses dialog akan
berisi perdebatan dan adu argumentasi antara berbagai pemeluk agama sehingga ada yang
menang dan ada yang kalah. Dialog antar agama, menurut A. Mukti Ali, justru membiarkan
hak setiap orang untuk mengamalkan keyakinannya dan menyampaikannya kepada orang
lain. Dialog antar agama adalah pertemuan hati dan fikiran antar pemeluk berbagai agama
yang bertujuan mencapai kebenaran dan kerja sama dalam masalah-masalah yang dihadapi
bersama.
pembinaan kerukunan umat beragama yang ada selama ini, ditengarai masih cenderung
berorientasi struktural dan politis. Dalam melakukan dialog dengan agama lain, apapun
bentuknya, diperlukan adanya sikap saling terbuka, saling menghormati dan kesediaan untuk
mendengarkan yang lain. Sikap-sikap ini diperlukan untuk mencari titik temu(kalimatun

4
5

Roland Roberston, Agama Dalam Analisa dan interpretasi sosiologis, Rajawali pers, Jakarta, 1993, hlm 13.
Johan Effendi, Dialog Antarumat Beragama, LP3ES, 1978, hlm 13.

sawa) antara berbagai agama, karena masing-masing agama mempunyai karakteristik yang
unik dan komplek.
Kegiatan Dialog Antar Umat Beragama dimaksudkan sebagai wadah komunikasi
koordinasi serta upaya membina dan memelihara ketentraman dan ketertibandalam
kehidupan dan kerukunan dalam menjalankan agama. Dialog antar umat beragama juga dapat
Menjalin komunikasi dan koordinasi serta kesamaan langkah dan tindak dalam upaya
membangun kerukunan umat beragama serta mendorong terciptanya situasi dan kondisi yang
kondusif bagi kehidupan beragama.
Demi mensukseskan dialog antar agama ataupun antar iman tersebut, maka
pemahaman terhadap agama-agama lain tidak hanya diperlukan oleh para Tokoh-tokoh
agama, tetapi harus merambah kepada masyarakat.
.
F. Hak Beragama
bahwa hak beragama adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam
keadaan apapun.
bahwa negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya
masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.
bahwa Pemerintah berkewajiban melindungi setiap usaha penduduk melaksanakan
ajaran agama & ibadat pemeluk-pemeluknya,
G. Konsepsi Islam Tentang Relasi Agama-Agama
Islam sangat menghargai perbedaan internal beragama (hadits Nabi: ikhtilafu ummati
rohmah, yang artinyaperbedaan di antara umatku adalah rahmah).
Islam sangat menghargai perbedaan antar umat beragama (al-Quran: lakum dinukum
waliyadin, yang artinya bagimu agamamu bagiku agamaku atau ayat lain La ikraha
fiddin, yang artinya: tidak ada paksaan dalam beragama).
Pendekatan agama untuk sampai pada pemahaman terhadap agama, bisa dilihat dalam
kedua pemahaman, yakni sebagaimana Nur kholis Majid menyebutkan kedua istilah itu
dengan istilah doktrin dan peradaban6, sedangkan Sayid Husen Nasr menyebutnya dengan
islam ideal dan realita.7
Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat majemuk yang terdiri dari beragam agama.
Kemajemukan yang ditandai. dengan keanekaragaman agama itu mempunyai kecenderungan
kuat terhadap identitas agama masing-masing dan berpotensi konflik. Oleh karena itu, untuk
mewujudkan kerukunan hidup antar umat beragama yang sejati, harus tercipta satu konsep
hidup bernegara yang mengikat semua anggota kelompok sosial yang berbeda agama guna
menghindari ledakan konflik antar umat beragama yang terjadi tiba-tiba. Pancasila:model
Indonesia. Pancasila sebagai dasar falsafah negara merupakan model ideal pluralisme ala
Indonesia. Pancasila adalah hasil perpaduan dari keberhasilan para Bapak Pendiri yang
berpandangan toleran dan terbuka dalam beragama dan perwujudan nilai-nilai kearifan lokal,
adat, dan budaya warisan nenek moyang. Sebagai ideologi negara, Pancasila seakan
menegaskan bahwa Indonesia bukan negara agama, tetapi juga bukan negara sekuler. Ia
merupakan konsep ideal untuk menciptakan kerukunan aktif dimana anggota masyarakat bisa
6
7

Cak Nur, islam doktrin dan peradaban, Yayasan Waqaf Paramadina, Jakarta, 1992.
Sayid Husein Nasr, Islam cita dan Islam Fakta, Yayasan obar, Jakarta, 1984.

hidup rukun di atas aras kesepahaman pemikiran Harus diakui bahwa keberadaan Pancasila
benar-benar menjadi kalimatun saw bagi masyarakat Indonesia. Potensi dan modal yang
dimiliki Indonesia dalam menciptakan kerukunan hidup antarumat beragama harus dikelola
dan dijaga dengan baik sehingga keragaman agama menjadi nilai yang hidup di tengah
masyarakat.
Kerukunan adalah istilah yang dipenuhi oleh muatan makna baik dan damai. Intinya,
hidup bersama dalam masyarakat dengan kesatuan hati dan bersepakat untuk tidak
menciptakan perselisihan dan pertengkaran. Bila pemaknaan tersebut dijadikan pegangan,
maka kerukunan adalah sesuatu yang ideal dan didambakan oleh masyarakat. Namun
apabila melihat kenyataan, ketika sejarah kehidupan manusia generasi pertama keturunan
Adam yakni Qabil dan Habil yang berselisih dan bertengkar dan berakhir dengan
terbunuhnya sang adik yaitu Habil, maka apakah dapat dikatakan bahwa masyarakat generasi
pertama anak manusia bukan masyarakat yang rukun? Apakah perselisihan dan pertengkaran
yang terjadi saat ini adalah mencontoh nenek moyang manusia itu? Atau perselisihan dan
pertengkaran memang sudah sehakekat dengan kehidupan manusia sehingga dambaan
terhadap kerukunan itu ada karena ketidakrukunan itupun sudah menjadi kodrat dalam
masyarakat manusia?.Pertanyaan seperti tersebut di atas bukan menginginkan jawaban akan
tetapi hanya untuk mengingatkan bahwa manusia itu senantiasa bergelut dengan tarikan yang
berbeda arah, antara harapan dan kenyataan, antara cita-cita dan yang tercipta.Manusia
ditakdirkan Allah Sebagai makhluk social yang membutuhkan hubungan dan interaksi sosial
dengan sesama manusia. Sebagai makhluk social, manusia memerlukan kerja sama dengan
orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, baik kebutuhan material maupun
spiritual.Ajaran Islam menganjurkan manusia untuk bekerja sama dan tolong menolong
(taawun) dengan sesama manusia dalam hal kebaikan. Dalam kehidupan sosial
kemasyarakatan umat Islam dapat berhubungan dengan siapa saja tanpa batasan ras, bangsa,
dan agama. Kerja sama intern umat beragama,Persaudaraan atau ukhuwah, merupakan salah
satu ajaran yang mendapat perhatian penting dalam islam. Al-quran menyebutkan kata yang
mengandung arti persaudaraan sebanyak 52 kali yang menyangkut berbagai persamaan, baik
persamaan keturunan, keluarga, masyarakat, bangsa, dan agama.
Hubungan antara muslim dengan penganut agama lain tidak dilarang oleh syariat Islam,
kecuali bekerja sama dalam persoalan aqidah dan ibadah. Kedua persoalan tersebut
merupakan hak intern umat Islam yang tidak boleh dicamputi pihak lain, tetapi aspek sosial
kemasyarakatan dapat bersatu dalam kerja samayang baik. Kerja sama antar umat bergama
merupakan bagian dari hubungan sosial anatar manusia yang tidak dilarang dalam ajaran
Islam. Hubungan dan kerja sama ydalam bidang-bidang ekonomi, politik, maupun budaya
tidak dilarang, bahkan dianjurkan sepanjang berada dalam ruang lingkup kebaikan
H. Indonesia dan Negara Muslim
Jika dibandingkan dengan Perancis, Indonesia memang bukan murni negara sekuler.
Namun demikian untuk konteks negara Muslim,Indonesia menjadi negara yang sangat ideal
dalam kerukunan antar umat beragama karena memiliki satu falsafah hidup bernegara,yaitu
Pancasila.

Negara Muslim lainnya tidak mempunyai model seperti Indonesia Negara-negara


Islam seperti Arab Saudi, Iran, Yaman, Sudan, Pakistan dan Banglades, menjadikan Islam
sebagai dasar dan agama resmi negara: tidak mengakui keberadaan agama lain:non Muslim
menjadi warga negara kelas dua :syariat Islam sebagai hukum nasional,dan murtad dihukum
mati.Negara-negara muslim, seperti Jordania, Mesir, Suriah, Tunisia, Maroko, Palestina,
Aljazair, Malaysia, dan Brunei Darussalam menjadikan Islam sebagai ideologi negara dan
terkadang ideologi lainnya; Islam sebagai agama negara,tetapi agama lain diakui; nonMuslim diakui hak-haknya: hukum nasional dan hukum Islam diterapkan :dan murtad
dihukum sebagai tindak pidana.
Di Indonesia, Pancasila sebagai ideologi negara; 6 agama resmi negara; kedudukan
warga negara tidak ditentukan oleh agama; hukum nasional yang berlaku; dan murtad bukan
tindak pidana. Dari perbandingan sepintas ini tampak bahwa Indonesia merupakan model
negara Muslim par execellence dalam kerukunan hidup antar umat beragama.

PENUTUP
I. Kesimpulan
Kerukunan umat beragama adalah keadaan hubungan sesama umat beragama yang
dilandasi toleransi, saling pengertian, saling menghormati, menghargai kesetaraan dalam
pengamalan ajaran agamanya dan kerjasama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
"Kerukunan Umat Beragama bukan upaya memperlemah iman, kerukunan adalah
uoaya menjembatani hubungan sosial antar umat beragama, dalam hal kerukunan inisiatif
dari masyarakat lebih dominan dibandibg dorongan dari pemerintah. Untuk itu kerukunan
umat beragama adalah upaya bersama umat beragama dan pemerintah agar tercipta
kehidupan berbangsa dan bernegara yang aman dan damai." Lanjut Drs. H. JAmzuri.
Demi terciptanya hubungan eksternal agama-agama, perlu dilakukan dialog antar
agama. Sedangkan untuk internal agama, diperlukan reinterpretasi pesan-pesan agama yang
lebih menyentuh kemanusiaan yang universal. Dalam hal ini peran para tokoh agama(ulama)
mesti lebih dikedepankan.
Dalil-dalil normatif yang ada dalam al-quran dan hadis harus di- break down dalam
bentuk teori-teori sosial yang dapat diaplikasikan. Atau, lebih tepatnya harus
dikontekstualisasikan agar berfungsi historis, kekinian dan membumi. Di sini, para ulama
atau para pemuka agama sangat dibutuhkan dalam melakukan reinterpretasi agama,. Ulama
diharapkan berperan langsung dalam melakukan pencerahan kepada masyarakat melalui
upaya reinterpretasi agama, sehingga pesan-pesan agama menjadi fungsional serta ajaran
keadilan, toleransi, dan cinta ksih yang terkandunga di dalam agama menjadi implementatif
dan integratif dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
Salah satu bagian dari kerukunan antar umat beragama adalah perlu dilakukannya dialog
antar agama. Agar komunikatif dan terhindar dari perdebatan teologis antar pemeluk(tokoh)
agama, maka pesan-pesan agama yang sudah direinterpretasi selaras dengan universalitas
kemanusiaan menjadi modal terciptanya dialog yang harmonis.
Di Indonesia, Pancasila sebagai ideologi negara; 6 agama resmi negara; kedudukan
warga negara tidak ditentukan oleh agama; hukum nasional yang berlaku; dan murtad bukan
tindak pidana. Dari perbandingan sepintas ini tampak bahwa Indonesia merupakan model
negara Muslim par execellence dalam kerukunan hidup antar umat beragama.

DAFTAR PUSTAKA

Kahmad Dadang, Sosiologi Agama, PT remaja Rosdakarya Offset, Bandung, 2009.

Afif Muhammad, kerukunan Beragama Pada Era Globalisasi, dies natalis sunan
gunung jati, Bandung, 1997.

Roland Roberston, Agama Dalam Analisa dan interpretasi sosiologis, Rajawali pers,
Jakarta, 1993.

Johan Effendi, Dialog Antarumat Beragama,1978.

Cak Nur, islam doktrin dan peradaban, Yayasan Waqaf Paramadina, Jakarta, 1992.

Sayid Husein Nasr, Islam cita dan Islam Fakta, Yayasan obar, Jakarta, 1984.

10