Anda di halaman 1dari 39

KEGAWATDARURATAN

OBSETRI
dr.H. Joko Nugroho, SpOG

Kegawat daruratan obsetri adalah


keadaan yang memerlukan
penanganan cepat dan adekuat untuk
menyelamatkan jiwa ibu atau
janinnya.

a.
b.

Hiperemis Gravidarum
Perdarahan
Hamil

muda

Kehamilan

trisemester ketiga

Perdarahan

c.
d.

Primer

Sekunder

pascapartus

Darah Tinggi
Infeksi Kehamilan

Hiperemesis Gravidarum
Definisi

Mual-muntah berlebihan sehingga


meninmbulkan gangguan aktivitas sehari-hari
dan bahkan dapat membahayakan
hidupnnya.

Gejala Hiperemesis Gradivarum


Tingkat

Tingkat

II

Tingkat
a.

b.
c.
d.

e.
f.

III

Dehidrasi makin berar


Mual muntah berhenti
Terjadi perdarahan dari esofagus
lambung dan retina
Gangguan fungsi lever bertambah
Gangguan kesadaran
Gangguan syaraf- ensefalopati Wernicke

Dasar Diagnosis

Tidak sukar
Tedapat amenore
Mual muntah berlebihan sampai mengganggu
kehidupan sehari-hari dengan berbagai tingkat

Diferensial
Pielonepritis
Ulkus peptikum
Hepatitis
Tumor serebri

Pengobatan Hiperemesis
Gravidarum
1.
2.

Psikologis
Pengobatan
a.

b.
c.

Obat anti mual muntah


Rehidrasi cairan yang hilang
Menghentikan kehamilan

PERDARAHAN
PASCAPARTUS

Perdarahan

kala III yang melebihi 400 cc,


dapat primer dua jam pertama dan
sekunder setelah 24 jam.

Playfair

(1989), tidak ada kegawatan


obsetri yang memerlukan tindakan cepat
dan setepatnya, selain perdarahan
pascapartus.

Predisposisi
a.
b.
c.
d.

e.

Keadaan umum lemah-anemia


Multiparitas
Pascatindakan operasi vaginal
Distensi uterus berlebihan

Hidramnion

Hamil ganda

Kelelahan ibu

Prolong labour

Negleted labour

f.

g.

Trauma persalinan

Robekan vagina dann perineum

Robekann serviks

Robekan forniks

Robekan uterus

Gangguan kontraksi

sebab perdarahan partus


1.

Perdarahan pascapartus primer (dini)

Antonia uteri
Retonsio plasenta
Trauma persalinan
Gangguan pembekuan darah

2.

Perdarahan pascapartus sekunder


(lambat)

Trauma persalinan, bekas SC-pembuluh


darah terbuka
Infeksi menimbulkan subinvolusi bekas
implantasi plasenta

Tatalaksana penanganan
a.

Penanganan umum

Perbaikan keadaan umum dengan:


pemasangan infus, transfusi darah,
pemberian antibiotik, dann uterotonik

Pada keadaan gawat dilakukann rujukan


ke rumah sakit

b.

Pada robekan serviks vagina dan perineum,


perdarahan diatasi dengan jalan mennjahit

c.

Penanganan khusus

Atonia uteri

Retensio plasenta

Inversio uteri

Ruptura uteri

ATONIA UTERI
Atonia

uteri sebagai penyebab

perdarahan, kini makin berkurang seiring


dengan diterimanya gerakan keluarga

berencana, sehingga grandemultipara


semakin menurun.

Atonia uteri banyak terjadi dengan


predisposisi:

a.

b.

Kehamilan ganda

Kehamilan dengan hidramnion

Kehamilan dengan janin besar

Persalinan dengan tindakan karena


pengaruh narkosa

Atonia uteri menimbulkan perdarahan yang banyak


dan dapat memnbahayakan jiwa penderita,
sehingga perlu diambil langka pengobatannn
sebagai berikut:

1.

Menimbulkan kontraksi otot rahim


a.

Pemberian uterotonik

b.

Kompresi bimanuil

2.

Melakukan uterovaginam

3.

Ligasi arteri hipogastrik

4.

Histerektomi supravaginal

Perdarahan
Antepartum
Perdarahan pada
kehamilan trisemester
ketiga.

Pembagiannnya:
1.

Plasenta previa

Perdarahan yang terjadi pada implantasi


plasenta, yang menutupi sebagian atau seluruh
osteum iteri internum
a.

Plasenta previa totalis

b.

Plasenta previa lateralis

c.

Plasenta previa marginalis

d.

Plasenta previa letak rendah

Solusio plasenta

2.

definisi: lepasnya plasenta dari insersinya di fundus


uteri sebelum waktu persalinan

Pembagian solusio plasenta:

3.

Solusio plasenta ringan

Solusio plasenta sedang

Solusio plasenta berat

Pecahnya vasa previa

Plasenta Previa

Gejala umum
a.

Perdarahan tanpa rasa sakit

b.

Terjadi saat pembentukan SBR

c.

Bentuk perdarahan

Dasar diagnosis
a.

Terdapat perdarahan tanpa rasa sakit

b.

Keadaan umum setelah perdarahan


tergantung dari:

c.

Keadaan umum sebelumnya

Jumlah, kecepatan, dan lamanya perdarahan

Menimbulkan gejala klinik pada ibu dan janin

Perut ibu lemas sehingga mudah meraba


bagian terendah

d.

Terdapat kelainann letak atau bagian


terendah belum masuk PAP

e.

Pemeriksaan tambahan

Solusio Plasenta
Sebab-sebab terjadinya
a.

Trauma langsung abdomen

b.

Hipertensi ibu hamil

c.

Umbilikus pendek atau lilitan tali pusat

d.

Tekanan pada vena cava inferior

e.

Pada pre-eklampsia-eklampsia

f.

Saat melakukan versi luar

g.

Saat memecahkan ketuban

Gejala klinik
a.

Perdarahan yang disertai rasa sakit

b.

Tergantung jumlah darah retroplasenter

Menimbulkan gangguan kardiovaskuler ibu

Ketegangan perut ringan sampai berat

Gangguan janin asfiksia ringann sampai IUFD

c.

Gangguan pembekuan darah

d.

Gangguan alat vital

Dasar diagnosis
a.

b.

Anamnnesa

Trauma langsung abdomen

Perdarahan disertai rasa sakit

Pemeriksaan fisik

Palpasi

Detik jantung janin

Pemeriksaan dalam

USG

Pembagian solusio plasenta

Solusio plasenta ringan

Solusio plasenta sedang

Solusio plasenta berat

Komplikasi
a.

Perdarahan karena:

Couvelaire uteri

Atonia uteri

Perdarahan pascapartus

b.

Gangguan pembekuan darah

c.

Gangguan alat vital

d.

Kematian ibu karena

Pengobatan
a.

b.

Menghindari gangguan pembekuan darah:

Transfusi masif

Pemberian fibrinogen jumlah cukup

Solusio ringan dan sedang diupayakan


seksio sesarea untuk menyelamatkan ibu
dan janinnya.

Solusio plasenta berat

INVERSIO
UTERI

Definisi:
Inversio uteri dan terbaliknya fundus uteri ke
dalam kavum uteri, yang dapat menimbulkan nyeri
dan perdarahan

Faktor yang dapat menimbulkan inversio uteri:

Spontan karena tekanan abdominal meningkat dan


saat fundus uteri masih belum berkontraksi baik

Persalinan plasenta secara Crede

Tarikan tali pusat sebagai upaya untuk melahirkan


plasenta

Pembagian inversio uteri:


a.

Tingkat pertama:

Fundus masuk uteri tetapi belum melewati


kanalis servikalis

b.

c.

Tingkat kedua:

Fundus masuk ke dalam kavum uteri

Telah berada dalam vagina

Tingkat ketiga:

Fundus uteri mengalami inversio total dan


tampak di luar vagina

Dapat disertai plasenta yang masih melekat

Gejala Klinik

terjadi spontan atau karena tindakan Crede yang


terlalu cepat

Tarikann ligamentum infudibulopelvikum dan


ligamentum rotundum, mennanrik pula
peritoneum sehingga menimbulkan rasa nyeri
yang dalam

Dapat diikuti perdarahan dan syok yang lebih


bersifat neurogenik syok

Diagnosis
a.

Pemeriksaan pascapartus

b.

Terdapat lekukan di daerah fundus uteri

berlokasi
c.

Pemeriksaan dalam

Tatalaksana pengelolaan
a.

Pasang infus rangkap, mempersiapkann darah


yang cukup

b.

Berikan tokolitik

c.

Hilangkan rasa nyeri

d.

Lekukan reposisi

e.

Bila gagal reposisi, lakukan tinndakan operasi

Prognosis

Baik bila segera mendapat pertolongann

Kematian karena perdarahan yang

hebat disertai syok dalam

Profilaksis inversio uteri


a.

Penerimaan KB telah mengurangi multigrandemultipara, sehingga kejadian


inversio uteri makin berkurang

b.

Pelaksaan Crede unntuk melahirkan


plasenta

c.

Laksanakan prasat Crede setelah


kontraksi otot rahim kuat