Anda di halaman 1dari 18

TUGAS MANAJEMEN

ANALISIS PERATURAN MENTERI KESEHATAN TENTANG


JAMINAN KESEHATAN NASIONAL (JKN) TERKAIT BPJS

OLEH :
MIRA FITRIANI S
G1B112079
SEMESTER
VB
DOSEN PENGAMPU :
Ns. Dwi Yunita Ramadhani, S.Kep

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JAMBI
TAHUN
2015

ANALISIS PERATURAN MENTERI KESEHATAN TENTANG


JAMINAN KESEHATAN NASIONAL (JKN) TERKAIT BPJS
A. Jaminan Kesehatan Nasional
Di Indonesia, falsafah dan dasar negara Pancasila terutama sila ke-5 juga
mengakui hak asasi warga atas kesehatan. Hak ini juga termaktub dalam UUD 45
pasal 28H dan pasal 34, dan diatur dalam UU No. 23/1992 yang kemudian diganti
dengan UU 36/2009 tentang Kesehatan. Dalam UU 36/2009 ditegaskan bahwa setiap
orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh akses atas sumber daya di
bidang kesehatan dan memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan
terjangkau. Sebaliknya, setiap orang juga mempunyai kewajiban turut serta dalam
program jaminan kesehatan sosial.
Untuk mewujudkan komitmen global dan konstitusi di atas, pemerintah
bertanggung jawab atas pelaksanaan jaminan kesehatan masyarakat melalui Jaminan
Kesehatan Nasional (JKN) bagi kesehatan perorangan.
Usaha ke arah itu sesungguhnya telah dirintis pemerintah dengan
menyelenggarakan beberapa bentuk jaminan sosial di bidang kesehatan, diantaranya
adalah melalui PT Askes (Persero) dan PT Jamsostek (Persero) yang melayani antara
lain pegawai negeri sipil, penerima pensiun, veteran, dan pegawai swasta. Untuk
masyarakat miskin dan tidak mampu, pemerintah memberikan jaminan melalui skema
Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) dan Jaminan Kesehatan Daerah
(Jamkesda). Namun demikian, skema-skema tersebut masih terfragmentasi, terbagibagi. Biaya kesehatan dan mutu pelayanan menjadi sulit terkendali.
Untuk mengatasi hal itu, pada 2004, dikeluarkan Undang-Undang No.40
tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). UU 40/2004 ini mengamanatkan
bahwa jaminan sosial wajib bagi seluruh penduduk termasuk Jaminan Kesehatan
Nasional (JKN) melalui suatu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).
Undang-Undang No. 24 Tahun 2011 juga menetapkan, Jaminan Sosial
Nasional akan diselenggarakan oleh BPJS, yang terdiri atas BPJS Kesehatan dan
BPJS Ketenagakerjaan. Khusus untuk Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) akan
diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan yang implementasinya dimulai 1 Januari 2014.
Secara operasional, pelaksanaan JKN dituangkan dalam Peraturan Pemerintah dan
Peraturan Presiden, antara lain: Peraturan Pemerintah No.101 Tahun 2012 tentang

Penerima Bantuan Iuran (PBI); Peraturan Presiden No. 12 Tahun 2013 tentang
Jaminan Kesehatan; dan Peta Jalan JKN (Roadmap Jaminan Kesehatan Nasional).
Sesungguhnya keinginan untuk mendirikan BPJS baru telah dibahas dalam
prosespenyusunan UU SJSN. Perdebatannya berlangsung sangat alot. Berbagai
pertimbangan tentangcost-benefit, Nasionalisme, keadilan antar daerah dan antar
golongan pekerjaan, sertapertimbangan kondisi geografis serta ekonomis yang
berbeda-beda telah pula dibahas mendalam.Apa yang dirumuskan dalam UU SJSN,
UU no 40/04, merupakan kompromi optimal.Konsekuensi logis dari sebuah negara
demokrasi adalah bahwa rumusan suatu UU yang telah diundangkan harus
dilaksanakan, baik yang tadinya pro maupun yang tadinya kontra terhadap suatu isi
atau pengaturan. Setelah disetujui DPR, wakil rakyat, maka rumusan suatu UU
mengikat semua pihak. Sangatlah tidak layak dan tidak matang, apabila UU tersebut
sudah divonis tidak mengakomodir kepentingan kita, sebelum UU itu dilaksanakan.
Kita harus belajarkonsekuen dan berani menjalankan sebuah keputusan UU, meskipun
ada aspirasi atau keinginan kita yang berbeda dengan yang dirumuskan UU SJSN.
Boleh saja kita tidak setuju dengan isi suatu UU dan tidak ada satupun UU yang
isinya 100% disetujui dan didukung oleh seluruh rakyat. Atau, jika seseorang atau
sekelompok orang yakin bahwa UU SJSN itu merugikan kepentingan lebih banyak
rakyat, maka ia atau mereka dapat mengajukan alternatif ke DPR untuk merevisi atau
membuat UU baru. Inilah hakikat negara demokrasi.
B. Badan Penyeleenggara Jaminan Sosial (BPJS)
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial yang selanjutnya disingkat BPJS adalah
badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan sosial (UU No
24 Tahun 2011). BPJS terdiri dari BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. BPJS
Kesehatan adalah badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan program
jaminan kesehatan.
Jaminan Kesehatan adalah jaminan berupa perlindungan kesehatan agar peserta
memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi
kebutuhan dasar kesehatan yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar
iuran atau iurannya dibayar oleh pemerintah
C. Analisis dan Evaluasi Terkait Pasal-Pasal dalam Jaminan Kesehatan Nasional
erkait BPJS
Mengingat telah

berlangsungnya

jaminan

kesehatan

nasional

berupa

Badan

Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) yang telah berlangsung selama 1 tahun, perlu ada

evaluasi yang lebih lanjut mengenai jamninan kesehatan ini. Penyelenggaran BPJS
dinilai masih banyak perbenahan. Pasal-pasal penyelenggaranya juga di nilai juga
banyak merugikan masyarat. Untuk itu perlu ada kritik apa yang harus di benahi dari
peraturan-peraturan yang telah di atur dalam pasal-pasal mengenai Jaminan Kesehatan
Nasional Terkait BPJS guna memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang
dapat terpenuhi dengan baik. Berikut di antaranya hal-hal yang harus di evaluasi
mengenai pasal-pasal dari BPJS berdasarkan pengamatan terhadap BPJS yang telah
diselenggaarakan selama 1 tahun ini :
Berdasarakan UU Nomor 4 Tahun 2014 tentang Kepesertaan dan Tata Cara
Pendaftaran. Dalam peraturan tersebut dijelaskan ketentuan aktivasi kartu BPJS
mesti menunggu hingga sepekan atau 7 hari. Sangat disayang kan. Mengingat
banyaknya masyarakat yang belum mengerti tentang peraturan dan tata cara
kepengurusan BPJS kesehatan,tidak sedikit masyarakat yang mendaftarakan BPJS
pada saat mereka masuk rumah sakit. Sementara penyakit harus segera di tangani
untuk menolong jiwanya. Namun dengan keterbatasan dan peraturan yang di atur
dalam pasal ini, menuai banyak kritik dan telah menelan korban. Peraturan ini ada
baiknya untuk dilakukan evaluasi mengingat Badan ini merupakan badan untuk
jaminan kesehatan nasional yang penting dan yang harus di dahulukan adalah
kesehatan masayarakat yang harus segera di tangani jika dalam kondisi kedaruratan
agar tidak banyak menelan korban, jika harus menunggu dana selama sepekan untuk

baru dilakukan tindakan medis.


BPJS Kesehatan kemudian mengatur petunjuk teknis mengenai peraturan tersebut
dengan menerbitkan Peraturan Direksi Nomor 211 Tahun 2014 di mana BPJS
memberikan kelonggaran masa aktivasi sepekan yang khusus diwajibkan hanya
untuk peserta kelas I dan II. Sementara peserta BPJS Kesehatan golongan Penerima
Bantuan Iuran (PBI) dari kalangan tidak mampu dan kelas III bisa langsung

mendapatkan manfaat begitu kartu diaktivasi.


Regulasi di revisinya Permenkes69/2013 tentang biaya INA-CBGs/ kapitasi dengan
cepat menjadi Permenkes Nomor 59/2014 dimana terdapat banyak masalah,
karena ada beberapa paket biaya yang dikurangi. Permenkes 59 ini juga berpotensi
membuat masalah di lapangan. Rendahnya biaya paket INA-BCGs dan kapitasi
menyebabkan pelayanan kesehatan RS, klinik dan puskesmas banyak alakadarnya
dan akhirnya menyebabkan rakyat menjadi susah. Banyak pasien yang harus
mengantri untuk dilayani rawat inap, pasien harus bayar obat dan banyak admin RS

yang merupakan dampak dari biaya paket yang rendah. Hal ini juga dikontribusi

oleh lemahnya penegakan hukum di lapangan.


Belum adanya praktek kesiapan BPJS kesehatan dilapangan.banyak kasus di
lapangan lamban dalam pelayanan. Banyak keluhan BPJS melalui telepon dan SMS

tidak di respon, bahkan layanan 500600 tidak berfungsi.


Pasal 37 R Perpres mengenai urun biaya belum konsisten menjabarkan ketentuan
Pasal 22 ayat (2) Undang-Undang SJSN yang menentukan bahwa untuk jenis
pelayanan yang dapat menimbulkan penyalahgunaan pelayanan, peserta dikenakan
urun biaya. Jenis pelayanan dimaksud adalah pelayanan yang membuka peluang
moral hazard (sangat dipengaruhi oleh selera dan perilaku peserta), misalnya
pemakaian suplemen, pemeriksaan diagnostik, dan tindakan yang tidak sesuai
dengan kebutuhan medis. Urun biaya dikenakan kepada setiap peserta yang
meminta jenis pelayanan tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 UndangUndang SJSN. Masih banyaknya fasilitas kesehatan (Faskes) yang meminta bayaran,
baik pendaftaran, obat, dll. Seharusnya tidak boleh ada se rupiah pun pungutan
pembayaran dari masyarakat dan membuat beban baru. Dengan begitu banyak
masyarakat berfikir jika BPJS bukan sama sekali meringankan beban, namun malah
menambah beban baru jika mereka harus membayar lagi ketika penebusan obat dan
biaya pendaftaran di rumah sakit. Kurang efisien jika ini masih tetap dilaksanakan
karena dapat merugikan banyak kalangan masyarakat terutama yang menengah ke
bawah. Menurut

PP 49/2013, Akibat Ketiadaan BPRS Maka rumah sakit

melakukan moral Hazzard kepada pasien, ada pasien rawat jalan yang di tagih biaya
biaya rawat inap BPRS harus ada mengingat banyak kerugian yang dirasakan oleh

masyarakat.
Pasal 9 RPerpres mengenai anggota keluarga peserta tidak dibatasi jumlahnya,
bertentangan dengan Penjelasan Pasal 20 ayat (1) Undang-Undang SJSN yang
membatasi jumlah anggota keluarga sebanyak-banyaknya 5 (lima orang) terdiri dari
istri/suami yang sah, anak kandung, anak tiri dari perkawinan yang sah dan anak

angkat yang sah


Pasal 12 ayat (3) RPerpres yang mewajibkan fasilitas kesehatan memberi tahu
peserta dan atau kantor BPJS terdekat apabila mendapatkan perubahan status
peserta, bertentangan dengan ketentuan Pasal 23 ayat (1) Undang-undang SJSN
yang menentukan bahwa fasilitas kesehatan yang menjalin kerjasama dengan BPJS
bertugas memberikan manfaat jaminan kesehatan kepada peserta. UU SJSN tidak

mengatur kewajiban fasilitas kesehatan untuk memberitahu perubahan status peserta,

melainkan perubahan status peserta menjadi urusan BPJS dan/atau pemberi kerja.
Pasal 25 ayat(1) dan ayat (2) RPerpres yang mewajibkan peserta mengikutsertakan
anggota keluarganya yang lain, bertentangan dengan Pasal 28 ayat (1) UndangUndang SJSN yang menentukan Pekerja yang memiliki anggota keluarga lebih dari
5 (lima ) orang yang ingin mengikutsertakan anggota keluarganya wajib membayar
tambahan iuran. Ketentuan Undang-Undang tersebut tidak mewajibkan Pekerja
untuk mengikutsertakan anggota keluarganya yang lain sebagai peserta jaminan
kesehatan. Tetapi jika ia mengikutsertakannya, maka ia wajib membayar tambahan
iuran. Untuk mengikutsertakan orang yang bekerja membantu rumah tangga dan
menetap dalam rumah tangga tersebut, dapat diatur mutatis mutandis seperti pekerja

penerima upah.
Pasal 34 RPerpres yang mengatur mengenai kelas perawatan untuk rawat inap bagi
peserta bertentangan dengan ketentuan Pasal 23 ayat (4) Undang-Undang SJSN
yang menentukan Dalam hal peserta mebutuhkan rawat inap di rumah sakit maka
kelas pelayanan di rumah sakit diberikan berdasarkan kelas standar. Ketentuan
tersebut harus dihubungkan dengan prinsip ekuitas jaminan kesehatan yang
ditentukan dalam Pasal 19 ayat (1) Undang-Undang SJSN. RPerPres harus
menetapkan kriteria kelas standar sebagai dasar hukum bagi BPJS Kesehatan
berkontrak dengan fasilitas kesehatan, misalnya luas ruang rawat perorang dan
fasilitas yang tersedia di ruang rawat untuk setiap pasen. Penetapan kelas dengan
menggunakan angka (kelas 2 atau kelas 3) akan menimbulkan ketidakjelasan dalam

praktik dan merugikan pengguna BPJS.


Pasal 26 Undang-Undang SJSN menentukan Jenis-jenis pelayanan yang tidak
dijamin BPJS akan diatur lebih lanjut dalam Perpres. Dalam RPerpres diatur
pelayanan kesehatan yang dijamin, pelayanan kesehatan dengan urun biaya dan
pelayanan kesehatan yang tidak dijamin (Pasal 36,Pasal 37 dan Pasal 39). Ketentuan
Pasal-Pasal tersebut belum sesuai dengan kaidah jaminan kesehatan sehingga perlu
dikaji secara seksama, terutama untuk menentukan kriteria jenis pelayanan yang
dijamin, yang dengan urun biaya dan yang tidak dijamin sesuai dengan prinsip
pelayanan kesehatan dalam SJSN. Hendaknya dalam menentukan jenis pelayanan
kesehatan yang tidak dijamin, PerPres mentapkan daftar pelayanan berdasarkan
kriteria jenis penyakit dan metode terapi, seperti halnya menetapkan daftar manfaat.

Pasal 57 ayat (3) mengenai penyampaian keluhan kepada DJSN tidak sesuai dengan
fungsi,tugas dan wewenang DJSN sebagaimana diatur dalam Pasal 7 Undang-

Undang SJSN.
Bab X R Perpres tentang Penanganan Keluhan tidak sesuai dengan Pasal 48
Undang-Undang BPJS yang menentukan Ketentuan mengenai unit pengendali
mutu dan penanganan pengaduan peserta diatur dalam Peraturan BPJS.

Dalam penyelenggaraan BPJS tidak serta merta segalanya berdampak merugikan


masyarakat dan pengguna BPJS kesehatan, dibalik itu kita kembali ke tujuan awal yaitu
BPJS diadakan guna untuk memberikan jaminan kesehatan nasional untuk meringankan
dan mempermudah akses kesehatan masyarakat. Adapun kelebihan dari di terbitkannnya
BPJS antara lain yaitu :

Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang ditetapkan pemerintah memang


sedikit berbeda dengan Jaminan Kesehatan komersial atau asuransi swasta.
Meskipun ada beragam manfaat kelas atas yang bisa dinikmati dalam asuransi
komersial, tapi jaminan kesehatan sosial lebih murah dan mencakup semua

masyarakat Indonesia.
BPJS kesehatan yang pembayaran iuran JKN sifatnya gotong royong dan seumur
hidup. Yang mampu membantu yang tidak mampu. Sehingga pengguna dapat
dengan mudah mengangsur tanpa ada desakan seperti menggunakan asuransi-

asuransi lainnya.
"Asuransi ini berlaku seumur hidup dari anak baru lahir hingga lansia. Coba
bayangkan mana ada asuransi komersial yang menjamin kesehatan seseorang yang
usianya lebih dari 55 tahun. Terlalu banyak risikonya kan. Dalam sistem jaminan

sosial ini semua dapat ditanggung dengan alasan dan ketentuan yang berlaku
Masyarakat pengguna jaminan kesehatan nasional BPJS kesehatan yang telah
mendaftarkan diri di BPJS tidak pusing lagi memikirkan biaya rumah sakit ketika
sewaktu-waktu mereka memerlukan pelayanan kesehatan yang mendesak. Karena
biaya yang dikeluarkan dapat ditanggung oleh badan penyelenggara jaminan sosial.

D. Kesimpulan

Peraturan Presiden tentang Jaminan Kesehatan perlu diprioritaskan untuk mendukung


beroperasinya BPJS Kesehatan, mulai 1 Januari 2014.

Menurut Pasal 70 huruf a Undang-Undang BPJS Peraturan Presiden tentang Jaminan


Kesehatan harus ditetapkan paling lama pada tanggal 25 November 2012. Maksudnya agar
Peraturan Presiden tersebut dapat dijadikan pedoman dalam mempersiapkan beroperasinya
BPJS Kesehatan.
Peraturan Presiden tentang Jaminan Kesehatan mengatur secara komprehensif mengenai
besaran Iuran, tambahan Iuran dan tata cara pembayaran Iuran, penahapan pendaftaran
peserta, kepesertaan Jaminan Kesehatan bagi pekerja yang terkena pemutusan hubungan
kerja, manfaat Jaminan Kesehatan, pelayanan kesehatan dan urun biaya, kewajiban BPJS
Kesehatan memeberikan kompensasi, jenis pelayanan kesehatan yang tidak dijamin,
kerjasama dengan fasilitas kesehatan dan lain-lain.
Sebagai peraturan pelaksanaan, Peraturan Presiden tentang Jaminan Kesehatan harus bersifat
operasional dan dirumuskan secara jernih (clear) dan efektif, agar program Jaminan
Kesehatan dapat terlaksana sebagaimana mestinya.
Peraturan Presiden tentang Jaminan Kesehatan harus secara konsisten menjabarkan ketentuan
Undang-Undang SJSN dan Undang-Undang BPJS yang memberi pendelegasian, agar tujuan
penyelenggaraan Jaminan Kesehatan dapat dicapai yaitu untuk menjamin peserta
memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan
dasar kesehatan.
Peraturan Presiden tentang Jaminan Kesehatan tidak boleh bertentangan dengan prinsip
asuransi social dan prinsip ekuitas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang SJSN .
Prinsip asuransi sosial meliputi:
a.

Kegotongroyongan;

b.

Kepesertaan bersifat wajib dan tidak selektif;

c.

Iuran berdasarkan persentase upah/penghasilan;

d.

Bersifat nirlaba.
Prinsip ekuitas, yaitiu kesamaan dalam memperoleh pelayanan sesuai dengan kebutuhan
medisnya yang tidak terikat dengan besaran iuran yang telah dibayarkannya.
Peraturan Presiden tentang Jaminan Kesehatan seharusnya mengatur secara teknis
operasional dan komprehensif ketentuan Pasal-Pasal Undang-Undang SJSN dan UndangUndang BPJS yang memberikan delegasi dan secara tata asas berpedoman pada Pasal 19

sampai dengan Pasal 28 Undang-Undang SJSN dan Pasal-Pasal Undang-Undang BPJS yang
erat kaitannya dengan Jaminan Kesehatan.

SARAT MASALAH
Meskipun Pemerintah telah berupaya menjabarkan ketentuan pokok mengenai Jaminan
Kesehatan yang diatur dalam Undang-Undang SJSN dan Undang-Undang BPJS, namun
Rancangan Peraturan Presiden yang kini sedang dibahas dikalangan Pemerintah masih sarat
masalah (versi Juli 2012).
Permasalahan yang menonjol antara lain sebagai berikut.
1. Tujuan yang ingin dicapai tidak Jelas
Penyusun Rancangan Peraturan Presiden tentang Jaminan Kesehatan masih gamang dalam
merumuskan tujuan pembentukan Peraturan Presiden tentang Jaminan Kesehatan.
Penyususun terkesan sekedar ingin memenuhi formalitas membentuk Peraturan Presiden
tentang Jaminan Kesehatan sesuai dengan tenggat waktu yang ditentukan dalam UndangUndangn BPJS.
Padahal menurut Veda R Charrow c.s. (Clear and Effective Legal Writing, 1995:86)
One of the first steps in planning any document is to list every purpose you have
for writing that document. Start by thinking abaut your ultimate purposes for the
document.
Tujuan srategis dari pembentukan Peraturan Presiden tentang Jaminan Kesehatan belum
tampak. Akibatnya penyusunan Rancangan Peraturan Presiden tersebut meminjam kata-kata
Veda R.Charrow like trying to plot a route, on a road map without knowing your
destination.
PerPres Jaminan Kesehatan sesungguhnya merupakan peluang emas untuk memperbaiki
mekanisme penyelenggaraan pelayanan kesehatan di Indonesia secara menyeluruh dan
sistematis.
2. Sistimatika tidak Logis
Sistimatika Rancangan Peraturan Presiden tentang Jaminan Kesehatan, belum tersusun dalam
alur yang sistimatis menurut sekuen yang logis. Masih terdapat lompatan-lompatan dari satu

bab ke bab lainnya atau dari satu bagian ke bagian lainnya, bahkan dari satu ide ke ide yang
lain.
Misalnya, mengenai pengaturan peserta bukan Penerima Bantuan Iuran, belum tuntas diatur
sudah dilanjutkan dengan pengaturan kepesertaan bersifat wajib dan dikembangkan secara
bertahap. Kemudian dilanjutkan dengan Bagian yang mengatur anggota keluarga peserta.
Ikhwal pentahapan peserta kembali diatur dalam Bab lain yang mengatur mengenai
Pendaftaran Peserta.
Contoh lainnya ialah Bab tentang Manfaat Jaminan yang diawali dengan pengaturan
mengenai Manfaat Dasar, tanpa uraian yang jelas mengenai cakupannya, kemudian
dilanjutkan dengan Bagian Penyelenggaraan.
Contoh lainnya lagi, Bab VIII tentang Fasilitas Kesehatan sistimatikanya melompat-lompat.
Sistimatika Rancangan Peraturan Presiden tentang Jaminan Kesehatan bertentangan dengan
prinsip perancangan peraturan sebagaimana dikemukakan oleh Dickerson, The Fundamental
of Legal Drafting, Second Edition:
The second major formal technique for ridding a legal instrument of many of its
substantive inadequacies is to arrange it rigorously and sistimaticaly. The reason is
simply that good architecture directs attention to the nature and relative position of
each element in the hierarchy of the clients ideas.
3. Inkonsistensi penggunaan istilah
Masih ditemukan pengunaan istilah secara tidak konsisten dalam Rancangan Peraturan
Presiden tentang Jaminan Kesehatan .
Contoh-contoh istilah yang tidak konsisten:
1.

keluarga Pasal 1 angka 17 atau anggota keluarga Pasal 9 RPerpres dengan


pengertian masing-masing;

2.

anggota TNI Pasal 1 angka 22 dan Pasal lainnya dalam RPerpres, berbeda dengan
Undang-Undang Nomor 34 tahun 2004 tentang TNI yang menggunakan istilah Prajurit TNI
(Bab VII).

3.

Fasilitas pelayanan kesehatan Pasal 1 angka 18 , istilah provider dalam Pasal


Pasal 36 ayat(2)dan istilah fasilitas kesehatan Bab VIII RPerpres. Undang-Undang SJSN

menggunakan istilah fasilitas kesehatan dalam Pasal 23 ayat (1), ayat(2) Pasal 24 ayat (1)
dan ayat (2).
4.

Kartu Peserta dalam Pasal 13 ayat (6) dan Pasal 21 R Perpres, tidak diatur dalam
Undang-Undang SJSN dan Undang-Undang BPJS. Sebaliknya, Pasal 15 ayat(1) UndangUndang BPJS dan Pasal 13 huruf a Undang-Undang BPJS mewajibkan BPJS memberikan
nomor identitas tunggal kepada peserta.

5.

Penarikan Iuran dalam Pasal 30 RPerpres, tidak dikenal dalam Undang-Undang


SJSN maupun dalam Undang-Undang BPJS yang menggunakan istilah memungut,
membayar, membayarkan, menyetor, memungut dan mengumpulkan, menerima bantuan
Iuran, dan menagih pembayaran iuran.

6.

Sumber Iuran dalam judul bagian kesatu Bab V tidak konsisten dengan bunyi Pasal
22 RPerpres. Sebaliknya, Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang BPJS menggunakan istilah
ditanggung bersama oleh pekerja dan pemberi kerja.

7.

BPJS dalam Pasal 11 ayat(3), Pasal12, Pasal 13 dll, dan BPJS pelaksana program
jaminan kesehatan dalam Pasal 62 R Perpres, seharusnya secara konsisten ditulis BPJS
Kesehatan sebagaimana ditentukan dalam Pasal 1 angka 2 RPerpres.

8.

Pengelompokan peserta jaminan kesehatan dalam Pasal 5 RPerpres ke dalam peserta


penerima bantuan iuran dan peserta bukan penerima bantuan iuran. Peserta bukan
penerima bantuan iuran dikelompokkan lagi menjadi peserta pekerja penerima upah dan
keluarganya, peserta pekerja yang tidak menerima upah yang mampu membayar iuran dan
keluarganya dan peserta bukan pekerja yang mampu membayar iuran dan keluargannya.
Hal tersebut tidak konsisten dengan ketentuan Pasal Pasal 27 Undang-Undang SJSN yang
mengelompokkan peserta menjadi peserta penerima upah, peserta yang tidak menerima
upah dan penerima bantuan iuran. Setiap pemberi kerjadalam Pasal 13 ayat(1)
sedangkan Pasal 13 ayat (3) R Perpres mengunakan istilah seluruh pemberi kerjadalam
Pasal 13 ayat (3) .
4. Materi muatan bertentangan/tidak sesuai dengan UU SJSN/UU BPJS
Masih terdapat materi muatan RPerpres tentang Jaminan Kesehatan yang bertentangan/tidak
sesuai dengan Undang-Undang SJSN atau Undang-Undang BPJS.
Materi muatan R Perpres tentang Jaminan Kesehatan yang bertentangan/tidak sesuai dengan
Undang-Undang SJSN, atau Undang-Undang BPJS antara lain:
(1) Penerima manfaat

Pasal 9 RPerpres mengenai anggota keluarga peserta tidak dibatasi jumlahnya, bertentangan
dengan Penjelasan Pasal 20 ayat (1) Undang-Undang SJSN yang membatasi jumlah anggota
keluarga sebanyak-banyaknya 5 (lima orang) terdiri dari istri/suami yang sah, anak kandung,
anak tiri dari perkawinan yang sah dan anak angkat yang sah.
(2) Kewajiban Fasilitas Kesehatan
Pasal 12 ayat (3) RPerpres yang mewajibkan fasilitas kesehatan memberi tahu peserta dan
atau kantor BPJS terdekat apabila mendapatkan perubahan status peserta, bertentangan
dengan ketentuan Pasal 23 ayat (1) Undang-undang SJSN yang menentukan bahwa fasilitas
kesehatan yang menjalin kerjasama dengan BPJS bertugas memberikan manfaat jaminan
kesehatan kepada peserta. UU SJSN tidak mengatur kewajiban fasilitas kesehatan untuk
memberitahu perubahan status peserta, melainkan perubahan status peserta menjadi urusan
BPJS dan/atau pemberi kerja.
(3) Iuran Tambahan
Pasal 25 ayat(1) dan ayat (2) RPerpres yang mewajibkan peserta mengikutsertakan anggota
keluarganya yang lain, bertentangan dengan Pasal 28 ayat (1) Undang-Undang SJSN yang
menentukan Pekerja yang memiliki anggota keluarga lebih dari 5 (lima ) orang yang ingin
mengikutsertakan anggota keluarganya wajib membayar tambahan iuran.

Ketentuan

Undang-Undang tersebut tidak mewajibkan Pekerja untuk mengikutsertakan anggota


keluarganya yang lain sebagai peserta jaminan kesehatan. Tetapi jika ia mengikutsertakannya,
maka ia wajib membayar tambahan iuran.
Pasal 25 ayat (3) huruf c dan d memperluas Penjelasan Pasal 20 ayat (3) Undang-undang
SJSN yang menyatakan Yang dimaksud dengan anggota keluarga yang lain dalam ketentuan
ini adalah anak ke 4 dan seterusnya, ayah, ibu, mertua.
Untuk mengikutsertakan orang yang bekerja membantu rumah tangga dan menetap dalam
rumah tangga tersebut, dapat diatur mutatis mutandis seperti pekerja penerima upah.
(4) Kelas Perawatan di Rumah Sakit
Pasal 34 RPerpres yang mengatur mengenai kelas perawatan untuk rawat inap bagi peserta
bertentangan dengan ketentuan Pasal 23 ayat (4) Undang-Undang SJSN yang menentukan
Dalam hal peserta mebutuhkan rawat inap di rumah sakit maka kelas pelayanan di rumah
sakit diberikan berdasarkan kelas standar. Ketentuan tersebut harus dihubungkan dengan

prinsip ekuitas jaminan kesehatan yang ditentukan dalam Pasal 19 ayat (1) Undang-Undang
SJSN. RPerPres harus menetapkan kriteria kelas standar sebagai dasar hukum bagi BPJS
Kesehatan berkontrak dengan fasilitas kesehatan, misalnya luas ruang rawat perorang dan
fasilitas yang tersedia di ruang rawat untuk setiap pasen. Penetapan kelas dengan
menggunakan angka (kelas 2 atau kelas 3) akan menimbulkan ketidakjelasan dalam praktik.
(5) Urun Biaya
Pasal 37 R Perpres mengenai urun biaya belum konsisten menjabarkan ketentuan Pasal 22
ayat (2) Undang-Undang SJSN yang menentukan bahwa untuk jenis pelayanan yang dapat
menimbulkan penyalahgunaan pelayanan, peserta dikenakan urun biaya. Jenis pelayanan
dimaksud adalah pelayanan yang membuka peluang moral hazard (sangat dipengaruhi oleh
selera dan perilaku peserta), misalnya pemakaian suplemen, pemeriksaan diagnostik, dan
tindakan yang tidak sesuai dengan kebutuhan medis. Urun biaya dikenakan kepada setiap
peserta yang meminta jenis pelayanan tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22
Undang-Undang SJSN.
(6) Kontrak BPJS dengan Fasilitas Kesehatan
Pasal 48 ayat (2) RPerpres yang mewajibkan fasilitas pelayanan kesehatan milik pemerintah
dan pemerintah daerah bekerjasama dengan BPJS bertentangan dengan Pasal 23 ayat (1)
Undang-Undang SJSN yang tidak mewajibkan fasilitas kesehatan milik pemerintah atau
swasta untuk bekerjasama dengan BPJS. Secara hukum kerjasama dimaksud menghendaki
adanya kesepakatan diantara para pihak.
Selain itu Pasal 48 ayat (2) RPerpres tidak harmonis dengan Pasal 48 ayat (4) RPerpres yang
menentukan kerjasama dikaksanakan dengan membuat perjanjian tertulis antara BPJS dengan
fasilitas pelayanan kesehatan.
Pasal 51 ayat (1) RPerpres yang memberi kewenangan kepada DJSN untuk menetapkan
kriteria yang terstandar bagai fasilitas pelayanan kesehatan yang akan mengikuti seleksi,
bertentangan dengan Pasal 7 Undang-Undang SJSN yang menentukan tugas DJSN adalah
melakukan kajian dan penelitian, mengusulkan kebijakan investasi, mengusulkan anggaran
jaminan sosial bagi penerima bantuan iuran dan tersedianya anggaran operasional kepada
pemerintah, dan kewenangan melakukan monitoring dan evaluasi penyelenggaraan program
jaminan sosial.

(7) Penanganan Keluhan


Pasal 57 ayat (3) mengenai penyampaian keluhan kepada DJSN tidak sesuai dengan
fungsi,tugas dan wewenang DJSN sebagaimana diatur dalam Pasal 7 Undang-Undang SJSN.
Bab X R Perpres tentang Penanganan Keluhan tidak sesuai dengan Pasal 48 Undang-Undang
BPJS yang menentukan Ketentuan mengenai unit pengendali mutu dan penanganan
pengaduan peserta diatur dalam Peraturan BPJS.
(8) Penanganan Sengketa
Bab XI R Perpres tentang Penyelesaian Sengketa, tidak sesuai dengan Pasal 49 ayat(5)
Undang-Undang BPJS yang menentukan Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara
penyelesaian sengketa melalui mediasi dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan. Yang dimaksud dengan peraturan perundang-undangan disini adalah
Undang-Undang tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa.
Pasal 49 ayat (2) Undang-Undang BPJS menentukan mekanisme mediasi dilakukan melalui
bantuan mediator yang disepakati oleh kedua belah pihak secara tertulis. Bukan diselesaikan
oleh Dinas Kesehatan setempat melalui proses mediasi sebagaimana diatur dalam pasal 58
ayat (1) RPerpres. Undang-Undang BPJS tidak mendelegasikan pengaturan soal tersebut
dalam Perpres. Apalagi materi muatannya tidak sesuai dengan Pasal 49 Undang-Undang
BPJS dan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Pilihan
Penyelesaian Sengketa.
(9) Pengundangan
Pasal 65 RPerpres bertentangan dengan Pasal 82 undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011
tentang pembentukan Peraturan Perundang-Undangan yang menentukan antara lain bahwa
Perpres diundangkan dalam Lembaran Negara RI.
5. Ketidaksesuaian Materi Muatan Dengan Prinsip SJSN
Salah satu contoh ketidaksesuaian materi muatan dengan prinsip SJSN adalah ketentuan
mengenai iuran dan manfaat jaminan kesehatan.
(1) Iuran

Iuran bersifat regresif. Batas atas upah sebagai dasar perhitungan iuran sangat rendah,
sehingga Pekerja yang berpenghasilan di atas batas tersebut membayar lebih kecil jika
dibandingkan secara proporsional terhadap pendapatannya.
Batas bawah upah untuk perhitungan iuran tidak ditentukan. Selain itu tidak ditetapkan pula
batas penghasilan bagi penduduk yang dibebaskan dari kewajiban membayar iuran jaminan
kesehatan dan berhak atas subsidi iuran dari Pemerintah.
Dasar perhitungan iuran berbeda untuk tiap kelompok pekerja, sehingga terkesan
mengistimewakan kelompok tertentu. Dasar perhitungan iuran jaminan kesehatan bagi
pegawai negeri adalah gaji pokok, sedangkan iuran pekerja dihitung dari upah yang dalam
ketentuan umum termasuk tunjangan bagi pekerja dan keluarga.
Besaran iuran bagi pekerja bukan penerima upah ditetapkan dalam satu angka nominal.
Penetapan ini tidak mencermati rentang penghasilan yang lebar dalam kelompok pekerja ini.
Besar iuran yang wajib dibayarkan oleh Pemerintah bagi Penerima Bantuan Iuran ditetapkan
dalam angka nominal tanpa dibatasi dengan ketentuan sekurang-kurangnya sama dengan
besar iuran terendah yang dibayar oleh pekerja. Kedua ketentuan tersebut berpotensi
menimbulkan ketidakadilan.
Oleh karena hal tersebut di atas, Besaran iuran dalam Pasal 23 ayat (3) dan ayat (4) RPerpres
perlu dihitung secara cermat dengan memperhatikan prinsip ekuitas dan prinsip gotongroyong, inflasi pelayanan kesehatan, luas dan dalamnya manfaat, kualitas pelayanan
kesehatan yang diberikan, serta kelangsungan penyelenggaraan program jaminan kesehatan.
(2) Manfaat
Manfaat sangat terbuka, tidak ada batasan yang jelas maupun tegas. RPerpres perlu
mengatur pagu manfaat total untuk setahun dengan sub-sub pagunya agar lebih memberi
kepastian kepada setiap peserta dan menjamin kelangsungan penyelenggaraan program.
PerPres memuat daftar manfaat (positive list) dan daftar pengecualian (negative list),
bagimana dengan pelayanan yang tidak tercantum dalam kedua daftar tersebut?
Ketidaklengkapan daftar akan menyulitkan dalam praktek. Berbeda halnya jika PerPres
menganut teori residu, yaitu PrePres menentukan di luar jenis pelayanan yang tidak dijamin
berarti dijamin.

Pasal 26 Undang-Undang SJSN menentukan Jenis-jenis pelayanan yang tidak dijamin BPJS
akan diatur lebih lanjut dalam Perpres. Dalam RPerpres diatur pelayanan kesehatan yang
dijamin, pelayanan kesehatan dengan urun biaya dan pelayanan kesehatan yang tidak dijamin
(Pasal 36,Pasal 37 dan Pasal 39). Ketentuan Pasal-Pasal tersebut belum sesuai dengan kaidah
jaminan kesehatan sehingga perlu dikaji secara seksama, terutama untuk menentukan kriteria
jenis pelayanan yang dijamin, yang dengan urun biaya dan yang tidak dijamin sesuai dengan
prinsip pelayanan kesehatan dalam SJSN.
Hendaknya dalam menentukan jenis pelayanan kesehatan yang tidak dijamin, PerPres
mentapkan daftar pelayanan berdasarkan kriteria jenis penyakit dan metode terapi, seperti
halnya menetapkan daftar manfaat.
6. Ketentuan yang ambigu.
Dalam RPerpres masih terdapat ketentuan yang ambigu antara lain:
1.

Bagaimana tata cara pemungutan iuran WNI yang berada di luar negeri? Apakah
pemberi kerja tempat WNI yang bersangkutan bekerja wajib memungut iuran dari pekerjanya
dan membayar iuran yang menjadi kewajiban pemberi kerja dan menyetorkannya kepada
BPJS? Atau iuran dipungut dan disetorkan ke BPJS oleh perusahaan pengirim tenaga kerja
yang bersangkutan? Apakah pemberi kerja WNI di Negara lain tunduk kepada ketentuan
Undang-Undang SJSN dan Undang-Undang BPJS?

2.

Tidak jelas siapa yang wajib mendaftar menurut Pasal 8 ayat (3) RPerpres? Peserta
pekerja penerima upah atau pemberi kerjanya?

3.

Pasal 10 ayat (3) RPerpres tidak jelas menetapkan siapa yang dimaksud dengan
pemerintah dalam ayat ini.

4.

Pasal 11 ayat (3) RPerpres tidak jelas menetapkan siapa yang dimaksud dengan
Kementerian/lembaga terkait ?

5.

Tidak jelas siapa atau insstansi mana yang menentukan peserta yang tidak menerima
upah termasuk secara ekonomi mampu sebagai, mana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1)
RPerpres?

6.

Tidak jelas siapa yang membentuk kelompok sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14
ayat (2)? Apakah kelompok dimaksud harus berbentuk badan hukum atau cukup kelompok
sukarela yang dibentuk diantara peserta?

7.

Peraturan perundang-undangan mana yang dimaksud dalam pasal 15 RPerpres?


Apakan PP tentang PBI?

8.

Pasal 24 RPerpres tidak jelas maksudnya.

9.

Pasal 25 ayat (1) tanpa penempatan tanda baca yang tepat dapat berubah
pengertiannya mejadi Peserta bukan pekerja yang mampu membayar iuran, sehingga ayat
tersebut menjadi tidak logis.

10.

Pasal 26 RPerpres apakah tidak perlu ditetapkan batas atasnya?

11.

Apa yang dimaksud dengan secara berkala dalam pasal 27 ayat (6) R Perpres?

12.

Apa yang dimaksud dengan sesegera mungkin dalam Pasal 30 ayat (2)?

13.

Mengapa Pasal 30 ayat (3) tidak mencantumkan kewenangan BPJS untuk menagih
pembayaran iuran sebagaimana diatur dalam Pasal 11 huruf a Undang-Undang BPJS?

14.

Pasal 36 angka 11 RPerpres tidak jelas menentukan diatur lebih lanjut oleh siapa
dengan instrumen hukum apa?

15.

Pasal 39 ayat(1) huruf RPerpres diatur oleh pemerintah, tidak jelas siapa yang
dimaksud dengan pemerintah dan tidak jelas juga dengan instrumen hukum apa diatur?

16.

Tidak jelas tenaga apa yang dimaksud dalam Pasal 44 ayat (4) RPerpres?

17.

Pasal 46 RPerpres apakah terkait dengan mutu pelayanan? Sebab Pasal tersebut
berbicara masalah kompensasi jasa medis atau gaji yang sama bagi pemberi pelayanan tanpa
memandang kelas pelayanan.
7. lain-lain

1.

Perlu dikaji secara yuridis apakan Peraturan Presiden ini dapat memberikan delegasi
kewenangan kepada BPJS untuk mengatur atas persetujuan DJSN (Pasal 22 ayat (5), Pasal 37
ayat (3), Pasal 40 ayat (2), atau tanpa persetujuan DJSN (Pasal 13 ayat (3), Pasal 14 ayat (3),
Pasal 21 ayat (5), Pasal 35 ayat(3), Pasal 36 ayat (1) huruf c angka 1 dan 3, Pasal 38 ayat (2)
R Perpres selain kewenangan mengatur yang ditentukan dalam Undang-Undanag BPJS?

2.

Apakah dikenal jenis peraturan perundang-undangan dalam bentuk peraturan bersama


BPJS dan DJSN sebagaiman ditentukan dalam Pasal 43 ayat (3) RPerpres?

3.

Bab XII Pembinaan dan pengawasan RPerpres tidak termasuk materi muatan yang
didelegasikan pengaturannya dalam Perpres.

4.

Pasal 50 ayat (1) RPerpres yang mencantumkan Ikatan Dokter Indonesia dan
Persatuan Dokter Gigi Indonesia sebagai asosiasi fasilitas kesehatan untuk dokter praktek
pribadi tidak sesuai dengan UU No. 29 Tahun 2004 tentak Praktik Kedokteran, yang
menentukan organisasi tersebut sebagai organisasi profesi yang berfungsi melakukan
pembinaan terhadap dokter dan dokter gigi yang melakukan praktik kedokteran.

5.

Pasal 50 ayat (2) RPerpres yang menentukan pengaturan dengan Peraturan Menteri
mengenai asosiasi fasilitas kesehatan untuk rumah sakit dan fasilitas kesehatan yang lain di

luar ketentuan Pasal 50 ayat (1) tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan tentang
perhimpunan berbadan hukum.

PERLU DIBEDAH DAN DIRUMUSKAN ULANG


RPerpres yang kini sedang digodog oleh Pemerintah belum layak untuk diundangkan. Materi
muatan RPerpres tentang Jaminan Kesehatan masih sarat dengan berbagai masalah. Masalah
sangat luas dan dalam, baik dilihat dari teknik penyusunan Peraturan Perundang-Undangan,
maupun dari kesesuaian materi muatannya dengan Undang-Undang SJSN dan UndangUndang BPJS serta dengan prinsip penyelenggaraan jaminan kesehatan.
Jika ingin Perpres tersebut operasional, efektif dan memberi manfaat yang lebih baik bagi
peserta, RPerpres tentang Jaminan Kesehatan perlu dibedah secara cermat dan dirumuskan
ulang.

Libatkan pemangku kepentingan, para ahli dan perancang peraturan perundang-

undangan yang berpengalaman.


Masyarakat menunggu diundangkannya Perpres tentang Jaminan Kesehatan dengan harapan
yang tinggi, yaitu adanya regulasi yang jelas, operasional dan efektif, untuk memberikan
manfaat pelayanan kesehatan yang lebih berkualitas dan komprehensif kepada seluruh
penduduk, dan kepastian hukum bagi BPJS Kesehatan dan fasilitas kesehatan.
Sangat disayangkan, jika window of opportunity yang disediakan oleh UUSJSNtidak
dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk penataan ulang pelayanan kesehatan perorangan di
Indonesia. Melalui program jaminan kesehatan nasional, diharapkan segera terwujud cakupan
semesta (universal coverage) pelayanan kesehatan untuk peningkatan ketersediaan pelayanan
berkualitas yang dapat berdampak pada peningkatan derajat kesehatan dan produktifitas
bangsa Indonesia.