Anda di halaman 1dari 68

PROTOZOOLOGI KESEHATAN

THOMAS SUMARSONO,S.Si.,M.Si.

Pengantar
Protozoa adalah hewan bersel satu (uniseluler) yang hidup sendiri

atau dalam bentuk koloni (proto : pertama; zoon : hewan).


Tiap

protozoa merupakan kesatuan lengkap yang sanggup


melakukan semua fungsi kehidupan yang pada jasad lebih besar
dilakukan oleh sel khusus.

Sebagian besar protozoa hidup bebas di alam, tetapi beberapa

jenis hidup sebagai parasit pada manusia dan binatang.


Ukuran protozoa berkisar dari 1 m sampai 50o m atau lebih.
Semua protozoa yang penting dalam bidang medik berukuran

mikroskopis.
Terdapat 17 genus dan 10.000 spesies yang bersifat parasit.
Habitatnya di tanah dan air.

Morfologi dan Daur Hidup


Struktur dasar tubuh protozoa adalah sitoplasma dan inti

(nukleus) dan bersifat eukariotik.


Inti

merupakan bagian penting yang


mempertahankan hidup dan reproduksi.

diperlukan

untuk

Sitoplasma terdiri atas endoplasma, bagian dalam yang lebih

besar dan ektoplasma, bagian luar yang tipis.


Endoplasma

yang berbutir-butir
mengurus gizi sel dan reproduksi.

dan

mengandung

inti

Endoplasma berisi vakuola makanan, cadangan makanan,

vakuola kontraktil, dan benda kromatoid.


Ektoplasma

tampak jernih dan homogen dan berfungsi


sebagai alat pergerakan, mengambil makanan, ekskresi,
respirasi, dan bertahan diri.

Morfologi dan Daur Hidup


Bentuk protozoa ada yang bulat, lonjong, simetris,

bilateral, atau tidak teratur.


Pada umumnya protozoa mempunyai dua stadium,
yaitu stadium vegetatif atau stadium trofozoit dan
stadium kista yang tidak aktif.
Protozoa yang terbesar adalah Balantidium coli.
Protozoa memiliki alat gerak berupa pseudopodia (kaki
semu), bulu cambuk (flagel), dan bulu getar (silia).
Berdasarkan
alat
gerak
tersebut,
protozoa
dikelompokkan menjadi Rhizopoda (pseudopodia),
Mastigophora (flagel), Cilata (silia), dan sporozoa
(tidak memiliki alat gerak).

Reproduksi
Protozoa melakukan reproduksi dengan dua

cara, yaitu secara aseksual dan seksual.


Reproduksi aseksual dapat terjadi melalui :
1. Pembelahan biner (binary fission)
2. Pembelahan multipel (multiple fission atau
schizogony)
3. Endodyogeny
.Reproduksi seksual dapat dilakukan melalui
konjugasi dan syngamy.

Klasifikasi protozoa medik


Kingdom : Animalia
Sub Kingdom : Protozoa
Phylum : Sarcomastigophora

Subphylum : Sarcodina (Rhizopoda)


Subphylum : Mastigophora
Phylum : Apicomplexa
Phylum : Microspora
Phylum : Ciliophora
Phylum : Bigyra

Sarcodina (Rhizopoda)
Subphylum Sarcodina (Rhizopoda) terdiri dari

6 genus, yaitu :
1. Entamoeba
2. Iodamoeba
3. Endolimax
4. Acanthamoeba
5. Naegleria
6. Balamuthia

Mastigophora
Subphylum Mastigophora terdiri dari 8 genus,

yaitu :
1. Giardia
2. Chilomastix
3. Retortamonas
4. Enteromonas
5. Trichomonas
6. Dientamoeba
7. Leishmania
8. Trypanosoma

Apicomplexa
Phylum

Apicomplexa terdiri dari 6 genus,

yaitu :
1. Plasmodium
2. Babesia
3. Isospora
4. Sarcocystis
5. Toxoplasma
6. Cryptosporidium

Microspora
Phylum Microspora terdiri dari 8 genus, yaitu :
1. Encephalitozoon
2. Enterocytozoon
3. Nosema
4. Microsporodium
5. Trachipeistophora
6. Pleistophora
7. Vittaforma
8. Brachiola

Ciliophora dan Bigyra


Phylum

Ciliophora
dan
Bigyra
hanya
mempunyai 1 genus yang bersifat parasit,
yaitu Balantidium (Ciliophora) dan Blastocystis
(Bigyra).

Rhizopoda
Manusia merupakan hospes delapan spesies

ameba yang hidup dalam rongga usus besar,


yaitu Entamoeba histolytica, Entamoeba
dispar,
Entamoeba
coli,
Entamoeba
hartmanni, Jodamoeba butschlii, Dientamoeba
fragilis, Endolimax nana, dan satu spesies
ameba yang hidup dalam mulut, yaitu
Entamoeba gingivalis.
Semua ameba tersebut tidak patogen dan
hidup sebagai komensal pada manusia,
kecuali Entamoeba histolytica.

Entamoeba histolytica

Hospes dan nama penyakit


Manusia

merupakan

satu-satunya

hospes

parasit ini.
Penyakit
yang
disebabkannya
disebut
amebiasis.
Walaupun beberapa binatang yaitu anjing,
kucing, tikus, dan monyet dapat diinfeksi
secara
percobaan
dengan
Entamoeba
histolytica.

Distribusi Geografik
Amebiasis

terdapat
di
seluruh
dunia
(kosmopolit) terutama di daerah tropik dan
daerah beriklim sedang.
Amebiasis sering ditemukan pada negara
negara yang sedang berkembang (Developing
countries) dan daerah yang memiliki sanitasi
rendah.

Morfologi dan daur hidup


Dalam daur hidupnya, Entamoeba histolytica

mempunyai dua stadium, yaitu trofozoit


(bentuk histolitika dan bentuk minuta) dan
kista.
Trofozoit
(trophos : makan) merupakan
stadium daur hidup protozoa yang dapat
mencerna makanan, dapat bergerak (motil),
sehingga mampu untuk menginfeksi jaringan.
Kista (cyst) merupakan bentuk non motil,
dilindungi oleh membran dan dinding, stadium
infektif dari parasit.

Morfologi dan daur hidup


Bentuk histolitika bersifat patogen dengan ukuran yang

lebih besar dibandingkan bentuk minuta.


Bentuk histolitika memiliki diameter 12-60 mikron.
Endoplasma mengandung butiran halus, biasanya tidak

mengandung
bakteri
atau
sisa
makanan,
mengandung sel darah merah (eritrosit).

tetapi

Ektoplasmanya tidak berwarna dan terdapat pada bagian

terluar sel.
Bergerak dengan cepat dengan menggunakan pseudopodia
Bentuk histolitika berkembang biak dengan pembelahan

biner daam jaringan yang ditempatinya dan bersifat


merusak jaringan sekitarnya melalui sekresi enzim
proteinase.

Morfologi dan daur hidup


Bentuk

minuta merupakan bentuk pokok


(essensial) dalam daur hidup Entamoeba
histolytica.
Bentuk minuta berukuran 10-20 mikron.
Memiliki inti dengan endoplasma berbutirbutir halus.
Pada bagian endoplasmanya tidak terdapat
sel darah merah tetapi mengandung bakteri
serta sisa makanan.
Pseudopodia yang ada dibentuk secara
perlahan-lahan
sehingga
pergerakannya
relatif lambat.

Morfologi dan daur hidup


Bentuk kista dibentuk di rongga usus besar, ukurannya 10-20

mikron, dengan bentuk bulat hingga lonjong, mempunyai


dinding kista sebagai pelindung diri, dan berinti entamoeba.
Dalam tinja, biasanya bentuk ini memiliki inti sebanyak 1, 2,

atau 4.
Pada

endoplasmanya terdapat benda kromatoid berukuran


besar yang sebenarnya merupakan kumpulan ribosom.

Selain itu juga terdapat vakuola glikogen sebagai penyimpan

cadangan makanan.
Pada kista

yang lebih matang, benda kromatoid dan vakuola


glikogen biasanya sudah tidak terdapat lagi.

Bentuk

kista memiliki viabilitas yang tinggi, yakni dapat


bertahan hidup hingga 3 bulan pada lingkungan yang sesuai.

Morfologi dan daur hidup


Infeksi terjadi dengan menelan kista yang matang.
Bila kista yang matang tertelan, kista tersebut akan tetap utuh

ketika sampai di lambung.


Terdapatnya dinding kista yang kuat menyebabkan kista dapat

bertahan terhadap asam lambung.


Dalam rongga usus halus terjadi eksistasi dengan keluarnya

bentuk-bentuk minuta yang kemudian menuju usus besar.


Bentuk minuta ini kemudian dapat berubah menjadi bentuk

histolitika yang patogen dan hidup di mukosa usus besar serta


dapat menimbulkan gejala.
Melalui aliran darah, bentuk histolitika ini dapat menyebar

hingga ke jaringan hati, paru-paru, dan otak.

Patologi dan gejala klinis


Bentuk histolitika

yang berhasil menembus mukosa usus


besar akan mensekresi suatu enzim cystein proteinase yang
dapat melisiskan jaringan.

Kemudian bentuk histolitika ini dapat masuk hingga lapisan

submukosa dengan menembus lapisan muskularis mukosa.


Dengan

bersarangnya bentuk histolitika pada lapisan


submukosa, akan terbentuk kerusakan jaringan yang makin
meluas sehingga terjadi luka yang disebut ulkus amoeba.

Proses yang terjadi terutama adalah nekrosis dengan lisis sel

jaringan (histolisis).
Reaksi peradangan dapat

sekunder.

terjadi jika juga terjadi infeksi

Patologi dan gejala klinis


Bentuk histolitika mudah ditemukan dalam

jumlah besar pada bagian dasar dan dinding


ulkus.
Dengan peristaltis ulkus, bentuk histolitika ini
dikelurkan
bersamaan
isi
ulkus
untuk
menyerang lagi mukosa usus yang masih
sehat atau dikeluarkan bersama tinja.
Tinja yang mengandung bentuk histolitika ini
disebut sebagai tinja disentri dan umumnya
bercampur lendir dan darah.

Patologi dan gejala klinis


Amebiasis

intestinal dapat berupa infeksi


yang simtomatik atau asimtomatik.
Infeksi simtomatik memiliki gejala berupa
diare dengan tinja yang berlendir atau disertai
darah, tenesmus anus (nyeri ketika buang air
besar), serta perasaan tidak enak di perut dan
mules.
Infeksi asimtomatik tidak menimbulkan gejala
yang jelas sehingga sering kali tidak disadari.
Sebanyak 90% infeksi Entamoeba histolytica
pada manusia bersifat asimtomatik.

Diagnosis Laboratorium
Diagnosis

laboratorium
dalam
deteksi
Entamoeba histolytica amat penting dilakukan
tidak
hanya
pada
penderita
disentri,
melainkan juga pada kasus infeksi entamoeba
yang bersifat asimtomatik.
Infeksi asimtomatik jika dibiarkan dapat
berubah menjadi disentri amebiasis yang
serius,
namun
sebagian
besar
infeksi
asimtomatik
akan
menghilang
dengan
sendirinya.

Diagnosis Laboratorium
Pemeriksaan

mikroskopis langsung pada


spesimen tinja merupakan metode diagnostik
yang paling awal ditemukan dan hingga kini
merupakan cara yang paling banyak dilakukan
dalam mendiagnosis infeksi berbagai parasit
usus.
Pemeriksaan mikroskopis terhadap kista dan
bentuk trofozoit menggunakan minimal 3
sampel
tinja
dalam
periode
10
hari
direkomendasikan
karena
dapat
meningkatkan deteksi dari 85% menjadi 95%.

Diagnosis Laboratorium
Terdapat beberapa faktor

yang dapat berpengaruh


terhadap hasil dari metode pemeriksaan mikroskopis.

Faktor-faktor

tersebut diantaranya : keterlambatan


sampainya spesimen (motilitas Entamoeba histolytica
dapat berkurang trofozoit dapat lisis dalam 20-30
menit), kesulitan dalam membedakan trofozoit yang
non motil dengan leukosit polimorfonuklear, makrofag,
dan sel-sel dalam jaringan, kondisi pengumpulan
spesimen yang tidak baik, substansi penggangu
(antibiotik), jumlah spesimen yang tidak akurat,
gangguan pada pengawetan spesimen, dan kehadiran
amoeba lainnya pada spesimen.

Pengobatan
Turunan

Nitroimidazole
(metronidazole,
tinidazole, ornidazole) merupakan obat yang
paling sering digunakan untuk mengeliminasi
atau menghilangkan trofozoit dari Entamoeba
histolytica.
Dosis metronidazole yang digunakan yaitu
750 mg tiga kali sehari selama 5 sampai 10
hari.

Pencegahan dan Kontrol


Hal

ini terkait erat dengan menjaga


kebersihan makanan, pengontrolan lalat,
pembuangan limbah, dan persediaan air yang
tepat.
Klorinasi air tidak dapat membunuh kista.
Air seharusnya di didihkan dan disaring untuk
menghilangkan parasit.
Iodinasi air dapat membunuh kista.

Leishmaniasis

Thanks for Your Attention.