Anda di halaman 1dari 26

Laporan Kuliah Kerja Nyata Praktik (KKN-P)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Struktur Organisasi Proyek


Menurut Paulus Nugraha: 1992, Proyek merupakan suatu kegiatan yang
berlangsung dalam kurun waktu, sumber daya, dan tujuan yang telah ditetapkan dengan
jelas. Dalam pelaksanaannya, suatu proyek sering dihadapkan pada masalah
keterbatasan tertentu seperti anggaran yang dimiliki, jadwal yang harus terpenuhi dan
sumber daya yang tersedia. Sehingga untuk mencapai tujuan dalam suatu proyek
diperlukan manajemen yang baik, meliputi aspek perencanaan, pengaturan tenaga kerja,
pengarahan dan pengendalian. Sukses atau gagalnya mengelola proyek konstruksi
sangat tergantung kepada orang orang yang mengelolanya. Kesimpulannya manajemen
merupakan kegiatan mengatur atau memimpin berbagai kegiatan orang atau kelompok
orang dalam rangka mencapai tujuan bersama yang ditetapkan.
Paulus Nugraha melanjutkan, salah satu contoh penerapan manajemen,
khususnya manajemen organisasi bilamana dua orang atau lebih bersepakat untuk
bekerja sama. Untuk itu diperlukan suatu pengaturan yang jelas, siapa mengerjakan apa,
dan kepada siapa orang yang bekerja itu harus mempertanggungjawabkan pekerjaannya
dalam bentuk laporan. Dibentuklah struktur organisasi sebagai sarana penentuan dan
pengaturan serta pembagian tugas antara orang atau kelompok. Organisasi diperlukan
supaya pekerjaan dapat dilaksanakan dengan tertib dan teratur. Di samping itu juga
diperlukan adanya pembatasan tanggung jawab yang jelas sehingga tidak menimbulkan
overlapping kerja. Karena dengan adanya tanggung jawab yang rangkap akan
mengakibatkan terhambatnya kelancaran kerja terutama akan dialami oleh bawahan.
Salah satu aspek dalam manajemen proyek adalah aspek organizing atau
pengaturan. Permasalahan organizing atau pengaturan ini sangat diperlukan terutama
untuk menangani suatu proyek. Oleh karena itu, diperlukan adanya suatu bentuk
organisasi yang sesuai dengan proyek yang akan dikerjakan. Dimana fungsi dari
organisasi itu sendiri adalah merubah sesuatu (dapat berupa material, informasi,
Pelaksanaan Pembangunan Gedung B
Program Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (PTIIK)
Tahap I
Universitas Brawijaya
7

Laporan Kuliah Kerja Nyata Praktik (KKN-P)


ataupun masyarakat) melalui suatu tatanan terkoordinasi yang mampu memberikan nilai
tambah, sedemikian sehingga organisasi tersebut dapat mencapai tujuannya dengan
baik. (Istimawan Dipohusodo: 1996, hal 40)
Untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut diperlukan adanya manajemen
proyek atau yang disebut dengan Proses Siklus Manajemen, yang meliputi:
1. Planning (Perencanaan)
2. Organizing & Staffing (Pengaturan dan penyediaan staf)
3. Directing (Pengarahan)
4. Controlling (Pengendalian)
5. Coordinating (Pengkoordinasian)
Dengan adanya kenyataan tersebut maka diperlukan suatu manajemen yang
pada prinsipnya merupakan suatu proses, kegiatan atau usaha untuk mencapai tujuan
tertentu melalui kerjasama dengan orang lain berdasarkan ilmu dan seni. Untuk
mencapai sasaran tersebut diperlukan sejumlah sarana, fasilitas atau alat yang disebut
juga sebagai unsur-unsur manajemen. Unsur-unsur manajemen tersebut seringkali
dirumuskan oleh ahli manajemen dengan sebutan The five M in Management .
Elemen-elemen tersebut merupakan faktor yang harus disediakan pada suatu
kegiatan yaitu meliputi :
a.

Man (manusia)
Manusia menjadi penentu tujuan sekaligus pelaku dalam proses kegiatan yang telah
direncanakan. Tegasnya, faktor manusia itu mutlak. Tak akan ada manajemen tanpa
adanya manusia. Manusia yang merencanakan, melakukan, menggunakan,
melaksanakan, dan merasakan hasil dari manajemen itu.

b.

Money (keuangan dan pembiayaan)


Dalam dunia modern, uang sebagai alat tukar dan alat pengukur nilai, amat
diperlukan untuk mencapai sesuatu tujuan, disamping unsur manusianya.

c.

Methods (metode dan cara-cara kerja)

Pelaksanaan Pembangunan Gedung B


Program Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (PTIIK)
Tahap I
Universitas Brawijaya
8

Laporan Kuliah Kerja Nyata Praktik (KKN-P)


Yaitu cara melaksanakan sesuatu pekerjaan dalam rangka mencapai tujuan yang
ditetapkan. Cara kerja yang tepat amat menentukan kelancaran jalannya roda
manajemen.
d.

Materials (bahan-bahan atau perlengkapan)


Faktor material sangat penting, karena manusia tidak dapat berbuat tanpa bahan
dan perlengkapan.

e.

Machines (mesin-mesin)
Peranan mesin dalam jaman modern ini tidak diragukan lagi. Mesin membawa
kemudahan dalam pekerjaan, menyingkatkan waktu bekerja untuk menghasilkan
sesuatu sehingga tingkat efisiensi lebih tinggi diharapkan menghasilkan hasil yang
maksimal.

Bentuk dan organisasi proyek menurut Suharto dan Imam dapat dibagi, antara lain:
1. Struktur Organisasi Kontraktual
Struktur Organisasi Kontraktual adalah struktur organisasi proyek yang menunjukkan
pihak-pihak yang terlibat dalam suatu proyek dengan wewenang dan tanggung jawab sesuai
kontrak yang disetujui bersama.

Secara umum skema Struktur Organisasi Kontraktual dalam suatu proyek


memberikan gambaran pihak-pihak yang terkait dalam suatu proyek. Keterlibatan
pihak-pihak tersebut terbagi dalam garis atau instruksi dan garis koordinasi.
2. Organisasi Proyek Fungsional
Pada organisasi proyek fungsional, lingkup kegiatan proyek diserahkan dan
menjadi bagian atau tambahan kegiatan fungsional serta dipimpin oleh manajer.
Struktur organisasi tersebut dianggap kurang efektif untuk menangani proyek yang
berukuran besar, kompleks dan multi disiplin yang memerlukan integrasi ketat antara
para pelaku dan komponen pekerjaan yang bersangkutan, baik dan dalam maupun dan
luar organisasi. (Imam Soeharto: 1995, hal. 50)
Pimpinan umum

Pemasaran

keuangan

Umum

Manufaktur

Logistik

Pemeliharaan
Manajer Proyek dan teknik
Operasi

Pelaksanaan Pembangunan Gedung B


Program Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (PTIIK)
Tahap I
InspeksiStudi dan pengembangan
Design Enginering
Universitas Brawijaya
9

Laporan Kuliah Kerja Nyata Praktik (KKN-P)

Jalur laporan/ arus kegiatan fungsional


Jalur laporan/ arus kegiatan proyek
Gambar 2.1 Struktur organisasi fungsiona
3. Organisasi Proyek Koordinasi
Adanya penunjukkan seorang koordinator yang bertugas sepenuhnya mengurusi
proyek, yaitu mengkoordinasi pekerjaan, tenaga, dan kegiatan lain yang berhubungan
dengan proyek. Karena adanya koordinator yang bertindak sebagai staf dan melapor
pada manajer

maka semua urusan proyek akan mendapatkan lebih perhatian

dibanding OPF. (Imam Soeharto: 1995, hal. 52)


Pimpinan umum

Pemasaran keuangan

Umum

Manufaktur

Logistik
Koordinator proyek

Pemeliharaan
Operasi
Manajer Proyek dan teknik

Jalur fungsional
Jalur koordinasi OPK
Gambar 2.2 Struktur organisasi proyek koordinasi
4. Organisasi Proyek Murni

Pelaksanaan Pembangunan Gedung B


Program Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (PTIIK)
Tahap I
Universitas Brawijaya
10

Laporan Kuliah Kerja Nyata Praktik (KKN-P)


Organisasi ini sering disebut organisasi murni karena disini proyek berstastus
mandiri, artinya, proyek ini terpisah dan sejajar dengan divisi atau departemen lain
dalam perusahaan. (Imam Soeharto: 1995, hal. 55)

Pimpinan umum

Dept. Administrasi danDept.


keuangan
Engineering
Dept. Konstruksi Pimpro

Pengadaan

Konstruksi

Sipil

Engineering

Dept. Logistik

Proyek Kontrol

Proses

Mekanikal

2.3 Struktur Organisasi Murni


5. Organisasi Proyek Matriks
Organisasi ini dimaksudkan untuk mengambil segi-segi positif struktur
fungsional dan OPM. Dari sudut pandang perusahaan secara menyeluruh dalam
Pimpinan
menangani proyek. Pada OPM tergabung
duaumum
unsur yaitu organisasi fungsional dan

proyek. Masing-masing komponen OPM secara administratif tetap terkait dengan


Administrasi
dan Keuangan
Dept.
Engineering
Dept.bersangkutan
Konstruksi
Dept. Project
Dept Dept.
Pengadaan
Dept
Proyek
departemen
yang
dengan Control
induk
organisasinya
dan terkait
ke
pimpro

mengenai penanganan proyek. (Imam Soeharto: 1995, hal. 57)

A1

A1

A1

A1

A1

Proyek A

Pelaksanaan
Pembangunan
Gedung B
A1
A1
A1
A1
A1
Program Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (PTIIK)Proyek B
Tahap I
Universitas Brawijaya
11
A1

A1

A1

A1

A1

Proyek C

Laporan Kuliah Kerja Nyata Praktik (KKN-P)

Gambar 2.4 Struktur Organisasi Matriks


2.2 Pelaksanaan
2.2.1. Beton
Beton adalah suatu komposit dari beberapa bahan batu-batuan yang direkatkan
oleh bahan ikat. Beton dibentuk dari agregat campuran (halus dan kasar) dan ditambah
dengan pasta semen. Material penyusun beton secara umum terdiri dari semen, agregat,
air dan bahan kimia tambahan.
a.

Semen
Semen dipakai sebagai petunjuk sekelompok bahan ikat hidrolik untuk

pembuatan beton. Hidrolik berarti semen bereaksi dengan air dan membentuk suatu
batuan massa, selain itu juga suatu produksi keras yang kedap air.
Semen adalah suatu hasil produksi yang dibuat di pabrik. Pabrik semen
memproduksi bermacam-macam jenis semen dengan sifat-sifat dan karakteristik yang
berlainan. Semen dibedakan dalam dua kelompok utama yakni:
1. Semen dari bahan klinker-semen-Portland
- Semen Portland
- Semen Portland abu terbang
- Semen Porthland berkadar besi
- Semen tanur-tinggi
- Semen Portland puzzolan
- Semen Portland putih
2. Semen-semen lain
- Aluminium semen
- Semen bersulfat
Semen dan air saling berinteraksi, persenyawaan ini dinamakan hidratasi
sedangkan hasil interaksi ini diesbut hidrasi-semen. Proses reaksi berjalan sangat cepat.
Seperti yang telah dijelaskan bahwa sebelumnya akan ditambah beberapa persen bahan

Pelaksanaan Pembangunan Gedung B


Program Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (PTIIK)
Tahap I
Universitas Brawijaya
12

Laporan Kuliah Kerja Nyata Praktik (KKN-P)


tambahan gips. Gips bersifat menghambat pengikatan semen dan air. Dengan adanya
penambahan ini, akhirnya beton dapat diangkut dan dikerjakan sebelum pembentukan
ikatan akhir.(Sagel et al., 1993:147)

b. Agregat
Agregat (yang tidak bereaksi) adalah bahan-bahan campuran beton yang saling
diikat oleh perekat semen.Agregat yang umum dipakai adalah pasir, kerikil, dan batubatu pecah.Pemilihan agregat tergantung dari syarat-syarat yang ditentukan beton,
persediaan lokasi pembuatan beton, serta perbandingan yang telah ditentukan antara
biaya dan mutu.(Sagel et al., 1993:148)
c.

Air
Karena pengerasan beton berdasarkan reaksi antara semen dan air, maka sangat

diperlukan pemeriksaan apakah air yang digunakan memenuhi syarat tertentu. Air tawar
yang dapat diminum, tentu boleh dipakai. Air minum tidak selalu ada di setiap tempat,
jika tidak ada disarankan menggunakan air lain dan diamati apakah air tersebut
mengandung hal-hal yang akan merusak beton/baja.
Pertama-tama yang harus diperhatikan kejernihan air tawar. Apabila ada
beberapa kotoran yang terapung, maka air tidak boleh dipakai. Di samping pemeriksaan
visual, harus juga diamati apakah air itu tidak mengandung bahan-bahan perusak.
Contohnya fosfat, minyak, asam, alkali, bahan-bahan organik atau garam-garam.
Penelitian semacam ini harus dilakukan di laboratorium kimia selain air dibutuhkan
untuk reaksi pengikatan, dipakai pula sebagai perawatan sesudah beton dituang. Suatu
metode perawatan selanjutnya yaitu secara membasahi terus menerus. Atau beton yang
baru dituang direndam air.
Air ini pun harus memenuhi syarat-syarat yang lebih tinggi dari pada air untuk
pembuatan beton. Misalkan air untuk perawatan selanjutnya pHnya tidak boleh lebih
dari 6, juga tidak boleh terlalu sedikit mengandung kapur.(Sagel et al., 1993:155)
d. Bahan kimia tambahan (admixtures)
Bahan kimia tambahan atau pembantu untuk beton adalah suatu pereduksi di
samping bahan semen, agregat campuran dan air, juga dicampurkan dalam campuran
spesi-beton. Tujuan dari penambahan bahan kimia ini adalah untuk memperbaiki sifatsifat tertentu dari campuran beton lunak dan keras. Takaran bahan ini dapat diabaikan.
Bahan kimia tambahan tidakdapat mengoreksi komposisi spesi beton yang buruk.
Pelaksanaan Pembangunan Gedung B
Program Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (PTIIK)
Tahap I
Universitas Brawijaya
13

Laporan Kuliah Kerja Nyata Praktik (KKN-P)


Karenanya harus diusahakan komposisi seoptimal mungkin dengan bahan-bahan
dasar yang cocok. Dari macam-macam bahan kimia tambahan yang ada harus diadakan
percobaan awal terlebih dahulu demi kepentingan apakah takarannya memenuhi sifatsifat yang dituju. Beberapa bahan tambahan mungkin mempunyai garis-garis besar atau
norma-norma yang menentukan pemakaiannya. Suatu pemakaian dari bahan-bahan
kimia tambahan yang penting adalah untuk menghambat pengikatan serta meninggikan
konsistensinya tanpa pertambahan air. Oleh karena itu, spesi mudah diangkut serta
mempertinggi kelecakan agar pada bentuk-bentuk bekisiting yang sulit pun dapat terisi
pula dengan baik.(Sagel et al., 1993:155)
e.

Beton Ready Mix


Beton ready mix merupakan sektor besar dalam industri konstruksi dan perlu

dicatat bahwa lebih dari separuh proyek pegecoran beton. Pada proyek kecil biasanya
lebih mudah menggunakan ready mix dari pada membuat campurannya di lapangan.
Keadaan ini berbeda dengan proyek besar seperti jalan raya, lapangan terbang dan
stasiun pembangkit tenaga, dimana sejumlah besar beton dibutuhkan dimana tersedia
ruangan yang cukup bagi kontraktor di dalam memasang instalasi penakar dan
pencampur sendiri. Pada sebagian besar dari kasus yang ada, kontraktor harus dapat
memproduksi beton sendiri secara ekonomis dan juga harus mempunyai sistem operasi
yang sepenuhnya di bawah kontrolnya.
Banyak proyek, terutama pekerjaan pembangunan di kota-kota besar sangat
kekurangan ruangan dan kebetulan, tak ada ruangan sedikitpun untuk instalasi
pencampur di lapangan dan untuk menimbun agregat persediaan. Pada keadaan ini tidak
dapat ragu-ragu lagi untuk memilih beton ready mix.
Penggunaan beton ready mix mempunyai masalah tersendiri yang harus
diketahui dan diatasi. Terutama bahwa tanggung jawab terhadap kualitas beton biasanya
dibagi antara pengada ready mix dan pemborong yang mengecornya di tempat. Hal
yang membingungkan adalah menjamin terselenggaranya kontrol kualitas beton yang
memadai.
Masalah lain yang penting adalah organisasi pekerjan di lapangan. Perhatian
khusus harus diberikan dari hari ke hari, dalam merencana persyaratan-prsayaratan
beton dan diperlukan perhatian untuk menjamin bahwa kekurangan, kelebihan, atau
penundaan dapat dihindari sejauh mungkin. Bagaimana pun juga kerusakan instalasi
dan kerusakan yang lain yang tak terlihat dapat mengacaukan rencana yang telah
Pelaksanaan Pembangunan Gedung B
Program Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (PTIIK)
Tahap I
Universitas Brawijaya
14

Laporan Kuliah Kerja Nyata Praktik (KKN-P)


disusun matang dan keadaan

semacam ini peka terhadap persyaratan untuk

mendapatkan pengadaan beton ready mix. Pada pencampuran di lapangan, pengadaan


beton dapat dihentikan dan dimulai sesuai kebutuhan. (Murdock et al., 1981:177)
2.2.2. Bekisting
Dalam pelaksanaan bangunan, terutama sejak 10-20 tahun terakhir ini, beton
semakin banyak dipakai sebagai bahan bangunan.Beton membutuhkan suatu bekisting
(acuan) baik untuk mendapat bentuk yang direncanakan maupun untuk pengerasannya.
Walaupun bekisting hanya merupakan alat pembantu sementara tetapi bekisting
memegang suatu peranan penting juga.Selain pembiayaannya (yaitu biaya kerja per jam
dan biaya bahan) ternyata kualitas bekisting juga ikut menentukan bentuk rupa
kontruksi beton. Oleh karena itu, bekisting harus dibuat dari bahan yang bermutu dan
perlu direncanakan sedemikian rupa supaya konstruksi tidak mengalami kerusakan
akibat lendutan atau lenturan yang timbul ketika beton dituang.(Sagel et al., 1993:41)
Pada umumnya sebuah bekisting merupakan sebuah konstruksi yang bersifat
sementara dengan tiga fungsi utama, yaitu :
Untuk memberi bentuk kepada sebuah konstruksi beton
Untuk memperoleh struktur permukaan yang diharapkan
Untuk memikul beton, hingga konstruksi tersebut cukup keras untuk dapat
memikul diri sendiri
Bekisting dapat pula melakukan tugas-tugas lain seperti misalnya :
Mencegah hilangnya basahan dari beton yang masih baru
Memberikan isolasi termis
2.2.2.1.
Material dan bagian-bagian konstruksi
a. Material
Dalam membahas berbagai jenis material yang dibicarakan hanyalah segi-segi,
yang mempunyai kaitan dengan unsur-unsur pengonstruksian dan dengan permukaan
kontak sebuah bekisting. Berikut ini adalah material yang terkait dengan pekerjaan
konstruksi.
Kayu
Pada umumnya untuk konstruksi-konstruksi bekisting dipergunakan kayu
bangunan standar (SB). Untuk bagian-bagian yang diberi beban tarik, akan lebih baik
jika digunakan kayu konstruksi (CH), sehubungan dengan dapat diijinkannya tegangan
tarik yang tinggi untuk kelas kekuatan ini.
Sifat-sifat kayu :

Pelaksanaan Pembangunan Gedung B


Program Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (PTIIK)
Tahap I
Universitas Brawijaya
15

Laporan Kuliah Kerja Nyata Praktik (KKN-P)


Sifat yang menguntungkan:
-

Kekuatan yang besar pada suatu massa volumik yang kecil


Harga yang relatif rendah dan dapat diperoleh dengan mudah
Mudah dikerjakan dan alat sambung sederhana
Isolasi termis yang sangat baik
Dapat dengan baik menerima tumbukan-tumbukan dan getaran-getaran serta
penanganan yang kasar di tempat pendirian sebuah bangunan

Sifat yang merugikan :


-

Anisotrop (memiliki sifat yang tidak sama dalam semua arah)


Tidak homogen (serat-seratnya tidak terbagi rata pada kayu)
Menyesat dan mengembangnya kayu. Perubahan ukuran di bawah pengaruh

pergantian cuaca
Tahanannya terhadap retakan dan geseran kecil sekali
Keterbatasan dalam ukuran-ukuran
Kemungkinan penggunaan ulang terbatas
Kekuatannya akan berkurang, sejalan dengan lebih membasahnya keadaan. Suatu

kadar basahan 21% dan lebih tinggi dari ini dapat menimbulkan busukan kayu
Dalam sementara kasus perubahan warna dari permukaan beton. Hemiselulose
yang terdapat dalam kayu dapat mudah memisahkan gula di bawah pengaruh
cahaya ultraviolet. Gula ini dan polisakarid yang ditemukan dalam kayudapat larut
dalam air dan mengganggu pengerasan semen.

Material Plat (Tripleks/Multipleks)


Tripleks terdiri dari sejumlah ganjil lapisan kayu finer yang direkatkan
bersilang satu di atas yang lain. Pada umumnya lapisan-lapisan finer dikupas dari
sebatang kayu bulat, finer yang ditusuk akan memperlihatkan retakan-retakan kecil di
permukaannya.
Tripleks dapat diproduksi dari beberapa jenis kayu.Pada tripleks yang diberi
muatan terhadap lentikan seyogyanya kedua lapisan luarnya (lapisan penutup) dibuat
dari jenis-jenis kayu yang lebih baik dan lapisan-lapisan dalamnya (lapisan isian) dari
kualitas agak rendah.Pada tripleks, yang berperan sebagai material kontak, dapat pula
salah satu atau kedua lapisan terluar dibuat dari jenis kayu yang tahan lama. Dengan
demikian dapat dicapai ketahanan yang lebih besar terhadap keausan, kekuatan,
lentikan dan kekakuan yang lebih tinggi pada pembiayaan yang relatif rendah.

Pelaksanaan Pembangunan Gedung B


Program Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (PTIIK)
Tahap I
Universitas Brawijaya
16

Laporan Kuliah Kerja Nyata Praktik (KKN-P)


Permukaan tripleks dapat disempurnakan lagi untuk memperoleh permukaan
beton yang lebih licin, suatu faktor pengulangan yang lebih tinggi, lebih sedikit
pengrusakan, dan lebih sedikit serapan air melalui berbagai usaha penanganan tertentu.
Bagian sisi dari plat-plat dan celah-celah gergajian hendaknya dilakukan sebaik
mungkin, jika mungkin bahkan rapat air.
Sifat-sifat tripleks:
Sifat yang menguntungkan:
- Tidak begitu anisotrop dibanding kayu
- Lebih homogen dibanding kayu
- Bekerjanya (penyusutan dan pengembangan) tidak seberapa besar
- Dapat diperoleh dalam ukuran-ukuran yang besar
- Penggunaan ulang yang besar
- Kerapatan dan keadaan permukaan yang baik
Tepat untuk permukaan-permukaan yang berbentuk lengkung
Sifat yang tidak menguntungkan:
-

Harganya yang relatif tinggi


Sudut dan tepi dari plat-plat ini mudah rusak
Permukaan dari plat harus ditangani dengan hati-hati
Plat tripleks terbukti sangat memadai selaku permukaan kontak untuk sebuah

bekisting jika dituntut adanya suatu permukaan beton yang pejal dan jika plat tersebut
diharapkan dapat digunakan berulang kali.

Material Baja
Dalam teknik bekisting, material baja digunakan dalam beberapa bentuk dan
kualitas. Dibanding material lain yang bisa digunakan, hal-hal menguntungkan berikut
ini dapat diperoleh dari baja:
- Kekuatan yang tinggi
- Susunannya homogen dan isotrop
- Kekerasannya yang tinggi dan tahan terhadap keausan
- Dapat diperoleh dalam berbagai bentuk, baja sangat sesuai bagi pembuatan
-

sambungan-sambungan dan untuk digabung dengan material-material lain


Dapat diperoleh digabung dengan logam campuran, untuk memperbaiki sifat-sifat

material tertentu
Tahan terhadap lingkungan dasar dari spesi beton, dengan suatu nilai PH antara
10-12

Pelaksanaan Pembangunan Gedung B


Program Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (PTIIK)
Tahap I
Universitas Brawijaya
17

Laporan Kuliah Kerja Nyata Praktik (KKN-P)


Di bawah ini beberapa hal yang tidak menguntungkan:
- Berat massa yang tinggi (sekitar 7850 kg/m3)
- Pembentukan karat
- Hantaran termis yang besar
- Pada umumnya pembuatan dan penyusunannya harus dilaksanakan dalam sebuah
tempat kerja yang khusus disiapkan untuk itu
Penggunaan baja dalam teknik bekisting sangatlah beraneka ragam, mulai dari
paku dan baut mur hingga sistem bekisting lengkap. Dalam kombinasi dengan materialmaterial lain pun baja dipergunakan pula, misalnya sebuah panel bekisting yang terdiri
dari dinding tripleks, ditopang dengan rusuk-rusuk baja dan dikelilingi oleh sebuah
bingkai baja serta dengan berbagai kemungkinan penghubungan untuk panel-panel
yang berdampingan dan gelagar-gelagar penyangga.
b. Cara-cara penyambungan
Untuk sebagian, memasang sebuah bekisting adalah menyatukan elemenelemen. Berdasarkan sifatnya, sambungan dibagi menjadi:
Sambungan-sambungan yang dibuat terlebih dahulu
Pembuatan sambungan ini dapat digolongkan ke dalam pekerjaan yang
dilaksanakan di tempat kerja. Untuk ini kita gunakan cara-cara penyambungan
untuk memperpanjang atau memperberat bagian-bagian tertentu atau untuk
memasangkan bagian-bagian lain.
Sambungan-sambungan dibuat di tempat pembangunan
Sambungan-sambungan yang pembuatannya dilakukan di tempat pembangunan
adalah cukup beraneka jenis dan jumlahnya pun cukup besar. Untuk teknik
bekisting kita memberlakukan cara penyambungan tradisional. Di samping itu telah
dirancang pula berbagai cara lain, untuk membatasi pengerjaan yang menghabiskan
waktu dan yang lebih menambah pembiayaan di tempat.
Dalam membuat sambungan-sambungan hendaknya kita memperhatikan berikut:
Biasanya batang-batang yang akan disambung akan mengalami pelemahan

dalam penampangnya (ulir sekrup)


Penentuan letak sambungan harus dilakukan dengan cermat
Sebuah sambungan dapat bergeser oleh pembebanan
Pada pembebanan yang berbeda-beda pergeserannya akan lebih besar, dengan
demikian sambungan bersangkutan harus dibuat lebih berat

Pelaksanaan Pembangunan Gedung B


Program Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (PTIIK)
Tahap I
Universitas Brawijaya
18

Laporan Kuliah Kerja Nyata Praktik (KKN-P)

Suatu kombinasi dari cara penyambungan yang berbeda-beda tidak selamanya

akan menghasilkan sebuah sambungan yang lebih kuat


Batasilah banyaknya sambungan oleh suatu pendetailan yang baik

Terdapat beberapa jenis alat sambung yang digunakan dalam pembuatan bekisting,
yaitu sebagai berikut :
Paku
Sekrup dan baut-ulir kayu
Baut dan plat ikutan (pengganjal)
c. Bahan-bahan pelepas bekisting
Bahan-bahan pelepas bekisting kita tempatkan menjelang pengecoran beton
pada permukaan kotak dari bekisting. Tujuan utamanya adalah untuk menghindari
melekatnya beton pada bekisting sehingga pelepasan bekisting dapat dilaksanakan
dengan mudah. Selain pemudahan pelepasan, dari bahan pelepas hanya dapat kita
harapkan sedikit perlindungan (pengawetan) terhadap bekisting.
Telah terbukti bahwa suatu pilihan yang tepat dan penggunaan bahan pelepas
bekisting

yang

dilakukan

dengan

baik

dapat

mempunyai

pengaruh

yang

menguntungkan terhadap penghindaran atas pembatasan renjulan-renjulan pada


permukaan beton. Terdapat sejumlah besar bahan pelepas bekisting dalam pasaran.
Bahan pelepas bekisting dapat kita bagi sebagai berikut:
- Minyak-minyak mineral tanpa zat-zat aktif permukaan
- Minyak-minyak mineral dengan zat-zat aktif permukaan
- Emulsi air dalam minyak
- Emulsi minyak dalam air
- Produk-produk lain
2.2.2.2.
Penggunaan Bekisting
a. Penggunaan dalam pembangunan
Berbagai bagian struktur bangunan melibatkan penggunaan bekisting pada
proses pembuatannya yaitu pada pondasi, dinding, kolom, tangga, plat lantai dan balok.
Bekisting Pondasi
Termasuk dalam bagian-bagian pondasi dalam pembangunan rumah dan
berbagai fasilitas kegunaan yang harus diberi sebuah bekisting adalah kaki kolom (pur),
balok-balok dan lantai. Bagian-bagian ini dipondasikan langsung di atas sebuah galian
atau di atas tiang-tiang. Sebuah konstruksi beton tidak boleh langsung dicor di atas
tanah, terlebih dahulu harus dipasang suatu lantai kerja yang memadai.

Pelaksanaan Pembangunan Gedung B


Program Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (PTIIK)
Tahap I
Universitas Brawijaya
19

Laporan Kuliah Kerja Nyata Praktik (KKN-P)


Untuk pekerjaan normal, dibuat lantai kerja dari beton tidak bertulang dengan
kadar semen sedikitnya 200 kg/cm2. Pada umumnya ketebalan lantai kerja 50-60 mm,
dalam pembangunan dalam air dipergunakan ukuran tebal yang lebih besar. Pada
pondasi di atas sebuah galian, hendaknya lantai kerja dipasang di atas dasar tanah yang
sebelumnya tidak dijamah atau di atas tanah yang telah dipadatkan dengan sempurna.
Untuk permukaan kontak dari bekisting bagian samping, dapat digunakan kayu
papan dan berbagai macam material plat. Tekanan spesi dapat diserap oleh tonggaktonggak dan oleh batang-batang tarik dari kayu atau baja. Pada umumnya, untuk
pondasi digunakan bekisting yang dibuat secara tradisional meskipun untuk seri besar
telah dikembangkan dan dipergunakan bekisting prefab dari baja.

Gambar 2.5 Bekisting Pile


Sumber: http://ilmutekniksipil.com/
Cap
Bekisting Dinding
Dalam membangun sebuah rumah, bekisting untuk dinding vertikal yang rata
memiliki ukuran yang terbatas.Terdapat kemungkinan bagi ketinggian dinding
mencapai 5-6 m. Dengan ketebalan dinding yang pada umumnya 0.2 m hingga
maksimal 0.3-0.4 m.
Bekisting sebuah dinding terdiri dari empat bagian utama:
-

Bekisting kontak, yang menunjang pengerasan beton


Gelagar dan tiang-tiang, yang menopang permukaan kontak dan mengkakukan

bekisting
Sekur-sekur, yang menunjang bekisting terhadap tenaga pelaksanaan dan tenaga

angin
Penjaga jarak dan batang tarik, yang mempertahankan ukuran ketebalan dinding dan
menyerap tekanan spesi

Pelaksanaan Pembangunan Gedung B


Program Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (PTIIK)
Tahap I
Universitas Brawijaya
20

Laporan Kuliah Kerja Nyata Praktik (KKN-P)


Pada umumnya bekisting dinding harus dilengkapi lubang-lubang penguras
agar sebelum beton dicor dapat meghilangkan berbagai kotoran.Untuk dinding, dengan
lantai sekitarnya yang dicor, pelepasan bekisting dinding dilakukan terlebih dahulu, lalu
berikutnya dapat dilakukan pelepasan bekisting lantai.

Gambar 2.6 (a) Bekisting dinding vertikal; (b) bekisting dinding horizontal

Sumber:
http://blogoong.blogspot.com/
Bekisting Kolom
Sebaiknya kolom tidak dicor pada waktu yang bersamaan dengan balok atau
lantai yang menumpang di atasnya, pengecoran lebih baik dilakukan setelah selang
beberapa hari. Kolom-kolom yang dicor terlebih dahulu dapat memberikan keamanan
stabilitas pada konstruksi yang akan dicor berikutnya.
Bekisting dari kolom harus menerima beban tekanan spesi beton yang cukup
besar. Dalam pelaksanaan, bekisting kolom akan terisi dalam waktu yang sangat
singkat. Tekanan ke arah samping saat pengecoran cukup tinggi, hal ini diakibatkan
oleh kecepatan naik dari spesi beton itu sendiri.

Pelaksanaan Pembangunan Gedung B


Program Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (PTIIK)
Tahap I
Universitas Brawijaya
21

(a)
(b)

Laporan Kuliah Kerja Nyata Praktik (KKN-P)


Gambar 2.7 Bekisting untuk kolom
Sumber: http://sipilworld.blogspot.com/
Bekisting Tangga
Tangga beton bertulang mempunyai berat sendiri yang cukup besar, maka dalam
perencanaan konstruksinya perlu mendapat perhatian serta diusahakan dapat dibuat
hemat pemakaian bahan,
Tangga beton bertulang dapat dibentuk sesuai dengan yang diingkan, tetapi pada
dasarnya tangga beton bertulang dari segi konstruksinya terdiri dari:
tangga plat/tangga biasa: artinya pelat sebagai konstruksi pendukungnya
tangga balok: artinya balok sebagai pendukungnya
slablesss tread riser stair: artinya anak tangga menjadi konstruksi pendukungnya

Gambar 2.8 Bekisting untuk tangga


Sumber: http://2.bp.blogspot.com/
Bekisting Lantai dan Balok
Lantai yang tidak berbalok
Untuk medan lantai yang lebih besar sebaiknya ditempatkan anak-anak balok dan
balok-balok penyangga. Tidak perlu dipasang stempel di persilangan antara anak
balok dan balok penyangga.

Pelaksanaan Pembangunan Gedung B


Program Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (PTIIK)
Tahap I
Universitas Brawijaya
22

Laporan Kuliah Kerja Nyata Praktik (KKN-P)

Gambar 2.9 Medan lantai ditopang oleh anak-anak balok,


penyangga-penyangga dan stempel-stempel sekrup
Sumber: (Ing.Wigbout F.: 1997, hal 55)

Balok
Pengecoran balok-balok tidak berlantai pada ketinggian suatu tingkat, tidak banyak
ditemukan dalam pembangunan rumah tinggal dan beberapa bangunan lain.
Sebagai latei (balok yang memikul tembokan atau memikul sebuah bordes), di
masa lalu sering kali pilihan dijatuhkan pada balok-balok yang dicor dalam
pekerjaan, namun saat ini sering dipilih balok-balok prefab sehubungan dengan
sangat mahalnya pekerjaan membuat cukup rumit dari latei-latei dan bekistingnya
dilakukan secara tradisional.

Lantai dengan balok


Dalam pembangunan rumah tinggal dan beberapa sarana lain, lantai dicor bersamasama dengan balok, karenanya bekisting untuk balok dan lantai disiapkan
seluruhnya menjelang pengecoran, sekalipun keduanya terdiri dari komponen yang
berbeda.

Pelaksanaan Pembangunan Gedung B


Program Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (PTIIK)
Tahap I
Universitas Brawijaya
23

Laporan Kuliah Kerja Nyata Praktik (KKN-P)

(a)

(b)

(c)

Gambar 2.10 (a) s/d (c) Bekisting dari berbagai bentuk latei
Sumber : Ing. Wigbout F.: (1997, hal 101)

(a)
(b)

Gambar 2.11 (a) Konstruksi penopang sederhana untuk sebuah latei yang
dicor setempat; (b) Prinsip pembuatan bekisting tradisional dalam bentuk
Sumber: Ing. Wigbout F.( 1997, hal 103) sederhana.

Pelaksanaan Pembangunan Gedung B


Program Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (PTIIK)
Tahap I
Universitas Brawijaya
24

Laporan Kuliah Kerja Nyata Praktik (KKN-P)

Gambar 2.12 Bekisting lantai dan bekisting balok ditopang oleh stempel
Sumber: Ing. Wigbout F.( 1997, hal 103)

Gambar 2.13 Bekisting lantai dan bekisting balok ditopang oleh steger sistem
Sumber: Ing. Wigbout F.( 1997, hal 104)

b. Persiapan menjelang pengecoran beton


Sebelum dilakukan pengecoran beton, bekisting harus diperiksa terlebih
dahulu. Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk mengontrol ketepan ukuran-ukuran dan
ketepatan pelaksanaan bekisting, sehingga akan terbentuk

suatu kontruksi beton

Pelaksanaan Pembangunan Gedung B


Program Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (PTIIK)
Tahap I
Universitas Brawijaya
25

Laporan Kuliah Kerja Nyata Praktik (KKN-P)


dengan permukaan yang telah ditentukan serta ukuran-ukuran yang benar dan agar segi
keamanan selama pengecoran beton dapat terjamin.
Maka pihak pelaksana dan pengawas hendaknya melakukan pengontrolan
terhadap konstruksi selama dilakukan pengerjaan bekisting.Pengontrolan yang
dilakukan terkait beberapa hal seperti ketentuan ukuran, penempatan bekisting, ada
tidaknya celah pada bekisting, dan lain-lain. Terdapat beberapa bagian pemeriksaan
yang sebaiknya dilakukan menjelang pengecoran:
- Informasi tentang skema pengecoran pada para pekerja
- Berbagai kelengkapan yang diperlukan
- Tidak boleh terdapat bahan pelepas bekisting pada tulangan
- Kotoran dan sisa-sisa kawat pengikat harus dihilangkan
- Lubang pengecoran harus tersedia
- Pengamanan yang memadai
- Pengontrolan terakhir terhadap penjepit yang mengelilingi tiang-tiang
c. Pengontrolan sewaktu berlangsungnya pengecoran dan pemadatan spesi
beton
Selama berlangsungnya pengecoran beton, bekisting harus dikontrol secara
teratur oleh seseorang yang memiliki keahlian.Konstruksi bekisting yang dirancang dan
dilaksanakan semestinya nantinya dapat menahan dengan baik berbagai kekuatan yang
timbul sewaktu berlangsungnya pengecoran dan pemadatan beton.
Seorang ahli yang berpengalaman yang akan melakukan pengontrolan
sepanjang dan di bawah bekisting, dapat menghindarkan hal-hal yang tidak diinginkan
dan biaya untuk penanganan ulang. Seperti telah dikatakan di muka, sewaktu
berlangsungnya pengecoran beton dapat terjadi hal-hal yang merugikan terhadap
bekisting segi keamanan, kerja-beton atau terhadap bagian yang sudah dicor.

d. Penanganan bekisting setelah pengecoran beton


Pekerjaan terkait bekisting yang dilakukan setelah pengecoran dilakukan
adalah melepas bekisting. Melepas bekisting merupakan salah satu pekerjaan yang
cukup penting supaya beton yang telah dicor tidak mengalami kerusakan, sehingga
terdapat beberapa hal penting yang harus diperhatikan.
Pada saat melepas bekisting, beban harus dipindahkan secara beraturan dan
tanpa hentakan pada konstruksi beton bersangkutan. Dalam hal ini tidak dapat
dibenarkan penggunaan sebuah linggis dan alat penolong lainnya yang dapat
memberikan gaya tarik yang besar. Alat-alat ini dapat menimbulkan kerusakan pada
kulit beton. Apabila terjadi kesulitan, lebih baik kita mempergunakan pasak-pasak lebar
Pelaksanaan Pembangunan Gedung B
Program Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (PTIIK)
Tahap I
Universitas Brawijaya
26

Laporan Kuliah Kerja Nyata Praktik (KKN-P)


dari kayu. Suatu pilihan yang tepat dan pemasangan secara baik sebuah alat pelepas
bekisting dapat memperlancar pelepasan bekisting.Merupakan hal penting bahwa bukan
beton saja yang harus dilindungi, melainkan bekisting pun sedapat mungkin harus
dilindungilewat suatu penanganan yang dilaksanakan secara berhati-hati.
Untuk merencanakan membuka papan bekisting harus diperiksa dahulu cara
dan juga bagian mana yang harus dibuka lebih dahulu. Waktu untuk melepas papan
berbeda-beda untuk masing-masing bidang.Terdapat beberapa bagian yang belum bisa
dibuka bekistingnya karena konstruksi tersebut merupakan penahan yang harus
dibiarkan lebih lama.
2.2.3. Tulangan
Tulangan merupakan suatu fungsi yang sangat penting untuk struktur beton
karena daya dukung struktur beton bertulang didapatkan dari hasil kerja sama antara
beton dan tulangan. Tulangan yang digunakan dalam pembuatan sebuah bangunan
umumnya adalah baja beton. Baja beton yang dipakai dalam bangunan harus memenuhi
norma persyaratan tertentu. Ciri khas dari baja beton adalah kuat tarik, batas leleh,
regangan pada beban maksimal, dan modulus elastisitas.Sifat-sifat ini dapat ditentukan
dengan pengujian tarik.

Ciri-ciri tampak

Gambar 2.14 Ilustrasi baja tulangan


Sumber: Sagel et al., (1993:100)

Pembengkokan tulangan

Pelaksanaan Pembangunan Gedung B


Program Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (PTIIK)
Tahap I
Universitas Brawijaya
27

Laporan Kuliah Kerja Nyata Praktik (KKN-P)


Jari-jari

bengkokan

pembengkokan, yaitu

tergantung

pada

tegangan

baja

pada

titik

pada tegangan beton yang diijinkan serta letak

pembengkokan. Bahaya pecahnya beton yang diakibatkan oleh desakan


bengkokan tergantung pada letaknya. Mungkin tak terjadi pecahan bila
bengkokan dilindungi oleh tulangan lain, namun balok yang sempit atau bagian
konstruksi yang sejenisnya harus diperhatikan. Peralatan yang kurang memadai
jelas menghasilkanpembengkokan yang kurang akurat dengan konsekuensi
sukarnya pemasangan tulangan tersebut.Pembengkokan tulangan yang telah
terlatih harus dipekerjakan pada tugas ini untuk menghindarkan ketidaktelitian.
Pelurusan batang tulangan biasanya terjadi pada selama pembengkokan, dan
setelah selesai dengan tulangan yang pertama disini biasanya perlu untuk
membuat sedikit penyesuaian pada letak bengkokan pada tulangan berikutnya
agar diperoleh penyesuaian yang mendekati pada ukuran yang dikehendaki. Ini
dilaksanakan, terutama bila terdapat beberapa bengkokan pada tulangan yang

sama. (Murdock et al., 1981:322)


Pemasangan tulangan
Disini penting agar tulangan terus dipasang pada letak yang benar serta
didukung dengan baik, untuk menjamin bahwa tak akan terjadi pergeseran ketika
beton dicor. Pemasangan tulangan yang telah terlatih mutlak, bilamana pekerjaan
hendak dilaksanakan secara efisien, terutama pada tulangan yang rumit dimana
dibutuhkan banyak pekerjaan khusus.Di dalam beberapa hal tulangan dibangun
pada rangka pendukung dan kemudian diangkat pada posisinya dalam acuan,
perakitannya diselesaikan setelah ini ditempatkan dalam posisinya.(Murdock et

al., 1981:324)
Jarak antar tulangan
Agar memudahkan pengecoran beton serta pemadatannya,baik dengan
tangan atau dengan alat penggetar dalam, jarak antara yang memadai harus
diberikan di antara tulangan. Ini biasanya akan mempunyai suatu harga minimum
antara batang tulangan masing-masing atau kelompok tulangan sekitar 75 mm.
(Murdock et al., 1981:325)

2.2.4. Pencampuran dan Pengangkutan Beton


a. Pencampuran beton
Mencampur beton dengan mesin hasilnya hampir seragam, tetapi perlu suatu
referensi untuk mencampur dengan tangan, guna melengkapi hal-hal, dimana sering

Pelaksanaan Pembangunan Gedung B


Program Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (PTIIK)
Tahap I
Universitas Brawijaya
28

Laporan Kuliah Kerja Nyata Praktik (KKN-P)


terjadi pada banyak tempat pekerjaan, bahwa penggunaan pencampuran dengan tangan
diharuskan pemakaiannya.
Pencampuran dengan tangan harus dikerjkan dengan sempurna.Suatu bidang
yang bersih harus dipilih sebagai tempat untuk mencampur. Bila ini tak tersedia, maka
harus diperoleh suatu lantai kayu yang rapat sambungannya untuk mencegah kebocoran
adukan. Agar dapat diberikan suatu kompensasi terhadap rendahnya kekuatan beton,
yang biasanya diperoleh dengan pencampuran tangan, maka disarankan untuk
memberikan suatu tambahan 10% semen diatas kebutuhan normal.
Berbeda halnya dengan pencampuran dengan mesin. Mesin pencampur beton
ada beberapa jenis, beberapa diantaranya mempunyai suatu tempat pencampuran yang
berputar maupun yang tetap, dengan pengaduk untuk mencampur bahan, yang lain
mempunyai sejenis silinder putar yang dapat dimiringkan atau tidak. Pencampur yang
menerus, ada proses pencampuran sebenarnya dikerjakan di silinder putar dan jenis lain
dipercayakan pada tangkai dengan semacam garpu yang berputar pada suatu tempat
yang stasioner.(Murdock et al., 1981:155)
b. Pengangkutan beton
Pengangkutan beton dan instalasi pencampur ke tempat pencetakan harus
memenuhi ketiga syarat berikut ini:
Pengangkutan harus sedemikian cepat, sehingga beton tidak kering atau
kehilangan workabilitas atau plastisitas selama waktu yang digunakan antara

mencampur dan mencetak


Segregasi harus dikurangi seminimal mungkin agar terhindar dari beton yang
tak seragam. Dengan alasan yang sama kehilangan bahan halus atau semen dan

air harus dicegah


Pengangkutan harus diorganisir sedemikian sehingga selama pencetakan pada
bagian atau angkutan tertentu, tak terjadi keterlambatan pada bidang cor
sambungan dingin atau sambungan konstruksi.
Beton kering terbukti sulit diangkut, karena dapat memadat sedemikian keras

sehingga beton harus dikeruk dari wadahnya. Satu-satunya jalan untuk mengatasi hal ini
adalah mengadakan wadah yang direncanakan dengan baik sehingga menjadikan beton
lebih besar workabilitasnya. (Murdock et al., 1981:167)
2.2.5. Pengecoran Beton
Kerusakan serius pada bangunan yang telah jadi, dapat disebabkan oleh karena
diabaikannya cara pencegahan awal yang tertentu dalam mengecor beton pada
Pelaksanaan Pembangunan Gedung B
Program Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (PTIIK)
Tahap I
Universitas Brawijaya
29

Laporan Kuliah Kerja Nyata Praktik (KKN-P)


acuannya. Terpisah dari kemungkinan bergesernya penulangan, saluran kabel
prategang, ikatan acuan, atau bagian-bagian yang ditanam lainnya, kecerobohan dalam
mengecor beton dapat menyebabkan pergerakan dan kerusakan pada acuan.
Pemisahan butir agregat kasar (segregasi) adalah salah satu kesalahan yang
diakibatkan oleh cara pengecoran yang kurang baik dan ini terutama tak disangsikan
lagi terjadi bilamana beton sedang dicurahkan dari alat skip (alat pembawa yang
mempunyai bukaan bawah) atau chute (saluran curam) dibiarkan jatuh terus menerus
dan terkumpul di satu tempat saja. Akibat dari cara pengerjaan ini adalah partikel
agregat kasar cenderung untuk turun sepanjang kerucut bahan beton, yang
menyebabkan terkumpul pada bagian dasarnya. Hal ini lebih terbukti dengan nyata, bila
campuran basah dan mempunyai kohesi kecil, tetapi campuran beton tumbuk yang
kering cenderung untuk mengalami masalah yang sama. (Murdock et al., 1981:202)
Di antara tindakan pencegahan yang harus dilakukan selama pengecoran, hal-hal
berikut ini harus mendapatkan perhatian khusus:
a. Beton harus ditimbun sedekat mungkin ke tempat akhir agar mudah
penanganannya dan jangan ditimbun dalam jumlah besar pada tempat tertentu
dan dibiarkan mengalir ke dalam acuan. Kelalaian dalam mengerjakan ini
mungkin menyebabkan segregasi, keropos, bidang cor yang miring dan buruk
pemadatannya
b. Beton harus dicor dalam lapisan horisontal, dan setiap lapisan harus dipadatkan
merata sebelum lapisan berikutnya dicor. Sedapat mungkin harus dipraktekkan
pengecoran tiap lapisan yang dilakukan pada bentuk dan ukuran tampang
melintang, konsistensi beton, jarak antara tulangan, cara pemadatan, dan perlu
tidaknya lapisan berikutnya harus dicor sebelum lapisan yang terdahulu
mengeras. Pengecoran beton pada lapisan setebal 0.2 m sampai 0.4 m pada
pekerjaan beton bertulang merupakan suatu praktek yang baik. Pada masa beton,
biasa digunakan juga lapisan setebal 0.4 m sampai 0.6 m. Beberapa lapisan
semacam ini dapat dicor berkesinambungan membentuk suatu peninggian,
dimana lapisan yang berikutnya mengikuti dengan cepat pengecorannya agar tak
terjadi suatu sambungan dingin. Dengan perencanaan yang baik dan
diperhatikan pengerjaan acuannya, beton dapat dicor sampai setinggi 10 m atau
lebih dalam sekali cor, tapi harus tersedia ruangan yang cukup antara acuan dan
sekitar tulangan untuk memungkinkan ruang gerak peralatan untuk memadatkan
betonnya.
Pelaksanaan Pembangunan Gedung B
Program Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (PTIIK)
Tahap I
Universitas Brawijaya
30

Laporan Kuliah Kerja Nyata Praktik (KKN-P)


c. Pembetonan harus dikerjakan secara terus menerus untuk menghindari
penampilan garis-garis tahapan cor pada bangunan yang sudah jadi.
d. Beton yang harus dikerjakan secara merata ke dalam tempat-tempat di sekitar
tulangan dan sarana lain yang ditanam dalam beton, dan begitu juga sampai ke
sudut-sudut acuan. (Murdock et al., 1981:205)
2.2.6. Pemadatan Beton
Tujuan pemadatan beton adalah untuk menghilangkan rongga-rongga udara
dan untuk mencapai kepadatan yang maksimal. Pemadatan juga menjamin suatu
perlekatan yang baik antara beton dengan permukaan baja tulangan atau sarana lain
yang ikut dicor.
Bilamana beton dipadatkan, maka perlu agar penulangan jangan diganggu dan
acuan jangan sampai rusak atau berpindah tempat. Bagaimanapun perlu diperhatikan,
untuk menjamin bahwa pengerjaan beton cukup rata di sekitar acuannya, sedemikian
sehingga permukaan yang sudah selesai bahkan akan padat, dan bebas dari keropos dan
lubang-lubang yang cukup berarti.Pemadatan dapat dilakukan secara manual, yaitu
dengan tangan. Cara pemadatan biasa dengan tangan terdiri atas menusuk-nusuk dan
menyusup dengan alat yang tepat.(Murdock et al., 1981:213)

2.2.7. Perawatan dan Perbaikan Struktur Beton


Menurut Kusuma Gedeon: 1993, perlakuan yang diambil setelah pengecoran,
agar mendapat situasi pengerasan yang optimal, akan memberikan suatu hasil dan
struktur beton yang baik. Perawatan beton yang diberikan akan menghindarkan beton
dari kehilangan zat cair yang banyak ketika pengerasan beton pada jam-jam awal dan
kebanyakan penguapan air dan beton pada pengerasan beton di hari pertama
pengecoran di lapangan karena perbedaan temperatur dalam beton yang mengakibatkan
rengat-rengat atau retakan pada beton.
Kehilangan air setelah penuangan dapat diatasi dengan:
1.
2.
3.
4.

Dibiarkan dalam bekisting.


Menutupi dengan lembar-lembar foil.
Menutupi dengan karung goni basah.
Menggenangi dan menyemprot dengan air.

Pelaksanaan Pembangunan Gedung B


Program Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (PTIIK)
Tahap I
Universitas Brawijaya
31

Laporan Kuliah Kerja Nyata Praktik (KKN-P)


5.

Menyemprot permukaan beton dengan curing compound.

2.2.8. Pekerjaan Bored Pile


Tiang bor dibuat dari beton bertulang, dan jenis tiang bor ini memiliki daya
dukung yang jauh lebih besar dibanding tiang pancang. Untuk memperbesar daya
dukung tiang bor dan menambah kekuatan tarik, pada pangkalnya dapat dibuat
bendolan yang membesar.
Pada pelaksanaan tiang bor, dipancang pipa cashing terlebih dahulu, kemudian
dilakukan pengeboran tanah. Untuk menjaga agar tidak terjadi keruntuhan tanah, maka
selama pengeboran, lubang diisi bentonite. Setelah elevasi bor tercapai (diperiksa jenis
tanah diujung pengeboran), maka dimasukkan tulangan dan dicor beton dengan
menggunakan pipa tremi.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pekerjaan tiang bor, antara lain sebagai
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

berikut :
Titik-titik ukur untuk memberi guide posisi letak titik tiang
Disiapkan drainase, penampungan dan pmbuangan lumpur hasil pengeboran
Keakuratan kedalaman bor (bottom level)
Kecermatan kualitas beton
Penggunaan bentonite untuk mencegah runtuhnya tanah pada lubang bor
Pergerakan alat bor ke arah belakang (mundur)
Keakuratan elevasi pemberhentian cor beton (top level).
Kondisi tanah di bawah biasanya tidak dapat diketahui secara pasti, oleh karena
itu, volume pengecoran beton untuk bored pile tidak dapat dipastikan. Untuk
menghindari risiko ketidakpastian, dapat ditempuh dengan cara diukur kenyataan yang
terjadi saja.

Pelaksanaan Pembangunan Gedung B


Program Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (PTIIK)
Tahap I
Universitas Brawijaya
32