Anda di halaman 1dari 3

Nama : Wa Ode Sri Rizki

NIM

: 10512040
Qolqolah
Arti kata qolqolah ( )adalah goyangan, guncangan, pantulan, balikan. Adapun

maksud dari bacaan qolqolah adalah bacaan memantul pada haruf-huruf qolqolah apabila
huruf-huruf qolqolah tersebut dalam keadaan mati, baik mati asli (karena berharokat sukun)
maupun mati karena berhenti (diwaqofkan). Terdapat 5 huruf qolqolah yaitu

Qolqolah dibagi menjadi dua bagian :


1. Qolqolah Sughro ()
Apabila huruf-huruf qolqolah tersebut mati (karena berharokat sukun ) dan terletak di
tengah kata atau kalimat, maka pantulannya kecil atau lemah.
2. Qolqolah Kubro
Apabila huruf-huruf qolqolah tersebut mati karena berhenti (diwaqofkan) dan terletak di
ujung akhir kata atau kalimah, maka pantulannya besar atau kuat.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pembacaan qolqolah, diantaranya:
1. Apabila ada bacaan qolqolah kubro dengan huruf yang bertanda tasydid ( ), maka huruf
tersebut dimatikan terlebih dahulu baru kemudian dilanjutkan dengan pantulan besar.
Contoh:
2. huruf-huruf yang termasuk huruf istila (yakni : ) maka kecenderungan suara
pantulan berbunyi O seperti pada kata kosong sedangkan huruf yang tidak termasuk
huruf istila (yakni : ) maka kecenderungan suara pantulan berbunyi E seperti
pada kata elang.
3. Berhati-hatilah pada huruf-huruf yang seolah-olah seperti huruf qolqolah padahal bukan
huruf qolqolah, misalnya:
Bentuk-bentuk kesalahan
Secara umum bentuk-bentuk kesalahan dapat diklasifikasikan dalam empat bentuk, yaitu :
1. Kesalahan pada makharijul huruf.
Melakukan kesalahan dalam melafalkan huruf-huruf hijaiyah, seperti ain dibaca
hamzah atau sebaliknya, demikian juga huruf-huruf yang lain. Kesalahan pada
makharijul huruf ini tergolong dalam al-lahnul jali yang haram hukumnya bila disengaja
dan terus-menerus dalam kesalahan yang sama. Maka perhatikanlah wahai para ikhwah
maupun akhwat dan khususnya para imam-imam masjid! Sebagai contoh:


Catatan: bentuk kesalahannya adalah adanya perubahan bacaan pada huruf menjadi
huruf . Termasuk di sini adalah huruf bertasydid, contoh rabbi dibaca rabi.
2. Kesalahan pada nada dengung (ghunnah) yang terdiri dari idzhar (halqi maupun
syafawi), idgham, ikhfa (haqiqi maupun syafawi), dan iqlab.
Bentuk kesalahannya adalah tidak konsisten dalam mendengungkan atau yang idzhar
dibaca dengung. Contoh: Pertama. idzhar halqi. ( ) nun mati bertemu hamzah,
sedangkan idzhar syafawi. ( ) mim mati bertemu dal. Bentuk kesalahannya karena
didengungkan atau ditahan ketika membacanya. Kedua. Idgham secara umum selain
bilaghunnah, ( ) nun mati bertemu ya. Bentuk kesalahannya adalah kurang ditahan
atau terburu ketika membacanya. Ketiga. ikhfa haqiqi. ( )nun mati bertemu ta, adapun
ikhfa syafawi. ( ) mim mati ketemu ba. Bentuk kesalahannya adalah kurang
ditahan atau terburu ketika membacanya atau mengubah bacaan nun mati dengan bacaan
ng dan mim mati dibaca idzhar. Keempat, Iqlab, ( ) nun mati bertemu ba. Bentuk
kesalahannya adalah kurang ditahan atau terburu ketika membacanya atau menggantikan
bacaan nun mati langsung dengan ba. Kesalahan ini walaupun tergolong dalam al-lahnul
khafi namun dapat menghilangkan ruh dari tilawatul quran (bacaan al-Quran), dan
hukumnya makruh bila dilakukannya dengan sengaja dan terus menerus dalam kesalahan
yang sama. Dan termasuk kesalahan di sini yang terjadi pada syamsiyah pada nun
mati, contoh: () , atau nun tasydid dan mim tasydid, contoh: ()- (). Bentuk
kesalahannya adalah kurang ditahannya suara pada saat membaca syamsiyah pada
nun mati atau nun tasydid dan mim tasydid.
3. Kesalahan pada hurufus sakinah (huruf-huruf sukun) atau tidak berharakat a-i-u
dan qalqalah.
Bentuk kesalahan yang satu ini boleh dibilang cukup fatal dan tergolong dalam allahnul jali yang haram hukumnya bila disengaja dan terus-menerus dalam kesalahan yang
sama. Contoh: Pertama, kesalahan melafalkan hurufus sakinah (huruf-huruf sukun) ().
Bentuk kesalahannya adalah bacaan anamta dibaca anaamta. Dan masih banyak lagi
contoh yang lain. Kedua, qalqalah secara umum yang terdiri dari ( ) dan syiddatul
qalqalah (terdapat tasydid pada huruf qalqalah), contoh qalqalah: () , dal adalah
huruf qalqalah. Bentuk kesalahannya adalah tidak dipantulkan pada saat dibaca sukun
(tidak berharakat a-i-u) maupun waqaf (berhenti) tepat pada huruf qalqalah tersebut seperti
huruf dal di atas. Adapun contoh syiddatul qalqalah (terdapat tasydid pada huruf qalqalah)
adalah: ( ) pada kata watabba terdapat tasydid yang seharusnya ditahan
sesaat sebelum di pantulkan qalqalahnya, adapun bentuk kesalahannya adalah dibaca

seperti qalqalah biasa bahkan lebih parah lagi adalah tidak adanya qalqalah atau dibaca
pantul seperti bacaan watab.
4. Kesalahan pada mad (bacaan panjang).
Bentuk kesalahan ini tergolong dalam dua lahn sekaligus berdasarkan pembagian mad
(bacaan panjang), bacaan mad (bacaan panjang) terbagi menjadi dua. Pertama mad ashli
atau thabii (bacaan panjang yang asli), contoh: ( ) lafadz Allaah, alRahmaan, dan al-Rahiim cukup dibaca dua harakat. Bentuk kesalahannya adalah
kurang dari dua harakat atau lebih dari dua harakat, agar terhindar dari kesalahan ini maka
caranya dengan diayun suara ketika membaca mad ashli. Kesalahan ini tergolong al-lahnul
jali yang haram hukumnya bila disengaja dan terus-menerus. Adapun mad fari (bacaan
panjang yang cabang) selain mad (bacaan panjang) berikut ini yaitu: mad lazim secara
umum (lihat buku tajwid) yang hukum bacaannya adalah enam harakat, mad shila qashirah
yang dibaca dua harakat maupun thawilah empat harakat, mad badal yang dibaca dua
harakat karena ketiga jenis mad (bacaan panjang) ini sangat dianjurkan oleh para ulama
untuk dipatuhi hukum bacaannya. Adapun mad aridh lissukun yang boleh dibaca dua,
empat, bahkan enam. Mad wajib yang dibaca empat boleh dua harakat, mad jaiz yang
boleh dibaca dua, empat atau enam harakat, mad layyin (lin) yang boleh dibaca dua, empat
atau enam harakat, mad iwadh yang seharusnya dibaca dua harakat, dan yang lainnya.
Adapun bentuk kesalahannya adalah tidak konsisten dalam membaca masing-masing mad
fari (bacaan panjang yang cabang), sehingga kesalahan ini tergolong al-lahnul khafi
sekalipun demikian dapat menghilangkan ruh dari tilawatul quran (bacan al-Quran), dan
hukumnya makruh bila dilakukannya dengan sengaja dan teru menerus.