Anda di halaman 1dari 6

Proses Kimia Ramah Lingkungan

ISSN 1410-9891

BAHAN BAKAR BENSIN RAMAH LINGKUNGAN


A.S. Nasution dan Oberlin Sidjabat
PPPTMGB LEMIGAS
Jl. Ciledug Raya Kav. 109, Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan 12230
Telepon: (021) 7394422 Ext. 1559/1518 Fax 021-7228414, oberlin@lemigas.esdm.go.id
Abstrak
Dalam era tahun 2000-an persyaratan lingkungan tentang gas buang kendaraan bermotor
akan semakin ditingkatkan. Sehingga persyaratan atau spesifikasi bahan bakar minyak akan turut
pula ditingkatkan yaitu a.l. bahan bakar bensin harus berangka oktan tinggi dengan batasan
kadar hidrokarbon (aromatik total, benzena dan olefin) serta kadar non-hidrokarbon (sulfur
organik).
Komponen bensin adalah hidrokarbon dengan kisaran titik didih antara 30 225oC, yang
jenisnya adalah antara lain: straight-run gasoline, cat. crack gasoline, reformat, isomerat, alkilat
dan poli gasoline. Berdasarkan kandungan hidrokarbon, komponen bensin tersebut dapat dibagi
dalam 3 jenis berikut: komponen bensin parafinik (straight run gasoline, isomerat dan alkilat),
komponen bensin olefinik (poli gasoline dan cat. crack gasoline) dan komponen bensin aromatik
(reformat dan cat. crack gasoline).
Angka oktana komponen bensin dipengaruhi oleh komposisi kandungan hidrokarbonnya. Iso
parafin, iso olefin dan aromatik mempunyai harga angka oktana tinggi dan normal parafin
berangka oktana rendah. Angka oktana bensin adalah riset oktana number (RON) dan Motor
oktana number (MON) dimana harga RON lebih besar dari MON. Sensitivitas bensin (S) adalah S
= RON MON dan semakin rendah harga sensitivitas maka semakin baik komponen bensin.
Komponen bensin parafinik mempunyai harga sensitivitas rendah sedangkan harga sensitivitas
tinggi diamati pada komponen bensin olefinik dan aromatik.
Cat.crack gasoline adalah komponen bensin yang mengandung sulfur organik terbesar
diantara komponen bensin tersebut. Untuk meningkatkan mutu cat.crack gasoline tersebut
dilakukan dengan proses desulfurisasi yang menghilangkan kadar sulfur dan juga menjenuhkan
hidrokarbon olefin dan aromatik. Bagian ringan dari fraksi reformat mempunyai angka oktana
rendah sehingga perlu ditingkatkan dengan bantuan proses hidroisomerisasi.
Bensin ramah lingkungan diperoleh dari hasil pencampuran dari beberapa jenis komponen
bensin berangka oktana tinggi yaitu cat. crack gasoline, reformat, isomerat dan alkilat.
Angka oktana, komposisi hidrokarbon dari berbagai jenis komponen bensin, komposisi
komponen bensin dalam pembuatan bensin ramah lingkungan dan spesifikasinya dari berbagai
negara serta konfigurasi kilang minyak bumi akan disajikan dalam makalah ini.

Peningkatan Daya Saing Nasional Melalui Pemanfaatan Sumber


Daya Alam untuk Pengembangan Produk dan Energi Alternatif

Proses Kimia Ramah Lingkungan


ISSN 1410-9891
1.

Pendahuluan

Dalam era tahun 2000-an persyaratan lingkungan tentang gas buang kendaraan bermotor akan semakin
ditingkatkan. Sehubungan dengan hal tersebut, motor bakar dan bahan bakar telah berkembang secra bersamaan
sehingga motor bakar memerlukan suatu bahan bakar yang mempunyai persyaratan (spesifikasi) tinggi.
Persyaratan lingkungandan tekanan untuk menurunkan polusi dari gas buang telah menyebabkan
penyempurnaan desain atau rancangan motor bakar, antara lain pemakaian catalytic converter yang berakibat
pula pada peningkatan mutu bahan bakarnya.
Peningkatan rasio kompressi motor bahan bakar bensin akan membutuhkan bahan bakar bensin berangka oktana
tinggi, sedangkan untuk menurunkan polusi gas buang kendaraan bermotor akan membatasi baik komponen
hidrokarbon bensin (aromatik, benzena dan olefin) maupun kadar non-hidrokarbonnya (senyawa sulfur-organik).
Pengaruh komposisi hidrokarbon dari beberapa jenis komponen bensin pada angka oktananya, dan komposisi
komponen bensin untuk pembuatan bahan bakar bensin ramah lingkungan akan disajikan pada makalah ini.

2.

Pengaruh Komposisi Hidrokarbon Komponen Bensin Pada Angka Oktana

Komponen bensin mempunyai kisaran titik didih antara 40oC sampai dengan 225oC yang mengandung
golongan atau grup hidrokarbon: parafin, olefin, naftena dan aromatik dengan variasi harga angka oktananya
cukup besar.
Angka oktana bensin dapat dinyatakan dalam tiga jenis: Angka Oktana Riset (Research Octane Number
RON), Angka Oktana Motor (Motor Octane Number), dan Distribusi Angka Oktana (Octane Number
Distribution). Pada umumnya nilai atau harga RON bensin diamati lebih besar daripada nilai MON nya,
sedangkan selisih nilai oktana bensin antara RON dan MON disebut Sensitivitas (S) atau S = RON MON.
Bensin yang baik mempunyai nilai RON dan MON yang tinggi, sensitivitas yang rendah dan distribusi angka
oktananya homogen.
Berdasarkan kandungan hidrokarbon, komponen bensin dapat dibagi tiga golongan sebagai beriukut:
- Komponen bensin parafinik
- Komponen bensin olefinik
- Komponen bensin aromatik
2.1 Komponen Bensin Parafinik
Komponen bensin parafinik adalah bensin dengan kandungan parafinnya banyak yaitu bensin distilasi
(straight-run gasoline) dari produk proses distilasi minyak bumi, nafta ringan hidrorengkah (light hydrocracked
naphtha) dari produk proses hidrorengkah distilat berat, isomerat (isomerate) dari produk hidroisomerisasi nafta
ringan, dan alkilat (alkylate) dari proses alkilasi campuran antara iso-butana dan propilena/butilena/amilena.
Sensitivitas ketiga jenis komponen bensin tersebut adalah rendah.
Bensin distilasi mengandung banyak normal parafin, dengan nilai RON dan MON-nya rendah dengan
distribusi angka oktananya tidak homogen. Nafta ringan hidrorengkah dan isomerat mengandung banyak
senyawa iso-parafin bercabang sedikit (rendah) dengan nilai RON dan sensivitas rendah. Kedua komponen
bensin tersebut mempunyai distribusi angka oktana yang homogen. Alkilat mengandung iso-parafin bercabang
banyak (~ 100% vol), sehingga alkilat tersebut mempunyai nilai RON dan MON-nya tinggi dan distribusi angka
oktananya homogen.
2.2 Komponen Bensin Olefinik
Komponen bensin olefinik adalah bensin dengan kandungan olefinnya banya yaitu bensin polimer (polygasoline
dan
dimater)
dari
produk
proses
polimerisasi
dan/atau
dimerisasi
senyawa
etilena/propilena/butilena/amilena; pyro-gasoline dari produk proses termal reforming nafta dan bensin
rengkahan katalitik (cat. cracked gasoline) dari produk proses perengkahan katalitik distilat berat dari residu.
Bensin polimer mengandung ~ 100% vol olefin. Sesuai dengan pengamatan, sensitivitas dari ketiga jenis
komponen bensin berkadar olefin tinggi tersebut sangat tinggi.
Nilai RON dari bensin polimer, pyro-gasoline dan bensin rengkahan katalitik adalah tinggi dengan distribusi
angka oktananya homogen.
2.3 Komponen Bensin Aromatik
Komponen bensin aromatik adalah bensin dengan kandungan aromatiknya banyak yaitu reformat
(reformate) produk dari proses reforming katalitik nafta berat, dan juga kedua jenis komponen bensin olefinik

Peningkatan Daya Saing Nasional Melalui Pemanfaatan Sumber


Daya Alam untuk Pengembangan Produk dan Energi Alternatif

Proses Kimia Ramah Lingkungan


ISSN 1410-9891
tersebut di atas yaitu pyro-gasoline dan bensin rengkahan katalitik. Reformat, pyro-gasoline dan bensin
rengkahan katalitik mempunyai kandungan benzena tinggi pula.
Nilai RON dan sensitivitas dari reformat adalah tinggi, sensitivitas tinggi, dengan distribusi angka
oktananya tidak homogen. Angka oktana dari bagian ringan reformat tersebut yang mengandung banyak isoparafin bercabang sedikit (rendah) adalah cukup rendah, tetapi angka oktana tinggi diamati pada bagian berat
reformatnya yang mengandung banyak hidrokarbon aromat dengan kadar aromatik di atas 40% vol. IKandungan
molekul non-hidrokarbon sulfur dari komponen bensin rengkahan katalitik diamati tertinggi diantara berbagai
jenis komponen bensin tersebut.
Komposisi hidrokarbon dan angka oktana (RON) dan distribusi angka oktana dari berbagai jenis komponen
bensin disajikan pada Tabel 1, Tabel 2, Tabel 3 dan Tabel 4.

3.

Pembuata Bensin Ramah Lingkungan

Komposisi hidrokarbon bensin ramah lingkungan dibatasi, antara lain: total aromatik, benzena, dan olefin
sehingga proporsi komponen-komponen bensin seperti bensin polimer, pyro-gasoline, reformat dan bensin
rengkahan katalitik dibatasi; sedangkan isomerat dan alkilat harus ditingkatkan proporsinya dalam pembuatan
bensin ramah lingkungan. Rendahnya angka oktana bensin distilasi, membatasi proporsinya dalam pembuatan
bensin berangka oktana tinggi yang ramah lingkungan tersebut.
Dalam rangka menurunkan polusi dari gas buang (SOX) dari hasil pembakaran molekul non-hidrokarbon
sulfur, maka proporsi bensin rengkahan katalitik yang mengandung banyak sulfur pada pembuatan bensin ramah
lingkungan perlu dibatasi pula.
Untuk peningkatan proporsi reformat dalam bensin ramah lingkungan berkadar benzena 1%-berat, maka
reformat tersebut harus difraksinasi untuk pemisahan bagian ringan reformatnya yang mengandung iso-parafin
bercabang sedikit (rendah) berangka oktana rendah dan benzena, dan selanjutnya fraksi tersebut
dihidroisomerisasi untuk peningkatan angka oktananya dan sekaligus penurunan kadar benzenanya. Penurunan
kadar sulfur dari bensin rengkahan katalitik dilakukan dengan bantuan proses hidropemurnian selektif agar
supaya kadar hidrokarbon aromatik berangka oktana tinggi tidak banyak terhidrogenasi atau tidak hilang.
Empat jenis komponen bensin utama (bensin rengkahan katalitik, reformat, isomerat dan alkilat) banyak
dipakai dalam pembuatan bensin ramah lingkungan. Komposisi komponen bensin untuk pembuatan bensin
ramah lingkungan dan spesifikasi bensin ramah lingkungan dari berbagai Negara disajikan pada Tabel 5 dan
Tabel 6. Sedangkan spesifikasi Bahan Bakar Bensin untuk Indonesia disajikan pada Tabel 7. Dalam pembuatan
bensin ramah lingkungan, komponen bensin bermutu tinggi perlu ditingkatkan baik jumlah unit prosesnya
maupun kapasitas umpannya pada kilang minyak yaitu unit proses katalitik perengkahan, katalitik reforming,
isomerisasi dan alkilasi.

4.

Kesimpulan

Dalam menyongsong era tahun 2000-an, spesifikasi bahan bakar minyak, khususnya bensin semakin
meningkat sehingga konfigurasi kilang perlu dilakukan untuk pembuatan komponen-komponen bensin unggulan
seperti bensin rengkahan katalitik, reformat, isomerat dan alkilat.
Untuk peningkatan potensi pembuatan bensin ramah lingkungan, perlu kiranya dilakukan penelitian prosesproses yang tepat dalam peningkatan angka oktana dari komponen bensin yang diproduksi di setiap unit
pengolahan minyak. Mengingat akan diberlakukannya spesifikasi bensin maka perlu persiapan peningkatan jenis
dan jumlah produksi komponen-komponen bensin utama agar supaya batasan kadar hidrokarbon, sulfur dan
persyaratan angka oktana dapat dipenuhi.
5.
1.
2.
3.
4.
5.

Daftar Pustaka

Al-Mutez, I. S. (1996), How to Implement a Gasoline Pool Lead Phase-down, Hydrocarbon


Processing, Feb., 63-69
Courtes, J. D. (2000), Lead Phase-out and the Challenges of Developing Future Gasoline
Specifications, 6th Annual Fuels & Lubes Conference, Singapore, January 25-28
Donand, A. (1995), Tomorrows Engines and Fuels, Hydrocarbon Processing, Feb. , 55-61
Nasution, A. S., and Jasjfi, E. (1995), Production of Gasoline and Impact of More Stringent
Specification on Catalyst Performance, 4th ASCOPE Refining Workshop, Bangkok, Thailand, Nov.
Nasution, A.S., dan Legowo, E. H. (2001), Bahan Bakar bensin Ramah lingkungan, Forum Komunikasi
Teknologi Proses Proses III, PERTAMINA, Dumai, Feb.

Peningkatan Daya Saing Nasional Melalui Pemanfaatan Sumber


Daya Alam untuk Pengembangan Produk dan Energi Alternatif

Proses Kimia Ramah Lingkungan


ISSN 1410-9891
6.
7.
8.
9.

Rahman, A., and Road, T. (2000), Taking Steps: A Community Action to People-Centered, Equitable
and Sustainable Urban Transport, the SUSTRAN Network, Feb.
Aakko, P. (2000), Reformulated Gasoline: Lower Particulate Emissions, 6th Annual Fuels & Lubes
Conference, Singapore, January 25-28
(1996) Special Report, Fuel Quality Standards for Year 2000 Proposed by the European Commission,
Fuels and Lubes International, Dec., Vol. 2, No. 12, pp 10-11
(1999) World-Wide Fuel Charter, 5th Annual Fuels of Lubes Asia Conference, Singapore, Jan. 25-28

Tabel 1. Pengaruh Komposisi bensin pada Emisi Gas Buang

Parameter

CO

HC

Aromatik (45%
vol 20% vol
Olefin (20 % vol
5 % vol)
MTBE (0% vol
15% vol)
T90 (455 411K)

-13%

-6%

NOX

Emisi
Butadiena Formaldehida
Naik

Ozone

Benzena

Turun

+6%

-10%

-10%

Turun

-11%

-5%

Naik

-22%

+5%

Turun

Turun

Turun

Turun

Turun

Asetaldehida
Naik

Tabel 2. Komposisi Hidrokarbon Berbagai Jenis Komponen Bensin


Tipikal Komponen
Bensin
1. Straight-Run
Naphtha:
- Nafta Ringan
- Nafta Berat
- Total Nafta
2. Termal
Reformat
3. Termal Nafta
Rengkah
4. Reformat
5. Nafta
Hidrorengkahan
- Nafta Ringan
- Nafta Berat
- Total Nafta
6. Isomerat
7. Alkilat
8. Polygasoline

Parafin
Total
Iso

Naftena

Olefin
Total
Iso

(Dalam %-vol)
Aromatik
RON
Total
Benze
na

90.0-91.7
44.1-63.5
62.0-69.0
5.3*

45.2-54.8
-

6.8-7.9
24.5-44.5
21-29.0
-

1.0-1.5
10.9-11.8
5.0-15.0
34.0

1.0-1.5
16.8

69.9-72.0
50.0-60.0
90.0

30.0-44.0

25.0-30.0

13.0-17.0

14.18-45.0

0.95-2.0

52.084.87

16.16

86.6-98.3

37.0-82.0
46.0-48.0
33.0
67.5-89.5
100
-

26.0-53.0
100
-

15.0-54.0
44.0-55.0
55.0
2.7-5.3
-

100

100

1.0-9.0
3.0-5.0
12.0
1.5-1.7
-

1.0-9.0
-

25.045.0

25.0

70.0-88.0
51.0-53.0
68.0
80.5-89.0
93.3-95.5
96.0101.0
90.6-93.3

23-47*
9. Bensin Rengkah
Katalitik
Catatan: (*) = Parafin+Naftena

Peningkatan Daya Saing Nasional Melalui Pemanfaatan Sumber


Daya Alam untuk Pengembangan Produk dan Energi Alternatif

Proses Kimia Ramah Lingkungan


ISSN 1410-9891

Tabel 3. Karakteristik Komponen Bensin dan Angka Oktana


Karakteristik
RVP, kPa
T90, oK
T50, oK
Kadar Aromatik, %-vol
Kadar Benzena, %-vol
Kadar Olefin, %-vol
Sulfur, ppm (brt)
Clear RON
Sensitivity
Distribusi Oktana

Cat. Cracked Gasoline


46-89
393-428
353-373
20-35
30-45
Tinggi
93-96
10-17
Baik

Reformat
21-41
444-451
391-422
50-85
3-8
Rendah
90-107
6-11
Buruk

Isomerat
76-97
1-2
1-2
Rendah
78-84
0-2
Baik

Alkilat
41-62
388-412
364-392
Rendah
93-96
1-3
Baik

Poly-gasoline
55-82
413-418
368-373
>94
Rendah
95-99
10-18
Baik

Tabel 4. Distribusi Angka Oktana Komponen Bensin


Octane Performance
RON, Clear
Sensitivity
Octane Distribution
Temperature, K
303
308
313
323
333
343
353
363
373
383
393
403
413
423
433
443

Straight-Run Light
Naphtha
40-80
1-4

Cat. Cracked Gasoline

Reformate

90-96
10-17

90-117
6-11

80
75
74
67
63
59
58

95
95
95
94
93
92
91
90
90
91
92
94
95
96
98
100

90

Peningkatan Daya Saing Nasional Melalui Pemanfaatan Sumber


Daya Alam untuk Pengembangan Produk dan Energi Alternatif

88
82
78
71
54
71
90
111
116
115
113
112
111
100

Proses Kimia Ramah Lingkungan


ISSN 1410-9891
Tabel 5. Komposisi Komponen Bensin untuk Pembuatan Bensin Ramah Lingkungan
(Dalam %-Vol)
Komposisi Komponen Bensin
A*
B*
C*
D*
E*
F*
G*
5.5
7.2
Blending Butane
2.0
16.0
Straight Run Light Naphtha
1.0
Coker Gasoline
34.5
40.0
68.4
38.0
23.7
Cat. Cracked Gasoline
1.5
Hydrocracked Naphtha
33.5
30.0
65
37.0
76.0
69.3
Reformate
10.0
12.0
35
11.0
4.7
Isomerate
12.5
12.0
17.7
14.0
1.4
Alkylate
3.0
0.9
Poly-gasoline
2.5
6.7
8.0
MTBE
Catatan: A* = Potential U.S. Gasoline Pool 1995
B* = Average U.S. Gasoline Pool
C* = Olefins Mode FCC with MTBE
D* = Unleaded Gasoline in Riyads Refinery
E* = Reformulated Gasoline
F* = Average ASEAN Gasoline Component with Catalytic Process
Tabel 6. Komposisi Hidrokarbon Bensin berbagai Negara
Karakteristik
Aromatic Content,
vol-%
Benzene Content,
vol-%
Olefin Content,
vol-%
Sulfur content,
ppm-wt
Oxygenate
Content, vol-%

2004-CARB
Phase 3
25

US EPA
2000
25

EU-2000
Phase 3
35

World Wide Fuel Charter


Cat-1 Cat-2 Cat-3
Cat-4
50
40
35
35

Indonesia
Pertamax
50

0,8

1,0

1,0

5,0

2,5

1,0

1,0

6,0

8,5

8,5

20

10

10

20

130

130

1000

200

30

Free-S

1000

2,0

2,0

2,0

2,7

2,7

2,7

2,7

10

Tabel 7. Spesifikasi Bensin Indonesia


SIFAT

SATUAN

PREMIUM

PERTAMAX

Angka Oktana Riset


Densitas
Kandungan Pb (max)
Tekanan Uap Reid pd 37,8oC
Getah purwa (Gum)
Periode Induksi
Kandungan belerang (max)
Kandungan Aromatik
Uji Doctor atau
Alternatif belerang merkaptan
Distilasi:
10% vol penguapan,
50% vol penguapan
90% vol penguapan
Titik didih akhir
Residu
Bau

RON
Kg/m3
gr/lt
k.Pa
mg/100 ml
Menit
%-massa
%-vol

88
0,30
62
4
240
0,20
Negatif
0,0020

91
715 - 780
0,013
45-60
4
240
0,10
50
Negatif
0,0020

74
88-125
180
205
2.0
Marketable

70
77-110
180
205
2,0
Marketable

%-massa
o

C
C
o
C
o
C
% vol
o

Peningkatan Daya Saing Nasional Melalui Pemanfaatan Sumber


Daya Alam untuk Pengembangan Produk dan Energi Alternatif

PERTAMAX
PLUS
95
0,013
45-60
4
240
0,10
50
Negatif
0,0020

METODA
UJI
D-2699
D-1298
D-2547
D-323
D-381
D-525
D-1266
D-1319
IP-30
D-1219
D-86

70
77-110
180
205
2.0
Marketable