Anda di halaman 1dari 38

STUDI KIMIA ANTARMUKA PADA REAKSI HIDROGENASI

GASOLIN DENGAN KATALIS Ni/ Al2O3

Bayu Ardiansah *)
*Mahasiswa S1 Departemen Kimia FMIPA UI
Semester 5, Angkatan 2010

OLIMPIADE SAINS NASIONAL PERTAMINA 2012

Pertamina Bekerjasama dengan Universitas Indonesia

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Beberapa kendala sering dijumpai dalam industri petroleum, yaitu dalam pengolahan
gasolin. Kualitas gasolin direpresentasikan oleh nilai oktan yang dimiliki. Kebanyakan BBM
memiliki nilai oktan yang berada di bawah standar kelayakan yang ditetapkan untuk suatu
bahan bakar pada kelasnya. Nilai oktan yang rendah ini disebabkan oleh beberapa faktor,
diantaranya adalah terdapatnya senyawa organosulfur. Selain itu, gasolin akan memiliki
kualitas yang buruk karena adanya senyawa penyusun gasolin yang tidak stabil, yaitu olefin
diolefin, dan stirena. Senyawa tersebut bersifat tidak stabil karena mudah berpolimerisasi
membentuk gum atau damar. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu ilmu yang dapat
diaplikasikan untuk mengatasi masalah di atas dan berguna dalam pengembangan energi.
Ilmu kimia antarmuka merupakan ilmu yang menjelaskan model penting dari reaksi
antarmuka termasuk adsorpsi dan desorpsi. Kimia antarmuka mampu menjelaskan fenomena
antarmuka pada katalis heterogen dimana dapat dimanfaatkan dalam

peningkatan

peningkatan mutu gasolin melalui reaksi hidrogenasi. Kimia antarmuka dapat menjelaskan
laju adsorpsi desorpsi, mekanisme serta kinetika reaksi yang terjadi pada permukaan
katalis. Dari pemaparan di atas, ilmu kimia antarmuka sangat diharapkan mampu
menyelesaikan permasalahan di atas dan dapat diaplikasikan untuk pengembangan energi.

1.2 Tujuan Penulisan


Tujuan yang ingin dicapai dari pembahasan dalam artikel ilmiah ini adalah
1. Mengetahui definisi dan ruang lingkup kimia antarmuka
2. Mengetahui beberapa fenomena kimia yang terjadi di daerah antarmuka
3. Mengetahui peran kimia antarmuka dalam bidang katalis (katalis heterogen)
2

Pertamina Bekerjasama dengan Universitas Indonesia

4. Mengetahui aplikasi kimia antarmuka dalam bidang katalis heterogen untuk


pengembangan energi.
5. Mengetahui profil permukaan dan modifikasi katalis Ni untuk reaksi hidrogenasi gasolin.
6. Mengetahui mekanisme reaksi, adsorpsi desorpsi, kinetika reaksi, dan dinamika molekul
pada reaksi hidrogenasi gasolin dengan katalis Ni/ Al2O3.

1.3 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan kimia antarmuka?
2. Apa saja fenomena yang terjadi pada daerah antarmuka?
3. Bagaimana peran dan aplikasi kimia antarmuka dalam bidang katalis heterogen untuk
pengembangan energi?
4. Bagaimana modifikasi yang dilakukan pada katalis Ni untuk meningkatkan kemampuan
katalisis hidrogenasinya?
5. Bagaimana mekanisme reaksi, adsorpsi desorpsi, kinetika reaksi, dan dinamika molekul
pada reaksi hidrogenasi gasolin menggunakan katalis Ni/ Al2O3?

1.4 Metode Penulisan


Metode penulisan artikel ilmiah ini adalah dengan studi literatur dari berbagai jurnal
internasional dan nasional, serta penelusuran melalui website yang berhubungan dengan topik
yang dibahas. Penelusuran website dilakukan berdasarkan istilah-istilah yang berkaitan
dengan topik serta kata kunci sebagai alat bantu dalam penelusuran teori konsep yang ingin
diketahui penulis. Penulis menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta EYD
(Ejaan Yang Disempurnakan). Penulis pun menggunakan istilah-istilah yang berkaitan
dengan ilmu kimia dan fisika untuk membahas masalah sesuai dengan topik yang diberikan.
Pendekatan metode penulisan makalah didasarkan pada teori-teori analisis dan berdasarkan
3

Pertamina Bekerjasama dengan Universitas Indonesia

asumsi-asumsi yang dikemukakan. Asumsi-asumsi ini didapat berdasarkan teori yang telah
diketahui penulis.

1.5 Sistematika Penulisan


Sistematika penulisan artikel ilmiah ini dibuat ke dalam 5 bab yaitu Bab I :
Pendahuluan; Bab II : Kajian Pustaka; Bab III : Pembahasan; Bab IV : Kesimpulan; dan Bab
V : Daftar Pustaka. Pada masing masing bab akan ada sub-sub bab yang menjelaskan secara
terperinci mengenai topik yang dibahas.

Pertamina Bekerjasama dengan Universitas Indonesia

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Pengertian dan Fenomena pada Kimia Antarmuka


2.1.1 Pengertian Kimia Antarmuka
Kimia antarmuka didefinisikan sebagai reaksi atau fenomena kimia yang terjadi pada
sistem antara dua fasa, misalnya antarmuka cair-cair, cair-gas, dan padat-gas. Fenomena yang
terjadi pada antarmuka dapat meliputi proses adsorpsi, desorpsi, tegangan antarmuka dan
energi yang menyertainya.

2.1.2 Tegangan Permukaan/ Antarmuka


Molekul yang berada di bagian dalam cairan atau padatan mengalami gaya tarikmenarik dari molekul lain pada setiap sisi/ saamping, tetapi molekul pada permukaan tidak
menerima gaya serupa dari arah atmosfer. Hal ini menyebabkan molekul yang berada pada
permukaan memiliki energi yang lebih tinggi karena kekurangan gaya pada satu sisinya
(resultan gaya tidak sama dengan nol). Nilai energi bebas yang lebih besar pada permukaan,
maka sistem akan memiliki kecondongan alami untuk menurunkan luas permukaan
sebanyak-banyaknya. Molekul pada antarmuka mempunyai kontak dengan molekul lainnya
dan menerima gaya tarik dengan kekuatan berbeda dari molekul-molekul yang berada dalam
masing-masing fasa. Jadi tegangan antarmuka terjadi karena molekul pada antarmuka
mempunyai energi yang lebih besar dibanding dengan molekul dalam masing-masing fasa.
Tegangan permukaan diasumsikan sesuai dengan jumlah gaya kohesi yang bekerja
antar molekul pada permukaan. Zat yang memiliki gaya kohesi lebih besar akan mempunyai
tegangan permukaan lebih tinggi. Oleh karena gaya kohesi padatan secara umum lebih besar
daripada cairan, tegangan permukaan (energi bebas permukaan) padatan juga lebih besar.

Pertamina Bekerjasama dengan Universitas Indonesia

Gambar 1 : Perbedaan resultan gaya molekul di antarmuka

2.1.3 Proses dan Kinetika Adsorpsi


Adsorpsi adalah peristiwa penyerapan pada lapisan permukaan atau antar fasa,
dimana molekul dari suatu materi terkumpul pada bahan pengadsorpsi. Materi atau partikel
yang diadsorpsi disebut adsorbat, sedangkan bahan yang berfungsi sebagai pengadsorpsi
disebut adsorben.
Adsorpsi reaktan pada situs aktif katalis akan melepaskan energi dalam bentuk panas,
sehingga akan mempermudah molekul reaktan melewati energi aktivasi. Panas yang
dilepaskan pada proses adsorpsi berkaitan dengan kekuatan adsorpsi reaktan pada permukaan
katalis. Kekuatan adsorpsi reaktan pada permukaan katalis sangat menentukan aktivitas
katalis tersebut. Jika adsorpsi yang terjadi sangat lemah, energi yang dilepaskan juga
kecil, sehingga hanya sebagian kecil fraksi permukaan yang ditempati oleh reaktan,
dan pada akhirnya reaksi berjalan dengan lambat (Gasser, 1985).
Adsorpsi terjadi karena adanya interaksi gaya permukaan padatan dengan
molekul - molekul adsorbat. Energi adsorpsi yang dihasilkan bergantung pada tipe adsorpsi
yang terjadi. Energi adsorpsi yang dihasilkan bergantung pada adsorpsi yang terjadi.
Tipe adsorpsi ini merupakan fungsi logam dan fungsi pereaksi.
Adsorpsi molekul pada permukaan dibedakan menjadi dua jenis, yaitu adsorpsi kimia
dan adsorpsi fisika. Adsorpsi kimia terjadi karena adanya interaksi tumpang tindih
6

Pertamina Bekerjasama dengan Universitas Indonesia

orbital molekul di permukaan padatan dengan molekul adsorbat. Adsorpsi ini bersifat spesifik
dan ireversibel, sehingga melibatkan gaya yang jauh lebih besar daripada adsorpsi fisika.
Menurut Langmuir, molekul teradsorpsi ditahan pada permukaan oleh gaya valensi
yang tipenya sama dengan yang terjadi antara atom-atom dalam molekul. Adanya ikatan
kimia pada permukaan adsorben menyebabkan terbentuknya suatu lapisan atau layer, dimana
akan menghambat proses penyerapan selanjutnya oleh batuan adsorben sehingga
efektifitasnya berkurang. Sedangkan pada adsorpsi fisika, ikatan yang terjadi adalah ikatan
van der Waals yang lemah. Adsorpsi fisika bersifat reversibel, sehingga semua molekul gas
yang teradsorpsi secara fisik akan dilepaskan kembali dengan menaikkan temperatur
atau menurunkan tekanan.
Laju adsorpsi ditentukan oleh laju tibanya molekul pada permukaan dan proporsi
datang yang mengalami adsorpsi. Laju adsorpsi, R ads, dari suatu molekul pada permukaan
dapat digambarkan sebagai :
Rads = k Cx
dimana,

x = orde kinetik
k = tetapan laju
C = konsentrasi fasa gas

2.1.4 Proses dan Kinetika Desorpsi


Desorpsi adalah proses pelepasan kembali ion/ molekul yang telah berikatan dengan
gugus aktif pada adsorben. Laju desorpsi adsorbat (Rdes) dari substrat dapat dituliskan
sebagai :
Rdes = k Nx
dimana,

x = orde desorpsi
k = tetapan laju desorpsi
N = konsentrasi spesies permukaan

Pertamina Bekerjasama dengan Universitas Indonesia

2.1.5 Isoterm Adsorpsi


2.1.5.1 Isoterm Langmuir
Langmuir menurunkan teori isoterm adsorpsi dengan menggunakan model sederhana
berupa padatan yang mengadsorpsi gas pada permukaannya. Pendekatan Langmuir meliputi
lima asumsi mutlak, yaitu
1 Gas yang teradsorpsi berkelakuan ideal dalam fasa uap
2 Gas yang teradsorpsi dibatasi sampai lapisan monolayer
3 Permukaan adsorbat homogen, artinya afinitas setiap kedudukan ikatan untuk molekul gas
sama
4 Tidak ada antaraksi lateral antar molekul adsorbat
5 Molekul gas yang teradsorpsi terlokalisasi, artinya mereka tidak bergerak pada
permukaan.

Gambar 2 : Model Isoterm Adsorpsi Langmuir.


Perumusan model adsorpsi Langmuir adalah
1
qe

1
Ka . qm . Ce

1
qm

dimana : qm = kapasitas adsorpsi; qe = jumlah zat teradsorpsi per satuan massa adsorben; dan
Ce = konsentrasi sisa.
2.1.5.2 Isoterm Freundlich
Adsorpsi zat terlarut (dari suatu larutan) pada padatan adsorben merupakan hal yang
penting. Aplikasi penggunaan prinsip ini antara lain penghilangan warna larutan
(decolorizing) dengan menggunakan batu apung dan proses pemisahan dengan menggunakan
teknik kromatografi.
Log qe = log Kf + (1/n) log Ce

dimana : Kf = kapasitas adsorpsi.


8

Pertamina Bekerjasama dengan Universitas Indonesia

2.1.5.3 Isoterm BET


Teori isoterm adsorpsi BET merupakan hasil kerja dari S. Brunauer, P.H. Emmet, dan
E. Teller. Teori ini menganggap bahwa adsorpsi juga dapat terjadi di atas lapisan adsorbat
monolayer. Sehingga, isoterm adsorpsi BET dapat diaplikasikan untuk adsorpsi multilayer.
Keseluruhan proses adsorpsi dapat digambarkan sebagai penempelan molekul membentuk
lapisan multilayer.

Gambar 3 : Model adsorpsi BET


Pada pendekatan ini, perbandingan kekuatan ikatan pada permukaan adsorben dan
pada lapisan adsorbat monolayer didefinisikan sebagai konstanta c. Lapisan adsorbat akan
terbentuk sampai tekanan uapnya mendekati tekanan uap dari gas yang teradsorpsi. Pada
tahap ini, permukaan dapat dikatakan basah (wet). Bila V menyatakan volume gas
teradsorpsi, Vm menyatakan volume gas yang diperlukan untuk membentuk lapisan
monolayer, dan x adalah P/P*, maka isoterm adsorpsi BET dapat dinyatakan sebagai
V
cx

Vm (1 x)(1 x cx )

Kesetimbangan antara fasa gas dan senyawa yang teradsorpsi dapat dibandingkan
dengan kesetimbangan antara fasa gas dan cairan dari suatu senyawa. Dengan menggunakan
analogi persamaan Clausius Clapeyron, maka

H ads
d ln P

dT
RT 2
9

Pertamina Bekerjasama dengan Universitas Indonesia

dimana Hads adalah entalpi adsorpsi. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa tekanan
kesetimbangan dari gas teradsorpsi bergantung pada permukaan dan entalpi adsorpsi.

2.2 Gasolin
2.2.1 Pengertian dan Komposisi Gasolin
Gasolin adalah fraksi minyak bumi yang paling komersial, banyak diproduksi dan
digunakan sebab gasolin berfungsi sebagai bahan bakar kendaraan yang menjadi alat
transportasi manusia sehari- hari. Komponen utama gasolin berupa campuran isomer- isomer
heptana dan oktana. Terdapat juga dalam jumlah tertentu senyawa aromatik (misalnya toluena
dan xilena), senyawa olefin, diolefin dan sikloalkana. Pembakaran gasolin oleh gas oksigen
dari udara akan menghasilkan energi yang berfungsi menjalankan mesin kendaraan. Efisiensi
energi yang tinggi dan komponen gasolin yang rantai karbonnya banyak bercabang. Adapun
komponen gasolin yang rantainya lurus atau sedikit bercabang akan menghasilkan energi
yang kurang efisien, artinya energi banyak terbuang dalam bentuk panas bukan sebagai kerja
untuk menggerakkan mesin.
Gasolin adalah cairan yang mudah disimpan, dipindahkan dan alirannya mudah
dikontrol, selain itu juga bensin mempunyai sifat mudah menguap, mudah menyala dan
terbakar. Di dalam pemakaiannya dalam motor pembakar, bensin cair ini terlebih dahulu
harus diubah bentuk menjadi uap atau kabut agar mudah terbakar.
2.2.2 Sifat Umum Gasolin
Sifat umum yang diinginkan dari gasolin adalah pembakaran yang tepat dimana
pembakaran dimulai dari busi merambat lancar ke seluruh ruang pembakaran. Bahan bakar
ini terdiri dari bahan yang tidak mudah menimbulkan ketukan di dalam mesin. Sifat - sifat
lain yang diperlukan adalah tidak berbau, tidak bersifat korosif terhadap logam yang dipakai
bahan untuk membuat mesin dan perlengkapannya, tidak mudah menguap dan tidak terlalu
sukar menguap. Semua sifat - sifat ini harus memenuhi persyaratan spesifikasi :

10

Pertamina Bekerjasama dengan Universitas Indonesia

2.2.2.1 Sifat pengetukan (Knocking)


Pengetukan pada mesin timbul karena terjadi pembakaran abnormal, dimana bahan
bakar terbakar sendiri sebelum waktunya di d alam ruang pembakaran. Pengetesan itu sendiri
adalah suatu yang timbul dari logam yang mengakibatkan kerugian tenaga dan getaran mesin
yang akibatnya lebih lanjut seperti melubangi piston.
Campuran isooktana dan n- heptana dalam persen volum dipakai sebagai campuran
pembanding terhadap sifat pengetukan. Isooktana murni (100%) dinyatakan mempunyai
angka oktan 100 dan 100% n - heptana bernilai oktan 0 (nol). Sifat pengetukan ini diuji pada
mesin CFR F - 1 makin tinggi kualitas anti ketukan bensin maka semakin tinggi kemampuan
gasolin untuk menahan terjadinya ketukan dan semakin tinggi pada daya maksimum yang
dihasilkan.
Penambahan TEL (Tetra Ethyl Lead) adalah bahan anti ketuk yang umum dipakai,
tetapi akan mengakibatkan umur pemakaian besi yang lebih pendek dan menghasilkan
deposit yang merugikan. Disamping itu menimbulkan gas buang yang sangat berbahaya
karena merupakan racun bagi manusia. Penyebab terjadinya knocking adalah:
a. Pembanding komposisi yang terlalu tinggi sehingga suhu dan tekanan dan campuran udara
cukup tinggi untuk menyala dengan sendiri.
b. Kualitas bahan bakar, angka oktan yang rendah cenderung akan meningkatkan terjadinya
knocking. Untuk auto mobil digunakan bahan bakar bensin dengan angka oktan 89 93.
c. Pembakaran tidak sempurna dan bentuk ruang bakar. Ruang bakar yang kompak lebih
disukai, ruang bakar yang datar dan lebar pada motor pembakaran dan katup sisa
penyulingan spontan cenderung meningkatkan terjadinya knocking karena penyebaran api
memerlukan waktu.
d. Pada motor dengan motor pengingin udara cenderung terjadi knocking dibandingkan motor
pendingin air, karena pendinginan udara kurang baik.
e. Pada kecepatan rendah dan beban berat knocking cenderung akan terjadi karena suhu
menjadi tinggi dan gas tidak cukup berputar dan bergerak.

11

Pertamina Bekerjasama dengan Universitas Indonesia

2.2.2.2 Sifat Kestabilan


Gum atau Resin yang terkandung dalam gasolin akan menghasilkan deposit pada
karburator dan pipa bahan bakar yang akan mengakibatkan tersumbatnya aliran bahan bakar.
Pembentukan gum disebabkan oleh gasolin yang mengandung olefin- olefin yang dihasilkan
dari katalitik, proses membentuk polimer yang panjang.
2.2.2.3 Sifat Korosi
Senyawa sulfur adalah senyawa yang tidak diinginkan yang terkandung dalam
gasolin. Sulfur bebas dan senyawa sulfur bila terbakar membentuk sulfur dioksida yang
bereaksi dengan air yang dihasilkan dari pembakaran membentuk asam sulfit yang sedikit
dengan sedikit oksida membentuk asam sulfat. Kedua asam tersebut bersifat korosi terhadap
logam. Total sulfur ditentukan dengan cara lampu ASTM D- 1266 yaitu dengan membakar
sejumlah tertentu gasolin di dalam lampu khusus, oksida sulfur diubah menjadi asam sulfat,
kemudian jumlah asam sulfat ditentukan dengan cara titrasi atau grafimetri. Sifat korosi dari
bahan korosif yang terkandung di dalam gasolin dapat diuji dengan corrosion copper strip
dimana sebuah lempeng tembaga yang sudah dibersihkan direndam di dalam gasolin pada
suhu dan waktu tertentu. Perubahan warna tembaga memberikan indikasi sifat korosi.
2.3 Katalis
2.3.1 Pengertian Katalis
Katalis adalah zat yang ditambahkan ke dalam suatu reaksi untuk mempercepat laju
reaksi. Katalis ikut terlibat dalam reaksi tetapi tidak mengalami perubahan kimiawi yang
permanen, dengan kata lain pada akhir reaksi katalis akan dijumpai kembali dalam bentuk
dan jumlah yang sama seperti sebelum reaksi.
Katalis memungkinkan reaksi berlangsung lebih cepat atau memungkinkan reaksi
pada suhu lebih rendah akibat perubahan yang dipicunya terhadap pereaksi. Katalis
12

Pertamina Bekerjasama dengan Universitas Indonesia

menyediakan suatu jalur pilihan dengan energi aktivasi yang lebih rendah. Katalis
mengurangi energi yang dibutuhkan untuk berlangsungnya reaksi.

2.3.2 Penggolongan Katalis


Berdasarkan fasa katalis dan reaktan, katalis dapat dibedakan ke dalam dua golongan
utama yaitu katalis homogen dan heterogen. Katalis homogen adalah katalis yang fasenya
sama dengan fase reaktan. Sedangkan katalis heterogen adalah katalis yang fasenya berbeda
dengan fase reaktan. Pada tinjauan kimia antarmuka ini, hanya akan dibahas mengenai katalis
heterogen yang berkaitan dengan adsorpsi dan desorpsi.

2.3.3 Mekanisme Katalis Heterogen


Katalisis heterogen adalah katalis yang ada dalam fase berbeda dengan pereaksi
dalam reaksi yang dikatalisinya. Contoh sederhana katalisis heterogen adalah katalis
menyediakan suatu permukaan dimana pereaksi-pereaksi untuk sementara terjerap. Ikatan
dalam substrat-substrat menjadi lemah sehingga memadai terbentuknya produk baru. Ikatan
antara produk baru dan katalis lebih lemah sehingga akhirnya terlepas.
Mekanisme katalisis heterogen :
1. Difusi molekul-molekul pereaksi menuju permukaan
2. Adsorpsi molekul-molekul pereaksi pada permukaan
3. Reaksi pada permukaan
4. Desorpsi hasil dari permukaan
5. Difusi hasil dari permukaan menuju badan sistem

13

Pertamina Bekerjasama dengan Universitas Indonesia

Reaksi gas pada permukaan logam (katalisis heterogen) memiliki banyak peranan penting
diantaranya reaksi hidrogenasi olefin yang dilakukan pada permukaan logam Nikel untuk
meningkatkan mutu bahan bakar fosil. Selain itu pada katalitik converter dimana terjadi
reaksi antara gas CO dan NO pada permukaan logam Platina atau Rhodium untuk
menghasilkan gas yang lebih aman.
Dua macam mekanisme reaksi katalis heterogen yang paling dikenal adalah mekanisme
Eley - Rideal dan Langmuir - Hinshelwood.
Mekanisme Eley Rideal
- Salah satu reaktan diadsoprsi oleh permukaan katalis.
- Reaktan yang lain berada dekat diatas permukaan katalis (walaupun tidak diadsorpsi),
kemudian berinteraksi dengan atom-atom reaktan yang diadsorp di permukaan katalis.
- Molekul produk terbentuk dan terjadi desoprsi.

Gambar 4 : mekanisme adsorpsi desorpsi Eley - Rideal


Mekanisme Langmuir Hinshelwood
- Kedua reaktan diadsoprsi ke permukaan katalis.

14

Pertamina Bekerjasama dengan Universitas Indonesia

- Kedua reaktan ini berdifusi melalui permukaan, dan berinteraksi satu sama lain.
- Molekul produk terbentuk dan terjadi desorpsi.

Gambar 5 : mekanisme adsorpsi desorpsi Langmuir Hinshelwood

2.4 Karakterisasi dan Penggambaran Material Permukaan


2.4.1 Mikroskop Elektron
2.4.1.1 Scanning Electron Microscopy (SEM)
Scanning Electron Microscopy adalah suatu mikroskop elektron yang menerapkan
prinsip difraksi elektron dimana prinsip kerjanya sama dengan mikroskop optik. Sebagai
pengganti sumber cahaya digunakan suatu sumber elektron yang dapat menembakkan
elektron berenergi tinggi. SEM dapat menampilkan hasil gambar dari suatu permukaan yang
dianalisis dengan pembesaran yang cukup tinggi serta kedalaman medan yang baik. Hasil
ditampilkan secara tiga dimensi dengan sangat detail.
Cara kerja SEM :

15

Pertamina Bekerjasama dengan Universitas Indonesia

- Sampel yang telah bersifat konduktif diletakkan dalam suatu kolom hampa dalam
mikroskop elektron.
- Setelah udara yang ada dipompa keluar dari kolom, kemudian sebuah pemicu elektron
memancarkan suatu sinar dari elektron berenergi tinggi.
- Sinar elektron ini berjalan turun melewati suatu lensa magnetic yang didesain untuk
memfokuskan elektron pada suatu tempat yang paling tepat.
- Sinar elektron yang terfokus ini digerakkan ke seluruh permukaan sampel dengan
mengunakan deflection coil. Sinar elektron ini mengenai setiap permukaan sampel
sehingga elektron sekunder yang dihantam akan terlepas dari permukaan sampel.
- Suatu detector kemudian mengumpulkan elektron-elektron sekunder tersebut dan
mengubahnya menjadi suatu sinyal yang akan dibaca pada komputer. Hasil gambar yang
terbentuk ini disusun dari sejumlah elektron sekunder yang dipancarkan dari permukaan
sampel tersebut.

Gambar 6 : bagan instrumentasi SEM


16

Pertamina Bekerjasama dengan Universitas Indonesia

Contoh aplikasi/ penggunaan dari SEM salah satunya adalah untuk mengamati nanosphere
pada proses pembentukan CNT.

Gambar 7 : Nanosphere yang terbentuk pada proses pembuatan CNT

2.4.1.2 Scanning Auger Microscopy (SAM)


Scanning Auger Microscopy digunakan untuk menganalisis komposisi unsur pada
permukaan dengan resolusi pemisahan yang sangat tinggi (15-20 cm). Instrumentasi SAM
terdiri dari kolom scanning microscope Ultra High Vacuum (UHV) yang dikombinasikan
dengan energi analyser dimana biasa digunakan cylindrical mirror analyser.
Beberapa kegunaan dari Scanning Auger Microscopy adalah :
- Analisis permukaan semua unsure kecuali H dan He
- Mempelajari kerusakan pada permukaan logam
- Mempelajari katalis dan analisis material berukuran kecil
- Mengetahui kehadiran unsur atau molekul yang tidak diinginkan

17

Pertamina Bekerjasama dengan Universitas Indonesia

Gambar 8 : Bagan prinsip kerja SAM

2.4.2 Spektroskopi
2.4.2.1 X-Ray Photoelectron Spectroscopy (XPS)
X-Ray Photoelectron Spectroscopy adalah sebuah instrumen yang digunakan untuk
menyelidiki komposisi kimiawi permukaan, formula empiris dan keadaan elektronik. XPS
bekerja berdasarkan prinsip fotoelektrik yang ditemukan oleh Einstein. Instrumen XPS
mengukur energi kinetik oleh elektron yang lepas setelah dikenai radiasi.

Gambar 9 : efek Fotoelektrik

Gambar 10 : bagan instrumentasi XPS

18

Pertamina Bekerjasama dengan Universitas Indonesia

Spektroskopi photoelektron induksi oleh sinar X dikembangkan sejak tahun 1950-an


oleh kelompok Siegbahn. Teknik ini didasari oleh adanya pemisahan beresolusi tinggi dari
energi ikatan elektron pada tingkat inti yang diemisikan oleh efek fotoelektrik yang berasal
dari iradiasi sinar X. Secara sederhana prinsip kerja XPS dapat dijelaskan seperti pada
gambar. Sumber foton yang berasal dari radiasi sinar X, dilewatkan pada sampel. Elektron
yang berada pada tingkat dekat inti atau kulit bagian dalam akan diemisikan keluar, yang
ditangkap oleh penganalisa dan dideteksi dalam bentuk energi ikatan elektron pada tingkat
inti. Energi ikatan elektron tingkat lebih dalam/ dekat inti oleh interface/ software akan
ditampilkan dalam bentuk spektrum energi ikatan terhadap intensitas, yang akhirnya dapat
diinterpretasikan sebagai kehadiran molekul atau atom tertentu.
Sumber sinar biasanya merupakan hasil iradiasi logam alumunium atau magnesium.
Penggunaan sumber sinar alumunium menghasilkan sinar dengan panjang gelombang 1450
nm, sedangkan sinar X yang dihasilkan oleh sumber sinar magnesium menghasilkan 1250
nm. Masing- masing sumber sinar ini karakterisik , sehingga diperlukan pemilihan sumber
sinar yang tepat untuk menghasilkan karakter analisis yang diharapkan.

Gambar 11 : Prinsip kerja XPS

2.4.2.2 Ultraviolet Photoelectron Spectroscopy (UPS)


Ultraviolet Photoelectron Spectroscopy secara prinsip sama dengan X-Ray
Photoelectron Spectroscopy. Perbedaannya adalah Onergy radiasi foton yang diberikan
19

Pertamina Bekerjasama dengan Universitas Indonesia

kepada sampel. Ketika Oenergi foton radiasi lebih kecil dari 100 eV maka teknik yang
digunakan disebut UPS, namun jikaOenergi foton radiasi lebih besar dari 100 eV disebut
XPS.

Gambar 12 : Prinsip kerja UPS

2.4.2.3 Spektroskopi Raman


Spektroskopi Raman adalah metode penentuan senyawa berdasarkan gerakan
molekul, yang dinamakan vibrasi molekul. Senyawa yang terukur pada Raman Spektrometer
adalah senyawa yang mengalami perubahan polarisasi karena vibrasi. Spektroskopi ini
berhubungan dengan hamburan foton sampel bila disinari dengan laser. Spektroskopi Raman
dapat digunakan untuk tujuan analisis kualitatif dan kuantitatif serta sampel dapat berupa fasa
padatan, cairan, dan gas.
Prinsip Spektroskopi Raman :
- Apabila sinar laser mengenai sampel, foton akan diabsorpsi oleh sampel kemudian
dihamburkan.
- Secara umum, hamburan foton memiliki panjang gelombang yang sama dengan panjang
gelombang foton yang datang, dikenal dengan hamburan Rayleigh. Tetapi, ada fraksi kecil
dari hamburan bergeser ke panjang gelombang yang berbeda. Pergeseran panjang
gelombang ini dinamakan efek Raman.

20

Pertamina Bekerjasama dengan Universitas Indonesia

- Kebanyakan foton hamburan Raman bergeser ke panjang gelombang yang lebih besar
(Stokes shift) dan sebagian kecil bergeser ke panjang gelombang yang lebih kecil (antistokes shift)
- Pada Raman Spektroskopi yang digunakan adalah stokes shift karena probabilitasnya lebih
besar.
- Dalam hamburan Rayleigh, elektron kembali ke level energi yang sama.
- Hamburan Raman stokes terjadi apabila energi akhir lebih besar dari energi awal,
sedangkan hamburan Raman anti-stokes terjadi apabila energi akhir lebih kecil dari energi
awal.

Gambar 13 : diagram level energi yang menunjukkan keadaan elektronik Raman

Gambar 14 : model instrumentasi Spektrometer Raman

21

Pertamina Bekerjasama dengan Universitas Indonesia

2.4.3 X Ray Diffraction (XRD)


XRD atau X-Ray Diffraction merupakan salah satu alat yang dimanfaatkan untuk
karakterisasi material. Teknik ini digunakan untuk mengidentifikasi fasa kristalin dalam
material dengan cara menentukan parameter struktur kisi serta untuk mendapatkan
ukuran partikel. Dasar dari prinsip pendifraksian sinar X yaitu difraksi sinar-X terjadi
pada hamburan elastis foton-foton sinar-X oleh atom dalam sebuah kisi periodik. Hamburan
monokromatis sinar-X dalam fasa tersebut memberikan interferensi yang konstruktif.
Dasar dari penggunaan difraksi sinar-X untuk mempelajari kisi kristal adalah berdasarkan
persamaan Bragg:
n. = 2.d.sin ; n = 1,2,...
Berdasarkan persamaan Bragg, jika seberkas sinar-X di jatuhkan pada sampel
kristal, maka bidang kristal itu akan membiaskan sinar-X yang memiliki panjang gelombang
sama dengan jarak antar kisi dalam kristal tersebut. Sinar yang dibiaskan akan ditangkap
oleh detektor kemudian diterjemahkan sebagai sebuah puncak difraksi. Makin banyak
bidang kristal yang terdapat dalam sampel, makin kuat intensitas pembiasan yang
dihasilkannya. Tiap puncak yang muncul pada pola XRD mewakili satu bidang kristal
yang memiliki orientasi tertentu dalam sumbu tiga dimensi. Puncak-puncak yang
didapatkan dari data pengukuran ini kemudian dicocokkan dengan standar difraksi sinar-X
untuk hampir semua jenis material. Standar ini disebut JCPDS.

Gambar 15 : bagan prinsip kerja dengan XRD

22

Pertamina Bekerjasama dengan Universitas Indonesia

Gambar 16 : Kristal atom bikenai berkas sinar X

Gambar 17 : Padatan kristalin yang dibombardir dengan sinar X


Prinsip kerja XRD secara umum adalah sebagai berikut : XRD terdiri dari tiga bagian
utama, yaitu tabung sinar-X, tempat objek yang diteliti, dan detektor sinar X. Sinar X
dihasilkan di tabung sinar X yang berisi katoda memanaskan filamen, sehingga
menghasilkan elektron. Perbedaan tegangan menyebabkan percepatan elektron akan
menembaki objek. Ketika elektron mempunyai tingkat energi yang tinggi dan menabrak
elektron dalam objek sehingga dihasilkan pancaran sinar X. Objek dan detektor
23

Pertamina Bekerjasama dengan Universitas Indonesia

berputar untuk menangkap dan merekam intensitas refleksi sinar X. Detektor merekam
dan memproses sinyal sinar X dan mengolahnya dalam bentuk grafik.

24

Pertamina Bekerjasama dengan Universitas Indonesia

BAB III
PEMBAHASAN

3.1. Pentingnya Hidrogenasi Gasolin


Gasolin yang digunakan sebagai bahan bakar ternyata mengandung sejumlah senyawa
tidak jenuh, misalnya stirena, olefin dan diolefin. Gasolin yang memiliki kualitas baik adalah
gasolin dengan nilai oktan tinggi dimana komponen hidrokarbon penyusunnya harus dalam
keadaan jenuh dan bercabang. Gasolin mempunyai mutu yang baik jika memiliki kestabilan
tinggi. Artinya komponen-komponen dalam gasolin harus bercampur dalam segala
perbandingan dan merata. Olefin, diolefin dan stirena dalam gasolin dapat berpolimerisasi
membentuk gum atau getah dan akan memisahkan diri/ deposisi dari cairan. Hal ini tentu
akan mengurangi kestabilan gasolin dan berakibat pada performa kendaraan bermotor. Reaksi
hidrogenasi diperlukan untuk menjenuhkan ikatan ganda dalam senyawa pembentuk gum
tersebut.

3.2 Potensi Katalis Nikel Alumina serta Profil Permukaannya


Logam grup VIII umumnya digunakan sebagai agen aktif untuk hidrogenasi senyawa
hidrokarbon tidak jenuh. Tabel di bawah ini menunjukkan bahwa katalis Ni memilik aktivitas

25

Pertamina Bekerjasama dengan Universitas Indonesia

yang bagus dan potensial yang tinggi dalam memecah ikatan rangkap secara selektif

.
Tabel 1 : aktivitas dan selektivitas katalis logam terhadap reaksi hidrogenasi
Gasolin mengandung spesies reaktif yang dapat mengalami polimerisasi untuk
membentuk

kokas

selama

reaksi.

Pengendapan

kokas

di

katalis,

memblokir

situs aktif dan mengurangi aksesibilitas reaktan ke situs tersebut. Oleh karena itu, katalis
heterogen biasanya membutuhkan pendukung (support). Pendukung katalis memiliki
kekuatan mekanik, tahan panas dan mempunyai kerapatan yang optimal. Pendukung juga
meningkatkan luas permukaan, memiliki pori serta ukuran partikel yang optimal, dan
peningkatan fungsi kimiawi. Sehingga katalis Ni untuk hidrogenasi dilapiskan pada
permukaan alumina.

Gambar 18 : Profil katalis Ni/Al2O3 dalam 3D dengan SEM

26

Pertamina Bekerjasama dengan Universitas Indonesia

Gambar 19 : Profil permukaan dengan SEM (a) Ni-Alumina (b) Alumina


Analisis dengan XRD dari Ni/Al2O3 dilakukan pada suasana atmosfer H2/N2 5%. Ada
perubahan nyata diamati dalam puncak Ni di (2) posisi 52 dan 76 saat suhu meningkat. Pola
XRD dari katalis Ni/Al2O3 menunjukkan bahwa intensitas puncak Ni meningkat selama
reduksi. Puncak alumina juga menjadi lebih tajam yang menunjukkan peningkatan
kristalinitas katalis.

Gambar 20 : Spektrum XRD katalis Ni/ Al2O3


27

Pertamina Bekerjasama dengan Universitas Indonesia

Gambar 21 : Model penyusunan katalis Ni/ Al2O3

Gambar 22 : Interaksi katalis dengan pendukung katalis


Support katalis dalam hal ini Al2O3 akan berinteraksi dengan logam Ni dan terjadi
aliran elektron dari Al2O3 ke logam Ni secara reversibel. Keadaan ini akan membuat struktur
elektronik dari logam Ni berubah dan makin reaktif untuk melakukan reaksi adsorpsi dalam
hidrogenasi gasolin. Konfigurasi elektron atom Ni adalah Ni28 = [Ar] 4s2 3d8

4s

3d

Apabila katalis Ni dimodifikasi dengan alumina maka akan mendapat tambahan satu
elektron sehingga jumlah elektron Ni pada orbital d adalah 9 elektron. Pada keadaan ini, Ni
akan menjadi sangat reaktif untuk mengadorpsi molekul gas hidrogen dan olefin. Dengan
demikian memungkinkan reaksi hidrogenasi berlangsung lebih cepat dengan energi aktivasi
yang lebih kecil daripada reaksi hidrogenasi tanpa katalis.
28

Pertamina Bekerjasama dengan Universitas Indonesia

3.3 Energi Aktivasi Reaksi Hidrogenasi dengan Katalis Ni/ Al2O3


Pemecahan ikatan H-H dan ikatan ganda dalam olefin dan diolefin tanpa adanya
katalis diperlukan energi yang relatif cukup besar. Katalis Ni/ Al 2O3 akan mengadsorp
molekul H2 dan olefin/ diolefin untuk membentuk kompleks teraktifkan. Hal ini dapat
dimaknai bahwa katalis akan melemahkan ikatan dalam H-H dan ikatan ganda olefin.
Konsekuensinya, energi aktivasi reaksi menjadi semakin kecil dan makin banyak fraksi
molekul yang memiliki cukup energi untuk bereaksi.

Gambar 23 : Energi aktivasi reaksi dengan katalis dan tanpa katalis

3.4 Mekanisme Reaksi Adsorpsi-Desorpsi Hidrogenasi Olefin


Reaksi hidrogenasi olefin pada permukaan katalis tidak lepas dari pengetahuan
tentang ilmu kimia permukaan, khususnya adsorpsi dan desorpsi. Mekanisme adsorpsi
desorpsi olefin dan H2 ini mengikuti mekanisme reaksi Langmuir Hinshelwood. Olefin dan
H2 keduanya mula mula diadsorpsi oleh sisi aktif permukaan katalis. Setelah salah satu
hidrogen menyerang salah satu atom C pada olefin yang tadinya berikatan dengan sisi aktif
katalis, akan menghasilkan intermediet. Mekanisme lebih lanjut pada intermediet ini akan
memberikan tiga kemungkinan mekanisme reaksi yang masing masing mekanisme
29

Pertamina Bekerjasama dengan Universitas Indonesia

memberikan produk yang berbeda. Produk yang dihasilkan adalah pembentukan senyawa
jenuh (alkana), perpindahan ikatan rangkap C=C, dan terjadi isomerisasi cis-trans dari
senyawa awal.

Gambar 24 : Mekanisme reaksi adsorpsi desorpsi olefin dengan H2 pada katalis


30

Pertamina Bekerjasama dengan Universitas Indonesia

Gambar 25: Hidrogenasi komponen gasolin

31

Pertamina Bekerjasama dengan Universitas Indonesia

Gambar 26 : isomerisasi olefin terjadi selama proses hidrogenasi


Dari gambar mekanisme di atas, selain terjadi reaksi hidrogenasi juga terjadi konversi
internal dari cis-olefin menjadi trans-olefin atau sebaliknya. Dengan mekanisme tersebut,
diperlukan kondisi reaksi hidrogenasi agar yangterjadi hanya reaksi penjenuhan saja namun
tidak terjadi reaksi isomerisasi. Reaksi isomerisasi di atas kurang menguntungkan atau
dengan kata lain tidak diharapkan karena masih memungkinkan adanya pembentukan gum
oleh olefin.
Gasolin tidak hanya mengandung hidrokarbon alifatik tidak jenuh misalnya olefin dan
diolefin, tetapi juga senyawa aromatik. Walaupun katalis Ni selektif pada reaksi hidrogenasi
yaitu terhadap ikatan rangkap hidrokarbon alifatik (olefin dan diolefin), namun sejumlah
kecil senyawa aromatik juga dimungkinkan untuk tereduksi dimana reaksinya adalah

32

Pertamina Bekerjasama dengan Universitas Indonesia

Gambar 27 : Mekanisme reaksi hidrogenasi senyawa aromatik komponen Gasolin


Mekanisme yang terjadi pada hidrogenasi senyawa aromatik komponen Gasolin sama
dengan mekanisme untuk olefin, yaitu mekanisme Langmuir Hinshelwood.

3.5 Kinetika Reaksi Hidrogenasi Gasolin


Kinetika reaksi hidrogenasi diolefin/ olefin dalam gasolin ditentukan dengan rumus :

dimana K merepresentasikan konstanta laju, P H2 adalah tekanan parsial gas hidrogen, Pc


tekanan parsial Gasolin (keseluruhan komponen gasolin). Sedangkan a dan b masing
masing adalah orde reaksi untuk H2 dan Gasolin.
Persamaan dalam bentuk logaritma natural dapat digunakan untuk menentukan orde
reaksi masing masing spesi.

Untuk menentukan orde terhadap H2 maka dengan cara memplot ln (r) vs ln (P H2)
dengan menjaga Pc dan temperatur konstan. Begitu juga untuk menentukan orde terhadap
Gasolin, dengan memplot ln (r) vs ln (Pc) dengan menjaga tekanan gas hidrogen dan
temperatur konstan.
33

Pertamina Bekerjasama dengan Universitas Indonesia

Tabel di bawah ini menunjukkan orde reaksi hidrogenasi terhadap gas hidrogen :

Tabel 2 : Orde reaksi terhadap gas H2 dalam reaksi hidrogenasi dan isomerasi
Pada tabel di atas, dapat dilihat bahwa kondisi optimum untuk reaksi hidrogenasi
adalah dengan menggunakan gas hidrogen dengan tekanan 1 sampai 10 barg. Dimana tekanan
gas hidrogen yang diberikan hanya akan berpengaruh pada hidrogenasi olefin/ diolefin, tetapi
tidak sampai mereduksi senyawa aromatik. Pada penggunaan tekanan gas hidrogen yang
lebih tinggi yaitu 10 sampai 20 barg, maka orde reaksi terhadap gas H2 untuk hidrogenasi
olefin bernilai negatif. Sebaliknya, senyawa aromatik (toluena dan etilbenzena) akan
tereduksi menjadi metilsikloheksana dan etilsikloheksana. Hal ini akan mengurangi
konsentrasi senyawa aromatik dalam gasolin yang mengakibatkan penurunan angka oktan
gasolin.
Tabel di bawah ini menunjukkan pengaruh besarnya persen campuran hidrogen
dengan tekanan tertentu dalam tekanan total yang tetap, yaitu 20 barg :

34

Pertamina Bekerjasama dengan Universitas Indonesia

Tabel 3 : pengaruh besarnya persen campuran hidrogen terhadap orde reaksi pada
tekanan total yang tetap
Temperatur sangat mempengaruhi kecepatan reaksi. Hal ini dikarenakan kenaikan
temperatur meningkatkan fraksi molekul yang memiliki energi kinetik yang sangat besar,
yang dapat melampaui nilai energi aktivasi. Namun, dalam eksperimen kali ini, reaksi
hidrogenasi berjalan dengan baik pada suhu 140 2000C.

Gambar 28 : plot antara proporsi molekul dengan energi kinetik

35

Pertamina Bekerjasama dengan Universitas Indonesia

BAB IV
KESIMPULAN

1. Dalam bidang katalis, kimia antarmuka mampu menjelaskan fenomena adsorpsi-desorpsi,


mekanisme dan dinamika molekul reaksi hidrogenasi gasolin untuk menaikkan mutu
gasolin.
2. Enegi aktivasi reaksi hidrogenasi akan lebih rendah dengan menggunakan katalis (Ni/
Al2O3) daripada tanpa menggunakan katalis.
3. Katalis Ni/ Al2O3 mampu menurunkan energi aktivasi karena dapat melemahkan ikatan
dalam molekul reaktan melalui reaksi adsorpsi.
4. Katalis Ni dapat ditingkatkan aktivitasnya dengan menambah pendukung katalis berupa
alumina.
5. Mekanisme adsorpsi desorpsi pada reaksi katalisis hidrogenasi gasolin dengan Ni/ Al 2O3
mengikuti mekanisme Langmuir Hinshelwood.

36

Pertamina Bekerjasama dengan Universitas Indonesia

BAB V
DAFTAR PUSTAKA

Ali,

F.

M.,

Al-Malki,

A.,

El-Ali, B.,

Martinie,

G.,

Siddiqui,

N.

M.

Deep

desulphurization of gasolin and diesel fuels using non-hydrogen consuming techniques. Fuel
2006; 85: 1354-63.
Ali, Javed (2012).

The hydrogenation of pyrolysis gasolin (PyGas) over nickel and

palladium catalysts. PhD thesis http://theses.gla.ac.uk/3542


Atkins, P.W., Physical Chemistry, 6th ed, Oxford University Press, 2004.
Badan penelitian dan Pengembangan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.
http://www.litbang.esdm.go.id/index.php?
option=com_content&view=article&id=487%3Adesulfurisasi-bbm-dengan-metodemembran-dan-adsorpsi-&catid=121%3Alaporan-tahun-2010&Itemid=145

06

Oktober

2012; Pk. 13.00 WIB]


Fraden, Jacob. 2003. Modern Sensor. San Diego: Advance Monitor Corporation.
Garcia-Gutierrez, L. J., Fuentes, A. G, Hernandez-Teran, E. M., Murrieta, F., Navarrete,
J., Jimenez-Cruz, F. Ultra-deep oxidative desulfurization of diesel fuel with H2O2 catalyzed
under mild conditions by polymolybdates supported on AlO. Applied Catalysis A: General
2006; 305: 15-20.
Gasser, R.P.H. (1985). An Introduction to Chemisorption and Catalysis by Metal. Clarendon
Press. Oxford.
H. Pines, The Chemistry of Catalytic Hydrocarbon Conversions, Academic Press, London,
UK., 1981.
Inoue, S., Takatsuka, T., Wada, Y., Hirohama, S., Ushida, T. Distribution function
model for deep desulfurization of diesel fuel. Fuel 2000; 79: 9.
Kinetika Kimia. http:// fpmipa.upi.edu/kuliahonline [06 Oktober 2012; Pk. 12.00 WIB].
37

Pertamina Bekerjasama dengan Universitas Indonesia

Ligang Lin, Ying Kong, Jinrong Yang, Deqing Shi, Kekun Xie, Yuzhong Zhang. Scale-up of
pervaporation for gasolin desulphurization Part 1. Simulation and design. Journal of
Membrane Science 298 (2007) 113.
Ma, X., Zhou, A., Song, C. A novel method for oxidative desulfurization of liquid
hydrocarbon fuels based on catalytic oxidation using molecular oxygen coupled with
selective adsorption. Catal Today 2007; 123: 276-84.
Material Analysis http://www.material.ox.ac.uk [06 Oktober 2012; Pk. 11.00 WIB].
M. J. Rosen, surfactant and Interfacial Phenomena, A Wiley-Interscience Pubs., 1978.
Pil Kim, Younghun Kim, Heesoo Kim, In Kyu Song, Jongheop Yi. Synthesis and
characterization of mesoporous alumina for use as a catalyst support in the
hydrodechlorination of 1,2-dichloropropane : effect of preparation condition of mesoporous
alumina. Journal of Molecular Catalysis A: Chemical 219 (2004) 8795.
Pil Kim, Younghun Kim, Heesoo Kim, In Kyu Song, Jongheop Yi. Synthesis and
characterization of mesoporous alumina with nickel incorporated for use in the partial
oxidation of methane into synthesis gas. Applied Catalysis A: General 272 (2004) 157166.
Seiyama, T.; Kato, A.; Fulishi, K.; Nagatani, M. A new detector for gaseous components
using semiconductive thin films. Anal. Chem. 1962, 34, 15021503.
Sysoev, V.V.; Schneider, T.; Goschnick, J.; Ki selev, I.; Habicht, W.; Hahn, H.; Strelcov, E.;
Kolmakov, A. Percolating SnO2 nanowire network as a stable ga s sensor: Direct comparison
of long-term performance versus SnO nanoparticle films. Sens. Actuat. B 2009 , 139, 699
703.
Yulizar, Yoki. 2005. Teknik Pengukuran Spesies Permukaan/ Antarmuka (KSKF I). Depok :
Departemen Kimia UI.
Yulizar, Yoki., Tresye Utari. 2005. Kimia Permukaan. Depok : Departemen Kimia UI.

38

Pertamina Bekerjasama dengan Universitas Indonesia