Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN TETAP PRAKTIKUM KIMIA FISIKA

ISOTERM FREUNLICH

OLEH
KELOMPOK 3 :

TRY YULIARTI
VANDHITO RIZNA I.
YUNI KHAIRUNNISA
YUNIA SARIFRANSISKA
M. ANGGRADYA IQBAL
NAURA ZURRIA
MUHAMMAD SYAHRAWI

NIM. 061530400339
NIM. 061530400340
NIM. 061530400341
NIM. 061530401017
NIM. 061530401026
NIM. 061530401031
NIM. 061540402117

KELAS : 2 KB
INSTRUKTUR : MELIANTI, S.T., M.T.

LABORATORIUM TEKNIK KIMIA


POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
PALEMBANG
ISOTERM FREUNLICH

(ISOTERM ADSORBSI FREUNLICH)

I. TUJUAN
Setelah melakukan percobaan ini mahasiswa diharapkan:
1. Mempelajari proses adsorbs karbon aktif dengan larutan asam organik.
2. Menentukan besarnya Tetapan Isoterm Adsorbsi Freunlich.
II. ALAT DAN BAHAN KIMIA YANG DIGUNAKAN
- Alat yang digunakan:
1. Erlenmeyer 250 ml
2. Gelas ukur 100 ml
3. Buret 50 ml
4. Labu ukur 100 ml, 250 ml
5. Gelas kimia 250 ml
6. Pipet ukur 10 ml, 25 ml
7. Bola karet
8. Corong gelas
9. Spatula
10. Pengaduk
11. Kaca arloji
-

Bahan kimia yang digunakan:


1. Asam oksalat 1N dan asam asetat 1N
2. Larutan NaOH 0,1N
3. Karbon Aktif

III.

DASAR TEORI
Adsorbsi adalah gejala mengumpulan molekul-molekul suatu zat (gas,
cair) pada permukaan zat lain (padatan, cair) akibat adanya kesetimbangan
gaya. Zat yang mengadsorbsi disebut adsorben dan zat yang teradsorbsi disebut
adsorbat.
Adsorben umumnya adalah padatan adsorbat umumnya adalah padatan
sedangkan adsorAbatnya adalah cairan atau gas.
Proses adsorbsi merupakan proses kesetimbangan baik adsorbsi gas
maupun cairan. Contoh proses adsorbs yang digunakan sehari-hari misalnya:
penyerapan air oleh zat pengering, penghilang warna dalam industry tekstil.
1. Pengeringan udara / pengambilan uap air dengan silikagel di
laboratorium.
2. Penghilang zat warna, bau.
3. Penghilang zat warna pada pabrik gula.
Proses adsorbsi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor:
1. Konsentrasi, makin besar konsentrasi adsorbat maka jumlah yang
teradsorbsi makin banyak begitu juga luas permukaan kontak.
Makin halus atau makin besar luas permukaan kontak, maka jumlah
adsorbsi makin banyak.
2. Temperature, makin besar temperature maka adsorbsi makin kecil
karena proses adsorbsi merupakan proses yang isothermal.
3. Sifat adsorben dan adsorbat.
Proses adsorbsi dibagi menjadi 2 bagian:
a. Proses adsorbs kimia, yaitu proses adsorbsi yang disertai dengan
reaksi kimia. Pada adsorbs ini terjadi pembentukan senyawa kimia
dan umumnya terjadi pada adsorbs yang multilapisan.
Contoh:
CO2(s) + NaOH(p)

Na2CO3 + H2O

H2O(l) + CaCl2(p)

Ca(OH)2 + HCl

b. Proses adsorbsi fisika, yaitu proses adsorbsi yang tidak disertai


reaksi kimia. Ikatan yang terjadi pada proses ini adalah ikatan Van
Der Waals yang relative lemah. Ppada adsorbs ini panas yang
dilepaskan relative kecil dan umumnya terjadi pada satu lapis
(monolayer).
Contoh:
Adsorbsi uap air CaCl2 atas silica gel.

Adsorbsi asam asetat, asam oksalat oleh karbon aktif

4. Efektifitas adsorbsi makin tinggi jika kedua zat adsorbat dan adsorben
mempunyai polaritas yang sama.
Beberapa persamaan isotherm adsorbsi:
1. Isoterm adsorbsi Freunlich
2. Isotherm adsorbs Langmuir
3. Isotherm BET (Brunauer, Emmet, Teller)
Add 1. Isoterm Freunlich
1

X
=K C n
m
Dimana:
x
C

(cair-padat) (1)

= jumlah zat (gr, mol) yang teradsorbsi oleh m gr, adsorben


= konsentrasi zat terlarut yang bebas

k dan n = tetapan Isoterm Freunlich

Persamaan ini berlaku untuk gas dan cair

V=K
Dimana:
V

Pn

= jumlah gas teradsorbsi persatuan massa adsorben pada tekanan P

k dan n = tetapan Isoterm Freunlich

Add 2. Isoterm Langmuir


P P
1
=
+
V Vm a .Vm
Dimana:
Vm = volume gas yang dibutuhkan
V = volume gas yang sebenarnya menutupi satu satuan massa adsorben
pada tekanan

Add 3. Isoterm BET


(C1) P
P
1
=
=
.
V (P 0P) Vm+ C Vm .C P0

Dimana:
P0 = tekanan uap jenuh
Vm = kapasitas volume monolayer
C
= tekanan isotherm Langmuir

1.2.1 Pengertian Adsorbsi

Adsorpsi adalah suatu proses penyerapan partikel suatu fluida (cairan


maupun gas) oleh suatu padatan hingga terbentuk suatu film (lapisan tipis)
pada permukaan adsorben. Padatan yang dapat menyerap partikel fluida
disebut bahan pengadsorpsi atau adsorben. Sedangkan zat yang terserap
disebut adsorbat. Secara umum Adsorpsi didefinisikan sebagai suatu proses
penggumpalan substansi terlarut (soluble) yang ada dalam larutan, oleh
permukaan zat atau benda penyerap, dimana terjadi suatu ikatan kimia fisika
antara substansi dengan penyerapnya. Penyerapan partikel atau ion oleh
permukaan koloid atau yang disebut peristiwa adsorpsi ini dapat menyebabkan
koloid menjadi bermuatan listrik.
Adsorpsi secara umum adalah proses penggumpalan substansi terlarut
yang ada dalam larutan oleh permukaan benda atau zat penyerap. Adsorpsi
adalah masuknya bahan yang mengumpul dalam suatu zat padat. Keduanya
sering muncul bersamaan dengan suatu proses maka ada yang menyebutnya
sorpsi. Baik adsorpsi maupun absorpsi sebagai sorpsi terjadi pada tanah liat
maupun padatan lainnya, namun unit operasinya dikenal sebagai adsorpsi.
(Giyatmi, 2008: 101).
Molekul-molekul pada permukaan zat padat atau zat cair, mempunyai
gaya tarik ke arah dalam, karena tidak ada gaya-gaya yang mengimbangi.
Adanya gaya-gaya ini menyebabkan zat padat dan zat cair, mempunyai gaya
adsorpsi. Adsorpsi berbeda dengan absorpsi. Pada absorpsi zat yang diserap
masuk ke dalam adsorben sedang pada adsorpsi, zat yang diserap hanya pada
permukaan (Sukardjo, 2002:190).
Sedangkan contoh contoh adsorbsi adalah sebagai berikut:
a.

Pengeringan udara atau gas gas lain,

b. Pemisahan bahan yang mengandung racun atau yang berbau busuk dari
udara buang,
c.

Pengambilan kembali pelarut dari udara buang,

d. Penghilangan warna larutan (sebelum kristalisasi),

e.

Pemisahan bahan organik dari air (bersamaan dengan pemisahan


pengotor berbentuk koloid yang sukar disaring).

1.2.2 Jenis Jenis Adsorbsi


Adsorpsi dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
1. Adsorpsi fisika adalah proses interaksi antara adsorben dengan
adsorbat yang disebabkan oleh gaya Van Der Waals. Adsorpsi fisika
terjadi jika daya tarik menarik antara zat terlarut dengan adsorben
lebih besar dari daya tarik menarik antara zat terlarut dengan
pelarutnya. Kerena gaya tarik menarik yang lemah tersebut maka zat
yang terlarut akan diadsorpsi pada permukaan adsorben. Adsorpsi
fisika biasanya terjadi pada temperatur rendah sehingga keseimbangan
antara permukaan solid dengan molekul fluida biasanya cepat tercapai
dan bersifat reversibel.
2. Adsorpsi kimia adalah reaksi yang terjadi antara zat padat dengan
zat terlarut yang teradsorpsi. Adsorpsi ini bersifat spesifik dan
melibatkan gaya dan kalor yang sama dengan panas reaksi kimia.
Menurut Langmuir, molekul teradsorpsi ditahan pada permukaan oleh
ikatan valensi yang tipenya sama dengan yang terjadi antara atomatom dalam molekul. Ikatan kimia tersebut menyebabkan pada
permukaan adsorbent akan terbentuk suatu lapisan film.
Adsorpsi memiliki kecepatan. Kecepatan adsorpsi adalah banyaknya zat
yang teradsorpsi per satuan waktu. Kecepatan adsorpsi mempengaruhi kinetika
adsorpsi. Kinetika adsorpsi adalah laju penyerapan suatu fluida oleh adsorben
dalam jangka waktu tertentu. Banyak sedikitnya zat yang teradsorpsi di
pengaruhi oleh:

Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan Adsorpsi:


a.
b.
c.
d.
e.

Macam adsorben
Macam zat yang diadsorpsi (adsorbate)
Luas permukaan adsorben
Konsentrasi zat yang diadsorpsi (adsorbate)
Temperatur

1.2.3 Adsorben dan Adsorbat


Adsorben merupakan zat padat yang dapat menyerap komponen tertentu
dari suatu fase fluida (Saragih, 2008). Kebanyakan adsorben adalah bahanbahan yang sangat berpori dan adsorpsi berlangsung terutama pada dinding
pori- pori atau pada letak-letak tertentu di dalam partikel itu. Oleh karena poripori biasanya sangat kecil maka luas permukaan dalam menjadi beberapa orde
besaran lebih besar daripada permukaan luar dan bisa mencapai 2000 m/g.
Pemisahan terjadi karena perbedaan bobot molekul atau karena perbedaan
polaritas yang menyebabkan sebagian molekul melekat pada permukaan
tersebut lebih erat daripada molekul lainnya. Adsorben yang digunakan secara
komersial dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu kelompok polar dan non
polar (Saragih, 2008).
a. Adsorben Polar Adsorben polar disebut juga hydrophilic. Jenis adsorben
yang termasuk kedalam kelompok ini adalah silika gel, alumina aktif,
dan zeolit.
b. Adsorben non polar Adsorben non polar disebut juga hydrophobic. Jenis
adsorben yang termasuk kedalam kelompok ini adalah polimer adsorben
dan karbon aktif.
Menurut IUPAC (Internasional Union of Pure and Applied Chemical) ada
beberapa klasifikasi pori yaitu :
a. Mikropori : diameter < 2nm
b. Mesopori : diameter 2 50 nm
c. Makropori : diameter > 50 nm

Adsorbat adalah substansi dalam bentuk cair atau gas yang terkonsentrasi
pada permukaan adsorben. Adsorbat terdiri atas dua kelompok yaitu kelompok
polar seperti air dan kelompok non polar seperti methanol, ethanol dan
kelompok hidrokarbon (Suzuki, 1990 dalam saragih, 2008). Karbondioksida
merupakan jenis adsorbat yang sesuai digunakan untuk adsorben jenis
hidrofobic seperti karbon aktif. Karbondioksida merupakan persenyawaan
antara karbon dengan oksigen. Pada kondisi tekanan dan temperatur atmosfir,
karbondioksida merupakan gas yang tidak berwarna, tidak berbau, tidak
reaktif, tidak beracun dan tidak mudah terbakar (nonflammable). Pada kondisi
triple point, karbondioksida dapat berupa padat, cair ataupun gas bergantung
pada kondisinya. Karbondioksida berada pada fase padat pada temperature
-109 F (-78,5oC) dan tekanan atmosfir akan langsung menyublimasi tanpa
melalui fase cair terlebih dahulu. Sedangkan pada tekanan dan temperatur di
atas triple point dan di bawah temperatur 87,9 F (31,1 oC) maka
karbondioksida cair dan gas akan berada pada kondisi kesetimbangan.
1.2.4 Adsorbsi Isoterm Freundlich
Persamaan isoterm adsorpsi Freundlich didasarkan atas terbentuknya
lapisan monolayer dari molekul-molekul adsorbat pada permukaan adsorben.
Namun pada adsorpsi Freundlich situs-situs aktif pada permukaan adsorben
bersifat heterogen.
Persamaan isoterm adsorpsi Freundlich dapat dituliskan sebagai berikut.
log (x/m) = log k + 1/n log c

.... (1)

sedangkan kurva isoterm adsorpsinya disajikan pada gambar berikut

Gambar 1 Kurva Adsorbsi Isotherm Freundlich


Bagi suatu sistem adsorbsi tertentu, hubungan antara banyaknya zat yang
teradsorpsi persatuan luas atau persatuan berat adsorben dengan konsentrasi
yang teradsorpsi pada temperatur tertentu disebut dengan isoterm adsorbsi ini
dinyatakan sebagai :
x
m

= k. Cn

. (2)

dalam hal ini :


x

= jumlah zat teradsorbsi (gram)

= jumlah adsorben (gram)

= konsentrasi zat terlarut dalam larutan, setelah tercapai kesetimbangan


adsorpsi
Persamaan ini mengungkapkan bahwa bila suatu proses adsorbsi

menuruti isoterm Freundlich, maka aluran log

x
m

terhadap log C akan

merupakan garis lurus. Dari garis dapat dievaluasi tetapan k dan n.


Dari persamaan tersebut, jika konsentrasi larutan dalam kesetimbangan
diplot sebagai ordinat dan konsentrasi adsorbat dalam adsorben sebagai absis

pada koordinat logaritmik, akan diperoleh gradien n dan intersept. Dari isoterm
ini, akan diketahui kapasitas adsorben dalam menyerap air. Isoterm ini akan
digunakan dalam penelitian yang akan dilakukan, karena dengan isoterm ini
dapat ditentukan efisisensi dari suatu adsorben.

Karbon Aktif
Karbon aktif merupakan senyawa karbon amorph dan berpori yang
mengandung 85 - 95% karbon yang dihasilkan dari bahan yang mengandung
karbon (batubara, kulit kelapa dan sebagainya) atau karbon yang
diperlakukan secara khusus baik aktivasi kimia maupun fisika untuk
mendapat permukan yang lebih luas. Karbon aktif ini dapat mengadsorpsi gas
dan senyawa kimia tertentu atau sifat adsorpsinya tergantung pada volume
pori-pori atau luas permukaan.(M.T sembiring dkk,)
Dalam 1 gram karbon aktif pada umumnya memiliki luas permukaan
sekitar 500-1500 m2 sehingga efektif dalam menangkap partikel yng sangat
halus. Karbon aktif bersifat sangat aktif dan akan menyerap apa saja yang
bersentuhan dengan kkarbon tersebut. (perpamsi, 2002)
Karbon umumnya mempunyai daya adsorpsi yang rendah namun daya
adsorpsinya

dapat

diperbesar

dengan

mengaktifkan

arang

tersebut

menggunakan uap atau bahan kimia. Perlakuan ini memiliki tujuan untuk
memperbesar luas permukaan arang dengan membuka pori-pori yang
tertutup.(Kateren,1987).
IV.

KESELAMATAN KERJA
- Dari percobaan ini yang harus diperhatikan adalah pengenceran asam
oksalat atau asam aetat dari pekat ke konsentrasi yang diinginkan.
-

Juga pembuatan NaOH 0,1N harus menggunakan kaca mata dan sarung
tangan karena berbahaya terhadap mata dan kulit.

V. CARA KERJA
1. Menyiapkan 5 buah Erlenmeyer 250 ml
2. Memasukkan masing-masing 0,5 gram karbon aktif. Sebelumnya
dipanaskan selama 15 menit pada suhu 60oC.

3. Pada tiap Erlenmeyer dimasukkan 20 ml asam oksalat atau asam asetat


untuk masing-masing komponen.
4. Mengocok campuran tersebut selama 10 menit kemudian didiamkan
selama 1 jam.
5. Dikocok lagi selama 1 menit.
6. Menyaring larutan tersebut dengan kertas saring, mengukur volume
filtrate.
7. Menitrasi filtrate dengan larutan NaOH 0,1N (boleh alikot saja, misalnya
10 ml) dan ditambahkan indicator pp (phenolphtalin) sampai terjadi
perubahan warna (jumlah filtrate yang dititrasi sebaiknya tidak sama
antara konsentrasi asam tertinggi dan yang terendah).
VI.

DATA PENGAMATAN
Konsentrasi
No
1
2
3
4
5

m
(gram)

Awal
(N)

Akhir
(N)

0,5
0,5
0,5
0,5
0,5

1
0,8
0,6
0,4
0,2

0,236
0,226
0,154
0,11
0,06

m = berat karbon aktif


x = berat asam oksalat teradsorbsi

X
(gram)

x
m

3,096
2,326
1,807
1,175
0,567

6,192
4,652
3,614
2,35
1,134

Log
x
m

Log C

0,79183
0,66764
0,55799
0,37107
0,05461

-0,116906
-0,241088
-0,350665
-0,537602
-0,853872

HASIL PENGAMATAN

Karbon aktif yang telah dimasukkan ke dalam erlenmeyer masing-masing 0,5


gram.

Hasil filtrat yang telah dititrasi dengan larutan standar NaOH.

VII.

PERHITUNGAN
1

X
=K C n
m

Membuat grafik log

log

( mX )

X
1
=log k + log C
m
n

vs log C

Menghitung C akhir:
N1 . V1 = N2 . V2
Dimana:
N1 = konsentrasi NaOH O,1N
V1 = volume NaOH dipakai untuk titrasi
N2 = konsentrasi asam bebas/akhir setelah adsorbs
V1 = volume asam yang dititrasi
m = dalam gram, berat karbon aktif
X = berat asam asetat atau asam oksalat teradsorbsi
Log k dari grafik, dan harga

didapat dari slope grafik

Pembuatan larutan asam oksalat 0,1 N pada 500 ml


Pada asam oksalat Molaritas = Normalitas
C H O .2H O 2H+ + C O 2- + 2H O
2

BM = 162,07 gr/mol
162,07 gr /mol
BE =
2

1
n

= 81,035 gr/mol

Gram = M x V x BE
= 0,1 N x 0,5 L x 81,035 gr/mol
= 20,25875 gram
Pembuatan larutan NaOH 0,1 N dalam 250 ml

BM NaOH = 40 gr/mol
NaOH = 1 gr/ml
Pada NaOH Molaritas = Normalitas
gr = M . V . BM
gr = 0,1 M . 0,25 L . 40 gr/mol
= 1 gram (NaOH yang ditimbang)

Menghitung volume C2H2O4.2H2O (V2) yang harus dipipet


1. V1 . N1 = V2 . N2
50 ml. 1 N = 1N . V2
V2 = 50 ml

4. V1 . N1 = V2 . N2
50 ml. 0,4 N = 1N . V2
V2
= 20 ml

2. V1 . N1 = V2 . N2
50 ml. 0,8 N = 1N . V2
V2
= 40 ml

5. V1 . N1 = V2 . N2
50 ml. 0,2 N = 1N . V2
V2
= 10 ml

3. V1 . N1 = V2 . N2
50 ml. 0,6 N = 1N . V2
V2 = 30 ml

DATA TITRASI
Konsentrasi
C2H2O4.2H2O (N)
1
0,8
0,6
0,4
0,2

NO.
1
2
3
4
5

Volume titrasi (ml)


118
113
77
55
30

Menghitung konsentrasi C2H2O4.2H2O setelah titrasi


a

Pada konsentrasi awal 1 N


b V1 . N1 = V2 . N2
c 118 ml. 0,1 N = 50 ml . N2
d

N2 = 0,236 N

Pada konsentrasi awal 0,8 N


f V1 . N1 = V2 . N2
g
113 ml. 0,1 N = 50 ml . N2
h

N2 = 0,226 N

i
j

Pada konsentrasi awal 0,6 N

V1 . N1 = V2 . N2
l77 ml. 0,1 N = 50 ml . N2
k

m
n

Pada konsentrasi awal 0,4 N


o

V1 . N1 = V2 . N2

55 ml. 0,1 N = 50 ml . N2
q

N2 = 0,154 N

N2 = 0,11 N

Pada konsentrasi awal 0,2 N


s

V1 . N1 = V2 . N2

t30 ml. 0,1 N = 50 ml . N2


u

N2 = 0,06 N

w
Menghitung berat C2H2O4.2H2O (x gram)
1. Sampel 1 : C2H2O4.2H2O 1 N
x

X 1=

C . BM . V
1000

( 10,236 ) mek / ml . 81,035mgr / mek .50 ml


1000 mgr / gr

3,096 gram

2. Sampel 2 : C2H2O4.2H2O 0,8 N


aa

X 1=

C . BM . V
1000

( 0,80,226 ) mek /ml . 81,035 mgr /mek . 50 ml


1000 mgr/ gr

ab

ac

2,326 gram

3. Sampel 3 : C2H2O4.2H2O 0,6 N


X 1=

ad

C . BM . V
1000

( 0,60,154 ) mek /ml .81,035 mgr /mek . 50 ml


1000 mgr/ gr

ae

af

1,807 gram

4. Sampel 4 : C2H2O4.2H2O 0,4 N


X 1=

ag

C . BM . V
1000

( 0,40,11 ) mek / ml .81,035 mgr /mek . 50 ml


1000 mgr /gr

ah

ai

1,175 gram

5. Sampel 5 : C2H2O4.2H2O 0,2 N


X 1=

aj

C . BM . V
1000

( 0,20,06 ) mek /ml . 81,035 mgr/ mek .50 ml


1000 mgr / gr

ak

al

0,567 gram

Membuat grafik antara log


am

Misalkan:

( mX )

terhadap log C

( mX )

an

log

ao

log C = x
ap

=y

aq

at

-0,11691

au

0,79183

ax

-0,24109

ay

0,66764

bb

-0,35067

bc

0,55799

bf

-0,5376

bg

0,37107

bj

-0,85387

bk

0,05461

ar

x2
av 0
,
0
1
3
6
6
7
az 0
,
0
5
8
1
2
3
bd 0
,
1
2
2
9
6
6
bh 0
,
2
8
9
0
1
6
bl 0
,
7

as

xy
aw 0
,
0
9
2
5
7
ba 0
,
1
6
0
9
6
be 0
,
1
9
5
6
7
bi 0
,
1
9
9
4
9
bm 0
,

2
9
0
9
7
bp
x
2

bn

y =

bo

-2,10013

x =

2,44314

1
,
2
1
2
8
7

0
,
6
9
5
3
2

br
Slope(m)=

bs

bw

bx

n ( xy )( x ) ( y )
n ( x 2 )( x)2

bt

5 (0,69532 )(2,10013 ) (2,44314)


2
5 (1,21287 )(2,10013)

bu

1,654311608
1,653803983

bv

1,0008

Intersep( c)=

0
4
6
6
3
bq
x
y

( y ) ( x 2) ( x )( xy )
n ( x 2) ( x )2

( 2,44314 )( 1,21287 )(2,10013 )(0,69532 )


5 ( 1,21287 )(2,10013)2

by
bz

0,90878

ca
cb
cc

1,50294882
1,653803983

Menghitung harga k dan n


cd

y = slope +
intersep

ch n = 0,999
ci

ce

cj

x 1
log = logC +log k
m n

ck maka, log k = intersep


cl

log k =

0,90878
cf

1
log C
n

cm
= 1,0008 x

k=

100,90878
cn

cg

1
n

= 1,0008

co
cp

k = 9,567

cq
cr
cs
ct
cu
cv
L

cw
L

cx
0,

cy
-

cz
0,

da
-

db
0,

dc
-

dd
0,

de
-

df
0,

dg
-

dh
di
X

dj
Y

dk

dm
-

dn
0,

do
0,

dq
-

dr
0,

ds
0,

dl X
Y
dp 0
,
0
9
2
5
7
dt 0
,
1
6

du
-

dv
0,

dw
0,

dx

dy
-

dz
0,

ea
0,

eb

ec
-

ed
0,

ee
0,

ef

eg

eh

ei

ej

0
9
6
0
,
1
9
5
6
7
0
,
1
9
9
4
9
0
,
0
4
6
6
3

X
Y
=
0
,
6
9
5
3
2

ek

el
em

Grafik Hubungan antara Log x/m vs Log c


0
-0.1 0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9
f(x) = 1x - 0.91
-0.2
R = 1
-0.3

Log c

-0.4

-0.5

Linear (Y)

-0.6
-0.7
-0.8
-0.9

Log x/m

en
eo
ep
eq
er
es
VIII. ANALISA PERCOBAAN
et Pada percobaan ini, yang bertujuan untuk menentukan isoterm
adsorbsi menurut Freundlich bagi proses adsorbsi asam oksalat pada arang.
Percobaan ini dilakukan secara kuantitatif, yaitu dengan cara menghitung
volume banyaknya titran yang digunakan setelah penyaringan karbon aktif.
Karbon aktif digunakan sebagai adsorben, asam oksalat berbagai konsentrasi
sebagai adsorbat, serta larutan NaOH 0,1 N sebagai larutan standar. Penggunaan
asam oksalat dengan berbagai konsentrasi

dimaksudkan untuk mengetahui

kemampuan karbon untuk mengadsorbsi larutan asam oksalat dengan berbagai


konsentrasi pada suhu yang konstan (isoterm). Peristiwa adsorbsi yang terjadi
bersifat selektif dan spesifik, dimana asam oksalat lebih mudah teradsorbsi

daripada pelarut (air), karena arang aktif (karbon) hanya mampu mengadsorbsi
senyawa-senyawa organik.
eu Perubahan konsentrasi asam oksalat sebelum dan sesudah adsorbsi
diketahui dengan cara menitrasi filtrat yang mengandung asam oksalat dengan
larutan standar NaOH 0,1 N. Konsentrasi awal asam oksalat mempengaruhi
volume titrasi yang digunakan. Hal ini disebabkan karena semakin besar
konsentrasi, maka letak antara molekulnya semakin berdekatan sehingga
menyebabkan sulitnya untuk mencapai titik ekivalen pada saat proses titrasi.
ev Arang (karbon aktif) yang akan digunakan sebelumnya dipanaskan
dalam oven 60C selama 15 menit. Hal ini bertujuan untuk membuka pori-pori
permukaan karbon agar mampu mengadsorbsi secara maksimal.
ew Pada percobaan ini akan ditentukan harga tetapan-tetapan adsorbsi
isoterm Freundlich bagi proses adsorbsi C2H2O4.2H2O terhadap arang. Variabel
yang terukur pada percobaan adalah volume larutan NaOH 0,1 N yang digunakan
untuk menitrasi C2H2O4.2H2O. Setelah konsentrasi awal dan akhir diketahui,
konsentrasi C2H2O4.2H2O yang teradsorbsi dapat diketahui dengan cara
pengurangan konsentrasi akhir dengan konsentrasi awal. Selanjutnya dapat dicari
berat C2H2O4.2H2O yang teradsorbsi.
ex
ey
IX.

ez
KESIMPULAN
fa
Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :
1. Arang dapat berfungsi sebagai adsorben.
2. Adsorbs adalah suatu proses penyerapan suatu substansi terlarut pada
bagian permukaan zat lain
3. Semakin besar konsentrasi asam oksalat yang digunakan maka
semakin besar pula jumlah zat dalam larutan yang terserap.
4. Data yang didapatkan :
k = 9,567

n = 0,999
fb

X.

DAFTAR PUSTAKA

fc

Tim Penyusun, 2016.Penuntun Praktikum Kimia Fisika. Politeknik

fd

Negeri Sriwijaya : Palembang.


Tony Bird. Kimia Fisika untuk Universitas, P.T.Gramedia, edisi I

fe

halaman 90-92.
N.Glinka. General Chemistry, Peace Publisher Moscow, hal 400-

ff
fg

407.
Anonim, www.scribd.com
Anonim,
https://yulia4ict.wordpress.com/kimia/isoterm-adsorbsikarbonaktif/

fh
fi
fj
fk
fl
fm
fn
fo
fp
fq
fr
fs XI. GAMBAR ALAT
ft

fu

fv

fw

fx

fy

fz

ga
gb