Anda di halaman 1dari 33

KOMPAS INSIDE: February 2007

1 of 33

Anggota Koalisi
Aliansi Jurnalis Independen
(AJI), Aliansi Buruh
Menggugat/ABM (KASBI, SBSI
1992, SPOI, SBTPI, FNPBI,
PPMI, PPMI 98, SBMSK,
FSBMI, FSBI, SBMI, SPMI,
FSPEK, SP PAR REF, FKBL
Lampung, SSPA NTB, KB FAN
Solo, AJI Jakarta, SBJ, FKSBT,
FPBC, FBS Surabaya, PC KEP
SPSI Karawang,
GASPERMINDO, ALBUM
Magelang, FKB Andalas),
YLBHI, LBH Pers, LBH Jakarta,
Aliansi Nasional Bhineka
Tunggal Ika (ANBTI), PBHI,
TURC, LBH Pendidikan,
Federasi Serikat Pekerja
Mandiri (FSPM), Front
Perjuangan Pemuda Indonesia
(FPPI), Serikat Guru
Tangerang, Serikat Guru
Garut, Federasi Guru
Independen Indonesia, ICW,
LBH APIK, IKOHI, KONTRAS,
PPR, Somasi-Unas, SPR, Arus
Pelangi, GMS, LPM Kabar,
Lembaga Kebudayaan
Nasional (LKN), Praksis,
Forum Pers Mahasiswa
Jabodetabek (FPMJ), FMKJ,
Perhimpunan Rakyat Pekerja
(PRP), FSPI, Serikat
Mahasiswa Indonesia (SMI),
Repdem Jakarta, SPN, OPSI,
SP LIATA, SPTN Blue Bird
Grup

Links
IFJ
CPJ
SEAPA

Media
Detik.com
Voice of Human Rights
Tempo Interaktif
Sinar Harapan
Suara Pembaruan
Hukum Online

http://kompasinside.blogspot.com/2007_02_01_archive.html

Tuesday, February 27, 2007

FNPBI Kecam 'Seruan Sebagian Wartawan


Kompas'
FRONT NASIONAL PERJUANGAN BURUH INDONESIA
(FNPBI)
Jl. Tebet Barat Raya IV No. 05 RT. 015 RW. 01,
Kel. Tebet Barat, Jakarta Selatan.
Telp./Fax. (021)-8305819. Email: ppfnpbi@gmail.com
--------------------------------------------------No : 002/Sta/03/07
Hal: Respon terhadap seruan sebagian wartawan
kompas
Lam: -

Salam perlawanan !!
Berkaitan dengan seruan sebagian wartawan kompas yang
secara tegas mendiskriditkan gerakan demokratik dalam
upayanya melawan tindakan anti serikat buruh yang di lakukan
oleh
pihak
management
kompas,
maka
kami
perlu
menyampaikan sikap sebagai berikut :
1.Bahwa tindakan management kompas yang mendemosi
kawan Bambang Wisudo sebagai sekretaris serikat
pekerja perkumpulan karyawan kompas adalah tindakan
anti union yang sudah sepatutnya di berikan ganjaran
pidana sesuai dengan UU 13/2003.
2.Bahwa dalam upaya untuk menekan pihak management
kompas dan juga pemerintah, kawan-kawan kemudian
membangun komite anti pemberangusan serikat dan melakukan
serangkaian acara seperti aksi massa, aksi pemasangan
spanduk, aksi delegasi, pengiriman statement dan lain
sebagainya adalah hal yang wajar dan memang sudah
seharusnya di lakukan dan bahkan harus di tingkatkan disaat
pemerintah dengan mudah menjadi alat bagi para pengusaha.
3.Bahwa munculnya seruan wartawan kompas yang justru
membela posisi management haruslah dicurigai sebagai
bagian
dari
upaya-upaya
management
untuk
memecah-belah kekuatan para pekerja kompas dan juga
kekuatan gerakan demokratik secara keseluruhan.
4.Oleh karena itu, PP FNPBI dengan tegas menyatakan
mengecam tindakan sebagian wartawan kompas yang
dengan
mudah
mau
dimanfaatkan
oleh
pihak
management
untuk
menyerang
perjuangan
kawwan-kawan komite anti pemberangusan serikat.
Sudah saatnya kaum buruh bersatu dengan kaum buruh,
bersatu dengan kaum tertindas lainnya, bukan bersatu
dengan kaum yang menjadi penindasnya.
5.PP FNPBI juga menyerukan kepada seluruh gerakan
demokratik agar semakin menyolidkan diri dalam perjuangan
menegakkan kebebasan berserikat sebagai salah satu syarat
bagi penguatan perjuangan rakyat ke depan, dan juga
menyolidkan diri dalam perjuangan melawan neoliberalisme dan
boneka-bonekanya.

Previous Post
SuratPencabutanPHK
Bambang Wisudo
JO Cabut Surat
Pemecatan Wisudo
Surat Protes Buat KPK
KOMPAS (sebar)
BOHONG!
Stop Press Situs
Kompas Kena Hack
MA Mulai Proses Kasasi
Wisudo
Diakui, Tim Legal
Kompas Minta Bantuan
Hakim PHI
Pemred Kompas
Suryopratomo
Mendadak Dicopot
Film Perjuangan
Wisudo Diluncurkan di
Youtube
Surga Bernama
Kompas

Archives
December 2006
January 2007
February 2007
March 2007
April 2007
May 2007
June 2007
July 2007
September 2007
October 2007
November 2007
December 2007
January 2008
February 2008
June 2008
July 2008
December 2008

Powered by

Hit Counter

Jakarta, 25 Februari 2007

4/2/2015 7:13 PM

KOMPAS INSIDE: February 2007

2 of 33

http://kompasinside.blogspot.com/2007_02_01_archive.html

Pengurus Pusat Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia


(PP-FNPBI)

Ketua
Dominggus Octavianus
Pjs Sekjend
Budi Wardoyo

------------------------------------------------------------Badan Hukum berdasarkan SK Menteri Tenaga Kerja dan


Transmigrasi
No. Kep. 631/M/BW/2000
Nomor Pendaftaran 190/FSP-FNPBI/DFT/BW/IX/2000
posted by KOMPAS @ 8:57 PM

0 comments

Ditolak Kompas, Massa Demo TB Gramedia


Yogya
Yogyakarta, Kompas Inside. Aksi protes pemberangusan
aktivis serikat pekerja Kompas, Selasa (27/2/2007), berbuntut
panjang. Karena tak diterima baik-baik di Kantor Kompas Biro
Yogyakarta, massa memutuskan mendemo Toko Buku
Gramedia.
Penolakan Kompas Biro Yogyakarta menerima perwakilan
demonstran tidaklah mengherankan. Kabarnya, setiap kantor
biro Kompas daerah telah diperintahkan untuk menolak
menerima atau berdialog dengan perwakilan demonstran.
Instruksi ini diberikan pimpinan Kompas ke semua kepala biro
daerah pada saat mereka dikumpulkan di Jakarta belum lama
ini.
Sebelum bergerak ke Toko Buku (TB) Gramedia, massa juga
sempat menutup jalan di depan Kantor Kompas Biro Yogyakarta.
Akibatnya, sempat terjadi kemacetan sepanjang satu kilometer.
Setelah melakukan orasi dan mengecam manajemen Kompas
yang secara sistematis memberangus serikat pekerja, massa
lalu melakukan long march ke Toko Buku Gramedia yang
jaraknya tak sampai 300 meter dari Kantor Kompas Biro
Yogyakarta.
Dalam aksi itu, peserta aksi juga mengecam aksi kekerasan dan
pemecatan tanpa prosedur terhadap Sekretaris Perkumpulan
Karyawan Kompas Bambang Wisudo. Massa juga mengecam
'Seruan Wartawan Kompas' karena hal itu merupakan upaya
mempermulus pemberangusan serikat pekerja di harian terbesar
itu.
Terbesar
TB Gramedia terletak di Jalan Sudirman. TB Gramedia
merupakan toko buku terbesar di kota itu. Tak pelak aksi massa
tersebut segera mengundang perhatian karyawan toko dan
pembeli buku.
Aksi tersebut akhirnya berhasil mendesak pimpinan TB
Gramedia Yogyakarta, Cornelius Gunarto turun menemui
pengunjuk rasa.
Beberapa anggota delegasi, seperti Ketua AJI Yogyakarta
Bambang Mbk, Sekretaris Federasi Serikat Pekerja Mandiri
(FSPM) Odie Hudiyanto, akhirnya berdialog dengan pimpinan TB
Gramedia tersebut.
Dalam dialog itu, Gunarto mengaku secara jujur ke para

4/2/2015 7:13 PM

KOMPAS INSIDE: February 2007

3 of 33

http://kompasinside.blogspot.com/2007_02_01_archive.html

demonstran bahwa dia merasa terganggu dengan aksi tersebut.


Sebab, bukan TB Gramedia yang bermasalah. Ia pun berharap
agar pimpinan Kompas dapat menyelesaikan kasus Bambang
Wisudo secepatnya.
Seorang anggota delegasi juga menegaskan, persoalan ini akan
selesai bila surat pemecatan yang tidak sah itu dibatalkan dan
Bambang Wisudo dipekerjakan kembali. Bila tidak, maka aksi
massa akan terus mengguncang grup bisnis di bawah Kelompok
Kompas Gramedia. Termasuk juga TB Gramedia.
Akhirnya sekitar pukul 15.10 WIB, aksi solidaritas atas
pemberangusan serikat pekerja Kompas ini berakhir. Namun
massa berjanji, mereka akan terus menggelar demo bila
manajemen tetap berkeras melanjutkan aksi pemberangusan
dan meneruskan kebijakan pemecatan terhadap Bambang
Wisudo. (din/E2)
posted by KOMPAS @ 4:05 AM

0 comments

Monday, February 26, 2007

Kantor Kompas Biro Yogya Didemo Lagi


Yogyakarta, Kompas Inside. Untuk keempat kalinya sejak
tiga bulan terakhir, Kantor Kompas Biro Yogyakarta, Selasa
(27/2/207) siang ini, kembali didemo.
Massa yang menggelar demo di kantor Kompas Biro Yogya siang
ini terdiri dari beberapa elemen. Antara lain, Federasi Serikat
Pekerja Mandiri (FSPM), Aliansi Buruh Yogyakarta, AJI
Yogyakarta, dan Forum Pers Mahasiswa Yogyakarta.
Menurut laporan Sekretaris FSPM Odie Hudiyanto yang hadir
dalam aksi tersebut, sekitar 100 orang massa mulai bergerak
menuju kantor Kompas pada pukul 13.10 WIB.
Di antara massa yang bergerak, turut terlihat Bambang Mbk,
Ketua AJI Yogyakarta.
"Pada saat ini sebagian massa sudah masuk ke pagar harian
Kompas. Tapi sebagian lainnya masih tertahan," ujar Odie
melalui saluran telepon pukul 14.00 WIB.
Namun, tak seorang pun wartawan yang bersedia menemui.
Massa pun memutuskan untuk terus bertahan dan menggelar
aksi.
Peserta aksi membawa berbagai poster berisi kecaman atas
pemberangusan serikat pekerja di harian Kompas. Khususnya
peristiwa kekerasan dan pemecatan tanpa prosedur yang
menimpa Bambang Wisudo, Sekretaris Perkumpulan Karyawan
Kompas.
Hingga berita ini diturunkan, aksi masih terus berlangsung di
halaman kantor Kompas Biro Yogyakarta. (din/E1)
posted by KOMPAS @ 11:13 PM

0 comments

Imbuan ke JO Tentang Nilai-Nilai Kompas


sumber: http://satrioarismunandar6.blogspot.com
Saya mendapat e-mail dari Sri Yanuarti (Yanu), peneliti LIPI,
pengurus pusat AIPI (Asosiasi Ilmu Politik Indonesia), dan istri
dari wartawan Kompas Bambang Wisodo, via milis AIPI. Isinya
berkenaan dengan kasus pemecatan Bambang Wisudo oleh
manajemen Kompas, Desember 2006, terkait soal serikat
pekerja di Kompas.
Yanu adalah rekan saya di AIPI, sedangkan Wisudo adalah juga
rekan sesama pendiri AJI (Aliansi Jurnalis Independen), dan dulu
juga saya pernah sama-sama kerja di Kompas. Saya sangat
terkesan, bahwa menghadapi saat-saat sulit dan penuh tekanan,
Yanu, Wisudo dan keluarga tetap tenang dan tabah. Artinya,

4/2/2015 7:13 PM

KOMPAS INSIDE: February 2007

4 of 33

http://kompasinside.blogspot.com/2007_02_01_archive.html

perjuangan serikat pekerja ini bukan semata-mata urusan


Wisudo, tetapi sejak awal sudah disadari dan didukung penuh
oleh istri/keluarga. Tentu dengan berbagai risikonya.
Dalam kondisi ekonomi dan politik sekarang, di mana nuansa
pragmatisme dan oportunisme, kepentingan mau enak sendiri,
masih sangat kuat, saya merasa salut bahwa masih ada
orang-orang yang berjuang untuk idealismenya. Kalau Wisudo
mau hidup enak dan nyaman di Kompas, perusahaan media
yang sudah sangat mapan di Indonesia (koran terbesar dan
paling berpengaruh), sebetulnya bisa saja. Kompas adalah salah
satu dari sedikit media yang menyediakan pensiun buat
karyawannya.
Namun, Wisudo memilih jalan lain, dan kini dia menanggung
risiko perjuangannya. Yakni, dipecat oleh manajemen Kompas.
Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kemudian, dan tidak ingin
menduga-duga. Yang jelas, Wisudo dkk akan terus berjuang, di
dalam Kompas maupun di luar Kompas. Salah satu alternatifnya
tentu lewat jalur hukum (LBH).
Di sini saya menilai, tindakan represif terhadap aspirasi
karyawan yang sah, seperti dialami Wisudo, tidak akan
menghasilkan dampak yang baik bagi perusahaan.
Namun, yang jauh lebih merugikan Kompas sebetulnya
adalah masalah reputasi dan image, yang terkait dengan
visi dan misi Kompas, yang merupakan akar keberadaan
perusahaan yang didirikan PK Oyong (alm) dan Jakob
Oetama ini.
Bukankah Kompas adalah perusahaan media yang selama
ini (lihat tajuk rencana/editorialnya) sering mengangkat
isu-isu demokratisasi, keterbukaan, hak-hak asasi, dan
sebagainya? Bukankah Kompas menganut dan meyakini
nilai-nilai "humanisme transendental"? Apakah itu
sekadar gincu, dan bukan genuine values yang dianut
Kompas, mengingat secara internal ternyata nilai-nilai itu
masih dipertanyakan, karena tidak terimplementasi?
Jika demikian halnya, bagaimana Kompas sebagai institusi dan
bagian utama/tulang punggung KKG (Kelompok Kompas
Gramedia) akan melangkah memasuki abad baru dunia
informasi dan globalisasi, dengan segala dinamika perubahan,
tantangan, ancaman, jika tanpa dukungan akar nilai-nilai
mendasar, yang memberi makna pada keberadaannya?
Selama ini, perekat yang mempertahankan keutuhan KKG
adalah figur Pak Jakob Oetama (JO), sebagai generasi pendiri
yang memiliki wawasan kuat ke depan, nasionalisme, kharisma,
wibawa dan intelektualitas. Namun, dengan segala hormat atas
kekuatan manajerialnya, JO tidak akan memimpin KKG selamalamanya.
Lalu bagaimana KKG dan Kompas akan melangkah jika nanti
ditinggalkan JO, sementara core values yang menjadi landasan
berdirinya dan suksesnya lembaga Kompas, justru mengalami
erosi karena langkah-langkah "pragmatis-oportinistis" jangka
pendek? Bukan tidak mungkin, langkah-langkah semacam ini
akan diteruskan oleh para pimpinan Kompas/KKG pasca JO
nanti. Mereka adalah generasi baru, yang mungkin kurang
menghayati nilai-nilai awal yang ditanamkan generasi pendiri.
Mempertimbangkan hal itu, saya berharap, Pak Jakob dengan
segala kearifannya, sebagai figur yang menjadi panutan dan
dihormati di KKG dan Kompas, dapat ikut campur tangan
melakukan intervensi. Karena yang dipertaruhkan di sini BUKAN
cuma nasib Wisudo, Yanu dan keluarga, tetapi nasib dan
survivabilitas dari KKG, Kompas, dan nilai-nilai luhur (core
values) yang selama ini dianut, diyakini, dihayati, dan terbukti
telah membesarkan Kompas.
Selain itu, yang dipertaruhkan bahkan juga bukan nasib sekian
ribu karyawan Kompas dan KKG, tetapi jutaan stakeholders

4/2/2015 7:13 PM

KOMPAS INSIDE: February 2007

5 of 33

http://kompasinside.blogspot.com/2007_02_01_archive.html

yang berkaitan dengan keberadaan institusi media besar ini,


termasuk para pembaca Kompas di seluruh pelosok Indonesia.
Peran media sangat penting untuk kemajuan negeri ini. Peran
vital media seperti Kompas masih amat dibutuhkan, untuk ikut
menggalang dukungan dari jutaan rakyat Indonesia -- yakni,
mereka yang masih punya idealisme dan niat baik-- untuk
bersama-sama menyelamatkan Indonesia.
Sekali lagi, saya berharap, agar Pak Jakob, yang saya anggap
sebagai salah satu guru saya dalam ilmu jurnalistik dan
wawasan kewartawanan, bersedia untuk turun tangan langsung,
demi kebaikan dan kelangsungan institusi KKG dan Kompas,
beserta nilai-nilai luhur yang selama ini memberi makna pada
keberadannya.
Wasalam,

Satrio Arismunandar
(mantan jurnalis Kompas, yang dibesarkan di Kompas pada
1988-1995, dan selama itu banyak belajar tentang ilmu
jurnalistik dan kearifan dari guru-guru saya di Kompas)

_____oO0_____
(Dari milis AIPI, ditulis oleh Sri Yanuarti, istri Bambang Wisudo:)
Saya ucapkan terimakasih atas dukungan yang diberikan Mas
Rio terhadap saya dan keluarga. Perlakuan yang diberikan
jajaran manajemen Kompas terhadap suami saya, adalah satu
resiko yang sudah kami hitung sejak lama.
Perjuangan suami saya Wis (Bambang Wisudo) tentang
pemilikan saham karyawan bukanlah perjuangan yang
dilakukan dalam hitungan hari. Delapan tahun sudah, ia
dan teman-temannya di Perkumpulan karyawan Kompas
melakukan perjuangan untuk menuntut pengembalian
saham 20% yang diambil oleh perusahaan tanpa
sepengetahuan karyawan.
Selama itu pula, kami sudah terbiasa dengan berbagai kebijakan
dari management Kompas untuk
melakukan
berbagai
penjegalan atas apa yang diperjuangkan suami saya dan kawankawan. Berkaca dari kasus Albert Kuhon, Mas Rio dan Mas
Yudha, saya sadar betul bahwa pemecatan terhadap suami saya
bukan tidak mungkin akan terjadi.
Namun perlakuan dan tindakan para jajaran pimpinan kompas
yang menggunakan cara-cara kekerasan yang brutal dan primitif
adalah jauh dari bayangan kami. Sebagai salah satu pilar
demokrasi sekaligus institusi yang menyuarakan serta
menggembar-gemborkan persoalan HAM dan Demokrasi,
maka tidak sepantasnya Kompas melakukan tindakan
brutal dan primitif (dengan melakukan penyeretan dan
penyekapan) dalam proses pemutusan hubungan kerja.
Bahkan sejauh yang saya tahu, pemecatan terhadap
buruh linting di pabrik rokok pun masih dilakukan dengan
cara-cara yang sangat sopan. Sungguh suatu hal yang
sangat ironis bagi Kompas yang bangga dengan logonya
"Menyuarakan Amanat Hati Nurani Rakyat", perlakuan dan
tindakan terhadap karyawannya justru jauh dari apa yang
selama ini ditulis besar-besar di bawah kata KOMPAS.
Jika saya sedih terhadap kasus suami saya, itu bukanlah karena
suami saya dipecat dari Kompas tapi justru karena gambaran
Kompas sebagai media tempat suami saya berkarya selama ini
adalah Kompas telah mengkhianati nilai-nilainya sendiri.
Kompas yang diimpikan oleh suami saya, yang pernah menjadi
cita-cita suami saya, ternyata tidak lebih dan tidak kurang
dibandingkan pabrik sandal jepit.

4/2/2015 7:13 PM

KOMPAS INSIDE: February 2007

6 of 33

http://kompasinside.blogspot.com/2007_02_01_archive.html

Saya justru bangga bahwa karena ditengah gemerlapnya


fasilitas materi yang bisa dinikmati wartawan Kompas, suami
saya masih kukuh untuk menyatakan kebenaran, untuk
menggugat hak-hak karyawan yang telah dirampas oleh
perusahaan. Dengan itu pula kami dapat tetap melangkah
dengan kepala tegak dan hati ringan, saat kami meninggalkan
kantor Kompas malam itu, karena Kompas tidak lebih dan tidak
kurang dibandingkan pabrik sandal jepit.
Salam
Yanu (Istri Bambang Wisudo)
posted by KOMPAS @ 12:16 AM

0 comments

Sunday, February 25, 2007

Tanggapan FPPI atas 'Seruan Wartawan


Kompas'
NO : 07/DJ-Pimnas-FPPI/07
Hal : Pernyataan Sikap

Kepada Yang Mulia


Wartawan-wartawan Harian Umum KOMPAS
yang Menandatangani "Seruan Wartawan Kompas"
di Palmerah Jakarta

Salam Demokrasi Kerakyatan,


Kami, Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI) adalah
Organisasi Pergerakan Pemuda yang berdiri sejak 1999. FPPI
mempunyai komitmen tinggi terhadap perjuangan demi
tegaknya nilai-nilai demokrasi, hak asasi manusia dan keadilan
sosial dalam semua sendi kehidupan di Indonesia. Demi
terwujudnya cita-cita perjuangan tersebut, FPPI menempatkan
diri pada posisi independen (non-partisan) dan tidak terkait
secara struktural serta tergantung secara finansial dengan
organisasi donor/perusahaan/partai politik apapun.
Pernyataan ratusan wartawan Harian Umum Kompas, tertanggal
27 Januari 2006, dengan judul "Seruan Wartawan Kompas"
tentang kasus pemecatan sepihak Bambang Wisudo dari Harian
Umum Kompas dan aktifitas perjuangan/advokasi oleh Komite
Anti Pemberangusan Serikat Pekerja (KOMPAS). Dalam "Seruan
Wartawan Kompas" itu berisi TUDUHAN terhadap organisasiorganisasi yang tergabung di Komite Anti Pemberangusan
Serikat Pekerja (KOMPAS) sebagai organisasi-organisasi
PETUALANG. "Seruan Wartawan Kompas" juga MENUDUH bahwa
aksi-aksi demonstrasi yang dilakukan oleh organisasi-organisasi
dalam komite sebagai kegiatan yang bertujuan untuk
MENDESKRIDITKAN,
MERONGRONG,
MEMUTAR-BALIKKAN
NILAI-NILAI KOMPAS. Terkait erat dengan "Seruan Wartawan
Kompas" tersebut, Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI),
sebagai salah satu organisasi yang aktif dan tergabung dalam
komite, berpendapat:
1. Aksi demonstrasi adalah kegiatan yang legal, diatur dan
dilindungi oleh Undang-undang. Untuk itulah, TUDUHAN ratusan
wartawan Harian Umum Kompas bahwa aksi demonstrasi yang
dilakukan komite sebagai kegiatan yang anti-demokrasi
yang bertujuan untuk mendeskriditkan pihak Harian
Umum Kompas dalah TIDAK BERDASAR.
2. Tuduhan PETUALANGAN yang dialamatkan kepada organisasiorganisasi yang tergabung dalam Komite Anti Pemberangusan
Serikat Pekerja (KOMPAS) adalah cerminan dari sikap
kekanak-kanakan
dan
anti-kebebasan
berpendapat/berserikat.
Tuduhan
PETUALANGAN
juga
menunjukkan bahwa wartawan Kompas lebih memihak
kepentingan perusahaan (bertindak laiknya corporate warriors).
Sangat disayangkan bahwa wartawan Kompas menanggalkan
nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan serta lebih mementingkan

4/2/2015 7:13 PM

KOMPAS INSIDE: February 2007

7 of 33

http://kompasinside.blogspot.com/2007_02_01_archive.html

kepentingan individu/kelompok di atas segala-galanya.


Atas dasar hal tersebut di atas, Front Perjuangan Pemuda
Indonesia (FPPI) menyatakan sikap:
1.MEMINTA KLARIFIKASI ATAS MAKSUD DAN TUJUAN
DARI "SERUAN WARTAWAN KOMPAS", TERUTAMA
TERKAIT
DENGAN
TUDUHAN
"PETUALANGAN".
KLARIFIKASI
KAMI
TUJUKAN
KEPADA
SEMUA
WARTAWAN
HARIAN
UMUM
KOMPAS
YANG
MENANDATANGANI "SERUAN WARTAWAN KOMPAS"
TERTANGGAL 27 JANUARI 2007.
2.MENGUTUK DAN MENYESALKAN TERBITNYA "SERUAN
WARTAWAN
KOMPAS"
TERTANGGAL
27
JANUARI
TERSEBUT.
3.MEMINTA UNTUK DITARIKNYA SERUAN WARTAWAN
KOMPAS TERTANGGAL 27 JANUARI TERSEBUT.
4.KAMI MEMINTA KEPADA SELURUH WARTAWAN HARIAN
UMUM KOMPAS YANG MENANDATANGANI "SERUAN
WARTAWAN
KOMPAS"
UNTUK
MENGAJUKAN
PERMOHONAN MAAF KEPADA SELURUH ORGANISASI
YANG
TERGABUNG
DALAM
KOMITE
ANTI-PEMBERANGUSAN SERIKAT PEKERJA (KOMPAS).
Demikian surat pernyataan
sebagaimana mustinya.

kami,

mohon

diperhatikan

"Mendidik Rakyat Dengan Pergerakan,


Mendidik Penguasa Dengan Perlawanan"
Jakarta, 22 Februari 2007
Atas Nama Pemuda Indonesia,

Aha Maftuchan
Departemen Jaringan Pimnas FPPI
posted by KOMPAS @ 11:13 PM

0 comments

Surat Kedua FSPM untuk Penggagas 'Seruan'


Jakarta, 24 Februari 2007
Kepada Yth,
Brother Bre Redana atau Don Sabdono
Wartawan Kompas
Di tempat
Perihal : Penegasan Protes dan Mohon Klarifikasi
Tembusan :
-Kapolda Metro Jaya, Bapak Irjen Pol Adang Firman
-Bapak Jacob Utama
-Bapak Asmara Nababan, Pimpinan Demos
-Bro Efix Mulyadi
-Sis Maria Hartiningsih
-Kawan Kawan AJI
-Seluruh Anggota FSPM
-Arsip
Dengan hormat,
Surat ini adalah penegasan atas permintaan klarifikasi dari
Brother Bre Redana yang bernama asli Don Sabdono dan Sister
Maria Hartiningsih atas surat dari kami tertanggal 12 Februari
2007.
Sangat disayangkan bahwa Brother Don Sabdono yang
sebelumnya kami anggap sosok pria jantan ternyata tidak bisa

4/2/2015 7:13 PM

KOMPAS INSIDE: February 2007

8 of 33

http://kompasinside.blogspot.com/2007_02_01_archive.html

memberikan klarifikasi.
Dengan tidak dijawabnya surat kami tersebut, dengan sangat
terpaksa kami akan "memeriahkan" Kantor Kompas dan semua
unit usaha yang masih dalam Group Kompas.
Dengan demikian, mulai Senin, 26 Februari 2007, kami akan
"Manggung" dihadapan Kompas.
Terima kasih Brother Don Sabdono, semoga keyakinan anda
bahwa 'Seruan Wartawan Kompas' yang anda gagas itu mampu
untuk membungkam nilainilai hakiki kebenaran dan kejujuran
yang masih dimiliki oleh sedikit manusia yang berhati bersih.
In Solidarity
Odie Hudiyanto
Sekretaris Umum Federasi Serikat Pekerja Mandiri
NB : Untuk mengingatkan, kami lampirkan surat kami yang
pertama
Jakarta, 12 Februari 2007
Kepada Yth,
Brother Bre Redana atau Don Sabdono
Wartawan Kompas
Di tempat
Perihal : Protes dan Mohon Klarifikasi
Tembusan :
-Kapolda Metro Jaya, Bapak Irjen Pol Adang Firman
- Bapak Jacob Utama
- Bapak Asmara Nababan, Pimpinan Demos
- Bro Efix Mulyadi
- Sis Maria Hartiningsih
- Kawan-kawan AJI
- Seluruh Anggota FSPM
- Arsip
Dengan hormat,
Inilah kali pertama dalam sejarah Federasi Serikat Pekerja
Mandiri (FSPM) sejak berdiri pada tahun 2000 menerima julukan
PETUALANG ketika memberikan dukungan solidaritas kepada
sesama buruh.
FSPM kami rintis dengan keringat dan darah!!!.
Diantara Serikat buruh tingkat nasional mungkin kami adalah
satu-satunya Serikat buruh yang tidak seperakpun menerima
kucuran dana dari lembaga-lembaga funding di tingkat nasional
atau international. Tidak dari pemerintah, Jamsostek, partai
politik apalagi dari pengusaha. TERMASUK DARI MAS
BAMBANG WISUDO!
Kami tetap dapat hidup, berkembang dan melayani anggotaanggota kami secara baik hanya melalui uang iuran anggota.
16.753 anggota kami yang tersebar di Aceh, Sumatera Utara,
Jakarta, Jawa Barat, Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur dan
Bali sangat marah dan kecewa atas tindakan anda melakukan
sebuah gerakan yang berjudul Seruan Wartawan Kompas
dengan
menyebut
FSPM
adalah
petualang
yang
mendiskreditkan, merongrong dan memutar-balikan nilai-nilai
yang diemban kompas.
Ini adalah sebuah hinaan terhadap FSPM.
Anggota-anggota FSPM yang merupakan Pekerja sektor Hotel,
Restaurant, Catering, Plaza, Retail dan Pariwisata telah
menyatakan sikapnya untuk melakukan tindakan balasan atas

4/2/2015 7:13 PM

KOMPAS INSIDE: February 2007

9 of 33

http://kompasinside.blogspot.com/2007_02_01_archive.html

seruan yang anda gagas itu.


Wartawan tidak beda dengan Pekerja pariwisata. Tidak lebih dan
tidak kurang!
Kalau anda mengaku Pekerja kerah putih, kamipun demikian.
Namun kami tidak pernah menjilat dan menjual harga diri kami
sebagai manusia.
Wartawan dan Pekerja pariwisata adalah sama-sama buruh yang
mengharapkan upah bulanan dan perbaikan kesejahteraan.
Ketika ada Pekerja pariwisata ditindas semena-mena, kami
bergerak membelanya.
Ketika Pekerja Hotel Nikko yang dahulu bernama Hotel Presiden
di PHK sepihak, kami melakukan aksi unjuk rasa menentang
pemecatan tersebut.
Lalu ketika Hotel Sheraton Mustika Yogyakarta hancur akibat
gempa, dan buruhnya mau dirumahkan tanpa upah, kamipun
membelanya dan sampai hari ini para Pekerja tetap
mendapatkan upah.
Atau ketika tahun 2001 Hotel Regent Jakarta (sekarang
bernama Four Seasons) tutup 18 bulan akibat banjir, kami juga
dapat memastikan tidak ada yang di PHK dan tetap menerima
upah dan uang jasa layanan.
Terlalu banyak jika mau disebutkan, aksi solidaritas yang kami
lakukan. Apakah aksi tersebut membuat Pekerja yang tidak
terkena masalah melakukan aksi protes bahkan melakukan
kebulatan tekad dengan membuat seruan? Jawabannya tidak
sama sekali!!!
Brother Bre, kami meminta klarifikasi dan penjelasan dari anda
maksud PETUALANG!
Sound system murahan yang "bernyanyi" di Gedung Kompas itu
adalah hibah dari kawan-kawan buruh Hotel Shangri-La yang
pernah berjuang 2,5 tahun di trotoar depan Hotel Shangri-La
menuntut keadilan dan kebenaran. Demikian juga spanduk yang
terbentang itu adalah hasil 'urunan' kawankawan Pekerja
pariwisata.
Sejak berdiri tahun 2000, tidak ada seorangpun dari 16.753
anggota FSPM yang berani melacurkan idealismenya hanya
untuk kepentingan pribadi semata.
Oleh karenanya, kami menunggu jawaban anda secara resmi
paling lambat 3 hari sejak surat ini kami kirimkan.
Surat ini juga kami persembahkan untuk Sister Maria Hartingsih,
peraih Yap Thian Hin Award 2006 (tahun 2003, red). kami juga
menunggu jawaban anda. Alangkah Naifnya jika tokoh
perubahan yang mengaku pejuang kesetaraan perempuan juga
tidak
bisa
memberikan
opininya
secara
Jernih
atas
permasalahan Mas Bambang Wisudo.
Demikianlah surat dari kami, terima kasih kami haturkan

Odie Hudiyanto
Sekretaris Umum
posted by KOMPAS @ 10:47 PM

0 comments

Friday, February 23, 2007

Kompas Tak Hadiri Bipartit Mutasi


Jakarta, Kompas Inside. Manajemen Kompas beserta kuasa
hukumnya, hari ini tidak hadir dalam undangan bipartit
klarifikasi mengenai surat mutasi Bambang Wisudo. Padahal,

4/2/2015 7:13 PM

KOMPAS INSIDE: February 2007

10 of 33

http://kompasinside.blogspot.com/2007_02_01_archive.html

sudah dua kali kuasa hukum Kompas diundang untuk dimintai


klarifikasi.
Ketidakhadiran itu disampaikan oleh Sholeh Ali, Kordinator Tim
Litigasi Komite Anti Pemberangusan Serikat Pekerja (KOMPAS),
Jumat (23/2/2007).
"Sebagai itikad baik, kami sudah dua kali mengundang
manajemen Kompas untuk meminta klarifikasi atas surat mutasi
yang diterima Bambang Wisudo. Sebab, persoalan pokok klien
kami bukan PHK, tetapi berawal dari surat mutasi," ujar Ali.
Menurut Ali, undangan pertama sudah dilayangkan tanggal 4
Februari lalu untuk bertemu tanggal 16 Februari 2006. Tapi saat
itu kuasa hukum Kompas menjawab tidak perlu lagi ada
pertemuan bipartit mengenai mutasi. Alasannya, mutasi
merupakan persoalan biasa.
Lalu dilayangkan surat undangan kedua untuk bertemu di kantor
LBH Pers, hari ini pukul 14.00 WIB. Namun setelah ditunggu
satu jam lebih, tidak ada seorang kuasa hukum yang datang.
Ketidakhadiran ini menunjukkan, tidak ada itikad baik dari
manajemen Kompas untuk menjelaskan maksud mutasi yang
kami tanyakan. Dan tidak menjelaskan, apakah mutasi ini ada
kaitannya dengan kegiatan Bambang Wisudo sebagai Sekretaris
Perkumpulan Karyawan Kompas, lanjut Ali.
Menurut Ali, tim litigasi Komite berpendapat bahwa persoalan
pokok pemberangusan serikat pekerja di harian Kompas berawal
dari mutasi. Sebab, Surat Keputusan (SK) No 269/Penpen
/SK/XI/2006 ini mengandung beberapa kejanggalan.
Kejanggalan pertama, mutasi keluar tak sampai dua bulan
setelah perundingan tentang saham antara pengurus serikat
pekerja dan manajemen Kompas yang penuh intrik dan
intimidasi, berakhir.
Dalam SK mutasi itu dua pengurus inti Perkumpulan Karyawan
Kompas, Syahnan Rangkuti sebagai Ketua dan Bambang Wisudo
sebagai Sekretaris dibuang ke daerah. Satu ke Padang dan satu
lagi ke Ambon.
Kejanggalan kedua, surat mutasi itu menegaskan mutasi
berlaku sejak 1 Desember 2006. Padahal masa kepengurusan
serikat pekerja Perkumpulan Karyawan Kompas berakhir bulan
Februari 2007, sebelum belakangan diperpanjang hingga bulan
Agustus 2007.
Ketika Bambang Wisudo menyatakan menolak mutasi dan
mewartakan sikapnya dengan cara membagikan surat
pribadinya ke Jakob Oetama pada karyawan Kompas, dia pun
dibekuk, diseret paksa, dan disandera selama dua jam oleh
satuan pengaman yang mengaku mendapat perintah pimpinan
Kompas. Setelah disandera, ia menerima surat pemecatan dari
Pemimpin Redaksi Suryopratomo.
Maka, jelas persoalan Bambang Wisudo berawal dari mutasi.
Inilah yang kami ingin klarifikasi, ujarnya.
Ketidakhadiran manajemen Kompas hari ini, ujar Ali,
menunjukkan bahwa indikasi pemberangusan serikat pekerja
Kompas memang semakin kuat.
Pasalnya, dalam UU No 21/2000 sudah ditegaskan, seorang
pengurus serikat pekerja dilarang untuk dihalang-halangi
aktivitasnya. Apalagi sampai dibekuk, diseret paksa sebelum
disandera oleh satpam karena melakukan aktivitasnya sebagai
pengurus serikat pekerja.
UU No 21/2000 juga menyatakan, aktivis pekerja juga tidak
boleh dimutasi. Apalagi bila mutasi itu dilakukan saat masa
kepengurusannya belum selesai.

4/2/2015 7:13 PM

KOMPAS INSIDE: February 2007

11 of 33

http://kompasinside.blogspot.com/2007_02_01_archive.html

UU 21/2000 juga melarang seorang aktivis pekerja dipecat.


Sedangkan sejak tangga 8 Desember 2006, praktis Bambang
Wisudo dipecat. Namanya dihapus dari boks redaksi, aksesnya
ke milis karyawan juga dicabut.
"Dengan ketiga indikasi ini, maka kami yakin telah terjadi
pemberangusan serikat pekerja di harian Kompas," tegas Ali.
(umr/E5)
posted by KOMPAS @ 12:33 AM

0 comments

Thursday, February 22, 2007

Sikap AJI atas Kasus Bambang Wisudo


Aliansi Jurnalis Independen
The Alliance of Independent Journalists
No : 036/AJI-SEK/Sikap/II/2007
Sikap AJI atas Kasus Bambang Wisudo
Perkembangan kasus pemutusan hubungan kerja terhadap
wartawan Harian Kompas, Bambang Wisudo, saat ini dalam
proses perundingan untuk mencapai win win solution. Kasus ini
sempat masuk ke Dinas Tenaga Kerja DKI Jakarta, namun
prosesnya dikembalikan kepada penyelesaian bipartit. Saat ini,
perundingan-perundingan masih dilakukan untuk mencapai titik
temu atas kasus tersebut.
Pada saat proses perundingan berjalan, terjadi sejumlah aksi
protes yang mendorong penyelesaian kasus secara bijaksana. Di
dalam Harian Kompas juga terjadi dinamika serupa. Ada yang
mendukung perjuangan Wisudo meski dengan diam, tapi ada
juga yang terang-terangan menentangnya. Lalu, lahirlah
"Seruan Wartawan Kompas" , yang salah satu isinya
menyebut ada pihak yang menjadi petualang dalam kasus ini.
Adanya pernyataan sikap seperti tertuang dalam seruan itu
merupakan reaksi biasa dalam suasana sengketa. AJI
menilainya sebagai ekspresi dari sikap seseorang atau
sekelompok orang atas kasus ini. Sebagai organisasi profesi
yang punya kepedulian pada masalah kesejahteraan pekerja
pers, AJI memiliki pandangan yang berpijak pada sejarah dan
semangat Deklarasi Sirnagalih, 7 Agustus 1994. AJI mempunyai
sejarah perlawanan panjang terhadap berbagai bentuk
kesewenang-wenangan terhadap pers.
Dalam kasus Bambang Wisudo, AJI menilai ini tidak
semata soal PHK. Ada sikap anti serikat pekerja dalam
kasus tersebut. Jika kita runut kasusnya, maka kita bisa
melihat bahwa awal dari kasus ini adalah perjuangan
Perkumpulan
Karyawan
Kompas
(PKK)
untuk
memperjuangkan kepemilikan saham 20 persen.
Perjuangan panjang itu akhirnya memang selesai setelah
melalui
perdebatan
dan
ketegangan
cukup
lama.
Kesepakatannya, akan ada profit sharing. Mengingat ketegangan
yang terjadi selama proses negosiasi, dalam kesepakatan yang
ditandatangani PKK dan manajemen Kompas itu juga ada
klausul untuk sama-sama menciptakan iklim yang kondusif.
Tapi yang terjadi kemudian adalah mutasi terhadap sejumlah
karyawan, termasuk dua pengurus Serikat Pekerja, yaitu Ketua
PKK Sahnan Rangkuti ke Padang, Sumatera Barat. Sedangkan
Sekretaris PKK Bambang Wisudo ke Ambon, Maluku. Wisudo
menyampaikan keberatannya atas kasus tersebut dengan
menempelkan poster di kantor. Inilah yang berujung pada
penyekapan dan PHK terhadap Wisudo, 8 Desember 2006.
Undang Undang Nomor 21 tahun 2000 tentang Serikat
Pekerja
jelas
memberikan
perlindungan
terhadap
pengurusnya dalam menjalankan aktifitas di tempatnya

4/2/2015 7:13 PM

KOMPAS INSIDE: February 2007

12 of 33

http://kompasinside.blogspot.com/2007_02_01_archive.html

bekerja. Termasuk dari kemungkinan mutasi. Seorang


pengurus serikat pekerja tidak bisa dimutasi apalagi di
PHK dengan alasan kedudukannya di Serikat Pekerja,
kecuali yang bersangkutan melakukan tindak pidana.
Dalam kasus ini, AJI tidak melihat Bambang Wisudo
melakukan tindakan pidana apapun.
Selain itu, proses PHK terhadap Bambang Wisudo juga tidak
lazim. Penandatangan PHK adalah Pemimpin Redaksi Kompas.
Proses PHK-nya juga tidak melalui prosedur seperti diatur
Undang Undang No 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan,
yaitu tanpa adanya surat peringatan pertama hingga ketiga.
Atas dasar uraian di atas, AJI berpendirian, kasus
pemutusan hubungan kerja sepihak oleh Pemimpin
Redaksi Harian Kompas Suryopratomo terhadap Bambang
Wisudo bukan semata masalah PHK. Melainkan juga soal
sikap anti serikat pekerja. Oleh karena itu, AJI
berkewajiban memberikan pembelaan terhadap Bambang
Wisudo sebagaimana AJI mendukung berdirinya Serikat
Pekerja yang sehat dan bermartabat di tiap kantor media.

Jakarta, 21 Februari 2007


Hormat kami,

Abdul Manan
Sekretaris Jenderal AJI
posted by KOMPAS @ 4:01 AM

0 comments

Disnaker Mulai Usut 'Union Busting' di


Kompas
Jakarta, Kompas Inside. Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) DKI
menyatakan sudah mulai menyelidiki pemberangusan serikat
pekerja di harian Kompas. Malah pagi tadi, manajemen Kompas
sudah dipanggil ke Disnaker untuk dimintai keterangan.
Demikian keterangan Wakil Kepala Disnaker DKI Soemanto saat
menerima puluhan anggota Komite Anti Pemberangusan Serikat
Pekerja (KOMPAS), Kamis (22/2/2007) siang ini.
Dalam pertemuan itu, Kepala Disnaker DKI Rusdi Muhtar juga
hadir. Begitu juga beberapa petinggi Disnaker DKI yang
membawahi
masalah
pengawasan
dan
perselisihan
ketenagakerjaan.
"Kami sudah dua kali bertemu manajemen Kompas. Pertama,
kami datang ke Kompas tanggal 20 Februari. Sedangkan yang
kedua, pimpinan Kompas pagi ini kami panggil ke sini," lapor
Soemanto ke Rusdi.
Karena itu, Rusdi Mukhtar meminta Komite bersabar, karena
Disnaker DKI tidak akan membekukan pengaduan tersebut.
Sebelumnya, sekitar pukul 13.30 WIB, puluhan anggota Komite
menggelar aksi di halaman Disnaker DKI ini. Nampak hadir
delegasi dari Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia
(FNPBI) Aliansi Buruh Menggugat (ABM), Kongres Aliasi Buruh
Seluruh Indonesia (KASBI), Federasi Serikat Pekerja Mandiri
(FSPM), Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI), LBH Pers,
ANBTI, Forum Pers Mahasiswa Jabodetabek (FPMJ), dan AJI
Jakarta.
Karena terjebak hujan, beberapa anggota Komite ada yang
datang terlambat.
Dalam orasinya, Yoyok dari FNPBI mengingatkan, masalah
pemberangusan serikat pekerja adalah sebuah skandal yang

4/2/2015 7:13 PM

KOMPAS INSIDE: February 2007

13 of 33

http://kompasinside.blogspot.com/2007_02_01_archive.html

terus terjadi. Meski Undang-Undang No 21/2000 sudah


menegaskan aktivis serikat pekerja dilindungi, tapi satu-persatu
aktivis serikat pekerja diberangus.
Tapi tak sampai sejam menggelar aksi, rombongan Komite
malah diterima oleh jajaran pejabat Disnaker DKI. Maka, sambil
membawa poster dan spanduk, anggota Komite langsung
memenuhi ruang rapat pimpinan di lantai II Gedung Disnaker
DKI.
Seorang satuan pengaman Kompas yang menyamar sebagai
wartawan dan mencoba memata-matai pertemuan itu dengan
handy cam, diminta dengan hormat untuk keluar oleh anggota
Komite.
Dalam pertemuan itu, Kordinator Non Litigasi Komite
Wirunantho Adhi menegaskan, kedatangan Komite punya dua
maksud.
Pertama, mempertanyakan sejauh mana tindak lanjut
pengaduan anti union yang sudah dilaporkan. Kedua, memberi
dukungan moral ke Disnaker DKI agar tidak ragu menegakkan
hukum.
Terlebih, sebelumnya sudah ada contoh. Di Jawa Barat ada
seorang manajemen sebuah pabrik berhasil dipenjara karena
terbukti memberangus serikat pekerja. (udn/E4)
posted by KOMPAS @ 2:43 AM

1 comments

Tuesday, February 20, 2007

Teror Warnai Perpanjangan Serikat Pekerja


Kompas
Jakarta, Kompas Inside. Perpanjangan kepengurusan serikat
pekerja Perkumpulan Karyawan Kompas (PKK) rupanya
mendapat tentangan keras dari manajemen harian Kompas.
Lewat para scab (buruh penghianat), manajemen melakukan
aksi teror ke para pengurus PKK guna memuluskan
pemberangusan serikat pekerja di harian terbesar Indonesia
tersebut.
Menurut sumber Kompas Inside, Rabu (20/2/2007), kertas
pengumuman perpanjangan kepengurusan serikat pekerja
Kompas yang ditempel di papan pengumuman di dekat meja
absen karyawan, segera saja menjadi ajang caci-maki. Aksi
corat-coret tersebut berisi kalimat-kalimat kasar dan bernada
intimidatif.
Bahkan, beberapa pengurus PKK juga menerima SMS-SMS kotor
bernada teror dari beberapa orang 'misterius.'
Aksi Disnaker
Sementara, Komite Anti Pemberangusan Serikat Pekerja
(KOMPAS), besok siang akan menggelar aksi di Kantor Disnaker
DKI,
Tugu
Tani,
Jakarta
Pusat.
Tujuannya
untuk
mempertanyakan tindak lanjut pengaduan Komite soal anti
union manajemen harian Kompas ke Kantor Disnaker DKI
beberapa waktu sebelumnya.
"Aksi akan digelar pada pukul 13.00 WIB. Kami akan meminta
pertanggungan jawab negara atas pemberangusan serikat
pekerja di harian Kompas," kata Wirunantho Adhi, Kordinator
Non Litigasi Komite.
Kali ini, kata Wirunantho, aksi yang digelar belum berskala
massif. Aksi ini baru diikuti beberapa orang perwakilan dari 38
organisasi yang tergabung dalam Komite.
Seperti pernah diberitakan, serikat pekerja Perkumpulan
Karyawan Kompas (PKK) akhirnya memutuskan memperpanjang
masa kepengurusan. Keputusan itu diambil secara aklamasi

4/2/2015 7:13 PM

KOMPAS INSIDE: February 2007

14 of 33

http://kompasinside.blogspot.com/2007_02_01_archive.html

dalam rapat pengurus PKK hari Selasa (6/2/2007) di Gedung


harian Kompas. Perpanjangan itu berlaku enam bulan sejak
kepengurusan PKK berakhir tanggal 28 Februari 2007. Dengan
demikian, kepengurusan PKK masih memakai formatur pengurus
lama sampai akhir Agustus 2007.
Sementara, Kepala Dinas Tenagakerja DKI Rusdi Mukhtar,
Kamis (1/2/2007) awal bulan ini, menyatakan akan membentuk
tim khusus untuk mengusut tindak anti-serikat pekerja (anti
union) yang dilakukan manajemen harian Kompas.
Menurut Rusdi, dalam pasal 4 ayat 2 (f), sudah jelas ditegaskan,
bahwa salah satu tugas pengurus serikat pekerja adalah:
memperjuangkan kepemilikan saham di perusahaan. Maka,
pengurus serikat pekerja tidak boleh dijatuhi sanksi. Seperti
dimutasi, apalagi dipecat. (umr/E4)
posted by KOMPAS @ 9:40 PM

0 comments

Monday, February 19, 2007

Seruan AJI Jakarta Soal 'Union Busting' di


Kompas
Seruan untuk semua anggota AJI Jakarta
Soal Pemberangusan Serikat Pekerja di Harian Kompas

Teman-teman,
Kasus yang dialami Bambang Wisudo bukanlah kasus
pribadi. Bukan kasus antara Bambang Wisudo melawan
Suryopratomo, ataupun melawan sekelompok jajaran elit (atau
yang mengelitkan diri) di Kompas. Betapapun banyaknya
alibi yang mengatakan ini bukanlah pemberangusan
serikat pekerja, jelas di depan mata kita, tindakantindakan yang dilakukan sangat bernuansa anti-serikat
pekerja. Ini adalah tindakan union busting. Tindakan
kriminal yang (umumnya) dilakukan manajemen untuk
menekan kekuatan pekerja.
Teman-teman,
Aktor union busting bukanlah manajemen sendiri. Elemenelemen serikat pekerja dan individu pekerja sering menjadi
aktor yang lebih efektif, menjadi rekan kolaborasi manajemen
dalam menekan pekerja. Tak jarang, manajemen sengaja
membangun pertentangan horisontal antara pekerja. Mereka
memanfaatkan persaingan karir, menjanjikan kesempatan dan
fasilitas bagi yang mau berkolaborasi, seraya menekan yang
kritis untuk menimbulkan efek trauma bagi mayoritas karyawan.
"Politik belah bambu" -- yang satu diinjak, satunya diangkat-selalu diterapkan. Elemen-elemen pekerja yang kritis diinjak,
elemen-elemen kolaborator diangkat. Maka, terjadilah konflik
horisontal sesama pekerja.
Jika ini terjadi, maka manajemen akan tepuk tangan. Karena,
kekuatan pekerja sudah tidak solid, sudah bisa dilemahkan.
Solidaritas diganti dengan rivalitas. Maka, manajemen tak perlu
mengotori tangannya untuk melemahkan serikat pekerja, tapi
para pekerja sudah berkelahi sendiri.
Teman-teman,
AJI adalah organisasi profesi yang berwatak serikat
pekerja. Visi ini sudah kita sepakati. Visi ini tertulis dalam
Anggaran Dasar kita.
Sebagai organisasi yang berkarakter serikat pekerja, maka kita
harus membela anggota kita, jika sedang mengalami persoalan
ketenagakerjaan. Siapapun itu. Apakah itu seorang individu
yang nyeleneh, atau bahkan seorang individu yang bejat
sekalipun. Selama ia adalah seorang pekerja, dan hak-hak

4/2/2015 7:13 PM

KOMPAS INSIDE: February 2007

15 of 33

http://kompasinside.blogspot.com/2007_02_01_archive.html

normatifnya dilanggar, kita harus membelanya.


Pembelaan AJI terhadap Bambang Wisudo adalah
konsekuensi dari visi ini. Bambang Wisudo bukan saja
anggota AJI, tapi pendiri AJI. Jika orang sekaliber Bambang
Wisudo saja dapat dirampas hak-haknya dengan begitu saja,
apalagi wartawan lainnya.
Selama ini, pengurus AJI Jakarta memiliki sikap tegas: harus
membela Bambang Wisudo. kalau jurnalis yang bukan anggota
AJI kita bela, apalagi Bambang Wisudo.
Teman-teman,
Kita tahu bahwa sebagai jurnalis beban kerja kita luar biasa.
Sangatlah sulit untuk meluangkan waktu hadir dalam aksi-aksi
pembelaan Bambang Wisudo. Tapi saya percaya, teman-teman
semua berada di belakang barisan pembelaan Bambang Wisudo.
Tapi sungguh amat disayangkan, ada satu atau dua
anggota AJI Jakarta yang tega menyerang dari belakang
barisan. Teman tersebut begitu gencarnya mengalihkan
isu serikat pekerja dengan intrik-intrik personal terhadap
Bambang Wisudo. Sungguh, sikap seperti ini sangat
bertentangan dengan moral solidaritas. Bahkan sikap
seperti ini sudah bertentangan dengan visi AJI sebagai
organisasi profesi yang berkarakter serikat pekerja.
Untung, sampai detik ini barisan AJI Jakarta tetap solid.
Memang, tidak banyak anggota yang punya waktu untuk
menyempatkan diri menghadiri aksi-aksi solidaritas. Tapi, saya
yakin, jika ada waktu luang, teman-teman tersebut akan
menghadiri. Setidak-tidaknya, saya tetap berharap agar
teman-teman meluangkan waktu di lain hari.
Teman-teman,
Saya ingatkan, sebagai anggota organisasi yang berkarakter
serikat pekerja, kita harus terus menguatkan solidaritas. Saya
tahu, teman-teman bukan orang bodoh yang bisa dipengaruhi
siapapun. Teman-teman bisa menimbang sendiri mana yang
benar dan mana yang salah. Namun satu hal yang perlu saya
sampaikan: sangatlah tidak bermoral, jika ada anggota
organisasi yang berkarakter serikat pekerja mengamini
perampasan hak-hak sesama pekerja. Lebih-lebih, ia
mengamini dengan mengatasnamakan karyawan yang
lain, padahal isinya selalu bernuansa intrik personal.
Salam solidaritas,
Margiyono,
Sekretaris AJI Jakarta
posted by KOMPAS @ 9:42 PM

0 comments

Sunday, February 18, 2007

Surat Terbuka Bambang Wisudo Kepada


Kawan (II)
Kawan-kawan AJI dan Komite,

Jumat 16 Februari 2007, jam 17.30 saya bertemu dengan


Pak Amidhan, subkomisioner bidang mediasi Komnas
HAM. Ia memanggil saya untuk mendengar hasil
pertemuannya dengan Pemimpin Umum Kompas Bp.
Jakob Oetma di Palmerah Selatan, Kamis 15 Februari
2007. Menurut Pak Amidhan, Pak Jakob didampingi oleh
Suryopratomo (Pemred), Agung Adiprasetyo (Wakil Pemimpin
Umum), dan Bambang Sukartiono (GM Sumber Daya Manusia).
Pertemuan itu berlangsung dua jam, antara jam 09.45 sampai
11.45. Pak Amidhan tidak didampingi oleh staf Komnas karena
pertemuan tersebut merupakan pertemuan informal.

4/2/2015 7:13 PM

KOMPAS INSIDE: February 2007

16 of 33

http://kompasinside.blogspot.com/2007_02_01_archive.html

Dari cerita yang saya tangkap dari Pak Amidhan, saya


berkesimpulan bahwa Pak Jakob masih berpihak dan
membela sepenuhnya pada tindakan-tindakan yang
dilakukan manajemen Kompas, termasuk kekerasan dan
penyanderaan yang saya alami.
Menurut pengakuan Pak Jakob, tindakan satpam menggotonggotong saya merupakan "happening art" dan tidak ada
penyanderaan. Mutasi terhadap diri saya tidak terkait dengan
balas dendam dalam proses negosiasi penyelesaian saham
kolektif karyawan tetapi merupakan mutasi biasa yang dilakukan
terhadap 44 karyawan redaksi lainnya. Bahwa saya pernah
menolak mutasi/promosi sebagai kepala biro Medan. Bahwa
sebenarnya usulan saya untuk ke Garut, Jawa Barat,
sebenarnya telah diterima, tetapi saya tiba-tiba mengatakan
bahwa setelah disetujui saya minta penugasan itu hanya dalam
waktu tiga bulan. Pak Jakob juga mengatakan bahwa union di
Kompas berbeda dengan union-union lainnya. Union di Kompas
merupakan wadah komunikasi.
Pak Amidhan juga menceritakan pada saya, ia mengajukan
empat opsi. Opsi pertama adalah saya dipekerjakan kembali
dalam posisi semula sebagai wartawan Kompas. Opsi kedua,
saya dipekerjakan kembali dalam posisi semula tetapi ada
proses cooling down antara 1 bulan sampai 2 tahun.
Opsi pertama dan kedua ditolak. Kata Pak Jakob, saya sudah
membakar rumah, sudah memasang spanduk yang menjelekjelekkan Suryopratomo. Opsi ketiga, Pak Amidhan mengusulkan
agar saya dipindah tetapi jangan jauh-jauh. Opsi itu juga
ditolak.
Karena tiga opsi itu ditolak maka muncullah opsi keempat.
Saya diberhentikan secara terhormat, diberi pesangon,
dan dibantu biaya untuk sekolah S2. Pak Amidhan
kemudian mencoba meyakinkan saya untuk menerima
opsi keempat.
Kepada Pak Amidhan, saya mengatakan bahwa tidak mungkin
saya menerima opsi keempat. Jelas tidak mungkin
Kompas
memberhentikan
saya
secara
terhormat.
Jelas-jelas saya telah diberhentikan secara sepihak dan
secara tidak hormat. Bahkan saya telah diperlakukan
secara biadab.
Sebelum
saya
menerima
surat
pemberhentian
yang
ditandantangani oleh Suryopratomo sebagai pemimpin redaksi,
ketika pemberhentian saya masih desas-desus, 8
Desember 2006 pagi saya sudah tidak bisa membuka
akses e-mail saya wis@kompas.com, tidak bisa membuka milis
karyawan forumkompas@yahoogroups.com, bahkan tidak bisa
membuka akses komputer saya. Semua telah diputus pagi itu
juga. Sore hari saya diperlakukan seperti binatang,
sebelum menerima surat pemberhentian sepihak. Besok
paginya, nama saya sudah dicopot dari boks redaksi. Saya
tidak diperbolehkan masuk ke halaman parkir sekalipun,
padahal masyarakat umum bisa mengakses sampai ruang tamu
di lobi, bahkan di lantai tiga dan empat sekalipun.
Sejak hari itu juga sampai hari ini saya tidak bisa melihat lagi
tulisan-tulisan yang pernah saya tulis sendiri. Tindakan-tindakan
biadab ini, kata saya pada Pak Amidhan, jelas tidak bisa saya
terima. Orang lain yang diperlakukan dengan cara-cara biadab
pun, saya berteriak-teriak. Apalagi ini menyangkut diri saya
sendiri. Saya mengatakan, ini persoalan prinsipil sehingga
saya tidak pernah akan menerima cara penyelesaian
dengan uang. Bila saya mengajukan tawaran cooling down
dengan bersekolah selama satu bulan sampai dua bulan, saya
bukannya tergila-gila untuk bersekolah. Saya tidak perlu
bantuan finansial untuk sekolah karena banyak yang akan
membantu saya atau saya mampu mengusahakannya sendiri.

4/2/2015 7:13 PM

KOMPAS INSIDE: February 2007

17 of 33

http://kompasinside.blogspot.com/2007_02_01_archive.html

Saya mengatakan, pemahaman Pak Jakob atau menajemen


Kompas tentang union tidak bisa mengalahkan Undang-Undang.
Kompas, kata saya pada Pak Amidhan, bukan sebuah lembaga
suci yang bebas mengklaim nilai-nilainya lebih tinggi dari
nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat. Kompas tidak hidup
dalam ruang kosong tetapi dalam frame politik dan hukum
Indonesia. Hak union, serikat pekerja sebagaimana diatur UU
tahun 2001 sangat jelas. Ia tidak hanya jembatan komunikasi
tetapi juga punya hak untuk collective bargaining, punya hak
untuk mogok, punya hak untuk memperjuangkan saham
karyawan. Membagikan selebaran, merupakan sebuah cara yang
dilakukan oleh union di mana-mana.
Bukankah Kompas tiap hari juga membagikan 500.000
selebaran setiap hari? Kalau kita marah dengan isi selebaran,
apakah kita lantas harus mempermalukan penulis berita dengan
melakukan kekerasan dan merampas kemerdekaan mereka?
Saya mengatakan bahwa pemimpin Kompas harus menyadari
perubahan-perubahan ini dan harus belajar dari kasus ini.
Kepada Pak Amidhan, saya mengatakan bahwa saya lebih
cenderung agar Komnas HAM memfokuskan pada fakta yang
mengarah pada pelanggaran HAM, termasuk menyelidiki kasus
kekerasan dan penyanderaan yang saya alami.
Saya mengatakan, bantahan yang dilakukan para pemimpin
Kompas, termasuk Pak Jakob sangat tidak beralasan. Setelah
kekerasan itu terjadi, Suryopratomo memanggil semua
karyawan. Komandan dan Wakil Komandan satpam diminta
menceritakan bantahan telah terjadi kekerasan. Tanpa ada chek
and recheck, yang standar dilakukan oleh seorang wartawan,
pengakuan versi satpam itu diterima seratus persen dan
disebarluaskan sebagai kebenaran. Sekarang sebagian besar
wartawan Kompas menceritakan versi sepihak itu.
Karena posisi saya telah jelas, Pak Amidhan menjanjikan akan
menindaklanjuti dengan prosedur formal Komnas HAM. Minggu
ini Komnas akan menyurati manajemen Kompas, menunggu
balasannya, dan kemudian menganalisa atau melakukan
penyelidikan. Saya berharap Komnas HAM serius menangani
kasus ini supaya kasus ini tidak menjadi preseden buruk bagi
aktivis serikat pekerja di Indonesia.
Dari pertemuan saya dengan Pak Amidhan, sudah lebih jelas
bagaimana posisi manajemen Kompas sampai saat ini. Setelah
lebih dua bulan kasus saya, manajemen Kompas masih belum
mau mengakui kekeliruan-kekeliruan yang telah dilakukan.
Manajemen Kompas justru mau menutup-nutupi perbuatan
biadab dan tindakan kriminal yang terjadi. Akan tetapi saya
yakin, sepandai-pandainya orang menyimpan bangkai, baunya
akan menyebar juga. Ada aib-aib yang selama ini ditutup-tutupi,
pada gilirannya nanti akan terbongkar satu persatu. Kalau bukan
saya yang membongkar, pasti ada yang akan membongkar.
Sejak saya pulang dari Hongkong Selasa (13/2), saya
menerima sms-sms bernada terror dari seorang karyawan
Kompas yang mengaku sebagai aktivis dari Malang
dengan nomor 08136726700.
Beberapa sms, yang biasanya datang pada malam hari, belum
saya baca karena langsung dihapus isteri saya. Saya tidak tahu
ia suruhan siapa. Tetapi apakah ini yang disebut cara-cara
humanisme Kompas?
Andaikata aksi-aksi dukungan terhadap saya, spanduk yang
dibuat FSPM disebut kampungan, itu masih dilakukan dalam
kerangka legal dan bisa dipertanggungjawabkan. Dulu ketika
saya mau dijatuhi sanksi merenung setahun, tanpa boleh
menulis berita, karena mendiskusikan kemungkinan mogok, Pak
Jakob pernah bercerita bahwa ia didatangi seorang karyawan
yang bersedia mati untuk membela Pak Jakob.

4/2/2015 7:13 PM

KOMPAS INSIDE: February 2007

18 of 33

http://kompasinside.blogspot.com/2007_02_01_archive.html

Saya perlu pembelaan dan dukungan dari kawan-kawan tanpa


ada yang perlu mati untuk saya. Saya perlu dukungan agar saya
setia pada prinsip, tidak tergiur dengan iming-iming uang dan
kemudahan dalam penyelesaian kasus saya. Ini penting agar
Kompas dan kawan-kawan yang ada di Kompas mau belajar dan
tidak terjerumus menjadi pembela buta terhadap imajinasi
institusinya.
Kita perlu membantu agar pemimpin dan kawan-kawan saya di
Kompas benar-benar menjadi humanis, menjadi pembela
kemanusiaan, menghayati pekerjaannya sebagai panggilan
bukan demi piring, dan tidak terjerumus menjadi kaum
fundamentalis humanisme-hipokrit.

Pamulang, 19 Februari 2007


P. Bambang Wisudo
posted by KOMPAS @ 10:35 PM

1 comments

Friday, February 16, 2007

Lagi, LBH Jakarta Protes 'Seruan'


No. : /SK/LBH/II/2007
Hal : Klarifikasi atas seruan wartawan Kompas

Kepada Yth.
Seluruh Penandatangan "Seruan Wartawan Kompas"
tertanggal 27 Januari 2007
Di Tempat

Dengan Hormat,

Dilahirkan tahun 1970 dan aktif beroperasi pada tanggal 1 April


1971, LBH Jakarta-organisasi ini merupakan cikal bakal YLBHIsampai saat ini tetap menempatkan mottonya "Bantuan Hukum
Struktural" sebagai dasar pijak gerakan. LBH Jakarta terus
memegang teguh maksud dan tujuan pendiriannya memajukan
nilai-nilai Negara hukum serta hak asasi manusia. Sebagai
lembaga yang terbuka, egaliter, LBH Jakarta menempatkan
kemanusiaan sebagai nilai tertinggi melintasi perbedaan agama,
keturunan, suku, keyakinan, aliran politik maupun latar
belakang sosial dan budaya. Dengan dasar pijak itulah, LBH
Jakarta memberikan bantuan hukum secara cuma-cuma kepada
masyarakat tertindas baik secara ekonomi maupun yang
terenggut hak asasinya.

Sebagai institusi dengan alasan penjadian seperti di atas, maka


segenap pekerja bantuan hukum Jakarta merasa perlu harus
berusaha
demokratis,
konsisten,
bertanggung
jawab,
menjunjung tinggi pemuliaan manusia melalui penghormatan
terhadap hak asasi manusia. Tidak pernah berhenti mawas diri
baik dalam bergerak maupun berhening sejenak untuk berusaha
konsisten dengan nilai-nilai perjuangan LBH Jakarta. Demi
kesesuaian antara nilai-motto-cakrawala-tindakan perjuangan
keluar dengan iklim-budaya-sikap-tindakan di dalam.

Usaha untuk memiliki wajah serupa dalam perjuangan keluar


dan dinamika di dalam sangat penting bagi LBH Jakarta karena
dari sanalah integritas dan kepercayaan publik didapatkan.
Tarik-menarik, tawar-menawar, negosiasi antar nilai-nilai, dalam
sejarah LBH Jakarta yang panjang, adalah hal wajar dalam
setiap institusi. Ketegangan itu sesungguhnya muncul karena
dinamika relasi antar individu didalamnya. Tetapi sebagai

4/2/2015 7:13 PM

KOMPAS INSIDE: February 2007

19 of 33

http://kompasinside.blogspot.com/2007_02_01_archive.html

sebuah institusi, tidak ada ketegangan dengan dilatari asumsi


adanya dua entitas yang berbeda. Perusahaan/organisasi
dengan produk perusahaan/organisasi adalah selayaknya pena
dengan jenis tinta tulisan yang dihasilkan, yang satu
membentuk yang lain. Selama ini ketegangan seperti itu
diselesaikan dengan semangat kebersamaan, dengan asumsi
adanya pengutamaan niat baik untuk menghormati hak asasi
manusia dan hukum itu sendiri. Rahmat Tuhan kami maknai
sebagai adanya kesempatan menjalankan peran dalam
memuliakan kemanusiaan. Walau demikian tentu kami tidak
berani menjadikan-Nya tameng serta justifikasi atas suatu
tindakan individu-individu LBH Jakarta yang sepenuhnya
didasari
kesadaran
serta
pilihan-pilihan
keberpihakan.
Penggunaan Tuhan secara vulgar sebagai motivasi suatu sikap
dan tindakan, dalam pengalaman advokasi LBH Jakarta ternyata
sering kali berujung pada otoritarian dan kekerasan. Sebutan
officium nobile kepada advokat pun kerap menjadi ironi ditengah
komersialisasi berbagai profesi.

Latar belakang di atas perlu kami paparkan, karena kami


melihat pada waktu-waktu belakangan ini, di luar
Perkumpulan Karyawan Kompas (PKK)-organisasi pekerja
yang karenanya dilindungi UU 21/2000, telah muncul
suatu upaya untuk melemahkan perjuangan penegakan
hak-hak asasi manusia khususnya berkumpul, berserikat,
berpendapat melalui pemutarbalikkan fakta- intimidasi
psikologis yaitu 'Seruan Wartawan Kompas' tertanggal 27
Januari 2007. Dalam upaya tersebut, dibangun pula
stigma "petualangan" kepada pihak-pihak yang terlibat
dalam advokasi tindakan anti-union manajemen terhadap
aktivis-pengurus PKK. Petualangan juga dialamatkan
terhadap bentuk-bentuk advokasi itu sendiri. Sungguh
suatu
tuduhan
serius.
Tuduhan
tersebut
juga
disebarluaskan dan karenanya mempunyai konsekuensi
hukum yang lain disamping tuduhan itu sendiri.
Untuk mencegah tuduhan dan penyebarluasan tuduhan itu
berkembang lebih jauh sehingga merugikan berbagai pihak,
mencederai kebebasan berorganisasi dan berpendapat yang
sedang dibangun, melanggengkan kuasa modal di atas
penegakan hukum, maka dengan ini kami, LBH Jakarta, sebagai
salah satu kuasa dari Bambang Wisudo dan karenanya bagian
dari Koalisi Anti Pemberangusan Serikat Pekerja Kompas,
mengeluarkan pernyataan :

1. Dalam sejarah gerakan serikat buruh/pekerja, persatuan total


sering menemui batu sandungan. Gerakan mogok buruh
pelabuhan tahun 1921 untuk menuntut kenaikan upah berujung
pada perpecahan. SOBSI dilawan dengan SOKSI. Sejarah juga
mengajarkan pengkhianatan sering kali terjadi, entah disadari
atau tidak oleh yang bersangkutan. Tensi tinggi konflik
kepentingan antara serikat buruh/pekerja dengan manajemen
tak terelakkan untuk diikuti tuntutan atas posisi yang jelas dari
pihak-pihak. Baik dari pihak manajemen maupun serikat
buruh/pekerja. Pada titik ini pola penolakan serta pemisahan diri
dari yang dianggap sumber masalah lazim terjadi. Tentu tidak
semua sejarah gerakan serikat buruh berwajah retak. Akhirnya
semua adalah pilihan sadar, menjadi Karna kah atau Yudhistira.

2. Serikat Pekerja adalah perwujudan dari kebebasan


berorganisasi dan hak fundamental buruh/pekerja seperti yang
antara lain tertuang dalam Deklarasi Universal Hak Asasi
Manusia, Kovenan Hak Sipil Politik, Kovenan Hak Ekonomi Sosial
Budaya dan Konvensi-konvensi ILO. Dalam sejarahnya, gerakan
serikat buruh/pekerja telah menyumbang amat banyak bagi
pemuliaan kemanusiaan. Mulai dari perjuangan 8 jam kerja
(sebelumnya manusia harus bekerja 12 bahkan 15 jam kerja
setiap harinya) hingga sumbangan terhadap perjuangan
merebut kemerdekaan RI dari tangan penjajah. Karenanya,
serikat pekerja sejatinya bukanlah organisasi yang sifatnya lebih

4/2/2015 7:13 PM

KOMPAS INSIDE: February 2007

20 of 33

http://kompasinside.blogspot.com/2007_02_01_archive.html

untuk kepentingan di dalam (perusahaan) semata. Bila serikat


pekerja/buruh dimaknai seperti ini, organisasi ini berarti telah
dibajak oleh segelintir orang berpandangan sempit.

3. Kami meminta klarifikasi atas maksud yang terkandung


dalam "seruan wartawan Kompas" tersebut terutama
stigma dan tuduhan "petualangan". Klarifikasi kami
tujukan
kepada
seluruh
penandatangan
"seruan
wartawan
Kompas"
tertanggal
27
Januari
2007.
Klarifikasi ini juga termasuk kesadaran penuh akan
implikasi hukum yang menyertainya. Hal ini kami
perlukan mengingat pengalaman advokasi LBH Jakarta
menunjukkan sering kali kesadaran serta kehendak bebas
subyek hukum terkurangi oleh tekanan psikologis dari
pihak-pihak tertentu dengan memanfaatkan posisi
struktural demi terjadinya simponi pemecah ketimbang
permainan solo dari pihak tertentu.

Terakhir, kami mengimbau semua pihak berhati-hati, karena


dalam era globalisasi terjadi ekonomisasi di segala hal bahkan
nilai-nilai. Arus tak terbendung menyeret kita dalam tindakan
tidak otentik. Membuat suara hati semakin senyap bahkan
hilang.

Salam hormat dan solidaritas


pemuliaan kemanusiaan.

bagi

seluruh

perjuangan

Jakarta, 15 Februari 2007


LEMBAGA BANTUAN HUKUM JAKARTA

Asfinawati
Direktur

Tembusan:
1. Komite Anti Pemberangusan Serikat Pekerja Kompas
2. Arsip
posted by KOMPAS @ 8:33 PM

0 comments

Wednesday, February 14, 2007

Presiden IFJ Segera Lobi ILO


Hong Kong, Kompas Inside. Presiden International Federation
of Journalist (IFJ) Christopher Warren mengaku ikut prihatin
melihat perkembangan kasus pemberangusan serikat pekerja di
Harian Kompas.
Untuk itu, Presiden IFJ berjanji akan melobi Organisasi Buruh
Sedunia (ILO) untuk menggelar kasus ini.
Demikian keterangan Sekretaris Perkumpulan Karyawan
Kompas, Bambang Wisudo, setelah tiba di tanah air, Rabu
(14/2/2007) siang ini.
Selama sepekan terakhir, Bambang Wisudo memang menghadiri
pertemuan serikat pekerja pers tingkat regional di Hong Kong.
"Ini merupakan contoh terburuk bagi serikat pekerja pers di
Indonesia dan serikat pekerja pada umumnya," kata Presiden
IFJ ini ke Bambang Wisudo.
"Sebab, Kompas sebagai harian yang liberal saja melakukan

4/2/2015 7:13 PM

KOMPAS INSIDE: February 2007

21 of 33

http://kompasinside.blogspot.com/2007_02_01_archive.html

tindak anti-union," ujar Christopher Warren yang pernah


menghadiri pelantikan kepengurusan baru serikat pekerja
Perkumpulan Karyawan Kompas beberapa tahun lalu.
"Maka, tindakan ini tidak bisa kita terima," tegas Christ.
Kalau dibiarkan, kata Christ, pemberangusan model ini akan
merembet pada serikat pekerja pers lainnya di Indonesia.
Selain itu, menurut Christopher, IFJ yang beranggota 500.000
jurnalis di seluruh dunia, juga akan membantu perjuangan
Bambang Wisudo dengan menghadirkan saksi-saksi ahli
perburuhan internasional dalam proses persidangan nanti di
Indonesia.
Solidaritas dan keprihatinan serupa juga ditunjukkan oleh
pengurus National Union of Journalist (NUJ) Korea Selatan, NUJ
Filipina, NUJ Malaysia dan NUJ Taiwan yang hadir dalam forum
pertemuan itu.
Bahkan, Hong Kong Journalists Association (HKJA) yang menjadi
tuan rumah dalam pertemuan ini berjanji akan memberi
bantuan kongkrit. Salah satu caranya, adalah mendemo
Kedutaan Besar Indonesia di Hong Kong.
Dalam sejarah perburuhan di Indonesia, baru dua kali ILO
menyidangkan dan memutus kemenangan pada buruh
Indonesia.
Kasus pertama terjadi pada buruh Hotel Shangri-La tahun 2001.
Sedang kasus kedua adalah pemberangusan serikat pekerja
yang menimpa Ketua dan Sekretaris Federasi Serikat Pekerja
Mandiri Tebu dan Gula di PT. Gunung Madu Plantation (PT GMP),
Lampung, bulan Juli 2006.
Sebelumnya, Christopher Warren sendiri telah berkirim surat ke
Pemimpin Redaksi Kompas, Suryopratomo. Namun himbauan ini
tak diindahkan. Berikut kutipan surat Christopher Warren dua
bulan lalu:
December 12, 2006
Suryopratomo
Editor in chief KOMPAS
Jl Gajah Mada 109-110-AJAKARTA 11140
Phone : 021-6329919Fax : 021-2601611
Dear Mr Suryopratomo,
I am writing on behalf of the IFJ, the global organisation
representing over 500,000 journalists, to protest against your
companys treatment and sacking of long-term and loyal
employee, Bambang Wisudo.
Wisudo was reportedly fired on December 8 after refusing to be
reassigned to Ambon, Maluku Province. From information
available to the IFJ, it seems that your company was seeking to
relocate Wasudo to a distant location in order to prevent his
activism as secretary of the KOMPAS Trade Union (PKK).
This is a disgraceful situation, and the IFJ gives its full support
to our affiliate, the Aliansi Jurnalis Independen (AJI), in its
campaign to see Wisudo immediately reinstated and his rights
returned.
The IFJ understands that Wisudo was also forcibly removed from
KOMPAS offices by security personnel and detained in a holding
cell for several hours until the delivery of a dismissal letter
signed by you, as editor-in-chief.
It is a terrible situation when a journalist can give 15 years of
loyal service to a newspaper then be dismissed, unlawfully
treated, and despised for his efforts to improve important media

4/2/2015 7:13 PM

KOMPAS INSIDE: February 2007

22 of 33

http://kompasinside.blogspot.com/2007_02_01_archive.html

standards.
The humiliating and improper handling of Wisudo's case severely
jeopardises KOMPAS' reputation as a quality media employer,
and organisation.
The blatant intimidation tactics used by KOMPAS management to
try and force Wisudo to relocate, and your companys attempts
to phase out his influence and union representation, is not only
shocking and morally reprehensible, but also is contrary to the
International Labour Organisation's (ILO) Right to Organise and
Collective Bargaining Convention.
We must emphasise the crucial need for all media employers,
including KOMPAS Daily, to allow union members to assemble,
communicate and represent the interests of media employees.
In line with Indonesian Labour Law, we support AJI's demands
that KOMPAS:
- Reinstate Wisudo to his former position at PT KOMPAS Media
Nusantara.
-Recognise Wisudo's role as secretary of the PKK.
-Rescind the decision to send Wisudo to Ambon, Maluku
Province and abandon its continued policy of union member
relocation.
-Respect the right of employees to form and elect
representatives to trade unions without intimidation.
Conduct a thorough, transparent investigation of the events
listed herein and take decisive corrective action against its
internal security personnel, to ensure that this reprehensible
action is not repeated.

Yours sincerely
Christopher Warren
President
International Federation of Journalists (rie/E1)
posted by KOMPAS @ 2:18 AM

0 comments

Tuesday, February 13, 2007

Giliran LBH Pers Protes 'Seruan'


Nomor : 006/SK-Litigasi/LBH Pers/02/2007
Hal : Klarifikasi
Kepada Yth.
1.Sdr. Bre Redana
2.Sdr. Efix Mulyadi
3.Maria Hartiningsih
Di tempat
Dengan Hormat,
Perkenankan kami dari Lembaga bantuan Hukum Pers (LBH
Pers) secara kelembagaan ingin menyampaikan sesuatu kepada
teman-teman wartawan senior dan tokoh yang sudah diakui
khalayak. Sekali lagi hal ini kami sampaikan bukan sesuatu yang
gegabah, namun setelah membaca dan mencermati seruan
Seruan Wartawan Kompas, terlintas pertanyaan apa maksud
dan tujuan seruan tersebut. Selain itu juga terdapat beberapa
kata di antaranya adalah kata "Petualangan" yang terus
terang telah mengganggu kredibilitas kami sebagai lembaga
yang juga turut tergabung dalam Komite yang selama ini
mengadvokasi kasus Bambang Wisudo sebagai karyawan
Kompas.
Berdasarkan surat Seruan Wartawan Kompas tertanggal 27
Januari 2007 yang dikirim ke redaksi Situs Berita Rakyat
Merdeka Online oleh Sdr. Bre Redana edisi 31 Januari 2007
disebutkan
bahwa
seruan
tersebut
untuk
"mencegah
"Petualangan" yang lebih jauh sehingga merugikan berbagai
pihak termasuk masyarakat luas yang ikut memiliki harian

4/2/2015 7:13 PM

KOMPAS INSIDE: February 2007

23 of 33

http://kompasinside.blogspot.com/2007_02_01_archive.html

Kompas."
Kata "Petualangan" tersebut sangat mendiskreditkan &
melecehkan kami selaku Anggota Komite Anti Pemberangusan
Serikat Pekerja (KOMPAS), Lembaga Bantuan Hukum Pers (LBH
Pers). Karena pengertian "Petualangan" menurut Kamus
Umum Bahasa Indonesia Edisi III Cetakan pertama tahun 2003
Susunan W.J.S. Poerwadarminta mempunyai arti atau konotasi
bermacam-macam diantaranya yaitu "orang yang ingin
memperoleh sesuatu dengan cara menekat (tak jujur
dsb) atau arti lain tak tentu tempat tinggalnya". Namun
kami belum jelas dalam arti yang mana yang disebut oleh
kawan-kawan penggagas dan penandatangan seruan tersebut.
Sebagai wartawan senior tolong berikan petunjuk kami arti yang
dimaksud, maklum kami bukan ahli bahasa dan bukan seorang
wartawan yang bisa menulis seindah bahasa dengan pendekatan
bahasa budaya yang sangat lembut. Namun bagi kami dibalik
kelembutan itu kata "petualangan" telah meluluh lantakkan
kalimat indah yang telah tersusun. Kami yakin bukan sekedar
wartawan yang bisa memformulasi kalimat sebagus itu, tapi jika
benar adalah mereka wartawan seniorlah yang telah
menorehkan buah pikirannya.
Lembaga Bantuan Hukum Pers (LBH Pers) mempunyai kantor
atau tempat tinggal yang jelas yaitu di Jln Prof. Dr. Soepomo,
S.H., Komp. BIER, No. IA Menteng Dalam Jakarta Selatan 12870
Telp:
(021)
8295372
Fax:
(021)
8295701
Website:
www.lbhpers.org dan berbadan hukum yang diakui sebagai
subjek hukum yang jelas di Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Kemudian atas dasar apa Saudara mengatakan
bahwa kami melakukan "Petualangan?".
LBH Pers juga telah menggariskan dan mengharamkan bagi
lembaga maupun orang-orang yang bekerja dalam lembaga ini
meraih keuntungan dengan cara menghalalkan segala cara,
apalagi dengan melakukan segala sesuatu dengan nekat atau
konyol
tanpa
tujuan
yang
jelas
apalagi
tidak
bisa
dipertanggungjawabkan. Jika siapapun termasuk saudara
penandatangan melihat LBH Pers sebagai Lembaga atau sebagai
pribadi melakukan sesuatu yang terkategori "petualangan" demi
keuntungan, mohon saudara laporkan kepada kami, kami
mempunyai alamat yang jelas.
Untuk itu kami dari Lembaga Bantuan Hukum Pers meminta
klarifikasi yang dimaksud dengan kata-kata "Petualangan"
terhadap
1. Sdr. Bre Redana
2. Sdr. Efix Mulyadi
3. Sdr. Maria Hartiningsih
Kami memberikan batas waktu 7 hari sejak tanggal surat ini
dikirimkan hingga tanggal 19 Februari 2007 untuk mendapatkan
klarifikasi dari Saudara.
Demikian surat klarifikasi ini kami sampaikan, atas perhatiannya
kami ucapkan terima kasih.
Jakarta, 12 Februari 2007
Hormat kami

Hendrayana, SH
Direktur Eksekutif
Sholeh Ali, SH
Kadiv. Litigasi
Horas Siringo-ringo, SH
Kadiv. Non Litigasi
posted by KOMPAS @ 8:06 PM

0 comments

Dicap "Petualang", FSPM Marah Pada Kompas

4/2/2015 7:13 PM

KOMPAS INSIDE: February 2007

24 of 33

http://kompasinside.blogspot.com/2007_02_01_archive.html

Selasa, 13 Februari 2007, 12:04:54 WIB


Laporan: Sholahudin Achmad
Jakarta, Rakyat Merdeka. Solidaritas terhadap Bambang
Wisudo, wartawan yang dipecat secara sepihak oleh Pimred
Kompas, berbuah cap jelek bagi Federasi Serikat Pekerja Mandiri
(FSPM). Cap "petualang" ditempelkan oleh para wartawan
Kompas kepada FSPM.
Menanggapi stigmatisasi tersebut, Odie Hudiyanto, Sekretaris
Umum Federasi Serikat Pekerja Mandiri melayangkan surat
protes. "Inilah kali pertama dalam sejarah Federasi Serikat
Pekerja Mandiri (FSPM) sejak berdiri pada tahun 2000 menerima
julukan "Petualang" ketika memberikan dukungan solidaritas
kepada sesama
buruh. FSPM kami rintis dengan keringat dan darah!!!" tukas
Odie.
Menurutnya, diantara serikat buruh tingkat nasional, FSPM
merupakan satu-satunya serikat buruh yang tidak seperakpun
menerima kucuran dana dari lembaga-lembaga funding di
tingkat nasional atau international. "Tidak dari pemerintah,
Jamsostek,
partai politik apalagi dari pengusaha. Termasuk dari Mas
Bambang Wisudo!" katanya.
Saat ini, FSPM beranggotakan 16.753 pekerja yang tersebar di
Aceh, Sumatera Utara, Jakarta, Jawa Barat, Yogyakarta, Jawa
Tengah, Jawa Timur dan Bali. Odie mengatakan, organisasinya
tetap dapat hidup, berkembang dan melayani anggota secara
baik hanya melalui uang iuran anggota.
Namun, dengan munculnya gerakan dari para wartawan Kompas
yang berjudul Seruan Wartawan Kompas dengan menyebut
FSPM adalah petualang yang mendiskreditkan,
merongrong dan memutar-balikan nilai-nilai yang diemban
Kompas, maka pihaknya merasa keberatan. "Ini adalah sebuah
hinaan terhadap FSPM," ujarnya.
Persoalan ini bermula dari dukungan FSPM terhadap Bambang
Wisudo. Para anggota FSPM ikut menggelar demo di kantor
Kompas untuk menolak keputusan PHK terhadap Wisudo. Selain
itu, FSPM juga menggelar aksi pemasangan spanduk raksasa di
Bundaran Hotel Indonesia Jakarta, yang berisi kecaman atas
PHK tersebut.
Serangkaian aksi solidaritas FSPM itu lalu dibalas dengan sebuah
gerakan oleh puluhan wartawan Kompas.
Gerakan ini dipelopori oleh sejumlah wartawan senior Kompas,
antara lain, Bre Redana dan Maria Hartiningsih.
Menurut Odie, dukungan FSPM kepada Wisudo tak ubahnya
dengan dukungan FSPM kepada pekerja dari sektor industri
lainnya yang terkena penindasan oleh manajemen. Sehingga
bukan dimaksudkan untuk menjadi petualang.
"Brother Bre, kami meminta klarifikasi dan penjelasan dari anda
maksud Petualang! Sound system murahan yang "bernyanyi" di
Gedung Kompas itu adalah hibah dari
kawan-kawan buruh Hotel Shangri-La yang pernah berjuang 2,5
tahun di trotoar depan Hotel Shangri-La menuntut keadilan dan
kebenaran. Demikian juga spanduk yang terbentang itu adalah
hasil 'urunan' kawan-kawan Pekerja pariwisata," ujar Odie.
"Sejak berdiri tahun 2000, tidak ada seorangpun dari 16.753
anggota FSPM yang berani melacurkan idealismenya hanya
untuk kepentingan pribadi semata. Oleh karenanya, kami
menunggu jawaban anda secara resmi paling lambat 3 hari
sejak surat ini kami kirimkan," tambahnya. adi
posted by KOMPAS @ 7:59 PM

0 comments

4/2/2015 7:13 PM

KOMPAS INSIDE: February 2007

25 of 33

http://kompasinside.blogspot.com/2007_02_01_archive.html

Monday, February 12, 2007

FSPM Protes 'Seruan Wartawan Kompas'


Jakarta, 12 Februari 2007
Kepada Yth,
Brother Bre Redana atau Don Sabdono
Wartawan Kompas
Di tempat
Perihal : Protes dan Mohon Klarifikasi
Tembusan :
-Kapolda Metro Jaya, Bapak Irjen Pol Adang Firman
- Bapak Jacob Utama
- Bapak Asmara Nababan, Pimpinan Demos
- Bro Efix Mulyadi
- Sis Maria Hartiningsih
- Kawan-kawan AJI
- Seluruh Anggota FSPM
- Arsip

Dengan hormat,
Inilah kali pertama dalam sejarah Federasi Serikat Pekerja
Mandiri (FSPM) sejak berdiri pada tahun 2000 menerima julukan
PETUALANG ketika memberikan dukungan solidaritas kepada
sesama buruh.
FSPM kami rintis dengan keringat dan darah!!!.
Diantara Serikat buruh tingkat nasional mungkin kami adalah
satu-satunya Serikat buruh yang tidak seperakpun menerima
kucuran dana dari lembaga-lembaga funding di tingkat nasional
atau international. Tidak dari pemerintah, Jamsostek, partai
politik apalagi dari pengusaha. TERMASUK DARI MAS
BAMBANG WISUDO!
Kami tetap dapat hidup, berkembang dan melayani anggotaanggota kami secara baik hanya melalui uang iuran anggota.
16.753 anggota kami yang tersebar di Aceh, Sumatera Utara,
Jakarta, Jawa Barat, Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur dan
Bali sangat marah dan kecewa atas tindakan anda melakukan
sebuah gerakan yang berjudul Seruan Wartawan Kompas
dengan
menyebut
FSPM
adalah
petualang
yang
mendiskreditkan, merongrong dan memutar-balikan nilai-nilai
yang diemban kompas.
Ini adalah sebuah hinaan terhadap FSPM.
Anggota-anggota FSPM yang merupakan Pekerja sektor Hotel,
Restaurant, Catering, Plaza, Retail dan Pariwisata telah
menyatakan sikapnya untuk melakukan tindakan balasan atas
seruan yang anda gagas itu.
Wartawan tidak beda dengan Pekerja pariwisata. Tidak lebih dan
tidak kurang!
Kalau anda mengaku Pekerja kerah putih, kamipun demikian.
Namun kami tidak pernah menjilat dan menjual harga diri kami
sebagai manusia.
Wartawan dan Pekerja pariwisata adalah sama-sama buruh yang
mengharapkan upah bulanan dan perbaikan kesejahteraan.
Ketika ada Pekerja pariwisata ditindas semena-mena, kami
bergerak membelanya.
Ketika Pekerja Hotel Nikko yang dahulu bernama Hotel Presiden
di PHK sepihak, kami melakukan aksi unjuk rasa menentang
pemecatan tersebut.

4/2/2015 7:13 PM

KOMPAS INSIDE: February 2007

26 of 33

http://kompasinside.blogspot.com/2007_02_01_archive.html

Lalu ketika Hotel Sheraton Mustika Yogyakarta hancur akibat


gempa, dan buruhnya mau dirumahkan tanpa upah, kamipun
membelanya dan sampai hari ini para Pekerja tetap
mendapatkan upah.
Atau ketika tahun 2001 Hotel Regent Jakarta (sekarang
bernama Four Seasons) tutup 18 bulan akibat banjir, kami juga
dapat memastikan tidak ada yang di PHK dan tetap menerima
upah dan uang jasa layanan.
Terlalu banyak jika mau disebutkan, aksi solidaritas yang kami
lakukan. Apakah aksi tersebut membuat Pekerja yang tidak
terkena masalah melakukan aksi protes bahkan melakukan
kebulatan tekad dengan membuat seruan? Jawabannya tidak
sama sekali!!!
Brother Bre, kami meminta klarifikasi dan penjelasan dari anda
maksud PETUALANG!
Sound system murahan yang "bernyanyi" di Gedung Kompas itu
adalah hibah dari kawan-kawan buruh Hotel Shangri-La yang
pernah berjuang 2,5 tahun di trotoar depan Hotel Shangri-La
menuntut keadilan dan kebenaran. Demikian juga spanduk yang
terbentang itu adalah hasil 'urunan' kawankawan Pekerja
pariwisata.
Sejak berdiri tahun 2000, tidak ada seorangpun dari 16.753
anggota FSPM yang berani melacurkan idealismenya hanya
untuk kepentingan pribadi semata.
Oleh karenanya, kami menunggu jawaban anda secara resmi
paling lambat 3 hari sejak surat ini kami kirimkan.
Surat ini juga kami persembahkan untuk Sister Maria Hartingsih,
peraih Yap Thian Hin Award 2006. kami juga menunggu jawaban
anda. Alangkah Naifnya jika tokoh perubahan yang mengaku
pejuang kesetaraan perempuan juga tidak bisa memberikan
opininya secara Jernih atas permasalahan Mas Bambang
Wisudo.
Demikianlah surat dari kami, terima kasih kami haturkan

Odie Hudiyanto
Sekretaris Umum
posted by KOMPAS @ 7:19 PM

0 comments

Sunday, February 11, 2007

Building union culture in Indonesian press


(Wartawan Kompas P. Bambang Wisudo ditunjuk mewakili Aliansi Jurnalis
Independen (AJI) untuk mengikuti workshop dan training serikat pekerja
pers yang diselenggarakan Hongkong Journalists Association dan
International Federation Journalists (IFJ) di Hongkong, 8 12 Februari 2006.
Kasus pemecatan Bambang Wisudo secara tidak absah yang dilakukan oleh
pemimpin redaksi Kompas Suryopratomo mendapat perhatian khusus
khusus dari peserta pertemuan itu. Jurnalis dan aktivis serikat pekerja pers
dari negara-negara Asia itu sepakat untuk mendukung perjuangan Bambang
Wisudo untuk dipekerjakan dan memperoleh hak-haknya kembali. Berikut
makalah Wisudo yang disampaikan dalam pertemuan tersebut).

Building union culture in Indonesian press


Bambang Wisudo )*
"Media company is not the same with transportation or shoe
company that can be just bought and sold. Media company is
not merely a commercial institution. It is mainly an idealism
institution," PK Ojong (1974), co-founder Kompas-Gramedia
Group, Indonesian media conglomerate that published Kompas
Daily.

4/2/2015 7:13 PM

KOMPAS INSIDE: February 2007

27 of 33

http://kompasinside.blogspot.com/2007_02_01_archive.html

FOR quite a long time, Indonesian journalists did not identify


themselves as workers. During Soeharto regime Indonesian
journalists were lull to sleep by identifying themselves as
professionals that differed from other workers. To legitimize this,
in 1984, the government ruled the media companies to give
minimum 20 percent of its shares to their employees that were
managed collectively. The Department of Information which
controlled the press also claimed that journalists were not
ordinary workers. Journalists served themselves as professionals
and they had to become members of Indonesian Press
Association, the sole journalists association that was recognized
by the government. This situation created barriers for journalists
and media workers to established trade unions.
In 1988, some journalists of Kompas Daily such as Albert
Kuhon, Rikard Bangun, Irwan Julianto, and Maruli Tobing tried to
establish a union and the faced repressive respond by the
company. Kuhon was isolated and prevented to do his jobs as
journalists, and the other three were given sanctions. Later,
Kuhon retreated because of the isolation. In 1994, two Kompas
Journalists Satrio Arismunandar and Dhea Perkasa Yudha were
forced to retreat because of their involvement as members of
board executives of Serikat Buruh Seluruh Indonesia, a
progressive union that oppose to Soeharto.
Despite of the resistance among the workers and management
to the idea of establishing union, two month after Soeharto fell
down with few of my colleagues I try to establish a union. The
changes of political environment and the enthusiasm of
Indonesian people to establish unions and political parties
helped me to asked my fellow workers to support the idea to
establish union. Anyhow we had to accommodate the
management consideration that the union is just an internal
organization that its main function is to bridge the
communication between workers and management. We even did
not used the word of "union" but we used the term of
"association of employee", Perkumpulan Karyawan Kompas
(PKK).
One of the aims of PKK is to clarify and negotiate the realization
of 20 percent shares owned by the workers. By the time being,
we continually tried to build PKK as a true union. We registered
PKK to Department of Labor to meet legal requirement as an
union. However the management resistance grew as PKK was
built as union. In the year of 2001, I was prevented to do my
jobs as journalists for a year liked it was happed to Kuhon.
However the sanction was canceled after I protested bitterly
with the support of Alliance of Independent Journalists. I then
retreated as chairman PKK and the organization continued to
negotiate with the management to realize the shares owned by
the employee. Unfortunately after almost six year of negotiation
it give no result. Therefore in 2005 I joined again as a member
of broad executives of PKK. In the mid 2005, without any
agreement of its workers, the shares of Kompas Employee were
given back to the company and unilaterally conversed to profit
sharing.
After some protests of unilateral decision to abolish the shares
owned by the employees were ignored, PKK asked legal aid to
some public lawyers. They then give legal warning to the
management. This move make the company open the
negotiation again. Because of the un-conducive situation since
the workers were mobilized to stand against the organization,
we accepted the idea to conversed the collective shares owned
by the employee to profit sharing. However we succeeded that
the company will give 20 percent of its dividend to its employee
every year as long as the company exist and the changes of the
commitment have to be asked to the workers for agreement.
Two month after the agreement, as the secretary of PKK, I was
reassigned unfairly to Ambon, to Maluku. The chairman of PKK
was also reassigned to Padang, West of Sumatera. The
reassignment was directly connected with our role as union

4/2/2015 7:13 PM

KOMPAS INSIDE: February 2007

28 of 33

http://kompasinside.blogspot.com/2007_02_01_archive.html

activists and it was against the labor law. Once again I protested
bitterly to the decision and when I distributed leaflets to protest
the decision, I was sacked violently and was under detention of
the internal security for two hours and then I received illegal
dismissal letter signed by Kompas editor in chief, Suryopratomo.
Two months after the incident, neither Jakob Oetama as
president of the company or Suryopratomo ask forgiveness for
the violence and the illegal dismissal despite the pressure from
national or international communities.
***
PRESS worker union is quite a new phenomenon in Indonesia
although embryos of press trade union have been established
for quite a long time in some media companies. Despite there
are approximately 1.500 media companies in Indonesia, the
number of press worker unions in Indonesia are not more than
40. Most of them are not well organized, they do not collect
membership fee, and can not legally represent the workers
because the haven't registered to the Labour Force Department.
Just few of them have collective work agreement.
During New Order regime, there are some embryo of pres
worker unions known as Board of Employees, Dewan Karyawan.
It is pioneered by Tempo Magazine with the name of Tempo
Board of Employees. It was founded in 1978 with the main
objective was to create good working atmosphere in the
company. The organization was not concerned on welfare issues
but more focused on solving disputes between employees and
management. Board of Employees was copied by some media
companies, such as Jakarta Post, Gamma, and Gatra. Tempo
Board of Employees has just recently registered to the
Department of Labour Force.
Once Republika succeed in building its trade unions. The union
was founded in 2000 under the name of PT Abdi Bangsa Board
of Employees. They even succeed in negotiation collective work
agreement with the management. However not long after its
success the union leaders were forced to retreat, the union was
co-opted, and now it dont have strong bargain with the
management. Radio 68 H can be mentioned as one of the media
company that can live together its union.
Since its formation on 7 August 1994, Alliance of Independent
Journalists (AJI) have concerned in improving professionalism
and welfare of press workers as well as struggling for press
freedom. Welfare of press workers can be achieved gradually on
condition that there is solidarity among the workers as well as a
will to build a strong organization to represent the workers. To
educate and promote union culture among press worker, AJI
established Trade Union Division. Continually AJI campaign to
journalists and press workers to form worker unions in their
workplaces and train its member to become union activists. In
Jakarta, AJI encourage the unions to establish a city-level
networking.
The slow progress in developing press worker union in
Indonesia, as I mentioned before, partly because of journalists
in Indonesia tends to identify themselves mainly as
professionals, not as workers, even the majority of journalists in
Indonesia are low-paid. A recent study conducted by AJI Jakarta
shows that there are still some journalists in Jakarta only paid
Rp 250.000 (30 US Dollars) a month. That is far below the
standard of salary for journalists in Jakarta Rp 3.200.000 (355
US Dollars). Only few of media companies that provide minimum
salary Rp 3.200.000 for its journalists. Tempo Group can not
meet the standard. However Radio 68 H can meet the standard
because of its non profit orientation.
Why this such condition do not encourage Indonesian journalists
to establish press workers union in their company? Despite
demanding for better work condition to their management, most

4/2/2015 7:13 PM

KOMPAS INSIDE: February 2007

29 of 33

http://kompasinside.blogspot.com/2007_02_01_archive.html

of them prefer to get extra-payment from their news resources.


For many years, most journalists in Indonesia get money from
their news resources known as "envelopes." The "envelope
culture" is so rampant among the journalists in Indonesia that
many government and business institutions allocate their budget
for bribing the journalists. However some idealistic journalists
that get low payment try to get extra income by doing side-jobs.
The pragmatic behavior of the journalists in one hand and the
reluctance of the media company to accommodate the existence
of union is the main factor that make the progress of media
worker union in Indonesia is so slow. Although the labour law
2001 declares clearly that anyone who prevent union activism
would face penal punishment, the law is still toothless. Union
activists are still vulnerable. Grand strategy to build press
worker union, such as union training and campaign, establish
network and federation of press worker union, legal protection
and protection for union activist is urgently needed.
The brutal action of Kompas management in sacking its union
activist have to be respond and has to battled legally. It is very
important to show a strong message to all media companies that
they have to respect the rights of their workers to raise their
voice and to organize themselves.
*) Bambang Wisudo is journalist of Kompas Daily, Secretary of
Compass Press Worker Union and Coordinator of Ethics and
Profession Division, Alliance of Independent Journalists (AJI)
posted by KOMPAS @ 6:29 PM

26 comments

Friday, February 9, 2007

Aktivis Pendidikan Kecele JO Tak di Rumah


Jakarta, Kompas Inside. Sedikitnya 40 orang guru dan aktivis
pendidikan dari 10 daerah, Jumat (9/2/2007) petang ini, merasa
amat kecele. Soalnya Pimpinan Umum Kompas Jakob Oetama
tidak ada di rumah.
Dengan menaiki bus ukuran sedang, aktivis pendidikan dan guru
itu tiba di kediaman rumah Jakob Oetama di Jalan Sriwijaya
Raya, Jakarta Selatan, sekitar pukul 16.10 WIB. Ikut serta
bersama rombongan adalah Ade Irawan dari Indonesia
Corruption Watch (ICW) dan Lody Paat dari Koalisi Pendidikan.
Bus ukuran sedang itu kemudian diparkir di seberang kediaman
pribadi Jakob Oetama (JO). Namun, Jakob Oetama kabarnya
tidak ada di rumah. Yang menyambut kedatangan para guru dan
aktivis pendidikan dari 10 daerah tersebut hanyalah beberapa
anggota Komite Anti Pemberangusan Serikat Pekerja (KOMPAS)
serta belasan satpam Kompas dan aparat kepolisian berpakaian
preman.
Beberapa orang anggota Komite memang sudah dulu tiba di
kediaman JO pada pukul 15.00 WIB. Nampak hadir, utusan dari
LBH Pers, AJI Jakarta, Federasi Serikat Pekerja Mandiri (FSPM),
dan Forum Pers Mahasiswa se-Jabodetabek (FPMJ). Sementara,
rombongan guru dan aktivis pendidikan datang sedikit terlambat
karena terjebak kemacetan.
Ketika delegasi pertama Komite tiba, mereka diterima oleh
Humas Kelompok Kompas Gramedia (KKG), Nugroho F. Yudho.
Nugroho mengaku disuruh JO untuk menemui rombongan serta
menyampaikan pesan bahwa JO belum bisa menerima
kedatangan delegasi Komite yang hendak berdialog dan mencari
solusi terbaik atas kekerasan dan pemecatan yang menimpa
Sekretaris Perkumpulan Karyawan Kompas, Bambang Wisudo.
Dalam pertemuan itu, Odie Hudiyanto dari FSPM meminta ke
Nugroho F. Yudho agar menyampaikan ke Bre Redana dan Efix
Mulyadi, bahwa mereka menunggu klarifikasi dari penggagas
"Seruan Wartawan Kompas" ini.

4/2/2015 7:13 PM

KOMPAS INSIDE: February 2007

30 of 33

http://kompasinside.blogspot.com/2007_02_01_archive.html

"Kami adalah serikat buruh yang tergabung dalam Komite. Dan


kami tidak rela disebut sebagai petualang," tegas Sekretaris
Umum FSPM ini. Dalam seruan yang dibuat oleh wartawan
senior Kompas itu, memang disebutkan bahwa aksi-aksi yang
dilakukan di depan harian Kompas merupakan
bentuk
petualangan.
Karena itu FSPM sudah mengirim surat protes resmi ke kedua
tokoh penggagas seruan tersebut untuk meminta klarifikasi.
Langkah protes serupa juga akan dilakukan berbagai organisasi
yang tergabung dalam Komite.
Istri Diajak Berunding
Nugroho F. Yudho sendiri mengaku sudah mencoba mencari
jalan agar terjadi dialog antara Jakob Oetama dan Bambang
Wisudo. Tapi JO, kata Nugroho, meminta agar ditemani
Suryopratomo selaku Pemred Kompas dan St Sularto selaku
Wakil Pimpinan Umum Kompas.
Sementara dalam dialog tersebut, lanjut Nugroho, Bambang
Wisudo bisa ditemani oleh Ketua Perkumpulan Karyawan
Kompas, Syahnan Rangkuti. "Usul ini sudah diterima oleh JO,"
ujarnya. Tapi Nugroho mengatakan pihak Bambang Wisudo yang
justru menolak.
Pernyataan itu langsung diprotes anggota Komite. Pasalnya,
wartawan Kompas yang ditugaskan untuk menghubungi
Bambang Wisudo, yakni Tri Agung Kristanto, malah berkata
sebaliknya.
Tri Agung justru mengusulkan agar Bambang Wisudo ditemani
istrinya dalam pertemuan itu. Dan menurut pengakuan
Bambang Wisudo menyitir pernyataan Tri Agung, kalaupun dia
ditemani pengurus PKK, dia tak boleh didampingi oleh Syahnan
Rangkuti. Tapi oleh pengurus PKK lainnya. Tentu saja usul ini
ditolak oleh Bambang Wisudo.
"Masa aku ditemani istriku. Ada urusan apa istriku dengan
perusahaan," kata Bambang Wisudo sebelum berangkat hari
Rabu (7/2/2007) siang ke Hongkong untuk menghadiri
pertemuan serikat pekerja pers se-Asia Pasifik.
Nugroho sendiri mengaku tidak tahu hal itu yang disampaikan
ke Bambang Wisudo. Sebab, ia mengaku memang berbagi
tugas. Ia bertugas menghubungi JO dan Tri Agung bertugas
menghubungi Bambang Wisudo. Tapi ia menyatakan, opsi itulah
yang ia tawarkan dan sudah diterima oleh JO.
Karena tak berhasil menemui JO, maka Komite memutuskan
menunggu kedatangan aktivis pendidikan dan guru yang belum
datang karena terjebak kemacetan. Pada saat menunggu,
Nugroho F. Yudho berpamitan karena ada urusan lain.
Tak sampai satu jam, rombongan guru dan aktivis pendidikan
yang prihatin dengan makin berlarutnya kasus Bambang
Wisudo, datang. Tapi mereka merasa kecele begitu tahu JO
tidak ada di rumah.
Alhasil, Komite kemudian menyerahkan Petisi Dari Para
Sahabat ke Kepala Urusan Rumah Tangga di kediaman JO, Y
Tito N. Setelah menyerahkan petisi yang sudah ditanda-tangani
150 orang dan masih akan terus bertambah itu, Komite
kemudian meninggalkan kediaman JO dengan damai.
Menurut catatan, inilah kedatangan Komite kedua ke kediaman
JO guna berdialog sebagai pribadi guna mencari solusi terbaik
untuk kasus pemberangusan serikat pekerja di harian Kompas
yang dilakukan oleh Pemred Suryopratomo. Sebelumnya,
Komite juga telah datang kediaman JO tanggal 26 Januari lalu.
Pada saat itu, Nugroho F. Yudho juga yang menemui. Saat itu
Nugroho berjanji akan mencoba menjembatani aspirasi Komite
dan JO.

4/2/2015 7:13 PM

KOMPAS INSIDE: February 2007

31 of 33

http://kompasinside.blogspot.com/2007_02_01_archive.html

"Kalau cuma dua tiga orang mungkin pak Jakob masih mau
menemui," ujar Nugroho saat itu.
Tapi setelah dua pekan lewat, tak ada kabar sama sekali. Maka,
rapat Komite memutuskan untuk kembali bersilahturahmi ke
kediaman JO. (wia/E4)
posted by KOMPAS @ 2:25 AM

0 comments

Thursday, February 8, 2007

Preserving worker's right in the media


industry
Ignatius Haryanto )*
Recently a big case happen to Paulus Bambang Wisudo, a senior
Kompas journalist, who was ransanked in this mid December for
his struggle as workers activist in Indonesian biggest daily.
Bambang wanted to ensure workers right in having 20% shares
of the newspaper company, and for his struggle he and several
of his friends were mutated to remote area.
Alhtough the mutation was claimed as part of the normal
rotation for Kompas journalist, but many can suspect this act
was part of the revenge action by the newspaper management
over their workers. This act can be seen as an act against
Indonesian Labor Law, when a company ransacked or turned
down the union activist, they can get some punishment.
This big case reminds us that journalist, although many claim as
special profession, but in the eyes of the media owner or media
management, journalist are still workers by definition, since they
don't own the media. What Bambang and his colleagues struggle
for is part of the legacy from Harmoko's era as Minister of
Information.
Harmoko, during the New Order era, proposed an idea that
media workers should have collective shares in the media
industry, as part of increasing journalists welfare effort. The
intention of his idea was actually good, but in reality, is quite
complicated to be enacted.
Part of the problem is that there's no such control from the
Ministry to check whether the 20 % workers share were
happened in many press industries at that moment, and in
reality, Harmoko himself, put his own interest in having the
share, in stead of the workers themselves. So part of Harmoko's
legacy remains problematic for today, when the state actually is
not as strong as the New Order era. So, the state cannot
intervered to media management to check whether the 20%
policy was still enacted, or what happen to journalist welfare, as
Harmoko was struggling about twenty years ago?
Let's put aside the problem, whether journalist should or would
have 20% of their company share, but let's go to another
question, do the journalist have their rights to be involved in
journalist union in order to protect their rights? In the New
Order era, answer to this question would be very vague.
Yes, journalist also have their rights as media workers, but on
the other hand, this argument mention that journalist is
different than any other profession, because they are
professionals, and not the same with other workers (for
instance, manufacture workers, and so on).
So in line with this argument, that journalist association was
prohibited to connect with workers association, and they can
form an instititution in the media company, to preserve their
welfare, but this institution should be managed through family
cultures and values ("sikap kekeluargaan").
But on the other hand, the opponent to this argument raised an

4/2/2015 7:13 PM

KOMPAS INSIDE: February 2007

32 of 33

http://kompasinside.blogspot.com/2007_02_01_archive.html

issue that journalist is the same as other workers, although they


were working in different sectors, but the basic idea is the same;
they are workers, they didn't take part in the decision making
processes in the company, they cannot control the company
owner, and they are not owning the company.
By looking at fragile situation faced by the journalist, it is
necessary, for this opponent view, that journalist should, and
could build their own union.
Looking at the economic crises situation several years ago,
where many media companies flourished, and banished at very
short time (from three to six months), it is very critical for
journalist in those media companies to preserve their rights,
especially when journalists were having low salaries, and not
having compensation after the media was bankrupt. Some cases
even went to trial, and some cases showed that the media
workers were win over the media owner.
In the era where hypercommercialism was raised, and the media
company was turned into a purely business entity, this case was
not suprising to happen. Forget the old adagium when the press
industry was perceived as part of the institution for struggle,
and many writers (eg: Christianto Wibisono, Daniel Dhakidae,
David T. Hill) had already shown us the shifting from the press
struggle paradigm to business struggle paradigm.
Remember, that we are now living in the very tough competition
in the media industry, not only among media groups, but also
competition in the media formats (Television versus print media,
radio versus internet, etc.)
What happen to press idealism, in this shifted situation? Are we
still facing great idealism created by most of the press founder,
or are we now facing a more business friendly or a
entertainment type of news that reduced political and economic
risks?
Are we easy to find indepth and thoughtful articles in the
papers, or watching insightful programs in television? Or we just
can say we find more rubbish news or program than before? If
this happen, who can balance the situation? The government?
The Public? The Journalist themselves? Or Who else?
I still believe that in this situation, the public, and journalist
have their chance to increase and to improve media
performance today. Taking this responsbility to the government
will backlash us to the New Order situation, when the state
control over everything in the press.
But giving a chance for public (in this sense; the readers, the
viewers, the media watch groups) to control the media, is more
a healty situation, when there is an interraction between media
producers, and media consumers, to create a situation when
hypercommercialism can be negotiated. And giving this chance
also to journalists themselves is also a good effort, so that they
feel responsible to the society, which they owe their support to
the media organisations.
In this stance, I would say, that preserving journalist right to be
involved in the union, is the basic rights, basic needs, and also
basic strategy if the media companies, still wanted to get
support from public.
Media companies which undermines their workers will get bad
image from the public. And taking adagium from the second
wave of feminist activists, the media company should also notice
: "the personal is the political", means that what happen inside
the media company cannot perceived only as a matter of their
internal problem, but it is also part of the larger interest of the
public.
When the media intrude union activists, it gives signals that the

4/2/2015 7:13 PM

KOMPAS INSIDE: February 2007

33 of 33

http://kompasinside.blogspot.com/2007_02_01_archive.html

media in itself is undemocratic, and the public will consider this


act as part of the media hypocricy when the media publish many
good articles and news about democratic values, but in reality,
the media itself was undemocratic to their workers. (*)
12-12-06
)* Ignatius Haryanto,
a researcher at Institute for Press and Development Studies,
LSPP, Jakarta
posted by KOMPAS @ 9:53 PM

0 comments

Serikat Pekerja Kompas Perpanjang


Kepengurusan
Jakarta, Kompas Inside. Menyusul "Seruan
Wartawan
Kompas" yang digagas Efix Mulyadi dan Bre Redana, pengurus
serikat pekerja harian Kompas, yakni Perkumpulan Karyawan
Kompas (PKK), akhirnya memutuskan memperpanjang masa
kepengurusan.
Keputusan itu diambil secara aklamasi dalam rapat pengurus
PKK hari Selasa petang kemarin di Gedung harian Kompas.
Perpanjangan itu berlaku enam bulan sejak kepengurusan PKK
berakhir tanggal 28 Februari 2007. Dengan demikian,
kepengurusan PKK masih memakai formatur pengurus lama
sampai akhir Agustus 2007.
Menurut sumber Kompas Inside yang dihubungi Jumat
(9/2/2007) ini, alasan perpanjangan kepengurusan adalah
karena faktor "force majeur" terhadap PKK. Salah satunya
sebuah musibah berupa pemecatan yang menimpa Sekretaris
PKK Bambang Wisudo.
Dan, dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga PKK,
memang disebutkan bahwa pengurus PKK berhak memutuskan
sesuatu untuk organisasi ini bila pengurus menganggap situasi
dalam keadaan darurat.
Seperti diketahui, Sekretaris PKK Bambang Wisudo menerima
surat pemecatan sepihak dari Pemimpin Redaksi Kompas
Suryopratomo tanggal 8 Desember 2006. Ia sempat disandera
oleh satpam Kompas yang mengaku mendapat perintah atasan
sebelum dipecat karena menyebarkan surat pribadinya ke Jakob
Oetama yang berisi penolakan mutasi ke Ambon.
Pengurus PKK sendiri kemudian menilai pemecatan itu tidak sah
(lihat arsip berita tanggal 26 Desember 2006, red). Pemecatan
itu juga dinilai merupakan ekses negatif perundingan saham
kolektif 20 persen milik karyawan Kompas antara pengurus PKK
dan manajemen Kompas.
Karena itu, dalam surat pernyataan PKK yang ditanda-tangani
Ketua PKK Syahnan Rangkuti, PKK mendesak agar pemecatan
itu dibatalkan. Sebab, hal itu jelas melanggar UU No 21/2000
tentang Serikat Pekerja. Karena dalam aturan tersebut
ditegaskan, setiap pengurus serikat pekerja dilarang untuk
dimutasi. Apalagi dipecat.
Dengan keputusan perpanjangan kepengurusan PKK ini, maka
posisi Bambang Wisudo sebagai Sekretaris PKK masih sah
hingga enam bulan mendatang. (als/E3)
posted by KOMPAS @ 9:05 PM

0 comments

Copyrights @ Kompas Inside 2006

http://rpc.technorati.com/rpc/ping <

4/2/2015 7:13 PM