Anda di halaman 1dari 19

PENDAHULUAN

Proses menua pada manusia merupakan suatu proses alamiah yang tak
terhindarkan, dan menjadi manusia lanjut usia (lansia) yang sehat
merupakan suatu rahmat.
Proses menua (aging) adalah proses alami yang disertai adanya
penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial yang saling berinteraksi
satu sama lain.
Keadaan itu cenderung berpotensi menimbulkan masalah kesehatan
secara umum maupun kesehatan jiwa secara khusus pada lansia. Ada
dua terminologi mengenai usia lanjut yaitu yang berdasarakan usia
kronologi dan usia biologik. Terminologi biologik sebenarnya yang lebih
bernakna dalam penanganan masalah usia lanjut.
Batasan Lansia
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lanjut usia dikelompokkan
menjadi:
a. Usia pertengahan (middle age), ialah kelompok usia 45 sampai 59
tahun.
b. Lanjut usia (elderly) : antara 60 dan 74 tahun.
c. Lanjut usia tua (old) : antara 75 dan 90 tahun
d. Usia sangat tua (very old) : diatas 90 tahun
Saat ini berlaku UU No. 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia yang
berbunyi sebagai berikut: lansia adalah seseorang yang mencapai usia 60
tahun keatas.

MASALAH-MASALAH PADA LANSIA


A.

PENURUNAN MASALAH FISIK DAN FUNGSI TUBUH

Meliputi perubahan dari tingkat sel sampai kesemua sistem organ tubuh,
diantaranya
kardiovaskuler,

sistem
sistem

pernafasan,

pendengaran,

pengaturan

tubuh,

penglihatan,
muskuloskeletal,

gastrointestinal, genito urinaria, endokrin dan integumen.

a.
1.

Sistem pernafasan pada lansia.


Otot pernafasan kaku dan kehilangan kekuatan, sehingga volume

udara inspirasi berkurang, sehingga pernafasan cepat dan dangkal.


2.

Penurunan aktivitas silia menyebabkan penurunan reaksi batuk

sehingga potensial terjadi penumpukan sekret.


3.

Penurunan aktivitas paru ( mengembang & mengempisnya ) sehingga

jumlah udara pernafasan yang masuk keparu mengalami penurunan,


kalau pada pernafasan yang tenang kira kira 500 ml.
4.

Alveoli semakin melebar dan jumlahnya berkurang ( luas permukaan

normal 50m), menyebabkan terganggunya prose difusi.


5.

Penurunan oksigen (O2) Arteri menjadi 75 mmHg menggangu prose

oksigenasi dari hemoglobin, sehingga O2 tidak terangkut semua


kejaringan.
6.

CO2 pada arteri tidak berganti sehingga komposisi O2 dalam arteri

juga menurun yang lama kelamaan menjadi racun pada tubuh sendiri.
7.

kemampuan batuk berkurang, sehingga pengeluaran sekret & corpus

alium dari saluran nafas berkurang sehingga potensial terjadinya


obstruksi.

b.

Sistem persyarafan.

1.

Cepatnya menurunkan hubungan persyarafan.

2.

Lambat dalam merespon dan waktu untuk berfikir.

3.

Mengecilnya syaraf panca indera.

4.

Berkurangnya penglihatan, hilangnya pendengaran, mengecilnya

syaraf pencium & perasa lebih sensitif terhadap perubahan suhu dengan
rendahnya ketahanan terhadap dingin.

c.

Perubahan panca indera yang terjadi pada lansia.

1.

Penglihatan

a.

Kornea lebih berbentuk sferis (bola)

b.

Sfingter pupil timbul sklerosis dan hilangnya respon terhadap sinar.

c.

Lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa).

d.

Meningkatnya ambang pengamatan sinar : daya adaptasi terhadap

kegelapan lebih lambat, susah melihat


dalam cahaya gelap.
e.

Hilangnya daya akomodasi.

f.

Menurunnya lapang pandang & berkurangnya luas pandang.

g.

Menurunnya daya membedakan warna biru atau warna hijau pada

skala.
2.

Pendengaran.

a.

Presbiakusis (gangguan pada pendengaran) :

b.

Hilangnya kemampuan (daya) pendengaran pada telinga dalam,

terutama terhadap bunyi suara, antara

lain nada nada yang tinggi, suara yang tidak jelas, sulit mengerti kata
kata, 50 % terjadi pada usia diatas
umur 65 tahun.
c.
d.

Membran timpani menjadi atropi menyebabkan otosklerosis.


Terjadinya pengumpulan serumen, dapat mengeras karena

meningkatnya kreatin.
3.

Pengecap dan penghidu.

a.

Menurunnya kemampuan pengecap.

b.

Menurunnya kemampuan penghidu sehingga mengakibatkan selera

makan berkurang.
4.

Peraba.

a.

Kemunduran dalam merasakan sakit.

b.

Kemunduran dalam merasakan tekanan, panas dan dingin.

d.

Perubahan cardiovaskuler pada usia lanjut.

1.

Katub jantung menebal dan menjadi kaku.

2.

Kemampuan jantung memompa darah menurun 1 % pertahun

sesudah berumur 20 tahun. Hal ini


menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.
3.
4.

Kehilangan elastisitas pembuluh darah.


Kurangnya efektifitasnya pembuluh darah perifer untuk oksigenasi,

perubahan posisi dari tidur keduduk


( duduk ke berdiri ) bisa menyebabkan tekanan darah menurun
menjadi 65 mmHg ( mengakibatkan

pusing mendadak ).
5.

Tekanan darah meningkat akibat meningkatnya resistensi pembuluh

darah perifer (normal 170/95


mmHg ).

e.
1.

Sistem genito urinaria.


Ginjal, Mengecil dan nephron menjadi atropi, aliran darah ke ginjal

menurun sampai 50 %, penyaringan


diglomerulo menurun sampai 50 %, fungsi tubulus berkurang
akibatnya kurangnya kemampuan
mengkonsentrasi urin, berat jenis urin menurun proteinuria ( biasanya
+1).
2.

Vesika urinaria / kandung kemih, Otot otot menjadi lemah,

kapasitasnya menurun sampai 200 ml atau


menyebabkan frekwensi BAK meningkat, vesika urinaria susah
dikosongkan pada pria lanjut usia
sehingga meningkatnya retensi urin.
3.

Pembesaran prostat 75 % dimulai oleh pria usia diatas 65 tahun.

4.

Atropi vulva.

5.

Vagina, Selaput menjadi kering, elastisotas jaringan menurun juga

permukaan menjadi halus, sekresi


menjadi berkurang, reaksi sifatnya lebih alkali terhadap perubahan
warna.
6.

Daya sexual, Frekwensi sexsual intercouse cendrung menurun tapi

kapasitas untuk melakukan dan

menikmati berjalan terus.

f.

Sistem endokrin / metabolik pada lansia.

1.

Produksi hampir semua hormon menurun.

2.

Pituitary, Pertumbuhan hormon ada tetapi lebih rendah dan hanya ada

di pembuluh darah dan


berkurangnya produksi dari ACTH, TSH, FSH dan LH.
3.

Menurunnya aktivitas tiriod

4.

Menurunnya produksi aldosteron.

5.

Menurunnya sekresi hormon: progesteron, estrogen, testosteron.

6.

Defisiensi hormonall dapat menyebabkan hipotirodism, depresi dari

sumsum tulang serta kurang


mampu dalam mengatasi tekanan jiwa (stess).

g.

Perubahan sistem pencernaan pada usia lanjut.

1.

Kehilangan gigi, Penyebab utama adanya periodontal disease yang

biasa terjadi setelah umur 30 tahun,


penyebab lain meliputi kesehatan gigi yang buruk dan gizi yang
buruk.
2.

Indera pengecap menurun, Adanya iritasi yang kronis dari selaput

lendir, atropi indera pengecap


( 80 %), hilangnya sensitivitas dari syaraf pengecap dilidah terutama
rasa manis, asin, asam & pahit.
3.

Esofagus melebar.

4.

Lambung, rasa lapar menurun (sensitivitas lapar menurun ), asam

lambung menurun, waktu


mengosongkan menurun.
5.

Peristaltik lemah & biasanya timbul konstipasi.

6.

Fungsi absorbsi melemah ( daya absorbsi terganggu ).

7.

Liver ( hati ), Makin mengecil & menurunnya tempat penyimpanan,

berkurangnya aliran darah.

h.

Sistem muskuloskeletal.

1.

Tulang rapuh.

2.

Resiko terjadi fraktur.

3.

Kyphosis.

4.

Persendian besar & menjadi kaku.

5.

Pada wanita lansia > resiko fraktur.

6.

Pinggang, lutut & jari pergelangan tangan terbatas.

7.

Pada diskus intervertebralis menipis dan menjadi pendek ( tinggi

badan berkurang ).

i.

Perubahan sistem kulit & jaringan ikat.

1.

Kulit keriput akibat kehilangan jaringan lemak.

2.

Kulit kering & kurang elastis karena menurunnya cairan dan hilangnya

jaringan adiposa
3.

Kelenjar kelenjar keringat mulai tak bekerja dengan baik, sehingga

tidak begitu tahan terhadap panas

dengan temperatur yang tinggi.


4.

Kulit pucat dan terdapat bintik bintik hitam akibat menurunnya aliran

darah dan menurunnya sel sel yang


meproduksi pigmen.
5.

Menurunnya aliran darah dalam kulit juga menyebabkan

penyembuhan luka luka kurang baik.


6.

Kuku pada jari tangan dan kaki menjadi tebal dan rapuh.

7.

Pertumbuhan rambut berhenti, rambut menipis dan botak serta warna

rambut kelabu.
8.

Pada wanita > 60 tahun rambut wajah meningkat kadang kadang

menurun.
9.

Temperatur tubuh menurun akibat kecepatan metabolisme yang

menurun.
10. Keterbatasan reflek menggigil dan tidak dapat memproduksi panas
yang banyak rendahnya akitfitas
otot.

j.

Perubahan sistem reproduksi dan kegiatan sexual.

1.

Perubahan sistem reprduksi.

a.

Selaput lendir vagina menurun/kering.

b.

Menciutnya ovarium dan uterus.

c.

Atropi payudara.

d.

Testis masih dapat memproduksi meskipun adanya penurunan secara

berangsur berangsur.

e.

Dorongan sex menetap sampai usia diatas 70 tahun, asal kondisi

kesehatan baik.

2.

Kegiatan sexual.

Sexualitas adalah kebutuhan dasar manusia dalam manifestasi kehidupan


yang berhubungan dengan alat reproduksi.
Sexualitas pada lansia sebenarnya tergantung dari caranya, yaitu dengan
cara yang lain dari sebelumnya, membuat pihak lain mengetahui bahwa ia
sangat berarti untuk anda. Juga sebagai pihak yang lebih tua tampa harus
berhubungan badan, msih banyak cara lain unutk dapat bermesraan
dengan pasangan anda. Pernyataan pernyataan lain yang menyatakan
rasa tertarik dan cinta lebih banyak mengambil alih fungsi hubungan
sexualitas dalam pengalaman sex.

B. PENYAKIT YANG DIDERITA LANSIA

1.

Kencing manis (Diabetes Melitus)

a.

Tipe I : IDDM (Insulin dependent Diabetes melitus)

Cirinya :
-

Banyak menyerang orang muda

Disebabkan penghacuran total sel-sel beta pankreas

Sangat mutlak tergantung pada terapi insulin

b.

Tipe II : NIDDM (Non insulin dependent diabetes melitus)

Cirinya:
-

Paling banyak menyerang orang tua

Sel beta pankreas tidak dirusak tidak cukup memproduksi insulin

Sehingga hati, otot serta sel lemak tidak beraksi secara wajar

Gejala DM adalah: polipagia, poliuria, polidipsia diikuti tubuh yang cepat


lelah, kurang tenaga,badan kurus, gatal-gatal, kesemutan dan luka yang
sukar sembuh.

2.

Osteoporosis

Pada wanita, kekurangan hormon estrogen dapat menyebabkan khilangan


masa tulang dampak terhadap metabolisme kalsium akhirnya membuat
tulang patah.
Pada

pria,

karena

defisiensi

testosteron,

alkohol,

penggunaan

kortikosteroid, dan faktor penuaan.

3.

Dementia type Alzheimer

Dipengaruhi oleh hormon juga, pada wanita estrogen dapat meningkatkan


produksi zat dan aktifitas neorotransmeter, penurunan testoteron pada
laki-laki akan berpengaruh penurunan fungsi memori dan fungsi kognitif.
Kondisi yang sangat berat akan menyebabkan terjadinya penimbunan
protein amiloid di darah otak sehingga terjadi sindroma alzeimer.
Gejala-gejala Demensia Alzheimer sendiri meliputi gejala yang ringan
sampai berat. Sepuluh tanda-tanda adanya Demensia Alzheimer adalah :

Gangguan memori yang memengaruhi keterampilan pekerjaan,

seperti; lupa meletakkan kunci mobil, mengambil baki uang, lupa nomor
telepon atau kardus obat yang biasa dimakan, lupa mencampurkan gula
dalam minuman, garam dalam masakan atau cara-cara mengaduk air.

Kesulitan melakukan tugas yang biasa dilakukan, seperti; tidak mampu

melakukan perkara asas seperti menguruskan diri sendiri.

Kesulitan bicara dan berbahasa

Disorientasi waktu, tempat dan orang, seperti; keliru dengan keadaan

sekitar rumah, tidak tahu membeli barang ke kedai, tidak mengenali


rekan-rekan atau anggota keluarga terdekat.

Kesulitan mengambil keputusan yang tepat


Kesulitan berpikir abstrak, seperti; orang yang sakit juga mendengar

suara atau bisikan halus dan melihat bayangan menakutkan.

Salah meletakkan barang


Perubahan mood dan perilaku, seperti; menjadi agresif, cepat marah

dan kehilangan minat untuk berinteraksi atau hobi yang pernah


diminatinya.

Perubahan kepribadian, seperti; seperti menjerit, terpekik dan

mengikut perawat ke mana saja walaupun ke WC.

4.

Hilangnya minat dan inisiatif

Penyakit Jantung

Penyakit jantung yang dijumpai pada orang-orang lanjut usia ada


beberapa macam, yaitu :

a.

Penyakit Jantung Koroner.

Akibat yang besar dari penyakit jantung koroner adalah kehilangan


oksigen dan makanan ke jantung karena aliran darah ke jantung melalui
arteri koroner berkurang. Penyakit jantung koroner lebih banyak
menyerang pria daripada wanita, orang kulit putih dan separoh baya

sampai dengan lanjut usia. Penyebab dari penyakit jantung koroner ini
adalah aterosklerosis, pada aterosklerosis terjadi plak lemak dan jaringan
serat sehingga menyempitkan bagian dalam arteri jantung. Penyebab
lainnya adalah faktor keturunan, hipertensi, kegemukan, merokok,
diabetes, stress, kurang olahraga dan kolesterol tinggi.
Gejala yang muncul pada penyakit jantung koroner ini adalah angina,
yaitu ketidakcukupan aliran oksigen ke jantung. Perasaan sakit angina
terjadi seperti: terbakar, tertekan, dan tekanan berat di dada kiri yang
dapat meluas ke lengan kiri, leher, dagu dan bahu. Tanda yang khas saat
penyerangan adalah timbulnya rasa mual, muntah, pusing, keringat dingin
dan tungkai serta lengan menjadi dingin.

b.

Serangan Jantung.

Serangan jantung terjadi apabila salah satu arteri jantung tidak sanggup
lagi mensuplai darah ke bagian otot jantung yang dialirinya. Apabila terjadi
keterlambatan dalam pengobatan akan mengakibatkan kematian. Hampir
separoh dari kematian mendadak karena serangan jantung terjadi
sebelum pasein tiba di rumah sakit. Penyebab dari serangan jantung ini
adalah karena pembentukan arterisklerosis (pengerasan arteri jantung)
yang berakibat pada penurunan aliran darah. Faktor resikonya meliputi:
faktor keturunan, tekanan darah tinggi, merokok, kolesterol tinggi,
diabetes, kegemukan, kurang olahraga, pemakaian obat-obatan (terutama
kokain), umur dan stres.
Gejala utama serangan jantung ini adalah rasa sakit seperti menusuknusuk dan bersifat persisten pada dada kiri, menyebar ke lengan, rahang,
leher, dan bahu sampai 12 jam lamanya atau bahkan lebih. Tanda lain
adalah perasaan seperti bingung (bodoh), lelah, mual, muntah, sesak
napas, dingin di lengan dan tungkai, keringat dingin, cemas dan gelisah.

c.

Penyakit jantung hipertensi.

Kebanyakan dengan bertambahnya usia seseorang, maka tensi atau


tekanan darahnya akan mengalami kenaikan. Berbagai penelitian telah
dilakukan dan disimpulkan bahwa di Indonesia rata-rata hipertensi
(kanaikan tekanan darah) berkisar 5 - 10% dan menjadi lebih dari 20% jika
sudah memasuki usia 50 tahun keatas. Hipertensi sistolik pada mulanya
dianggap suatu gangguan kecil, akan tetapi sekarang ini telah diakui
sebagai pemegang peranan yang besar sebagai faktor resiko serangan
jantung. Pada usia lanjut tekanan darah cenderung mengalami labilitas
dan mudah mengalami hipotensi (tekanan darah rendah). Untuk itu
dianjurkan selalu mengukur tekanan darah pada waktu periksa maupun
saat kontrol pengobatan. Apabila tidak dilakukan kontrol rutin terhadap
tekanan darah, akan memperbesar terjadinya penyakit jantung hipertensi.

C. MASALAH SOSIAL PADA LANSIA


Akibat berkurangnya fungsi indera pendengaran, penglihatan, gerak fisik
dan sebagainya maka muncul gangguan fungsional atau bahkan
kecacatan

pada

lansia.

Misalnya

badannya

menjadi

bungkuk,

pendengaran sangat berkurang, penglihatan kabur dan sebagainya


sehingga sering menimbulkan keterasingan. Hal itu sebaiknya dicegah
dengan selalu mengajak mereka melakukan aktivitas, selama yang
bersangkutan

masih

sanggup,

agar

tidak

merasa

terasing

atau

diasingkan. Karena jika keterasingan terjadi akan semakin menolak untuk


berkomunikasi dengan orang lain dan kdang-kadang terus muncul
perilaku regresi seperti mudah menangis, mengurung diri, mengumpulkan
barang-barang tak berguna serta merengek-rengek dan menangis bila
ketemu orang lain sehingga perilakunya seperti anak kecil.
Dalam menghadapi berbagai permasalahan di atas pada umumnya lansia
yang memiliki keluarga bagi orang-orang kita (budaya ketimuran) masih

sangat beruntung karena anggota keluarga seperti anak, cucu, cicit, sanak
saudara bahkan kerabat umumnya ikut membantu memelihara (care)
dengan penuh kesabaran dan pengorbanan. Namun bagi mereka yang
tidak punya keluarga atau sanak saudara karena hidup membujang, atau
punya pasangan hidup namun tidak punya anak dan pasangannya sudah
meninggal, apalagi hidup dalam perantauan sendiri, seringkali menjadi
terlantar.

D. MASALAH PSIKOLOGI PADA LANSIA

a.

Depresi

Gangguan depresi merupakan hal yang terpenting dalam problem lansia.


Usia bukan merupakan faktor untuk menjadi depresi tetapi suatu keadaan
penyakit medis kronis dan masalah-masalah yang dihadapi lansia yang
membuat mereka depresi. Gejala depresi pada lansia dengan orang
dewasa muda berbeda dimana pada lansia terdapat keluhan somatik.
Gejala depresi pada lansia, yaitu :
1.

Gejala utama :

Afek depresi

Kehilangan minat

Berkurangnya energi (mudah lelah)

2.

Gejala lain:

Konsentrasi dan perhatian berkurang

Kurang percaya diri

Sering merasa bersalah

Pesimis

Ide bunuh diri

Gangguan pada tidur

Gangguan nafsu makan

Berdasarkan gejala di atas, depresi pada lansia dapat dibedakan


beberapa bentuk berdasarkan berat ringannya :

Depresi ringan : 2 gejala utama + 2 gejala lain+ aktivitas tidak

terganggu.

Depresi sedang : 2 gejala utama + 3 gejala lain+ aktivitas agak

terganggu.

Depresi berat : 3 gejala utama + 4 gejala lain+ aktivitas sangat

terganggu.
Penyebab terjadinya depresi merupakan gabungan antara faktor-faktor
psikologik, sosial dan biologik.

Biologik : sel saraf yang rusak, faktor genetik, penyakit kronis seperti

hipertensi, DM, stroke,


keterbatasan gerak, gangguan pendengaran / penglihatan.

Sosial

: kurang interaksi sosial, kemiskinan, kesedihan, kesepian,

isolasi sosial.

Psikologis : kurang percaya diri, gaul, akrab, konflik yang tidak

terselesai.

b.

Skizofrenia

Skizofrenia biasanya dimulai pada masa remaja akhir / dewasa muda dan
menetap seumur hidup. Wanita lebih sering menderita skizofrenia lambat

dibanding pria. Perbedaan onset lambat dengan awal adalah adanya


skizofrenia paranoid pada tipe onset lambat.
Paling sedikit 2 gejala berikut :

Halusinasi panca indera yang menetap

Arus pikir yang terputus

Perilaku katatonik

Gejala negatif

Katatonik
a.

Stupor katatonik yaitu aktivitas motorik yang melambat secara nyata,

seringkali hingga mencapai suatu titik imobilitas dan tampak tak sadar
akan sekitar.
b.

Atau mungkin mucul sebagai aktivitas motorik yang berlebihan

(eksitasi katatonik), sebuah keadaan ekstrim yang mungkin berbahaya


bagi pasien dan orang lain. Eksitasi katatonik adalah aktivitas motorik
yang tak bertujuan dan teragitasi, tidak dipengaruhi oleh stimulus
eksternal.
c.

Sebuah gejala penting dari katatonia adalah katalepsia, di mana

postur tidak nyaman dan aneh dipertahankan melawan gravitasi atau gaya
lainnya. Katalepsi merupakan istilah umum untuk posisi tidak bergerak
yang dipertahankan secara konstan. Katatonia dan abnormalitas postur
ditemukan pada skizofrenia katatonik
Adanya gejala-gejala khas tersebut di atas berlangsung selama kurun
waktu satu bulan atau lebih. Terapi dapat diberikan obat anti psikotik
seperti haloperidol, chlorpromazine, dengan pemberian dosis yang lebih
kecil.

c.

Gangguan Delusi

Onset usia pada gangguan delusi adalah 40 55 tahun, tetapi dapat


terjadi kapan saja.
Pencetus terjadinya gangguan delusi adalah :

Kematian pasangan

Isolasi sosial

Finansial yang tidak baik

Penyakit medis

Kecacatan

Gangguan pengelihatan / pendengaran

Pada gangguan delusi terdapat jenis lain yang onset lambat yang dikenal
sebagai parafrenia yang timbul selama beberapa tahun dan tidak disertai
demensia. Terapi yang dapat diberikan yaitu : psikoterapi yang
dikombinasi dengan farmakoterapi.

d.

Gangguan Kecemasan

Gangguan kecemasan adalah berupa gangguan panik, fobia, gangguan


obsesif konfulsif, gangguan kecemasan umum, gangguan stres akut,
gangguan stres pasca traumatik. Tanda dan gejala fobia pada lansia
kurang serius daripada dewasa muda, tetapi efeknya sama, jika tidak
lebih, menimbulkan debilitasi pada pasien lanjut usia. Teori eksistensial
menjelaskan kecemasan tidak terdapat stimulus yang dapat diidentifikasi
secara spesifik bagi perasaan yang cemas secara kronis.
Kecemasan yang tersering pada lansia adalah tentang kematiannya.
Orang mungkin menghadapi pikiran kematian dengan rasa putus asa dan

kecemasan, bukan dengan ketenangan hati dan rasa integritas (Erik


Erikson).
Gangguan stres lebih sering pada lansia terutama jenis stres pasca
traumatik karena pada lansia akan mudah terbentuk suatu cacat fisik.
Terapi dapat disesuaikan secara individu tergantung beratnya dan dapat
diberikan obat anti anxietas seperti : hydroxyzine, Buspirone.

e.

Gangguan penggunaan Alkohol dan Zat lain

Riwayat minum / ketergantungan alkohol biasanya memberikan riwayat


minum berlebihan yang dimulai pada masa remaja / dewasa. Mereka
biasanya memiliki penyakit hati. Sejumlah besar lansia dengan riwayat
penggunaan alkohol terdapat penyakit demensia yang kronis.
Presentasi klinis pada lansia termasuk terjatuh, konfusi, higienis pribadi
yang buruk, malnutrisi dan efek pemaparan. Zat yang dijual bebas seperti
kafein dan nikotin sering disalah gunakan. Di sini harus diperhatikan
adanya gangguan gastrointestiral kronis pada lansia pengguna alkohol
maupun tidak obat-obat sehingga tidak terjadi suatu penyakit medik.

f.

Gangguan Tidur

Usia lanjut adalah faktor tunggal yang paling sering berhubungan dengan
peningkatan prevalensi gangguan tidur. Fenomena yang sering dikeluhkan
lansia dari pada usia dewasa muda adalah :

Gangguan tidur

Ngantuk siang hari

Tidur sejenak di siang hari

Pemakaian obat hipnotik.

Secara klinis, lansia memiliki gangguan pernafasan yang berhubungan


dengan tidur dan gangguan pergerakan akibat medikasi yang lebih tinggi
dibanding dewasa muda. Disamping perubahan sistem regulasi dan
fisiologis, penyebab gangguan tidur primer pada lansia adalah insomnia.
Selain itu gangguan mental lain, kondisi medis umum, faktor sosial dan
lingkungan. Ganguan tersering pada lansia pria adalah gangguan rapid
eye movement (REM). Hal yang menyebabkan gangguan tidur juga
termasuk adanya gejala nyeri, nokturia, sesak napas, nyeri perut.
Keluhan utama pada lansia sebenarnya adalah lebih banyak terbangun
pada dini hari dibandingkan dengan gangguan dalam tidur. Perburukan
yang terjadi adalah perubahan waktu dan konsolidasi yang menyebabkan
gangguan pada kualitas tidur pada lansia.
Terapi dapat diberikan obat hipnotik sedatif dengan dosis yang sesuai
dengan kondisi masing-masing lansia dengan tidak lupa untuk memantau
adanya gejala fungsi kognitif, perilaku, psikomotor, gangguan daya ingat,
insomnia rebound dan gaya jalan.