Anda di halaman 1dari 4

Pembahasan

A Baist Khaerul Umam(1127040001)

ANALISIS KADAR MINERAL


Pada percobaan pertama yaitu membuat sampel abu hasil pengabuan kering yang
dilarutkan dengan HCl sebanyak 40 mL ini dimaksudkan untuk melarutkan zat-zat organik
dalam sampel berdasarkan kepolarannya. Kemudian dipanaskan selama 20 menit ini bertujuan
agar ada energi masuk dalam sistem sehingga partikel- partikel energi kinetiknya bertambah,
yang akan berakibat pada tumbukan antar partikel yang semakin cepat sehingga reaksi
berlangsung cepat, kemudian akan melarutkan zat yang tidak atau sukar bereaksi dalam suhu
ruang.
Kemudian ditambahkan HCl kembali agar pelarutan lebih maksimal. Kemudian
ditambahkan akuades ini dimaksudkan untuk konsentrasi larutan berkurang, sebagai
perlakuan awal sehingga volume amonium yang digunakan tidak terlalu banyak. Disaring
agar partikel yang tidak larut dalam HCl( mineral biasanya) tertahan di kertas saring, karena
zat- zat organik terlarut di erlakuan sebelumnya, sehingga zat anorganik(mineral) dan zat
organik memisah.
Dicuci dengan akuades agar residu yang tertinggal tercuci atau bebas kotoran. Karena
digunakan Cl dalam HCl sebagai pelarut maka residu yang dihasilkan diuji dengan metode
gravimetri.yaitu dengan meneteskan AgNO3, karena AgNO3 bereaksi dengan Cl- membentuk
endapan putih AgCl, sehingga jika terdapat warna putih di larutan maka mengindikasikan
masih adanya Cl di residu.
Penambahan ammonium oksalat bertujuan agar kalsium dalam abu dapat diendapkan
oleh ammonium oksalat dan terbentuk kalium oksalat dan disaring untuk memisahkannya.
Lalu ditambahkan H2SO4 sehingga terbentuk H2C2O4, yang kemudian ditirasi oleh KMnO4
sampai titik akhir merah muda seulas.
Selanjutnya standarisasi KMnO4 , ini bertujuan karena pereaksi kalium permanganat
bukan pereaksi primer. Sangat sukar untuk mendapatkan pereaksi ini dalam keadaan murni,
bebas dari mangan dioksida. Kalium permanganat merupakan zat pengoksida kuat yang
berlainan menurut pH medium. Kalium permanganat merupakan zat padat coklat tua yang
menghasilkan larutan ungu bila dilarutkan dalam air, yang merupakan ciri khas untuk ion
permanganat dimana daerah absorbsinya di panjang gelombang 380-450 nm.
Timbulnya mangan dioksida akan mempercepat reduksi permanganat. Demikian juga
adanya ion mangan(II) dalam larutan akan mempercepat reduksi permanganat menjadi

mangan dioksida. Reaksi tersebut berlangsung sangat cepat dalam suasana netral. Oleh karena
itu, larutan kaliuum permanganat harus distandarisasi.
Digunakan asam oksalat sebagai titratnya karena merupakan asam kuat, ini
dikarenakan supaya reaksi tidak bolak-balik, sedangkan potensial elektroda sangat tergantung
pada pH. Standarisasi larutan KMnO4 ini dapat dilkukan dengan titrasi permanganometri
secara langsung , biasanya dilakukan pada analit yang dapat langsung dioksida. Kalium
permanganate merupakan zat pengoksida yang sangat kuat. Jadi pereaksi ini dapat dipakai
tanpa penambahan indikator, karena mampu bertindak sebagai indikator, oleh karena itu pada
larutan ini tidak ditambahkan indikator apapun dan langsung dititrasi dengan larutan
KMnO4. Reaksi antara permanganat dengan asam oksalat berjalan agak lambat pada suhu
kamar, sehingga sebelum asam oksalat dan H2CO4 ditritasi dengan KMnO4 harus dipanaskan
terlebih dahulu supaya reaksinya bisa cepat, tetapi kecepatan meningkat setelah ion
mangan(II) terbentuk mangan(II) bertindak sebagai suatu katalis dan reaksinya diberi istilah
otokatalitik karena katalis menghasilkan reaksi sendiri. Reaksi yang terjadi:
2MnO4- + 5H2C2O4+ 6H+ 2Mn2 + 10CO2 + 8H2O
Setelah pemanasan tersebut tersebut asam oksalat dan asam sulfat langsung
distandarisasi dengan KMnO4, setelah distandrisasi laruatan asam oksalat dengan asam sulfat
menghasilkan warna merah muda, ini dikarenakan reaksi antara larutan asam oksalat dan
asam sulfat dengan kalium permanganat. Reaksi yang terjadi :
5H2C2O4 + 2KMnO4 + 5H2SO4 K2SO4 2MnSO4 + 8H2O + 10CO2
Dalam penentuan Ca dengan metode permanganometri reaksinya :
Ca2+ + (NH4)2C2O4 CaC2O4 + 2 NH4+
CaC2O4 + H2SO4 CaSO4 + H2C2O4
H2C2O4 + H2SO4 + KMnO4 MnSO4 + K2SO4 + CO2 + H2O

Pada permanganometri, titran yang digunakan adalah kalium permanganat. Kalium


permanganat mudah diperoleh dan tidak memerlukan indikator kecuali digunakan larutan
yang sangat encer serta telah digunakan secara luas sebagai pereaksi oksidasi selama seratus
tahun lebih. Setetes permanganat memberikan suatu warna merah muda yang jelas kepada
volume larutan dalam suatu titrasi. Warna ini digunakan untuk menunjukkan kelebihan
pereaksi (Day, 1980).

Sumber-sumber kesalahan pada titrasi permanganometri, antara lain terletak pada:


Larutan pentiter KMnO4 pada buret yang terkena sinar akan terurai menjadi MnO 2 sehingga
pada titik akhir titrasi akan diperoleh pembentukan presipitat coklat yang seharusnya adalah
larutan berwarna merah rosa. Penambahan KMnO4 yang terlalu cepat pada larutan seperti
H2C2O4 Pemberian KMnO4 yang terlalu cepat pada larutan H2C2O4 yang telah ditambahkan
H2SO4 dan telah dipanaskan cenderung menyebabkan reaksi antara MnO4- dengan Mn2+.
MnO4- + 3Mn2+ + 2H2O 5MnO2 + 4H+

Penambahan KMnO4 yang terlalu lambat pada larutan seperti H2C2O4 Pemberian
KMnO4 yang terlalu lambat pada larutan H2C2O4 yang telah ditambahkan H2SO4 dan telah

dipanaskan mungkin akan terjadi kehilangan oksalat karena membentuk peroksida yang
kemudian terurai menjadi air.
H2C2O4 + O2 H2O2 + 2CO2
H2O2

H2O + O2

Hal ini dapat menyebabkan pengurangan jumlah KMnO4 yang diperlukan untuk titrasi
yang pada akhirnya akan timbul kesalahan titrasi permanganometri yang dilaksanakan.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum kadar mineral didapatkan hasil sebagai berikut :

Kadar mineral Ca dalam sampel abu adalah 3414,6341 mg Ca/100 g


Penetapan kadar Ca berdasarkan reaksi redoks

Pustaka
Companion, A. L. 1991. Ikatan Kimia, Edisi Kedua; terjemahan Suminar Achmadi. Penerbit
ITB, Bandung.
Cotton, F.A. and Geoffrey Wilkinson. 1989. Kimia Anorganik Dasar; terjemahan Sahati
Suharto. Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta.
Day, Jr., R.A. and A.L. Underwood. Tanpa Tahun. Analisis Kimia Kuantitatif, Edisi Kelima;
terjemahan Aloysius Hadyana Pudjaatmaka. Penerbit Erlangga, Jakarta.
Gerloch, M. and E. C. Constable. 1994. Transition Metal Chemistry. Verlagsgesellschaft
mbH, Weinheim.
Harjadi, W. 1990. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Gramedia, Jakarta.

Saito, T. 1996. Kimia Anorganik. Terjemahan Prof. Dr. Ismunandar. Iwanami Shoten,
Publisher, Tokyo.
Vogel, A. I. 1989. Vogels Textbook of Quantitative Chemical Analysis 5th Ed. Longman
Scientific and Technical, United Kingdom.
http://yi2ncokiyute.blogspot.com/2010/07/standarisasi-larutan-baku-kmno4.html
https://www.scribd.com/doc/34632567/kmno4