Anda di halaman 1dari 40

STATUS NEUROLOGIS

Presentan

Tgl. Pemeriksaan

: 13 Desember 2009

I. IDENTITAS PASIEN

NAMA

: Dwi Okta Wibowo

UMUR

: 14 tahun

ALAMAT

: DS Bumi Asih Kalianda

AGAMA

: Islam

PEKERJAAN

: Pelajar

STATUS

: Belum Menikah

SUKU BANGSA

: Jawa

TANGGAL MASUK

: 10 Desember 2009

DIRAWAT YANG KE: I (Satu)

II. RIWAYAT PENYAKIT


ANAMNESIS ( auto dan alloanamnesa )
Keluhan utama

Sakit Kepala hebat dan nyeri pada telinga kanan

Keluhan tambahan

Badan lemas , lemas pada kedua tungkai kaki , nyeri pada


leher bila digerakkan.

Riwayat perjalanan penyakit


Awalnya 2 minggu SMRS, saat itu pasien sedang memotong bambu untuk
dijadikan spanduk bersama teman-temannya didepan rumah, tiba-tiba pasien
merasa nyeri kepala dan disertai dengan lemas , keluar keringat namun tidak
disertai penurunan kesadaran kemudian pasien dibantu teman-temannya untuk
memasuki rumah dan pasien di istirahatkan (dipijat) . Setelah itu keadaan psien
membaik dan bisa melakukan aktivitas ringan. Keesokan harinya nyeri kepala
itu timbul kembali dan disertai dengan nyeri telinga kanan kemudian pasien
dibawa ke dokter untuk di obati dan diberi empat macam obat , dua tablet besar
warna hijau dan putih dan dua tablet kecil warna kuning dan merah jambu dan
obat bebas.
Dua hari setelah itu , pasien msih mengeluhkan nyeri kepala dan akhirnya
keluarga membawanya ke R.S Kalianda untuk diperiksa , kemudian dirujuk di
R.S Bumi Waras dan menginap tiga hari dua malam dan kemudian di rujuk ke
RSAM.
Sepuluh tahun yang lalu, pasien pernah mengeluhkan keluar cairan warna
putih kehijauan dari telinga kanannya . Biasanya keadaan ini disertai dengan
nyeri kepala. Jika keluar cairan , pasien hanya membersihkan cairannya saja dan
diobati dan diobati satu minggu yang lalu sebelum masuk RSAM, pasien nerasa
telinga kanan terasa sakit dan diberi obat yang sudah kadarluasa, saat itu juga
sakit kepala makin hebat dan kalo timbul nyeri kepala pasien hanya istirahat saja
untuk memulihkan keadaannya.
Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien pernah menderita TB paru sejak 1 th yang lalu.

Riwayat kencing manis disangkal.

Riwayat penyakit jantung disangkal.

Riwayat Penyakit Keluarga


_

Riwayat Sosial Ekonomi


Pasien adalah anak keempat dari lima bersaudara. Pasien tinggal di asrama
bersama adiknya dan juga santri-santri lainnya di suatu pesantren di Lampung. Kedua
orang tuanya yang sudah renta, tinggal di Jawa. Biaya hidup pasien sekarang
ditanggung oleh kakak pertamanya.

III. PEMERIKSAAN FISIK


Status Present

Keadaan umum

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos mentis

GCS

: E4 M6 V5 = 15

Vital sign
Tekanan darah

: 130/80 mmHg

Nadi

: 78 x/menit

RR

: 24 x/menit

Suhu

: 37,3 C

Gizi

: kurang

Status Generalis

Kepala
Rambut

: Lurus, Hitam , tidak mudah dicabut.

Mata

: Konjungtiva ananemis, sklera anikterik, kanan Midriasis, ptosis +

Telinga: Liang terisi pus, darah -

Hidung

: Septum deviasi (-).

Mulut

: Bibir tidak kering, lidah tidak kotor

Leher
Pembesaran KGB

: (+/-)

Pembesaran tiroid

: (-)

JVP

: Tidak meningkat

Trachea

: Di tengah

Thorak
Cor
Inspeksi

: Iktus kordis tidak terlihat

Palpasi

: Iktus kordis teraba pada ICS V garis mid clavicula kiri

Perkusi

: Batas kanan : Sela iga V garis midclavicula dextra

Auskultasi

Batas kiri

: Sela iga V garis midclavicula sinistra

Batas atas

: Sela iga II garis sternal sinistra

: Bunyi jantung I II reguler, murmur (-), gallop (-)


HR : 84 x/menit Reguler

Pulmo
Inspeksi

: Pergerakan nafas kanan-kiri simetris, retraksi sela iga (-)

Palpasi

: Fremitus taktil paru kanan = paru kiri

Perkusi

: Sonor pada kedua lapangan paru

Auskultasi

: Vesikuler ( +/+ ), wheezing ( -/- ), ronkhi (-/-)

Abdomen
Inspeksi

: Perut cekung dan simetris

Palpasi

: Supel, Hepar dan lien tidak teraba.

Perkusi

: Timpani di 4 kuadran

Auskultasi

: Bising usus (+) normal

Ekstremitas

: Superior

: oedem (-/-), sianosis (-/-),


turgor kulit baik

Inferior

: oedem (-/-), sianosis (-/-),


turgor kulit baik

IV. PEMERIKSAAN NEUROLOGIS


Saraf cranialis

N. olfaktorius ( N. I )
Daya penciuman hidung

Kanan / Kiri

: Normosmia

N. opticus ( N. II )
Tajam penglihatan

: VODS > 2/60

Lapang penglihatan

: dbn

Tes warna

: Tidak dilakukan

Fundus oculi

: Tidak dilakukan

N. occulomotorius, N. trochlearis, N. abducen ( N.III-N.IV-N.VI )


Kelopak mata :
Ptosis

:(+/-)

Endophtalmus

:(-/-)

Exopthalmus

:(-/-)

Diameter

: ( 6-8 mm / 2 mm )

Bentuk

: ( Bulat / Bulat )

Isokor / anisokor

: (anisokor )

Posisi

: ( Lateral / Sentral )

Reflek cahaya langsung

:(-/+)

Reflek cahaya tidak langsung

: ( - / +)

Pupil :

Gerakan bola mata :


Medial

: (+/+)

Lateral

: (+/+)

Superior

: (+/+)

Inferior

: (+/+)

Obliqus, superior

: (+/+)

Obliqus, inferior

: (+/+)

Reflek pupil akomodasi

:(+/+)

Reflek pupil konvergensi

:(-/-)

N. trigeminus ( N. V )
Sensibilitas
Ramus oftalmikus

: baik

Ramus maksilaris

: baik

Ramus mandibularis

: baik

Motorik
M. maseter

: Simetris

M. temporalis

: Simetris

M. pterigoideus

: Simetris

Reflek

Reflek kornea ( sensoris N. V, motoris N. VII )

:(+/+)

Reflek bersin

:(+/+)

N. fascialis ( N. VII )
Inspeksi wajah sewaktu :
Diam

: simetris

Tertawa

: simetris

Meringis

: simetris

Bersiul

: simetris

Menutup mata

: Menutup rapat, simetris

Pasien disuruh untuk :


Mengerutkan dahi

: simetris

Menutup mata kuat-kuat

: simetris

Menggembungkan pipi

: simetris

Sensoris
Pengecapan 2/3 depan lidah

: ( +/+ )

N. acusticus ( N. VIII )
N. cochlearis
Ketajaman pendengaran

: ( +/+ )

Tinitus

: (- / -)

N. vestibularis

Test vertigo

: (-)

Nistagmus

: ( -/- )

N. glossopharingeus dan N. vagus ( N. IX dan N. X )


Suara bindeng / nasal

: (-)

Posisi uvula

: ditengah

Palatum mole

: Istirahat : ditengah
Bersuara : ditengah

Arcus palatoglossus

: Istirahat : ditengah
Bersuara : ditengah

Arcus pharingeus

: Istirahat : ditengah
Bersuara : ditengah

Reflek batuk

: (+)

Reflek muntah

: (+)

Peristaltik usus

: t.a.k

Bradikardi

: (-)

Takikardi

: (-)

N. accesorius ( N. XI )
M. sternocleidomastoideus

: Simetris

M. trapezius

: Simetris

N. hipoglossus ( N. XII )
Atropi

: (-)

Fasikulasi

: (-)

Deviasi

: (-)

Tanda perangsangan selaput otak


Kaku kuduk

: (+)

Kernig test

: (+/+)

Lasseque test

: (+/+)

Brudzinsky I

: (+)

Brudzinky II

: (+)

Sistem motorik
- Gerak
- Kekuatan otot

Superior ka / ki
hipoaktif / hipoaktif
3/4

Inferior ka / ki
Hipoaktif
3/3

- Tonus

normotonus

normotonus

- Klonus

-/-

- /-

- Atrophi

-/-

-/-

- Reflek fisiologis

- Reflek patologi

Bicep ( + / + )

Pattela

(+/+)

Tricep ( + / + )

Achiles

(+/+)

Hoffman trommer ( - / - )

Babinsky ( - / - )
Chaddock ( - / - )
Oppenheim ( - / - )

Sensibilitas
Eksteroseptif / rasa permukaan ( superior / Inferior )
Rasa raba

: baik

Rasa nyeri

: baik

Rasa suhu panas

: baik

Rasa suhu dingin

: baik

Propioseptif / rasa dalam


Rasa sikap

: ( +/+ )

Rasa getar

: ( +/+ )

Rasa nyeri dalam

:(+/+)

Fungsi kortikal untuk sensibilitas


Asteriognosis

: ( +/+ )

Schaefer

(-/-)

Gordon

(-/-)

Gonda

(-/-)

Agnosa taktil

: ( +/+ )

Two point discrimination

: Sulit dinilai

Koordinasi

Tes tunjuk hidung

: ( +/+ )

Tes pronasi supinasi

: ( +/+ )

Susunan saraf otonom

Miksi

:+

Defekasi

:+

Salivasi

:+

Fungsi luhur

Fungsi bahasa

: Baik

Fungsi orientasi

: Baik

Fungsi memori

: Baik

Fungsi emosi

: Baik

RESUME
Pasien, laki-laki usia 14 tahun datang dengan keluhan sakit kepala, leher, batuk,
l;eher kaku, mata kanan tidak sejelas yang sebelah kiri, keluar cairan dari telinga kanan,
sulit BAB. Pasien juga mengalami demam.

DIAGNOSIS

Klinis

= parese n. III total

Topis

= Meninges

Etiologi

= susp. Meningitis e.c infeksi bakteri


( M. tuberculosa )

DIAGNOSIS BANDING
Perdarahan sub arachnoid

PENATALAKSANAAN
1. Umum
Alih Baring ( miring kekanan miring ke kiri setiap 2 jam )
2. Dietetik : cair
NGT
3. Medikamentosa
IVFD Ringer laktat gtt XX / menit
Pan Amin G
Streptomicin
INH
Etambutol
Rifampicyn
Kalnex
Ulsikur
4. Rehabilitasi

Nursing rehabilitasi : pindah posisi tiap 2 jam

Speech therapy

Mobilisasi pasif

Ocupasi theraphy

Psikologi

Fisioterapi

PEMERIKSAAN PENUNJANG :
1. Laboratorium

Darah Lengkap : Hb. Ht, Diff count, LED, Trombosit, CT, BT

Biokimia : Fungsi ginjal (ureum, Creatinin, asam urat), lipid profil


(kolesterol total, HDL, LDL trigliserida), GDS, GDPP

2. Radiologi : Foto thorak PA


3. CT Scan
4. Lumbal pungsi

PROGNOSA

Quo ad Vitam

: Dubia ad bonam

Quo ad Fungtionam

: Dubia ad bonam

Quo ad Sanationam

: Dubia ad bonam

Tanggal
05-01-2006

Follow up

Keadaan umum

Kesadaran

: Compos Mentis

GCS

: E4 M6 V5 = 15

Keluhan

: Tampak ringan-sedang

Sakit kepala, Panas, leher kaku, Bab blm selama 2 hari terakhir,

Vital sign
Tekanan darah

: 120/70 mmHg

Nadi

: 78 x/menit

RR

: 28 x/menit

Suhu

: 37 C

Kelopak mata :
Pupil

PTOSIS (+)
Bulat, Anisokhor, Kanan Midriasis, D = 6-8 mm lateral

/ 4 mm,
sentral
Status Neurologik :
Parese N. III total
Tanda perangsangan selaput otak
Kaku kuduk

: (+)

Kernig test

: (+)

Lasseque test

: (+)

Brudzinsky I

: (+)

Brudzinky II

: (+)

Hasil Lab :

Kimia Darah tanggal 4 Januari 2006


- Hb

: 12,2 gr/dl

-Ht

: 37 %

- LED

: 19.200 /l

- Diff. Count

: 0 / 0 / 3 / 90 / 5 / 2

- Trombosit

: 259.000

Ro foto thorax PA : TB post primer


Penatalaksanaan:
IVFD Ringer laktat gtt XX / menit
Streptomycin 500 mg (IM) / hr
INH

300 mg

IxI

Rifampicin

450 mg 1 x I

Pyrazinamid

500 mg 2 x 1

Ethambutol

250 mg

2 x I

06-01-2006

Keadaan umum

Kesadaran

: Compos Mentis

GCS

: E4 M6 V5 = 15

Keluhan

: Tampak ringan

Sakit kepala, Panas, leher kaku, BAB blm selama 3 hari terakhir,

Vital sign
Tekanan darah

: 110/70 mmHg

Nadi

: 80 x/menit

RR

: 24 x/menit

Suhu

: 37,2 C

Kelopak mata :
Pupil

PTOSIS (+)
:

Bulat , Anisokhor, Kanan D = 4 mm, sentral, / 3

mm, sentral
Status Neurologik :Parese N. III
Tanda perangsangan selaput otak
Kaku kuduk

: (+)

Kernig test

: (+)

Lasseque test

: (+)

Brudzinsky I

: (+)

Brudzinky II

: (+)

Penatalaksanaan:
IVFD Ringer laktat gtt XX / menit
Streptomycin 500 mg (IM) / hr
INH

300 mg

IxI

Rifampicin

450 mg

1xI

Pyrazinamid

500 mg

2x 1

Ethambutol

250 mg

2 x I

15 mg

3 x I

Codein
Tes PPD 5-TU
07-01-2006

Keadaan umum

Kesadaran

: Compos Mentis

GCS

: E4 M6 V5 = 15

Keluhan

: Tampak sakit ringan

Sakit kepala, Panas, leher kaku, BAB + sedikit

Vital sign
Tekanan darah

: 120/70 mmHg

Nadi

: 80 x/menit

RR

: 22 x/menit

Suhu

: 37 C

Kelopak mata :
Pupil

PTOSIS (-)
Bulat, isokhor, sentral, D=3 mm

Status Neurologik :Parese N. III hilang


Tanda perangsangan selaput otak
Kaku kuduk

: (+)

Kernig test

: (+)

Lasseque test

: (+)

Brudzinsky I

: (+)

Brudzinky II

: (+)

Penatalaksanaan:
IVFD Ringer laktat gtt XX / menit
Streptomycin 500 mg (IM) / hr
INH

300 mg

IxI

Rifampicin

450 mg 1 x I

Pyrazinamid

500 mg 2 x 1

Ethambutol

250 mg

2 x I

Parasetamol

500 mg

3 x I

09-01-2006

Keadaan umum

Kesadaran

: Compos Mentis

GCS

: E4 M6 V5 = 15

Keluhan

: Tampak sakit berat

Sakit kepala,

Vital sign
Tekanan darah

: 110/70 mmHg

Nadi

: 80 x/menit

RR

: 24 x/menit

Suhu

: 36,7 C

Kelopak mata :
Pupil

PTOSIS (-)
Bulat, isokhor, sentral, D=3 mm

Status Neurologik :
Parese N. III (-)
Tanda perangsangan selaput otak
Kaku kuduk
Kernig test

: (+)
: (+)

Lasseque test

: (+)

Brudzinsky I

: (+)

Brudzinky II

: (+)

PPD 5TU FALSE negatif

Penatalaksanaan:
IVFD Ringer laktat gtt XX / menit
Streptomycin 500 mg (IM) / hr
INH

300 mg

IxI

Rifampicin

450 mg

1xI

Pyrazinamid

500 mg

2x 1

Ethambutol

250 mg 250

2 x I

Codein

15 mg

3 x I

11-01-2006
&
12-01-2006

Keadaan umum

Kesadaran

: Compos Mentis

GCS

: E4 M6 V5 = 15

Keluhan

: Tampak sakit berat

Sakit kepala hanya kadadang timbul

Vital sign
Tekanan darah

: 110/70 mmHg

Nadi

: 80 x/menit

RR

: 24 x/menit

Suhu

: 36,7 C

Kelopak mata :
Pupil

PTOSIS (-)
Bulat, isokhor, sentral, D=3 mm

Status Neurologik : Parese N. III (-)


Tanda perangsangan selaput otak

Kaku kuduk

: (-)

Kernig test

: (-)

Lasseque test

: (-)

Brudzinsky I

: (-)

Brudzinky II

: (-)

Penatalaksanaan:
IVFD Ringer laktat gtt XX / menit
Streptomycin 500 mg (IM) / hr
INH

300 mg

IxI

Rifampicin

450 mg

1xI

Pyrazinamid

500 mg

2x 1

Ethambutol

250 mg 250

2 x I

Codein

15 mg

3 x I

Meningitis Tuberkulosa
Definisi
Meningitis tuberkulosa ialah radang selaput otak akibat komplikasi tuberculosis primer-1.
Epidemiologi

Meningitis tuberkulosa masih banyak ditemukan di Indonesia karena morbiditas


tuberkulosis pada anak masih tinggi. Angka kejadian tertinggi dijumpai pada anak
terutama bayi dan anak kecil dengan kekebalan alamiah yang masih rendah 1. Pernyakit
ini menyerang semua usia. Insiden tertinggi pada usia 6 bulan 6 tahun. Jarang
ditemukan pada usia di bawah 6 bulan, hampir tidak pernah pada usia di bawah 3 bulan 2.
Insiden meningitis tuberkulosa sangat bervariasi dan bergantung kepada tingkat sosioekonomi dan kesehatan masyarakat, umur, status gizi serta factor genetic yang
menentukkan respon imun seseorang. Sejak tahun 1930-1953, Koch dan Carson
menemukan 23% kasus meningitis tuberkulasa dari 248 kasus meningitis bacterial.
Menurut Auerbach, insiden meningitis tuberkulosa sebanyak 42,2% dari 97 anak yang
meninggal karena tuberculosis3.
Patofisiologi
Meningitis tuberkulosa pada umumnya sebagai penyebaran tuberculosis primer, dengan
fokus infeksi di tempat lain. Biasanya fokus infeksi primer di paru, namun Blockloch
menemukan 22,8 % dengan fokus primer di abdomen, 2,1 % di kelenjar limfe leher dan
1,2 % tidak ditemukan adanya fokus primer. Dari fokus infeksi primer, basil masuk ke
sirkulasi darah melalui duktus torasikus dan kelenjar limfe ragional, dan dapat
menimbulkan infeksi berat berupa tuberkulosis milier atau hanya menimbulkan beberapa
focus metastase yang biasanya tenang.
Terjadinya meningitis bukanlah karena terinfeksinya selaput otak langsung oleh
penyebaran hematogen, melainkan biasanya sekunder melalui pembentukan tuberkel
pada permukaan otak, sumsum tulang belakang atau vertebra yang kemudia pecah ke
dalam rongga araknoid ( Rich dan McCordeck ). Kadang-kadang juga terjadi
perkontinuitatum dari mastoiditid atau spondilitis.
Pada

pemeriksaan

histologis,

meningitis

tuberkulosa

ternyata

merupakan

meningoencefalitis. Peradangan ditemukan sebagian besar pada dasar otak, terutama pada
batang otak (brain stem) tempat terdapat eksudat dan tuberkel. Eksudat yang serofirinosa
dan gelatinosa dapat menimbulkan obstruksi pada sisterna basalis dan mengakibatkan
hidrosefalus serta kelainan pada saraf otak. Tampak juga kelainan pada pembuluh darah

seperti arteritis dan flebitis yang menimbulkan penyumbatan. Akibat penyumbatan ini
dapat terjadi infark otak yang kemudian akan mengakibatkan pelunkan otak.
Patologi
Gambaran patologi pada meningitis tuberkulosa ada 4 tipe yaitu :
1. Disseminated military tubercles, seperti pada tuberculosis milier.
2. focal caseosa plaques, contohnya tuberkuloma yang sering menyebabkan meningitis
yang difus.
3. Acute inflammatory caseosa meningitis

Terlokalisasi, disertai perkijuan dari tuberkel, biasanya di korteks

Difus, dengan eksudat gelatinosa di ruang subaraknoid

4. Meningitis proliferatif:

Terlokalisasi, pada selaput otak

Difus dengan gambaran tak jelas.

Gambaran patologi ini tidak terpisah-pisah dan mungkin terkadi bersamaan pada setiap
pasien. Gambaran patologi tersebut dipengaruhi oleh beberapa factor, yaitu umur,
barat dan lamanya sakit, respon imun pasien, lama respon pengobtan yang diberikan,
virulensi dan jumlah basil juga merupkan factor yang mempengaruhi.
Gambaran klinis
Secara klinis kadang-kadang belum terdapat gejala meningitis nyata walaupun selaput
otak sudah terkena. Hal demikian terdapat pada tuberkulosis miliaris, sehingga pada
penyebaran miliar sebaiknya dilakukan pungsi lumbal walaupun gejala meningitis belum
tampak.
Pada fase awal belum timbul manifestasi neurologis, biasanya gejalanya tidak khas dan
timbul perlahan-lahan dan berlangsung 2 minggu sebelum timbul tanda-tanda rangsang
meningeal. Gejala berupa rasa lemah, kenaikan suhu yang ringan, anoreksia, tidak mau
bermain-main, tidurnya terganggu, mual, muntah, sakit kepala dan apatik. Pada bayi,
iritabel dan ubun ubun besar menonjol merupakan manifestasi yang sering ditemukan,
sedang pada anak yang lebih besar, mungkin tanpa demam dan timbul kejang yang
intermiten. Kejang bersifat umum dan didapatkan sekitar 10-15%. Kadang-kadang tanda

kenaikan tekanan intra cranial timbul, mendahului tanda rangsang meningeal. Stadium ini
berlangsung selama 1-3 minggu dan tuberkelnya pecah langsung ke dalam ruang
subaraknoid, maka fase ini berlangsung singkat dan langsung ke stadium III.
Fase selanjutnya disebut stadium meningitis, yang ditandai dengan memberatnya
penyakit. Pada fase ini terjadi rangsang pada selaput otak, sehingga sakit kepala dan
muntah menjadi keluhan utama. Pasien muntah dan sakit kepala yang terus-menerus,
menjadi mudah terangsang dan drowiness dan disorientasi. Pada anak usia dibawah 3
tahun iritabel dan muntah adalah gejala utamanya, sering sakit kepala jarang dikeluhkan;
sebaiknya pada anak yang lebih besar, sakit kepala adalah keluhan utamanya, dan
kesadaran makin menurun. Pada fase ini eksudat yang mengalami organisasi akan
mengakibatkan kelumpuhan saraf cranial dan hidrosefalus, gangguan kesadaran dan
papiledema ringan serta adanya tuberkel di koroid. Vaskulitis menyebabkan tanda
gangguan fokal, saraf kranial dan kadang-kadang medulla spinalis.
Mungkin timbul kelemahan otot, kehilangan sensori dan \bahkan pergerakan involunter
seperti hemibalismus atau hemikorea serta kejang dapat timbul pada setiap fase penyakit.
Hemiparesis mungkin timbul pada stadium ini, biasanya disebabkan iskemia atau infark.
Quadriparesis dapat terjadi akibat infark bilateral atau edema otak yang berat, sedang
monoparesis jarang ditemukan dan biasanya disebabkan lesi pada pembuluh darah.
Kaku kuduk yang timbulnya bertahap, tanda Kernig dan Brunzinski sering ditemukan
pada fase ini kecuali pada bayi.
Tanda peningkatan tekanan intrakranial menjadi lebih jelas, yaitu pembesaran kepala dan
penonjolan ubun-ubun besar pada bayi serta papiledema pada anak lebih besar; gejala
gejala hidrosefalus juga lebih jelas, yaitu berupa sakit kepala, diplopia dan penglihatan
kabur. Pada stadium selanjutnya sesuai dengan selanjutnya proses penyakit, maka
ganguan fungsi otak menjadi semakin jelas yaitu kesadaran makin menurun, iritabel dan
apatik, mengantuk, stupor dan koma, otot ekstensor menjadi kaku dan spasme sehingga
seluruh tubuh menjadi kaku dan timbul opistotonus, oleh karena dekortikasi atau
deserebrasi. Stadium ini berlangsung 2-3 minggu. Pupil melebar dan tidak bereaksi
sama sekali. Nadi dan pernafasan menjadi tidak teratur, timbul hiperpireksia dan akhirnya
pasien meninggal. Timbulnya gambaran klinis gangguan fungsi batang otak ini

disebabkan karena infark pada batang otak akibat lesi pembuluh darah atau stragulasi
oleh eksudat yang mangalami organisasi.
Lincoln membagi meningitis tuberkulosa menjadi 3 stadium, tiap stadium berakhir kirakira satu minggu. Stadium pertama atau stadium prodromal dengan gejala demam, sakit
perut, nausea, muntah, apatik atau iritabel, tetapi kelainan neurologis belum ada. Stadium
kedua atau stadium transisi, pasien menjadi tidak sadar, spoor, kelainan neurologis atau
paresis, tanda kernig dan Brudzinksi menjadi positif, refleks abdomen menghilang,
timbul klonus ankle dan patella. Saraf otak yang biasanya terkena adalah saraf otak III,
IV, VI dan VII. Tuberkel di koroid terdapat 10% pasien. Stadium ketiga atau terminal
pasien mengalami koma, pupil tidak beraksi, kadang-kadang timbul spasme klonik pada
ekstremitas, pernafasan tidak teratur, demam tinggi; hidrosefalus terjadi kira-kira dua
pertiga pasien, terutama yang penyakitnya berlangsung lebih dari 3 minggu. Hal ini
terjadi apabila pengobatan terlambat atau tidak adekuat.
Tiga stadium diatas biasanya tidak mempunyai batas yang jelas antara satu dengan yang
lainnya, namun jika tidak diobati umumnya berlangsung 3 minggu sebelum anak
meninggal.
Pemeriksaan penunjang
Pungsi lumbal penting sekali untuk pemeriksaan bakteriologik dan laboratorium lainnya.
Cairan serebrospinal berwarna jernih atau kekuning-kuningan (xantokrom), bila di
biarkan mengendap akan membentuk batang-batang, kadang-kadang dapat ditemukan
mikroorganisme didalamnya. Jumlah sel berkisar 200-500/mm 3, mula-mula sel PMN dan
limfosit dalam proporsi sama atau kadang sel PMN lebih banyak, selanjutnya limfosit
yang lebih banyak. Kadang-kadang jumlah sel pada fase akut dapat mencapai kurang
lebih 1000/mm3. kadar protein meninggi dan glukosa menurun.
Indikasi pungsi lumbal:
1. Setiap penderita dengan kejang atau twitching.
2. Adanya paresis atau paralysis
3. Koma
4. Ubun-ubun besar mononjol
5. Kaku kuduk dengan penurunan kesadaran

6. Tuberkulosis miliar
7. Leukemia
8. Spndilitis tuberkulosa
Pemeriksaan laboratorium rutin relatif tidak mempunyai arti, hanya laju endap darah
(LED) yang kadang-kadang meninggi.
Diagnosis meningitis tuberkulosa dapat ditegakkan secara cepat dengan pemeriksaan
PCR, ELISA dan aglutinasi lateks. Kultur cairan serebrospinal hanya memberi hasil
positif kira-kira setengahnya, dan hasilnya lama.
Diagnosis
Ditentukan atad dasar gambaran klinis serta terpenting ialah gambaran likuor
serebrospinal.
Diagnosis pasti hanya dapat bila ditemukan kuman tuberculosis dalam cairan otak. Uji
tuberculin yang positif, kelainan radiologis yang tampak pada foto toraks dan terdapat
sumber infeksi dalam keluarga hanya dapat menokong diagnosis. Uji tuberculin pada
meningitis tuberkulosa sering negatif karena anergi, terutama dalam stadium terminalis.
Komplikasi
Dapat terjadi akibat pengobatan yang tidak sempurna atau pengobatan yang terlambat.
Dapat terjadi cacat neurologis berupa paresis, paralysis sampai deserebrasi, hidrosefalus
akibat sumbatan, resorpsi berkurang atau produksi berlebihan dari likuor serebrospinal.
Anak juga dapat menjadi buta atau tuli dan kadang-kadang timbul retardasi mental.
Pengobatan
Dasar pengobatan meningitis tuberkulosa ialah pemberian kombinasi obat antituberkulosis dan ditambah dengan kortikosteroid, pengobatan simtomatik bila terdapat
kejang, koreksi dehidrasi akibat masukan makanan yang kurang atau muntah-muntah dan
fisioterapi. Umumnya dipakai kombinasi INH, rifampisin, pirazynamid, kalau berat dapat
ditambahkan etambutol atau streptomisin dengan dosis 30-50 mg/kgbb/ hari selama 3
bulan atau jika perlu diteruskan 2 kali seminggu selama 2-3 bulan lagi, samapi likuor
serebrospinal menjadi normal. Kortikosteroid biasanya diberikan berupa prednison

dengan dosis 2-3 mg/kgbb/hari (dosis minimum 20 mg/hari) dibagi 3 dosis selama 2-4
minggu, kemudian diturunkan 1 mg/kgbb/hari setiap 1-2 minggu.
Pemberian kortikosteroid seluruhnya selama 3 bulan dan dihentikan bertahap untuk
menghindarkan rebound phenomenon.
Prognosis
Sebelum ditemukan obat-obat anti-tuberkulosis, mortalitas meningitis tuberkulosa hampir
100%. Dengan obat-obat anti-tuberkulosis, mortalitas dapat diturunkan walaupun masih
tinggi yaitu berkisar 10-50%. Penyembuhan sempurna dapat juga dilihat. Gejala sisa
masih tinggi pada anak yang dapat mengatasi penyakit, terutama bila dating berobat
stadium yang lanjut. Saat permulaan pengobatan umunya menentukan hasil pengobatan.

Tuberkulosis meningitis
Dari Wikipedia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Tuberkulosis meningitis
Klasifikasi & sumber eksternal
ICD - 10

Sebuah 17,0, G 01.

ICD - 9

013,0, 322,9

eMedicine

neuro/385

MeSH

D014390

Tuberkulosis meningitis juga dikenal sebagai meningitis TBC atau TBC meningitis.
Tuberkulosis meningitis adalah Mycobacterium tuberculosis infeksi meninges-sistem
membran yang menyelubungi sistem saraf pusat. Ini adalah bentuk paling umum SSP
tuberkulosis.
Isi
[hide]

1 klinis
2 Patologi
3 Diagnosis
o
3,1 tes amplifikasi asam nukleat (Dewi)
o
3,2 Imaging
4 Pengobatan

5 Referensi

[Sunting] klinis
Demam dan sakit kepala adalah fitur kardinal. Kebingungan adalah fitur terlambat dan
koma beruang prognosis yang buruk. Meningism tidak hadir dalam seperlima pasien
dengan meningitis TB. Pasien mungkin juga memiliki defisit neurologis fokal.
[Sunting] Patologi
Mycobacterium tuberculosis dari meninges adalah fitur kardinal dan peradangan
terkonsentrasi menuju dasar otak. Ketika peradangan di daerah subarachnoid batang
otak, akar saraf kranial mungkin akan terpengaruh. Gejala akan meniru orang-orang
yang menempati ruang-luka. [1] Infeksi dimulai di paru-paru dan bisa menyebar ke
Meninges oleh berbagai rute.
Darah-borne menyebar pasti terjadi dan 25% dari pasien dengan TBC malaria telah TB
meningitis, mungkin dengan menyeberangi sawar darah-otak [2]; tetapi proporsi pasien
dapat memperoleh TB meningitis dari pecahnya fokus yang kortikal di otak (a disebut
Kaya fokus); proporsi yang lebih kecil mendapatkannya dari kurus pecahnya fokus
dalam tulang belakang. Jarang dan tidak biasa untuk TBC tulang belakang menyebabkan
TBC dari sistem saraf pusat, tetapi kasus terisolasi telah dideskripsikan.
[Sunting] Diagnosis
Diagnosis meningitis TB dibuat dengan menganalisis CSF dikumpulkan oleh tusukan
lumbalis. Ketika mengumpulkan CSF untuk tersangka TB meningitis, minimal 1 ml
fluida harus diambil (sebaiknya 5 sampai 10 ml).

The CSF biasanya memiliki protein tinggi, rendah glukosa dan mengangkat jumlah
limfosit. Asam-cepat basil kadang-kadang terlihat pada CSF smear, tetapi lebih umum,
M. TB tumbuh dalam budaya. Sarang labah-labah bekuan dalam CSF merupakan
karakteristik dikumpulkan TB meningitis, tetapi adalah temuan langka.
ELISPOT pengujian tidak berguna untuk diagnosa TBC akut meningitis dan sering kali
palsu negatif, [3] tetapi mungkin secara paradoks menjadi positif setelah perawatan telah
mulai, yang membantu untuk mengkonfirmasikan diagnosis. [4]
Lebih dari setengah kasus meningitis TB tidak dapat dikonfirmasi microbiologically, dan
pasien ini diperlakukan berdasarkan kecurigaan klinis saja. Budaya TB dari CSF
mengambil minimal dua minggu, dan oleh karena itu sebagian besar pasien dengan
meningitis TB yang mulai pengobatan sebelum diagnosis dikonfirmasi.

[Sunting] tes amplifikasi asam nukleat (Dewi)


Ini adalah kelompok heterogen tes yang menggunakan polymerase chain reaction (PCR)
untuk mendeteksi asam nukleat Mycobacterial. Tes ini bervariasi di mana
sekuens asam nukleat mereka mendeteksi dan bervariasi dalam kebenarannya.
Dua yang paling umum tersedia secara komersial tes adalah mycobacterium
tuberkulosis diperkuat tes langsung (MTD, Gen-Probe) dan Amplicor. Pada tahun
2007, sebuah review sistematis Dewi oleh NHS Program Penilaian Teknologi
Kesehatan menyimpulkan bahwa untuk mendiagnosis tuberkulosis meningitis
"Individual, tes yang AMTD muncul untuk melakukan yang terbaik (sensitivitas
74% dan spesifisitas 98%) [halaman 87]" [5]. Dalam NHS meta-analisis, mereka
menemukan prevalensi yang terkumpul meningitis TB menjadi 29% [halaman
85], namun ada banyak heterogenitas dalam kepekaan yang dilaporkan. Dengan
menggunakan kalkulator klinis, angka-angka ini menghasilkan nilai prediksi
positif 94% dan nilai prediksi negatif 90%, namun 30% prevalensi mungkin tinggi
karena arahan bias. Alternatif perkiraan prevalensi penyakit dapat dimasukkan ke
dalam kalkulator klinis untuk memperbaiki prediksi values.These intcances
bervariasi dari pasien ke pasien sesuai dengan patologi.
[Sunting] Imaging
Studi imaging seperti CT atau MRI mungkin menunjukkan ciri-ciri sangat sugestif TB
meningitis, tetapi tidak dapat mendiagnosis itu.
[Sunting] Perawatan
Lihat: perawatan TBC
Pengobatan meningitis TB adalah isoniazid, rifampicin, Pyrazinamide dan ethambutol
selama dua bulan, diikuti dengan isoniazid dan rifampisin saja untuk sepuluh bulan.
Steroid selalu digunakan dalam enam minggu pertama pengobatan (dan kadang-kadang

lebih lama). [6] Beberapa pasien mungkin memerlukan immunomodulatory agen seperti
thalidomide.
Perawatan harus dimulai segera setelah ada kecurigaan yang masuk akal dari diagnosis.
Perawatan tidak dapat ditunda sambil menunggu konfirmasi diagnosis.
Hydrocephalus terjadi sebagai komplikasi di sekitar sepertiga dari pasien yang
mempunyai TBC meningitis dan akan memerlukan shunt ventrikuler.
[Sunting] Referensi
1.
2.

3.

4.
5.

6.

^ P1301 Robbins dan Cotran, Pathologic Dasar Penyakit, 8th edition


^ Jain SK, Paul-Satyaseela M, Lamichhane G, et al. (Mei 2006).
"Mycobacterium tuberculosis invasi dan traversal invitro manusia melintasi sawar
darah-otak sebagai mekanisme patogenik untuk sistem saraf pusat tuberkulosis".
J. Infect. Dis. 193 (9): 1287-95. DOI: 10.1086/502631. PMID 1.658.636.
^ Simmons CP, Thwaites GE, Quyen NT, et al. (2006). "Pretreatment
intraserebral dan respon imun darah perifer dalam Vietnamese orang dewasa
dengan tuberkulosis meningitis: nilai diagnostik dan hubungannya dengan
keparahan penyakit dan hasil". J Immunol 176 (3): 2007-14. PMID 16424233.
^ Kim SH, Kim YS (2009). "The kekebalan paradoks dalam diagnosis
tuberkulosis meningitis". Clin Immunol vaksin. PMID 19846679.
^ Dinnes J, Deeks J, Kunst H, Gibson A, Cummins E, Waugh N, Drobniewski M,
Lalvani A (2007). "Tinjauan sistematis tes diagnostik cepat untuk mendeteksi
infeksi tuberkulosis". Health Technol Assess 11 (3): 1-314. PMID 17266837.
Http://www.hta.nhsweb.nhs.uk/project/1247.asp .
^ Thwaites GE, Nguyen DB, Nguyen HD, et al. (2004). "Deksametason untuk
perawatan tuberkulosis meningitis pada remaja dan orang dewasa". N Engl J Med
351 (17): 1741-1751. PMID 15496623.

[show]
lde
Penyakit menular bakteri penyakit: G + (terutama A00-A79, 001-041, 080-109)

Basil

Lactobacillales
Streptococcus
(Cat-)

optochin rentan: S. pneumoniae


(infeksi Pneumococcal)
Alfa
optochin resistant: S. viridans (S.
hemolitikmitis, S. mutans, S. oralis, S.
sanguinis, S. sobrinus, kelompok
milleri)
Beta
A, bacitracin rentan: S. pyogenes
hemolitik(Scarlet fever, Erisipelas, demam
rematik, faringitis streptococcus)

B, bacitracin tahan, uji CAMP +: S.


agalactiae
Gamma
D, BEA +: Streptococcus bovis
hemolitik
BEA +: Enterococcus faecalis (infeksi saluran
Enterococcus kencing) Enterococcus faecium
Cg + S. aureus (stafilokokus sindrom kulit
tersiram air panas, Toxic shock syndrome,
MRSA)
Staphylococcus
Cg-novobiocin rentan (S. epidermidis)
novobiocin resisten (S. saprophyticus)

Bacillales
(Cat +)
Basil

Bacillus anthracis (Anthrax) Bacillus cereus


(keracunan makanan)

Listeria

Listeria monocytogenes (Listeriosis)

Clostridium
(sporapembentukan)
Clostridia

yg dpt mengubah tempat: Clostridium difficile


(pseudomembranosa kolitis) Clostridium botulinum
(botulisme) Clostridium tetani (Tetanus)
nonmotile: Clostridium perfringens (gas gangren,
klostridial fasiitis enteritis)

Peptostreptococcus
Peptostreptococcus magnus
(non-spora
membentuk)
Ureaplasma urealyticum (Ureaplasma infeksi)
Mycoplasma genitalium Mycoplasma pneumoniae
Mycoplasmataceae
(Mycoplasma pneumonia)
Mollicutes
Anaeroplasmatales

Actinomycineae

Erysipelothrix rhusiopathiae (Erysipeloid)

Actinomycetaceae

Actinomyces israelii (Actinomycosis)


Tropheryma whipplei (Whipple's disease)

Propionibacteriaceae

Propionibacterium acnes

M. TBC / M.
bovis

Tuberkulosis: Ghon fokus / Ghon


yang kompleks penyakit Pott
otak (Meningitis, Kaya fokus)
kutan (penyakit kelenjar, penyakit
Bazin, Lupus vulgaris, Prosector's
wart) malaria perikarditis
tuberkulosis

M. leprae

Kusta

Mycobacteriaceae

R1: M. kansasii M. marinum


R2: M. gordonae

Corynebacterineae

R3: M. avium complex (MAA,


NontuberculousMAP, MAI, Lady Windermere
Syndrome) M. ulcerans (Buruli
ulkus) M. haemophilum
R4: M. fortuitum M. chelonae
Nocardiaceae

Nocardia asteroides / Nocardia brasiliensis


(Nocardiosis) Rhodococcus equi

Corynebacterium diphtheriae (Difteri)


Corynebacterium minutissimum (Erythrasma)
Corynebacteriaceae
Corynebacterium jeikeium

Bifidobacteriaceae

Gardnerella vaginalis

[show]
lde
Penyakit meninges (G00-G03, 320-322)

TB MENINGITIS
TB meningitis adalah relatif tidak biasa di Inggris. Tuberkulosis (TBC) meningitis
TB terjadi ketika bakteri (Myobacterium tuberkulosis) menyerang selaput dan
cairan yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang. Infeksi biasanya
dimulai di tempat lain di dalam tubuh, biasanya di paru-paru, dan kemudian
bergerak melalui aliran darah ke Meninges tempat abses kecil (disebut
microtubercles) terbentuk. Bila abses ini pecah, TB meningitis adalah hasilnya.
Di daerah di mana prevalensi TB tinggi, meningitis TBC paling sering terjadi
pada anak-anak usia 0 - 4 tahun, dan di daerah-daerah di mana prevalensi TB
rendah, sebagian besar kasus meningitis TB pada orang dewasa adalah 1.
Imunisasi dengan vaksin BCG memberikan 75% perlindungan di Inggris
pengaturan 2 dan sampai baru-baru ini anak-anak secara rutin divaksinasi di
sekolah (antara usia 10 - 14), kecuali kulit-tes menunjukkan bahwa mereka
sudah kebal. Di Inggris, perubahan saat ini sedang diperkenalkan pada program
vaksinasi BCG dan sekolah-sekolah nasional 'program berbasis dihentikan pada
bulan September 2005. Setelah meninjau statistik dan data ilmiah, pemerintah
Inggris sekarang merekomendasikan bahwa kelompok-kelompok risiko berikut
vaksinasi BCG ditawarkan 3:

Semua bayi yang tinggal di daerah di mana kejadian TB adalah 40 per


100.000 atau lebih.

Bayi dan anak-anak yang sebelumnya tidak divaksinasi orang tua atau

kakek-nenek lahir di negara dengan kejadian TBC 40 per 100.000 atau lebih
tinggi.
Sebelumnya tidak divaksinasi imigran baru di bawah usia 16 tahun dari

negara-negara prevalensi tinggi untuk TB.


Orang dengan pekerjaan di mana terdapat risiko tinggi kontak dengan
pasien yang terinfeksi, hewan atau bahan klinis misalnya pekerja perawatan
kesehatan, perawatan rumah dll staf

Anak-anak yang akan sebaliknya BCG telah ditawarkan melalui sekolah


'program dan yang memiliki faktor-faktor risiko tertentu harus divaksinasi
sebagaimana mestinya.
Pemerintah Irlandia merekomendasikan bahwa vaksinasi BCG sebaiknya
diberikan kepada bayi yang baru lahir 4, tapi juga dapat diberikan kepada anakanak dan orang dewasa yang lebih tua dianggap beresiko mengembangkan TB 5.
Orang dengan infeksi TBC hanya berisiko bagi orang lain ketika mereka
sputum-smear positif; yang berarti bakteri ada dalam dahak yang diproduksi oleh
batuk. Berkepanjangan, kontak rumah tangga biasanya diperlukan untuk TBC
untuk diteruskan. Rumah Tangga kontak orang dengan TB biasanya diberikan
antibiotik untuk mencegah infeksi, kulit kemudian diuji divaksinasi jika belum
kebal. Penangkapan Risiko penyakit di sekolah itu kecil - anak-anak jarang
smear-positif. Smear negatif anak-anak dengan infeksi TBC dapat menghadiri
sekolah seperti biasa. Smear-positif biasanya anak-anak dapat kembali ke
sekolah dua minggu setelah memulai antibiotik 6.
Diagnosis meningitis TB bahkan lebih sulit dibandingkan dengan bentuk-bentuk
lain dari bakteri meningitis. Hal ini karena itu tidak datang tiba-tiba dengan gejala
meningitis klasik.
Meningitis TB biasanya dimulai dengan samar-samar, tidak spesifik gejala sakit
dan nyeri, demam ringan, umumnya merasa tidak sehat, lelah, mudah
tersinggung, tidak bisa tidur atau makan dengan benar, dan berangsur-angsur
memperburuk sakit kepala. Hal ini berlangsung selama dua sampai delapan
minggu. Pada orang tua, gejala bahkan lebih halus, sering hanya mengantuk dan
merasa tidak sehat.

Hal ini tidak sampai minggu kemudian yang lebih jelas gejala seperti muntah,
sakit kepala parah, tidak menyukai cahaya, leher kaku dan kejang terjadi. Tanpa
perawatan medis, penyakit kemajuan akan menyebabkan kebingungan, jelas
tanda-tanda kerusakan saraf dan akhirnya menyebabkan koma.
Pengobatan umumnya berlangsung selama sekitar satu tahun, yang melibatkan
perawatan intensif dengan tiga atau empat antibiotik pada awalnya dan terusmenerus dengan dua antibiotik selama sekitar 10 bulan lagi. TBC meningitis
cenderung lebih parah daripada bentuk-bentuk lain dari meningitis. Walaupun
70-85% dari mereka yang terkena dampak akan bertahan, hingga seperempat
dari mereka mungkin memiliki jangka panjang setelah efek. Hal ini terutama
karena sangat sulit untuk mengenali penyakit pada tahap awal. Pada saat
pengobatan dimulai, mungkin ada kerusakan pada jaringan otak serta saraf dan
pembuluh darah di daerah sekitar otak. Jika perawatan dimulai sebelum pasien
menunjukkan tanda-tanda kerusakan otak, ada kesempatan baik membuat
pemulihan penuh.
Pada abad ke-20, kejadian TB menurun drastis di negara-negara industri, dan
kasus-kasus meningitis TB menurun sesuai. Pada akhir tahun 1940-an ada
2.000 kasus meningitis TB setiap tahun di Inggris dan Wales, tetapi pada tahun
1990-an ini telah jatuh ke kurang dari 100 kasus. Namun, TB dan TB meningitis
adalah masalah utama di seluruh dunia, dan kasus-kasus TB meningkat di
negara-negara industri. Dua ratus lima puluh sembilan kasus meningitis TB yang
dilaporkan di Inggris dan Wales pada tahun 2006, dibandingkan dengan rata-rata
dari 115 kasus per tahun antara 1998 dan 2000 7. Di Irlandia (2006) jumlah
kasus meningitis TB diberitahu secara nasional adalah 6 8.
1. G Thwaites, ke-/ Chau, Nth Mai, M Drobniewski, K McAdam, J Farrar.
Tuberculosis meningitis. J Neurol Neurosurg Psychiatry 2000; 68:289-299.
Http://jnnp.bmjjournals.com/cgi/content/full/68 / 3 / 289 (diakses 5 Juli
2007)
2. Aku Sutherland, VH Springett. Efektivitas ofBCGvaccinationinEngland &
Walesin1983. Tubercle1987; 68 (2) :81-92.
Http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?
cmd=Retrieve&db=pubmed&dopt=Abstract&list_uids=3660468&query_hl
= 8 (diakses 13 Juli 2007)

3. Departemen Kesehatan. Imunisasi terhadap penyakit infeksi. Bab 32


Tuberkulosis. 2006.
Http://www.dh.gov.uk/en/Policyandguidance/Healthandsocialcaretopics/Gr
eenbook/DH_4097254 (diakses 5 Juli 2007)
4. Departemen Kesehatan dan Anak-anak - Imunisasi Pedoman untuk
Irlandia
http://www.dohc.ie/publications/immunisation_guidelines_for_ireland.html
(diakses 13 Juli 2007)
5. Eksekutif Pelayanan Kesehatan Imunisasi. BCG.
Http://www.immunisation.ie/en/ChildhoodImmunisation/BCG/ (diakses 13
Juli 2007)
6. TB Alert (Reg. Charity 1.071.886). Tentang tuberkulosis: perawatan.
Http://www.tbalert.org/tuberculosis/treatment.php (diakses 13 Juli 2007)
7. Health Protection Agency, menurut Undang-Undang Notifikasi of
Infectious Diseases (NOIDs) untuk Inggris dan Wales. Sementara 2006
Data Midi Laporan.
Http://www.hpa.org.uk/infections/topics_az/noids/archive.htm (diakses 5
Juli 2007)
8. Perlindungan kesehatan Surveillance Centre. Penyakit meningokokus
invasif dan bentuk lain bakteri Meningitis di Irlandia