Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Resin urea formaldehidrasin merupakan resin hasil kondensasi urea

(CO(NH2)2) dan formaldehid (CH2O). Reaksi ini disebut reaksi polimerisasi


kondensasi karena terjadi reaksi antara dua buah molekul/ gugus fungsi dari
molekul (antara gugus amida & aldehid) yang membentuk molekul yang lebih
besar dan melepaskan molekul-molekul kecil seperti air &alkohol. Resin ini
termasuk kedalam resin thermosetting yang tahan terhadap asam, basa, tidak larut,
& tidak mudah meleleh jika dipanaskan. Oleh karena resin jenis ini banyak
digunakan dalam industri kertas dan tekstil. Mengingat banyaknya penggunaan
resin ini, maka kiranya perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk memperoleh
resin urea formaldehid yang lebih banyak & lebih bagus kualitasnya dengan cara
memvariasikan variabel yang mempengaruhi jalannya reaksi pembentuk resin.
1.2

Tujuan
Tujuan dari dilakukannya percobaan ini adalah sebagai berikut :

1. Mempelajari pengaruh perubahan kondisi reaksi pada kecepatan reaksi dan


hasil reaksi, pada tahap intermediete.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Urea
Urea adalah suatu senyawa organik yang terdiri dari unsur karbon,

hidrogen, oksigen, dan nitrogen dengan rumus CON 2H4 atau (NH2)2CO Urea juga
dikenal dengan nama carbamide yang terutama digunakan di kawasan Eropa.
Nama lain yang juga sering dipakai adalah carbamide resin, isourea, carbonyl
diamide dan carbonyldiamine. Senyawa ini adalah senyawa organik sintesis
pertama yang berhasil dibuat dari senyawa anorganik, yang akhirnya meruntuhkan
konsep vitalisme.

Gambar 2.1 Struktur Urea


Bahan dasar pembuatan urea adalah amoniak (NH3) dan karbondioksida (CO2)
yang dibuat pada suhu dan tekanan yang tinggi. Beberapa kegunaan dari urea
adalah sebagai berikut :
a)
b)
c)
d)

Pupuk tanaman
Bahan dasar melamine
Resin urea formaldehid
Nutrisi untuk binatang mamalia
Sifat-sifat dan kenampakan urea (NH2CONH2) yakni urea berupa kristal

berwarna putih, tidak mudah terbakar, menghantarkan listrik dan sifat fisis sebagai
berikut :

No

Sifat Fisika

Keterangan

1
2
3
4
5

2.2

Berat Molekul
60,056 gr/mol
Densitas ( padat pada 20 oC)
1,335 gr/ ml
Titik lebur
132,6oC
Spesific heat (lebur)
126 J/mol oC
Panas peleburan (titik lebur)
136 kJ/mol
Tabel 2.1 Sifat fisika Urea
Formaldehid
Formaldehid adalah suatu bahan kimia dengan rumus umum HCHO atau

CH2O. formaldehida yang juga disebut metanal yang merupakan aldehida yang
berbentuk gas. Pada suhu normal dan tekanan atmosfer formaldehide berada
dalam bentuk gas yang tidak berwarna yang berbau sangat merangsang, beracun,
mudah larut dalam air dengan berat molekul 30,03. Formaldehid dalam bentuk
padat disebut trioksan (CH2O)3 yaitu bentuk polimer ada formaldehid, dengan
formaldehid 8 -100 unit., tetapi pada suhu 150 oC formaldehid akan terkomposisi
menjadi metanol dan karbon monoksida. Formaldehid dapat dihasilkan dari
membakar bahan yang mengandung karbon, misalnya: asap knalpot kendaraan,
kebakaran hutan, asap tembakau, dan lain-lain. Formaldehid dalam kadar kecil
sekali juga dihasilkan seperti metabolit kebanyakan organisme, termasuk manusia.
Formaldehida awalnya disintesa (dibuat) oleh kimiawan asal Rusia Aleksander
Butlerov tahun 1859, tapi diidentifikasi oleh Hoffman tahun 1867. Formaldehid
memiliki banyak nama, seperti : formalin, formol, meil aldehid, metilen oksida,
paraforin, tri oxane, formoform. Berikut sifat fisika dan kimia formaldehid :

No
1
2
3
4

Sifat Fisika
Berat Molekul
Densitas ( gas)
Titik lebur
Titik didih (gas)

Keterangan
30,03 gr/mol
1,10 gr/ ml
-118oC
-19oC

Titik didih (cair)


96oC
Konstanta Henry
0,02 Pa m3/mol
Tekanan Uap (-19oC) & (-33oC)
101,3 Kpa & 52,6 KPa
Kekuatan dalam air
> 100 g/100 ml (20oC)
Tabel 2.2 Sifat fisika formaldehid

5
6
7
8

Sifat kimia:
a.Reaksi dengan air
Formaldehid dengan adanya air dapat membentuk methylenglikol
b.Reaksi dengan asetaldehid
Formaldehid

dengan

asetaldehid

dalam

larutah

NaOH

dapat

membentuk pantaerythritol dan sodium format.


CH2=O+CH3-CHO+ NaOHC(CH2OH)2+ HCOONa
c.Reaksi dengan asetilen
Dengan asetilen akan membentuk 2-butene-1,4 diol yang dapat
dihidrogenasi membentuk 1,4 butendiol
CHO + C2H2HOCH2C=CCH2OH
HOCH2C=CCH2OH + 2 H2HO(CH2)4OH
Formaldehid larut dalam eter, benzen, pelarut organik, dan tidak larut
dalam kloroform. Walaupun formaldehida menampilkan sifat kimiawi seperti
pada umumnya aldehida, senyawa ini lebih reaktif daripada aldehida lainnya.
Formaldehida merupakan elektrofil, dapat dipakai dalam reaksi subtitusi aromatik
elektrofilik dan senyawa aromatik serta bisa mengalami reaksi adisi elektrofilik
dan alkena karena keadaannya katalis basa, formaldehida bisa mengalami reaksi
Cannizaro yang menghasilkan asam format (HCOOH) dan metanol. Formaldehida
bisa membentuk trimer siklik, 1, 3, 5-trioksan atau polimer linier polioksimetilen.
Formasi zat ini menjadikan tingkah laku gas formaldehida berbeda dari hukum
gas ideal, terutama dalam tekanan tinggi atau udara dingin. Formaldehida bisa dioksidasi oleh oksigen atmosfir menjadi asam format, karena itu larutan
formaldehida harus ditutup serta diisolasi supaya tidak kemasukan udara.

Meskipun dalam udara bebas formaldehida berada dalam wujud gas, tetapi
dapat larut dalam air (biasanya dijual dalam kadar larutan 37% menggunakan
merk dagang formalin atau formal). Untuk digunakan sebagai pengawet perlu
ditambahkan 15% metanol sebagai katalisator agar formalin tidak berubah
menjadi zat yang lebih beracun yaitu: paraformaldehid. Dalam air, formaldehida
mengalami polimerisasi, sedikit sekali yang ada dalam bentuk monomer H2CO.
Umumnya, larutan ini mengandung beberapa persen metanol untuk membatasi
polimerisasinya.
Formalin adalah larutan formaldehida dalam air, dengan kadar antara 10%40%. Cara menyimpan formalin adalah dengan cara : tidak disimpan pada suhu
dibawah 15oC, tempatnya harus dalam baja tahan karat, tidak boleh dalam baja
biasa, harus di alumunium murni, polietilen, poliester yang dilapisi fiberglass, bila
menggunakan alumunium tidak boleh diatas 60oC.
2.3

Polimerisasi
Polimer adalah suatu senyawa yang terbentuk dari dua molekul atau lebih

dengan rantai yang panjang. Molekul dan berat molekulnya besar. Unit-unit
molekulnya dikenal sebagai monomer-monomer yang berikatan secara berangkairangkai . Monomer ini bisa berulang berkali-kali .
Berdasarkan jenis ikatannya , polimer dibedakan menjadi 2 yaitu:
Homopolimer yaitu polimer yang terbentuk dari monomer-monomer yang
sejenis .
Kopolimer yaitu polimer yang terbentuk dari monomer-monomer tak sejenis.

Berdasarkan mekanisme reaksinya , proses polimerisasi dibagi menjadi dua yaitu :


Polimerisasi adisi, terjadi jika monomer-monomer mengalami reaksi adisi
tanpa terbentuk zat lain. Jadi yang terbentuk hanya polimer yang merupakan
penggabungan monomer-monomernya .

Polimerisasi kondensasi , yaitu reaksi dari dua buah molekul atau gugus fungsi
dari molekul (biasanya senyawa organik) yang membentuk molekul yang lebih
besar dan melepaskan molekul yang lebih kecil yaitu air .
2.4

Resin Urea Formaldehid


Resin urea formaldehid adalah suatu polimer yang dihasilkan dari

polimerisasi-kondensasi antara urea dengan formaldehid, dimana resin ini


termasuk dalam kelas thermosetting resin yang mempunyai sifat tahan terhadap
asam, tahan terhadap basa, dan tidak meleleh. Resin urea-formaldehid atau biasa
disebut resin urea adalah resin termoset yang didapat lewat reaksi urea dan
formalin, dimana urea dan formaldehid (37% formalin) bereaksi dalam alkali
netral dan lunak. Untuk resin cetakan, ditambah 97-160 gram formalin 37% (1,22,0 mol sebagai formaldehid pada 60 gram (1 mol) urea), dan pH diatur sampai 78,5 dengan air ammonia, larutan natrium hidroksida dalam air, trietanolamin, dan
sebagainya, dan biarkan reaksi berturut-turut untuk 2-3 jam pada suhu 40 oC atau
1,0-1,5 jam pada 70oC. Larutkan kondensat awal yang didapat dalam
heksametilentetramin 1-8% (heksamin), dan tambahkan 29-48 gram bubur
selulosa (-selulosa) dan campurkan secukupnya untuk kira-kira 1 jam. Makin
sedikit bubur selulosa yang terdapat sebagai pengisi, semakin transparan produk
yang didapat, tetapi berkurang kekuatannya, menyusut lebih banyak dan lebih
mudah retak. Resin campuran ini dikeringkan untuk 2-3 jam mulai 60 oC sampai
90-95oC, didehidrasi dan dikondensasi. Bahan yang kering kemudian dibubukkan
untuk 20-48 jam, lalu ditambahkan bahan pewarna, pemplastis, pengeras (asam
oksalat, asam ftalat, amonium ftalat dan garam-garam lain). Di samping itu, bahan
digunakan sebagai perekat, cat, pengubah kertas dan serat (formalin sisa dilarang
menurut hukum). Resin urea sendiri lebih jelek dari pada resin fenol, resin
melamin, dan sebagainya,dalam hal ketahanan air , kestabilan dimensi dan
ketahanan terhadap penuaan, karena itu, beberapa bahan lain ditambahkan, atau
diproses menjadi kopolimer dengan fenol, melamin dan sebagainya, untuk
memperbaiki sifat-sifat tersebut diatas dilakukan :
a.Pencetakan

Proses yang dipakai yaitu pencetakan tekan, pengalihan dan injeksi. Dalam
pencetakan tekan, bahan diproses pada temperature cetakan 130-150oC, tekanan
150-300 kg/cm2, selama 30-40 detik per 1 mm ketebalan dari benda cetakan.
b. Penggunaan
Bila benda cetakan kaku, tahan terhadap pelarut dan busur listrik, jernih
dan dapat diwarnai secara bebas, maka bahan ini banyak digunakan untuk barangbarang kecil yang diperlukan sehari-hari seperti perlindungan cahaya, soket, alatalat listrik, kancing, tutup wadah, kotak, baki dan mangkuk. Beberapa
permasalahan yang masih ada yaitu ketahanan terhadap penuaan dan ketahanan
terhadap air. Permintaan terhadap urea-formaldehid dewasa ini belum meningkat.
Reaksi pembentukan resin urea formaldehid secara umum berlangsung dalam 3
tahap yakni inisiasi, propagasi (kondensasi), dan proses curing.
1. Tahap metilolasi, yaitu adisi formaldehid pada gugus amino dan amida dari
urea, dan menghasilkan metilol urea
2. Tahap selanjutnya propagasi, yaitu reaksi kondensasi dari monomer-monomer
mono dan dimetilol urea membentuk rantai polimer yang lurus
3. Tahap terakhir adalah proses curing yaitu ketika kondensasi tetap berlangsung,
polimer membentuk rangkaian 3 dimensi yang sangat kompleks dan menjadi
resin thermosetting. Resin thermosetting mempunyai sifat tahan terhadap asam,
basa, serta tidak dapat melarut dan meleleh. Reaksinya adalah :
H2N - CO - NH - CH2OH + n H2N - CO - NH - CH2OH NCHN- CO
NH CH2 + ( 2n+1) H2O

2.4

Faktor-faktor

Yang

Formaldehid
a) Perbandingan umpan

Mempengaruhi

Reaksi

Kondensasi

Urea

Umumnya umpan urea atau formalin yang digunakan tidak lebih dari
dua. Besarnya perbandingan mol umpan formalin dengan urea sangat
mempengaruhi pada produk (polimer) yang dihasilkan, bila perbandingan
umpan kurang dari 2, maka resin yang dihasilkan memiliki kadar formalin
yang rendah dan menghasilkan polimer yang kekerasan dan kepadatannya
rendah, sedangkan bila perbandingan umpan lebih dari 2 maka resin yang
dihasilkan memiliki kadar formalin yang tinggi dan menghasilkan polimer
yang kekerasan dan kepadatannya tinggi.
b) Pengaruh pH
Kondisi reaksi sangat berpengaruh terhadap reaksi atau hasil reaksi
selama proses kondensasi polimerisasi terjadi. Dalam suasana asam akan
terbentuk senyawa Goldsmith dan senyawa lain yang tidak terkontrol sehingga
molekul polimer yang dihasilkan rendah .
Senyawa Goldsmith :

CH2

CH2OH

CH2

Senyawa Goldsmith tidak diinginkan karena mempunyai rantai polimer lebih


pendek tetapi stabil terhadap panas.
Dalam suasana basa kuat, formaldehid akan bereaksi secara disproporsionasi
dimana sebagian akan teroksidasi menjadi asam karboksilat dan sebagian
tereduksi menjadi alkohol. Reaksi yang terjadi adalah :
2H

CO

OH-

CO

O + CH3OH

Formaldehid

basa kuat

asam karboksilat

alkohol

c) Katalis
Katalis adalah zat yang meningkatkan laju reaksi kimia tetapi zat itu
tidak mengalami perubahan kimia yang permanen. Katalis menimbulkan
lintasan alternatif bagi jalannya reaksi, dengan energi aktivasi yang lebih
rendah. Katalis ini menyerap panas (pada proses curing) agar mengatur
penguapan supaya tidak gosong dan temperatur reaksi tidak melebihi titik
leleh dari resin yang terbentuk.
d) Temperatur reaksi
Temperatur reaksi tidak boleh melebihi titik lelehnya karena dimetilol
urea yang terjadi akan kehilangan air dan formaldehid. Menurut Kadowaki
dan Hasimoto, temperatur optimum reaksi adalah 85oC. Kenaikan temperatur
akan mempercepat laju reaksi, hal ini dapat ditunjukkan dengan persamaan
Arrhenius yaitu :
K = A e-Ea/RT
e) Buffer
Buffer ( larutan penyangga ) adalah larutan yang dapat mengendalikan
perubahan pH reaksi bila asam atau basa ditambahkan, atau bila larutan
diencerkan. Buffer ini digunakan untuk menjaga agar reaksi tetap berlangsung
pada rentang pH antara 8 sampai 10 sehingga reaksi dapat berjalan stabil.
Buffer yang sering dipakai adalah Na2CO3.H2O .

f) Kemurnian zat umpan


Zat umpan yang digunakan harus murni karena adanya zat pengotor
dikhawatirkan akan mempengaruhi terbentuknya polimer atau terjadinya
reaksi samping .

DAFTAR PUSTAKA
1) Team Lab TK UNJANI, 2011, Diktat Petunjuk Praktikum Laboratorium
Teknik Kimia II, Fak. Teknik, Universitas Jenderal Achmad Yani, Cimahi.

2) http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-polimer/klasifikasi
polimer/polimer-berdasarkan-reaksi-pembentukannya/
3) http://mbahinox.wordpress.com/2009/03/25/karakteristik-senyawa-dalampembuatan-urea-dan-reaksi/
4) http://id.wikipedia.org/wiki/Urea
5) http://wapedia.mobi/id/Urea

LAMPIRAN A
DATA PERCOBAAN
A.1

Data Literatur

A.2

a) Berat molekul urea

= 60,056 gr/mol

b) Berat molekul formalin

= 30,03 gr/mol

c) Konstanta Mark Howink

= 2*10-4 ; a= 0,8

d) Densitas formalin

= 1,1 gr/ml

e) Densitas air (250C)

= 0,997 gr/ml

f) Viskositas air (250C)

= 0,874*10-3

Data Percobaan
a) F/U

= 1,75

b) Volume formalin

= 600 ml

c) Massa urea

= 301,5 gr

d) Massa total campuran

= 596,834 gr

e) Buffer (5% katalis)

= 1,49 gr

f) Volume H2SO4

= 13,87 ml dalam 1000 ml pelarut air

g) Massa Na2SO3

= 63 gram dalam 1000 ml pelarut air

h) Berat piknometer kosong = 28,2 gr


i) Berat piknometer + air

= 54,5 gr

j) Waktu viskositas air

= 4,66 s

k) Massa katalis

= 8,2 ml

l) Waktu pengambilan sample = 10 menit


m) Waktu pengocokan= 7 menit

No
Sample

Waktu
(10 menit)

0
1
2

10
20
30

Piknometer
+
Sampel
(gram)
65,7
67,6
68,1

Waktu
viskositas(s
)
7,90
9,47
9,82

Temperatur
(0C)
21
22
40

pH
9
10
10

3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

40
50
60
70
80
90
100
110
120
130

68,4
68,4
68,4
68,4
68,4
68,4
68,4
68,4
68,4
68,4

12,84
14,82
14,82
14,82
14,82
14,82
14,82
14,82
14,82
14,82

60
85
90
90
90
90
90
90
90
90

10
8
8
8
8
8
8
8
8
8

Tabel A.2 Data Percobaan waktu, densitas, viskositas, temperatur dan pH


sample

No
Sample

Waktu
(10 menit)

Volume
Titrasi
1(ml)

0
1
2
3
4
5
6

10
20
30
40
50
60
70

25,6
13,2
7,8
8,6
4,6
4,5
9,7

Volume
Titrasi
2(ml)
21
13,7
7,5
8,6
4,9
4,6
9,5

7
8
9
10
11
12

80
90
100
110
120
130

8,6
8,5
8,4
8,5
8,4
8,4

8,7
8,6
8,2
8,4
8,4
8,4

Tabel A.2.1 Tabel volume titrasi sampel dengan H2SO4

No
Sample
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Waktu
(10 menit)
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
110
120
130

m1(gram)

m2(gram)

m3(gram)

m4(gram)

11,1
11,8
7,9
11,3
10,9
11,3
11,2
10,6
10,9
10,9
10,8
8,6

11,7
11,4
6,6
11,2
10,9
11,2
10,7
10,6
10,6
11,3
10,3
7

3,7
5,5
5,1
4,95
7,3
4,9
5,2
4,9
5,1
4,9
5,24
4,7

3,8
5,3
4,8
4,83
1,7
5
4,9
4,9
5
5,3
4,91
4,7

Tabel A.2.2 Tabel berat resin urea formaldehid

LAMPIRAN B
PERHITUNGAN ANTARA
B.1

Tabel Penentuan Densitas, Viskositas dan Kadar Resin

No
sampe
l

Waktu
(10
menit)

10

20

30

40

50

60

70

80

resin

resin
(gr/cm.s)

1,421577
95
1,493604
56
1,512558
94
1,523931
56
1,523931
56
1,523931
56
1,523931
56
1,523931
56

0,00211265
3
0,00266082
3
0,00279417
9
0,00368095
8
0,00424858
2
0,00424858
2
0,00424858
2
0,00424858
2

Kadar
resin
30,4
36,9
37,9
38,4
42,8
44,2
53,6

B.2

90

100

10

110

11

120

12

130

1,523931
56
1,523931
56
1,523931
56
1,523931
56
1,523931
56

0,00424858
2
0,00424858
2
0,00424858
2
0,00424858
2
0,00424858
2

56,3
59,9
62,7
64,6
72,5

Tabel Penentuan Kadar Formalin


No
sampel

Volume titrasi
rata-rata

CH2O/100 ml

CH2O/ml

23,3

16,66665

13,45

7,65

8,6

4,75

4,55

9,6

0,1666665
0,0927176
25
0,0491741
25
0,0563062
5
0,0274023
75
0,0259008
75
0,0638137
5

9,2717625
4,9174125
5,630625
2,7402375
2,5900875
6,381375

B.3

8,65

8
9

8,55
8,3

10

8,45

11

8,4

12

8,4

5,5930875
5,4054
5,5180125
5,480475
5,480475

Tabel Penentuan Berat Molekul Rata-rata


No
sampe
l
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

B.4

5,6681625

NSp

Cr

Nsp/C
r

1,4172
23
2,0444
2
2,1970
01
3,2116
22
3,8610
78
3,8610
78
3,8610
78
3,8610
78
3,8610
78
3,8610
78
3,8610
78
3,8610
78
3,8610
78

0,4540
56
0,5581
34
0,5775
7
0,5851
9
0,6522
43
0,6735
78
0,8168
27
0,8579
73
0,9128
35
0,9555
05
0,9844
6
1,1048
5

4,5025
74
3,9363
3
5,5605
76
6,5979
94
5,9196
95
5,7321
94
4,7269
21
4,5002
3
4,2297
66
4,0408
76
3,9220
27
3,4946
61

Tabel Penentuan Orde dan Konstanta Laju Reaksi

0,0566816
25
0,0559308
75
0,054054
0,0551801
25
0,0548047
5
0,0548047
5

B.4.1 Untuk Orde 1

B.4.2

No
sampel

Waktu
(10
menit)

Ca

LnCao/Ca

K1

10

5,55

2,22E-16

20

3,0875

0,58643623

30

1,6375

1,22062724

40

1,875

1,08518927

50

0,9125

1,80536512

60

0,8625

1,86171806

70

2,125

0,96002613

80

1,8875

1,07854473

90

1,8625

1,09187826

100

1,8

1,12601126

10

110

1,8375

1,10539198

11

120

1,825

1,11221794

12

130

1,825

1,11221794

2,22E-17
0,029321
81
0,040687
57
0,027129
73
0,036107
3
0,031028
63
0,013714
66
0,013481
81
0,012131
98
0,011260
11
0,010049
02
0,009268
48
0,008555
52

Untuk Orde 2
No
sampel

Waktu
(10
menit)

10

20

30

40

50

Ca

5,55
3,0875
1,6375
1,875
0,9125

1/Ca1/Cao

K2

4,7301801
8
4,8738866
4
5,1606870
23
5,0833333
33
5,6458904
11

0,473018
018
0,243694
332
0,172022
901
0,127083
333
0,112917
808

60

70

80

90

100

10

110

11

120

12

130

0,8625
2,125
1,8875
1,8625
1,8
1,8375
1,825
1,825

5,7094202
9
5,0205882
35
5,0798013
25
5,0869127
52
5,1055555
56
5,0942176
87
5,0979452
05
5,0979452
05

0,095157
005
0,071722
689
0,063497
517
0,056521
253
0,051055
556
0,046311
07
0,042482
877
0,039214
963

B.4.3 Tabel Energi Aktivasi


No
sampe
l

0
1
2
3
4
5
6
7
8

T(K)

1/T

294

0,0034
01

295

0,0033
9

313

0,0031
95

333

0,0030
03

358

0,0027
93

363

0,0027
55

363

0,0027
55

363
363

0,0027
55
0,0027
55

K1

2,22E17
0,0293
22
0,0406
88
0,0271
3
0,0361
07
0,0310
29
0,0137
15
0,0134
82
0,0121
32

Ln K1
38,346238
5
3,5294236
3
3,2018325
3
3,6071250
4
3,3212601
5
3,4728448
1
4,2892900
2
4,3064139
8
4,4119102

K2

0,473018
018
0,243694
332
0,172022
901
0,127083
333
0,112917
808
0,095157
005
0,071722
689
0,063497
517
0,056521
253

Ln K2
0,7486217
98
1,4118405
77
1,7601276
66
2,0629122
42
2,1810950
88
2,3522270
67
2,6349481
38
2,7567544
76
2,8731385

9
10
11
12

363

0,0027
55

363

0,0027
55

363

0,0027
55

363

0,0027
55

0,0112
6
0,0100
49
0,0092
68
0,0085
56

9
4,4864886
5
4,6002803
7
4,6811355
8
4,7611782
8

LAMPIRAN D
PROSEDUR KERJA
D.1 Alat-alat percobaaan

0,051055
556
0,046311
07
0,042482
877
0,039214
963

52
2,9748409
06
3,0723742
54
3,1586541
78
3,2386968
96

1. Labu bundar berleher tiga


2. Termometer
3. Kondensor
4. Pemanas listrik
5. Motor pengaduk
6. Piknometer
7. Alat pengambil sample
8. Viskometer
9. Buret 25 mL
10. Erlenmeyer bertutup 250 mL
11. Stopwatch
12. Corong
13. Gelas ukur 10 mL, 1000 ml
14. Pipet tetes
15. Botol semprot
16. Statif
17. Cawan porcelain
18. Indikator pH
19. Ball pipet
20. Spatula
21. Neraca teknis

22. B.2

Bahan bahan percobaan :

23.

1. 600 ml formalin

24.

2. 1,49 gr Na2CO3.H2O

25.

3. 13,87 ml H2SO4 dilarutkan dalam 1000 ml pelarut air.

26.

4. 5 ml alkohol / sampel yang akan dititrasi.

27.

5. 301,5 gram urea

28.

6. Aquadest

29.

7. 63 gram Na2SO3 dalam 1000 ml pelarut air

30.

8. Indikator Correline

31.

9. Katalis NH3 8,2 mL.

32.
33. B.3 Prosedur Percobaan
1. Ke dalam labu didih bundar dimasukan formalin (40 %) 500 mL dan buffer
(Na2CO3.H2O)5 % katalis, dan motor pengaduk dihidupkan.
2. Campuran diaduk sampai merata dan diambil sampel nol.
3. Dimasukkan sejumlah tertentu urea (setelah dihitung dari perbandingan
umpan) diaduk sampai melarut dan kemudian diambil sampel 1 dan dicatat
suhunya.
4. Campuran dipanaskan perlahan-lahan sampai mendidih. Pada saat
terjadinya refluks diambil sampel 2, dicatat suhunya.
5. Selanjutnya diambil sampel setiap 10 menit sekali sampai sampel 12
6. Dilakukan analisa terhadap semua sampel yang diambil.
34.
1.

Analisa kandungan Formalin bebas

35.

Reaksi :

36.

H2O + CH2O +

Na 2SO3 HO CH2 SO3 + NaOH

37.
38.

NaOH yang terbentuk ekivalen dengan kadar formaldehida bebas dalam


larutan.

a. 1 mL sampel dilarutkan dengan 5 mL alkohol dalam erlenmeyer


ditambahkan 10 tetes indikator Correlin dan 25 mL Na2SO3 1 N, dikocok
selama 7 menit.
b. Larutan dititrasi dengan standar H2SO4 0,5 N
c. Dilakukan titrasi blanko
39.
2. Analisa pH larutan
40.

Kertas pH dicelupkan ke dalam larutan sampel, warna yang

terbentuk disesuaikan dengan warna standar. Dicatat pH sesuai dengan warna


pada standar.
41.
42.

3. Analisa viskositas larutan dengan viscometer

a. Dimasukkan sejumlah tertentu aquadest yang telah diketahui temperaturnya


ke dalam viskometer.
b. Dicatat waktu alir yang diperlukan aquadest untuk menempuh jarak tertentu
dalam viskometer tersebut.
c. Dimasukkan sejumlah resin yang akan ditentukan viskositasnya ke dalam
viskometer sejumlah sama dengan aquadest
d. Mencatat waktu alir yang diperlukan untuk menempuh jarak tertentu dalam
viskometer tersebut.
43.
44.

4. Analisa kadar resin dalam larutan

a. Cawan porselain dipanaskan selama setengah jam, didinginkan dalam


eksikator dan ditimbang.
b. Menimbang 10 ml sampel ke dalam cawan porselain yang telah diketahui
massanya.
c. Cawan yang berisi sampel dipanaskan di ruang asam selama 1/2 jam,
kemudian didinginkan dalam eksikator dan kemudian ditimbang.
d. Diulangi langkah c sampai dengan mendapat massa yang konstan.
45.
46.

5. Analisa densitas resin dengan piknometer

a. Menimbang piknometer kosong.


b. Kalibrasi volume piknometer dengan aquadest yang diketahui temperaturnya.
c. Menimbang piknometer yang berisi penuh sampel resin.
47.

48.
49.

BAB III

HASIL PERCOBAAN

50.
51.

3.1

Dari Hasil Percobaan Diperoleh Grafik Hubungan Densitas

Terhadap Waktu
52.
53.

Grafik hubungan antara densitas resin terhadap waktu


1.55
1.5
Hubungan antara
densitas resin terhadap
waktu

Densitas resin (gr/ml) 1.45


1.4
1.35
0

50 100 150

Waktu(menit)

54.
55.
56.

3.1.1

Grafik Hubungan Viskositas Terhadap Waktu

57.

Grafik hubungan viskositas terhadap waktu


0.01
0
0
Viskositas resin (gr.cm.s)

Grafik hubungan
viskositas terhadap
waktu

0
0
0 50 100150
Waktu(menit)

58.

59.
60.

3.1.2

Grafik Hubungan Kadar Resin Terhadap Waktu

61.

Grafik hubungan kadar resin terhadap waktu


12
10
8
Kadar resin

Grafik hubungan kadar


resin terhadap waktu

6
4
2
0
0

20 40 60 80 100 120 140


Waktu(menit)

62.

63.
64.

3.1.3

Grafik Hubungan Kadar Formalin Bebas Terhadap Waktu

65.

Grafik hubungan kadar bebas formalin terhadap waktu


12
10
8
Kadar formalin bebas

Grafik hubungan kadar


bebas formalin terhadap
waktu

6
4
2
0
0

50 100 150

Waktu(menit)

66.
67.
68.

69.
70.

3.1.4

Grafik Hubungan Nsp/Cr Bebas Cr

71.

Grafik hubungan Nsp/Cr terhadap Cr


7
6
5
Nsp/Cr

Grafik hubungan Nsp/Cr


terhadap Cr

f(x) = 0.05x + 4.05


R = 0.01

4
3

Linear (Grafik hubungan


Nsp/Cr terhadap Cr)

2
1
0
0

10

12

14

Cr

72.

73.
74.

3.1.5

Grafik Hubungan Ln Ca0/Ca terhadap Waktu

75.

Grafik Hubungan Ln Ca0/Ca Terhadap Waktu

LnCa0/Ca

2
1.8
1.6
1.4
1.2
1
0.8
0.6
0.4
0.2
0
0

Grafik Hubungan Ln
Ca0/Ca Terhadap Waktu

20 40 60 80 100 120 140


Waktu(menit)

76.
77.

78.
79.

3.1.6

Grafik Hubungan 1/Ca terhadap Waktu

80.

Grafik Hubungan 1/Ca Terhadap Waktu


1.4
1.2
1
0.8
1/Ca 0.6

Grafik Hubungan 1/Ca


Terhadap Waktu

0.4
0.2
0
0

20

40

60

80 100 120 140

Waktu(menit)

81.

82.
83.

3.1.7

Grafik Hubungan 1/T terhadap Ln K2

84.

Grafik Hubungan 1/T Terhadap Ln K2


0
-0.5

-1
f(x) = 2700.31x - 10.26
R = 0.83

-1.5
-2
-2.5
-3
-3.5

85.
86.
87.
88.
89.
90.
91.
92.
93.
94.
95.

0
Grafik Hubungan 1/T
Terhadap Ln K2
Linear (Grafik Hubungan
1/T Terhadap Ln K2)

96.
97.
98.
99.
100.
101.
102.
103.

104.
105.
106.