Anda di halaman 1dari 24

MAKASSAR, 14 MEI 2015

DISIPLIN ILMU RADIOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
GAMBARAN RADIOLOGI TB PADA ANAK

OLEH
ANDI MUHAMMAD SYUKUR S.Ked
(110 2011 0075)
PEMBIMBING
dr. MAULANA SAGGAF Sp.Rad

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2015

HALAMAN PENGESAHAN

Dengan ini, saya yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa :
Nama

: Andi Muh. Syukur

Stambuk

: 110 211 0075

Judul PKMRS : Gambaran Radiologi TB Pada Anak


Telah menyelesaikan tugas dalam rangka tugas kepaniteraan klinik pada Bagian Radiologi,
Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia.

Makassar, Mei 2015


Pembimbing,

dr. Maulana Saggaf, Sp.Rad

Coass,

Andi Muh. Syukur S.Ked

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tuberkulosis paru (Tubercle Bacillus) adalah suatu penyakit infeksi kronik yang sudah
sangat lama dikenal npada manusia, misalnya dia dihubungkan dengan tempat tinggal
didaerah urban, lingkungan yang padat, dibktikn dengan adanya penemuan kerusakan tulang
vertebra torak yang khas TB dari kerangka yang digali di Heidelberg dari kuburan zaman
neolitikum, begitu juga penemuan yang berasal dari mumi dan ukiran dinding piramid di
Mesir Kuno pada tahun 2000-4000 SM. Hipokrates telah memperkenalkan terminologi
phthisis yang diangkat dari bahasa Yunani yang menggambakan tampilan TB ini.
Literatur Arab : Al Razi (850-953M) dan Ibnu Sina (980-1037M) menyatakan adanya
kavitas pada paru-paru dn hubungannya dengan lesi di kulit. Pencegahannya dengan makan
makanan yang bergizi, menghirup udara yang bersih dan prognosis dari penyakit ini.
Disebutkan juga bahwa TB sering didapat pada usia muda (18-30 tahun) dengan tanda-tanda
badan kurus dan dada yang kecil.
Baru pada tahun 1882 Robert Koch menemukan kuman penyebabnya semacam bakteri
berbentuk batang dan dari sinilah diagnosis secara mikrobiologis dimulai dan
penatalaksanaannya lebih terarah. Apalagi pada tahun 1896 Rontgen menemukan sinar X
sebagai alat bantu menegakkan diagnosis yang tepat. Penyakit ini kemudian dinamakan
Tuberkulosis, dan hampir seluruh tubuh manusia dapat terserang olehnya tetapi yang paling
banyak adalah organ paru.
Sepanjang sejarah, penyakit Tuberculosis atau TBC sangat sulit diberantas. Namun
untuk pertama kalinya, organisasi kesehatan dunia atau WHO mencatat penurunan cukup
signifikan pada jumlah penderita maupun korban meninggal karena TBC. Dalam laporan
berjudul Global Tuberculosis Control Report 2011, WHO menyampaikan bahwa jumlah
kasus baru TBC di dunia pada 2010 tercatat 8,8 juta dan jumlah korban meninggal 1,4 juta
jiwa. Angka ini turun dibanding tahun-tahun sebelumnya, misalnya 9,4 juta kasus baru pada
2009. Laporan WHO pada tahun 2009, mencatat peringkat Indonesia menurun ke posisi lima
dengan jumlah penderita TBC sebesar 429 ribu orang. Lima negara dengan jumlah terbesar
kasus insiden pada tahun 2009 adalah India, Cina, Afrika Selatan, Nigeria dan Indonesia
(sumber WHO Global Tuberculosis Control 2010).
Tuberkulosis (TB) adalah penyebab kematian ke-2 diIndonesia setelah penyakit jantung
dan pembuluh darah lainnya. Setiap tahun ada 1,3 juta anak berumur kurang dari 15 tahun

yang terinfeksi kuman TB dan setiap tahun ada 450 ribu kematian anak akibat penyakit ini.
(depkes 2008)
Penyakit Primer Kompleks Tuberkulosis (PKTB) merupakan penyakit
yang

relatif

besar

probabilitasnya

pada

anak-anak

balita

dan

pengobatannya memerlukan waktu yang cukup lama. Deteksi penyakit


PKTB dilakukan melalui gejala klinis, uji laboratorium dan foto paru-paru
dengan x-ray. Hasil citra paru dari x-ray diinterpretasikan oleh medis
sebagai diagnosa akhir. Pemeriksaan radiologis pada pasien TB paru post
primer memberikan gambaran yang khas, dan dapat membedakan antara
gambaran TB primer dan post primer.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Tuberkulosis ( TB / Tubercle Bacillus ) adalah penyakit yang
disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosae, yakni kuman aerob yang
dapat hidup terutama di paru atau diberbagai organ tubuh lainnya yang
mempunyai tekanan parsial oksigen yang tinggi. Kuman ini juga
mempunyai kandungan lipid yang tinggi pada membran selnya sehingga
menyebabkan

bakteri

ini

menjadi

tahan

terhdap

asam

dan

pertumbuhannya berlangsung dengan lambat. Bakteri ini tidak tahan


pada sinar ultraviolet, karena itu penularannya terutma pada malam hari.

Di beberapa negara berkembang, 10-15% dari morbiditas berbagai


penyakit dibawah umur 6 tahun adalah tuberkulosis paru. Faktor resiko
tertinggi dari tuberkulosis paru utamanya pada anak adalah :
- berasal dari negara berkembang
- anak-anak dibawah umur 5 tahun atau orang tua.
- pecandu alkohol atau narkotik.
- infeksi HIV.
- diabtes melitus.
- penghuni rumah beramai-ramai.
- imunosupresi.
- hubungan intim dengan pasien yang memiliki sputum positif BTA.
- kemiskinan dan malnutrisi.
Tuberculosis paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh
basil Mycobacterium tuberculosis tipe humanus. Basil tersebut masuk
kedalam jaringan paru melalui saluran napas (droplet infection) sampai
alveoli, terjadilah infeksi primer (Ghon). Selanjutnya menyebar ke kelenjar
getah bening setempat dan terbentuklah Primer Kompleks ( Ranke ).
Infeksi primer ( Ghon ) dan Primer Kompleks ( Ranke ) dinamakan TB
primer,

yang dalam perjalanan lebih

lanjut sebagian

besar akan

mengalami penyembuhan. TB Paru primer, keradangan terjadi sebelum


tubuh mempunyai kekebalan spesifik terhadap basil Mycobacterium
tuberculosis, yang kebanyakan didapat pada usia anak 1 3 tahun.
Sedangkan yang disebut Tuberkulosa Post Primer ( reinfection ) adalah
keradangan jaringan paru oleh karena terjadi penularan ulang yang mana
didalam tubuh terbentuk kekebalan spesifik terhadap basil TB tersebut.

B. Anatomi
Paru-paru sendiri dibagi menjadi dua, yakni :
1. Paru-paru kanan, terdiri dari 3 lobus (belah paru) yaitu
a. Lobus pulmo dekstra superior
b. Lobus medial
c. Lobus inferior

2.

Paru-paru kiri, terdiri dari 2 lobus


a. pulmo sinister lobus superior
b. lobus inferior

Tiap lobus tersusun oleh lobules dan tiap-tiap lobus terdiri atas belahan-belahan yang
lebih kecil bernama segmen.
Paru-paru kiri mempunyai 10 segment yaitu 5 buah segment pada lobus superior dan 5
buah segment pada inferior. Sedangkan Paru-paru kanan mempunyai 10 segmen yakni 5 buah
segmen pada lobus inferior, 2 buah segment pada lobus medialis dan 3 buah segmen pada
lobus inferior.
Tiap-tiap segmen ini masih terbagi lagi menjadi belahan-belahan yang bernama
lobulus. Diantara lobulus yang satu dengan yang lainnya dibatasi oleh jaringan ikat yang
berisi pembuluh-pembuluh darah getah bening dan saraf-saraf, dalam tiap-tiap lobulus
terdapat sebuah bronkiolus. Di dalam lobulus, bronkiolus ini bercabang-cabang banyak
sekali, cabang-cabang ini disebut duktus alveolus. Tiap-tiap duktus alveolus berakhir pada
alveolus yang diameternya antara 0,2 0,3 mm.
Letak Anatomi Paru-paru
Paru-paru terletak pada rongga dada, datarannya menghadap ke tengah rongga
dada/kavum mediastinum. Pada bagian tengah itu terdapat tampuk paru-paru atau hilus. Pada
mediastinum depan terletak jantung. Paru-paru dibungkus oeh selaput selaput yang bernama
pleura.
Pleura dibagi menjadi dua :
1.

Pleura viseral (selaput dada pembungkus), yaitu selaput paru yang


langsung membungkus paru-paru.

2.

Pleura parietal, yaitu selaput paru yang melapisi bagian dalam dinding
dada.

Antara kedua pleura ini terdapat rongga (kavum) yang disebut kavum pleura. Pada
keadaan normal kavum pleura ini vakum/hampa udara sehingga paru-paru dapat berkembang
kempis dan juga terdapat sedikit cairan (eksudat) yang berguna unuk meminyaki
permukaannya (pleura), menghindarkan gesekan antara paru-paru dan dinding dada dimana
sewaktu bernafas bergerak

C. Etiologi
Penyebab tuberkulosis adalah Mycobacterium tuberculosae. Sejenis
kuman berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-4 um dan yebal 0,30,6
um. Yang tergolon dalam kuman Mycobacterium tuberculosae complex
adalah :1. M. tuberculosae . 2. Varian Asian. 3. Varian African I. 4. Varian
African II. 5. M. bovis. Pembagian tersebut adalah berdasarkan perbedaan
secara epidemiologi. Sebagian besar dinding kuman terdiri atas lipid,
kemudian peptidoglikan dan arabinomannan. Lipid inilah yang membuat
kuman lebih tahan terhadap asam (BTA) dan juga lebih tahan terhadap
gangguan kimia dan fisis. Kuman dapat bertahan terhadap udara dingin
dan kering. Hal ini yang menyebabkan kuman dapat bertahan di kulkas
selama bertahun-tahun. Hal ini terjadi karena kuman berada pada fase

dormant. Dari sifat dromant ini kuman dapat bangkit kembali dan
menjadikan penyakit tuberkulosis menjadi aktif lagi.
Di dalam jaringan, kuman hidup sebagai parasit intraselular yakni
dalam sitoplasma makrofag. Makrofag yang semula memfagositasi malah
kemudian disenanginya karena banyak mengandung lipid.
Sifat lain kuman ini adalah aerob. Sifat ini menunjukkan bahwa
kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi kndungan oksigennya.
Dalam hal ini tekanan oksigen pada bagian apikal paru-paru lebih tinggi
dari bagian lain, sehingga bagian apikal ini merupakan tempat predileksi
penyakit TB.

D. Patofisiologi
Penularan terjadi karena kuman dibatukkan atau dibersinkan keluar
menjadi droplet nuclei dalam udara. Partikel infeksi ini dapat menetap
dalam udara bebas selama 1-2 jam, tergantung ada tidaknya sinar UV
ventilasi yang baik dan kelembabab udara. Dalam suasana gelap dan
lembab kuman dapat bertahan berhari-hari sampai berbulan-bulan.
Bila partikel infeksi ini terisap oleh orang sehat, ia akan menempel
pada jalan nafas atau paru-paru. Kuman dapat juga masuk melalui luka
pada kulit atau mukosa tapi hal ini jarang terjadi.
Bila kuman menetap di jaringan paru maka akan membentuk sarang
TB pneumonia kecil dan disebut sarang primer atau afek primer. Sarang
primer ini dapat terjadi dibagian mana saja jaringan paru. Dari sarang
primer akan timbul peradangan saluran getah bening menuju hilus
(limfangitis local) dan juga diikuti pembesaran getah bening hilus
(limfadenitis regional). Komplek primer apabila ditemukan Sarang primer,
limfangitis local, limfadenitis regional secara bersamaan.
Komplek primer ini selajutnya dapat menjadi :

1. Sembuh sama sekali tanpa meninggalkan cacat


2. Sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas berupa garis-garis
fibrotik, kalsifikasi di hilus atau kompleks (sarang) Ghon.

3. Berkomplikasi dan menyebar secara :


a. Per kontinuitatum, yakni menyebar ke sekitarnya.
b. Secara bronkogen pada paru yang bersangkutan maupun paru
disebelahnya. Dapat juga kuman tertelan bersama sputum dan
ludah sehingga menyebar ke usus.
c. Secara limfogen, keorgan tubuh lainnya
d. Secara hematogen, ke organ tubuh lainnya
Pada paru basil yang berkembang biak menimbulkan suatu daerah
radang yang disebut afek/fokus primer dari Ghon. Basil akan menjalar
melalui saluran limfe dan terjadi limfangitis dan akan terjadi limfadenitis
regional.

Pembentukan radang adalah melalui Reaksi Hipersensitivitas Tipe IV


(Delayed Type Hypersensitivity). Di mana akan terbentuk tuberkeltuberkel atau disebut granuloma.

Gambar: Pembentukan granuloma pada TB primer

E. Tanda Dan Gejala


1.

Perbedaan TB pada anak dengan TB dewasa


a. TB anak lokasinya pada setiap bagian paru, sedangkan pada dewasa di daerah
apeks dan infra klavikuler
b. Terjadi pembesaran kelenjar limfe regional sedangkan pada dewasa tanpa
pembesaran kelenjar limfe regional
c. Penyembuhan dengan perkapuran sedangkan pada dewasa dengan fibrosis
d. Lebih banyak terjadi penyebaran hematogen, pada dewasa jarang.

2.

Manifestasi TB pada Anak


Penyakit TB pada anak memiliki beberapa manifestasi klinis. Di antaranya:
a. TB paru
TB paru merupakan manifestasi klinis yang umum dijumpai pada anak. Dari yang
paling ringan sampai yang paling berat dapat dijumpai pada anak.
1).
Bentuk yang paling ringan adalah pembesaran kelenjar hilus atau
munculnya Ghon focus.

Gambar: adanya kalsifikasi parahiler kanan (Ghon focus) disertai pembesaran kelenjar hillus
kanan. (Courtesy: Andrea T Cruz).

2). Sedangkan salah satu bentuk TB paru berat adalah TB milier.

Gambar: TB milier dengan gambaran badai salju.


b. TB kulit (Scrofuloderma)

TB anak juga memiliki manifestasi TB kulit.


c. TB kelenjar
Di antara manifestasi ekstrathoracal adalah TB kelenjar.

Gambar: TB kelenjar disertai scrofuloderma. (Courtesy: Andrea T Cruz)

d. TB tulang
Di antara manifestasi TB ekstratoracal adalah TB tulang.

Gambar: TB pada tulang vertebara atau disebut Gibbus.

3.

Gejala Klinis
a. Gejala umum
1). Berat badan menurun berturut-turut selama 3 bulan tanpa sebab jelas
atau tidak naik selama 1 bulan meskipun dengan intervensi gizi
2). Anoreksia dan gagal tumbuh (failure to thrive)
3). Demam lama/berulang tanpa sebab jelas
4). Pembesaran KGB superfisial seperti: KGB leher, inguinal dan
Sebagainya

5). Gejala saluran napas seperti batuk lama lebih dari 30 hari
6). Gejala GI tract seperti diare lama/berulang, masa di abdomen dan
sebagainya.
b. Gejala spesifik
1). TB kulit (scrofuloderma)
2). TB tulang seperti: gibbus (spondilitis), coccitis, pincang, bengkak
3). TB otak dan syaraf: meningitis TB, ensefalitis TB
4). TB mata: konjungtifitis fliktenuaris, tubercle choroid .
F. Diagnosa
Diagnosis TB ditegakkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan fisik, tuberculin
tes,pemenksaan radiologis dan bakteriologis. Diagnosis pasti TB paru ditegakkan berdasarkan
ditemukannya kuman Mycobacterium tuberkulosis.
1. Gejala klinis
2. Tes Mantoux
Tes Mantoux merupakan salah satu jenis pemeriksaan untuk membantu diagnosis
Tuberkulosis (TB) pada anak. es Mantoux dilakukan dengan cara menyuntikkan protein dari
kuman Mycobacterium tuberculosis pada lengan bawah anak. Agar hasilnya akurat,
penyuntikannya harus benar-benar teliti. Bahan yang dimasukkan harus dengan dosis tepat
dan masuk sepenuhnya ke dalam kulit, bukan di bawah kulit. Kemudian, reaksi yang
dihasilkan harus dibaca tepat waktu.
Untuk memastikan anak terinfeksi kuman TBC atau tidak, akan dilihat indurasinya
setelah 48-72 jam. Indurasi ini ditandai dengan bentuk kemerahan dan benjolan yang muncul
di area sekitar suntikan. Bila nilai indurasinya 0-4 mm, maka dinyatakan negatif. Bila 5-9
mm dinilai meragukan, sedangkan di atas 10 mm dinyatakan positif.

3. Reaksi cepat BCG


Bila dalam penyuntikan BCG terjadi reaksi cepat berupa kemerahan dan indurasi > 5
mm (dalam 3-7 hari) maka dicurigai telah terinfeksi Mycobacterium tuberculosis.
4. Scoring TB
Parameter
Kontak TB

0
Tidak
jelas

Sistem Skoring Diagnosis Tuberkulosis Anak


1
2
Laporan keluarga,
Kavitas (+)
BTA (-) atau tidak
BTA tidak jelas
tahu

3
BTA
(+)

Uji Tuberkulin
Status Gizi

Demam
tanpa
sebab jelas
Batuk
Pmbesaran
Kelenjar
Limfe
Kolli,
Aksila,
Inguinal
Pembengkakan
tulang/sendi
panggul,
lutut,
falang
Foto

Negatif

Positif
BB/TB <90%
atau BB/U <80%

Klinis gizi
buruk atau
BB/TB <70%
atau BB/U
<60%

2 minggu
3 minggu
1 cm, jumlah >1,
tidak nyeri
Ada
pembengkakan
Normal/
Tidak
jelas

Infiltrat
Pembesaran
kelenjar
Konsolidasi
segmental/lobar
Atelektasis

Kalsifikasi +
infiltrat
Pembesaran
kelenjar
+infiltrat

Catatan:
Diagnosis dengan sistem skoring ditegakkan oleh dokter
Jika dijumpai skrofuloderma langsung didiagnosis TB
Berat badan dinilai saat datang
Demam dan batuk tidak ada respons terhadap terapi sesuai baku
Foto rontgen bukan alat diagnosis utama pada TB anak
Semua anak dengan reaksi cepat BCG harus dievaluasi dengan system skorinh TB
anak
Didiagnosis TB jika jumlah skor 6 (skor maksimal 14). Cut off point ini masih
bersifat tentatif/ sementara, nilai definitive menunggu hasil penelitian yang sedang
dikerjakan.
Pemberian profilakasi INH bila kontak BTA (+) dengan skor <6
Dikutip oleh: dr. Astri Pramarini
Sumber: Pedoman Nasional Tuberkulosis Anak, UKK Pulmonologi PP IDAI, 2005

5. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan pertama terhadap keadaan umum pasien mungkin ditemukan konjungtiva
mata atau kulit yang pucat karena anemia, suhu subfebris atau berat badan menurun.
Seringkali pasien tidak menunjukkan suatu kelainan apapun. Tempat kelainan TB paru yang

paling dicurigai adalah bagian apeks paru. Bila dicuragai adanya infiltrate yang agak luas,
maka didapatkan perkusi redup dan auskulltasi suara nafas bronchial. Akan didapatkan juga
suara nafas tambahan berupa ronki basah, kasar dan nyaring. Tetapi bila infitrat ini diliputi
oleh penebalan pleura, suara nafasnya menjadi vesikuler melemah. Dalam penampilan klinis,
TB sering asimtomatis dan penyakit baru dicurigai dengan didapatkannya kelainan radiologis
dada.
6. Pemeriksaan Radiologis TB Paru
Kelainan pada foto toraks bisa sebagai usul tetapi bukan sebagai diagnosa utama pada
TB.Namun, Foto toraks bisa digunakan untuk menyingkirkan kemungkinan TB paru pada
orang-orang yang dengan hasil tes tuberkulin ( +) atau uji mantoux (+) dan tanpa
menunjukkan gejala.
a. Bila klinis ditemukan gejala tuberkulosis paru, hampir selalu ditemukan kelainan
padafoto roentgen.
b. Bila klinis ada dugaan terhadap penyakit tuberkulosis paru, tetapi pada foto roentgen
tidak terlihat kelainan, maka ini merupakan tanda yang kuat bukan tuberkulosis.
c. Sebaliknya, bila tidak ada kelainan pada foto toraks belum berarti tidak ada
tuberkulosis,sebab kelainan pertama pada foto toraks baru terlihat sekurang -kurangnya
10 minggu setelah infeksi oleh basil tuberkulosis.
d. Sesudah sputum positif pada pemeriksaan

bakteriologi,

tanda

tuberkulosis

yangterpenting adalah bila ada kelainan pada foto toraks.


e. Ditemukannya kelainan pada foto toraks belum berarti bahwa penyakit tersebut aktif.
f. Dari bentuk kelainan pada foto roentgen memang dapat diperoleh kesan tentang
aktivitaspenyakit, namun kepastian diagnosis hanya dapat diperoleh melalui kombinasi
denganhasil pemeriksaan klinis/laboraturis.
g. Pemeriksaan roentgen penting untuk dokumentasi, menentukan lokalisasi, proses
dantanda perbaikan ataupun perburukan dengan melakukan perbandingan dengan fotofototerdahulu.
h. Pemeriksaan roentgen juga penting untuk penilaian hasil tindakan terapi seperti
Pneumotoraks torakoplastik, torakoplastik dsb.
i. Pemeriksaan roentgen tuberculosis paru saja tidak cukup dan dewasa ini bahkan
tidak boleh dilakukan hanya dengan fluoroskopi. Pembuatan foto roentgen adalah suatu
keharusan, yaitu foto posterior anterior (PA), bila perlu disertai proyeksi-proyeksi
tambahan seperti foto lateral, foto khusus puncak AP-lordotik dan tekhnik-tekhnik
khusus lainnya
Ada 3 macam proyeksi pemotretan pada foto toraks pasien yang dicurigai TB, yaitu :
1. Proyeksi Postero-Anterior (PA)

Pada posisi PA, pengambilaii foto dilakukan pada saat pasien dalam posisi
berdiri,tahan nafas pada akhir inspirasi dalam. Bila terlihat suatu kelainan pada
proyeksi PA,perlu ditambah proyeksi lateral.
2. Proyeksi Lateral
Pada proyeksi lateral, posisi berdiri dengan tangan disilangkan di belakang kepala.
Pengambilan foto dilakukan pada saat pasien tahan napas dan akhir inspirasi dalam.
3. Proyeksi Top Lordotik
Proyeksi Top Lordotik dibuat bila foto PA menunjukkan kemungkinan
adanyakelainan pada daerah apeks kedua paru. Proyeksi tambahan ini hendaknya
dibuatsetelah

foto

rutin

diperiksa

dan

bila

terdapat

kesulitan

dalam

menginterpretasikansuatu lesi di apeks. Pengambilan foto dilakukan pada posisi


berdiri dengan arah sinarmenyudut 35-45 derajat arah caudocranial, agar gambaran
apeks paru tidak berhimpitan dengan klavikula.

G. Gambaran Radiologis TB Primer


Hampir semua infeksi TB primer tidak disertai gejala klinis, sehingga paling sering
didiagnosis dengan tuberkulin test. Pada umumnya menyerang anak, tetapi bisa terjadi pada
orang dewasa dengan daya tahan tubuh yang lemah. Pasien dengan TB primer sering
menunjukkan gambaran foto normal. Pada 15% kasus tidak ditemukan kelainan, bila infeksi
berkelanjutan barulah ditemukan kelainan pada foto toraks. Lokasi kelainan biasanya terdapat
pada satu lobus, dan paru kanan lebih sering terkena, terutama di daerah lobus bawah, tengah
dan lingula serta segmen anterior lobus atas. Kelainan foto toraks pada tuberculosis primer ini
adalah adalah limfadenopati, parenchymal disease, miliary disease, dan efusi pleura. Pada
paru bisa dijumpai infiltrat dan kavitas. Salah satu komplikasi yang mungkin timbul adalah
Pleuritis eksudatif, akibat perluasan infitrat primer ke pleura melalui penyebaran hematogen.
Komplikasi lain adalah atelektasis akibat stenosis bronkus karena perforasi kelenjar ke dalarn
bronkus. Baik pleuritis maupun atelektasis pada anak-anak mungkin demikian luas sehingga
sarang primer tersembunyi dibelakangnya.

Gambar atas menunjukkan Tuberculosis disertai komplikasi pleuritis eksudativ


dan atelektasis - Pleuritis TB. Gambar bawah menunjukkan Tuberculosis dengan
komplek primer (hanya hilus kiri membesar). Foto toraks PA dan lateral

Komplek primer TB (Komplek Ranke) terdiri dari :


1. Gohn focus
Merupakan bintik bintik kecil di suprahiler dan di sekelilingnya ada infiltrat, sering
tidak tampak kecuali ada kalsifikasi.

Gambar: adanya kalsifikasi parahiler kanan (Ghon focus) disertai pembesaran


kelenjar hillus kanan. (Courtesy: Andrea T Cruz

2. Limfangitis
Cabang cabang linfe yang keluar dari kompleks Gohn dan berjalan sepanjang
hilus.

3. Limfadenitis
Terjadi pembesaran limfonodi. Sering terjadi di :
a. Lnn. Hilus, tampak sebagai gambaran perpadatan di hilus
b. Lnn. Parabronkial
c. Lnn. Paratrakheal, di kanan dan kiri trakea, tampak sebagai gambaran cerobong asap.
(rusdy ghazali radiologi diagnostik)

H. Penatalaksanaan
1. Pencegahan
a. Pencegahan (profilaksis) primer
Anak yang kontak erat dengan penderita TBC BTA (+). INH minimal 3
bulan walaupun uji tuberkulin (-). Terapi profilaksis dihentikan bila
hasil uji tuberculin ulang menjadi (-) atau sumber penularan TB aktif
sudah tidak ada.
b. Pencegahan (profilaksis) sekunder
Anak dengan infeksi TBC yaitu uji tuberkulin (+) tetapi tidak ada gejala sakit TBC.
Profilaksis diberikan selama 6-9 bulan.
2. Pengobatan
a. Medikametosa
Adapun dosis untuk pengobatan TBC jangka pendek selama 6 atau
9 bulan, yaitu:
1)

2HR/7H2R2 : INH+Rifampisin setiap hari selama 2 bulan


pertama, kemudian INH +Rifampisin setiap hari atau 2 kali
seminggu selama 7 bulan (ditambahkan Etambutol bila diduga
ada resistensi terhadap INH).

2)

2HRZ/4H2R2 : INH+Rifampisin+Pirazinamid: setiap hari selama 2


bulan pertama, kemudian INH+Rifampisin setiap hari atau 2 kali seminggu
selama 4 bulan (ditambahkan Etambutol bila diduga ada resistensi terhadap INH).
Pengobatan TBC pada anak-anak jika INH dan rifampisin diberikan bersamaan,

dosis maksimal perhari INH 10 mg/kgbb dan rifampisin 15 mg/kgbb.


Dosis anak INH dan rifampisin yang diberikan untuk kasus:
1) TB tidak berat
INH

: 5 mg/kgbb/hari

Rifampisin

: 10 mg/kgbb/hari

2) TB berat (milier dan meningitis TBC)


INH

: 10 mg/kgbb/hari

Rifampisin

: 15 mg/kgbb/hari

Dosis
: 1-2 mg/kgbb/hari (maks. 60 mg)
prednison
b. Non Medikametosa
Pendekatan DOTS Hal yang paling penting pada tatalaksana TBC adalah keteraturan
minum obat. Pasien TBC biasanya telah menunjukkan perbaikan beberapa minggu
setelah pengobatan sehingga merasa sembuh dan tidak melanjutkan pengobatan.
Lingkungan sosial dan pengertian yang kurang mengenai TBC dari pasien serta
keluarganya tidak menunjang keteraturan pasien untuk minum obat. Kepatuhan
pasien dikatakan baik jika pasien meminum obat sesuai dengan dosis yang
ditentukan dalam panduan pengobatan. Kepatuhan pasien ini menjamin keberhasilan
pengobatan dan mencegah resistensi. Salah satu upaya untuk meningkatkan
kepatuhan pasien adalah dengan melakukan pengawasan langsung terhadap
pengobatan.
DOTS ( Directly Observed Treatment Shortcourse) adalah strategi yang telah
direkomendasi oleh WHO dalam pelaksanaan program penanggulangan TBC. Strategi ini
dilaksanakan di Indonesia sejak tahun 1995. Penanggulangan dengan strategi DOTS dapat
memberikan

angka

kesembuhan

yang

tinggi.

Sesuai dengan rekomendasi WHO, strategi DOTS terdiri atas 5 komponen, yaitu : Komitmen
politis dari para pengambil keputusan, termasuk dukungan dana. Diagnosis TBC dengan
pemeriksaan dahak secara mikroskopis, Pengobatan dengan panduan Obat Anti TBC (OAT)
jangka pendek dengan pengawasan langsung oleh pengawas menelan obat, Kesinambungan
penyedian OAT jangka pendek dengan matu terjamin, Pencatatan dan pelaporan secara baku
untuk memudahkan pemantauan dan evaluasi program penanggulangan TBC.

Orang yang dapat menjadi pengawas minum obat adalah : Petugas kesehatan, Keluarga
pasien, kader, pasien yang sudah sembuh, tokoh masyarakat, guru. Tugas pengawas minum
obat adalah: 1) Mengawasi pasien agar minum obat secara teratur sampai selesai pengobatan,
2) Memberi dorongan kepada pasien agar mau berobat teratur, 3) Mengingatkan kepada
pasien untuk periksa dahak ulang (pasien dewasa) dan Memberi penyuluhan kepada anggota
keluarga pasien TBC yang mempunyai gejala-gejala tersangka TBC untuk segera
memeriksakan diri ke unit pelayanan kesehatan. Pada anak kuman M. TBC sulit ditemukan,
baik pada biakan, lebih-lebih pada pemeriksaan mikroskopis langsung. Oleh karena itu pada
anak diagnosis tidak dapat dibuat berdasarkan pemeriksaan mikroskopis yang dianjurkan
dalam strategi DOTS. Maka diperlukan strategi diagnostik lain yaitu dengan menggunakan
sistem skoring

I. Pencegahan Penularan
dr. Wahyuni Indawati, Sp.A memaparkan beberapa cara untuk
mencegah TB anak berikut :
1. Vaksinasi BCG.
Vaksinasi merupakan salah satu faktor penting dalam pencegahan penyakit. Vaksin
merupakan mikroorganisme, baik sel utuh maupun bagian sel yang bersifat toksik, yang
sudah dilemahkan dan dimasukan ke tubuh untuk merangsang tubuh membentuk
antibodi. BCG merupakan jenis vaksin yang secara spesifik merangsang pembentukan
antibodi terhadap bakteri TB.
2. Pemberian makanan yang bergizi dan seimbang.
Makanan yang bergizi dan seimbang akan meningkatkan imunitas yang membantu
memerangi bakteri penyebab TB.
3. Jaga lingkungan tetap bersih, tidak lembab, dan sinar matahari dapat masuk ke dalam
rumah.
Lingkungan dengan kriteria tersebut dapat mencegah perkembangbiakan bakteri
penyebab TB sehingga menurunkan kemungkinan tertular.

4. Cari sumber penularan.


TB dapat mudah menular melalui udara. Sehingga dengan mengetahui orang yang
jadi sumber penularan, penularan penyakit dapat ditekan. Sumber penularan dapat dari
orang dewasa serumah, dan orang dewasa di lingkungan sekolah.
5. Obati sumber penularan dengan tuntas.
Bila sudah mengetahui sumber penularan, maka upayakan untuk mengobati orang
tersebut. Cegah penularan dengan etika batuk serta menggunakan masker selama 2
bulan pertama pengobatan.

J. Prognosis
Pada pasien dengan sistem imun yang prima, terapi menggunakan
OAT terkini memberikan
kesembuhan.

Jika

hasil

yang

potensial

kuman sensitif

kebanyakan anak sembuh dengan gejala


ulangan

lebih

sulit

dan

untuk

mencapai

dan pengobatan

lengkap,

sisa yang minimal.

kurang memuaskan

Terapi

hasilnya. Perhatian

lebih harus diberikan pada pasien dengan imunodefisiensi, yang resisten


terhadap berbagai rejimen obat, yang berespon buruk terhadap terapi
atau dengan komplikasi
terhadap

OAT

lanjut.

Pasien dengan

jumlahnya meningkat

dari

waktu ke waktu.

terjadi karena para dokter meresepkan rejimen


adekuat

ataupun

ketidakpatuhan

resistensi
terapi

pasien

multiple
Hal

yang

ini
tidak

dalam menjalanin

pengobatan.
Ketika
dan

terjadi

resistensi

atau

intoleransi

terhadap

Isoniazid

Rifampisin, angka kesembuhan menjadi hanya 50%, bahkan lebih

rendah lagi. Dengan OAT (terutama

isoniazid)

terjadi

perbaikan

mendekati 100% pada pasien dengan TB milier. Tanpa terapi OAT pada TB
milier maka angka kematian hampir mencapai 100%.
BAB III
KESIMPULAN

Tuberkulosis ( TB / Tubercle Bacillus ) adalah penyakit yang umum


dan mematikan, disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, yang pada
umumnya menyerang paru ( TB paru ) tapi juga dapat menyerang sistem
syaraf pusat, sistem limfatikus, sistem sirkulasi, sistem genitouria, tulang
dan persendian.Penegakan diagnosis pada TB primer adalah dengan
menggunakan

scoring,

berdasarkan

gejala

klinis

dan

pemeriksaan

penunjang. Bukan dengan pemeriksaan BTA di sputum. Proyeksi foto torak


yang dapat digunakan yaitu Proyeksi Postero-Anterior (PA), Proyeksi Lateral,
Proyeksi Top Lordotik .
Gambaran komplek primer TB (Komplek Ranke) terdiri dari Komplek Gohn,
Limfangitis, Limfadenitis. DOTS ( Directly Observed Treatment Shortcourse) adalah strategi
yang telah direkomendasi oleh WHO dalam pelaksanaan program penanggulangan TBC.
Prognosis TB bergantung pada kepatuhan pengobatan, resistensi, serta daya tahan tubuh
pasien.

DAFTAR PUSTAKA
Aditama Y. 2006. Tuberkulosis Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di

Indonesia.

Jakarta : Perhimpunan Dokter Paru Indonesia.


Rab, Tabrani.2010. Ilmu Penyakit Paru. Edisi 1. Jakarta: TIM.
Rasad, Sjahriar. 2005. Radiologi Diagnostik. Edisi 2. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Sudoyo AW, dkk. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi IV. Jakarta: Pusat
Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Latief A, dkk. 2003. Diagnosis Fisis Pada Anak. Ed ke-2. Jakarta: CV Sagung Seto, hal. 70-4