Anda di halaman 1dari 45

BAB III

SEJARAH DAN IDEOLOGI KAMMI

Apakah mereka tidak memperhatikan


berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka,
padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi,
..... dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain.
[QS. Al Anam: 6]

A. Tentang Ikhwanul Muslimin


Pokok-pokok Gerakan Ikhwanul Muslimin
Membaca KAMMI tidak bisa dilepaskan dari konteks internasional dunia
gerakan Islam. Dalam konteks internasional dunia Islam sampai sekarang masih
mengakui timur tengah sebagai salah satu titik terpentingnya jika tidak mau
mengatakan sebagai pusat gerakan Islam. Gejala ini paling tidak ditunjukkan
dengan banyaknya gerakan Islam yang lahir di kawasan ini. Sebut saja misalnya
gerakan Wahabiyah yang menunjuk pada pendirinya Imam Muhammad Ibn Abdul
Wahhab. Gerakan ini lahir di Arab Saudi dengan dukungan penuh dari pihak
kerajaan Arab Saudi. Gerakan Islam lain, Hizbut Tahrir yang lahir di Yerussalem
pada tahun 1952 dengan pendirinya Taqiyuddin An Nabhani.1 Selain itu terdapat
gerakan yang sangat penting, Ikhwanul Muslimin (selanjutnya Ikhwan) dengan
pemimpin pertamanya Hasan Al Banna dan didirikan pada Maret 1928 di
Ismailiyah, Mesir.2 Gerakan-gerakan ini kemudian menyebar ke seluruh penjuru
dunia sehingga menjadi gerakan global.

89

90

Ikhwan lahir dalam arena transisi politik yang diiringi dengan


pergumulan ideologi yang sangat kental. Pasca PD I, Mesir yang berada dalam
protektorat Inggris menyaksikan ambruknya kekhalifahan Turki Utsmani yang
melahirkan republik kemalis (sesuai dengan pendirinya Mustafa Kemal Pasha)
yang sekular. Hal ini melahirkan berbagai kutub politik di antara tokoh-tokoh
pergerakan di Mesir. Wacana yang terpenting saat itu adalah tentang kemerdekaan
Mesir atas Inggris yang memunculkan gelora nasionalisme di kalangan aktivis
gerakan, tidak terkecuali Hasan Al Banna yang saat itu berstatus sebagai
mahasiswa Universitas Darul Ulum.
Peta politik di luar Mesir terutama kemajuan-kemajuan di Eropa dan
negara-negara Asia lain banyak berpengaruh terhadap pemikiran Hasan Al Banna.
Di Mesir sendiri terdapat banyak seruan untuk mengikuti modernisme model
Eropa sebagaimana Turki. Secara formal gerakan ini cukup berhasil, paling tidak
ditunjukkan dengan banyak diadopsinya sistem kenegaraan Eropa ke dalam
pemerintahan Mesir baik sebelum maupun setelah kemerdekaan. Selain itu
budaya barat juga banyak menggejala seperti tampak pada pakaian wanita yang
lebih terbuka dan pendidikan yang lebih liberal bagi kaum wanita.3
Di sisi lain para ulama Islam banyak mengeluhkan fenomena ini sehingga
banyak kecaman terhadap intelektual dan juga kebijakan pemerintah yang pro
barat. Intelektual yang dianggap pro barat dan liberal misalnya adalah Ali Abdul
Raziq dan Taha Husain. Di kalangan intelektual Islam sendiri konflik yang terjadi
terlihat jelas. Bahkan Ali Abdul Raziq dipecat dari Universitas Al Azhar yang

91

merupakan gudangnya ulama dan intelektual Islam. Hasan Al Banna sendiri


sangat gelisah terhadap maraknya budaya barat yang liberal ini.
Akhirnya melalui wadah Ikhwan, Hasan Al Banna menyebarkan gagasangagasannya. Hasan Al Banna banyak menularkan gagasannya pada kalangan
mahasiswa di Universitas Al Azhar dan Darul Ulum almamaternya. Selain itu ia
juga banyak berbincang dan menanggapi keluhan masyarakat umum di kedaikedai kopi sehingga kalangan masyarakat akar rumput pun menerima gagasannya
yang disajikan dengan bahasa ringan. Selain sarana itu, masjid adalah tempat yang
paling penting dipakai Hasan Al Banna untuk menyebarkan gagasan melalui
ceramah-ceramahnya.
Tujuan Ikhwan sendiri sebagaimana disampaikan Hasan Al Banna adalah
pembentukan generasi baru kaum beriman yang berpegang pada ajaran Islam
yang benar, di mana generasi tersebut akan bekerja untuk membentuk bangunan
umat ini dengan shibghah Islamiyah (selupan nuansa Islam) dalam semua aspek
kehidupan.4 Dari kalimat ini tersirat bahwa tujuan Ikhwan terdiri dari dua hal
dimana keduanya memiliki kaitan erat.
Pertama Ikhwan bertujuan untuk membentuk genarasi baru kaum beriman
dengan karakter mereka yang berpegang kepada ajaran Islam. Setelah hal ini
tercapai, maka kedua, amanah diembankan kepada mereka berupa pembentukan
bangunan umat yang ter-shibghah Islamiyah dalam segala aspeknya. Di sini
tujuan pertama menjadi tujuan utama sekaligus tujuan antara bagi yang kedua
sebagai final pencapaian cita-cita Ikhwan.

92

Dalam mencapai tujuannya, Ikhwan melakukan kerja-kerja dakwah.


Dakwah ini dilakukan dengan sasaran dan tujuan berupa pembentukan pribadi
muslim, keluarga muslim, masyarakat muslim dan pemerintah muslim.5 Di sini
ada logika yang dipegang secara konsisten oleh Ikhwan, bahwa penegakan
pemerintahan yang muslim tidak akan berjalan jika tidak dimulai dari
pembentukan pribadi muslim, kemudian keluarga muslim, sampai dengan
pembentukan masyarakat muslim. Ibda binafsih, mulai dari diri sendiri menjadi
slogan yang terkenal dalam kalangan ini, bahkan sampai di Indonesia, ulama
semacam Aa Gym pun populer dengan slogan ini.
Untuk melakukan dakwah-dakwah tersebut Ikhwan membaginya dalam
tiga fase. Pertama, tarif yakni fase penyampaian, pengenalan, dan penyebaran
fikrah, sehingga dia bisa sampai kepada khalayak dari segala tingkatan sosial.
Kedua,

takwin (pembentukan), penyeleksian terhadap aktifis yang direkrut,

mengkoordinasikan dan memobilisasi untuk berinteraksi dengan objek dakwah.


Ketiga, tanfidz yang merupakan pelaksanaan amal menuju produktivitas kerja
dakwah yang optimal.6
Dalam gerakannya Ikhwan mendasarkan diri pada beberapa prinsip pokok
diantaranya adalah. (1) ikatan keimanan yang kuat yang dibangun di atas
ukhuwah, (2) ikatan organisasi (tanzhim) yang kuat yang dibangun atas dasar
percaya (tsiqah). (3) saling melengkapi dalam bangunannya, (4) jauh dari arena
perselisihan fiqh, (5) jauh dari intervensi penguasa, (6) jauh dari hegemoni
organisasi dan partai, (7) bertahap dalam langkah, (8) dakwah rabbaniyah
(berlandaskan ketuhanan) dan (9) dakwah alamiyah (mondial).7

93

Kemudian untuk mengefektifkan gerakannya Ikhwan menggunakan pola


Usroh (keluarga), sebuah kelompok kajian yang sangat intensif yang terdiri dari
sekelompok kecil orang (4-5 orang) yang dipimpin oleh seorang murabbi
(tentor).8 Dalam perkembangannya Usroh kemudian bertransformasi menjadi
Tarbiyah (pendidikan) yang sekaligus menjadi penamaan lain atas gerakan
Ikhwan di seluruh penjuru dunia. Usroh sendiri dijalankan atas tiga landasan,
taaruf (saling mengenal), tafahum (saling memahami), dan takaful (saling
menanggung beban).9 Dengan tiga landasan ini orang-orang yang terlibat Usroh
akan terjadi proses pengenalan lebih jauh sehingga saling memahami. Di sini juga
terjadi saling evaluasi namun tidak saling menjatuhkan antar peserta. Dan yang
terpenting selanjutnya adalah saling menanggung beban. Antar peserta saling
memahami kondisi kehidupan masing-masing dan merasakan serta menanggung
beban saudaranya. Dari sini ukhuwah terjalin sangat kuat.
Dalam Usroh sendiri ada bebarapa agenda yang dijalankan. Pertama,
setiap peserta menyampaikan persoalannya sementara yang lain ikut terlibat
dalam penyelesaian masalahnya. Semua dijalankan atas dasar ukhuwah yang tulus
dan jernih. Dengan demikian akan semakin tertanam sikap tsiqah (percaya) dan
pengokohan ikatan hati. Kedua, telaah seputar persoalan Islam dan membaca
berbagai risalah dan taujihat yang disampaikan oleh murabbi kepada peserta
usroh. Dalam forum ini tidak ada perdebatan, perang mulut dan pelampiasan
emosi dengan mengangkat suara keras-keras. Yang ada adalah penjelasan dan
minta penjelasan sesuai dengan batas-batas etika yang ada dan dengan landasan
saling menghargai. Jika ada usulan atau komplain maka ditampung dan

94

disampaikan oleh ketua kelompok kepada murabbi. Ketiga, telaah terhadap buku
yang berguna, setelah itu ditindaklanjuti dengan mewujudkan makna ukhuwah
dalam berbagai lapangan kehidupan yang tidak mungkin tercakup dalam bukubuku dan taujihat. Apa yang dianjurkan di sini misalnya dengan menjenguk
saudara yang sakit, memenuhi kebutuhan hidup saudaranya, serta mendekati
secara terus-menerus saudara yang terputus tali silaturahminya sehingga terjaga
tali ukhuwah dan ketenangan jiwanya.10

Perkembangan Ikhwanul Muslimin


Dalam perkembangannya Ikhwan begitu cepat menjadi organisasi yang
besar dan sangat disegani baik kalangan pemerintah maupun di kalangan gerakan
pada umumnya. Dalam waktu yang relatif singkat Ikhwan telah mampu
mendirikan seribu cabang di seluruh Mesir, meskipun

sampai tahun 1933,

gerakan Ikhwan bersifat tertutup, namun sangat intensif melakukan pengkaderan


sehingga perluasan cabang berjalan begitu cepat.
Sampai dengan tahun itu, gerakan Ikhwan juga tidak merambah ke kancah
politik. Kegiatan lebih banyak ditujukan bagi aktivitas sosial dan pendidikan.
Program yang sangat besar artinya adalah pendirian sekolah, pendirian kelompok
belajar, klub-klub olahraga dan pendirian masjid-masjid. Dalam pada itu,
kedudukan Hasan Al Banna di Ismailiyah juga cukup berpengaruh terhadap sikapsikap Ikhwan yang tidak menyentuh ranah politik. Ismailiyah adalah kota kecil
dimana Hasan Al Banna mengabdikan dirinya sebagai pengajar di salah satu
sekolah pemerintah. Pilihan itu juga dianggap paling aman bagi gerakan.11

95

Lima tahun setelah berdirinya Ikhwan (sekitar 1934) Hasan Al Banna


dipindahkan sebagai guru di Kairo. Hal ini kemudian cukup merubah haluan
gerakan Ikhwan. Terlebih ketika Perang Dunia II meletus pada tahun 1939,
kecenderungan gerakan yang bersifat politis semakin jelas. Hal ini dipengaruhi
oleh iklim politik dunia internasional, terutama dunia ketiga yang paling
menderita akibat peperangan ini. Namun dalam masa ini gerakan Ikhwan juga
dalam masa kebesarannya. Paling tidak pada masa ini Ikhwan telah memiliki
beberapa cabang di luar negeri, terutama di negara-negara timur tengah seperti
Suriah, Libanon, Sudan, Palestina, dan negara-negara Afrika Utara.12
Ikhwan juga mulai berani melancarkan kritik terhadap pemerintah. Suara
tersebut disampaikan baik melalui siaran radio yang dimiliki Ikhwan, koran,
majalah, maupun melalui surat resmi kepada perdana menteri yang berkuasa.
Kritik tersebut ditujukan kepada pemerintah agar pembaharuan pemerintahan
yang berjalan haruslah dijalankan berdasarkan tuntunan yang telah digariskan
Islam. Namun begitu kritik yang dilancarkan masih sangat hati-hati dan tidak
mengambil langkah konfrontatif. Dengan sikap ini pemerintah bahkan banyak
memberikan dukungan bagi perkembangan Ikhwan, terutama ketika pemerintah
Mesir berada di tangan an Nahas Pasha, dan Mahmud Pasha.13
Pada periode 1939-1945 (saat Perang Dunia II) Ikhwan memasuki babak
baru. Menanggapi keadaan, Ikhwan semakin menggalakkan kegiatannya di segala
sektor. Kegiatan di kampus, terutama di Universitas Fuad I (sekarang Universitas
Kairo) dan Al Azhar semakin gencar. Kegiatan komersial, aktivitas latihan fisik,

96

olahraga dengan klub-klubnya semakin marak, selain itu latihan-latihan


kemiliteran juga sangat digalakkan.14
Seiring dengan itu, pemerintah menjadi cukup serius memperhatikan
akselerasi aktivitas dan kuantitas anggota Ikhwan. Perselisihan mulai timbul
antara pemerintah dan Ikhwan, terutama ketika pemerintah mengeluarkan undangundang darurat perang. Akibat perselisihan yang banyak dipicu dari khotbahkhotbah dan tulisan tokoh-tokoh Ikhwan pemerintah banyak melakukan tekanan
terhadap Ikhwan.
Ketika Sirri Pasha berkuasa, atas dorongan dari Kedubes Inggris, terbitan
Ikhwan, at-Taaruf dan asy-Syuara dibredel. Fase-fase selanjutnya bahkan lebih
buruk. Tokoh-tokoh Ikhwan banyak ditangkap dan ditahan. Hasan Al Banna dan
Ahmad As Sukkari dipindahkan ke Qana dan Damietta. Hanya dengan dukungan
parlemenlah kemudian mereka dikembalikan ke Kairo.15
Dalam masa seperti ini, heroisme Ikhwan teruji. Bahkan dalam periode ini
anggota Ikhwan semakin meningkat karena banyaknya masyarakat yang tertarik
dengan gerakan ini. Namun karena peningkatan aktivitas dan jumlah anggota
Ikhwan ini, hubungan antara Ikhwan dan pemerintah justru semakin memburuk.
Hanya pada masa an Nahas-lah hubungan agak kembali membaik. Namun
selanjutnya

konflik-konflik yang disertai dengan tuduhan makar banyak

dialamatkan ke Ikhwan.16
Puncak dari perselisihan antara Ikhwan dengan pemerintah adalah
instruktsi pembubaran pada 8 Desember 1948 oleh An Nuqrasyi, perdana menteri
Mesir saat itu. Semua cabang Ikhwan juga dilikuidasi beserta aset-asetnya. Hal

97

itu semakin diperburuk dengan peristiwa pembunuhan terhadap Hasan Al Banna


pada 12 Februari 1949.17
Setelah itu, nama baik Ikhwan dicoba untuk direhabilitasi dengan
diangkatnya Hasan Al Hudaybi sebagai pengganti Hasan Al Banna. Hudaybi
adalah orang yang dekat dengan pemerintah, namun karena karakternya yang
sangat formal karena dia bekas jaksa, sangat berlainan dengan Hasan Al Banna
yang berapi-api. Sejak itu Ikhwan tidak pernah menikmati kebesaran seperti
semula.18
Sebaliknya keberadaan ikhwan justru masih sangat kuat posisinya di luar
negeri. Bahkan cabang Damaskus setelah itu seperti menjadi pusat Ikhwan
Internasional. Gerakan-gerakannya juga lebih berskala internasional, karena
sangat bersentuhan dengan isu Palestina yang banyak mendapatkan perhatian
dunia Arab dan dunia internasional pada umumnya. Tokoh Ikhwan Suriah,
Mustafa As Sibai juga sangat disegani.
Sampai sekarang Ikhwan sudah tersebar ke sebagian besar penjuru dunia
baik di negara-negara yang memiliki mayoritas penduduk muslim maupun di
negara-negara minoritas muslim. Kawasan Eropa seperti Inggris, Jerman, Prancis,
dan negara Eropa lain gerakan Ikhwan sudah banyak berperan dalam dinamika
keislaman dan politik kawasan tersebut. Di Amerika Serikat dan Jepang pun
gerakan Ikhwan sudah banyak menunjukkan perannya. Mereka kebanyakan
adalah mahasiswa dari negara-negara muslim yang melanjutkan pendidikan
pascasarjananya di negara-negara tersebut. Namun begitu, pengikut Ikhwan yang
merupakan penduduk asli juga sudah cukup banyak.19

98

Ikhwanul Muslimin di Indonesia


Hubungan yang bersifat politis terkait gerakan Islam internasional antara
Indonesia dengan dunia Arab sebenarnya sudah dimulai pada era sebelum
kemerdekaan Indonesia. Tokoh utamanya adalah HOS. Cokroaminoto yang
menghadiri konferensi Islam di Mekah pasca runtuhnya kekhalifahan Turki
Utsmani.20 Namun pengaruh ideologisnya kemudian sangat bisa dirasakan
terutama setelah hubungan yang bersifat intensif banyak dilakukan oleh M. Natsir,
seorang intelektual dan politisi muslim yang sangat disegani dalam kancah dunia
internasional.
Pasca pembubaran Masyumi dan permintaan terhadap Suharto untuk
merehabilitasi Masyumi ditolak, Natsir kemudian mendirikan Dewan Dakwah
Islamiyah Indonesia (DDII) pada 1967. Sebuah upaya banting setir lewat jalur
dakwah ketika langkah-langkah politiknya dirasa sudah buntu.21 Natsir yang
terutama ketika menjabat sebagai perdana menteri telah banyak menjalin
hubungan dengan timur tengah kemudian semakin meningkatkan hubungannya
melalui lembaga baru ini.
Lewat DDII ini banyak beasiswa diberikan kepada mahasiswa Indonesia
yang disekolahkan di universitas-universitas timur tengah, terutama Mesir dan
Arab Saudi.22 Beasiswa ini banyak diberikan terutama oleh Arab Saudi yang
sedang mengalami oil booming dari tahun 1970-an s.d. 1980-an. Bahkan Natsir
lewat DDII kemudian mendirikan lembaga pendidikan yang kemudian dikenal
dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA). Natsir sendiri
mendapatkan rekomendasi dari Syaikh Abdul Aziz Bin Baz, ulama kerajaan Arab

99

Saudi dalam pendirian LIPIA di Indonesia. LIPIA merupakan lembaga


internasional yang didanai oleh Raja Abdul Aziz dan mendapatkan bimbingan
dari Muhammad Qutub (saudara Sayyid Qutub). 23
Alumni timur tengah yang banyak bersentuhan dengan Ikhwan kemudian
mengambil peran strategis dalam diseminasi pemahaman Ikhwan di Indonesia.
Alumni timur tengah ini juga sangat besar pengaruhnya dalam menyebarkan
gagasan Ikhwan di kampus-kampus Indonesia melalui kajian-kajian dan
mentoringnya. Dapat disebutkan misalnya Abu Ridho yang belajar di Arab Saudi
banyak menyebarkan gagasan Ikhwan melalui metode pengajarannya. Setelah
kembali dari Arab Saudi pada 1981, ia yang merupakan salah satu generasi awal
penerima beasiswa dari DDII kemudian banyak mempengaruhi para aktivis DDII
yang lain. Selain Abu Ridho ada juga Mashadi (sekretaris pribadi Muhammad
Roem) dan Mukhlis Abdi.24
Persebaran pemikiran Ikhwan semakin luas dengan diterbitkannya karyakarya tokoh-tokoh gerakan ini. Peran alumni timur tengah juga sangat signifikan
dalam upaya penerbitan karya-karya ini. Karya Sayyid Qutub Maalim fi Thariq
diterbitkan dengan judul Petunjuk Jalan. Buku ini diterbitkan oleh lembaga
penerbit DDII yang juga menerbitkan majalah berkala Media Dakwah. Majmu ar
Rasail yang merupakan tulisan dan pidato Hasan Al Banna kemudian diterbitkan
dengan judul Risalah Gerakan Ikhwanul Muslimin.25
Abu Ridho memiliki peranan yang besar dalam persebaran dan penerbitan
karya-karya Ikhwan ini. Al Ishlahy Press yang merupakan lembaga penerbit
buatan Abu Ridho banyak menerbitkan karya-karya Hasan Al Banna, Mushtafa

100

Masyhur dan Said Hawwa. Selain itu penerbit lain Gema Insani Press, Al-Kautsar,
Robbani Press dan Era Intermedia juga turut menyemarakkan buku-buku karya
ulama Ikhwan seperti Muhammad Qutub, Muhammad Al Ghazali dan Yusuf
Qardhawi.26
Gagasan dan ideologi Ikhwan kemudian banyak mempengaruhi organisasi
gerakan Islam di Indonesia seperti PII dan HMI. Metode dakwah Ikhwan banyak
dipakai dalam perkaderan lembaga-lembaga yang berbasis pelajar dan mahasiswa
ini. Sebut saja di sini Mutammimul Ula dari PII sebagai salah seorang generasi
awal yang menyebarkan ideologi Ikhwan di PII. Lebih awal dari itu ada
Imaduddin Abdulrahim (Bang Imad) dari HMI yang memperkenalkan konsep
Latihan Mujahid Dakwah (LMD).27 Imaduddin yang juga ketua Lembaga Dakwah
Mahasiswa Islam (LDMI) banyak menjalin hubungan dengan dan bahkan menjadi
wakil sekjend dalam International Islamic Federation of Student Organizations
(IIFSO) yang banyak diwarnai dan banyak orang-orang Ikhwan di dalamnya.
Imaduddin kemudian banyak memperkenalkan konsep perkaderan model
Ikhwan seperti pola Usroh yang bermetamorfosis menjadi tarbiyah. Lewat LMD
yang diselenggarakan di masjid Salman ITB inilah konsep-konsep Ikhwan banyak
disebarluskan ke dalam lingkungan kampus seluruh Indonesia. Jadi dapat ditarik
sebuah argumen bahwa LMD-lah kemudian yang menjadi cikal-bakal LDK yang
kemudian dalam dunia gerakan ekstra kampus bertransformasi menjadi Kesatuan
Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).

101

B. SEJARAH KAMMI
Masjid Kampus dan Aktivisme Mahasiswa Muslim
Pasca diberlakukannya NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/
Badan Koordinasi Kemahasiswaan) oleh Menteri PTIP (Pendidikan Tinggi dan
Ilmu Pengetahuan), Dr. Syarief Thayeb tertanda SK 028/U/1974, ruang gerak
organisasi mahasiswa baik intra maupun ekstra kampus mengalami kelesuan
berkepanjangan.

Keputusan

yang

dimunculkan

sebagai

sarana

untuk

mendepolitisasi dan deideologisasi wilayah kampus ini berjalan cukup efektif.


Organisasi mahasiswa intra kampus dijadikan subordinat sehingga menjadi sangat
tergantung dengan kebijakan dekanat dan rektorat. Pada sisi lain, organisasi ekstra
kampus pun menerima ekses kebijakan tersebut. Karena interaksi dengan
mahasiswa di dalam kampus sebagai basis sosialnya dipotong, akhirnya
kehidupan organisasi ekstra kampus ini mengalami penyusutan luar biasa.28
Dampak dari kebijakan tersebut, kampus menjadi tempat yang sangat steril
dari kegiatan politik mahasiswa, dan semata difungsikan sebagai lembaga
pengkajian akademis. Demi memperlancar operasionalisasi kebijakan ini, kampus
pun melakukan tindakan represif dalam bentuk skorsing bagi mahasiswa yang
mencoba keluar dari rule of the game yang telah digariskan. Tidak aneh jika
kemudian banyak aktivis mahasiswa yang terkena kebijakan tersebut. Pada
akhirnya kampus secara sangat kentara berfungsi sebagai perpanjangan tangan
negara dalam memberangus setiap gerakan politik yang diusung mahasiswa.
Dengan kondisi tersebut, mahasiswa dengan segenap aktivismenya menjadi
powerless, di sisi lain posisi negara menjadi sangat kuat.29

102

Di tengah-tengah kelesuan berkepanjangan tersebut, muncul pola-pola


baru dalam menyalurkan aktivisme di kalangan mahasiswa. Kemunculan bentukbentuk baru tersebut tidak lain adalah untuk menyiasati pemasungan aktivisme
gerakan mahasiswa baik di lingkungan intra maupun ekstra kampus. Aspinall
menderivasikan model-model aktivisme ini ke dalam tiga bentuk, kelompok studi
kritis, penerbitan media publikasi, dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).
Sedikit berbeda Adi Suryadi Culla membagi ke dalam kelompok studi, penerbitan
media publikasi, dan komite-komite aksi.30
Sementara itu Ali Said Damanik membagi kelompok studi ke dalam dua
kategori yakni kelompoik studi yang mendasari kajian-kajian mereka pada tradisi
kritis barat, dan kelompok studi yang bergiat dalam pengkajian keagamaan,
khususnya Islam. Sementara itu, Aspinall menempatkan kategori yang berbeda
terhadap aktivitas keislaman di kalangan mahasiswa di luar kategorisasi yang
dibuatnya. Ia memandang ada tiga jenis aktivitas keislaman. Pertama ormas
kemahasiswaan yang sudah ada sebelumnya seperti HMI, PII dan PMII. Kedua,
kelompok-kelompok mahasiswa Islam yang bersentuhan dengan pemikiran kiri
Islam. Ketiga, aktivitas keislaman yang berbasis pada masjid-masjid kampus. 31
Salah satu yang menarik diantara beberapa kategorisasi tersebut adalah
tumbuh dan berkembangnya aktivitas kemahasiswaan di dalam masjid-masjid
kampus, terutama (pada awalnya) kampus-kampus umum negeri. Kemunculan
aktivisme mahasiswa dengan basis masjid kampus ini menurut Ali Said Damanik
dapat dilihat dalam dua faktor. Pertama, munculnya komunitas muda yang
memiliki ghirah (semangat) dalam mengkaji dan mengamalkan Islam.

103

Kemunculan etos semacam ini diakibatkan oleh tekanan yang begitu massif dan
berkepanjangan terhadap umat Islam. Kedua, masjid dan mushalla kampus
memberikan sebuah ruang yang lapang sebagai media diseminasi dan internalisasi
nilai-nilai ideal Islam tersebut.32
Faktor pertama lebih dapat dilihat dalam konteks sumber daya yang
tersedia yakni kelompok anak muda yang sedang mengalami proses radikalisasi
dalam pemahaman keagamaan dan sekaligus menghendaki proses purifikasi
pemahaman pada ranah nilai maupun praksis keislaman masyarakat. Ini dapat
dilihat dari misalnya, kajian-kajian keagamaan yang begitu marak dilakukan
dalam kalangan tersebut. Pada sat-saat itu sebenarnya merupakan rentang waktu
yang cukup panjang dimana kegiatan-kegiatan semacam itu dianggap sebagai
berisiko tinggi dan dapat dipandang sebagai perilaku subversif oleh penguasa.
Namun dengan semangat dan keuletan berpikir mereka memunculkan pola gerak
yang pada kemudian hari begitu menentukan dalam proses perubahan radikal
bangsa ini.33
Selanjutnya, faktor kedua yakni masjid kampus dapat diasumsikan sebagai
beteng pertahanan sekaligus sebagai basis bagi aktivitas keagamaan dan gerakan.
Dari masjid kampus inilah skenario aksi menumbangkan rezim Orde Baru pada
gerakan reformasi 1998 dilakukan. Fungsionalisasi masjid sebagai pusat gerakan
oleh mahasiswa Islam pada saat itu memiliki landasan teologis dan historis yang
cukup kuat. Masjid pada masa Muhammad saw selain difungsikan sebagai pusat
peribadatan ritual umat Islam juga sebagai pusat dimana skenario dakwah Islam
yang dipimpin dan diusung Muhammad sebagai utusan Allah dijalankan. Masjid

104

menjadi sebuah tempat penggodokan bagi para mujahid yang akan berjihad di
jalan dakwah demi sebuah pencapaian mardhatillah. Dengan landasan pikir
semacam ini, ada sebuah proyeksi dari keimanan terhadap perilaku sehari-hari.
Dengan kata lain adanya relevansi antara nilai-nilai tauhid yang menjadi
keyakinan dengan realitas sosial yang menjadi medan objektivasi sehingga
berdimensi tauhid sosial.34
Refleksi dari konsepsi tauhid tadi kemudian terproyeksikan dalam melihat
permasalahan sosial, politik, ekonomi yang ada sehingga melahirkan ideologi
progresif. Dari sinilah kemudian muncul kesadaran untuk menghadapi kekuasaan
yang bersifat hegemonik dan tiranik yang dipresentasikan oleh Orde Baru.
Fenomena gerakan semacam itu dapat disebut misalnya aktivis dakwah
masjid Salman ITB yang salah satu eksponennya adalah Imaduddin Abdulrahim
(Bang Imad). Melalui Bang Imad ini pulalah gerakan yang berbasis masjid
kampus tersebar ke seluruh Indonesia dalam fenomena gerakan usroh yang
kemudian bermetamorfosis menjadi tarbiyah sebagai sebuah sistem dan juga
sebagai pola kaderisasi dalam lingkungan ini. Gerakan tarbiyah itu sendiri
merupakan representasi dari gerakan Ikhwanul Muslimin yang lahir di Mesir dari
seorang Hasan Al Banna.

FSLDK dan Lahirnya KAMMI


Selanjutnya kegiatan dakwah yang bergerak di lingkungan masjid kampus
ini secara formal dibentuk menjadi Lembaga Dakwah Kampus (LDK) yang
berpayung di bawah universitas yang bersangkutan. Dengan

demikian ada

105

sinergitas antara gerakan dakwah dengan kampus sebagai institusi pendidikan.


Penamaan lembaga dakwah kampus ini sendiri sangat beragam, namun format dan
inti gerakannya memiliki kesamaan.
Keberadaan LDK mulai dikenal dan tumbuh subur pada tahun-tahun 80an. Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) sendiri pertama kali
dalam lingkup nasional dilaksanakan pada 24-25 Mei 1986 yang dimotori oleh
Jamaah Shalahuddin UGM, Jogjakarta. Pertemuan tersebut dihadiri oleh 26
peserta yang berasal dari 13 utusan LDK se-Jawa, yakni: Jamaah Shalahuddin
UGM, Jamaah Mujahidin IKIP Jogjakarta, LAI Undip Semarang, Unsoed
Purwokerto, UKMI UNS Solo, Lpisat Usakti Jakarta, UI Jakarta, BKI IPB Bogor,
UIKA Bogor, Karisma Salman ITB, Unpad Bandung, UKKI Unair, dan BDM Al
Hikmah IKIP Malang. Dalam pertemuan itu dilahirkan beberapa keputusan yakni
perlunya meningkatkan ukhuwah Islamiyah antar LDK. Selain itu, yang lebih
konkret adalah berupa dilanjutkannya forum komunikasi dengan pembentukan
badan koordinasi LDK wilayah. Wilayah koordinasi tersebut dibagi menjadi tiga,
wilayah Indonesia bagian barat dikoordinasikan oleh Masjid Salman ITB,
Indonesia bagian tengah oleh Jamaah Shalahuddin UGM, dan Indonesia bagian
timur dikoordinasikan oleh UKKI (Unit Kegiataan Kemahasiswaan Islam) Unair
Surabaya.35
Dalam pertemuan-pertemuan awal FSLDK agenda yang dibahas lebih
banyak bersifat internal agenda dakwah kampus. Dalam pertemuan FSLDK IV di
Solo misalnya agenda yang dibahas adalah mengenai pemahaman terhadap khittah
LDK sebagai sebuah pedoman arah gerak yang dilakukan oleh Aktivis Dakwah

106

Kampus (ADK) dalam melakukan dakwah dalam lingkungan kampus. Pentingnya


khittah bagi kader ADK adalah bagaimana mereka mencapai taraf mafahim
terhadap khittah. Aspek-aspek pokok yang terdapat dalam khittah sendiri
mencakup aspek aqidah, syariah, dan dakwah.36 Dari agenda tersebut terlihat
dengan jelas bahwa orientasinya lebih banyak besifat pembenahan kondisi internal
dalam dakwah di lingkungan kampus. Hal ini dapat dipahami, karena pada
awalnya, LDK di kampus berdiri sendiri-sendiri dan tidak memiliki arah gerak
bersama secara nasional. Apa yang menjadi rancangan pada pertemuan tersebut
semua mendapat kesepakatan secara umum.
Pada pertemuan FSLDK V di IKIP Malang tanggal 15-19 Desember 1989
secara umum agendanya masih sama, dan lebih bersifat penguatan visi gerakan.
Dan yang terpenting, pada pertemuan inilah pertama kali forum FSLDK berskala
nasional karena dihadiri dari utusan LDK luar Jawa antara lain dari Sulawesi,
Sumatera, Nusa Tenggara Barat, dan Bali. Pada pertemuan inilah keluar
kesepakatan mengenai rumusan khittah LDK sebagai arah gerak LDK dalam
melakukan perjuangan di kampus. Dengan adanya khittah ini diharapkan akan
tercipta kesamaan pemahaman sehingga tercipta kesamaan arah dan langkah
dalam melakukan strategi dakwah kampus sebagai bagian dari agenda global.37
Pada pertemuan-pertemuan FSLDK berikutnya, mulai dirasakan adanya
pergeseran pandangan pembahasan seiring dengan kondisi politik nasional yang
semakin memungkinkan terbentuknya pola berpikir para ADK ini yakni krisis
multidimensional. Agenda pembahasan dalam FSLDK mulai mengarah pada
agenda sosial politik nasional. Pembahasan semacam itu mencapai puncaknya

107

dalam agenda FSLDK X di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada


Maret 1998, beberapa agenda yang menjadi pembahasan penting adalah respon
terhadap kondisi perpolitikan nasional yang begitu memprihatinkan. Krisis
moneter yang berujung pada krisis ekonomi nasional banyak disoroti sebagai
kesalahan dalam manajemen pemerintahan rezim Orde Baru di bawah
kepemimpinan Soeharto. Manajemen pemerintahan Orde Baru amburadul karena
didasari oleh moralitas penyelenggara pemerintahan yang bobrok.38
Para peserta yang tergabung dalam FSLDK merasa memiliki kewajiban
moral untuk melakukan kritik terhadap keadaan yang sedang terjadi. Perdebatan
muncul dalam tataran operasionalisasi gagasan-gagasan tersebut, yakni bagaimana
mewujudkannya dalam tataran yang lebih praktis namun tanpa terjebak dalam
politik praktis, lebih-lebih melibatkan forum FSLDK dan LDK itu sendiri.
Akhirnya pembahasan tentang hal tersebut diagendakan setelah forum FSLDK
berakhir, dan memang dalam FSLDK tidak ada agenda untuk membahas hal ini.
Menindaklanjuti hal tersebut, maka dibentuklah tim formatur yang terdiri:
1. Ananto Pratikno (Ketua JMAF UMM) sebagai Ketua Tim
2. Badaruddin (Ketua Forkom LDK Unair)
3. Andri Yunia Kusumawati (Forkom LDK Unair)
4. Edi Chandra (DKM AL Ghiffari IPB Bogor)
5. Faisal Sanusi ((Ketua Kerohanian Islam SM UI)
6. Febri Nur Hidayat (Kabid Hublu Gamais ITB)
7. Muhammad Arif Rahman (Ketua Jamaah Shalahuddin UGM)
8. Suhendra (Ketua UKM Rohis Undip)

108

Sembari agenda FSLDK tetap berjalan tim formatur ini kemudian


membahas bagaimana respon LDK terhadap krisis nasional yang sedang terjadi.
Ada dua hal penting yang menjadi kesepakatan tim formatur ini. Pertama,
pembentukan wadah khusus bagi para aktivis LDK di luar FSLDK maupun LDK
untuk merespon krisis nasional sampai kepada tataran aksi. Kedua, bahwa wadah
baru tersebut akan dideklarasikan setelah berakhirnya FSLDK X sehingga wadah
ini bukanlah hasil dari keputusan FSLDK X, tetapi merupakan kesepatakan para
peserta setelah agenda FSLDK berakhir.39
Selain dua kesepakatan penting tersebut, kesepakatan lain yang sangat
penting adalah, dicapainya kesepatan tentang nama wadah baru tersebut dengan
nama Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) sekaligus
kemudian memilih Fahri Hamzah dan Haryo Setyoko sebagai Ketua dan
Sekretaris Umum pertama organisasi tersebut. Wadah ini dideklarasikan pada
Ahad, 29 Maret 1998 atau bertepatan dengan 1 Dzulhijjah 1418 H, beberapa saat
setelah penutupan acara FSLDK X. Dihadapan para peserta FSLDK X yang masih
berkumpul saat itu dibacakanlah deklarasi KAMMI oleh Fahri Hamzah yang
kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan deklarasi Malang oleh sebagian
besar peserta yang hadir saat itu.40
Untuk lebih mengenalkan KAMMI dalam kancah nasional, sehari setalah
Deklarasi Malang KAMMI kemudian melakukan konferensi pers di Masjid Arif
Rahman Hakim (ARH) UI. Dalam pada itu muncul persepsi bahwa KAMMI
merupakan reinkarnasi dari KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia). Dari

109

situlah kemudian dijabarkan mengenai beberapa pertimbangan kelahiran dan


penamaan KAMMI.
Pertama, melihat konteks faktual sejarah, bahwa sebuah gerakan massa
yang berhasil adalah gerakan yang memiliki basis kultural. KAMMI
berpandangan bahwa basis kultural bangsa Indonesia adalah Islam, paling tidak
itu tercermin dari mayoritas penduduk Indonesia yang muslim, terlepas dari
diferensiasi tingkat keberagamaan dan aliran teologis yang ada. Kedua, FSLDK
adalah acara yang menghadirkan mahasiswa-mahasiswa yang aktif dalam masjid
kampus atau kegiatan-kegiatan keislaman. Dipandang cukup logis jika kemudian
penamaan organisasinya pun menggunakan label muslim Indonesia.41
Selanjutnya dari sisi pengurus KAMMI sendiri dalam memandang
penggunaan nama KAMMI memiliki lima konsekuensi. Pertama, KAMMI harus
menjadi kekuatan yang terorganisir yang menghimpun berbagai elemen
mahasiswa muslim baik perorangan maupun lembaga yang sepakat bekerja dalam
format bersama KAMMI. Kedua, KAMMI harus membangun gerakan yang
berorientasi kepada aksi riil dan sistematis dengan dilandasi gagasan konsepsional
yang matang tentang reformasi dan pembentukan masyarakat madani (civil
society). Ketiga, aktivis KAMMI adalah kalangan mahasiswa dari berbagai strata
dari seluruh Indonesia. Keempat, kekuatan inti KAMMI adalah kalangan
mahasiswa ynag memiliki komitmen perjuangan keislaman dan kebangsaan yang
jelas dan benar serta senantiasa menunjukkan akhlakul karimah dalam berbagai
aktivitasnya. Kelima, gerakan KAMMI dilandasi pemahaman atas realitas bangsa

110

Indonesia dengan berbagai kemajemukannya, sehingga KAMMI akan bekerja


untuk kebaikan dan kemajuan bersama rakyat, bangsa dan tanah air Indonesia.42
Setelah kelahiran KAMMI, ada hal-hal yang masih mengganjal di
kalangan aktivis KAMMI dan di kalangan masyarakat yakni seputar kontroversi
kelahirannya yang santer beredar dalam kalangan sementara masyarakat.
Kesimpang-siuran ini banyak terekspos ke media massa. Salah satunya ada yang
menyatakan bahwa KAMMI lahir dari rahim LDK yang hadir dalam FSLDK X di
Malang tersebut.43 Namun akhirnya semua itu dapat dijelaskan oleh fungsionaris
KAMMI, salah satunya dengan konferensi pers di masjid ARH UI tersebut.
Kontroversi lain yang muncul adalah seputar rekayasa kelompok
kepentingan tertentu dalam proses kelahiran KAMMI. Hal yang menjadi
pertanyaan besar adalah, bagaimana mungkin sebuah organiasi yang baru saja
berdiri dapat memberikan sebuah sikap politik yang sangat solid dan mencakup 60
LDK. Kenyataan semacam ini kemudian dibantah KAMMI dengan menyatakan
bahwa kemunculan LDK sudah berjalan sekira 20 tahun dengan tingkat soliditas
yang mengagumkan, namun jarang diekspos oleh media massa. Maka bukan hal
yang sulit jika kemudian tumbuh suatu organisasi yang didukung oleh komunitas
ini dan langsung menjadi solid pula. Dalam bahasa Haryo Setyoko dikemukakan
bahwa KAMMI beranggotakan individu-individu yang memiliki basis kultural
religius, yang selama 20 tahun aktivitasnya di LDK terus terjadi penguatanpenguatan visi keagamaan, intelektual, dan juga politik.44
Kontroversi berikutnya adalah seputar isu bahwa KAMMI mendapat back
up dari pihak militer. Isu ini ada terkait dengan hadirnya Letnan Jendral Parobowo

111

Subiyanto, Pangkostrad sewbagai salah satu pembicara dalam sesi diskusi panel
pada FSLDK X tersebut. Idu ini kemudian dibantah dengan press release yang
diberikan oleh KAMMI ke sejumlah media massa. Argumen mengapa Prabowo
diundang adalah, bahwa KAMMI melihat perlu adanya upaya dialog antara
mahasiswa-militer mengenai situasi yang sedang berkembang. Logika ini diambil
tentunya melihat bahwa militer memiliki posisi yang cukup, bahkan sangat
penting dalam konstelasi politik nasional ketika Orde baru berkuasa saat itu.
Alasan lain yang diungkapkan dalam oleh KAMMI adalah, bahwa yang diundang
bukan hanya Prabowo, namun ada Amien Rais sebagai tokoh nasional yang
sangat vokal terhadap rezim yang berkuasa, meskipun keduanya akhirnya batal
hadir.45Namun bukan hal yang aneh bahwa setiap kali sebuah organisasi eksis
pasti akan muncul pula kontroversi-kontroversi selanjutnya sesuai dengan peran
yang dijalankannya. Demikianlah, KAMMI pun mengalami hal serupa sepanjang
kehadirannya dalam konstelasi pergerakan di Indonesia.

112

C. Ideologi KAMMI

Menjadi Islam bagi saya tidak berarti menyangkal Yesus dan Marx.
Saya sekarang menemukan titik yang selalu sudah saya cari,
titik dimana kreativitas artistik, aksi politik,
dan keimanan membentuk kesatuan sesungguhnya.
[Roger Garaudy]46

Daniel Bell, demi melihat kelemahan-kelemahan komunisme Uni Soviet


yang berlandaskan pada pemikiran Karl Marx kemudian melahirkan The End of
Ideology, On The Exhaustion of Political Ideas in Fifties (1960)47 untuk
mengkritik betapa sudah tidak relevannya perdebatan mengenai ideologi.
Pemikiran Bell dilatari oleh begitu maju pesatnya kemakmuran negara kapitalis di
Barat (Amerika Serikat) meninggalkan di belakangnya negara komunis Uni Soviet
saat itu berada pada tahun 1950-an. Di sini memang kemudian terlihat sisi politis
Bell yang terang-terangan mendukung kapitalisme sebagai penutup atas
perdebatan ideologis tersebut. Dengan begitu kapitalisme yang diusung Amerika
Serikat mendapatkan relevansi dan legitimasi akademisnya dengan sangat
meyakinkan. Hal ini tentu tidak mengherankan terkait reputasi Daniel Bell yang
memang begitu tersohor di dunia intelektual Amerika.
Marx pada bagian lain, dengan berpijak pada tesis Feuerbach, melihat
agama sebagai pelarian dari manusia. Namun pelarian manusia kepada agama
justru dianggap semakin mengalienasi manusia dari hakikat hidupnya. Dengan
pembalikan pandangan agama dari teologi menjadi antropologi sebagaimana
Feuerbach, Marx melihat bahwa manusialah yang membuat agama, bukan
manusia sebagai hasil kerja (objek) agama. Namun pertanyannya, mengapa

113

manusia kemudian lari kepada agama yang merupakan hasil ciptaannya (anganangannya). Ini terjadi karena manusia tidak mampu merealisasikan aspirasi
dirinya dalam lingkungan sosial dimana ia berada.48
Weber, dalam rangka mengkritik Marx memberikan komentar bahwa
meskipun agama memberikan manusia pelarian sehingga ia puas dengan kondisi
kemelaratan yang dialaminya (alienasi), namun bentuk pelarian tersebut adalah
merupakan ideologi, yakni ideologi agama sebagai

bentuk protes terhadap

penderitaan yang dialaminya.49 Lebih lanjut, Weber bahkan kemudian


menemukan vitalitas agama (Protestan) sebagai sebuah spirit dalam memunculkan
dan berkembangnya kapitalisme. Di sana Weber menemukan bahwa agama
Protestan yang dioposisikan terhadap ortodoksi Katholik memiliki landasan
teologis yang seiring dengan kapitalisme industrial waktu itu. Akumulasi modal
dan penumpukan kekayaan dianggap sebagai bagian dari asketisme (kesalehan)
yang menjadi tuntutan agama sehingga bernilai transendental.50
Perdebatan mengenai agama dalam kaitannya dengan ideologi sampai
sekarang ternyata belum memasuki titik jenuhnya. Tesis Bell, maupun kemudian
Fukuyama (The End of History and The Last Man, 1992)51 sendiri kemudian
dibantah oleh Samuel Huntington dalam Clash of Civilizations

and The

Remaking of World Order (1999).52 Huntington bahkan memberikan argumen


mengenai semakin meruncingnya benturan antar peradaban tersebut. Setelah
matinya komunisme Uni Soviet, kapitalisme liberal bukannya tidak memiliki
musuh ideologis lagi. Islam dan

konfusianisme

dianggap menemukan

kontekstualisasinya sebagai musuh baru bagi kapitalisme liberal.

114

Kiranya tidak berlebihan anggapan Huntington tersebut jika melihat


bahwa dalam konteks politik internasional kontemporer, Islam yang banyak
diusung oleh negara-negara yang kebetulan petro dollar banyak memainkan
peran penting dalam kancah ekonomi politik internasional. Karena modalitas
petro dollar itu, Amerika Serikat kemudian menuduh Arab Saudi sebagai
pendorong dan donatur bagi organisasi Islam radikal di segenap penjuru dunia,
termasuk terutama Indonesia53
Berangkat dari analisis semacam itu tidak berlebihan jika kemudian
diletakkan dalam konteks gerakan mahasiswa Islam Indonesia sebagai bagian dari
dinamika politik nasional dan global. Di sini gerakan mahasiswa Islam menjadi
aktor yang memiliki basis ideologis yang diperjuangkan sehingga ia menjadi
kelompok kepentingan dalam suatu struktur politik tertentu.
Dalam konteks Indonesia salah satu gerakan mahasiswa Islam yang
menonjol sebagaimana dijelaskan dalam bab sebelum ini diantaranya adalah
KAMMI. Kemenonjolan gerakan ini tentu tidak dapat dilepaskan dari konteks
Islam yang menjadi platform gerakannya. Dari sini kemudian perlu dilakukan
sebuah kajian yang lebih mendalam mengenai ideologi KAMMI. Analisis ini
nantinya akan semakin menjelaskan mengenai kaitan secara ideologis gerakan ini
terhadap neoliberalisme di lain pihak.

Latar Ideologis KAMMI


Dalam konferensi pers pertamanya sebagai publikasi atas kelahiran
KAMMI, Haryo Setyoko sang Sekjend mengemukakan bahwa KAMMI

115

merupakan organisasi yang beranggotakan individu-individu yang mempunyai


basis kultur religius, yang selama 20 tahun aktivitasnya di LDK terus terjadi
penguatan-penguatan visi kegamaan, intelektual, dan juga politik.54 Dari sini
dapat diambil sebuah fakta historis mengenai proses pembentukan KAMMI.
Bahwa KAMMI terbentuk dalam proses yang berjalan selama 20 tahun sebagai
dampak dari adanya penguatan visi keagamaan, intelektual dan politik kader
dakwah dalam LDK. Dari sini akhirnya dapat ditarik simpulan, bahwa keberadaan
KAMMI tidak dapat dilepaskan dari Lembaga Dakwah Kampus (LDK).
Selanjutnya bagaimana kaitan antara keduanya. Selanjutnya akan dikupas
mengenai kaitan historis dan ideologis keduanya.
Pada tahun 1973, Imaduddin Abdulrahim, seorang ketua Lembaga
Dakwah Mahasiswa Islam (LDMI), salah satu lembaga kekaryaan dalam
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) melakukan training yang disebutnya dengan
Latihan Mujahid Dakwah (LMD) dalam lingkungan Masjid Salman di Institut
Teknologi Bandung (ITB). Materi dalam LMD sendiri merupakan modifikasi dari
NDP-nya Nurcholish Madjid yang kemudian dilakukan penguatan pada doktrin
tentang tauhid sembari mengintroduksi konsep ghoswul fikr. Ghoswul fikr di sini
diidentifikasi sebagai perang pemikiran atau pengaruh pemikiran dan budaya barat
terhadap umat Islam. Dua konsep ini diambil dari doktrin Ikhwanul Muslimin
yang berakar di Mesir.55
Masuknya ideologi Ikhwanul Muslimin ke Indonesia tidak bisa dilepaskan
dari kekikutsertaan Imaduddin Abdulrahim dalam International Islamic
Federation Student Organisation (IIFSO) yang berdiri pada 1969. Berkat

116

dukungan dari Muhammad Natsir yang merupakan dedengkot DDII,56 Imaduddin


kemudian aktif dan terpilih sebagai wakil sekjend IIFSO pada tahun 1971.
Beberapa pemimpin dari organisasi ini mendapat pengaruh dari Ikhwanul
Muslimin sehingga kemudian berpengaruh juga terhadap persebaran ideologi ini
dalam tubuh IIFSO.
Melalui

persentuhannya

dalam

IIFSO,

konsep-konsep

Ikhwanul

Muslimin57 banyak diperkenalkan dalam training LMD-nya Imaduddin. Salah


satu metode yang dipakai dalam LMD adalah, bahwa peserta diinapkan di
komplek masjid Salman selama sekitar sepekan. Acara tiap hari dimulai sekitar
satu jam sebelum subuh dimana para peserta diajak Qiyamu lLail (shalat malam).
Pada malam terakhir peserta diminta berikrar dengan dua kalimat syahadat. Ikrar
ini mencerminkan penguatan kepribadian tauhid dimana menjadi keyakinan setiap
muslim yang harus mendasari setiap gerak hidupnya. Dari hasil training ini
memang kemudian terlihat spirit baru dari kader dakwah ini. Selain itu, identitas
baru yang lahir kemudian juga sangat jelas. Salah satunya adalah jilbab yang
kemudian menjadi simbol dari gerakan dakwah masjid ini.
Salah satu metode yang juga terkenal dan dikembangkan di Salman ITB
adalah usrah yakni metode pembelajaran dimana peserta dibimbing secara intensif
oleh seorang murabbi (tentor) atau guru. Dalam perkembangannya usroh
mengalami

pergantian nama menjadi halaqah (kelompok belajar) karena

dicurigai membawa ideologi radikal semacam yang terjadi pada pengikut Komji
(Komando Jihad) yang ingin membuat makar terhadap negara.58

117

Dalam perkembangannya, konsep perkaderan yang dipakai di ITB


menyebar ke seluruh kampus-kampus umum di seluruh Indonesia.59 Ia
dikembangkan menjadi sarana rekruitmen terhadap anggota baru. Formatnya
kemudian tampak cukup beragam. Sebutan yang umum dipakai adalah mentoring,
yang mengalami modifikasi dalam hal tekniknya sesuai dengan keadaan masingmasing, namun dalam kandungan materinya tetap senafas. Tradisi jamaah yang
berkembang demikian kemudian lebih akrab dengan sebutan tarbiyah, suatu kata
yang merujuk kepada konsep belajar dengan bimbingan murabbi (guru),60 sebuah
pengertian yang berkaitan erat dengan usroh atau halaqah.61
Ciri khusus yang melekat dalam dakwah ini adalah watak pandangannya
terhadap Islam sebagai totalitas dalam segala aspeknya. Berislam tidak dapat
dipisahkan dari kehidupan, baik privat maupun publik. Islam tidak dapat
mengabaikan permasalahan politik, sebagaimana ia juga tidak bisa mengabaikan
permasalahan sengketa keluarga dalam kalangan umat, atau bahkan hak-hak hidup
individualnya.62
Pemikiran-pemikiran semacam itu banyak dipengaruhi oleh buku-buku
karangan para tokoh Ikhwanul Muslimin seperti Hasan Al Banna, Musthafa
Masyhur, Sayyid Qutub, Said Hawwa, Muhammad Al Ghazali, dan Yusuf
Qardhawi. Slogan Islam is the Solution menggambarkan totalitas Islam sebagai
solusi setiap permasalahan umat, sebuah doktrin yang menunjukkan bentuk
revivalisme Islam. Sebuah ideologi yang saat itu menjadi sangat sensitif dalam
kaitannya dengan negara Pancasila Orde Baru. 63

118

Pada tahun 1980-an, negara melakukan kebijakan pengetatan terhadap


aktivitas kehidupan kampus, terutama aktivitas mahasiswa dalam kegiatan politik
praktis.

Kebijakan

tersebut

dikenal

dengan

Normalisasi

Kehidupan

Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK). Kebijakan tersebut


berdampak terhadap organisasi ektra kampus seperti HMI, PMII, PII dan lainnya.
Akhirnya mereka tidak memiliki akses terhadap basis massanya di kampus.
Sementara itu di lingkungan kampus sendiri, organ intra kampus seperti senat
mahasiswa mendapatkan pengawasan yang begitu ketat dari pihak

kampus.

Semua kegiatan harus atas koordinasi dan seijin pejabat kampus, baik dekanat
maupun rektorat. Pejabat

kampus menjadi kaki tangan pemerintah dalam

menekan aktivisme mahasiswa.64


Terkait dengan kalangan Islam ideologis sendiri, tindakan represif negara
terutama disebabkan diterapkannya kebijakan asas tunggal Pancasila yang harus
menjadi asas setiap organisasi sosial kemasyarakatan di Indonesia. Sikap
otoriterisme ideologis65 pemerintah ini menyebabkan banyak ormas Islam
menyesuaikan diri dengan kebijakan pemerintah. Dan jika tidak, tentu mengambil
posisi sebagai musuh ideologis negara sehingga gerakannya bersifat underground
(bawah tanah) dengan resiko mendapatkan pengawasan secara ketat dan
mengalami tindakan represif dari negara66
Menyikapi kebijakan semacam ini, banyak mahasiswa muslim yang
kemudian banyak melihat masjid sebagai wilayah yang cukup aman dari
intervensi dan tekanan pihak aparat kampus.

Apalagi pada tahun-tahun

sebelumnya, gerakan yang diawali dari masjid Salman ITB ini sudah cukup

119

sukses melahirkan kader-kadernya pada mayoritas kampus umum di seluruh


Indonesia. Gerakan yang kemudian terkenal dengan sebutan

tarbiyah ini

kemudian menjadi wadah baru bagi aktivisme mahasiswa muslim yang


kehilangan wadah aktivitasnya selama ini.67
Dalam perjalanannya, organisasi dakwah kampus ini kemudian lebih
dikenal dengan sebutan Lembaga Dakwah Kampus (LDK). Dalam kurun yang
relatif panjang, terdapat kesadaran antar LDK ini untuk membentuk wadah yang
berskala nasional untuk mengkoordinasikan agenda kegiatannya agar lebih
sistematis dan programatis. Akhirnya pada tahun 1985 dibentuklah sebuah forum
antar LDK yang kemudian disebut dengan Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah
Kampus (FSLDK).68
Dalam perkembangannya kemudian FSLDK merasa perlu menyikapi
realitas sosial politik nasional. Namun di sisi lain, terlalu banyak agenda LDK di
masing-masing kampus yang terkait dengan permasalahan dakwah umat. Untuk
itu ada kebutuhan untuk membentuk sebuah wadah yang khusus menangani
permasalahan sosial politik nsional. Wadah ini yang kemudian mewujud dalam
Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) yang berdiri pasca
pertemuan FSLDK di UMM Malang pada 29 Maret 1998, bersamaan dengan
momentum reformasi. Maka jadilah ia sebagai kelompok strategis dengan basis
dukungan yang solid dari kalangan aktivis dakwah kampus.69

120

Perangkat Ideologi KAMMI


KAMMI lahir dalam iklim politik yang menuntut aksi nyata dalam
melakukan upaya menumbangkan rezim yang berkuasa. Maka dipilihlah format
kesatuan aksi sebagai bentuknya. Dengan format kesatuan aksi, kegiatan utama
yang dilakukan memang didominasi oleh bentuk aksi massa seperti unjuk rasa,
orasi-orasi publik. Kekuatan aksi-aksi semacam itu terletak pada kemampuannya
menekan otoritas penguasa secara frontal. Meskipun begitu pilihan format
gerakan semacam itu memiliki kelemahan terkait dengan sistematisasi dan
kontinuitas gerakan. sementara itu reformasi bukanlah proyek yang sudah final. Ia
masih menuntut peran serta gerakan mahasiswa untuk mengawalnya.
Berkaca pada kondisi demikian, KAMMI kemudian mulai menata diri
sehingga menjadi organisasi yang mapan dan mampu melakukan kerja-kerja
organisasi secara berkesinambungan. Digelarlah Muktamar I KAMMI pada
tanggal 1-4 Oktober 1998 bertempat di Islamic Centre Bekasi. Dihadiri oleh
kurang lebih 100 orang utusan dari 30 daerah dari seluruh Indonesia. Dalam
Muktamar pertama ini, terpilihlah Fitra Arsil sebagai ketua umumnya, didampingi
oleh Haryo setyoko sebgai Sekjend-nya.
Keputusan penting lain dalam muktamar ini adalah, adanya rekomenadi
bagi BPH KAMMI periode 19982000 untuk secepatnya melakukan penyusunan
Garis-garis Besar Haluan Organisasi (GBHO) KAMMI. GBHO dirasa sangat
mendesak untuk direalisasikan karena ia akan menjadi pegangan bagi arah
organisasi dalam merealisasikan tujuan-tujuan dan aksi-aksi programatiknya, baik
yang bersifat jangka panjang maupun pendek.70

121

Sebagai tindak lanjut dari rekomendasi Muktamar I tersebut, pada Rapat


Kerja Nasional (Rakernas) KAMMI pada 9-15 Agustus disusunlah GBHO
KAMMI yang memuat Visi-Misi KAMMI, Asas dan Prinsip Perjuangan,
Karakter dan Paradigma Gerakan, dan Posisi politik KAMMI di tengah-tengah
masyarakat.71

1. Visi KAMMI
Visi KAMMI terumuskan menjadi KAMMI merupakan wadah
perjuangan permanen yang akan melahirkan kader-kader pemimpin masa depan
yang tangguh dalam upaya mewujudkan masyarakat madani di Indonesia. Dari
rumusan visi tersebut, terpetakan dengan jelas apa yang ingin dicapai KAMMI
sebagai sebuah organisasi. Ini dapat dilihat dari kata kepemimpinan nasional dan
masyarakat madani. 72
Masyarakat yang diidealkan oleh KAMMI bagi bangsa Indonesia adalah
masyarakat yang bebas dari otoritarianisme, dimana didalamnya dipenuhi oleh
nilai-nilai keadilan, persamaan, kebebasan dan kemerdekaan. Inilah konsep
masyarakat madani yang diidamkan. Sementara itu, menurut KAMMI
masyarakat madani akan tercapai dengan prasyarat dimana negara dapat berfungsi
untuk (1) mengelakkan terjadinya eksploitasi antar manusia, antar kelompok, dan
antar kelas dalam masyarakat; (2) memelihara kebebasan warga negara dan
melindungi seluruh warga dari invasi asing; (3) menegakkan sistem keadilan
sosial yang seimbang; (4) memberantas setiap kejahatan dan mendorong setiap
kebaikan yang ada dalam masyarakat; (5) menjadikan negara sebagai tempat

122

tinggal yang teduh dan mengayomi setiap warga negara dengan jalan
pemberlakuan hukum yang adil. 73
Dari prasyarat-prasyarat tersebut terlihat jelas bahwa negara tidak bisa
dipisahkan dalam upaya pencapaian masyarakat madani tersebut. Dengan
demikian, logikanya kemudian adalah kepemimpinan yang akan melaksanakan
roda pemerintahan guna mewujudkan masyarakat madani tersebut. KAMMI
kemudian melihat bahwa selama ini, cita-cita masyarakat madani tidak pernah
terwujud karena kepemimpinan negara selalu dipegang oleh orang-orang dan
sistem yang sangat menyengsarakan rakyat. Dimulai dari era kolonial Belanda dan
Jepang. Kemudian berlanjut pada era kepemimpinan pasca proklamasi yang
ternyata lebih banyak melakukan ekploitasi terhadap rakyat yang dipimpinnya.
Dengan demikian dibutuhkan pemimpin yang amanah yang mampu
menggerakkan

rakyat

dan

mengarahkannya

untuk

mencapai

cita-cita

kebangsaannya. Dalam pandangan KAMMI, kepemimpinan semacam ini terdapat


dalam diri ummat Islam. KAMMI melihat bahwa ketidakberanian dan
ketidakmauan ummat Islam untuk mengambil peran-peran kepemimpinannya
membuat bangsa ini jatuh kepada pemimpin yang tidak layak memimpin bangsa
ini, yakni mereka yang tidak amanah sehingga cenderung eksploitatif dan
destruktif.74

2. Misi KAMMI
Sebuah organisasi harus memiliki raison deetre

sebagai suatu

pembenaran sosial atas keberadaan dirinya. Artinya suatu organisasi harus

123

berusaha memenuhi kebutuhan sosial dan politik lingkungannya yang dapat


diukur dan diidentifikasi. Di sini organisasi harus ditempatkan sebagai sarana
meraih tujuan, bukan organisasi itu sendiri sebagai tujuan.75 Kerangka pemikiran
semacam itu terejawantahkan dalam kerangka misi organisasi. Merujuk pada
kerangka pikir semacam itu, KAMMI kemudian merumuskan misinya sebagai
berikut: Pertama, menjadi pelopor, perekat, dan pemercepat proses perubahan.
Kedua, memberikan pelayanan sosial, dan ketiga melakukan pendidikan politik
bagi rakyat.76

3. Asas dan Prinsip Perjuangan KAMMI


Dalam Muktamar I, KAMMI menetapkan Islam sebagai asas organisasi
dan asas perjuangan KAMMI.

77

Secara politik, penetapan Islam sebagai asas

organisasi merupakan terobosan strategis karena saat itu masih berlaku asas
tunggal. Sementara itu dari sisi kultural, penetapan asas Islam merupakan
penegasan identitas ideologis dan identitas kultural yang dibangun KAMMI.
KAMMI memiliki latar kultural dari kalangan aktivis dakwah kampus yang kental
dengan aktivitas dan ruh keislaman dalam setiap aktivitasnya. Menjadi sangat
relevan kemudian jika akhirnya pada masa reformasi, tuntutan yang getol
didengungkan adalah penghapusan Pancasila sebagai asas tunggal setiap
organisasi massa.78
Selanjutnya, asas Islam tidak sebatas identitas simbolik organisasi. Islam
menjadi kepribadian organisasi dan gerakan yang terejawantahkan dalam tampilan
aktivis KAMMI, baik secara personal maupun organisasional. Identitas jilbab

124

menjadi sesuatu yang melekat bagi kalangan aktivis wanita KAMMI (akhwat).
Sementara itu memanjangkan jenggot serta memendekkan kumis menjadi sesuatu
yang mudah dilihat pada kalangan ikhwan KAMMI. Selain itu, konsep hijab
sebagai pembatas interaksi antara ikhwan dan akhwat dalam ruang pertemuan
semakin menunjukkan identitas keislaman tersebut.79
Untuk menunjukkan termanifestasikannya Islam dalam kerangka gerakan
KAMMI, maka dirumuskanlah enam prinsip perjuangan KAMMI.80 Pertama,
kemenangan Islam adalah jiwa perjuangan KAMMI. Dan sesungguhnya telah
Kami tulis dalam Zabur sesudah Kami tulis dalam Lauh Mahfudz bahwa bumi ini
diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh (QS. 21: 105), Aku dan rasul-rasul-Ku
pasti menang, sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa (QS. 58: 21)
menjadi sandaran dan semangat KAMMI. Bahwa kemenangan Islam adalah
sunnatullah. Dengan dalil semacam itu, KAMMI yakin bahwa Allah akan
menolong setiap langkah juang yang dilakukan untuk berjihad demi mengharap
ridho-Nya.
Kedua, kebathilan adalah musuh abadi KAMMI. KAMMI sangat yakin
bahwa kebathilan adalah musuh dan penyakit bagi umat manusia. Karena sifat
keberadaannya, ia harus diperangi. Fitrah manusia sepanjang masa selalu menolak
penyakit yang menyengsarakan mereka, meskipun banyak diantara mereka tidak
sadar bahkan tidak mengenalinya. Ini menyebabkan tidak adanya upaya untuk
menanggulanginya. Tanggungjawab KAMMI di sini adalah menyadarkan umat
akan hakikat kebathilan dan

mengenalinya. Langkah selanjutnya adalah

memeranginya sampai musuh Allah itu tumbang.

125

Ketiga, solusi Islam adalah tawaran perjuangan KAMMI. Dalam


pandangan KAMMI., Allah, sang pencipta semesta alam seisinya ini Maha Tahu
akan kebutuhan ciptaan-Nya. Ia sangat tahu apa yang baik dan apa yang buruk
bagi ummat-Nya. Islam adalah agama yang diturunkan kepada umat manusia
melalui utusan-Nya, Muhammad saw. Dengan Islam, Muhammad membawa
manusia keluar dari kegelapan dan kejahiliahan menuju kepada cahaya terang
benderang. Islam merubah kondisi yang rusak menuju perbaikan dan kedamaian
umat. Untuk itulah KAMMI meyakini bahwa Islam adalah satu-satunya jalan
yang mengantarkan umat ini kepada kebahagiaan. Islam adalah titik tolak, metode
dan jalan perjuangan, sebagaimana ia juga merupakan tujuan. Dengan Islam,
keutuhan peradaban akan tercapai. Sesungguhnya telah Kami turunkan kepadamu
sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka
mengapa kamu tidak memahaminya. (QS. 21: 10).
Keempat, perbaikan adalah tradisi KAMMI. KAMMI merupakan gerakan
yang memiliki misi melakukan perbaikan. Untuk itulah prinsip yang dibangun
pun adalah perbaikan (ishlah). Prinsip ishlah ini berlaku untuk semua kalangan
dan pada setiap level. Mulai dari individu, keluarga, masyarakat, sampai dengan
negara. Dalam aktivitasnya KAMMI sejauh mungkin menghindari kerusakan.
KAMMI melihat bahwa Islam mewajibkan ummatnya untuk memelihara lima
penopang hidup manusia, yakni agama, akal, jiwa, kehormatan, dan harta benda.
Untuk itulah setiap gerakan KAMMI selalu berorientasi kepada perbaikan dan
pemeliharaan kelima hal tersebut.

126

Kelima, kepemimpinan ummat adalah strategi perjuangan KAMMI. Dari


sini jelas bahwa Islam harus memegang kepemimpinan bangsa ini. KAMMI
melihat bahwa dengan kepemimpinan umat atas negeri ini maka nilai-nilai Islam
akan mewarnai kehidupan masyarakatnya. Kemutlakan ini disebabkan, bahwa
hanya Islamlah yang memiliki watak amar maruf nahi mungkar. Dan hanya
dengan landasan inilah maka baik rakyat maupun pemimpin yang tersatukan
dalam wadah ummat akan mencapai kondisi terbaiknya.
Keenam, persaudaraan adalah watak muamalah KAMMI. KAMMI
memiliki prinsip untuk menjalin persaudaraan dengan semua elemen bangsa ini
yang menginginkan perbaikan bangsa. Di sini KAMMI berprinsip bahwa dalam
membangun bangsa tidak mungkin terwujud jika hanya dilakukan oleh
sekelompok kecil pihak tanpa melibatkan pihak lain. Dengan prinsip inilah
KAMMI mengembangkan prinsip persaudaraan. Dengan sesama muslim dan
organisasi Islam KAMMI menerapkan prinsip, sesungguhnya orang-orang
mukmin bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (QS. 49:
10). Sementara itu dengan yang lain KAMMI berprinsip, Allah tiada melarang
kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada
memerangi kamu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu.
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya
Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang
memerangi kamu karena agamamu dan mengusir kamu dari negerimu dan
membantu orang lain untuk mengusirmu. Dan barang siapa menjadikan sebagai
kawan maka mereka itulah orang-orang yang dzalim (QS. 60: 8-9).

127

Inilah garis besar ideologi yang menjadi pegangan organisasi KAMMI


dalam melakukan aktivitas baik orang-orang maupun organisasinya. Secara lebih
rigid, perangkat organisasi lain seperti AD/ART menyediakan penjelasan yang
memadai. Terkait dengan kebijakan strategis organisasi akan terlihat pada GBHO
dan program kerja periodik lain.

128

Perangkat
Ideologi KAMMI

Asas

Prinsip
Perjuangan

Visi

Misi

Islam

1. Kemenangan Islam jiwa perjuangan


KAMMI
2. Kebathilan musuh abadi KAMMI
3. Solusi Islam tawaran perjuangan KAMMI
4. Perbaikan tradisi perjungan KAMMI
5. Kepemimpinan umat strategi perjuangan
KAMMI
6. Persaudaraan watak muamalah KAMMI

1. Kepemimpinan nasional
2. Masyarakat Madani

1. Menjadi pelopor, perekat, dan pemercepat


proses perubahan.
2. Memberikan pelayanan sosial.
3. Melakukan pendidikan politik bagi rakyat

Bagan 3. Perangkat Ideologi KAMMI (diolah oleh peneliti)

129

Catatan Kaki
1

Hizbut Tahrir sendiri merupakan sempalan dari Ikhwanul Muslimin karena menganggap gerakan
Ikhwan (sebutan singkat bagi gerakan Ikhwanul Muslimin maupun anggotanya) terlalu moderat.
Ketidakpuasan itu diwujudkan oleh Taqiyuddin An Nabhani dengan membentuk gerakan
dengan nama Hizbut Tahrir Al Islami (Partai Islam untuk Pembebasan). Ariel Cohen, 2003.
Hizbut Tahrir: Ancaman Baru terhadap Kepentingan AS Di Asia Tengah. (Makalah tidak
diterbitkan).
2
Ishak Mussa Al Husaini, 1983. Ikhwanul Muslimin: Tinjauan Sejarah Sebuah Gerakan Islam
(Bawah Tanah). Jakarta: Grafiti Pers. Hal. 3.
3
Ibid. hal. 6.
4
Hasan Al Banna, 1997. Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin. (Jilid I). Solo: Intermedia. Hal.
295.
5
Ibid. hal. 177-178.
6
Ibid. hal. 280. lihat juga. Youssef M. Choueriri, 2003. Islam Garis Keras: Melacak Akar
Gerakan Fundamentalisme. Jogjakarta: Qanun. Hal. 75.
7
Lihat. Syeikh Jasim Muhallil, 1996. Ikhwanul Muslimin, Deskripsi, Tuduhan dan Jawaban. (terj)
tidak diterbitkan. Hal. 12-21. deskripsi yang cukup berbeda tetang prinsip gerakan Ikhawanul
Msulimin diberikan oleh Ishak Mussa Al Husaini. (1) menghindari perdebatan teologis.
Ikhwanul Muslimin bukanlah milik suatu madzhab, ia adalah milik umat yang mengabdikan diri
bagi hakikat agama yang tulus. (2) menghindari dominasi tokoh penting dan termasyhur. (3)
mengindari lembaga dan partai politik, (4) pencapaian kemajuan secara bertahap, (5)
membangun kekuatan untuk mencapai tujuan. Dimulai dengan kekuatan doktrin dan iman,
persatuan dan solidaritas, kemudian kekuatan pasukan dan senjata. Untuk poin yang terakhir
dipakai ketika poin sebelumnya gagal. (6) mendirikan pemerintahan Islam, (7) percaya kepada
persatuan Arab dan persatuan Islam, (8) gagasan kekhalifahan. Bila masalah kebudayaan,
ekonomi dan kerja sama sosial antara bangsa Islam berjalan baik dan terjalin permufakatan,
maka khilafah Islam terwujud. (9) posisi menghadapi Eropa. Setiap negeri yang menyerang
tanah air Islam adalah tiran dan karena itu harus dicegah. Islam adalah kemerdekaan, kebebasan,
kedaulatan nasional, dan jihad. Prinsip ini harus dibela sampai titik darah terakhir. Lihat. Ishak
Mussa Al Husaini, 1983. Ibid. hal. 53-54.
8
Martin van Bruinessen, 2002. Genealogies of Islamic Radicalism in Post Suharto Indonesia.
Makalah tidak diterbitkan. Hal. 8-9.
9
Hasan Al Banna, 1997. Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin. (Jilid II). Solo: Intermedia. Hal.
205-207
10
Ibid. hal. 208-209.
11
Ishak Mussa Al Husaini, 1983. op. cit. hal. 19.
12
Begitu cepatnya perkembangan cabang-cabang Ikhwan di luar negeri tak dapat dilepaskan dari
banyaknya alumni Mesir yang berasal dari negara-negara tersebut, terutama sekali alumni
Universitas Al Azhar. Tak terkecuali para pioner Ihwanul Muslimin di Indonsia. Ibid. hal. 20.
13
Ibid. hal. 21.
14
Ibid. hal. 22
15
Ibid. hal. 24
16
Ibid. hal. 25
17
Ibid. hal. 26
18
Ibid. hal. 28.
19
Ibid. hal. 97
20
Ibid. hal. 12.
21
Natsir juga banyak menjlin hubungan dengan Ikhwanul Muslimin salah satunya karena merasa
senasib, dimana partainya Masyumi juga dibubarkan oleh pemerintah sebagaimana dialami
Ikhwanul Muslimin. Lihat. Yudi latif, 2005. The Rupture of Young Muslim Intelligentsia in The
Modernization of Indonesia. Dalam Studia Islamika. Vol. 12. no. 3. hal. 400.

130

22

Menurut penelitian yang dilakukan Mona Abaza, lonjakan mahasiswa Indonesia yang belajar di
timur tengah sangat signifikan setelah tahun 1983, sebuah periode dimana Ikhwan di Indonesia
sedang berkembang. Jika pada tahun 1966 hanya terdapat 36 mahasiswa di Mesir, pada tahun
1982/83 meningkat menjadi 415 orang, dan meningkat lagi menjadi 722-730 pada 1987.
kemudian meningkat menjadi 1000 pada 1993. Pada tahun 1987 mahasiswa Indonesia di seluruh
kawasan timur tengah terdata paling tidak berjumlah 1742 dengan persebaran di Arab Saudi
(904) dan Mesir (722), dan sisanya di Iran (32), Libya (27), Syria (21), Sudan (10), Jordan (9),
Iraq (8), Turkey (7), dan Algeria (2). Lihat. Yudi latif, 2005. The Rupture of Young Muslim
Intelligentsia in The Modernization of Indonesia. Dalam Studia Islamika. Vol. 12. no. 3. hal.
401.
23
Yudi Latif, 2005. Ibid. hal. 400-401.
24
Abu Ridho adalah alumni IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta yang juga aktivis PII dan HMI. Abu
Ridho, Mashadi, Mukhlis Abdi pada tahun 1990-an kemudian menjadi dedengkot dari partai
Keadilan. Lihat. Yudi Latif, 2005. Ibid.hal. 401.
25
Ibid.
26
Ibid.
27
Ibid. hal. 402.
28
Mahfudz Sidiq, 2003. KAMMI dan Pergulatan Reformasi:Kiprah Politik Aktivis Dakwah
Kampus dalam Perjuangan Demokratisasi di Tengah Gelombang Krisis Nasional Multidimensi.
Solo: Era Intermedia. Hal. 57-58. juga Denny JA, 1990. Hal. 29, 45-46.
29
Denny, JA, 1990. Gerakan Mahasiswa dan Politik Kaum Muda Era 80-an. Jakarta: Miswar.
Hal. 29. Sejak tahun 70-an sampai 80-an rezim orde baru mengeluarkan kebijakan yang semakin
memperlemah posisi rakyatmahasiswa. Paling tidak pada tahun itu pemerintah mengeluarkan
tiga kebijakan. Pertama dibentuknya KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia), sebagai
wadah tunggal bagi seluruh organisasi kepemudaan (termasuk mahasiswa) pada tahun 1973.
Kedua pembekuan Dewan Mahasiswa pada 1978. dan ketiga diberlakukannya NKK/BKK.
Lihat. Muridan S. Widjojo dan Mashudi Noorsalim, 2004. Bahasa Negara Versus Bahasa
Gerakan Mahasiswa: Kajian Semiotik atas Teks-teks Pidato Presiden Soeharto dan Selebaran
Gerakan Mahasiswa. Jakarta: LIPI Press. Hal. 133.
30
Lihat Mahfudz Sidiq, Ibid. Hal. 59.
31
Lihat, Mahfudz Sidiq, 2003. Hal. 59. Lihat juga Denny, JA, 1990. Hal. 45-46.
32
Ali Said Damanik, dalam Mahfudz Sidiq. Hal. 66
33
Lihat Mahfudz Sidiq. Ibid. Hal 66-67.
34
Lihat Mahfudz Sidiq. Hal 68.
35
Ibid. Hal. 74-76.
36
Khiittah LDK sendiri disusun oleh para mantan aktivis LDK. Salah seorang yang menyusun
khittah ini adalah Ismail Yusanto. Keberadaan mantan aktivis LDK juga diorganisasikan dalam
sebuah lembaga alumni LDK. Ismail Yusanto menjadi ketua pertama lembaga ini. Lihat
wawancara dengan Ismail Yusanto dalam Digital Journal Al Manar No. 1. 2004.
37
Mahfudz Sidiq, 2003. KAMMI dan Pergulatan Reformasi:Kiprah Politik Aktivis Dakwah
Kampus dalam Perjuangan Demokratisasi di Tengah Gelombang Krisis Nasional Multidimensi.
Solo: Era Intermedia. Hal. 95.
38
Mahfudz Sidiq, Ibid. Hal. 97.
39
Ibid. Hal. 97.
40
Ibid. Hal. 97.
41
Ibid. Hal. 99.
42
Ibid. Hal. 100.
43
Santernya isu bahwa KAMMI lahir dari rahim LDK serta santernya penolakan yang diberikan
oleh KAMMI tentu cukup beralasan. LDK adalah organisasi yang secara formal bernaung di
bawah lembaga universitas atau kampus, sehingga akan sangat bermasalah dikemudian harinya
jika LDK melahirkan KAMMI sebagai organisasi ekstra kampus. Anggapan bahwa lembaga
Dakwah Kampus (LDK) telah dikooptasi oleh kepentingan pihak luar kampus sangatlah besar
sehingga jalan amannya adalah dengan langkah-langkah seperti telah dijelaskan di muka. Selain
itu hal yang lebih penting adalah, bahwa LDK sebagai organisasi intra kampus yang memiliki

131

mainstream berpikir yang sama dengan KAMMI akan menjadi mitra yang baik untuk
memasukkan wacana yang diusung KAMMI ke dalam lingkungan kampus.
44
Lihat Mahfudz Sidiq. Hal. 106.
45
Ibid. Hal. 107.
46
Pernyataan Roger Garaudy dalam harian Le Monde. Dalam K. Bertens, 2001. Filsafat Barat
Kontemporer (Jilid II) Prancis. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Hal. 240.
47
Nuswantoro, 2001. Daniel Bell: Matinya Ideologi. Magelang: Indonesiatera. Lihat juga. Hikmat
Budiman, 2003. Daniel Bell: Fundamentlisme Kapitalis dan Radikalisme Kultural dalam
Jurnal Masyarakat. No. 12. Jakarta: LabSosio UI.
48
Franz Magnis Suseno, 2001. Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan
Revisionisme. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
49
Max Weber. Economic and Society (ES) dalam Anthony Giddens, 1986. Kapitalisme dan
Teori Sosial Modern, Suatu Analisis Karya Tulis Marx, Durkheim, dan Max Weber. (terj.
Soeheba Kramadibrata). Jakarta: UI Press.
50
Max Weber, 2001. Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism.(terj). Malang: Pustaka
Promothea.
51
Francis Fukuyama, 1992. The End of History and The Last Man. (terj). Jogjakarta: Qalam
52
Samuel Huntington, 1999. Clash of Civilizations and The Remaking of Wolrd Order. (terj).
Jogjakarta: Tiara Wacana
53
Ihsan Ali Fauzi. 2007. Zakat dan Wakaf untuk Jihad?: Konteks Global dari Salafisme-Jihadisme
Lokal (Pointer Diskusi Wahhabisme XI).
54
Andi Rahmat dan Muhammad Nadjib, 2001. Gerakan Perlawanan Dari Masjid Kampus. Solo:
Purimedia. Hal. 73.
55
Yudi Latif, The Rupture of Young Muslim Intelegentsia in The Modernization of Indonesia
dalam Studia Islamika. 2005. Vol. 12. No. 3. hal. 393.
56
Berdirinya DDII sendiri tak bisa dilepaskan dari peran negara Timur Tengah, terutama Kerajaan
Arab Saudi yang banyak mendanai organisasi Islam internasional yang beraliran konservatif dan
puritan dalam praktek pengajarannya. Salah satunya adalah Rabithah Alam Islami. DDII yang
diketuai oleh Muhaammad Natsir menjadi anggotanya dimana Natsir menjabat sebagai salah
satu wakil ketuanya. Berkat aksesnya dengan organisasi ini dan juga dengan negara-netgara
timur tengah, DDII mampu mendanai gerakan dakwah kampus. Bentuk pendanaannya tidak
sekedar pada pemberian sumber-sumber pembelajaran dalam rupa buku-buku dari timur tengah,
maupun pemberian beasiswa terhadap kader-kader dakwah kampus, namun juga sampai pada
bantuan finansial dalam pembangunan masjid-masjid kampus di perguruan tinggi umum. Lebih
lengkap lihat. Martin van Bruinessen, 2002. Genealogies of Islamic Radicalism In Post-Suharto
Indonesia. (tidak diterbitkan). Lihat juga Yudi Latif, 2005. Ibid. hal. 393.
57
Konsep yang sangat berpengaruh dalam Ikhwanul Muslimin adalah mengenai karakter dakwah
Ikhwan yang terdiri atas sembilan (9) karakter. Lihat note no. 4. lebih lengkap, lihat. Syeikh
Jasim Muhallil, 1996. Ikhwanul Muslimin, Deskripsi, Tuduhan dan Jawaban. (terj) tidak
diterbitkan. Hal. 12-21.
58
Salah satu kelompok usroh yang dicurigai berbuat makar adalah kelompok Imron yang
membajak pesawat Garuda tujuan Thailand pada tahun 1981. Tindakan makar itu juga diduga
kuat sangat terkait dengan Ali Moertopo, sang kepada badan intelijen negara yang kemudian
menjadi tangan kanan Suharto. ia dianggap sebagian kalangan sebagai penskenario aksi tersebut
guna mendiskreditkan umat Islam. Ali Moertopo adalah pendiri CSIS (Center for Strategic and
International Studies), lembaga yang menjadi think thank-nya Orde baru. Lihat. Elizabeth Fuller
Collins, 2004. Islam is The Solution: Dakwah and Democracy in Indonesia. (Makalah tidak
diterbitkan).
59
Gerakan yang berawal dari Salman ITB ini menjadi gejala umum, terutama pada PTUN di
seluruh tanah air. Sebuah penelitian atas prakarsa LabSosio UI, memetakan bagaimana pola dan
ciri aktivitas keagamaan di kalangan mahasiswa PTUN ini, khususnya pada era pasca reformasi,
(1) medium pembelajaran utama, dalam bentuk kelompok-kelompok kecil (halaqah/mentoring);
(2) medium pembelajaran tambahan berupa sistem kaderisasi yang kreatif; (3) subjek
pembelajaran adalah mentor atau murabbi yang terpercaya; (4) nilai atau substansi yang

132

ditawarkan memberikan kepastian; (5) sumber rujukan belajar berupa buku-buku karangan
ulama timur tengah; (6) bekerja dalam sistem dengan jaringan yang terkelola dengan baik; (7)
identitas jilbab panjang dan jenggot; (8) konsistensi dan kontinuitas dalam sistem kaderisasi.
Selengkapnya lihat. Ali Said Damanik, et. al, 2005. Pola Aktivitas Keagamaan di Kalangan
Mahasiswa PTUN di Era Pasca Reformasi. (hasil penelitian tidak diterbitkan). Jakarta:
LabSosio UI
60
Tarbiyah merupakan konsep pendidikan dimana seorang senior yang diposisikan sebagai
murabbi menjadi mentor atau guru atas juniornya, sekaligus melakukan kontrol (pendisiplinan)
terhadap anggota halaqah, salah satunya dengan lembar evaluasi diri berkala (jam, harian).
Selain itu posisi murabbi tidak sekedar sebagai guru yang memberikan materi pembelajaran
semata, ia juga harus menjadikan nilai-nilai keislaman nampak dan terinternalisasi dalam dirinya
sendiri sehingga ia juga berfungsi sebagai teladan. Proses belajar dengan metode semacam ini
dilakukan sangat intensif sehingga memiliki dampak yang sangat besar terhadap perubahan
perilaku para anggotanya. Pola ini disertai dengan ibadah-ibadah nafilah (tambahan) yang
mematangkan spiritualitas anggotanya. Lihat. Hasil penelitian LabSosio UI, Ali Said Damanik,
2005. Ibid. Lihat juga. Martin van Bruinessen, 2002. Op. Cit. hal. 8.
61
Lihat. Elizabeth Fuller Collins, 2004. Islam is The Solution: Dakwah and Democracy in
Indonesia (Makalah tidak diterbitkan). Lihat juga. Martin van Bruinessen, 2002. Genealogies of
Islamic Radicalism In Post-Suharto Indonesia. (Makalah tidak diterbitkan). Dan, Yudi Latif,
The Rupture of Young Muslim Intelegentsia in The Modernization of Indonesia dalam Studia
Islamika. 2005. Vol. 12. No. 3. hal. 394, 403.
62
Lihat. Mahfudz Sidiq, 2003. KAMMI dan Pergulatan Reformasi:Kiprah Politik Aktivis Dakwah
Kampus dalam Perjuangan Demokratisasi di Tengah Gelombang Krisis Nasional Multidimensi.
Solo: Era Intermedia. Hal. 70.
63
Op. Cit. hal. 400-401
64
Ibid. lihat juga Yudi Latif, The Rupture of Young Muslim Intelegentsia in The Modernization
of Indonesia dalam Studia Islamika. 2005. Vol. 12. No. 3. lihat juga Andi Rakhmat dan
Mukhammad Najib, 2001. Gerakan Perlawanan dariMasjid Kampus. Solo: Purimedia.
65
Sikap ini menurut Syafii Maarif disebut dengan etik otoriter. Pandangan ini menyangkal adanya
kemampuan individual untuk melakukan penilaian bebas secara otonom. Di dalam kerangka ini
etik otoriter justru mendominasi tafsir atas nilai, benar-salah, baik-buruk. Lihat Andi Rakhmat
dan Mukhammad Najib, 2001. Gerakan Perlawanan dari Masjid Kampus. Solo: Purimedia.
Hal. 58.
66
NU dan Muhammadiyah menerima asas tunggal Pancasila sebagai asas organisasinya.
Sementara itu HMI dalam konferensinya di Padang juag menerima asas tunggal. Meskipun
dengan melabeli identitas Islam sebagai sebuah pegangan organisasi. Namun ini dipandang
sebagai bentuk inkonsistensi organisasi yang kemudian melahirkan perpecahan dalam tubuih
mahasiswa Islam terbesar kala itu. Beberapa cabang (Jakarta, Jogjakarta, Purwokerto,
Semarang, Makassar) yang tetap mempertahankan Islam sebagai asas kemudian memisahkan
diri dengan nama HMI-MPO (Majelis Penyelamat Organisasi), dengan konsekuensi bergerak
secara underground. Penelitian ini sendiri mengambil HMI yang menerima asas tunggal sebagai
objek penelitiannya (meskipun sekarang sudah berubah asas lagi menjadi Islam seiring
reformasi). Pelajar Islam Indonesia (PII) yang juga tidak menerima asas tunggal juga harus
bergerak underground dan harus berkali-kali berurusan dengan aparat dalam aktivitas-aktivitas
organisasinya. Lihat. Elizabeth Fuller Collins, 2004. Islam is The Solution: Dakwah and
Democracy in Indonesia (Makalah tidak diterbitkan). Hal. 9.
67
Meskipun begitu, kesuksesan gerakan dakwah masjid kampus ini tak bisa dilepaskan dari
konstelasi politik nasional waktu itu. Negara Orde Baru dalam paruh terakhir pemerintahannya
mengambil sikap akomodatif terhadap kalangan Islam. Waktu itu rezim Orde Baru banyak
mendapatkan tekanan berupa aksi demonstrasi mahasiswa. Politik akomodatif ini dapat
dimaknai sebagai upaya menarik dukungan dari kalangan yang selama ini mengalami represi
politik. Pada sisi lain, menurut Aspinall, ada konflik dalam internal Orde Baru, yakni antara
petinggi militer dengan Suharto. Indikasinya adalah diundangnya Jenderal (Purn) Sumitro ke
DPR pada 21 Juni 1989 untuk menyampaikan pandangan-pandangan politiknya. Melihat realitas

133

semacam itu, pemerintah memandang perlu melakukan reformasi politik secara terbatas, yang
salah satu dampaknya adalah melonggarnya pengawasan terhadap kehidupan kampus. Lebih
lengkap lihat. Mahfudz Sidiq, 2003. KAMMI dan Pergulatan Reformasi:Kiprah Politik Aktivis
Dakwah Kampus dalam Perjuangan Demokratisasi di Tengah Gelombang Krisis Nasional
Multidimensi. Solo: Era Intermedia. Hal. 64. lihat juga. Elizabeth Fuller Collins, 2004. Islam is
The Solution: Dakwah and Democracy in Indonesia (Makalah tidak diterbitkan). Hal. 10.
68
Mekipun begitu, FSLDK ini dalam perjalanannya mengalami pasang surut dan terdapat friksifriksi. Friksi yang jelas terlihat adalah adanya perbedaan antara mereka yang berpandangan
tarbiyah dan Hizbut Tahrir. Maka sekarang ini pun muncul dua macam varian LDK di kampuskampus umum tersebut. Untuk yang pertama, muncul dan besar di setiap kampus, namun untuk
yang kedua, baru cukup dominan pada kampus IPB Bogor, kemudian menyebar ke Unpad
Bandung, Unair Surabaya, IKIP Malang, dan Unhas Makassar. Selain friksi internal kendala lain
yang cukup kentara adalah kendala teknis seperti transportasi dan komunikasi, melihat bahwa
aktor-aktornya adalah mahasiswa dalam skup geografis Indonesia yang sangat luas. Sesuatu
yang menjadi simpul pengikat adalah kesamaan dalam hal pandangan-pandangan keagamaan.
Lihat wawancara dengan Ismail Yusanto dalam Digital Journal Al Manar No. 1. 2004. lihat
juga. Elizabeth Fuller Collins, 2004. Islam is The Solution: Dakwah and Democracy in
Indonesia (Makalah tidak diterbitkan). Lihat juga. Martin van Bruinessen, 2002. Genealogies of
Islamic Radicalism In Post-Suharto Indonesia. (Makalah tidak diterbitkan).
69
Andi Rakhmat dan Mukhammad Najib, 2001. Gerakan Perlawanan dari Masjid Kampus. Solo:
Purimedia. Juga dalam. Mahfudz Sidiq, 2003. KAMMI dan Pergulatan Reformasi:Kiprah
Politik Aktivis Dakwah Kampus dalam Perjuangan Demokratisasi di Tengah Gelombang Krisis
Nasional Multidimensi. Solo: Era Intermedia.
70
Lihat. Mahfudz Sidiq, 2003. KAMMI dan Pergulatan Reformasi:Kiprah Politik Aktivis Dakwah
Kampus dalam Perjuangan Demokratisasi di Tengah Gelombang Krisis Nasional Multidimensi.
Solo: Era Intermedia. Hal. 209.
71
Ibid. hal. 209. lihat juga. Andi Rakhmat dan Mukhammad Najib, 2001. Gerakan Perlawanan
Dari masjid Kampus. Solo: Purimedia.
72
Ibid. hal. 209.
73
Andi Rakhmat dan Mukhammad Najib, 2001. Gerakan Perlawanan Dari masjid Kampus. Solo:
Purimedia.
74
Hal yang menjadi pegangan KAMMI adalah, bahwa pemimpin yang berhak memimpin
Indonesia adalah pamimpin yang memiliki kapasita intelektual dan moralitas tinggi. Karakter
pemimpin semacam ini tidak mungkin akan berpikir dan melakukan penyelewengan amanah.
Untuk itu, diperlukan landasan moral agama dalam kehidupan politik Indonesia. Dengan
pemikiran semacam ini, KAMMI menganggap sangat tidak relevan ketika terjadi pemisahan
antara agama dengan politik. Sesuatu yang dianggap sebagai bagian dari sekularsime yang akan
menjerumuskan bangsa ini pada dekadensi moral yang berujung pada krisis bangsa. Lihat. Andi
Rakhmat dan Mukhammad Najib, 2001. Ibid. hal. 173-175.
75
Dengan terjelaskannya misi organisasi dalam poin-poin yang terukur dan teridentifikasi, akan
dapat memperjelas peran dan batasan wilayah kerja organisasi. Posisi semacam ini akan dapat
menempatkan organisasi pada lingkungan dan stakeholder yang ada sehingga mampu
melakukan kerja sama dengan elemen-elemen yang memiliki tempat trategis dalam kerangka
tujuan organisasi. Lebih jauh misi organisasi akan dapat merencanakan masa depan organisasi.
Lihat. John M. Bryson, 1999. Perencanaan Strategis Bagi Organisasi Sosial. Jogjakarta:
Pustaka Pelajar. Hal. 57.
76
Op. Cit. Hal. 175.
77
Dalam anggaran dasar (AD) KAMMI, ditetapkan Islam sebagai asasnya. Lihat AD/ART
KAMMI. Bab. III (Asas, Sifat, Tujuan, dan Usaha), Pasal 4. Asas. Dalam kammi-jepang.net.
78
Mahfudz Sidiq, 2003. Op. Cit. Hal. 212-213.
79
Ibid. Hal. 213.
80
Andi Rakhmat dan Mukhammad Najib, 2001. Op. Cit. Hal. 189-194.